Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Analisis hubungan biaya volume laba merupakan teknik untuk menghitung dampak
perubahan harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap laba, untuk membantu manajemen
dalam perencanaan laba jangka pendek.Kegunaan Informasi Akuntansi Diferensial salah satunya
adalah sebagai alat perencanaan laba jangka pendek. Perencanaan laba jangka pendek dapat
dilakukan dengan melakukan analisis biaya volume laba.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa perencanaan Laba Jangka Pendek
2. Bagaimana reakayasa parameter untuk perencanaan laba jangka pendek
3. Bagaimana analisis biaya volume laba
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami dan mengetahui perencanaan jangka pendek
2. Untuk mengetahui bagaimana rekayasa parameter untuk perencanaan laba jangka pendek
3. Untuk mengetahui dan memahami analisis biaya volume laba

Akuntansi Manajemen 1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perencanaan Laba Jangka Pendek

Manajemen memerlukan informasi akuntansi differensial yang terdiri dari informasi


pendapatan differensial dan informasi biaya differensial, untuk mempertimbangkan dampak
perubahan volume penjualan, harga jual, dan biaya terhadap laba perusahaan. Analisis impas
dan biaya – volume – laba merupakan teknik yang menggunakan informasi akuntansi differensial
untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek.

Di atas telah disebutkan bahwa perencanaan laba jangka pendek dilaksanakan oleh
manajemen dalam proses penyusunan anggaran. Dalam proses penyusunan Anggaran,
manajemen selalu dihadapkan pada pemilihan alternative tindakan yang harus dipertimbangkan
dampanya terhadap lab perusahaan.

Dengan mengetahui dampak terhadap laba, setiap alternatif tindakan yang dipertimbangkan
manajemen akan memiliki dasar yang kuat untuk memilih, sehingga ia akan mampu mengambil
keputusan secara ekonomis rasional.

Dalam proses penyusunan anggaran induk perusahaan, Laporan Rugi – Laba yang disusun
dengan metode variabel costing sangat membantu manajemen puncak dalam mempertimbangkan
berbagai usulan kegiatan yang di ajukan oleh menejemen menengah. Karena pengambilan
keputusan jangkan pendek umumnya menyangkut atau mengakibatkan penambahan atau
pengurangan volume kegiatan, maka informasi yang di pisahkan menurut prilakunya dalam
hubungannya dengan perubahan volume kegiatan akan sangat membantu menejemen.

Dari laporan laba rugi yang di susun menurut metode variabel costing tersebut, menejemen
dapat memperoleh berbagai parameter ( gambaran sesuatu dalam bentuk angka ) berikut ini :

1. Impas ( break even )


Dengan mengetahui parameter impas, menejemen dapat mengetahui batas penjualan
minimal yang harus di lakukan agar perusahan tidak menderita kerugian.

Akuntansi Manajemen 2
2. Margin of safety
Dengan mengetahui margin of safety, menejemen dapat mengetahui batas tarjet yang
maksimum yang bisa di turunkan, agar penurunan penjualan tersebut tidak mengakibatkan
perusahaan menderita kerugian.
3. Shut down poin
Dengan mengetahui parameter shut down poin, menejemen dapat mengetahui pada tingkat
penjualan berapa usaha perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk di lanjutkan.
4. Degree of operating leverage
Dengan mengetahui parameter Degree of operating leverage, menejemen dapat mengetahui
dampak dari perubahan sekian persen penjualan laba yang di peroleh.
5. Laba kontribusi per unit
Dengan mengetahui parameter laba kontibusi,menejemen dapat mengetahui gambaran
seberapa jauh laba kontribusi dapat menutup biaya tetap dan dapat menghasilkan laba.

Contoh:
Dalam proses penyusunan anggaran, departemen anggaran PT. X menyajikan laporan rugi – laba
yang diproyeksikan untuk tahun anggaran yang akan datang seperti berikut.

