Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

TERAPI MODALITAS KEPERAWATAN

(RESTRAINT, PSIKOFARMAKA, DAN ECT )

Dosen pengampu :

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa II Oleh :

Kelompok 7

Bilal Muhammad 010115A023

Devy Permatasari 010115A030

Dinia Estu 010115A000

Fadhilatul Tufaidah 010115A039

Febriana Wulan 010115A000

Gerson Ranja 010115A000

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN
2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut Tuhan Yang Maha Esa yang maha pengasih lagi Maha
penyayang saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya-Nya kepada sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas pembuatan makalah dengan judul TERAPI MODALITAS
KEPERAWATAN JIWA
Tugas dari mata kuliah Keperawatan jiwa ini telah di susun dengan
maksimal dan mendapatkan dari beberapa sumber sehingga dapat memperlancar
pembuatan tugas ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada
beberapa sumber yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini dan tak lupa
saya ucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah ini Ibu (zumrotul
S.Kep,M.Kes)
Terlepas dari semua itu, kelompok menyadari sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan dan cara pengeditan kerapiaan dalam tugas
ini.Saya berharap adanya kritik, saran dan usulan yang membangun dari pembaca.
Akhir kata saya berharap semoga laporan pendahuluan ini dapat bermanfaat untuk
banyak orang dan dapat memberikam manfaat maupun inspirasi terhadap para
pembaca.

Ungaran, 28 September 2017


DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal,
suatu penyakit dengan berbagai penyebab yang sangat bervariasi. Kausa
gangguan jiwa selama ini dikenali meliputi kausa pada area organobiologis,
area psikoedukatif, dan area sosiokultural.
Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptive
dikonstruksikan sebagai tahapan mulai adanya factor predisposisi, factor
presipitasi dalam bentuk stressor pencetus, kemampuan penilaian terhadap
stressor, sumber koping yang dimiliki, dan bagaimana mekanisme koping yang
dipilih oleh seorang individu. Dari sini kemudian baru menentukan apakah
perilaku individu tersebut adaptif atau maladaptive.
Banyak ahli dalam kesehatan jiwa memiliki persepsi yang berbeda-beda
terhadap apa yang dimaksud gangguan jiwa dan bagaimana gangguan perilaku
terjadi. Perbedaan pandangan tersebut tertuang dalam bentuk model konseptual
kesehatan jiwa. Pandangan model psikoanalisa berbeda dengan pandangan
model social, model perilaku, model eksistensial, model medical, berbeda pula
dengan model stress – adaptasi. Masing-masing model memiliki pendekatan
unik dalam terapi gangguan jiwa.
Berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa inilah yang
dimaksud dengan terapi modalitas. Suatu pendekatan penanganan klien
gangguan yang bervariasi yang bertujuan mengubah perilaku klien gangguan
jiwa dengan perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Tujuan dari pembuatan malakah ini guna memberikan tambahan
wawasan tentang terapi modalitas keperawatan jiwa.
2. Tujuan khusus
a. Agar mahasiswa mengetahui tentang terapi modalitas.
b. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan keperawatan jiawa
dengan psikofarmaka.
c. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan keperawatan jiwa
dengan restraint.
d. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan keperawatan jiwa
dengan ECT.
C. Manfaat Penulisan
Dengan dibuatnya makalah tentang terapi modalitas dan
penatalaksanaanya diharapkan mahasiswa mampu menerapkan saat melakukan
atau berada pada lingkungan perawatan jiwa serta menambah wawasan bagi
mahasiswa dalam melakukan intervensi pada orang dengan gangguan jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. TERAPI MODALITAS
Terapi modalitas adalah berbagai macam alternative terapi yang dapat
diberikan pada pasien gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakan berbagai bentuk
penyimpangan perilaku dengan penyebab pasti belum jelas. Oleh karenanya,
diperlukan pengkajian secara mendalam untuk mendapatkan factor pencetus dan
pemicu terjadinya gangguan jiwa. Selain itu, masalah kepribadian awal, kondisi
fisik pasien, situasi keluarga, dan masyarakat juga memengaruhi terjadinya
gangguan jiwa. Maramis mengidentifikasi penyebab gangguan dapat berasal dari
masalah fisik, kondisi kejiwaan (psikologis), dan masalah sosial (lingkungan).
Apabila gangguan jiwa disebabkan karena masalah fisik, yaitu terjadinya gangguan
keseimbangan neurotransmitter yang mengendalikan perilaku manusia, maka
pilihan pengobatan pada farmakologi. Apabila penyebab gangguan jiwa karena
masalah psikologis, maka dapat diselesaikan secara psikologis. Apabila penyebab
gangguan karena masalah lingkungan sosial, maka pilihan terapi difokuskan pada
manipulasi lingkungan. Dengan demikian, berbagai macam terapi dalam
keperawatan kesehatan jiwa dapat berupa somatoterapi, psikoterapi, dan terapi
lingkungan (Maramis, 2008).

