Anda di halaman 1dari 8

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN GIGI

NAMA: Rangga Pradana Putra


1112015031
DOSEN: drg. Diah

PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
FEBRUARI 2016
Persiapan pasien:
a. Pasien sebelumnya harus menyerahkan rujukan untuk melakukan rontgen karena hal
ini berbahaya dan tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa rujukan dokter
b. Pasien harus bersedia memberikan info tentang kesehatan rongga mulut yang dialami
saat ini. Contoh: bengkak, ngilu, dan posisinya dimana.
c. Pasien harus bersedia untuk melepaskan semua perhiasan yang dipakai untuk
mempermudah proses rontgen (termasuk gigi lepasan)
d. Perhatikan palatum pasien, terutama bagian vestibulum pasien
e. Tanyakan atau periksa jika pasien hiposaliva/ hipersaliva
f. Apakah rasa mual pasien tinggi/ rendah
g. Pasien harus menggunakan apron khusus untuk proteksi dari radiasi. Pasien akan
dibantu oleh dokter atau tenaga kesehatan
Persiapan alat:
a) Peralatan standar:
Dental unit:
Pesawat dental X-Ray
 Konvensional – AC, stabilizer
 Digital – Unit computer, printer, AC, stabilizer
 Sinyal lampu – Hijau dan merah

b) Pemeriksaan visual: Ciewer, kaca pembesar


Konvensional: Film
Bahan processing konvensional: Developer, fixir, air
Bahan digital: Kertas print super glossy, tinta warna, plastic disposable, sarung
tangan, masker dan apron.

Proteksi iritasi:
a. Proteksi radiasi untuk dokter dan paramedic:
 Hindari bagian tubuh yang tidak terlindung
 Pakaian pelindung ( Apron, handschun,dll)
 Hindari sinar tembus
 Pemeriksaan rutin pesawat
 Pemeriksaan pesawat sebelum dipakai

b. Proteksi radiasa untuk pasien:


 Perlindungan alat kelamin
 Daerah penyinaran sekecil mungkin
 Hanya alat permintaan dokter yang digunakan
 Hamil ( Sebaiknya stelah trisemester 1)
Persiapan expose:
Teknik Radiografi gigi terdiri dari 2 yaitu:
A. Intra Oral Radiography
1) Periapikal Radiography
a) Bisecting Angle Technique
Misalnya: gigi impaksi dapat dilihat lebih ke mesial atau ke apical.
Tekniknya:
1. Film diletakkan pada bagian lingual atau palatinal dari gigi yang akan difoto
2. Salah satu ujung film menyentuh bagian incisal dari gigi dan membentuk sudut dengan
long axis gigi
3. X-ray tube/ sinar central tegak lurus dengan garis (khayal) yang membagi dua sudut
yang dibentuk antara long axis gigi dengan film

4. Hasilnya tampak gigi-gigi RA atau RB maksimal 4 gigi untuk gigi anterior dan 3 gigi
untuk gigi posterior

b) Paralelling Technique
1. Film diletakkan pada bagian palatinal atau lingual gigi yang akan difoto
2. Film diletakkan sejajar dengan long axis gigi dengan memakai ‘Film Holder’
3. Sinar sentral diarahkan tegak lurus terhadap axis gigi dan film
4. Teknik ini menghasilkan
gambar yang lebih baik
daripada teknik bisecting angle.
2) Bitewing Radiography
Sering disebut “Proximal Radiografi”
Tekniknya:
1. Film diletakkan dengan pegangan khusus dan pasien diatur sedimikian rupa (posisi
dataran oklusal dengan lantai)
2. Film diletakkan pada bagian lingual dan palatinal pada gigi yang akan difoto
3. Penderita diinstruksikan untuk menggigit ringan pegangan sayap-sayap film
4. Sinar sentral diarahkan tegak lurus terhadap film
5. Hasilnya akan nampak gigi RA dan RB dalam keadaan hampir oklusi (mahkota
kelihatan seluruhnya dan bagian akar hanya kelihatan sebagian)

3) Occlusal Radiography
a) Maxillary Occlusal Radiography
 Standar Maxillary Occlusal Radiography
1. Film diletakkan diantara gigi RA dan RB mulai dari gigi anterior ke gigi posterior.
2. Pasien diinstruksikan untuk menggigit ringan film.
3. Tube sinar x diletakkan di tengah-tengah hidung dengan arah sinar sentral membentuk
sudut 65 o -70o dengan film.
4. Hasilnya terlihat gigi anterior dan palatum durum, untuk gigi posterior yang nampak
hanya mahkotanya.
5. Tekniknya dilakukan demikian untuk menghindari tumpukan gambar dari tulang
frontal. Sedangkan titik masuk sinar pada bagian tengah hidung berguna untuk melihat gigi
posterior dan adanya kelainan pada palatum. Gigi impaksi dapat dilihat lebih ke bukal atau
palatal.

