Anda di halaman 1dari 6

Kecelakaan Kerja dan Manajemen Keselamatan Kerja

Pendahuluan

Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh
pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Seperti kita ketahui bersama selama ini
angka kecelakaan yang disebabkan akibat kerja sangatlah tinggi. Di Indonesia sendiri,
berdasarkan data yang diterbitkan oleh Jamsostek, pada tahun 2007 tercatat terjadi 65.474
kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697
orang cedera. Selain mengakibatkan kerugian jiwa, kerugian materi yang ditimbulkan akibat
kecelakaan kerja juga sangat besar yang berupa kerusakan sarana produksi, biaya pengobatan
dan kompensasi yang dibayarkan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum
di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka
kecelakaan kerja. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah, padahal karyawan
adalah aset penting perusahaan. Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat seumur hidup, di
samping berdampak pada kerugian non-materil, juga menimbulkan kerugian materil yang
sangat besar.1

7 Langkah Diagnosis Okupasi

Ada 7 langkah untuk mendiagnosis suatu penyakit akibat kerja, yang disebut dengan 7
langkah diagnosis okupasi. Diagnosis penyakit akibat kerja adalah landasan terpenting bagi
manajemen penyakit tersebut promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Diagnosis penyakit
akibat kerja juga merupakan penentu bagi dimiliki atau tidak dimilikinya hak atas manfaat jaminan
penyakit akibat kerja yang tercakup dalam program jaminan kecelakaan kerja. Sebagaimana
berlaku bagi smeua penyakit pada umumnya, hanya dokter yang kompeten membuat diagnosis
penyakit akibat kerja. Hanya dokter yang berwenang menetapkan suatu penyakit adalah penyakit
akibat kerja. Tegak tidaknya diagnosis penyakit akibat kerja sangat tergantung kepada sejauh mana
metodologu diagnosis penyakit akibat kerja dilaksanakan oleh dokter yang bersangkutan.1

Cara menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja mempunyai kekhususan apabila


dibandingkan terhadap diagnosis penyakit pada umumnya. Untuk diagnosis penyakit akibat kerja,
anamnesis dan pemeriksaan klinis serta laboratoris yang biasa digunakan bagi diagnosis penyakit

1
pada umumnya belum cukup, melainkan harus pula dikumpulkan data dan dilakukan pemeriksaan
terhadap tempat kerja, aktivitas pekerjaan dan lingkungan kerja guna memastikan bahwa pekerjaan
atau lingkungan kerja adalah penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan. Selain itu,
anamnesis terhadap pekerjaan baik yang sekrang maupun pada masa sebelumnya harus dibuat
secara lengkap termasuk kemungkinan terhadap terjadinya paparan kepada faktor mekanis, fisik,
kimiawi, biologis, fisiologis/ergonomis, dan mental-psikologis.1

7 langkah Diagnosis Okupasi:1

1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
Identitas meliputi : nama pasien, usia, jenis kelamin, jabatan, unit/ bagian kerja,
lama bekerja, nama perusahaan, jenis perusahaan dan alamat perusahaan.
Riwayat penyakit : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (RPS), riwayat
penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK).
Riwayat pekerjaan :
o Sudah berapa lama bekerja sekarang ?
o Riwayat pekerjaan sebelumnya ?
o Alat kerja, bahan kerja, proses kerja ?
o Barang yang diproduksi/dihasilkan ?
o Waktu bekerja dalam sehari ?
o Kemungkinan pajanan yang dialami ?
o Alat pelindung diri yang dipakai ?
o Hubungan gejala dan waktu kerja ?
o Apakah pekerja lain ada yang mengalami hal sama ?

Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk mngetahui
kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau lingkungan kerja menjadi
penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala
atau tanda sakit pada tinggkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting
hubungan antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja.1

2
Riwayat pekerjaan harus ditanyakan kepada penderita dnegan seteliti-telitinya dari
pemrulaan sekali smapai dengan waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan
perhatian pada pekerjaan yangg dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi
tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita
waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu. Hal ini
lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.
Buatlah tabel yang secara kronologis memuat waktu, perusahaan, tempat bekerja, jenis pekerjaan,
aktivitas pekerjaan, faktor dalam pekerjaan atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan
penyakit akibat kerja. Penggunaan kuestioner yang direncanakan dengan tepat sangat membantu.1

Perhatian juga diberikan kepada hubungan antara bekerja dan tidak bekerja dengan gejala
dan tanda penyakit. Pada umumnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja berkurang, bahkan
kadang-kadang hilang sama sekali, apabila penderita tidak masuk bekerja; gejala dan tanda itu
timbul lagi atau menjaid lebih berat, apabila ia kembali bekerja. Fenomin seperti itu sangat jelas
misalnya pada penyakit dermatosis akibat kerja atau pada penyakit bissinosis atau asma bronkhiale
akibat kerja atau lainnya. Informasi dan dan data hasil pemeriksaan kesehata khusus sangat penting
artinya bagi keperluan menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja. Akan lebih mudah lagi
menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, jika tersedia data kualitatif dan kuantitatif faktor-
faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan
penyakit akibat kerja.1

b. Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk menemukan gejala dan tanda yang sesuai untuk
suatu sindrom, yang sering-sering khas untuk suatu penyakit akibat kerja.
Kesadaran
Tanda-tanda vital (TTV) berupa tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan
frekuensi napas.
Pemeriksaan secara sistematik dari kepala, leher, dada, perut, kelenjar getah
bening, ekstremitas atas dan bawah serta tulang belakang.
Status Lokalis (keadaan lokal). Pada pemeriksaan muskuloskeletal yang
penting:
1. Look (inspeksi)

