Anda di halaman 1dari 14

1.

Analisis tempat kerja


a. Keadaan jalan

Yaitu meliputi kekerasan dan kehalusan permukaan jalan. Jalan

tambang dengan kekerasan permukaan yang tinggi maka akan

memberi pengaruh yang besar terhadap kelancaran proses

pengangkutan, jalan yang licin, becek dan berdebu juga

akanmempengaruhi kecepatan alat angkut untuk membawa

batubara maupun tanah penutup.

b. Lebar jalan

Pada kegiatan tambang terbuka, lebar jalan sangat berpengaruh

terhadap besar atau tidaknya produksi alat angkut. Lebar jalan

tambang dapat dihitung dengan rumus:

Lebar jalan = 3 x lebar alat angkut terbesar + 2 x bahu jalan + 2

x saluran

c. Tanjakan maksimum dan jarak pengangkutan

Tanjakan maksimum biasanya dinyatakan dengan persen (%).

Biasanya untuk jalan tambang yang baik besar tanjakan maksimum

adalah 8 %. Artinya jalan tambang naik sebesar 8 m setiap jarak

mendatar 100 m. Apabila suatu kendaraan mendaki suatu tanjakan

maka gaya yang diperlukan untuk mempertahankan kendaraan tetap

bergerak akan meningkat lebih kurang sebanding dengan

kemiringan jalan begitupun sebaliknya.

d. Effisiensi Kerja
Dalam kegiatan pengangkutan waktu produktif yang digunakan

kendaraan angkut kadang-kadang berada di bawah kondisi ideal dari

waktu yang tersedia, hal ini karena adanya faktor-faktor yang

menjadi penghambat dan tidak dapat dihindari sehingga

mempengaruhi kondisi kerja, persiapan alat kerja, keterampilan

kerja operator, pengisian bahan bakar, pengaturan dan keserasian

kerja antara alat muat dan alat angkut, pemeliharaan alat, metoda

kerja dan hal-hal lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya

adalah:

1) Faktor Alat (Mesin)


a) Jenis atau tipe alat

Apabila Jenis alat mempunyai tenaga yang besar maka

akan dapat mengoptimalkan pekerjaan sehingga dapat

menghasilkan efektifitas kerja yang optimal

b) Kondisi alat

Kondisi alat sangat menentukan kinerja suatu alat. Jika

alat yang digunakan masih baik, terpelihara, maka akan

sangat meningkatkan effektivitas kerjanya. Sebaliknya jika

kondisi alat sudah tua, sering terjadi kerusakan akan

mengganggu kelancaran pekerjaan.

c) Perlengkapan alat

Tipe dan tahun pembuatan yang berbeda, menyebabkan

alat memiliki bentuk dan perlengkapan yang berbeda,

sehingga effektivitas alat berbeda.


2) Faktor Material

Jenis material yang dikerjakan menyebabkan efektifitas alat

menjadi bervariasi hal ini berkaitan dengan sifat material yang

dikerjakan dengan kemampuan alat yang mengerjakannya.

Adapun faktor material yang mempengaruhi effektivitas alat

seperti sifat kekerasan material, berat isi, keadaan material dan

lain-lain.

3) Faktor Lingkungan (Kondisi kerja)


a) Kondisi Cuaca, Seperti panas, mendung, hujan, terang dan

gelap berpengaruh langsung terhadap effektivitas alat

khususnya pada pekerjaan tambang terbuka. Iklim dan cuaca

adalah hal yang sangat mempunyai pengaruh besar terhadap

aktifitas pengangkutan dalam kegiatan penambangan. Pada

musim hujan front penambangan akan licin dan becek,

sebaliknya pada musim kemarau ront penambangan dan jalan

tambang akan berdebu sehingga menghalangi kerja operator

alat muat dan alat angkut, terutama operator alat angkut.