 Oblique Posterior Occlusal Radiography


1. Film diletakkan antara gigi RA dan RB mulai dari gigi anterior ke gigi posterior
2. Pasien diinstruksikan untuk menggigit ringan film (untuk menahan film)
3. Tube sinar X diletakkan pada daerah gigi yang akan difoto
4. Arah sinar sentral membentuk sudut 60o terhadap film
5. Hasilnya terlihat gigi posterior (mahkota akar) dan palatum, untuk gigi anterior yang
tampak jelas hanya insisalnya
6. Teknik ini digunakan untuk memperlihatkan struktur dan beberapa keadaan patologis
yang berasal dari daerah maxilla, akar gigi molar (akar palatinal), akar yang terletak dalam
gingival
 Vertex Occlusal Radiography
1. Film diletakkan antara gigi RA dan RB
2. Pasien diinstruksikan menggigit film
3. Tube diletakkan pada atap tengkorak pada bagian depan
4. Arah sinar sentral sejajar dengan sumbu/ as panjang gigi incisivus anterior
5. Teknik ini digunakan untuk menentukan letak gigi impaksi pada hubungan buccopalatinal
dalam lengkung gigi.

b) Mandibular Occlusal Radiography


 Anterior Occlusal mandibula radiography
1. Film diletakkan antara gigi RAdan RB
2. Tube sinar X diletakkan pada sympisis menghadap ke atas dimana sinar sentral
membentuk sudut 60o terhadap film
3. Hasilnya terlihat gigi anterior (mahkota-akar) dan gigi posterior tampak hanya
mahkotanya
4. Teknik ini untuk melihat gigi region anterior, untuk anak kecil yang tidak kooperatif
bila dilakukan periapikal foto atau kasus dimana lengkung rahang sangat sempit.
 True Occlusal Mandibula Radiography
1. Kepala pasien diatur dalam keadaan mendongak dengan posisi “ala tragus line” hampir
tegak lurus dengan lantai.
2. Tube diletakkan di midline dasar mulut dengan arah sinar menghadap ke mandibula
3. Hasilnya dapat melihat benda asing di dasar mulut dan batu yang menyumbat saliran
keluar saliva, terlihat juga gigi anterior (mahkota-akar), gigi posterior kelihatan hanya
mahkotanya

B. Ekstra Oral Radiografi


1) Panoramic
 Merupakan pesawat dental x-ray yang dapat
sekaligus membuat foto dari ke seluruh gigi
(RA/RB)
 Pesawat panoramic ini biasanya
dikombinasikan dengan cephalometrik
 Alat ini membuat seluruh gambar gigi pasien
dengan teknik tabung bergerak bersama film
sewaktu dilakukan expose, tetapi ada pula
hanya filmnya bergerak sedangkan tabungnya
tetap di tempat. Alat ini digerakkan oleh
motor penggerak selam expose berlangsung
 Film panoramic (15 cm x 30 cm) dikemas
dalam suatu kantong khusus
 Pesawat panoramic berkapasitas antara lain :
8 mA, 12 mA, 15 mA dengan tegangan 40-
100 kv dan waktu expose 15-20 detik
2) Cephalometri
 Merupakan alat bantu khusus digunakan pada pemeriksaan orthodonti
 Radiografi alat ini dipasang pada dinding kamar periksa dan ada yang sudah
terpasang pada alat secara keseluruhan tidak dipasng di dinding
 Mempunyai alat fiksasi kepala pasien maupun kaset
 Alat ini dirancang sedimikian rupa sehingga hubungan kepala pasien dan kaset
secara tepat dapat diperoleh, berfungsi untuk fiksasi antero-posterior maupun
posisi lateral terhadap kaset
 Kepala pasien difiksasi pada kedua daerah telinga
 Posisi hidung yang menunjukkan posisi kepala pasien yang tepat terhadap kaset
tergantung di belakang kepala pasien
 Demikian pemeriksaan/ pembuatan foto radiografi dapat dilakukan tanpa objek
bergerak padawaktu expose dilakukan
Alat X-ray yang digunakan untuk pembuatan foto radiografi ini berkapasitas 150 mA dan 125
kv

Sumber:
1. White SC, Pharoah MJ. Oral radiology: Principles and interpretation. Fifth Edition. St
Louis: Mosby;2004.
2. Paler FA. Color atlas of dental medicine: Radiology. Thieme