Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Fitnah dalam bahasa Arab artinya kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian dan

siksaan.1 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “fitnah” berarti perkataan yang bermaksud

menjelekkan orang, seperti monodai nama baik, merugikan kehormatan orang.2 Dengan

demikian makna dalam kamus bahasa Arab dan bahasa Indonesia tersebut, maka “fitnah"

mengalami perubahan makna sama sekali. Kata “fitnah” termasuk dalam kategori kata serapan

dari bahasa Arab yaitu kelompok penyerapan lafadnya tetap, tetapi maknanya berubah. Pada

budaya Arab mengenal kata “fitnah” dengan makna kekacauan atau hura-hura. Sedangkan pada

masyarakat Indonesia, mengartikan kata “fitnah” dengan orang yang menuduh tanpa bukti”.

Dalam keseharian sering terdengar kata-kata, “Itu fitnah”. “Saya sama sekali tidak

melakukannya.” Kata-kata ini disampaikan seseorang ketika membantah tuduhan yang diarahkan

kepadanya. Orang juga berkata, “Hati-hati, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!” ketika

mengingatkan supaya tidak sembarang menuduh. Dua kata fitnah di sini berarti tuduhan tidak

berdasar.

Kata yang sama juga terdapat di dalam al-Qur`an. Ia cukup sering menyebut kata

tersebut. Bahkan ketika kita berkata, “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” kita bermaksud

mengutip al-Qur`an yang pada salah satu ayatnya menyatakan demikian. Pertanyaannya adalah,

apakah makna fitnah yang dikehendaki al-Qur`an sama dengan yang kita maksud? Dalam hal

apa saja al-Qur`an mengggunakan kata tersebut? Makna-makna apa saja yang ditimbulkan oleh

1
Ahsin w. al- Hafidz, Kamus Ilmu al- Qur‟an (Jakarta: Amzah, 2006), hal: 78
2
Kamus Besar Bahasa Indonesia Seri II, hal. 242

Tafsir Tematik 1
kata tersebut ketika al-Qur`an menyebutkannya dalam berbagai konteks ayat dan dalam aneka

bentuknya?

Banyak ayat Al-Qur’an mengemukakan mengenai fitnah dengan berbagai pengertian.3

Namun yang menjadi fokus utama penulis di dalam makalah ini adalah ayat al-Qur’an (firman

Allah) dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 191 dan kaitannya dengan Qur’an Surah Al-

Baqarah ayat 217.

