Anda di halaman 1dari 8

Nama : Rio Pratama

Kelas : A-5
NIM : 155120500111029
Mata Kuliah : Governance dan Transisi Demokrasi
1. Demokrasi ideal
Pada dasarnya tidak ada suatu sistem politik yang tidak memiliki kekurangan atau dapat
dikatakan ideal. Namun menurut penulis, sistem demokrasi adalah sistem politik yang paling
baik diantara sistem politik lainnya di dunia. Demokrasi merupakan faham dan sistem politik
yang didasarkan pada doktrin “power of the people”, yakni kekuasaan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi dalam sistem
pemerintahan. Demokrasi baik sebagai doktrin atau faham maupun sebagai sistem politik
dipandang sebagai alternatif yang lebih baik daripada sistem politik lainnya yang terdapat di
hampir setiap bangsa san negara. Demikian kuatnya faham demokrasi, sampai-sampai
konsepnya telah menjadi keyakinan politik (political belief) kebanyakan bangsa, yang pada
gilirannya kemudian berkembang menjadi isme, bahkan berkembang menjadi mitos yang
dipandang dapat membawa berkah bagi kehidupan bangsa-bangsa beradab1
Menurut Joseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional
untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk
memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; Affan Gaffar memaknai demokrasi
dalam dua bentuk yaitu pemaknaan secara normatif dan empirik. Demokrasi normatif adalah
demokrasi yang secara ideal hendak dilakukan oleh sebuah negara. Sedangkan demokrasi
empirik adalah demokrasi dalam perwujudannya pada dunia politik praktis.2
Robert A. Dahl mengatakan, Demokrasi membantu orang-orang untuk melindungi
kepentingan pokok mereka. Melindungi kesempatan dan kebebasan untuk memilih,
kesempatan untuk membentuk kehidupan menurut tujuan, pilihan, perasaan, nilai komitmen,
dan keyakinan dengan baik daripada semua sistem politik alternatif yang pernah
terjadi.Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan sebesar-
besarnya bagi orang-orang untuk menggunakan kebebasan menentukan nasibnya sendiri. Ini
merupakan penegasan bahwa dibutuhkan sebuah proses untuk mengambil berbagai keputusan
tentang aturan-aturan dan hukum-hukum yang memenuhi beberapa kriteria yang layak.
Demokrasi memastikan bahwa sebelum suatu hukum dijalankan dibutuhkan kesempatan
untuk mengemukakan aneka pandangan. Dipastikan pula bahwa akan diperoleh kesempatan
untuk berdiskusi, memberi pertimbangan, berorganisasi, dan berkompromi yang dalam
keadaan terbaik dapat menunjukkan hukum yang akan memuaskan semua orang, serta dalam
situasi yang kemungkinan besar kebulatan suara tidak dapat diraih, usulan hukum yang
memiliki jumlah penduduk terbesarlah yang akan diberlakukan. Kriteria-kriteria tersebut di
atas adalah bagian proses demokrasi yang ideal dan proses tersebut mengembangkan seluas-
luasnya penentuan nasib sendiri sampai batas-batas yang memungkinkan.3

1
Haedar Nashir, Pragmatisme Politik Kaum Elite (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 37.
2
Azyumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani (Jakarata: ICCE UIN Jakarta,
2000), 110-111.
3
Robert A. Dahl, On Democracy, (Yale University Press, 1991), 68.
Robert A. Dahl juga menyatakan bahwa sebenarnya kata rakyat dalam demokrasi
berbeda sekali dengan apa yang kita fahami saat ini. Dalam konteks Yunani Kuno saat itu,
kata “rakyat “ tidak lebih sekumpulan manusia dari sebuah polis atau kota kecil. Hal tersebut
membawa konsekuensi logis bahwa apa yang disebut sebagai demokrasi dalam pengertian
aslinya pun berbeda dengan demokrasi dalam pemahaman kontemporer. Dalam pandangan
Yunani Kuno (awal abad ke 6 sampai ke 3 SM), demokrasi harus memenuhi enam syarat:
a. Warga Negara harus cukup serasi dalam kepentingan mereka
b. Mereka harus padu dan hommogen
c. Jumlah warga Negara harus kecil (bahkan kurang dari 40.000)
d. Warga Negara harus dapat berkumpul dan secara langsung memutuskan legislasi
e. Warga Negara juga berpartisipasi aktif dalam pemerintah dan,
f. Negara kota sepenuhnya otonom.
