Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN OBSERVASI BIOMEDIK

BABY INCUBATOR DAN BLUE LIGHT LAMP THERAPY (PHOTOTHERAPY)


RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN

Oleh:

Moh. As’ ari 140431100148


Elfa Elismawati 140431100068
Desy Fatjriyatun 140431100059
Achmad Yani 140431100050

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan teknologi di bidang kesehatan menjadi sangat penting, terutama
pada keselamatan bayi. Dalam hal ini banyak terjadi kematian bayi prematur, bayi yang
mempunyai kelainan menderita penyakit kuning dan bayi kekurangan berat badan atau
berat badan kurang dari batas normal. Persalinan prematur adalah terjadinya persalinan
sebelum usia kehamilan standar lengkap yaitu pada usia kehamilan antara 20-36
minggu. Bayi prematur mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap
lingkungan di sekitarnya dan sangat rentan terhadap penyakit yang sebagian besar
disebabkan oleh bakteri karena suhu sekitar bayi tidak normal.
Sedangkan, bayi kuning adalah bayi yang mempunyai kelainan pada ibu sejak
dalam kandungan biasanya ditandai dengan warna kulit yang berubah menjad kuning,
hal ini terjadi karena jumlah bilirubin dalam darah bayi yang terlalu banyak. Kashus
bayi kuning ini sering terjadi oleh sebab itu setiap rumah sakit harus dilengkapi dengan
alat yang bernama phototherapy atau blue light lamp therapy.
Inkubator menjadi hal penting terutama di ruang perawatan bayi. Bayi yang
mengalami lahir prematur membutuhkan perawatan intensif dan tingkat kehangatan
yang cukup stabil mengingat bayi tersebut belum terbiasa beradaptasi dengan suhu
diluar kandungan sang ibu. Inkubator bayi berfungsi menjaga temperatur di sekitar bayi
supaya tetap stabil, atau dengan kata lain dapat mempertahankan suhu tubuh bayi dalam
batas normal sekitar 36,5ºC – 37,5ºC. Selain itu juga kondisi kelembaban pada
inkubator itu sendiri biasanya berkisar antar 50%RH-60%RH.
Alat phothotherapy atau blue light lamp therapy merupakan alat yang
digunakan untuk therapy pada bayi yang menderita hiperbilirubin atau penyakit kuning,
yaitu adanya penimbunan bilirubun di jaringan bawah kulit atau selaput lendir yang
ditandai dengan warna kulit yang kuning atau selaput lendir, bayi yang menderita
penyakit seperti ini disebut dengan bayi kuning atau icterus. Alat photo terapi ini
dilengkapi dengan pengaturan suhu yang diinginkan serta pengaturan waktu jika waktu
sudah tercapai maka alat akan otomatis mati sendiri.
Untuk penggunaan alat ini harus berhati hati karena dapat membahayakan sang
bayi juga karena blue light yang mempunyai panjang gelombnag antara 450-460 nm
dengan intensitas atau kekuatan iluminasi 4500 lux atau sekitar 200 foot dengan jarak
penyinaran bayu ±45 cm dan keadaan bayi mata dan kemaluan harus ditutup bahan
yang tidak tembus cahaya seperti kasa atau kapas.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara kerja dan fungsi dari alat baby incubator?
2. Bagaimana cara kerja dan fungsi dari alat blue light lamp therapy atau
phototherapy?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahi cara kerja dan fungsi dari alat baby incubator
2. Untuk mengetahui cara kerja dan fungsi dari alat blue light lamp therapy atau
phototherapy
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengaruh Posisi Bayi Terhadap Kadar Bilirubin Pada Fototerapi Konvensional,
tahun terbit 2012
Perubahan posisi bayi selama fototerapi diyakini mampu meningkatkan
efektifitas fototerapi dalam menurunkan kadar total serum bilirubin dan mampu
menurunkan durasi yang lebih singkat selama masa fototerapi. Hal yang mendukung
praktek perubahan posisi selama fototerapi masih sedikit ditemukan.
Molekul bilirubin meninggalkan ruang intravaskuler dengan cara
difusi berdasarkan perbedaan konsentrasi menuju ke pembuluh darah yang terdekat.
Selama fototerapi foton mencapai kapiler dermis dan bereaksi dengan bilirubin yang
berada di intravaskuler dengan merubah bentuk molekul menjadi molekul yang larut
dalam air yang dapat berdifusi ke sirkulasi dan dapat dikeluarkan melalui empedu dan
ginjal.
Waktu yang dibutuhkan untuk proses difusi ini menuju dan keluar dari
ekstravaskuler diperkirakan sekitar 3.5 jam.36 Perubahan posisi selama fototerapi
memberikan hasil yang lebih efektif berdasarkan beberapa penelitian yang
menggunakan fototerapi tunggal.
Penelitian yang dilakukan di Israel terhadap neonatus cukup bulan dengan
hiperbilirubinemia, satu kelompok dengan posisi telentang dan satu kelompok dengan
posisi dirubahubah, fototerapi diberikan selama 24 jam, dengan posisi lampu berada
diatas jarak antara alat fototerapi dengan bayi 25 cm, bayi dengan kelompok telentang
rata-rata 5.3 ± 2 mg/dL, kelompok bayi dengan posisi berubah-ubah rata-rata 3.9 ± 2
mg/dL.
Penelitian yang dilakukan di Iran, terhadap neonatus cukup bulan dengan
hiperbilirubinemia, satu kelompok dengan posisi telentang dan satu kelompok dengan
posisi dirubah-ubah setiap 150 menit. Fototerapi diberikan selam 24 jam, dengan posisi
lampu berada diatas jarak antara alat fototerapi dengan bayi 20 cm. Hasil penelitian
menunjukkan penurunan kadar bilirubin pada kelompok telentang 18.8 µmol/L menjadi
12.2 ± 2.7 µmol/L dan pada kelompok yang berubah-ubah 18.8 ± 2.1µmol/L menjadi
12.1 ± 2.0 µmol/L.
Penelitian yang dilakukan di Jepang. Terhadap neonatus cukup bulan dengan
hiperbilirubinemia. Satu kelompok dengan posisi telentang, dan satu kelompok dengan
yang dirubahubah setiap 6 jam. Fototerapi diberikan selama 24 jam. dengan posisi
lampu berada diatas jarak antara alat fototerapi dengan bayi 40 cm jarak diukur untuk
setiap bayi. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar bilirubin pada kelompok
telentang 308.2 µmol/L menjadi 231.2 ± 30.8 µmol/L dan pada kelompok yang
berubah-ubah 321.9 ± 30.8 µmol/L menjadi 222.6 ± 34.2 µmol.

