Anda di halaman 1dari 18

;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3

NPM : 1410070120009

Beban Kerja Mental

A. PENDAHULUAN
Beban kerja merupakan konsekuensi dari kegiatan yang diberikan kepada
pekerja.Aktivitas pekerja pada dasarnya dapat dibedakan antara aktivitas fisik dan
aktivitasmental. Dalamprakteknya beban kerja yang dijumpai merupakan kombinasi
antara beban kerja fisik dan beban keja mental. Menurut Henry R.Jex (1988), beban
kerja mental merupakan selisih antara tuntutan beban kerja dari suatu tugas dengan
kapasitas maksimum beban mental seseorang dalam kondisi termotivasi.
Pengukuran beban kerja mental dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengukuran
secara objektif dapat dilakukan dengan beberapa anggota tubuh antara lainkedipan mata,
flicker test dan pengukuran asam saliva. Sedangkan untuk pengukuran subjektif dapat
dilakukan dengan menggunakan metode NASA-TLX, Subjective Workload Assessment
Technique (SWAT), Harper Qoorper Rating (HQR), dan Task Difficulty Scale.
Pengukuran beban kerja mental secara subjektif merupakan teknik pengukuran yang
paling banyak digunakan karena mempunyai tingkat validitas yang tinggi dan bersifat
langsung dibandingkan dengan pengukuran lain.

Tujuan Praktikum
a. Mampu menghitung beban kerja mental operator secara subjektif dengan
menggunakan metode NASA-TLX.
b. Mampu mengintrepetasikan dan menganalisa skor perhitungan beban kerja mental
pada pekerjaan tertentu.
c. Mampu memberikan rekomendasi berdasarkan hasil analisa.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

B. INPUT DAN OUTPUT


Input :
1. Kuisioner NASA-TLX
2. Jumlah Tally Bobot Indikator NASA-TLX
3. Jumlah Rating Indikator NASA-TLX
4. Jenis Pekerjaan

Output :
1. Hasil kuisioner NASA-TLX
2. Skor NASA-TLX
3. Kategori beban kerja mental pada suatu pekerjaan
4. Rekomendasi beban kerja
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

LANDASAN TEORI
Beban Kerja Mental
1. Pengertian Beban Kerja
Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang
untuk memenuhi “permintaan” dari pekerjaan tersebut. Sedangkan kapasitas adalah
kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun
mental seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran (porsi) dari kapasitas
operator yang terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja tertentu. Menurut
Herrianto (2010) beban kerja adalah jumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh
seseorang ataupun sekelompok orang selama periode waktu tertentu dalam keadaan
normal.
Untuk mencapai beban kerja normal dalam arti volume pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan kerja cukup sulit, sehingga selalu terjadi ketidakseimbangan
meskipun penyimpangannnya kecil. Beban kerja terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu :
1) Beban kerja diatas normal artinya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan
pekerjaan lebih besar dari jam kerja tersedia atau volume pekerjaan melebihi
kemampuan pekerjaan;
2) Beban kerja normal artinya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan
pekerjaan sama dari jam kerja tersedia atau volume pekerjaan sama dengan
kemampuan pekerja;
3) Beban kerja dibawah normal artinya waktu yang digunakan untuk
menyelesaikan pekerjaan lebih kecil dari jam kerja tersedia atau volume
pekerjaan lebih rendah dari kemampuan pekerjaan.