3
Fiil Mâdhi (‫ فُتِنُوا‬, ‫ فَتَ ْنت ُ ْم‬,‫فَتَنَّا‬, dan ‫ )فُتِ ْنت ُ ْم‬Term ‫ َفتَ َّنا‬terdapat dalam QS al-An’âm/6: 53, Thâhâ/20: 40, 85,
Shâd/38: 24, 34, al-Dukhân/44: 17, ‫ فَت َ ْنت ُ ْم‬terdapat dalam QS al-Hadîd/57: 14), ‫ فَتَنُوا‬ada dalam QS al-Burûj/85: 10, ‫فُتِنُوا‬
terdapat pada QS al-Nahl/16: 110, dan‫ فُتِ ْنت ُ ْم‬terdapat pada QS Thâhâ/20: 90. Dalam kesemua ayat ini, term fitnah
bermakna ujian dan cobaan, kecuali pada Q.S al-Hadîd/57: 14 yang berarti mencelakakan diri sendiri.
Fiil Mudhâri’ ( َ‫ يُ ْفتَنُون‬,‫ يَ ْف ِتن ََّن‬,‫ يَ ْف ِتنُو‬,‫يَ ْفتِن‬, dan sebagainya).Term ‫ يَ ْفتِن‬terdapat pada Q.S al-Nisâ`/4: 101. Pada ayat
ini term fitnah berarti menyerang. Term ini juga terdapat pada Q.S Yûnus/10: 83. Pada ayat ini berarti menyiksa.
‫ يَ ْفتِنُو‬terdapat pada Q.S al-Mâ`idah/5: 49, artinya memalingkan. ‫ يَ ْفتِن ََّن‬terdapat pada QS al-A’râf/7: 27, artinya menipu.
َ‫ يُ ْفتَنُون‬terdapat pada QS al-Tawbah/9: 126 dan al-‘Ankabût/29: 2-3, pada keduanya berarti ujian. Term ini juga
terdapat dalam QS al-Dzâriyât/51: 13, artinya azab. َ‫ يَ ْفتِنُون‬terdapat pada Q.S al-Isrâ`/17: 73, artinya memalingkan.
َ‫ نَ ْفتِن‬terdapat pada Q.S Thâhâ/20: 131, artinya cobaan. َ‫ ت ُ ْفتَنُون‬terdapat pada Q.S al-Naml/27: 47, artinya ujian. َ‫نَ ْفتِن‬
terdapat pada Q.S al-Jinn/72: 17, artinya cobaan.
Mashdar (‫ )فِتْنَة‬Term ini terdapat dalam tidak kurang dari 32 ayat. Dalam QS al-Baqarah/2: 102, al-A’râf/7:
155, al-Anfâl/8: 25, al-Anbiyâ`/21: 35, al-Anbiyâ`/21: 111, al-Hajj`/22: 53, al-Nûr/24: 63, al-Furqân/25: 20, al-
Qamar/54: 27, al-Taghâbun/64: 15, dan al-Mudatstsir/74: 31 term fitnah berarti cobaan. Pada Q.S al-Baqarah/2: 191,
193, al-Anfâl/8: 73 dan al-Tawbah/9: 47-49 term fitnah merujuk pada makna kekacauan. Pada Q.S al-Baqarah/2:
217 term fitnah berarti penganiayaan (penindasan). Dalam Q.S Âli ‘Imrân/3: 7 term fitnah berarti keraguan dan
kesamaran. Pada Q.S al-Nisâ`/4: 91 term fitnah bermakna syirik. Dalam Q.S al-Mâ`idah/5: 41 term fitnah berarti
kesesatan. Pada Q.S al-Mâ`idah/5: 71 term fitnah berarti bencana. Pada Q.S al-An’âm/6: 23 term fitnah berarti
jawaban dusta (kedustaan). Dalam Q.S al-Anfâl/8: 39 term fitnah berarti gangguan. Dalam QS Yûnus/10: 85 dan al-
Mumtahanah/60: 5 term fitnah berarti sasaran kezaliman. Dalam Q.S al-Isrâ`/17: 60 dan al-Zumar/39: 49 term fitnah
berarti ujian. Dalam QS al-Hajj`/22: 11 term fitnah berarti bencana. Dalam Q.S al-‘Ankabût/29: 10 term fitnah
berarti penganiayaan. Pada QS al-Ahzâb/33: 14 term fitnah berarti murtad. Dan dalam QS al- Shâffât/37: 63 term
fitnah berarti siksaan. Isim Fâ’il ( َ‫ )فَاتِنِين‬Term ini terdapat dalam Q.S al- Shâffât/37: 162 dan berarti orang-orang yang
menyesatkan. Isim Maf’ûl ( ُ‫ ) َم ْفت ُون‬Term ini terdapat dalam Q.S al-Qalam/68: 6 dan berarti gila.

Tafsir Tematik 2
BAB II

PEMBAHASAN

A. HIMPUNAN AYAT-AYAT Al-QUR’AN TENTANG FITNAH

 
  
  
  
    
  
   
  
  


Artinya :

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat
mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah4 itu lebih besar bahayanya dari
pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil haram, kecuali jika
mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka
bunuhlah mereka. Demikanlah Balasan bagi orang-orang kafir. (Q.S. Al-Baqarah : 191).

  


    
     
   
 
  

4
Fitnah (menimbulkan kekacauan), seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta
mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Tafsir Tematik 3
   
  
   
   
    
    
   
  
  
    
 
Artinya :

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:


"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan
Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir
penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah5dan berbuat fitnah 6lebih
besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu
sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran),
seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya,
lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan
di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-
Baqarah : 217).

   


   
   
  

Artinya :

5
Jika kita ikuti Pendapat Ar Razy, Maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: "Berperang
dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah
dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam. tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih
besar lagi (dosanya) di sisi Allah." Pendapat Ar Razy ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir Nabi
dan sahabat-sahabatnya dari Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam.
6
Fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan
muslimin.

Tafsir Tematik 4
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan7 kepada orang-orang yang
mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab
Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (Q.S. Al-Buruj : 10).