PT. X
Laporan Rugi – Laba yang di Proyeksikan
Tahun Anggaran 20X2

Jumlah %
Pendapatan penjualan Rp. 500.000.000 100
Biaya variable Rp. 300.000.000 60
Laba kontribusi Rp. 200.000.000 40
Biaya tetap Rp. 150.000.000 30
Laba bersih Rp. 50.000.000 10

Dalam proses penyusunan anggaran induk perusahaan, laporan L / R yang di susun


dengan metode variabel costing yang membantu menejen puncak dalam mempertimbangkan
usulan kegiatan yang di ajukan oleh menejemen menengah. Keputusan jangka pendek umumnya

Akuntansi Manajemen 3
menyangkut penambahan pengurangan volume kegiatan. Dari laporan L / R yang di susun
menurut variabel costing, menejemen dapat memperoleh berbagai parameter berikut ini:

1. Impas (break even)

Impas dapat dihitung sebesar Rp.375.000.000 (Rp.150.000.000 : 40%). Angka itu


menunjukan bahwa dari target pendapatan penjualan yang direncanakan sebesar Rp.
500.000.000 dalam tahun anggaran tersebut, minimum perusahaan harus dapat menjual
Rp.375.000.000, agar perusahaan tidak rugi. Dalam proses perencanaan laba jangka pendek,
manajemen memerlukan informasi impas untuk mempertimbangkan berbagai usulan kegiatan.
Suatu usulan kegiatan yang mengakibatkan turunnya impas akan menarik manajemen jika
dibandingkan dengan yang mengakibatkan kenaikan impas, karena semakin rendah impas
berarti semakin besar kemungkinan perusahaan memperoleh kesempatan mendapatkan laba.

2. Margin of safety

Manajemen memerlukan informasi margin of safety dari anggaran laba yang diproyeksikan
dalam tahun anggaran yang akan datang. Dari contoh diatas karena impas dihitung sebesar Rp.
375.000.000 maka jumlah maksimum penurunan target pendapatan penjualan yang tidak
menyebabkan perusahaan mengalami kerugian adalah Rp. 125.000.000 (Rp. 500.000.000 – Rp.
375.000.000) atau 25 % (Rp. 125.000.000 : Rp. 500.000.000). Semakin besar margin of safety
semakin besar kesempatan perusahaan untuk memperoleh laba begitu juga sebaliknya.

3. Shut down point

Manajemen memerlukan informasi ini, jika misalnya diketahui bahwa dari biaya tetap
perusahaan sebesar Rp. 150.000.000, Rp. 100.000.000 merupakan biaya tunai, maka dalam
tahun anggaran 2011, titik penutupan usaha adalah sebesar Rp. 250.000.000 (Rp. 100.000.000 :
40%), berarti dibawah pendapatan penjualan (Rp. 500.000.000,-) maka usaha perusahaan
tersebut secara ekonomis tidak pantas dilanjutkan karena pendapatan penjualan dibawah jumlah
tersebut akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.

Akuntansi Manajemen 4
4. Degree of operating leverage

Manajemen memerlukan informasi ini yang dihitung dari data diatas adalah 4 kali (Rp.
200.000.000 : Rp. 50.000.000) yang berarti setiap 1% kenaikan pendapatan penjualan akan
mengakibatkan 4% (4 x 1%) kenaikan laba bersih. Dengan demikian usulan kegiatan diharapkan
akan menaikkan pendapatan penjualan sebesar 5%, maka dalam tahun anggaran tersebut laba
bersih perusahaan diharapkan akan mengalami kenaikan 20% (4 x 5%).

5. Laba kontribusi per unit

Laba kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Informasi
ini memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk
menghasilkan laba. Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh
perusahaan untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Jika informasi laba
kontribusi per unit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya yang langka, manajemen
akan memperoleh informasi berbagai macam untuk menghasilkan laba. Ini juga memberikan
landasan dalam pemilihan produk yang mampu menghasilkan laba tertinggi dalam
memanfaatkan sumber daya yang langka.

