Anda di halaman 1dari 2

MAZHAB HANAFI

Ketiga: Ulama Hanafiyyah


Disyariatkan qunut pada shalat witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat
lainnya kecuali pada saat nawaazil yaitu kaum muslimin tertimpa musibah,
namun qunut nawaazil ini hanya pada shalat shubuh saja dan yang
membaca qunut adalah imam, lalu diaminkan oleh jama’ah dan tidak ada
qunut jika shalatnya munfarid (sendirian).
Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa Qunut itu disunnahkan pada shalat witir yang
dilakukan sebelum ruku'. Sedangkan pada shalat subuh, beliau tidak menganggapnya
sebagai sunnah. Sehingga bila seorang makmum shalat subuh di belakang imam yang
melakukan qunut, hendaknya dia diam saja dan tidak mengikuti atau mengamini imam.
Namun Abu Yusuf, salah seorang tokoh dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa
bila imamnya melakukan qunut, maka makmumnya harus mengikutinya, karena imam
itu harus diikuti.

Madzab Hanafi :
Disunatkan Qunut pada shalat witir dan tempatnya sebelum ruku. Adapun Qunut pada shalat subuh
tidak disunatkan . Sedangkan Qunut Nazilah disunatkan tetapi ada shalat jahriyah saja.

Madzhab Hanafi menanjurkan membaca do’a qunut pada shalat witir saja dan tidak
dianjurkan membaca do’a qunut pada shalat subuh, selain qunut nazilah dalam shalat jahriyah
{bacaan keras}. Menurutnya, bila imam membaca do’a qunut dan makmumnya memilih
tidak qunut dalam shalat subuh, sebaiknya makmum diam mendengarkan bacaan qunut
imam.
Ulama’ madzhab hanafi berpendapat bahwa hanya dia leh ulama’ senior madzhab hanafi
yaitu Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf yang juga ulama’ senior madzhab hanafi
mengatakan, bila imam membaca qunut dalam shalat subuh dan makmum memilih tidak
qunut, makmum dianjurkan mengikuti qunut imam, karena makmum wajib mengikuti imam.
Pendapat ini menilai bahwa qunut subuh telah ditinggalkan oleh Nabi SAW sesuai
hadits Ibnu Mas’ud ra, yang menerangkan bahwa Nabi SAW qunut selama satu bulan
kemudian beliau meninggalkannya.
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: Bahwa Nabi SAW, membaca do’a qunut dalam shalat subuh
selama satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. HR. Al-Bazzar, Thabarani, Ibn
Syaibah dan Thahawi. {Nasbu al-Rayah II/128}
Hadits lain yang juga mereka pakai alasan bahwa qunut subuh telah di nasakh (hapus)
adalah sejumlah hadits berikut.
‫أن أباه صلّى خلف رسول هللا ص ّلى هللا عليه وس ّلم وأبى بكر وعمر وعثمان‬
ّ : ‫عن مالك اآلشجعى رضي هللا عنه قال‬
ّ
‫ والفقه اإلسالمي وأدلته‬133 ‫ ص‬2 ‫ رواه أحمد والترمذي وصححه وابن ماجة (نيل ألوطار ج‬.‫ فلم يقنت واحد منهم‬،‫ي‬ ّ ‫وعل‬
)810 ‫ ص‬1 ‫ج‬
{Nailul Authar II/133 dan al-Fiqh al-Islamy wa-adillatuhu I/810}
‫ رواه أحمد (الفقه اإلسالمي‬. ‫أن النّبي صلّى هللا عليه وسلّم قنت شهرا ث ّم تركه‬
ّ : ‫عن أنس ابن مالك رضي هللا عنه قال‬
) 123 ‫ ص‬2 ‫ ونيل األوطار ج‬810 ‫ ص‬1 ‫وأدلّته ج‬
Anas ibn Malik ra, ia berkata: Adalah Nabi SAW qunut selama satu bulan kemudian beliau
tinggalkan. HR. Ahmad {Al-Fiqh al-Islamy wa-adillatuhu I/810 dan Nailul Authar II/123}