    


    
    
 
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu
hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak
ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqorah : 193).

  


    
    
 
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang
lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
itu8, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Q.S : Al-
Anfal : 73).

B. Asbãbun Nuzûl

Al-Qur’an Surah Al-Baqorah Ayat 217 tersebut turun dalam rangka menegaskan

kemuliaan bulan haram dan bahwa berperang dalam bulan ini merupakan dosa besar. Akan

tetapi, menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-Nya, menghalangi masuk Masjid

Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah.

7
Yang dimaksud dengan mendatangkan cobaan ialah, seperti menyiksa, mendatangkan bencana,
membunuh dan sebagainya.
8
Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang
teguh antara kaum muslimin.

Tafsir Tematik 5
Kaum Muslim tidak memulai perang. Mereka tidak memulai mengadakan serangan.

Kaum kafirlah yang menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-Nya dan

menghalangi masuk Masjid Haram. Mereka telah melakukan segala dosa besar untuk

menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka telah kafir kepada Allah dan menjadikan

manusia kafir kepada-Nya. Mereka telah berbuat kafir terhadap Masjid Haram; melanggar

kemuliaannya dengan mengganggu kaum Muslim di dalamnya, serta menganiaya kaum

Muslim selama 13 tahun sebelum hijrah. Mereka telah mengusir penduduk tanah haram

darinya padahal Allah telah menjadikannya tempat yang aman.

Mengusir penduduk tanah haram lebih besar dosanya di sisi Allah dari perang di

bulan haram. Dan berbuat aniaya terhadap manusia karena agama dan keyakinan mereka

lebih besar bahayanya di sisi Allah dari pembunuhan. Kaum musyrikin telah melakukan dua

dosa besar ini. Maka, kejahatan dan kezaliman mereka yang lebih besar dosa dan bahayanya

daripada berperang di bulan haram itu, harus ditumpas di manapun dan kapan pun; di bulan

haram sekalipun.9

C. Makna Fitnah Dan Munasabah Ayat

1. Makna Fitnah

Kata fitnah memiliki arti antara lain al-ibtilâ`, al-imtihân dan al-ikhtibâr.

Kesemuanya berarti cobaan dan ujian. Akar kata fitnah adalah fatanã. Ketika seseorang

berkata fatantû al-fidhdhãh wa al-dzahãb, artinya adalah bahwa ia membakar perak dan

emas dengan api untuk memilah keduanya yang baik dari yang kurang baik. Fãtn, salah

satu derivasi fitnah, berarti al-ihrâq (membakar). Sebagaimana firman-Nya: ‫يوم هم على‬
َ

9
Sayyid Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, vol. 1, hal. 189.

Tafsir Tematik 6
َ‫النار يُ ْفتَنُون‬.
ِ Yuftanûn di sini artinya yuhraqûn (dibakar). Ibn al-Arabî seperti dikutip Ibn

Manzhur dalam Lisân al-‘Arab berkata: “Fitnah itu (beragam arti dan bentuknya), ia

dapat berarti ikhtibar (ujian), mihnãh (cobaan), mâl (harta), awlâd (anak keturunan), kûfr

(kufur), ikhtilâf al-nâs bî al-arâ (perselisihan paham manusia), dan ihrâq (membakar).

Fitnah juga ditujukan kepada takwil yang zalim (penafsiran liar tanpa dasar yang

tujuannya membela kepentingan pribadi). Seseorang yang tergila-gila mencari dunia

juga disebut sebagai terfitnah oleh dunia10

2. Munasabah Ayat

Dalam Q.S al-Nisâ`/4: 101 term fitnah yang berarti serangan ditimbulkan oleh

orang-orang kafir. Dalam Q.S al-A’râf/7: 27 term fitnah berarti tipuan. Dalam ayat ini

tipuan tersebut dilakukan oleh setan. Dalam Q.S al-Tawbah/9: 126 dinyatakan bahwa

orang-orang munafik difitnah dalam arti diuji, tapi mereka tidak juga bertobat dan tidak

pula mengambil pelajaran. Pada Q.S Yûnus/10: 83 disebutkan bahwa fitnah yang berarti

siksaan berasal dari Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Dalam Q.S al-Isrâ`/17: 73

dinyatakan bahwa orang-orang kafir hampir memfitnah dalam arti memalingkan orang-

orang Mukmin dari apa yang telah diwahyukan Allah.