Dengan demikian makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara
mengandung pengertian bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam masalah-
masalah mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan negara, karena
kebijakan tersebut akan menentukan kehidupan rakyat. Dengan demikian negara yang
menganut sistem demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan
kemauan rakyat. Dari sudut organisasi, demokrasi berarti pengorganisasian negara yang
dilakukan oleh rakyat sendiri atau atas persetujuan rakyat karena kedaulatan berada ditangan
rakyat.
2. Perkembangan demokrasi
Indonesia adalah satu-satunya negara sejak merdeka sampai sekarang mampu
mengadopsi demokrasi di kawasan Asia Tenggara, meskipun seiring pergantian dan
periodisasi kepemimpinan politik bangsa turut andil dalam merubah model-model demokrasi
di dalamnya, terhitung setelah terjadinya perdebatan antara demokrasi Liberal atau demokrasi
sesuai identitas bangsa pra kemerdekaan, Indonesia mengalami empat fase model
demokrasi;4
Yang pertama adalah Demokrasi Parlementer. Pada awal kemerdekaan 1945-1959
dikenal demokrasi parlementer, dimana pada tahun 1950 sistem RIS dirubah dalam bentuk
kesatuan baru, yaitu sistem parlementer yang kemudian di pimpin perdana menteri Natsir.
Tercatat terdapat 4 pergantian kepemimpinan perdana menteri. Pemilu pertama kali diadakan
di era perdana menteri ke-3 yaitu wilopo, dengan ditetapkannya UU No. 7 tahun 1953, yaitu
tepat pada 29 september 1955 (pemilihan parlemen) dan 15 Desember 1955 (anggota
konstituante) untuk pertama kalinya pemilu dilaksanakan.5 Kemudian yang kedua, ada
Demokrasi Terpimpin. Pada masa ini, sistem demokrasi terpimpin mendapat banyak
tantangan karena dianggap sebagai kamuflase kediktatoran dan sentralisme seperti faham
Komunis. Deliar Noer misalnya, ia mengatakan bahwa demokrasi Terpimpin sebenarnya
ingin menempatkan soekarno sebagai ayah dalam keluarga besar bernama Indonesia dengan
kekuasaan terpusat berada di tangannya.6 Kemudian yang ketiga disebut dengan demokrasi
pancasila. Pada periode ini adalah masa peralihan dari era Soekarno ke era Soeharto sebagai
presiden Indonesia. Gebrakan mulainya Orde Baru terjadi dalam banyak sektor, paling
menjadi sorotan adalah mengembalikan fungsi UUD akibat penyelewengan masa Soekarno,
di antaranya ketetapan MPRS No. III/1963 yang menetapkan Soekarno sebagai presiden
seumur hidup telah dibatalkan, dan jabatan pemimpin negara kembali menjadi jabatan elektif
setiap lima tahun. Selain itu kebijakan-kebijakan hasil ketentuan masa Orde Lama kembali
mengalami koreksi dengan ditetapkannya MPRS No. XIX/1966 untuk peninjauan kembali
produk legislatif demokrasi Terpimpin.7 Semangat mengembalikan fungsi UUD pada
tempatnya dan kembali menempatkan Pancasila sebagai asas tertinggi dan tunggal bagi
semua golongan dalam bernegara menjadikan sistem pemerintahan pada periode ini adalah
demokrasi Pancasila, sesuai UUD 1945, dan Ketetapan-ketetapan MPRS.8 Dan yang terakhir
adalah Demokrasi Pasca Reformasi. Tahun 1998 adalah babak baru, demokrasi Indonesia
tidak lagi dipaksa dengan satu asas tunggal Pancasila, melainkan reformasi total, semangat
timbul bukan lagi koreksi total, tetapi penggantian total terhadap apapun berbau dan beraliran
rezim Orde Baru. Tumpuan besar setelah krisis moneter mencekik masyarakat diharapkan
ada solusi untuk itu. Masa ini adalah masa terberat dalam sejarah, transisi tidak hanya dalam
bidang politik, namun pemimpin baru diharapkan mampu menyelesaikan problem ekonomi
dan berbuat menghidupkan lembaga hukum untuk mengadili Soeharto, keluarga, dan kaki
tangannya.9 Reformasi berhasil merombak beberapa keputusan konstitusi Orde Baru menjadi

4
Dede Rosyada, dkk., Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia &
Masyarakat Madani, Abdul Rozak, dkk., ed. (Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kerjasama The Asia
Foundation & PERNADA MEDIA, 2003), 111.