Debu-debu ini akan menghalangi pandangan mata operator

terhadap keadaan jalan di depannya dan dapat mengurangi

kecepatan pengangkutan batubara. Dengan kondisi demikian

kecepatan kerja alat angkut akan berkurang.


b) Kondisi Lapangan, keadaan lapangan berpengaruh pada

besarnya tenaga yang dapat dimanfaatkan alat. Beberapa

hal yang mempengaruhi terhadap kinerja alat seperti,


ketinggian tempat kerja dari permukan laut (altitude),

tahanan guling (Roling Resistance), tahanan kelandaian

(grade resistance).
4) Faktor Manusia
a) Kemampuan operator, dalam menangani alat pada operasi

kerja tertentu mempengaruhi effektivitas alat berat.


b) Manajemen dan sifat manusia, adalah faktor yang sangat

sulit ditentukan efisiensinya karena selalu berubah-ubah

setiap hari tergantung keadaan dan suasana kerja. Manajemen

pelaksanaan dalam mengatasi hambatan- hambatan

dilapangan yang tak dapat dihindari seperti, pelumasan,

penggantian suku cadang, kedisiplinan dan lain-lain

berpengaruh pada effektivitas pekerjaan.


2. Penggunaan alat
a. Alat-alat muat (loading units)

Salah satu tolok ukur yang dapat dipakai untuk mengetahui

buruknya hasil kerja suatu alat pemindahan tanah mekanis

termasuk alat-alat muat adalah besarnya produksi yang dapat

dicapai oleh alat tersebut.untuk prngambilan dan pemuatan material

ke alat-angkut dapat dengan alat yaitu: (Ir. Partanto: 1996)

1) Power shovel.

Merupakan sekop besar mekanis yang digerakan oleh

mesin-uap, atau mesin bensin, mesin diesel atau dapat juga


dengan motor listrik. Cara penggaliannya tergantung dari cara

menggerakan lengan sekop (dipper stick)nya.

Produksi power shovel tergantung dari: (Ir. Partanto: 1996)

a) Keadaan material apakah keras atau lunak.


b) Keadaan lapangan atau tempat kerja, misalnya tinggi lereng

atau jenjang (bench) yang digali.


c) Effisiensi alat-muat dan alat-angkut, serta keserasian ukuran

kedua alat tersebut.


d) Pengalaman para operator.
2) Dragline.

Alat ini hanya dipakai untuk batuan-batuan yang relatif

lunak atau sudah lepas (loose material), jadi tidak untuk batuan

keras dan kompak, dipakai untuk menggali material yang berada

di bawah tempak alat tersebut berdiri.

Produksi dragline dipengaruhi oleh empat faktor seperti

pada power shovel, yaitu: (Ir. Partanto: 1996)

a) Keadaan material
b) Keadaan lapangan atau tempat kerjanya
c) Effisieansi alat-muat dan alat-angkut, serta keserasian ukuran

kedua alat
d) Pengalaman para operator
3) Backhoe.

Backhoe adalah alat untuk menggali permukaan tanah

asli, pemotongan dan perapian tebing. Alat ini dipakai untuk

pekerjaan yang memerlukan pengontrolan secara teliti. Waktu

siklus backhoe salah satunya tergantung, pada ukuran backhoe

dan sudut swing dan kondisi kerja. (Ir. Partanto: 1996)


Produksi backhoe dipengaruhi oleh empat faktor yaitu: (Ir.

Partanto: 1996)

a) Faktor medan kerja.


b) Jarak pembuangan.
c) Kemampuan operator.
d) Pengaturan operasional.
b. Dump truck.

Berdasarkan cara mengosongkan muatan ada tiga cara truck

jungkit (dump truck) mengosongkan muatan, yaitu: (Ir. Partanto:

1996)

1) and-dump or rear dump, atau mengosongkan muatan ke

belakang
2) side-dump, mengosongkan muatan ke samping
3) bottom-dump, mengosongkan muatan ke arah bawah

Berdasarkan ukurannya pada umumnya ukuran dump truck

dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: (Ir. Partanto: 1996)

1) Ukuran kecil, yaitu truck yang mempunya kapasitas sampai 25

ton.
2) Ukuran sedang, yaitu yang mempunyai kapasitas antara 25 100

ton.
3) Ukuran besar, yaitu yang memiliki kapasitas diatas 100 ton.

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam pemilihan dump

truck adalah antara lain : (Ir. Partanto: 1996)

1) Dump truck kecil

Keuntungan dari pada penggunaan dump truck berukuran

kecil antara lain:

a) Lebih muda dan lebih lincah dalam pengoperasiannya


b) Lebih fleksibel dalam pengangkutan jarak dekat
c) Pemeliharaan dan perawatannya lebih mudah
d) Penyusunan terhadap kemampuan alat muat lebih mudah.