Jenis Terapi Modalitas ada beberapa jenis terapi modalitas, antara lain:

 Terapi individual
 Terapi lingkungan (milleu therapy)
 Terapi biologis atau terapi somatic
 Terapi kognitif
 Terapi keluarga
 Terapi kelompok
 Terapi perilaku
 Terapi bermain

TERAPI MODALITAS

MANUSIA

BADAN JIWA LINGKUNGAN

Somato Terapi Psikoterapi Manipulasi


lingkungan dan
Farmakoterapi Suportif sosioterapi
ECT Dinamika

Pembedahan genetik

Konsep terapi modalitas dalam keperawatan kesehatan jiwa terus


mengalami perkembangan disesuaikan dengan masalah yang di alami pasien,
intervensi keperawatan disesuaikan dengan penyebab utama terjadinya masalah
keperawatan. Pada pemberian somatoterapi (terapisomatik), Peran perawat
difokuskan pada pengenalan jenis farmakoterapi yang diberikan, mengidentifikasi
efek samping, dan kolaborasi penanganan efek samping obat. Pada pemberian
terapi kejang listrik (electroconvulsivetherapy — ECT) peran perawat adalah
menyiapkan pasien dan mengevaluasi kondisi pasien setelah mendapatkan terapi
kejang listrik.
Pada kelompok psikoterapi, perawat dapat memberikan berbagai upaya pencegahan
dan penanganan perilaku agresif, intervensikrisis, serta mengembangkan terapi
kognitif, perilaku, dan berbagai terapi aktivitas kelompok. Pada kelompok terapi
lingkungan, perawat perlu mengidentifikasi perlunya pelaksanaan terapi keluarga,
terapi lingkungan, terapi okupasi, dan rehabilitasi. Bagan berikut menggambarkan
sinkronisasi berbagai alternative terapi medis dan keperawatan, yang sering disebut
dengan istilah terapi modalitas.
Somatoterapi Psikoterapi
Farmako terapi Suportif
ECT Manipulasi
Dinamika genetik lingkungan dan
Pembedahan
sosioterapi

Intervensi keluarga
Psiko farmakologi Mencegah dan
menangani perilaku  Fungsi keluarga
 Peran perawat
agresif  Intervensi non
 Farmako kinetik
 Teori tentang agresi klinis
 Anti ansietas  Terapi sistem
 Intervensi
 Anti depresan keperawatan keluarga
 Anti psikotik  Teknik manajemen  Terapi keluarga
Somato terapi kritis struktural
 ECT Terapi perilaku  Terapi keluarga
 Foto terapi  Pengondisian klasik strategis
 Terapi kurang tidur  Pengondisian operant
Terapi milleu
(terapi
 Strategi perawatan lingkungan)
 Peran perawat okupasi dan
Terapi kelompok rehabilitasitas
 Komponen kelompok
kecil
 Perkembangan
kelompok
 Perawat sebagai
pemimpin kelompok
Pemilihan terapi yang akan dilaksanakan bergantung pada kondisi pasien
dengan berbagai macam latarbelakang kejadian kasusnya. Pilihan salah satu terapi
dapat dikombinasikan dengan terapi lain. Jarang sekali untuk pasien gangguan jiwa
dapat diselesaikan dengan satu (single) terapi.