5
Mubarak, ”Demokrasi dan Kediktatoran: Seketsa Pasang Surut Demokrasi di Indonesia”, 66
6
Dede Rosyada, Op. Cit, 131
7
Dede Rosyada, Op.Cit, 133
8
S. Pamudji, Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional: Satu Analisa di Bidang Politik dan
Pemerintahan (Jakarta: Bina Aksara, 1985), 8.
9
M. Fadjroel Rachman, “Merayakan Matinya Reformasi”, dalam M. Fadjroel Rachman dan
Taufiqurrahman, ed., Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat: Tentang Kebebasan, Demokrasi, dan Negara
Kesejahteraan (Depok: Koekoesan, 2007), 120.
lebih demokratis, di antaranya mengembalikan sistem pemilu pada multi partai, yang tadinya
Orde Baru menggebiri partai peserta pemilu dengan tiga partai politik, masa Reformasi
diikuti lebih dari tiga puluh partai, yang dimulai dari pemilu tahun 1999, 2004, dan tahun
2009. Adanya keputusan pencabutan Dwi fungsi ABRI, ABRI semula ikut dalam percaturan
politik dan ikut duduk dalam parlement dikembalikan pada tugas pokoknya, yaitu menjaga
keamanan negara dan dilarang ikut aktif dalam politik praktis berada dalam konstitusi.10

Gambar 1 Indeks Demokrasi Indonesia. Sumber https://www.bti-project.org/en/reports/country-


reports/detail/itc/IDN/

Berdasarkan data tabel diatas, pada 2016, nilai total indeks Demokrasi Indonesia
tertinggi di negara-negara rumpun ASEAN. Indonesia (6,97 persen), Filipina (6,94 persen),
Malaysia (6,54 persen), Singapura (6,38 persen), Thailand (4,97 persen). Hal ini dipengaruhi
karena indonesia telah mengalami proses perubahan politik yang cukup panjang dalam
menjalankan demokrasi. Sejak era demokrasi parlementer hingga saat ini masa demokrasi
pasca demokrasi. Secara prosedural Indonesia dianggap yang terbaik di Asia Tenggara
namun tidak secara substansial karena pada prakteknya, masih adanya praktik demokrasi di
Indonesia yang di warnai oleh nilai nepotisme dan oligarki.
Banyaknya pseudo-democracy atau demokrasi semu di asia tenggara membuat beberapa
negara memiliki indeks demokrasi yang rendah. Contohnya di Myanmar pada tahun 2010,
ketika negara ini mengadakan pemilu namun pemilu kenyataannya pemilu ini hanya rekayasa
semata. Pada pemilu tersebut tidak mencantumkan partai NLD, pemenang pada pemilu tahun
1990 yang dipimpin Aung San Suu Kyi yang tidak di akui pemerintahan Junta Militer yang
10
Yuddy Chrisnandi, “10 Tahun Reformasi TNI”, dalam Yuddy Chrisnandi dan Amir, ed., Beyond
Parlemen; Dari Politik Kampus Hingga Suksesi Kepemimpinan Nasional (Jakarta: Transwacana, 2007), 181.