Jika salah satu dump truck dalam satu unit angkutan tidak

bekerja, tidak berpengaruh terhadap proses produksi.

Kerugian dari pada penggunaan dump ruck berukuran

kecil antara lain:

a) Waktu hilang akan banyak akibat banyaknya dump truck

yang beroperasi, terutama disaat akan memuat material.


b) Excavator akan lebih sukar dalam proses pemuatan material

karena bak dump truck terlalu sempit.


c) Biaya pemeliharaan akan lebih besar karena banyaknya

alat yang digunakan, begitu pula dengan tenaga

pemeliharaan.
d) Lebih banyak operator yang dibutuhkan.
2) Dump truck besar

Keuntungannya dari pada penggunaan dump ruck

berukuran kecil antara lain:

a) Untuk kapasitas pekerjaan yang sama dengan dump truck

yang kecil, jumlah dump truck lebih sedikit.


b) Cocok untuk angkutan jarak jauh.
c) Operator yang digunakan akan lebih sedikit
d) Pemuatan oleh excavator akan lebih mudah karena ukuran

bak yang lebih besar sehingga waktu hilang lebih sedikit.

Kerugiannya dari pada penggunaan dump ruck berukuran

kecil antara lain:


a) Jalan kerja harus selalu diperbaiki, karena berat

kendaraan yang akan mengakibatkan jalan lebih menjadi

cepat rusak.
b) Produksi akan berkurang jika salah satu dump truck tidak

bekerja atau rusak.


c) Pengoperasian alat akan lebih sukar karena ukuran yang

besar.

Dump truck merupakan alat angkut yang fleksibel, artinya

dapat digunakan untuk mengangkut bermacam jenis material.

Kapasitas dump truck yang dipilih harus sesuai dengan

kapasitas alat muat, jika perbandingannya kurang proposional,

maka ada kemungkinan alat muat terlalu lama melakukan

pengisian.

3. Faktor yang mempengaruhi produksi alat-alat


a. Parameter effisiensi kerja alat
Effisiensi kerja alat dapat diukur berdasarkan beberapa

parameter. Parameter-parameter tersebut dapat dilihat dalam

tabel.......
Tabel. Parameter Effisiensi Kerja Alat
Tersedia (Available) ; A Perawatan (Maintenance); M
Jalan (Operation); O Terhenti Perbaikan Perawatan
Kerja Tertunda (Idle); Mendadak; Terjadwal;
(Working); W (Delayed); D I UM SM
Kerja lancar 1. Mengisi BBM 1. Diminta 1. Waktu 1. Waktu
2. Mengatur alat standby perbaikan perbaikan
berat 2. Tak ada 2. Tunggu 2. Tunggu suku
3. Tunggu alat perator suku cadang
muat 3. Makan cadang 3. Lain-lain
4. Tunggu truck dan 3. Lain-lain
5. Inspeksi istirahat
6. Manuver alat 4. Rapat
7. Pengecekan 5. Hujan
alat sebelum
jalan
lebat
8. Membersihkan
6. Lain-lain
screen
9. Lain-lain
(Sumber: Ichwan Azwandi,48)
b. Perhitungan effisiensi kerja alat
1) Mechanical Availability (MA)

Mechanical availability merupakan faktor yang

menunjukan ketersedian alat dengan memperhitungkan waktu

kerja yang hilang untuk perbaikan mekanis.

Persamaannya adalah:

( Sumber : Partanto1996 )

Keterangan:

W = Jumlah jam kerja alat (working hours).

R = Jumlah jam perbaikan (repair hours).

2) Physical avaibility
Physical avaibility merupakan catatan mengenai keadaan

fisik dari alat yang sedang dipergunakan.


Persamaannya adalah:

( Sumber : Partanto1996 )

Keterangan:

W = Jumlah jam kerja alat. (working hours).

R = Jumlah jam perbaikan. (repair hours).

S = Jumlah jam standby.


3) Use of Utilisation (UA)

Use of Utilisation adalah untuk menunjukan berapa % dari

waktu yang digunakan oleh suatu alat pada saat alat itu

beroperasi.

Persamaannya adalah:

( Sumber : Partanto1996 )

Keteranga:

W = Jumlah jam kerja alat. (working hours).

S = Jumlah jam standby.

