Anda di halaman 1dari 4

Akuntansi Pajak

Debt to Equity Ratio

Dasar Hukum

Pasal 18 ayat (1) Undang-undang No.36 Tahun 2008 Tentang Perubahan


Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak
Penghasilan.

Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya


perbandingan antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan
penghitungan pajak berdasarkan Undang-undang ini.

Penjelasan Pasal 18 ayat (1):

Undang-Undang ini memberi wewenang kepada Menteri Keuangan untuk


memberi keputusan tentang besarnya perbandingan antara utang dan modal
perusahaan yang dapat dibenarkan untuk keperluan penghitungan pajak. Dalam
dunia usaha terdapat tingkat perbandingan tertentu yang wajar mengenai
besarnya perbandingan antara utang dan modal (debt to equity ratio). Apabila
perbandingan antara utang dan modal sangat besar melebihi batas-batas
kewajaran, pada umumnya perusahaan tersebut dalam keadaan tidak sehat.
Dalam hal demikian, untuk penghitungan Penghasilan Kena Pajak, Undang-
Undang ini menentukan adanya modal terselubung.

Istilah modal di sini menunjuk kepada istilah atau pengertian ekuitas menurut standar
akuntansi, sedangkan yang dimaksud dengan kewajaran atau kelaziman usaha
adalah adat kebiasaan atau praktik menjalankan usaha atau melakukan kegiatan yang
sehat dalam dunia usaha.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 169/PMK.010/2015


Tentang Penentuan Besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal
Perusahaan Untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan.

Catatan:

Sebelum Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor-169/PMK.010/2015 tersebut


terbit, sebelumnya telah terdapat Keputusan Menteri Keuangan (KMK) yang mengatur
besaran perbandingan antara utang terhadap modal. Ketentuan tersebut termuat dalam
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1002/KMK.04/1984 tentang Penentuan
Perbandingan Antara Hutang Dan Modal Sendiri Untuk Keperluan Pengenaan Pajak
Penghasilan. Pada KMK tersebut ditetapkan rasio maksimal utang terhadap modal
adalah 3:1.

Namun ketentuan tersebut ditunda pelaksanaannya sesuai dengan KMK-


254/KMK.05/1985 tentang Penundaan Pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 1002/KMK.04/1984 tentang Penentuan Perbandingan
Antara Hutang Dan Modal Sendiri Untuk Keperluan Pengenaan Pajak Penghasilan.
Praktis sejak 1985 tidak ada pengaturan batasan rasio utang terhadap modal. Rasio
hutang terhadap modal ( debt to equity ratio / DER ) diatur kembali dengan PMK-
169/PMK.010/2015. Ketentuan mengenai DER ini mulai berlaku tahun 2016
mendatang.

Berikut ini resume ketentuan DER sesuai PMK-169/PMK.010/2015.

Debt to Equity Ratio ( DER )

Besarnya perbandingan antara utang dan modal adalah paling tinggi sebesar
empat dibanding satu (4: 1).
Hutang meliputi utang jangka panjang, utang jangka pendek serta utang dagang
yang dibebani bunga.
Modal meliputi ekuitas sebagaimana dimaksud dalam standar akuntansi
keuangan yang berlaku dan pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki
hubungan istimewa.
Nilai utang = rata-rata saldo utang tiap akhir bulan pada tahun pajak atau
bagian tahun pajak
Nilai modal = rata-rata saldo modal tiap akhir bulan pada tahun pajak atau
bagian tahun pajak.
DER = Nilai Utang dibagi Nilai Modal

Perlakuan Pajak Terkait DER

Biaya Pinjaman

Biaya yang ditanggung Wajib Pajak sehubungan dengan peminjaman dana


dikelompokkan dalam Biaya Pinjaman. Biaya Pinjaman ini meliputi :

1. bunga pinjaman;
2. diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman;
3. biaya tambahan yang terjadi yang terkait dengan perolehan pinjaman
(arrangement of borrowings);
4. beban keuangan dalam sewa pembiayaan;
5. biaya imbalan karena jaminan pengembalian utang; dan
6. selisih kurs yang berasal dari pinjaman dalam mata uang asing sepanjang selisih
kurs tersebut sebagai penyesuaian terhadap biaya bunga dan biaya sebagaimana
dimaksud pada huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e.

Biaya pinjaman yang dapat dibiayakan harus memenuhi syarat-syarat:

biaya terkait dengan hutang tidak melampaui batas DER maksimum. Jika DER
melampaui DER maksimal, maka biaya pinjaman yang tidak boleh dibebankan
sebesar selisih DER dikali biaya pinjaman. Dalam contoh kasus di atas jika DER
6:1, maka biaya yang dapat dibebankan adalah sebesar 4/6 x biaya pinjaman
atau koreksi biaya=2/6 x biaya pinjaman.
Jika Wajib Pajak mempunyai saldo ekuitas nol atau kurang dari nol, maka
seluruh biaya pinjaman Wajib Pajak bersangkutan tidak dapat diperhitungkan
dalam penghitungan penghasilan kena pajak.
Besarnya biaya pinjaman sesuai dengan perbandingan utang dan modal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang dapat diperhitungkan dalam
menghitung penghasilan kena pajak juga wajib memperhatikan ketentuan Pasal
6 dan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008.
biaya pinjaman atas utang kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa harus memenuhi prinsip kewajaran dan kelaziman usaha sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

Entitas

Yang Wajib Mengikuti Ketentuan PMK-169 :

Wajib Pajak badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia yang
modalnya terbagi atas saham-saham.

Yang Dikecualikan Mengikuti Ketentuan PMK-169 :

1. Wajib Pajak bank;


2. Wajib Pajak lembaga pembiayaan;
3. Wajib Pajak asuransi dan reasuransi;
4. Wajib Pajak yang atas seluruh penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final berdasarkan peraturan perundang-undangan tersendiri; dan
5. Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang infrastruktur.

Ketentuan Khusus
1. Bagi Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang pertambangan minyak dan gas
bumi, pertambangan umum, dan pertambangan lainnya yang terikat kontrak bagi hasil,
kontrak karya, atau perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan:

Jika dalam kontrak atau perjanjian mengatur atau mencantumkan ketentuan


mengenai batasan perbandingan antara utang dan modal; ketentuan mengenai
perbandingan utang dan modal dimaksud berlaku sampai dengan berakhirnya
kontrak atau perjanjian tersebut.
Jika dalam kontrak tidak mengatur, maka ketentuan mengenai perbandingan
utang dan modal mengikuti ketentuan PMK-169.

2. Wajib Pajak yang mempunyai utang swasta luar negeri, wajib menyampaikan
laporan besarnya utang swasta luar negeri tersebut kepada Direktur Jenderal Pajak. Jika
tidak menyampaikan laporan, maka atas biaya pinjaman yang terutang dari utang
swasta luar negeri tersebut tidak dapat dikurangkan untuk menghitung penghasilan
kena pajak.