sudah berkuasa sejak 1962. Bahkan Suu Kyi di jadikan tahanan rumah hingga pemilu
kemarin di gelar. Dalam pemilu tersebut memilih pyithu hluttaws atau badan legislative yang
nantinya akan membentuk pemerintahan. Namun pemilu multipartai ini tetap dihiasi oleh
kaum militer yang bertopeng sipil sehingga dapat dikatakan apapun hasilnya junta militer
akan tetap berkuasa.11
Sedangkan di Thailand, fenomena demonstrasi kaus Merah pada 16 Maret 2010 yang
menuntut PM Abhisit Vejjajiva untuk turun dan melakukan pemilu secepatnya harus gagal
karena peran Raja Bhumibol Abdulyadec yang masih mempercayai Abhisit sebagai Perdana
Menteri, hingga ditahannya beberapa tokoh sentral Kaus Merah, dan mereka pun harus
menerima hal ini disebabkan perkataan Raja yang notabene adalah orang yang paling di
hormati melebihi apapun karena Thailand memiliki tiga pedoman yakni Negara, Agama
Budha dan Raja. Peran Raja yang seharusnya hanya sebagai simbol pada sistem
pemerintahan monarki konstitusional seakan hanya teori belaka, karena nilai agama yang
begitu besar efeknya terhadap civil society masyarakat Thailand. Hal ini menjadi hambatan
utama demokrasi di Thailand, sehingga perlu adanya pembicaraan khusus dalam forum untuk
lebih mendesak Thailand menghilangkan pengaruh Raja dalam pengambilan keputusan
terhadap pemerintahan. Belum lagi seringnya terjadi instabilitas politik di negera gajah putih
tersebut yang berujung kudeta hingga 18 kali yang kebanyakan di lakukan oleh militer yang
biasanya mendapat restu dari kerajaan.12

11
Tomy C. Gutomo. Fokus Dunia. (Jawa Pos, 2010). Hal 4.
12
https://therezawirananto.wordpress.com/2011/04/18/perkembangan-demokrasi-di-asean/ diakses
tanggal 28 Oktober 2017 pukul 23:35.
3. Permasalahan demokrasi di indonesia
Pada dasarnya semua sistem politik memiliki permasalahnnya masing-masing. Tidak
terlepas juga sistem Demokrasi yang saat ini banyak di pakai sebagai sistem politik di negara-
negara. Di Indonesia sendiri, sistem demokrasi telah dipakai sejak pertama kali Indonesia
menjadi sebuah negara. Dimana saat itu Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia
memakai sistem demokrasi di Indonesia. Dalam perjalanannya sistem demokrasi di indonesia
terdapat beberapa perubahan bentuk, seperti demokrasi liberal, demokrasi terpimpin,
demokrasi pancasila, dan kembali ke demokrasi liberal.
Bentuk demokrasi yang mewarnai kehidupan politik negeri ini memang tak hanya satu.
Namun, penilaian terhadap bentuk demokrasi liberal mengalami kenaikan pasca reformasi
1998. Karena dianggap demokrasi yang 100% menganut asas kebebasan. Khususnya
kebebasan berpendapat. Hal ini ditandai dengan sangat bebasnya insan pers pasca
tumbangnya presiden kedua Indonesia, Soeharto. Tak dapat dipungkiri, Indonesia merupakan
negara yang selain plural dalam suku dan agama, juga beragam dalam hal tingkat pendidikan
dan strata sosial serta ekonomi.
Salah satu kekhawatiran terbesar dari persoalan demokrasi adalah tirani mayoritas.