2.2 Aplikasi Konsep Kelembapan Udara, makalah


Salah satu penerapan konsep fisika terkait kelembapan udara adalah inkubator
bayi.
Inkubator adalah alat yang dipanasi dengan aliran listrik pada suhu tertentu
yang dipakai untuk memerami telur, mikroba dan menghangatkan bayi yang lahir
premature.Alat ini dilengkapi dengan tombol pengatur suhu waktu untk memudahkan
pengaturah suhu yang dikehendaki.
Inkubator bayi adalah alat yang digunakan untuk mempertahankan kondisi
lingkungan yang cocok untuk bayi yang baru lahir, terutama pada kelahiran
premature. Saat ini masalah mengenai kelahiran premature bukanlah sesuatu hal yang
baru lagi, bahkan pada awal abad 16 dan 18 sudah terdapat makalah ilmiah yang
membahas mengenai kelahiran bayi premature atau sakit, yang tetap dilahirkan dan
dirawat di rumah tanpa adanya penanganan medis yang baik.
Inkubator bayi pertama kali dikembangkan pada pertengahan abad ke
19,berdasarkan inkubator yang digunakan untuk menetaskan telur ayam.Dr. Stephane
Tarnier adalah seorang dokter berkebangsaan Perancis yang dikenal sebagai bapak
inkubator, setelah berhasil membuat inkubator pertama yang digunakan untuk
menjaga bayi di rumah sakit bersalin di Paris tetap hangat.Metode yang
dikembangkan oleh Dr. Stephane Tarnier ini adalah metode penghangatan tertutup
yang pertama di dunia. Pada tahun 1931 Dr. A. Robert Bauer MD di rumah sakit
Henry Ford di Detroit, berhasil menggabungkan panas, kelembaban, kemudahan
perawatan dan kemudahan aksebilitas pada inkubator.
Inkubator bayi merupakan salah satu metode dan sarana yang
berfungsi untuk menunjang keadaan bayi yang baru lahir, sehingga diharapkan setiap
instansi kesehatan yang berhubungan dengan proses persalinan ibu hamil dapat
memiliki inkubator bayi.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Ulasan Kegiatan