2.2 Rekayasa Parameter Untuk Perencanaan Laba Jangka Pendek

Berikut ini di uraikan lebih lanjut rekayasa berbagai parameter :

1. Impas

Impas adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi.
Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah
biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
Analisis impas adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha
tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain labanya sama dengan
nol).

Ada dua cara untuk menentukan impas : pendekatan teknik persamaan dan pendekatan grafis.
Penentuan impas dengan teknik persamaan dilakukan dengan mendasarkan pada persamaan
pendapatan sama dengan biaya ditambah laba, sedangkan penentuan impas dengan pendekatan

Akuntansi Manajemen 5
grafis dilakukan dengan cara mencari titik potong antara garis pendapatan penjualan dan garis
biaya dalam suatu grafik yang disebut grafik impas.

1) .Perhitungan impas dengan pendekatan teknik persamaan

Laba adalah sama dengan pendapatan penjualan dikurangi dengan biaya atau dinyatakan
dalam persamaan berikut:

Y = cx – bx – a
Keterangan :
y = Laba
c = Harga persatuan
x = Jumlah produk yang dijual
b = Biaya variable persatuan
a = Biaya tetap
Jika persamaan tersebut dinyatakan dalam bentuk Laporan Rugi – Laba metode variabel costing
sebagai berikut:

Pendapatan penjualan cx

Biaya variabel bx -

Laba kontribusi cx – bx

Biaya tetap a -

Laba bersih y

Rumus perhitungan Impas dalam satuan produk yang dijual adalah:

Impas (dalam satuan produk yg dijual) = Biaya tetap

Harga jual persatuan – biaya variable persatuan

Impas dalam rupiah penjualan dapat dicari rumusnya dengan cara mengalikan rumus impas
tersebut dengan c, yaitu harga jual per satuan produk.

Akuntansi Manajemen 6
𝑎 𝑎𝑐 𝑎 𝑎
𝑐𝑥 ′ = 𝑐−𝑏 𝑐= (𝑐−𝑏 )
= ( 𝑐−𝑏 )+𝑐 =(
𝑐+𝑐)−( 𝑏+𝑐 )

Jadi rumus perhitungan impas dalam rupiah penjualan adalah:


𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
Impas (dalam rupiah penjualan) = 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛
1− 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑗𝑢𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛

Catatan: 1 – b/c disebut marginal income ratio atau contribution margin ratio yaitu hasil bagi
laba kontribusi dengan pendapatan penjualan.
2) Perhitungan impas dengan pendekatan grafis

Perhitungan impas dapat dilakukan dengan menentukan titik pertemuan antara garis
pendapatan penjualan dengan garis biaya dalam suatu grafik. Titik pertemuan antara garis
pendapatan penjualan dengan garis biaya merupakan titik impas. Untuk dapat membentuk titik
impas, harus dibuat grafik dengan sumbu datar menuju volume penjualan, sedangkan sumbu
tegak menunjukkan biaya dan pendapatan.

Jika harga jual produk per satuan sebesar c, kuantitas produk yang dijual sebesar x, biaya
tetap sebesar a dan biaya variabel sebesar b per satuan x untuk volume penjualan sebesar x maka:

Pendapatan penjualan = cx
Biaya variabel = bx
Biaya tetap =a

Contoh :
Harga jual produk persatuan (c) = Rp. 172.000
Biaya variabel per satuan (b) = Rp. 43.000
Biaya tetap pertahun (a) = Rp. 77.400.000