Dalam Q.S Thâhâ/20: 131 term fitnah berarti cobaan berupa bunga kehidupan

dunia di mana orang-orang Mukmin dilarang mengarahkan matanya kepada orang-orang

yang mendapat cobaan tersebut. Pada Q.S al-Naml/27: 47 dinyatatakan bahwa kaum yang

mendapat fitnah yang berarti ujian adalah kaum Nabi Shaleh. Dalam Q.S al-‘Ankabût/29:

10
Muhammad bin Makram bin Manzhur, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I, vol. 13, hal. 317.. Lihat
pula al-Raghib al-Ishfahanî, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, tt., hal. 385-386, dan Abû al-
Husayn Ahmad Ibn Fâris, Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-
Tawzî’, cet. I, 1994, hal. 835.

Tafsir Tematik 7
2 dinyatakan bahwa orang-orang yang secara lisan telah mengatakan beriman akan

mendapat fitnah dalam arti ujian. Sedang dalam ayat selanjutnya (ayat 3) disebutkan

bahwa Allah telah memfitnah dalam arti menguji orang-orang terdahulu yang dengan

ujian itu diketahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta.

Dalam Q.S al-Dzâriyât/51: 13 disebutkan bahwa pada hari pembalasan orang-orang

durhaka akan mendapatkan fitnah dalam arti azab di atas api neraka. Dalam Q.S al-Baqarah/2:

102 dinyatakan bahwa apa yang diajarkan oleh dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan

Marut, kepada manusia sebagai fitnah dalam arti cobaan bagi mereka. Dalam Q.S al-Baqarah/2:

191 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti kekacauan yang disulut oleh orang-orang kafir lebih

besar bahayanya dari pembunuhan. Dalam Q.S al-Baqarah/2: 193 Allah menyuruh memerangi

orang-orang kafir yang menyulut fitnah dalam arti kekacauan agar ketaatan hanya semata-mata

untuk Allah.

Dalam Q.S al-Baqarah/2: 217 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti penganiayaan atau

penindasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir lebih besar dosanya daripada membunuh.

Dalam Q.S Âli ‘Imrân/3: 7 disebutkan bahwa orang-orang yang dalam hatinya condong kepada

kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyâbihât untuk menimbulkan fitnah

dalam arti keraguan dan kesamaran. Dalam Q.S al-Nisâ`/4: 91 disebutkan bahwa akan didapati

golongan yang setiap mereka diajak kembali kepada fitnah dalam arti syirik, mereka pun terjun

ke dalamnya. Dalam Q.S al-Mâ`idah/5: 41 dinyatakan bahwa barangsiapa yang Allah

menghendaki fitnahnya dalam arti kesesatannya, maka sekali-kali kita tidak akan mampu

menolak sesuatu pun yang datang daripada-Nya.

Tafsir Tematik 8
Dalam Q.S al-Mâ`idah/5: 71 disebutkan bahwa para pembunuh para nabi mengira

bahwa tidak akan terjadi suatu fitnah dalam arti bencana terhadap mereka dengan membunuh

nabi-nabi itu. Dalam Q.S al-An’âm/6: 23 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti jawaban dusta dari

orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya adalah: “Demi

Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Dalam Q.S al-A’râf/7: 155

disebutkan bahwa gempa bumi yang menggoncang tujuh puluh orang yang dipilih Nabi Musa

dari kaumnya untuk memohonkan tobat kepada Allah sebagai fitnah dalam arti cobaan dari-Nya.

Dalam Q.S al-Anfâl/8: 25 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti azab di dunia tidak khusus

menimpa orang-orang yang zalim saja.

Kemudian dalam Q.S. al-Anfâl/8: 28:

‫َّللاَ ِع ْندَهُ أَ ْج ٌر َع ِظي ٌم‬


َّ ‫َوا ْعلَ ُموا أَنَّ َما أ َ ْم َوالُ ُك ْم َوأ َ ْو ََلد ُ ُك ْم ِفتْنَةٌ َوأ َ َّن‬
Artinya :

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S al-Anfal : 28).