Jenis Terapi Modalitas :

a. Terapi Individual
Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan
pendekatan hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang
klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan
klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah
hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan
sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan
tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan.
Hubungan terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien
mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga
diharapkan mampu meredakan penderitaan (distress) emosional, serta
mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Tahapan hubungan dalam terapi individual meliputi:
 Tahapan orientasi
 Tahapan kerja
 Tahapan terminasi

Tahapan orientasi dilaksanakan ketika perawat memulai interaksi


dengan klien. Yang pertama harus dilakukan dalam tahapan ini adalah
membina hubungan saling percaya dengan klien. Hubungan saling percaya
sangat penting untuk mengawali hubungan agar klien bersedia
mengekspresikan segala masalah yang dihadapi dan mau bekerja sama
untuk mengatasi masalah tersebut sepanjang berhubungan dengan perawat.
Setelah klien mempercayai perawat, tahapan selanjutnya adalah klien
bersama perawat mendiskusikan apa yang menjadi latar belakang
munculnya masalah pada klien, apa konflik yang terjadi, juga penderitaan
yang klien hadapi. Tahapan orientasi diakhiri dengan kesepakatan antara
perawat dan klien untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai dalam
hubungan perawat-klien dan bagaimana kegiatan yang akan dilaksanakan
untuk mencapai tujuan tersebut.

Perawat melakukan intervensi keperawatan setelah klien


mempercayai perawat sebagai terapis. Ini dilakukan di fase kerja, di mana
klien melakukan eksplorasi diri. Klien mengungkapkan apa yang
dialaminya. Untuk itu perawat tidak hanya memperhatikan konteks cerita
klien akan tetapi harus memperhatikan juga bagaimana perasaan klien saat
menceritakan masalahnya. Dalam fase ini klien dibantu untuk dapat
mengembangkan pemahaman tentang siapa dirinya, apa yang terjadi dengan
dirinya, serta didorong untuk berani mengambil risiko berubah perilaku dari
perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif.

Setelah kedua pihak (klien dan perawat) menyepakati bahwa


masalah yang mengawali terjalinnya hubungan terapeutik telah mereda dan
lebih terkendali maka perawat dapat melakukan terminasi dengan klien.
Pertimbangan lain untuk melakukan terminasi adalah apabila klien telah
merasa lebih baik, terjadi peningkatan fungsi diri, social dan pekerjaan, serta
yang lebih penting adalah tujuan terapi telah tercapai.

b. Terapi Lingkungan

Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan


agar terjadi perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive
menjadi perilaku adaptif. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah
sakit dalam arti terapeutik. Bentuknya adalah memberi kesempatan klien
untuk tumbuh dan berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai
terapeutik dalam aktivitas dan interaksi.
Dalam terapi lingkungan perawat harus memberikan kesempatan,
dukungan, pengertian agar klien dapat berkembang menjadi pribadi yang
bertanggung jawab. Klien juga dipaparkan pada peraturan-peraturan yang
harus ditaati, harapan lingkungan, tekanan peer, dan belajar bagaimana
berinteraksi dengan orang lain. Perawat juga mendorong komunikasi dan
pembuatan keputusan, meningkatkan harga diri, belajar keterampilan dan
perilaku yang baru.