4) Efective Utilisation (EU)

Merupakan cara untuk menyatakan effisiensi kerja alat

berdasarkan keadaan alat yang bekerja di lapangan.

Persamaannya adalah:

( Sumber : Partanto1996 )

Keterangan:

W = Jumlah jam kerja alat. (working hours).

R = Jumlah jam perbaikan. (repair hours).

S = Jumlah jam standby.


Tabel. Effisiensi Kerja
Kondisi Pemeliharaan Mesin
Operasi
Alat Baik Baik Sedang Buruk Buruk
Sekali Sekali
Baik
Sekali 0.83 0.81 0.76 0.70 0.63
Baik 0.78 0.75 0.71 0.65 0.60
Sedang 0.72 0.69 0.65 0.60 0.54
Buruk 0.63 0.61 0.57 0.52 0.45
Buruk
Sekali 0.52 0.50 0.47 0.42 0.32
( Sumber : Partanto1996 )

Tabel. Effisiensi Operator


Macam Eff. Baik Eff. Sedang Eff. Kurang
Alat sekali (menit/Jam) baik
(menit/Jam) (menit/jam)
Crawler
Traktor 92% = 55 83% = 50 75% = 45
Ban
Karet 83% = 50 75% = 45 67% = 40
( Sumber : Partanto1996 )

c. Faktor pengembangan tanah (swell factor)

Swell factor merupakan perbandingan material insitu

(belum digali) dengan material dalam keadaan keasaan (setelah

digali) Persamaan yang digunakan adalah:

( Sumber : Partanto1996 )

Keterangan:

3
V undisturbed = Volume padat /asli (m )

3
V loose = Volume gembur (m )
Tabel.swell Factot Bahan Galian
Jenis Material Density lb/Cu yd Swell faktor
Tanah liat kering 2300 0.85
Tanah liat basah 2800-3000 0.82-0.80
Antrasite 2200 0.74
Bituminous 1900 0.74
Tanah biasa kering 2800 0.85
Tanah biasa basah 3320 0.85
Pasir kering 2200-3250 0.89
Pasir basah 3300-3600 0.88
(Sumber : Partanto1996 )

d. Keserasian kerja (Match Factor)

Keserasian kerja adalah pola gerak alat berat yang terpadu,

dimana tidak timbul waktu tunggu antara alat muat dan alat angkut.

Keserasian kerja dapat ditentukan dengan rumus:

( Sumber : Partanto1996 )

Keterangan:

MF = Faktor keserasian kerja

Na = Jumlah alat

n = Jumlah Bucket

Ctm = Waktu siklus alat muat (menit)

Cta = waktu siklus alat angkut (menit)

Nm = Jumlah alat muat

Jika faktor keserasian kerja:


MF = 1, Berarti keserasian kerja alat muat dan alat angkut

adalah 100% atau tidak ada waktu tunggu antara alat muat

dan alat angkut..

MF < 1, Berarti alat angkut bekerja penuh dan alat muat

mempunyai waktu tunggu.

MF > 1, Berarti alat muat bekerja penuh sedangkan alat

angkut mempunyai waktu tunggu.

4. Produktivitas alat berat


a. Kapasitas Produksi Excavator

Persamaan yang digunakan adalah:

(Sumber: Ichwan Azwandi,42)

Keterangan:

TP = Kapasitas Produksi (m/jam)

KB = Kapasitas Bucket (m)

BF = Bucket Faktor

FK = Faktor Koreksi

FK= m t s

(Sumber: Ichwan Azwandi,42)

Keterangan:

m = Machine Avaibility

t = Faktor Efisieansi Waktu

s = Faktor Skill Operator


b. Kapasitas Produksi Dump Truck
Persamaan yang digunakan adalah:
=

(Sumber: Ichwan Azwandi,44)


Keterangan:
TP = Kapasitas Produksi (m/jam)
C = Kapasitas Vessel (m)
FK = Faktor Koreksi
J = Jarak Angkut (m)
HT = Waktu Angkut (menit)
RT = Waktu Kembali (menit)
T1 = Waktu Dumping (menit)
T2 = Waktu Posisi Muat (menit)
Ct = Cycle time (menit)
n = Jumlah rit pengisisan
Cn = Cycle Time Excavator (detik)
LT = Waktu Muat (menit)
CT = Total Cycle Time (menit)