Kekhawatiran ini didasari bahwa dalam demokrasi orang sudah punya karakteristik dengan
kecenderungan budayanya, bahkan pada tingkat tertentu keyakinan politik. Ada kemungkinan
bahwa apa yang tidak sesuai dengan kondisi mayoritas akan terpinggirkan atau dianiaya oleh
mayoritas karena pandangan politik alternatifnya atau direndakan jika menyangkut selera
budaya. Contohnya pada kerusuhan Mei 1998, kelompok minoritas Cina di Indonesia
menghadapi bentuk kekerasan massa mayoritas dari kalangan massa mayoritas.
Pada konteks demokrasi Indonesia terlihat ada kecenderungan pada persoalan tirani
mayoritas ini tidak hanya pada level politik, tetapi juga pada level kehidupan sosial budaya
yang bisa diamati pada keseharian. Walau ada perbedaan pendapat antara teoritikus
demokratis tentang seberapa parah masalah tirani mayoritas. Akan tetapi, sepertinya para
teoritikus menekankan sebuah persoalan bahwa tirani mayoritas tidak bisa dibenarkan hanya
dengan alasanyang sangat dangkal. Artinya, tidak dipungkiri bahwa bukan persoalan
mayoritas secara jumlah, tetapi tingkat sebuah argumentasi pada level publik. Di sisi lain,
juga ada pandangan yang menganggap teori liberal-demokrasi dan praktek-praktek yang
melindungi hak-hak minoritas sebagai kerugian karena seolah-olah orang harus terkurung di
wilayahnya sendiri, misalnya menjadi orang dari etnis tertentu punya keharusan untuk terus
menghidupi bentuk-bentuk budaya etnis tersebut.
Selain itu juga terdapat permasalahan dimana demokrasi menghasilkan pemerintahan
yang tidak efektif. Di Indonesia sendiri yang menjadi persoalan utama dari permasalahan ini
adalah saat para pemimpin politik dalam demokrasi akan tidak kompeten atau bertindak
seolah-olah mereka ada dalam rangka untuk menarik pemilih masaa dan karena ada bentuk
pergantian kepemimpinan dan juga perubahan kebijakam, dimana rencana jangka panjang
tidak dapat dikejar oleh pemerintahan yang demokratis. Kasus pada demokrasi Indonesia
sangat bisa terlihat dari pergantian pemimpinnya yang sangat jarang terjadi secara demokratis
dan ada juga persoalan dari otonomi daerah di mana kemungkinan tidak efektifnya kebijakan
dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah semakin meningkat.
Masalah lain dalam demokrasi di Indonesia adalah masalah adanya konflik Entnis dan
Nasional. Dimana banyak dugaan bahwa demokrasi mangandung konflik kekerasan
horizontal. Pada konteks ini, Francis Fukuyama menunjukkan dua fitur tambahan demokrasi
liberal, yaitu promosi budaya toleransi dan pelestarian perbedaan antara yang privat dan yang
publik. Kedua hal tersebut dibutuhkan untuk menghindari kekerasan yang bisa saja berbentuk
nasionalisme dan gerakan berbasis kelompok yang cenderung ke arah tersebut. Fukuyama
tidak menganjurkan pemberantasan nasionalisme, tetapi dia berpikir hal itu dapat dijinakkan
jika dimuati oleh toleransi liberal. Pada bidang yang lebih konkret, hanya jika nasionalisme
mendorong ke bidang kehidupan privat dan budaya, bukannya politik dan dijadikan dasar
hak-hak yang legal.13 Contoh konkretnya, merasakan perbedaan dengan kelompok lain tidak
lebih merupakan persoalan kita sendiri dalam membayangkan orang lain. Potensi untuk hidup
damai dan rukun terletak pada kemauan individu sendiri untuk saling memperkaya dan
menerima simbol-simbol kesamaan yang bisa kita bayangkan, yaitu lambang negara,
bendera, timnas, dan lain-lain.