Bahwa lingkungan rumah sakit adalah lingkungan sementara di


mana klien akan kembali ke rumah, maka tujuan dari terapi lingkungan ini
adalah memampukan klien dapat hidup di luar lembaga yang diciptakan
melalui belajar kompetensi yang diperlukan untuk beralih dari lingkungan
rumah sakit ke lingkungan rumah tinggalnya.

c. Terapi Biologis
Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model
medical di mana gangguan jiwa dipandang sebagai penyakit. Ini berbeda
dengan model konsep yang lain yang memandang bahwa gangguan jiwa
murni adalah gangguan pada jiwa semata, tidak mempertimbangkan adanya
kelaianan patofisiologis. Tekanan model medical adalah pengkajian spesifik
dan pengelompokkasn gejala dalam sindroma spesifik. Perilaku abnormal
dipercaya akibat adanya perubahan biokimiawi tertentu.
Ada beberapa jenis terapi somatic gangguan jiwa meliputi:
pemberian obat (medikasi psikofarmaka), intervensi nutrisi,electro
convulsive therapy (ECT), foto terapi, dan bedah otak. Beberapa terapi yang
sampai sekarang tetap diterapkan dalam pelayanan kesehatan jiwa meliputi
medikasi psikoaktif dan ECT.
d. Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah strategi memodifikasi keyakinan dan sikap
yang mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses yang diterapkan
adalah membantu mempertimbangkan stressor dan kemudian dilanjutkan
dengan mengidentifikasi pola berfikir dan keyakinan yang tidak akurat
tentang stressor tersebut. Gangguan perilaku terjadi akibat klien mengalami
pola keyakinan dan berfikir yang tidak akurat. Untuk itu salah satu
memodifikasi perilaku adalah dengan mengubah pola berfikir dan
keyakinan tersebut. Fokus auhan adalah membantu klien untuk reevaluasi
ide, nilai yang diyakini, harapan-harapan, dan kemudian dilanjutkan dengan
menyusun perubahan kognitif.
Ada tiga tujuan terapi kognitif meliputi :
 Mengembangkan pola berfikir yang rasional. Mengubah
pola berfikir tak rasional yang sering mengakibatkan
gangguan perilaku menjadi pola berfikir rasional
berdasarkan fakta dan informasi yang actual.
 Membiasakan diri selalu menggunakan pengetesan realita
dalam menanggapi setiap stimulus sehingga terhindar dari
distorsi pikiran.
 Membentuk perilaku dengan pesan internal. Perilaku
dimodifikasi dengan terlebih dahulu mengubah pola
berfikir.

Bentuk intervensi dalam terapi kognitif meliputi mengajarkan untuk


mensubstitusi pikiran klien, belajar penyelesaian masalah dan memodifikasi
percakapan diri negatif.

e. Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh
anggota keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi
keluarga adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu
sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi;
tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya.
Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan
diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap
munculnya masalah tersebut digali. Dengan demikian terleih dahulu
masing-masing anggota keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di
keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap timbulnya masalah, untuk
kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan
meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang
seharusnya.
Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1
(perjanjian), fase 2 (kerja), fase 3 (terminasi). Di fase pertama perawat dan
klien mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga
diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua
atau fase kerja adalah keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis
berusaha mengubah pola interaksi di antara anggota keluarga,
meningkatkan kompetensi masingmasing individual anggota keluarga,
eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga, peraturanperaturan yang selama
ini ada. Terapi keluarga diakhiri di fase terminasi di mana keluarga akan
melihat lagi proses yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi,
dan cara-cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat
mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.
f. Terapi Kelompok
Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk
dalam kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media
kelompok. Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi dengan
sekelompok klien secara teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran
diri klien, meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku
maladaptive. Tahapannya meliputi: tahap permulaan, fase kerja, diakhiri
tahap terminasi.
Terapi kelompok dimulai fase permulaan atau sering juga disebut
sebagai fase orientasi. Dalam fase ini klien diorientasikan kepada apa yang
diperlukan dalam interaksi, kegiatan yang akan dilaksanakan, dan untuk apa
aktivitas tersebut dilaksanakan. Peran terapis dalam fase ini adalah sebagai
model peran dengan cara mengusulkan struktur kelompok, meredakan
ansietas yang biasa terjadi di awal pembentukan kelompok, dan
memfasilitasi interaksi di antara anggota kelompok. Fase permulaan
dilanjutkan dengan fase kerja.
Di fase kerja terapis membantu klien untuk mengeksplorasi isu
dengan berfokus pada keadaan here and now. Dukungan diberikan agar
masing-masing anggota kelompok melakukan kegiatan yang disepakati di
fase permulaan untuk mencapai tujuan terapi. Fase kerja adalah inti dari
terapi kelompok di mana klien bersama kelompoknya melakukan kegiatan
untuk mencapai target perubahan perilaku dengan saling mendukung di
antara satu sama lain anggota kelompok. Setelah target tercapai sesuai
tujuan yang telah ditetapkan maka diakhiri dengan fase terminasi.
Fase terminasi dilaksanakan jika kelompok telah difasilitasi dan
dilibatkan dalam hubungan interpersonal antar anggota. Peran perawat
adalah mendorong anggota kelompok untuk saling memberi umpan balik,
dukungan, serta bertoleransi terhadap setiap perbedaan yang ada. Akhir dari
terapi kelompok adalah mendorong agar anggota kelompok berani dan
mampu menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi di masa mendatang.
g. Terapi Perilaku
Anggapan dasar dari terapi perilaku adalah kenyataan bahwa
perilaku timbul akibat proses pembelajaran. Perilaku sehat oleh karenanya
dapat dipelajari dan disubstitusi dari perilaku yang tidak sehat.
Teknik dasar yang digunakan dalam terapi jenis ini adalah :
 Role model
 Kondisioning operan
 Desensitisasi sistematis
 Pengendalian diri
 Terapi aversi atau releks kondisi

Teknik role model adalah strategi mengubah perilaku dengan


memberi contoh perilaku adaptif untuk ditiru klien. Dengan melihat contoh
klien mampelajari melalui praktek dan meniru perilaku tersebut. Teknik ini
biasanya dikombinasikan dengan teknik kondisioning operan dan
desensitisasi.

Kondisioning operan disebut juga penguatan positif di mana terapis


memberi penghargaan kepada klien terhadap perilaku yang positif yang
telah ditampilkan oleh klien. Dengan penghargaan dan umpan balik positif
yang didapat maka perilaku tersebut akan dipertahankan atau ditingkatkan
oleh klien. Misalnya seorang klien begitu bangun tidur langsung ke kamar
mandi untuk mandi, perawat memberikan pujian terhadap perilaku tersebut.
Besok pagi klien akan mengulang perilaku segera mandi setelah bangun
tidur karena mendapat umpan balik berupa pujian dari perawat. Pujian
dalam hal ini adalah reward atau penghargaan bagi perilaku positif klien
berupa segera mandi setelah bangun.