Kata fitnah pada ayat di atas, menurut Ibn Katsîr, berarti ikhtibâr wa imtihân (cobaan

dan ujian). Berdasarkan ayat ini, harta dan anak-anak merupakan cobaan dan ujian dari-Nya bagi

manusia yang mendapatkan keduanya supaya diketahui apakah mereka bersyukur kepada-Nya

atas harta dan anak-anak itu serta menaati-Nya, ataukah mereka disibukan dan dipalingkan

dengan keduanya dari-Nya. Senada dengan ayat ini, QS al-Taghâbun/64: 14, 51, al-Anbiyâ`/21:

53, dan al-Munâfiqûn/63: 9.

Jika harta dan anak-anak hanya cobaan, maka di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Pahala, karunia dan surga-Nya lebih baik dari harta dan anak-anak. Sebab terkadang ada di

antara mereka yang malah menjadi musuh dan banyak pula yang tidak mampu memberi

Tafsir Tematik 9
kebaikan apa-apa. Allah-lah Pangatur dan Pemilik dunia dan akhirat. Di sisi-Nya pahala yang

banyak di hari kiamat.11

D. Pandangan Para Mûfassḭr

Pandangan para mûfassir terhadap firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah ayat 191

tersebut, antara lain :

‫ْث أ َ ْخ َر ُجو ُك ْم َو ْال ِفتْنَةُ أَشَد ِمنَ ْالقَتْ ِل‬


ُ ‫ْث ث َ ِق ْفت ُ ُمو ُه ْم َوأ َ ْخ ِر ُجو ُه ْم ِم ْن َحي‬
ُ ‫َوا ْقتُلُو ُه ْم َحي‬
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat
mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari
pembunuhan……”

al-Thabarî, memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi orang-orang yang

memerangi mereka, yaitu kaum musyrik. “Bunuh dan perangi mereka di mana pun kalian

dapat melakukanya.” Mereka (kaum musyrik) telah mengusir kaum Muhajirin dari tanah air

dan tempat tinggal mereka di Mekah. Kepada kaum Muhajrin Allah berkata: “Usirlah

mereka yang memerangi kalian dan telah mengusir kalian dari tempat tinggal dan tanah air

kalian (Mekah), sebagaimana mereka telah mengusir kalian darinya.”12

Sayyid Quthb dalam Fî Zhilâl Al-Qur`an “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya

dari pembunuhan.” Membuat kekacauan di muka bumi, mengusir kaum Mukmin dari tanah

air dan tempat tinggal mereka, menyakiti, menggangu, menganiaya kaum Mukmin karena

Ismâ’îl bin Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, vol. 4, hal. 35.
11

12
Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1990, vol. 2, hal. 111.

Tafsir Tematik 10
agama yang mereka yakini, semua itu merupakan fitnah terhadap agama. Fitnah terhadap

agama merupakan penganiayaan terhadap sesuatu yang paling suci dan agung dalam

kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia lebih bahaya dari membunuh jiwa atau

menghilangkan nyawa. Sama saja apakah fitnah ini baru berupa ancaman atau berupa

tindakan nyata mengganggu (menyakiti), atau menimbulkan suasana kacau yang

menyesatkan manusia, merusak dan menjauhkan mereka dari agama Allah. Hal termulia

dalam diri manusia adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Berangsiapa merampas

kebebasan ini dari seseorang, atau berupaya memalingkannya dari agama yang diyakininya

secara langsung atau tidak, maka ia dihukum dengan hukuman yang lebih berat dari

hukuman pembunuhan. Karena beratnya hukuman itu, ayat kemudian menggunakan kata

‫( َوا ْقتُلُو ُه ْم‬bunuhlah mereka) bukan ‫( وقاتلوهم‬perangilah mereka). “Bunuhlah mereka di mana

pun kalian menjumpai mereka, dalam keadaan apa pun mereka, dan dengan cara apa pun

yang kalian miliki.” Tentu saja dengan tetap menjaga etika Islam seperti tidak membunuh

secara berlebihan, tidak membunuh dengan cara membakar, dan tidak melakukannya di

Masjid Haram, kecuali terhadap orang-orang kafir yang tidak mengindahkan kehormatan

masjid ini di mana mereka memulai memerangi kaum Muslim di masjid tersebut.13

E. BENTUK-BENTUK FITNAH

Dari data tentang ayat-ayat fitnah, diperoleh banyak sekali arti dan bentuk fitnah

dalam al-Qur`an. Sebagai berikut:

 Permusuhan/serangan seperti terlihat dalam Q.S al-Nisâ`/4: 101.