Observasi merupakan Proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis
mengenai gejala-gejala yang diteliti. Observasi ini diselenggarakan di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan, yang terlaksana pada
hari jum’at (22/12) 2017, pukul 10.00 WIB. Rumah sakit ini terletak di jalan Pemuda
Kaffa No. 9 Tanjung Burneh Kabupaten Bangkalan. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan
observasi ini adalah untuk mengetahui secara langsung aplikasi peralatan elektro medis
yang digunakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebu
Bangkalan.
Sejarah sedikit dari terbentuknya Rumah Sakit Umum Daerah Syarifah
Ambami Rato Ebu ini cukup panjang pada awalanya rumah sakit ini bernama militaire
hospital itu pada zaman penjajahan Jepang. Rumah sakit ini sempat dikuasai oleh
Belanda pada tahun (1945-1947). Kemudian rumah sakit ini diserahkan ke indonesia
dan dinamakan Rumah Sakit Bangkalan, rumah sakit ini awalnya terletak didaerah
maijend sungkono atau belakang pendopo bupati bangkalan. Pada tahun 1959 bupati
bangkalan merelokasi rumah sakit ke jalan pemuda bangkalan dengan status “Type D”
pada tahum 1987. Kemudian pada tahun 199 rumah sakit bangkalan berubah menjadi
Rumah Sakit Prof DR.Sitiawan Kartosoedirjo yang pernah menjabat sebagai kepala
rumah sakit dan beliau merupakan dokter satu-satunya yang berasal dari madura. Tepat
pada tahun 2005 rumah sakit berubah status menjadi “Type B” non pendidikan. Akir
tahun 2009 resmi berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Syamrabu atau
Kepanjangan dari Syarifah Ambami Rato Ebu.
Pada kegiatan observasi ini didampingi oleh 2 orang tutor yang menjelaskan
tentang peralatan medis yang ada di ruang Neonatus atau sering disebut dengan ruang
bayi. Di tempat ini kami disuguhi dengan 2 jenis peralatan medis yaitu phototerapy
system mono bloo yang memanfaatkan sinar blue light untuk proses pengobatan atau
terapi pada bayi yang terkena penyakit kuning. Penyakit ini disebabkan oleh adanya
penimbunan bilirubin dibawah jaringan kulit atau selaput lendir yang ditandai dengan
warna kuning pada kulit. Selanjutnya kami belajar tentang Baby Incubator (Inkubator
Bayi).
3.2 Baby Incubator
A. Pengertian Baby Incubator

Nama: Baby Incubator


Merk : Giraffe Incubator
Tegangan: 220/230/240 V
Daya : 4.5 A
Frekuensi: 50/60 Hz
No.seri : HDHU67189

Baby incubator adalah alat yang berfungsi untuk merawat bayi


premature atau mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR), dengan cara
memberikan suhu dan kelembapan yang stabil dan kebutuhan oksigen sesuai
dengan kondisi pada kandungan ibu.

B. Fungsi Baby Incubator


Perawatan bayi pada saat setelah proses kelahiran merupakan hal yang
sangat penting. Bayi yang baru lahir mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi
terhadap lingkungan disekitarnya apalagi dengan suhu udara di sekitarnya. Bayi
yang baru lahir dianjurkan untuk segera dihanduki sampai bersih lalu diselimuti
sampai hangat sebelum dimandikan atau ditimbang. Perawatan bayi baru lahir
dalam hal menjaga kehangatan tubuh bayi dianjurkan menggunakan kangguru,
yaitu bayi dalam pelukan sang ibu kulit bayi menempel pada kulit ibu layaknya
hewan kangguru. Akan tetapi tidak semua kondisi sang ibu dapat menerapkan
metode ini. Hal ini disebabkan oleh kondisi sang ibu yang kadang kala masih
tidak sadarkan diri atau masih terbaring lemas setelah proses kelahirannya.
Maka ditemukanlah sebuah laat untuk menjaga kondisi tubuh bayi yaitu
inkubator bayi.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, fungsi utama dari inkubator
adalah mempertahankan kehidupan bayi premature dengan menjaga suhu tubuh
bayi tetap hangat seperti di dalam rahim ibunya.Untuk itu, hal yang paling
utama adalah memenuhi standar keamanan inkubator secara maksimal, menjaga
keselamatan bayi dan memenuhi kebutuhan utama bayi premature.
Selain berfungsi sebagai penghangat, inkubator juga berfungsi
melindungi bayi dari bahaya infeksi. Di tempat ini tersedia juga alat penyinaran
sinar biru bagi bayi premature yang mengalami peningkatan kadarbilirubin
dalam darahnya seagai akibat hati bayi yang belum bekerja sempurna.
Bayi premature juga mendapat bantuan pernapasan dalam bentuk
bantuan oksigen dalam jumlah tertentu. Hal ini pun harus ilakukan dengan hati-
hati, sebab keseimbangan jumlah oksigen pada bayi premature harus
diperhatikan benar. Bila jumlah oksigen pada bayi premature terlalu sedikit,
jumlah karbondioksidanya akan meningkat. Akibatnya, pembuluh darah di otak
akan melebar, bahkan bisa pecah dan mengakibatkan pendarahan di otak.
Sebaliknya bila oksigen terlalu banyak, maka pembuluh-pembuluh darah bisa
menyempit dan mengakibatkan sel-sel tubuh bayi kurang mendapat makanan.