Terapi perilaku yang cocok untuk klien fobia adalah teknik


desensitisasi sistematis yaitu teknik mengatasi kecemasan terhadap sesuatu
stimulus atau kondisi dengan secara bertahap
memperkenalkan/memaparkan pada stimulus atau situasi yang
menimbulkan kecemasan tersebut secara bertahap dalam keadaan klien
sedang relaks. Makin lama intensitas pemaparan stimulus makin meningkat
seiring dengan toleransi klien terhadap stimulus tersebut. Hasil akhirnya
adalah klien akan berhasil mengatasi ketakutan atau kecemasannya akan
stimulus tersebut.
Untuk mengatasi perilaku dorongan perilaku maladaptive klien
dapat dilatih dengan teknik pengendalian diri. Bentuk latihannya adalah
berlatih mengubah kata-kata negatif menjadi kata-kata positif. Apabila ini
berhasil maka klien sudah memiliki kemampuan untuk mengendalikan
perilaku yang lain sehingga menghasilkan terjadinya penurunan tingkat
distress klien tersebut.
Mengubah perilaku dapat juga dilakukan dengan memberi
penguatan negatif. Caranya adalah dengan memberi pengalaman
ketidaknyamanan untuk merusak perilaku yang maladaptive. Bentuk
ketidaknyamanan ini dapat berupa menghilangkan stimulus positif sebagai
“punishment” terhadap perilaku maladaptive tersebut. Dengan ini klien
akan belajar untuk tidak mengulangi perilaku demi menghindari
konsekuensi negatif yang akan diterima akibat perilaku negatif tersebut.
h. Terapi Bermain
Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-
anak akan dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada
dengan ekspresi verbal. Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat
perkembangan, status emosional anak, hipotesa diagnostiknya, serta
melakukan intervensi untuk mengatasi masalah anak tersebut.
Prinsip terapi bermain meliputi membina hubungan yang hangat
dengan anak, merefleksikan perasaan anak yang terpancar melalui
permainan, mempercayai bahwa anak dapat menyelesaikan masalahnya,
dan kemudian menginterpretasikan perilaku anak tersebut.
Terapi bermain diindikasikan untuk anak yang mengalami depresi,
anak yang mengalami ansietas, atau sebagai korban penganiayaan (abuse).
Bahkan juga terpai bermain ini dianjurkan untuk klien dewasa yang
mengalami stress pasca trauma, gangguan identitas disosiatif dan klien yang
mengalami penganiayaan.
B. REATRAINT
1. Pengertian
Restrain adalah terapi dengan alat – alat mekanik atau manual untuk
membatasi mobilitas fisik klien, dilakukan pada kondisi khusus, merupakan
intervensi yang terakhir jika perilaku klien sudah tidak dapat diatasi atau di kontrol
dengan strategi perilaku maupun modifikasi lingkungan (Widyodinigrat. R, 2009).
2. Jenis –jenis restraint
a. Camisole (Jaket Pengekang)

b. Manset / tali untuk pergelangan tangan dan kaki


3. Tujuan Pemasangan Restrain
a. Menghindari hal – hal yang membahayakan pasien selama
pemberian asuhan keperawatan
b. Memberi perlindungan kepada pasien dari kecelakaan (jatuh
dari tempat tidur)
c . Memenuhi kebutuhan pasien akan keselamatan dan rasa aman
(safety and security needs)

4. Sasaran Pemasangan Restrain


a. Pasien dengan penurunan kesadaran disertai gelisah
b. Pasien dengan indikasi gangguan kejiwaan (gaduh gelisah)
5. Persiapan Alat
a. Pilihlah restrain yang cocok sesuai kebutuhan
b. Bantalan pelindung kulit/ tulang
6. Persiapan Pasien
Kaji keadaan pasien untuk menentukan jenis restrain sesuai keperluan
7. Cara Kerja
a. Perawat cuci tangan
b. Gunakan sarung tangan
c. Gunakan bantalan pada ekstremitas klien sebelum dipasang
restrain
d. Ikatkan restrain pada ekstremitas yang dimaksud
e. Longgarkan restrain setiap 4 jam selama 30 menit
f. Kaji kemungkinan adanya luka setiap 4 jam (observasi n denyut
nadi pada ekstremitas)
g. Catat keadaan klien sebelum dan sesudah pemasangan restrain.

