Anda di halaman 1dari 3

Negara Hukum Tanpa Penegak Hukum

11 Februari 2012 03:40 Diperbarui: 25 Juni 2015 19:48 535 0 0

Oleh: Yudi Hartono*

Indonesia kita akui adalah negara hukum yang berlandaskan pada pancasila, UUD 1945, serta
berbagai produk hukum lainnya sebagai pijakan penegakan hukum Indonesia. Aparatur
penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat
(orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak hukum yang terlibat dalam
proses tegaknya hukum itu, dimulai dari saksi, polisi, penasehat hukum, jaksa, hakim, dan
petugas sipir pemasyarakatan.

Sinergitas dari semua penegak hukum senantiasa akan menghasilkan produk sebagaimana
amanah dari produk hukum itu sendiri. Selain itu, setiap aparat dan aparatur terkait mencakup
pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan
kegiatan pelaporan atau pengaduan, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pembuktian,
penjatuhan vonis dan pemberian sanksi, serta upaya pemasyarakatan kembali (resosialisasi)
terpidana. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu, terdapat tiga elemen
penting yang mempengaruhi,sepert: pertama institusi penegak hukum beserta berbagai
perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja
kelembagaannya; kedua budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai
kesejahteraan aparatnya, dan ketiga perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja
kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik
hukum materielnya maupun hukum acaranya.

Hukum tidak mungkin akan tegak, jika hukum itu sendiri tidak atau belum mencerminkan
perasaan atau nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakatnya. Hukum tidak mungkin
menjamin keadilan jika materinya sebagian besar merupakan warisan masa lalu yang tidak
sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Artinya, persoalan yang kita hadapi bukan saja berkenaan
dengan upaya penegakan hukum tetapi juga pembaruan hukum atau pembuatan hukum baru.

Kepuasan masyarakat terkait pemerintahan negeri terus menurun dan pesimistis atas
penegakan hukum. Salah satu bobrok hukum yang dipertontonkan adalah kasus korupsi,
mafia hukum dan kasus memalukan lainnya. Seorang koruptor, yang dijerat hukum bisa
dengan pelbagai cara melepaskan diri dengan alasan alat bukti kurang. Misalnya tidak ada
barang bukti yang mendukung kejahatannya sehingga dengan mudahnya mereka meghirup
udara bebas.

Penegak hukum memang tidak memiliki moral lagi, mereka cenderung lebih berani melawan
rakyat kecil dibanding orang berduit sehingga tidak berlebihan kalau negara kita di nahkodai
segelintir manusia berduit. Pemberantasan korupsi yang tebang pilih menunjukkan penegakan
hukum di Indonesia masih dipengaruhi kepentingan politik yang sangat kuat. penegakan
hukum saat ini tajam sebelah. Bagian yang tajam hanya berlaku untuk kasus-kasus yang
melibatkan lawan politik partai penguasa dan masyarakat kecil. Maka tak heran, banyak
pejabat berbondong-bondong masuk partai penguasa tujuannya hanyalah menumpuk
kekayaan pribadi dengan segala cara baik korupsi, dan berbagai bentuk memalukan lainnya..
Banyak kepala daerah berbondong-bondong masuk ke partai penguasa. Sepertinya di situ
terasa lebih nyaman berlindung terutama ketika mereka tersandung kasus korupsi.

Ada dua titik yang paling bahaya kalau dijangkiti oleh korupsi. Pertama, sektor penegakan
hukum karena dia mengawal, memutus, dan memproses kejahatan. Sektor kedua adalah
politik karena sektor ini menempatkan orang sebagai menteri dan birokrasi kelas atas yang
hari ini mengambil keputusan di negeri ini. Kita hanya menjadi penonton setia menyaksikan
para penguasa menikmati singgasana kekuasaan menari diatas segala penderitaan rakyatnya.