C. Blok Diagram Alat

1. Power supply
Power supply atau catu daya adalah sebuah peralatan penyedia
tegangan atau sumber daya untuk peralatan elektronika dengan prinsip
mengubah tegangan listrik yang tersedia dari jaringan distribusi
transmisi listrik ke level yang diinginkan sehingga berimplikasi pada
pengubahan daya listrik.
2. Heater (Pemanas Elemen)
Heater adalah sebuah objek yang memancarkan panas atau
menyebabkan tubuh lain untuk mencapai suhu yang lebih tinggi. Dalam
dunia medis alat ini digunakan dalam beberapa peralatan medis,
diantaranya Auto Claf, Oven, Baby Inkubator dan peralatan lainnya.
Mengingat fungsi dari heater adalah memancarkan panas, hal ini
dimanfaatkan sebagai salah satu komponen utama pada inkubator bayi,
yang prinsip kerjanya dipadukan dengan pengontrol suhu sehingga nilai
kegunaanya menjadi lebih efisien.
3. Pengontol Suhu
Pengontrol suhu adalah komponen alat yang digunakan sebagai
parameter terhadap suhu yang terjadi pada sebuah ruangan. Dalam
inkubator bayi pengontrol suhu digunakan sebagai komponen pengatur
tehadap suhu yang terjadi pada ruang inkubator, yang tentunya
pengontrol suhu ini dihubungkan pada heater sehingga ketika suhu
ruangan sudah mencapai tingkat batasan, pengontrol suhu akan bekerja
dan heater otomatis akan mati.
4. Blower
Blower berfungsi untuk mendistribusikan panas keseluruh
bagian alat.
5. Display / indikator :
Display / indikator berfungsi sebagai tampilan
6. Alarm
Alarm berfungsi sebagai tanda apabila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan
7. Chamber
Chamber berfungsi sebagai tempatbayi di inkubasi.

D. Cara Kerja Blok Diagram


Tegangan dari PLN 220VAC digunakan untuk mensupplay tegangan
kipas, dan input tegangan trafo stepdown yang kemudian oleh rangkaian power
supply dirubah menjadi tegangan 12V, 6V, dan 5VDC yang digunaan untuk
mensupplay tegangan blok rangkaian lainnya. Saat tegangan PLN masuk maka
motor kipas dan heater akan aktif dimana kerja motor fan ini dideteksi oleh
sensor Fan. Jika kipas tidak bekerja sebagaimana mestinya maka indicator kipas
akan ON.
Push Button digunakan untuk menentukan suhu yang akan dikehendaki
(suhu setting) dan sebagai inputan bagi microcontroller. Microcontoler
berfungsi untuk mengendalikan atau mengontrol semua rangkaian. Sedangkan
sensor suhu berfungsi untuk menyensor suhu udara dalam ruangan dan besarnya
tegangan output dari sensor akan disangga oleh rangkaian penguat. Kemudian
tegangan dari penguat akan masuk ke blok ADC dimana blok ini berfungsi
untuk mengubah tegangan analog menjadi tegangan digital dan data dari ADC
akan masuk ke microcontroller. Di mikrocontroler semua data diolah untuk
mengatur kerja keseluruhan pesawat baby inkubator. Duli sensor berfungsi
untuk mensensor perubahan suhu yang extrim. Jika suhu tiba-tiba berubah
lebih/berkurang 30C dari suhu setting, maka indikator alarm akan aktif.