C. PSIKOFARMAKA
1. Definisi Psikofarmaka
Psikofarmaka adalah berbagai jenis-jenis obat yang bekerja pada susunan
saraf pusat. Efek utamnya pada aktivitas mental dan perilaku, yang biasanya
digunakan untuk pengobatan gangguan jiwa. Terdapat banyak jeis obat
psikofarmaka dengan farmakokinetik khusu unruk mengontrol dan mengendalikan
perilaku pasien gangguan jiwa. Golongan dan jenis psikofarmaka perlu diketahui
perawat agar dapat mengembangkan upaya kolaborasi pemberian psikofarmaka,
mengidentifikasi dan mengantisipasi terjadinya efek samping, serta mamasukan
dengan berbagai altenatif terapi lainnya.
Berdasarkan efek klinik, obat psikotropika dibagi menjadi golongan
antipsikotik, antidepresan, antiansietas, dan antimanik.
1. Antipsikotik
Obat ini disebut neuroleptika atau major trsnaquellizer. Indikasi utama
obat golongan ini adalah untuk penderita gangguan psikotik.
Klasifikasinya antara lain :
a. Derivat fenotiazin
1) Rantau samping alifatik contoh : Chlorpromazine (largatil,
ethibernal), Levomepromazine ( nozinan )
2) Rantai samping piperazine contoh : Trifluoperazin (Stelazine),
perfenazin ( Trilafon ), Flufenazin ( anatensol ).
3) Rantai samping piperidin conton : Thoiridazin (Melleril ).
b. Derivat butirofenon
c. Berivat thioxanten
d. Deribat dibenzoxasepin
e. Derivat benzamide
Efek utama obat antipsikotik adalah menypresi gejala psikotik seperti
gangguan proses berfikir ( waham ), gangguan persepsi (halusinasi), aktivitas
psikomotor yang berlebihan (agresivitas), dan juga memiliki efek sedatif serta efek
samping ekstrapiramidal. Timbulnya efek samping sangat bervariasi dan bersifat
individual.
Efek samping yang terjadi antara lain :
a. Gangguan neurologik
1) Gejala ekstrapiramidal
a) Akatisia
Kegelisahan motorik, tidak dapat duduk diam, jalan salah duduk pun
tak enak.
b) Distonia akut
Kekakuan otot terutama otot lidah (protusio lidah), tortikolis (otot
leher tertarik ke satu sisi), opisototonus ( otot punggung tertarik ke
belakang), dan okulogirikrisis ( mata seperti tertarik ke atas).
c) Sindrome parkinson
Terdapat rigiditas atau fenomena roda bergerigi, tremor kasar, muka
topeng, hipersalivasi, disatria.
d) Diskinesua tardif
Gerakan-gerakan involunter yang berulang, serta mengenai bagain
tubuh/ kelompok otot tertentu yang biasanya timbul setelah
pemakaian antipsikotik jangka lama.
2) Sindrome neorolepatika maligna
Kondisi gawat darurat yang ditandai dengan timbulnya febris tinggi,
kejang-kejang, denyut nadi meningkat, keringat berlenihan, dan
penurunan kesadaran. Sering terjadi pada pemakain kombinasi
antipsikotik golongan butirofenon dengan garam lithium.
3) Peurunan ambang kejang
Biasanya pada penderita epilepsi yang mendapat obat antipsikotik.
b. Gangguan otomom
1) Hipotensi ortastik/postural
Penurunan tekanan darah pada perubahan posisi, misalnya dari
keadaan berbaring kemudian tiba-tiba berdiri, sehingga dapat
terjatuh atau syok atau penurunan kesadaran.
2) Gangguan sistem gastrointestinal
Ditandai dengan mulut kering, obtipasi, hipersalivasi, dan diare.
3) Gangguan sistem urogenital
Inkontinensia urine
4) Gangguan pada mata
Kesulitaan dalam berakomodsi, penglihatan kabur, fotofobia karena
terjadi mydriasis.
5) Gangguan pada penciuman
Terjadinya edema pada selaput lendir hidung bagian tengah,
sehingga kesulitan dalam bernafas.
c. Gangguan hormonal
1) Hiperprolaktinemia
2) Galactorrhoea
3) Amenorrhoea
4) Gynecomastia pada laki-laki

