Anda di halaman 1dari 2

WACANA

KPI Tegur Keras TV Indonesia atas Pemberitaan Tragedi Air Asia

Kamis, 1 Januari 2015 00:00 WIB

Sejak pesawat Air Asia QZ8501 dinyatakan hilang kontak, sejumlah TV lokal
Indonesia tak henti-henti menayangkan update pencarian dan kondisi keluarga
korban. Beberapa materi tayangan mereka ternyata mendapat kecaman dari
Komisi Penyiaran Indonesia.
Selasa (30/12) atau hari ketiga pasca kejadian, pencarian atas pesawat Air Asia
yang hilang kontak di wilayah perairan Kalimantan, akhirnya menemui titik terang.
Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) Indonesia beserta personel gabungan lainnya
mendeteksi adanya puing-puing pesawat di lautan lepas.
Dalam konferansi persnya di Jakarta, Kepala Basarnas, FHB Soelistyo
menguraikan, penemuan pertama terjadi pada pukul 08.00 WIB (30/12) di saat
pesawat C-295 TNI AU menemukan benda berwarna putih. Kemudian pada pukul
11.07 WIB, pesawat Hercules TNI AU juga melaporkan temuan lempengan logam.
Sekitar 2.5 jam setelahnya, salah satu jasad penumpang-pun ditemukan.
Segera setelah informasi penemuan jasad tersebar, sejumlah TV lokal
Indonesia berlomba-lomba menayangkan gambar anggota tim SAR yang berusaha
mengevakuasi jasad penumpang yang mengapung. Salah satu TV Indonesia
berlogo merah, awalnya, bahkan menayangkan gambar proses evakuasi dengan
mayat mengapung itu tanpa proses edit sama sekali.
Hal ini sontak memancing reaksi keras publik. Di media sosial Twitter,
banyak pihak ramai berkomentar atas penayangan tersebut. Komentar pedas tak
hanya datang dari publik lokal, warga dan media asing-pun turut melayangkan
kecaman mereka. TV lokal Indonesia dinilai menyalahi etika jurnalisme.Publik juga
tampak mengomentari strategi peliputan bencana yang dilakukan sejumlah TV
lokal. Mereka mencoba membandingkannya dengan peliputan media asing yang

1
hadir di Bandara Juanda, Surabaya; Belitung Timur, Kepulauan Riau; serta
Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Bahkan, ada pula yang mencoba menyapa anggota Dewan lewat Twitter dan
berkeluh kesah atas penayangan media lokal. Sapaan ini ditanggapi sang anggota
Dewan, yakni Meutya Hafid dari Komisi I, dengan penjelasan rinci. Anggota DPR
dari Partai Golkar yang juga mantan wartawan ini bahkan sempat berkomentar
secara pribadi atas sajian berita yang dihadirkan media.
Atas tayangan yang dinilai vulgar dan menyalahi etika jurnalisme itu, Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) telah melayangkan teguran keras. "Per hari ini (31/12)
kami sudah memberi sanksi berupa teguran tertulis kepada TV One dan kemudian
memberi peringatan kepada Metro TV dan TVRI," tegas Idy Muzayad, Wakil Ketua
KPI, kepada Nurina Savitri dari ABC.
Idy menjelaskan, dalam kasus TV One, meski pihak stasiun itu sudah melayangkan
permintaan maaf, ia menilai masih ada unsur pembenaran yang disampaikan TV
nasional itu.
"Mereka bilang penayangan itu terjadi karena video yang didapat adalah fakta, itu
kan termasuk pembenaran," utaranya. Ia mengemukakan, tayangan jurnalistik
dalam situasi bencana seharusnya menjaga beberapa elemen. Idy menyebut
empati kepada keluarga korban dan kode etik jurnalisme sebagai acuannya.
"Media tidak boleh melakukan eksploitasi dengan mengajuka pertanyaan-
pertanyaan yang tidak perlu, misalnya 'Bagaimana perasaan Ibu?'. Kemudian juga
harus berpedoman pada kode etik jurnalistik dan P3SPS (Pedoman Perilaku
Penyiaran dan Standar Program Siaran)," sambungnya.
Menurut Idy, dalam penyiaran dengan setting bencana, fakta memang layak
untuk disiarkan tapi tidak dengan kemasan yang membuat keluarga korba trauma.
Sebelum melayangkan teguran, KPI memantau secara langsung tayangan
sejumlah TV nasional atas tragedi Air Asia. Selain itu ada juga pengaduan
masyarakat yang masuk ke pihak mereka.

Diunduh dari : http://www.tribunnews.com/australia-plus/2015/01/01/kpi-tegur-


keras-tv-indonesia-atas-pemberitaan-tragedi-air-asia, Tanggal 15 Feb 2015