Akuntansi Manajemen 7
Angka rupiah dalam ribuan
Pendapatan Biaya Biaya tetap Total biaya Laba rugi
Volume penjualan variabel
penjualan
X Cx Bx a a + bx cx – (a+bx)
1.000 Rp.172.000 Rp.43.000 Rp.77.400 Rp.120.400 Rp.51.600
800 Rp.137.600 Rp.34.400 Rp.77.400 Rp.111.800 Rp.25.800
600 Rp.103.200 Rp.25.800 Rp.77.400 Rp.103.200 Rp. 0
400 Rp.68.800 Rp.17.200 Rp.77.400 Rp. 94.600 (Rp.25.800)
200 Rp.34.400 Rp. 8.600 Rp.77.400 Rp. 86.000 (Rp.51.600)
Apa bila data diatas disajikan dalam bentuk grafik maka akan akan tampa pada gambar berikut

pendapatan dan biaya (juta Rp)

180 172.000.000

Daerah laba

140 pendapatan penjualan

Titik impas Garis total biaya 120.400.000

100

80 garis biaya tetap

Daerah rugi

40

200 400 600 800 1000

Volume penjualan

Akuntansi Manajemen 8
2. Margin of safety
Angka impas yang di hubungkan dengan angka pendapatan penjualan yang di anggarkan
akan di peroleh informasi berapa volume penjualan yang di anggarkan atau pendapatan
penjualan tertentu boleh turunagar perusahan tidak menderita rugi.selisih antara volume
penjualan yang di anggarkan dengan volume impas merupakan angka margin of safety.
Angka margin of safety ini berhubungan langsung dengan laba apabila di hubungkan dengan
marginal icom rasio.
Laba = profit volume ratio x margin of safety ratio
𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑜𝑓 𝑠𝑎𝑓𝑒𝑡𝑦
Laba = x
𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜
Margin of safety ratio =
𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜
3. Shut down point
Apabila ditinjau dari sudut biaya, pengambilan keputusan untuk menutup usaha dilakukan
dengan mempertimbangkan pendapatan penjualan dengan biaya tunai. Biaya tunai adalah
biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Dalam pengambilan
keputusan untuk menutup usaha harus diadakan pembedaan antara biaya keluar dari saku
dengan biaya terbenam (atau sunkcost, yaitu pengeluaran yang dilakukan pada masa yang
lalu, yang manfaatnya masih dinikmati sampai sekarang).
Suatu usaha harus dihentikan apabila pendapatan yang diperoleh tidak dapat menutup biaya
tunainya. Untuk mengetahui pada tingkat penjualan berapa suatu usaha harus dihentikan
dapat dilakukan dengan mencari titik perpotongan antara garis pendapatan penjualan dengan
garis biaya tunai dalam grafik impas.
Titik penutupan usaha dapat pula dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑡𝑢𝑛𝑎𝑖
𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑢𝑡𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎 =
𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑚𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜

4. Degree of operating leverage


Disamping impas, margin of safety, dan shut down point, laporan laba rugi yang disusun
berdasarkan metode fariabel costing memiliki satu parameter lagi yang disebut degree of
operating leverage yang memberikan ukuran dampak perubahan pendapatan penjualan

Akuntansi Manajemen 9
terhadap laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Dengan parameter ini, manajemen akan
dengan cepat mengetahui dampak setiap usaha kegiatan yang menyebabkan perubahan
pendapatan penjualan terhadap laba bersih perusahaan.
Degree of operating leverage dihitung dengan rumus berikut ini :
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖
Degree of operating leverage =
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
Karena laba kontribusi berubah sebanding dengan perubahan pendapatan, dengan
demikian setiap perubahan pendapatan penjualan dapat diketahui dengan cepat dampak
perubahannya terhadap laba bersih dengan menggunakan angka Degree of operating
leverage.

6. Laba kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Informasi
ini memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk
menghasilkan laba. Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh
perusahaan untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Jika informasi laba
kontribusi per unit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya yang langka, manajemen akan
memperoleh informasi berbagai macam untuk menghasilkan laba. Ini juga memberikan landasan
dalam pemilihan produk yang mampu menghasilkan laba tertinggi dalam memanfaatkan sumber
daya yang langka.