13
Sayyid Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, vol. 1, hal. 189-190. Baca
juga ’Abdullah Yûsuf ’Ali, The Glorious Kur`an: Translation and Commentary, Lahore: Idârât al-Buhûts al-
’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt., hal. 76.

Tafsir Tematik 11
 Siksaan sebagaimana termaksud dalam Q.S. Yûnus/10: 83.[2].

 Upaya memalingkan seperti terdapat dalam Q.S al-Mâ`idah/5: 49.[3].

 Tipuan sebagaimana termaksud dalam Q.S al-A’râf/7: 27.

 Ujian sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat seperti Q.S al-Tawbah/9:

126.[4].

 Azab sebagaimana termaksud dalam Q.S al-Dzâriyât/51: 13.

 Cobaan seperti termaksud dalam Q.S Thâhâ/20: 131.[5].

 Kekacauan seperti termaksud dalam Q.S al-Baqarah/2: 191.[6].

 Penindasan seperti termaksud dalam Q.S al-Baqarah/2: 217.

 Keraguan dan kesamaran sebagaimana terdapat dalam Q.S Âli ‘Imrân/3: 7:.

 Syirik sebagaimana termaksud dalam Q.S al-Nisâ`/4: 91.

 Kesesatan seperti termaksud dalam Q.S al-Mâ`idah/5: 41.[7].

 Bencana sebagaimana termaksud dalam QS al-.Mâ`idah/5: 71.[8].

 Jawaban dusta sebagaimana termaksud dalam Q.S al-An’âm/6: 23.

 Penganiayaan sebagaimana termaksud dalam Q.S al-‘Ankabût/29: 10.

 Murtad seperti termaksud dalam Q.S al-Ahzâb/33: 14.

 Gila seperti termaksud dalam Q.S al-Qalam/68: 6.

Tafsir Tematik 12
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kata “fitnah” sering diucapkan oleh masyarakat Indonesia dan juga di kebudayaan

Arab. Namun kedua kata tersebut mempunyai makna yang sama sekali berbeda. Di

masyarakat Arab kata “Fitnah” memiliki banyak makna, bergantung terhadap konteks kalimat

dan situasi yang dihadapi. Namun di Indonesia, kata “fitnah” tersebut sering diartikan sebagai

perkataan yang mengada-ada dan tuduhan yang tanpa bukti dan fakta.

Kata “fitnah” menurut al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 117 dan al-Qur’an Surah Al-

Baqarah ayat 217 adalah fitnah yang mengarah kepada isu agama, dengan dilatarbelakangi

penegasaan kemuliaan bulan haram dan bahwa berperang dalam bulan ini merupakan dosa

besar. Akan tetapi, menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-Nya, menghalangi

masuk Masjid Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi

Allah.

B. KRITIK DAN SARAN

Tafsir Tematik 13
Tentunya makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan baik di dalam metodologi

penulisan maupun konteks isinya. Oleh sebab itu pemakalah mohon kritik dan saran dari Prof.

Dr. Ali Ya’kub Matondang, MA selaku dosen pembimbing. Selanjutnya juga tidak lupa atas

kritik dan saran teman-teman demi kesempurnaan makalah ini agar tidak ada fitnah di

dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

’Abdullah Yûsuf ’Ali, The Glorious Kur`an: Translation and Commentary, Lahore: Idârât al-
Buhûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt.

Ahsin w. al- Hafidz, Kamus Ilmu al- Qur‟an, Jakarta: Amzah, 2006.

Al-Raghib al-Ishfahanî, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Abû al-Husayn Ahmad Ibn Fâris, Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-
Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1994.

Ismâ’îl bin Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-‘Arabî, vol. 4.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Seri II, hal. 242.

Muhammad bin Makram bin Manzhur, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I, vol. 13.

Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1990, vol. 2.

Sayyid Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, vol. 1.

Zainal Arifin Zakaria, Tafsir Inspirasi : Inspirasi Seputar Kitab Suci Alquran, Medan : Duta
Azhar, 2012.

Tafsir Tematik 14