3
Perhatikan apa yang dapat dilihat:
- Sikatriks (jaringan parut alamiah atau post operasi).
- Warna kemerahan/kebiruan atau hiperpigmentasi.
- Benjol/pembengkakan/cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa.
- Posisi serta bentuk dari ekstremitas (deformitas).
- Cara berjalan (gait waktu pasien masuk kamar periksa).
- Kulit utuh/ robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cidera
terbuka.
2. Feel (palpasi)
- Perubahan suhu terhadap sekitarnya serta kelembaban kulit.
- Bila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau hanya edema
terutama daerah persendian.
- Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainannya (1/3
proksimal/tengah/ distal).
- Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi; benjolan yang terdapat
di permukaan tulang atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa
status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu di
diskripsi (tentukan) permukaannya, konsistensinya dan pergerakan
terhadap permukaan atau dasar, nyeri atau tidak dan ukurannya.
3. Move (gerak)
- Krepitasi terasa bila fraktur digerakkan, tetapi ini bukan cara yang
baik dan kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya
ujung tulang kortikal.
- Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif dan pasif.
- Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan yang tidak mampu
dilakukan, range of motion dan kekuatan.
- Gerakan yang tidak normal gerakan yang terjadi tidak pada sendi.
Misalnya: pertengahan femur dapat digerakan. Ini adalah bukti paling
penting adanya fraktur. Hal ini penting untuk membuat visum, bila tidak
ada fasilitas rontgen.

4
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk mencocokkan benar tidaknya penyebab
penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja yang menderita
penyakit tersebut. Guna menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, biasanya tidak
cukup sekedar pembuktian secara kualitatif yaitu tentang adanya faktor penyebab
penyakit, melainkan harus ditunjukkan juga banyaknya atau pembuktian secara
kuantitatif.
Berikut ini adalah jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang
anamnesis dan pemeriksaan fisik:
- Pemeriksaan rontgen. Untuk menentukan lokasi, luasnya, trauma, dan
jenis fraktur.
- Scan tulang, CT scan/MRI. Memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
- Arteriografi : jika dicurigai ada kerusakan vaskuler.
- Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
- Hitung darah lengkap. Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal
setelah trauma.
d. Pemeriksaan tempat kerja : misalnya kelembaban, kebisingan, penerangan.
Pemeriksaan tempat dan ruang kerja untuk memastikan adanya faktor penyebab
penyakit di tempat atau ruang kerja serta mengukur kadarnya. Hasil pengukuran
kuantitatif di tempat kerja sangat perlu untuk melakukan penilaian dan mengambil
kesimpulan, apakah kadar zat sebagai penyebab penyakit akibat kerja cukup dosisnya
untuk menyebab sakit. Meliputi faktor lingkungan kerja yang dapat berpengaruh
terhadap sakit penderita (faktor fisis, kimiawi, biologis, psikososial), faktor cara kerja
yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita (peralatan kerja, proses produksi,
ergonomi), waktu paparan nyata (per hari, perminggu) dan alat pelindung diri.
2. Pajanan yang dialami

5
Meliputi pajanan saat ini dan sebelumnya. Informasi ini diperoleh terutama dari anamnesis
yang teliti. Akan lebih baik lagi jika dilakukan pengukuran lingkungan kerja.
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Untuk mengetahui hubungan pajanan dengan penyakit dilakukan identifikasi pajanan yang
ada. Evidence based berupa pajanan yang menyebabkan penyakit. Perlu diketahui
hubungan gejala dan waktu kerja, apakah keluhan ada hubungan dengan pekerjaan.
4. Pajanan yang dialami cukup besar
Mencari tahu patofisiologi, bukti epidemiologis, cara atau proses kerja, lama kerja,
lingkungan kerja. Kemudian dilakukan observasi tempat dan lingkungan kerja, pemakaian
APD, serta jumlah pajanan berupa data lingkungan, data, monitoring biologis.
5. Peranan faktor individu
Berupa status kesehatan fisik adakah alergi /atopi, riwayat penyakit dalam keluarga, serta
bagaimana kebiasaan berolah raga, status kesehatan mental, serta higiene perorangan.
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Adakah hobi, kebiasaan buruk (misalnya merokok) yang dapat menjadi faktor pemicu
penyakit yang diderita.
7. Diagnosis okupasi
Diagnosis okupasi dilakukan dengan meneliti dari langkah 1-6, referensi atau bukti ilmiah
yang menunjukkan hubungan kausal pajanan & penyakit.