E. Prinsip Kerja Baby Incubator


Secara garis besar rancangan inkubator terdiri dari dua bagian utama,
yaitu :
a. Pemanas
Pemanas adalah alat yang digunakan untuk mengubah besaran listrik
menjadi besaran kalor (panas). Pemanas pada inkubator menggunakan elemen
pemanas setrika yang terbuat dari kawat nikelin yan berupa lilitan sederhana
yang terungkus lapisan pembungkus. Pemanas ini dipilih karena harganya
murah dan mudah didapatkan. Selain itu elemen pemanas juga dapat
menghasilkan panas yang tinggi dalam waktu singkat jika dibandingkan dengan
lampu pijar, karena lampu pijar hanya 90 persen dari keseluruhan energy yang
berubah menjadi panas, sedangkan 10 persen berubah menjadi cahaya. Sumber
tegangan ini berasal dari tegangan AC 220V.
b. Tempat penghangatan bayi
Tempat penghangatan bayi ini bibentuk seperti aquarium dengan bagian
atas yang tertutup, berbahan dasar acrylic, dan kerangka kotak yang terbuat dari
aluminium.Sedangkan bagian bawah kotak yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan rangkaian pemanas dan rangkaian pengendali, terbuat dari triplek
dan kayu yang dilapisi aluminium foil.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tempat penghangatan
bayi ini adalah sebagai berikut :
1) Suhu dan kelembaban
Di udara terdapat uap air yang berasal dari penguapan samudera (sumber
utama). Sumber lainnya berasal dari danau-danau, sungai, tumbuh-tumbuhan
dan lain sebagainya.Ada dua macam kelembaban udara, yaitu kelembaban
udara absolute dan kelembaban udara relative. Kelembaban udara absolute
merupakan banyaknya uap air yang terdapat di udara pada suatu tempat dan
kelembaban udara relative adalah perbandingan jumlah uap air dalam udara
(kelembaban absolute) dengan kapasitas udara untuk menampung uap air dalam
suhu yang sama.
Relative Humidity (RH) secara umum mampu mewakili pengertian
kelembaban.Untuk mencari nilai RH, pertama harus diketahui Absolute
Humidity.Kapasitas udara untuk menampung uap air berbanding lurus dengan
suhu udara, semakin tinggi suhu udara semakin besar juga kapasitas udara untuk
menampung uap air.Hal inilah yang menyebabkan semakin tinggi suhu udara
maka semakin kecil kelembaban udara.Pembacaan 100 persen RH berarti udara
telah saturasi (seluruh kapasitas udara untuk menampung uap air telah penuh).
2) Sirkulasi udara dan pemerataan penyebaran panas
Kotak inkubator yang dibuat harus memiliki saluran sirkulasi udara
panas yang merata di setiap sisinya, sehingga penyebaran panas dari ruang
pemanas menuju ke dalam ruang utama inkubator dapat merata.
Pembuatan ventilasi udara yng tepat juga dibutuhkan pada kotak inkubator yang
dibuat, sehingga dapat terjadi sirkulasi udara panas di dalan inkubator dengan
udara di luar inkubator serta menjadi saluran masuknya oksigen ke dalam
inkubator.
Secara umum prinsip kerja dari inkubator bayi pada dasarnya bertujuan
untuk mengendalikan suhu dan kelembaban agar sesuai dengan kondisi yang
dibutuhkan oleh bayi baru lahir premature.Udara masuk melewati lubang inlet,
yang terletak pada sisi samping pada ruang peralatan, udaraini kemudian
dipanaskan oleh heater (filament) untuk kemudian disirkulasikan ke dalam box
bayi, bersama dengan uap air.Uap air ini dihasilkan oleh reservoir air yang
terdapat pada sisi dasar ruang peralatan. Adapun jumlah uap air ini ditingkatkan
oleh adanya hembusan dari fan
(kipas) yang terletak di samping reservoir air.
Setelah melalui box bayi, sirkulasi udara kemudian dikeluarkan melalui
lubang-lubang keluaran yang terdapat pada dasar sisi box bayi. Untuk
memperlancar proses sirkulasi ini, maka dibutuhkan fan yang fungsinya
menarik udara panas dan uap air dari ruang bayi, keluar melalui lubanglubang
keluaran yang terletak pada sisi samping ruang peralatan. Adapun untuk
mengarahkan aliran udara dan uap air menuju keluar, maka dirancanglah duct.

F. SOP Giraffe Incubator


1. nyalakan giraffe incubator pada tombol power (I/O) di bagian belakang
2. tekan tombol standby pada giraffe incubator di panel samping
3. setelah inisialisasi software dan apabila kurang dari 2 jam setelah
penggunaan pasien terakir,user akan ditanya menghapus riwayat pasien jika
iya:
a. tekan knob control ke menu display aksesoris control panel
b. putar control knob sampai muncul "YES"
c. tekan tombol knob dan pilih YES
d. note : user tidak akan ditanya pertanyaan ini jika incubator off lebih
dari 2 jam
4. giraffe incubator akan berada pada "air mode"
5. user akan melihat pilihan "ENTER SETTING" pada bagian atas display
disertai dengan suara alarm prioritas rendah. user juga akan melihat
pengaturan suhu udara berkedip "33.0 C" yaitu angka kecil dibawah suhu
udara actual. pada kebanyakan kasus, user akan merubah pengaturan suhu
udara ini menjadi lebih hangat pada saat mempersiapkan girrafe incubator.
untuk menentukan pengaturan yang benar:
a. tekan knob control dan pilih display aksesoris control panel
b. putar knob control dan pilih " comfort zone"
c. berdasarkan tafsiran berat badan, umur kehamilan dan umur postnatal,
user akan melihat rekomendasi suhu "comfort zone" yang menjadi suhu
rekomendasi untuk pre warm incubator
d. note: jika user tidak mengetahui estimasi berat bayi belum lahir. atur
suhu pre-warmed berdasarkan dari pengamalan klinis user
i. jika bayi <1200 gram, batas atas dari suhu "comfort zone" digunakan dalam
pengaturan suhu
ii. juka bayi >1200 gram, batas bawah atau tengah dari "comfort zone"
digunakan dalam pengaturan suhu
e. dengan menggunakan tombol pengaturan suhu atau suhu udara ▲
atau ▼ kesuhu yang diinginkan berdasarkan dari suhu yang
dianjurkan
f. keluar dari "comfor zone" dengan memutar knob ke "done/exit"
6. atur bed dan siapkan alat-alat yang dibutuhkan sebelum memasukkan bayi
kedalam incubator
7. pindahkan bayi ke dalam incubator
8. timbang berat bayi jika belum di timbang sebelumnya
9. pasang sensor suhu kulit pada bayi
note: permukaan yang menempel pada kulit bayi adalah permukaan metal dari
sensor suhu kemudian tempel sensor suhhu dengan bantuan reflecting patch.
sebelum menempel bersihkan kulit bayi (daki, kotoran, dll)
10. pilih mode incubator yang diinginkan
a. "AIR" mode adalah mode yang ingin digunakan. tidak ada perubahan
yang perlu dilakukan. user akan melihat lampu indikator "AIR"
menyala. pada mode ini user mengatur panas heater berdasarkan
monitoring suhu bayi yang terbaca.
b. jika "BABY/SERVO" mode adalah mode yang ingin digunakan.
aktifkan mode servo dengan menekan tombol "BABY" mode. user akan
melihat lampu indicator "baby" mode menyala. pada mode ini, user
mengatur suhu yang diinginkan, secara otomatis heater akan
menyesuaikan panas dari suhu bayi.