Contoh kasus : Salah satu kasus penting yang banyak disorot publik perihal intoleransi
kebebasan beragama adalah kasus penyegelan Gereja Paroki St. Bernadette di Bintaro,
Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013 lalu. Kala itu, Gereja
didemo sekelompok massa yang mengatasnamakan ummat Islam dengan nama “Forum
Komunikasi Ummat Islam (FKUI)” yang meminta kegiatan ibadah dan pembangunan gereja
dihentikan. Mereka berdalih, kehadiran gereja sangat meresahkan warga karena ditakutkan
tersebarnya doktrin-doktrin ajaran Kristen kepada masyarakat sekitarnya (kristenisasi), dan
adanya kecurigaan akan dijadikannya gereja ini sebagai gereja terbesar di Asia tenggara.
Walau tuduhan tanpa bukti tersebut sudah dijelaskan dan dibantah, namun massa ini tetap
memaksakan kehendaknya untuk terus menyegel dan menutup seluruh aktivitas kegiatan
ibadah di gereja tersebut. Kasus penyegelan dan penolakan pembangunan Gereja ini jelas-
jelas mengganggu rasa keadilan ummat Kristiani sebagai kelompok minoritas.14
Dalam contoh kasus diatas dapat dilihat bahwa demokrasi masih memiliki permasalahan
diantaranya adanya Tirani mayoritas dan konflik SARA. Hal ini masih jadi permasalahan
penting di Indonesia, karena apabila hal ini dibiarkan terus berlanjut maka di khawatirkan
permasalahan ini akan membesar dan membuat menurunnya tingkat kepercayaan pada
demokrasi di Indonesia. Peran pemerintah juga penting dalam menangani masalah ini
meskipun pada dasarnya terdapat masalah juga dalam pemerintahan yang tidak stabil karena
kurangnya demokratis dalam pergantian pemimpin sehingga tidak efektifnya kebijakan pusat.

13
Francis Fukuyama, Memperkuat Negara: Tata Pemerintahan dan Tata Dunia Abad 21. Terj. A. Zaim
Rofiqi. (Jakarta: Freedom Institute dan Gramedia, 2005)
14
http://pesantrenforpeace.com/phocadownloadpap/FINAL%20KOMPILASI%20JAKARTA.pdf di akses
pada tanggal 28 oktober 2017, pukul 21:25
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani (Jakarata: ICCE
UIN Jakarta, 2000),
Chrisnandi, Yuddy. “10 Tahun Reformasi TNI”, dalam Yuddy Chrisnandi dan Amir, ed.,
Beyond Parlemen; Dari Politik Kampus Hingga Suksesi Kepemimpinan Nasional (Jakarta:
Transwacana, 2007),
Dahl, Robert A. On Democracy, (Yale University Press, 1991),
Fukuyama, Francis. Memperkuat Negara: Tata Pemerintahan dan Tata Dunia Abad 21.
Terj. A. Zaim Rofiqi. (Jakarta: Freedom Institute dan Gramedia, 2005)
Gutomo, Tomy C. Fokus Dunia. (Jawa Pos, 2010).
Mubarak, ”Demokrasi dan Kediktatoran: Seketsa Pasang Surut Demokrasi di Indonesia”,
Natsir, Haedar. Pragmatisme Politik Kaum Elite (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999),
Pamudji, S. Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional: Satu Analisa di Bidang
Politik dan Pemerintahan (Jakarta: Bina Aksara, 1985),
Rachman, M. Fadjroel. “Merayakan Matinya Reformasi”, dalam M. Fadjroel Rachman
dan Taufiqurrahman, ed., Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat: Tentang Kebebasan,
Demokrasi, dan Negara Kesejahteraan (Depok: Koekoesan, 2007),
Rosyada, Dede. dkk., Pendidikan Kewargaan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi
Manusia & Masyarakat Madani, Abdul Rozak, dkk., ed. (Jakarta: ICCE UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta kerjasama The Asia Foundation & PERNADA MEDIA, 2003),
https://therezawirananto.wordpress.com/2011/04/18/perkembangan-demokrasi-di-asean/
diakses tanggal 28 Oktober 2017
http://pesantrenforpeace.com/phocadownloadpap/FINAL%20KOMPILASI%20JAKAR
TA.pdf di akses pada tanggal 28 oktober 2017