1.1 Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja


Beban kerja dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Menurut Tarwaka (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja antara lain :
a. Faktor eksternal, yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti;
1. Tugas-tugas yang bersifat fisik, seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat
dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, dan tugas-tugas yang bersifat
psikologis, seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan, tanggung jawab
pekerjaan.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

2. Organisasi kerja, seperti lamanya waktu bekerja, waktu istirahat, shift kerja, kerja
malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan
wewenang.
3. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan
kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis
b. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri akibat dari
reaksi beban kerja eksternal. Faktor internal meliputi faktor somatis (jenis kelamin,
umur, ukuran tubuh, status gizi, dan kondisi kesehatan) dan faktor psikis (motivasi,
persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepuasan).
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

1. Beban Kerja Mental (Mental Workload)


A. Definisi Beban Kerja Mental
Menurut Henry R. Jex, 1998, dalam
bukunya “Human Mental Workload”, beban
kerja mental adalah:
"Beban kerja yang merupakan selisih
antara tuntutan beban kerja dari suatu tugas
dengan kapasitas maksimum beban mental
seseorang dalam kondisi termotivasi”.
Beban kerja mental yang berlebihan akan
mengakibatkan adanya stres kerja. Menurut
Lazarus (dalam Fraser, 1992) mengatakan bahwa stres kerja adalah kejadian–kejadian
disekitar kerja yang merupakan bahaya atau ancaman seperti rasa takut, cemas, rasa
bersalah, marah sedih, putus asa, bosan, dan timbulnya stres kerja disebabkan beban
kerja yang diterima melampaui batas–batas kemampuan pekerja yang berlangsung dalam
waktu yang relatif lama pada situasi dan kondisi tertentu.

Stoner (1986) mengatakan bahwa pekerjaan yang berbeda bagi setiap pekerja
akan menimbulkan tingkat stres kerja yang berbeda pula. Stres kerja berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung terhadap aspek–aspek pekerjaan terutama
terhadap motif berprestasi yang kelak akan berhubungan dengan proses kerja.

B. Dampak Beban Kerja Mental Berlebihan


Ada beberapa gejala yang merupakan dampak dari kelebihan beban mental berlebih,
seperti yang diterangkan oleh Hancock dan Meshkati (1988), yaitu:
a. Gejala fisik
Sakit kepala, sakit perut, mudah terkejut, gangguan pola tidur lesu, kaku leher
belakang sampai punggung, napsu makan menurun dan lain-lain.
b. Gejala mental
Mudah lupa, sulit konsentrasi, cemas, was-was, mudah marah, mudah tersinggung,
gelisah, dan putus asa.
c. Gejala sosial atau perilaku
Banyak merokok, minum alkohol, menarik diri, dan menghindar.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

C. Pengendalian Beban Kerja Mental Berlebihan


Cara mencegah dan mengendalikan stres kerja menurut Sauter (1990) dalam
Prihatini (2007) adalah sebagai berikut
1. Beban kerja mental harus disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kerja
pekerja yang bersangkutan dengan menghindarkan adanya beban berlebih maupun
beban kerja yang terlalu ringan.
2. Jam kerja harus disesuaikan baik terhadap tuntutan tugas maupun tanggung jawab di
luar pekerjaan.
3. Setiap pekerja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan karier,
mendapatkan promosi dan pengembangan keahlian.
4. Membentuk lingkungan sosial yang sehat yaitu antara pekerja yang satu dengan
yang lain.
5. Tugas-tugas harus harus didesain untuk dapat menyediakan stimulasi dan
kesempatan agar pekerja dapat menggunakan keterampilannya.

D. Pengukuran Beban Kerja Mental


1) Metode Pengukuran Obyektif
Berdasarkan Widyanti dkk. (2010), Beban kerja mental dapat diukur dengan
pendekatan fisologis (karena terkuantifikasi dengan dengan kriteria obyektif, maka
disebut metode obyektif). Kelelahan mental pada seorang pekerja terjadi akibat adanya
reaksi fungsionil dari tubuh dan pusat kesadaran. Pendekatan yang bisa dilakukan antara
lain :
1. Pengukuran selang waktu kedipan mata (eye blink rate)
Durasi kedipan mata dapat menunjukkan tingkat beban kerja yang dialami oleh
seseorang. Orang yang mengalami kerja berat dan lelah biasanya durasi kedipan
matanya akan lama, sedangkan untuk orang yang bekerja ringan (tidak terbebani
mental maupun psikisnya), durasi kedipan matanya relatif cepat.
2. Flicker test
Alat ini dapat menunjukkan perbedaan performansi mata manusia, melalui
perbedaan nilai flicker dari tiap individu. Perbedaan nilai flicker ini umumnya sangat
dipengaruhi oleh berat/ringannya pekerjaan, khususnya yang berhubungan dengan
kerja mata.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