G. Troubleshooting
1. Alarm kegagalan power : Indikator berkedip terus dengan alarm
mengidikasikan bahwa incubator kehilangan power external.
2. Hubungkan kembali kabel power.
3. Kegagalan Control Panel : Ulangi pemasangan konektor atau ganti
konektor
4. Tidak ada supplay tegangan : cek supplay tegangan dari PLN, cek switc
Power
5. Kegagalan alarm sensor : dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain
sensor belum terhubung, atau sensor rusak
6. Alarm suhiu over : cek relay yang berfungsi untuk memutuskan supply ke
heater

3.3 Phototherapy (Blue Light Lamp Therapy)


A. Pengertian Phototherapy (Blue Llight Lamp Therapy)

Merk : Mediprema
Nama : Mono Bloo
Unit : 1922 7314
Tahun : 2011
Tegangan : 230 V ~ 50 Hz
Daya : 360 VA

Phototherapy adalah terapi dengan menggunakan penyinaran sinar


dengan intensitas tinggi. Fungsinya untuk pengobatan atau terapi sinar pada
bayi yang terkena penyakit kuning. Penyakit ini disebabkan oleh adanya
penimbunan bilirubin di bawah jaringan kulit atau selaput lendir yang ditandai
dengan warna kuning yang terlihat pada kulit atau di bawah selaput lendir.
Prinsip alat phototherapy memberikan sinar pada kulit bayi secara
langsung dalam jangka waktu tertentu, dengan jarak penyinaran kurang lebih
45 cm. Penyakit kuning atau jaundice ini biasanya menyerang kulit dan mata
bayi berwarna kuning. Penyakit kuning ini diderita bayi yang baru lahir hingga
bayi berusia satu bulan. Belum sempurnanya organ hati pada bayi menyebabkan
kadar bilirubin tinggi dalam tubuh. Dalam tahap ini keadaan bayi kuning tidak
perlu di risaukan. Dengan penanganan tepat, warna kulit pada bayi dapat
berangsur-angsur hilang.
Hal ini menunjukan bahwa kerja organ telah berfungsi dengan baik.
Bilirubin merupakan salah satu hasil pemecahan hemoglobin yang di sebabkan
oleh kerusakan sel darah merah (SDM). Ketika SDM dihancurkan, hasil
pemecahan terlepas ke sirkulasi, tempat hemoglobin terpecah menjadi difraksi
heme dan globin. Bagian globin (protein) digunakan oleh tubuh, dan bagian
heme diubah menjadi bilirubin tidak terkonjugasi, yaitu suatu zat tidak larut
yang terikat pada albumin.
Di hati bilirubin dilepas dari molekul albumin dan dengan adanya enzim
glukuronil transferase, dikonjugasikan dengan asam glukoronat menghasilkan
kelarutan dengan kelarutan tinggi, bilirubin glukoronat terkonjugasi menjadi
urobilinogen, pigmen yang memberi warna khas pada tinja. Sebagian besar
bilirubin tereduksi diekskresikan ke feses, sebagian besar dieliminasi ke urine.
Ketika bayi masih berada dalam rahim (masih dalam bentuk janin), maka tugas
membuang bilirubin dari darah janin dilakukan oleh plasenta. Hati/liver si janin
tidak perlu membuang bilirubin. Ketika bayi lahir, maka tugas ini langsung
diambil alih oleh hati bayi/pasien. Selama hati bayi bekerja keras untuk
menghilangkan bilirubin dari darahnya, tentu saja bilirubin yang tersisa akan
terus menumpuk di tubuhnya. Karena bilirubin berwarna kuning, maka jika
jumlahnya sangat banyak, ia dapat merusak fungsi kulit dan jaringan-jaringan
tubuh lainnya yang dimiliki oleh bayi.
Bayi yang baru lahir harus mengkonjugasikan bilirubin yang terdapat
pada tubuh bayi (merubah bilirubin yang larut dalam lemak menjadi bilirubin
yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi
tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat
ikatan albumin (Albumin wall site). Pada bayi yang normal dan sehat serta
cukup bulan, hatinya Sudah matang dan menghasilkan enzim
glukoroni transferase yang memadai sehingga serum bilirubin tidak mencapai
tingkat patologis.
Phototherapy menurunkan kadar bilirubin dengan cara menfasilitasi
eksresi biliarbilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi
jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut
fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui
mekanisme difusi. Di dalam darah fotobilirubin berkaitan dengan albumin dan
dikirim ke hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan dieksresi ke
dalam deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati.
Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi. Bilirubin dapat
dikeluarkan melalui urine. Phototherapy memiliki peranan dalam pencegahan
peningkatan kadar bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan
dan hemolisis dapat menyebabkan anemia.
Secara umum phototherapy harus diberikan pada kadar bilirubin indirec
4-5mg/dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus
di phototherapy dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Alat-alat yang diperlukan
untuk proses penyinaran adalah sebagai berikut : Gelombang sinar biru 425-475
nm 2. Intensitas cahaya yang digunakan biasanya 20 watt/cm² per nm 3. Sprectal
irradiance 30 u W/cm²/nm 4. Lampu diganti setiap 200-400 jam Adapun
standard operasional prosedur (SOP) penggunaan alat
phototherapy dalam proses penyinaran adalah sebagai berikut :
1. Bayi telanjang, kedua mata dan alat kelamin bayi ditutup.
2. Suhu bayi dipertahankan sekitar 36-37 ºC.
3. Perhatikan keseimbangan elektrolit.
4. Pemeriksaan Hb teratur setiap hari.
5. Pemeriksaan bilirubin darah setiap hari atau dua hari, setelah terapi
sebanyak 3 kali dalam sehari.
6. Mungkin timbul skin rash yang sifatnya sementara dan tak berbahaya
(bronze baby).
Fungsi terapi sinar biru adalah untuk memecah bilirubin menjadi senyawa
dipirol yang nontoksik dan dikeluarkan melalui urine dan feses. Indikasinya
adalah kadar bilirubin darah di bawah 10 mg% dan setelah atau sebelum
dilakukannya transfusi tukar. Berapa lama bayi menjalani terapi sinar biru
tergantung pada kadar
bilirubin, biasanya 3-6 jam sekitar 2-4 hari pada neonatus kurang bulan. Bila
kadar bilirubin di atas 20 mg% terapi biasanya dilakukan 9 jam selama 3-4 hari
pada bayi cukup bulan. Bayi kuning dianggap normal apabila kondisi tersebut
berlangsung kurang dari dua minggu. Warna kuning pada tubuh pun tidak
menjalar sampai telapak tangan dan telapak kaki.
Kondisi bayi kuning yang perlu diwaspadai antara lain :
1. Tubuh bayi sudah berwarna kuning sebelum 24 jam semenjak
dilahirkan.
2. Warna kuning pada bayi berlangsung selama lebih dari dua minggu.
3. Warna kuning menjalar hingga telapak tangan dan telapak kaki.
4. Feses bayi berwarna pucat, tidak kekuningan.
5. Kadar bilirubin dalam darah lebih dari 10% pada bayi prematur atau
12% pada bayi cukup usia. Pada kondisi ini, bayi diduga mengalami
infeksi berat, hemolisis autoimun (yaitu sel-sel darah putih
menghancurkan sel-sel darah merah), atau kekurangan enzim tertentu.
Jika tidak segera ditangani, bilirubin dapat meracuni otak atau dikenal
dengan istilah acute bilirubin encephalophaty. Selain itu, dapat juga merusak
syaraf sehingga menyebabkan tuli, cacat, terhambatnya pertumbuhan bayi
hingga kematian. Oleh karena itu harus segera ditangani dengan cepat sehingga
dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya kondisi tersebut.

B. Prinsip Kerja Phototherapy

Phototherapy digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada


neonatus dengan hiperbilirubinemia jinak hingga moderat. Phototherapy dapat
menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin indirect yang mudah larut di
dalam plasma dan lebih mudah di ekskresi oleh hati ke dalam saluran empedu.
Meningkatnya fotobilirubin dalam empedu menyebabkan bertambahnya
pengeluaran cairan empedu ke dalam usus sehingga peristaltik usus meningkat
dan bilirubin akan lebih cepat meninggalkan usus.