Keputusan Membeli atau Membuat Sendiri


Dalam keputusan ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yakni sebagai berikut :

1. Keputusan yang dihadapi oleh perusahaan yang sebelumnya memproduksi sendiri


produknya, kemudian mempertimbangkan akan membeli produk tersebut dari pemasok luar.
2. Keputusan yang dihadapi oleh perusahaan yang sebelumnya membeli produk tertentu dari
pemasok luar, kemudian mempertimbangkan akan memproduksi sendiri produk tersebut.

Apabila Keputusan yang pertama yang Diambil, maka ada 2 (dua) kemungkinan yang dihadapi
oleh manajemen dalam pengambilan keputusan ini, yakni :

 Fasilitas yang digunakan untuk memproduksi tidak dapat dimanfaatkan jika produk
dihentikan produksinya karena manajemen memilih alternative membeli dari luar.

Akuntansi Manajemen 10
 Fasilitas yang digunakan untuk memproduksi dapat dimanfaatkan untuk usaha lain yang
mendatangkan laba, jika produk dihentikan produksinya karena manajemen memilih
alternative membeli dari luar.

 Anggapan yang Mendasari Analisis Impas


Ramalan impas ini hanya akan tepat apabila variabel-variabel yang dipakai untuk
menghitung impas tidak berubah karena rumus perhitungan impas adalah:
Suatu perubahan dalam biaya variable akan mengakibatkan perubahan pada contribution
margin ratio dan impas.
1. Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin
ratio dan impas.
2. Angka laba kontribusi hanya dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variable dan harga jual.
3. Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tetapi tidak
mempengaruhi laba kontribusi.
4. Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variable pada arah yang sama akan
menyebabkan perubahan tajam terhadap impas.
Secara rinci anggapan (asumsi) yang mendasari analisis impas adalah:
1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.
2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan.
3. Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relative konstan.
4. Harga factor-faktor produksi dianggap tidak berubah.
5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah-ubah.
6. Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.
7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah.

Akuntansi Manajemen 11
2.3 Analisis Biaya Volume Laba

Analisis impas memberikan informasi tingkat penjualan minimum yang harus dicapai suatu
usaha agar tidak mengalami kerugian. Dan analisis tersebut juga dapat diketahui seberapa jauh
volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
Analisis impas menyajikan informasi untuk perencanaan volume penjualan. Analisis impas
merupakan salah satu bentuk analisis biaya volume laba karena untuk mengetahui impas maupun
margin margi of safety perlu dilakukan analisis terhadap hubungan antara biaya, volume dan
laba. Dalam analisis biaya volume laba ini titik berat analisis diletakkan pada sampai seberapa
besar perubahan-perubahan biaya, volume, dan harga jual berdampak terhadap laba perusahaan.

Untuk memudahkan analisis dampak perubahan biaya, volume, dan harga jual terhadap
laba, dapat dibuat grafik laba dan volume. Pembuatan grafik ini dilakukan sebagai berikut:
1. Dibuat grafik yang dibagi menjadi dua bagian yang dibatasi dengan garis penjualan yang
dibuat mendatar.
2. Kemudian ditarik garis rugi-laba yang menghubungkan titik-titik rugi atau laba pada
berbagai volume penjualan.
3. Titik pertemuan garis rugi-laba dengan garis penjualan menunjukan titik garis.

1) Manfaat Analisis Hubungan Biaya-Volume-Laba bagi Manajemen


Hubungan antara biaya, volume, dan laba, dipengaruhi oleh lima faktor atau suatu
kombinasi faktor-faktor berikut ini:
1. Harga jual persatuan.
2. Volume penjualan.
3. Komposisi produk yang dijual.
4. Biaya variable persatuan’
5. Total biaya.
2) Dampak Perubahan Harga Jual Produk Terhadap Hubungan Biaya-Volume-Laba
Suatu perubahan dalam harga jual produk kemungkinan akan berdampak tehadap
kuantitas produk yang dijual, laba, dan impas.