3. Pengukuran kadar asam saliva


Memasang alat khusus untuk mengetahui beban kerja yang diterima pekerjayang
melibatkan mulut, terutama dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar liur utama yang
terletak diluar rongga mulut.

2) Metode Pengukuran Subjektif


Sedangkan metode pengukuran beban kerja secara suyektif menurut Widyanti dkk.
(2010) merupakan pengukuran beban kerja mental berdasarkan persepsi subjektif
responden/pekerja. Berikut ini merupakan beberapa jenis metode pengukuran subjektif :
1. National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX)
2. Subjective Workload Assessment Technique (SWAT)
3. Modified Cooper Harper Scaling
4. Multidescriptor Scale
5. Rating Scale Mental Effort (RSME)
Tahapan Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif:
1. Menentukan faktor-faktor beban kerja mental pekerjaan yang diamati.
2. Menentukan range dan nilai interval.
3. Memilih bagian faktor beban kerja yang signifikan untuk tugas-tugas yang spesifik.
4. Menentukan kesalahan subjektif yang diperhitungkan berpengaruh dalam
memperkirakan dan mempelajari beban kerja.
Tujuan Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif:
1. Menentukan skala terbaik berdasarkan perhitungan eksperimental dalam percobaan.
2. Menentukan perbedaan skala untuk jenis pekerjaan yang berbeda.
3. Mengidentifikasi faktor beban kerja mental yang secara signifikan berhubungan
berdasarkan penelitian empiris dan subjektif dengan menggunakan rating beban
kerja sampel populasi tertentu.
Dari beberapa metode tersebut metode yang paling banyak digunakan dan terbukti
memberikan hasil yang cukup baik adalah NASA-TLX dan SWAT (Hancock dan
Meshkati, 1988).
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

3. Metode NASA-TLX
A. Definisi NASA-TLX
Metode NASA-TLX merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis beban
kerja mental yang dihadapi oleh pekerja yang harus melakukan berbagai aktivitas dalam
pekerjaannya. Metode ini di kembangkan oleh Sandra G. Hart dari NASA-Ames
Research Center dan Lowell E. Staveland dari San Jose State University pada tahun
1981 berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuran subjektif yang terdiri dari skala
sembilan faktor (kesulitan tugas, tekanan waktu, jenis aktivitas, usaha fisik, usaha
mental, performansi, frustasi, stress dan kelelahan). Dari sembilan faktor ini
disederhanakan lagi menjadi 6 yaitu Mental demand (MD), Physical demand (PD),
Temporal demand (TD), Performance (P), Effort
(E), Frustation level (FR).
NASA-TLX (Nasa Task Load Index) adalah
Perlu digarisbawahi bahwa yang suatu metode pengukuran beban kerja mental
diukur disini merupakan beban secara subjektif. Pengukuran metode NASA-
kerja dari jenis pekerjaannya, TLX dibagi menjadi dua tahap, yaitu
bukan beban kerja yang dimiliki perbandingan tiap skala (Paired Comparison)
oleh masing-masing pekerja. dan pemberian nilai terhadap pekerjaan (Event
Scoring).

B. Indikator NASA-TLX
Dalam melakukan pengukuran NASA-TLX terdapat 6 indikator yang harus
diperhatikan (Hancock dan Meshkati, 1988), yaitu:
Tabel 4.1 Indikator NASA-TLX
SKALA RATING KETERANGAN

MENTAL Rendah, Tinggi Seberapa besar aktivitas mental dan perseptual


DEMAND (MD) yang dibutuhkan untuk melihat, mengingat dan
mencari.Apakah pekerjaan tersebut
sulit,sederhana atau kompleks. Longgar atau
ketat

PHYSICAL Rendah, Tinggi Jumlah aktivitas fisik yang dibutuhkan


;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

SKALA RATING KETERANGAN

DEMAND (PD) (misalnya mendorong, menarik dan mengontrol


putaran).