Kasus lain yang menyayat hati adalah pelindung kita terlibat pelanggaran HAM, polisi hanya
pro terhadap para pemilik modal sehingga atas dasar pengamanan mereka tidak segan-segan
menyiksa dan membunuh rakyat yang mempertahankan haknya. Namun ironisnya ketika
rutan justru dijadikan pelanggaran hukum seperti produksi narkoba dan lain sebagainya.

Pasal 1 angka 2 Kepmen tahun 1958 disebutkan bahwa rutan dipimpin oleh seorang kepala
dan melakukan perawatan. Maka kepala rutan harus bertanggung jawab setiap tindakan yang
ada di rutan. Namun Dalam hal perawatan, tidak secara jelas dirinci kan tentang hal-hal apa
yang terkait di lakukan perawatan. Inilah yang menjadi celah dari kepala lapas itu sendiri,
yaitu dengan mekakukan perawatan yang dianggapnya benar terhadap lapas yang
dipimpinnya.

Menegakan hukum tanpa keadilan akan menimbulkan dosa sosial. Artinya masyarakat dan negara akan
semakin kacau kalau penegakan hukum tidak mampu memberi kebenaran dan keadilan pada masyarakat.
Penegak hukum dalam suatu pemerintahan negara hendaknya tegas untuk menghukum para penjahat dan
memberi penghargaan atau hadiah kebahagiaan para rakyat yang berbuat baik, benar dan berjasa
memberikan kontribusi aman, damai dan sejahtera pada kehidupan masyarakat dalam suatu negara.
Menghukum penjahat dan memberi penghargaan pada mereka yang berjasa merupakan dharma negara
bagi pemerintahan negara yang baik. Dengan demikian tujuan hukum adalah untuk tegaknya keadilan.
Hukum dibuat bukan sekadar untuk menata prilaku anggota masyarakat. Hukum dibuat untuk menegakan
keadilan dan kebenaran. Menghukum yang jahat dan menghargai yang bajik benar, baik dan tepat adalah
suatu tindakan yang adil. Adil adalah memberi orang sesuai dengan haknya. Hak muncul dengan
melakukan kewajiban dengan baik, benar dan tepat. Adil itu menghukum dan memberi penghargaan
dengan benar, baik dan tepat sesuai dengan kewajiban yang dilakukan.

Para aparat negara-termasuk Satpol PP selama ini tampak belum juga mampu menghilangkan sikap
militernya. Hingga mengorbankan rakyat sebagai dalih kepentingan negara. Dalam catatan kita telah
terjadi banyak kasus peristiwa kekerasan oleh anggota kepolisian dengan jumlah korban yang tidak sedikit.
Entahlah, apakah kasus-kasus itu murni kepentingan kelompok atau memang telah terjadi pergeseran pola
pikir dan karakter kepolisian sebagai lembaga yang seharusnya melindungi kita menjadi lawan dengan
kekerasan yang ditimbulkannya.

Terbukti, misalnya, dalam kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah atau pembakaran rumah ibadah,
ataupun sengketa lahan yang belakangan marak terjadi, para aparat belum menjadi tentara rakyat alias
masih menjadi tentara penguasa atau tentara pengusaha seperti dalam kasus Freeport atau dalam
penanganan konflik Papua (OPM), kasus mesuji, kasus Bima dan lain sebagainya yang tidak dapat kita
hitung secara keseluruhan. Tentu saja, hal ini bertentangan dengan komitmen Polri yang telah menerapkan
Perkap No 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan
tugas kepolisian.

Harapan kita sebagai masyarakat Indonesia kembali kepada negara yang berlandaskan kepada hukum yang
sesuai dengan amanah hukum itu sendiri bukan hukum yang ditunggangi kepentingan individu penguasa
dan segelintir kaum ber-uang. Menjadikan hukum yang indah seindah negara Indonesia sebagaimana
harapan para pejuang negara kita yang rela megorbankan seganya demi sejengkal tanah Indonesia.

Yudi Hartono, pengurus cabang PMII Situbondo

Alamat, Mimbaan-Panji-Situbondo