Contoh :

Akuntansi Manajemen 12
laporan rugi-laba dengan adanya perubahan harga jual produk dan volume produk yang
dijual.
Harga jual turun Harga jual Rp Harga jual naik 25%
10% dan volume 172.000 per satuan dan volume produk
produk yang dan volume produk yang dijual turun
dijual naik 30% yg dijual 1.000 kg 30%
Pendapatan Rp 201.240.000 Rp 172.000.000 Rp 150.500.000
penjualan biaya 55.900.000 43.000.000 30.100.000
variabel
Laba kontribusi Rp 145.340.000 Rp 129.000.000 Rp 120.400.000
biaya tetap 77.400.000 77.400.000 77.400.000
Laba bersih Rp 67.940.000 Rp 51.600.000 Rp 43.000.000
Impas Rp 107.500.000 Rp 103.200.000 Rp 96.750.000

3) Dampak perubahan komposisi produk yang dijual terhadap hubungan biaya-volume-laba


Perusahaan yang menjual lebih dari satu macam produk sering kali mempunyai kesempatan
untuk menaikkan laba kontribusi dan menurunkan titik impas dengan cara memperbaiki
komposisi produk yang dijual, yaitu menaikkan proporsi penjualan produk yang menghasilkan
contribution margin ratio yang tertinggi.
4) Analisis Hubungan Biaya –Volume-Laba Untuk Tiap Produk Dalam Perusahaan Yang
Memproduksi Dan Menjual Lebih Dari Satu Macam Produk
Dalam perusahaaan yang memproduksi dan menjual lebih dari satu macam produk, manajemen
tidak hanya menghadapi masalah mencari komposisi produk yang dijual ya ng menghasilkan
laba maksimum, namun juga memerlukan informasi kontribusi masing masing produk
dalam menghasilkan laba perusahaan secara keseluruhan.
Contoh
Misalkan PT.Sari menjaultiga macam produk dengan komposisi sebagai berikut :
Produk A = 10.000 unit
produk B = 15.000 unit
produk C = 10.000 unit.
Perhitungan laba kontribusi disajikan pada gambar berikut Ini:

Akuntansi Manajemen 13
Profit volume
Persentase
Pendapatan Laba Biaya Variabel ratio (P/V
dari Hasil
Produk Penjualan Biaya variabel Kontribosi Ratio)
Penjualan
A Rp250.000 Rp150.000 Rp100.000 60% 40%
B 450.000 180.000 270.000 40% 60%
C 500.000 150.000 650.000 30% 70%
Rp1.200.000 Rp480.000 Rp720.000 40% 60%
Biaya Tetap Rp500.000
Laba Bersih Rp220.000

Akuntansi Manajemen 14
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Perencanaan laba jangka pendek dilakukan oleh manajemen dalam proses penyusunan
anggaran perusahaan. Dalam penyusunan anggaran, manajemen selalu menghadapi pertanyaan
“what if”, yaitu pertanyaan apa yang terjadi jika sesuatu dipilih oleh manajemen. Perencanaan
laba jangka pendek dapat dilaksanakan dengan mudah jika didasarkan laporan laba rugi
projeksian, yang disusun berdasarkan metode variable costing. Dalam perencanaan laba jangka
pendek, manajemen mempertimbangkan berbagai usulan kegiatan yang berakibat terhadap
perubahan harga jual, volume penjualan, biaya variabel, dan atau biaya tetap yang akhirnya
berdampak terhadap laba bersih. Oleh karena itu, dalam perencanaan jangka pendek manajemen
membutuhkan informasi akuntansi differensial yang berdampak pada laba bersih. Dampak
terhadap laba bersih ini yang menjadi salah satu pertimbangan penting manajemen dalam
memutuskan berbagai usulan kegiatan dalam proses penyusunan anggaran perusahaan.

Akuntansi Manajemen 15
DAFTAR PUSTAKA

Ashton, David, Trevor Hopper, Rpbert W. Scapens. Issues in Management Accounting.


New York: Prentice-Hall International, 1991

Akuntansi Manajemen 16