TEMPORAL Rendah, Tinggi Jumlah tekanan yang berkaitan dengan waktu


DEMAND (TD) yang dirasakan selama elemen pekerjaan
berlangsung. Apakah pekerjaan perlahan atau
santai atau cepat dan melelahkan

PERFORMANCE Tidak Tepat, Seberapa besar keberhasilan seseorang di dalam


(P) Sempurna pekerjaannya dan seberapa puas dengan hasil
kerjanya

FRUSTATION Rendah, Tinggi Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung,


LEVEL (FR) terganggu yang dirasakan

EFFORT (EF) Rendah, Tinggi Seberapa keras kerja yang dibutuhkan untuk
mencapai tingkat performansi.

C. Pengukuran metode NASA-TLX


Langkah-langkah pengukuran dengan menggunakan NASA TLX adalah sebagai
berikut (Hancock dan Meshkati, 1988):
1. Pembobotan
Pada bagian ini responden diminta untuk memilih salah satu dari dua indikator yang
dirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut.
Kuesioner NASA-TLX yang diberikan berupa perbandingan berpasangan. Dari
kuesioner ini dihitung jumlah tally dari setiap indikator yang dirasakan paling
berpengaruh. Jumlah tally menjadi bobot untuk tiap indikator beban mental. Berikut
tabel perbandingan indikator NASA TLX:
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

Tabel 4.2 Perbandingan Indikator


MD PD TD OP EF FR
MD
PD
TD
OP
EF
FR

2. Pemberian Rating
Pada bagian ini responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator beban
mental. Rating yang diberikan adalah subjektif tergantung pada beban mental yang
dirasakan oleh responden tersebut. Untuk mendapatkan skor beban mental NASA-TLX,
bobot dan rating untuk setiap indikator dikalikan kemudian dijumlahkan dan dibagi
dengan 15 (jumlah perbandingan berpasangan). Berikut skala rating dari NASA TLX:

Gambar 4.2 Rating NASA TLX


;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

3. Menghitung nilai produk


Diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing
deskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD,
CE, FR, EF):
Produk = rating x bobot faktor

4. Menghitung Weighted Workload (WWL)


Diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk

5. Menghitung rata-rata WWL


Diperoleh dengan membagi WWL dengan jumlah bobot total

6. Interpretasi Skor
Berdasarkan penjelasan Hart dan Staveland (1981) dalam teori NASA-TLX, skor
beban kerja yang diperoleh terbagi dalam tiga bagian yaitu:
Tabel 4.3 Skor NASA-TLX
Golongan Beban Nilai
Kerja
Rendah 0-9
Sedang 10 - 29
Agak Tinggi 30 - 49
Tinggi 50 - 79
Sangat Tinggi 80 - 100

Output yang dihasilkan dari pengukuran dengan NASA-TLX ini berupa tingkat
beban kerja mental yang dialami oleh pekerja.

Hasil pengukuran dapat menjadi pertimbangan manajemen untuk melakukan


rekomendasi, misalnya dengan mengurangi beban kerja untuk pekerjaan yang memiliki
skor di atas 80, kemudian mengalokasikannya pada pekerjaan yang memiliki beban
kerja di bawah 50 atau langkah-langkah yang lainnya.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