Phototherapy dapat memecah bilirubin menjadi dipirol yang tidak toksis


dan di ekskresikan dari tubuh melalui urine dan feses. Cahaya yang dihasilkan
oleh terapi sinar menyebabkan reaksi fotokimia dalam kulit (fotoisomerisasi)
yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi ke dalam fotobilirubin dan kemudian
di eksresi di dalam hati kemudian ke empedu, produk akhir reaksi adalah
reversible dan di ekresikan ke dalam empedu tanpa perlu konjugasi. Energi sinar
dari phototherpay mengubah senyawa 4Z-15Z bilirubin menjadi senyawa
bentuk 4Z-15E bilirubin yang merupakan bentuk isomernya yang mudah larut
dalam air.

C. Bagian-Bagian Alat Phototherapy


Adapun bagian – bagian Alat Phototerapy adalah sebagai berikut:
1. Kabel penghubung alat dengan sumber listrik.
2. Pengatur jarak lampu dengan bayi.
3. Tombol power on/off untuk menghidupkan atau mematikan lampu
phototherapy.
4. Hourmeter (petunjuk berapa jam phototherapy yang sudah dipakai).

D. Prosedur Penggunaan Alat Phototherapy


Adapun prosedure penggunaan Alat Phototerapy ini adalah sebagai
berikut:
1. Sambungkan steaker pada stop kontak
2. Tekan tombol ON yang ada pada box control
3. Posisi antara pasien dan system (therapy) berjarak 20cm
4. Atur timer sesuai kondisi bayi
5. Tekan + untuk UP
6. Tekan – untuk Down
7. Tekan Enter untuk memulai therapy
8. Setelah timer habis maka lampu otomatis akan mati
9. Tekan tombol OFF untuk mematikan system
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pada umumnya cara keja inkubator adalah dengan menggunakan heater elemen
yang digunakan untuk menghangatkan bayi yang premature agar suhu dalam tubuh bayi
stabil sesui dalam suhu pada suhu rahim sang ibu. Suhu pada incubator dapat diatur
sesuai resep dokter setelah suhu yang diinginkan tercapai maka suhu dalam ruangan
akan otomatis menstabilkan suhu yang sudah ditetapkan, selain itu alat ini juga dapat
mendeteksi suhu tubuh bayi. Pada alat ini dilingkapi dengan timer namun untuk timer
ini jarang digunakan.

Baby incubator berfungsi untuk merawat bayi premature atau mempunyai berat
badan lahir rendah (BBLR), dengan cara memberikan suhu dan kelembapan yang stabil
dan kebutuhan oksigen sesuai dengan kondisi pada kandungan ibu.

Cara kerja phototherapy pada umumnya yaitu menggunakan blue light yang
berfungsi untuk menstabilkan suhu bayi yang kekurangan bilirubin atau bayi kuning,
waktu yang digunakan untuk penyinaran bisa diatur sesuai resep dokter, phototherapy
ini dilengkapi timer otomatis apabila waktu yang sudah ditentukan tercapai alat akan
otomatis mati sendiri

Fungsinya untuk pengobatan atau terapi sinar pada bayi yang terkena penyakit
kuning atau bayi yang kekurangan kadar bilirubin.

4.2 Saran

Saran untuk observasi ini adalah pada praktik atau demo alat sebaikknya
dilakukan dengan maksimal dan praktik alat objek observasi harus sesuai prosedur
pemakaian.

Pada penulisan laporan observasi ini harus menggunakan prosedur dan


sitematika penulisan laporan observasi dengan benar, untuk bekal penulisan observasi
sebaikknya menggunakan jurnal atau makalah yang terpercaya agar tidak kesulitan saat
mengerjakan laporan ataupun buku-buku penunjang.
Daftar Pustaka

1. Yong, Mohamed Yosri Mohamed. Demam Kuning-Jaundis pada Bayi


(http://www.geocities.com /alam_penyakit/PenyakitDemamKuning Jaundis) diakses
tanggal 24 Desember, pukul 21.00
2. Neonatal intensive care unit. (2015). Kajian unit perawatan yang
mengkhususkan pada perawatan bayi yang baru lahir secara prematur.
https://en.wikipedia.org/wiki/Neonatal_intensive_care_unit.
3. Sihombing, Elisabeth, 2010. Pembuatan Sistem
Kendali Suhu Pada Inkubator Bayi Prematur.
Bandung.
4. Ira Silvia, Beby Syofiani Hasibuan, Bugis Mardina Lubis, Pertin Sianturi, Emil Azlin,
Guslihan Dasa Tjipta. Pengaruh Posisi Bayi Terhadap Kadar Bilirubin Pada Fototerapi
Konvensional. Majalah kedokteran nusantara. 2012
Dokumentasi