Contoh kasus pengukuran metode NASA-TLX


Pada kasus ini pengukuran beban kerja mental dilakukan pada pekerjaan pada bidang
transportasi, khususnya pada pekerjaan sebagai supir angkutan umum, supir taksi dan supir
travel pada salah satu terminal yang ada di Yogyakarta. Berikut langkah-langkah
pengerjaannya:
1. Pembobotan
Kuisioner perbandingan indikator pada Tabel 4.4 disebar kepada 3 reponden yang
bekerja pada satu tempat yang sama. Kemudian dilakukan rekapitulasi pada jumlah tally
kuisioner yang disebarkan sehingga mendapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.4 Indikator

PD TD OP EF MD
PD PD EF PD
TD TD TD
OP OP
EF

Tabel 4.5 Data Pembobotan Kuisioner


Indikator
Objek Penelitian Total
MD PD TD OP EF FR
Supir Angkutan
1 4 4 3 3 0 15
Umum
Supir Taksi 2 2 4 1 3 3 15
Supir Travel 2 3 2 4 0 4 15
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

2. Pemberian Rating
Pemberian rating didapatkan dari lembar pengamatan yang telah diisi oleh ketiga
operator setelah menyelesaikan BKM Test, operator diminta untuk memberikan rating
terhadap indikator beban mental dan rating yang diberikan bersifat subjektif sesuai dengan
beban mental yang dirasakan oleh operator terhadap masing-masing pekerjaannya. Hasil
dapat dilihat pada Tabel 4.6. sebagai berikut:
Tabel 4.6. Data Hasil Rating

Indikator
Objek
MD PD TD OP EF FR
Supir Angkutan
70 90 40 40 80 0
Umum

Supir Taksi 60 70 80 50 70 70

Supir Travel 70 90 60 40 80 60

3. Nilai Produk
Nilai Produk diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor. Dengan
demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, P, EF, FR) pada
masing-masing tipe soal, hasilnya pada Tabel 4.7. sebagai berikut:
Tabel 4.7. Total Nilai Produk

Indikator
Objek
MD PD TD OP EF FR
Supir Angkutan
70 360 160 120 240 0
Umum

Supir Taksi 120 140 320 50 210 210

Supir Travel 140 270 120 160 0 240


;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

3. Weighted Workload (WWL)


Weighted Workload diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk, hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 4.8. sebagai berikut:
Tabel 4.8. Total Nilai Weighted Workload

Indikator
Objek Total
MD PD TD OP EF FR
Supir Angkutan
70 360 160 120 240 0 950
Umum

Supir Taksi 120 140 320 50 210 210 1050

Supir Travel 140 270 120 160 0 240 930

4. Rata-rata WWL
Rata-rata Weighted Workload diperoleh dengan membagi WWL dengan jumlah bobot
total yaitu 15, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.9. sebagai berikut:
Tabel 4.9. Perhitungan Rata-rata Weighted Workload

Indikator
Objek Total
MD PD TD OP EF FR
Supir Angkutan
4,67 24 10,67 8 16 0 63,3
Umum

Supir Taksi 8 9,33 21,33 3,33 14 14 70

Supir Travel 9,33 18 8 10,67 0 16 62

5. Interpretasi Skor NASA-TLX


Dari total rata-rata WWL yang didapatkan kemudian dihubungkan dengan skor NASA-
TLX untuk menentukan golongan beban kerja. Didapatkan kategori untuk setiap tipe soal
pada Tabel 4.6. sebagai berikut:
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

Tabel 4.10. Kategori Penilaian Beban Kerja


Nilai Beban
Objek Kategori
Kerja
Supir Angkutan 63,33 Tinggi
Umum
Supir Taksi 70 Tinggi

Supir Travel 62 Tinggi

7. Analisi Hasil
7.1 Beban Kerja mental supir angkutan umum
Berdasarkan perhitungan beban kerja yang telah dilakukan dengan menggunakan
metode NASA-TLX, beban kerja mental pada operator 1 yang bekerja sebagai supir
angkutan umum sebesar 63,33. Maka berdasarkan nilai tersebut, beban kerja yang dialami
oleh operator 1 berada pada 50-79 yang artinya beban kerja tinggi. Faktor dominan yang
diakibatkan dari beban kerja yang tinggi pada operator 1 adalah faktor kekuatan fisik,
dimana dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa salah satu aktivitas yang membuat
operator 1 terbebani adalah dalam hal kebutuhan fisik (PD) dimana operator 1 yang
berusia > 40 tahun dituntut untuk bekerja sebagai supir angkutan umum yang berkeliling
kota mencari penumpang dari pagi hingga sore hari sehingga membutuhkan energi yang
banyak dalam melakukan pekerjaannya.
;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

Latihan Soal
Pada kasus ini pengukuran beban kerja mental dilakukan pada perawat poliklinik bedah,
mata, fisioterapi, internist dan neurologi sebanyak 8 responden (Hidayat dkk, 2013). Telah
diketahui pembobotan dari rekapitulasi pada jumlah tally kuisioner yang disebarkan
mendapatkan hasil pada Tabel 4.11 dan pemberian rating juga diketahui pada Tabel 4.12
Maka berapakah interprestasi skor dari tiap pekerjaan ?

Tabel 4.11 Data Pembobotan Kuisioner

Tabel; 4.12 Pemberian Rating


;lk;k Nama : Roby Agus Permata Tugas : Ergonomi K3
NPM : 1410070120009

D. PRAKTIKUM
Alur pengerjaan praktikum Beban Kerja Mental seperti dijelaskan pada flowchart
berikut:

Mulai Sesi
Praktikum

Teori dalam kelas :


1. Penyampaian materi
2. Post Test

Pengambilan data

1. Responden kerja
2. Pengisian Kuesioner NASA-TLX
3. Pemberian rating

Data yang
dibutuhkan
terkumpul

Pengolahan Data

Analisis Data

Pengambilan
No Keputusan

Konsultasi kepada
asisten
pembimbing

ACC Asisten

Yes

Pengumpulan
Laporan
E. REFERENSI
Fraser. 1992. Stres dan Kepuasan Kerja. Jakarta: Pustaka Binawan Pressindo.
Hancock, P. A. & Meshkati, N. 1988. Human Mental Workload. Elsevier.
Hart, S. G. 2006. NASA-Task Load Index (NASA-TLX), 20 years later. In Human
Factors and Ergonomics Society 50th Annual Meeting (pp. 904-908). Santa Monica,
CA: Human Factors and Ergonomics Society.
Henry, R. J. 1988. Human Mental Workload. New York, USA: Elsevier Science
Publisher B.V.
Herrianto, R. 2010. Kesehatan Kerja. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Hidayat, T.F., Pujangkoro,S. & Anizar. 2013. Pengukuran Beban Kerja Perawat
Menggunakan Metode NASA-TLX di Rumah Sakit XYZ. FT USU: e-Jurnal Teknik
Industri. 1(2), pp.42-47.
James, A.F.Stoner. 1986. Manajemen II. Jakarta: Erlangga.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia. 2004. Pedoman
Perhitungan Kebutuhan Pegawai Berdasarkan Beban Kerja dalam Rangka
Penyusunan Formasi Pegawai Negeri Sipil (Kep. Men. PAN Nomor :
KEP/75/M.PAN/7/2004). Jakarta.
Manuaba. 2000. Ergonomi, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja. Surabaya: Guna Widya
Purnomo, H. 2014. Metode Pengukuran Kerja. Yogyakarta: Sigma
Prihatini. 2007. Analisis Hubungan Beban Kerja dengan Stres Kerja Perawat di Tiap
Ruang Rawat Inap RSUD Sidikalang, Medan.
Tarwaka. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktivitas.
Universitas Islam Surakarta: Penerbit UNIBA Press.
Widyanti, A., Johnson, A. & Waard, D.d. 2010. Pengukuran Beban Kerja Mental Dalam
Searching Task Dengan Metode Rating Scale Mental Effort (RSME). JTI Universitas
Diponegoro, 1(V).