2. Antidepresan
Merupakan golongan obat-obatan yang mempunyai khasiat mengurangi
atau menghilangkan gejala depresif.
Klasifikasi antidepresan :
a. Golongan trisiklik ( Imipramin, Amitriptilin, Clomipramin .)
b. Golongan tetrasiklik (Maprotilin)
c. Golongan monoaminoksidase (Aurorik)
d. Golongan serotinin selestive reuptake inhibitorAntiansietas
Untuk gangguan depresi berat debgab kecenderungan bunuh diri, perlu
dipertimbangkan penggunaan ECT sebagaoi pendamping pemberian antidepresan.
Efek samping yang sering terjadi pada pemberian antidepresan antara lain:
a. Gangguan pada sistem kardiovaskuler
1) Hipotensi, terutama pada pasien usia lanjut
2) Hipertensi, sering terjadi pada penggunaan antidepresan jenis MOAI
yang klasik.
3) Perubahanpada gambaran EKG, pada jenis golongan antidepresan
trisiklik.
b. Mual, muntah, sakit kepala.

3. Antiansietas (Anxiolytic Sedative)


Obat golongan ini dipakai untuk mengurangi amsietas atau kecemasan yang
patologi tanpa banyak berpengaruh pada fungsi kognitif. Secara umum, obat-
obat ini berefek sedatif dan berpotensial menimbulkan toleransi atau
ketergantungan.
Klasifikasi antiansietas antara lain :
a. Derivat benzodiazepin
Contoh :
1) librium
2) valium
3) Bromazepam (lexotan)
4) Aktivan
5) Frisium
6) Xanax
7) Buspar
b. Derivat gliserol
1) Mepromat (Deporan)
c. Derivat barbitra
1) Fenobarbital (luminal)
Obat – obat golongan Benzodiazepam paling banyak disalahgunakan karena
efek hipnotiknya dan terjaminya keamanan dalam pemakaian dosis yang
berlebihan. Obat-oabat golongan ini tidak berefek fatal pada overdosis kecuali bila
dipakai dalam kombinasi yang sering dikeluhkan adalah sebagai berikut :
a. Rasa menagntuk yang berat
b. Sakit kepala
c. Disartria
d. Nafsu makan bertambah
e. Ketergantungan
f. Gejala putus asa (gelisah, tremor, kejang-kejang).

4. Antimanik
Merupakan kelompok obay yang berkhasiat untuk kasus gangguan afektif
bipolar terutama episodik mania dan sekaligus dipakai untuk mencegah
kekmbuhannya. Obat yang termasuk kelompok ini adalah :
a. Golongan garam lithium (Teralith, Priadel)
b. Karbamazepin (Tegretol, Temporol)
c. Asam Valproat.
Hal yang penting untuk diperhatikan pada pemberin obat golongan ini adalah
kadarnya dalam plasam. Misalnya pada pemberian lithium karbonat, dosis efektif
antara 0,8-1,2 meq/dl. Hal ini perlu dimonitor karena obat ini bersifat toksik
terutama untuk organ ginjal.
Efek samping antimatik :
a. Tremor halus
b. Vertigo dan rasa lelah
c. Diare dan muntah-muntah
d. Oliguria dan anuria
e. Konvulsi
f. Edema
g. Ataksia dan tremor kasar

2. Peran Perawat Dalam Pemberian Psikofarmaka


Peran perawat dalam penatalaksanaan pemberian obat di rumah sakit jiwa :
a. Mengumpulkan data sebelum pengobatan
Dalam melaksanakan peran ini, perawat didukung oleh latar
belakang pengetahuan biologis dan perilaku. Data yang perlu
dikumpulkan antara lain riwayat penyakit, diagnosis medis, hasil
pemeriksaan laboratorium yang berkaitan, riwayat pengobatan, jenis
obat yang digunakan (dosis, cara pemberian, waktu pemberian), dan
perawat perlu mengetahui program terapi lain bagi pasien.
Pengumpulan data ini agar asuhan yang diberikan bersifat
menyeluruh dan merupakan satu kesatuan.
b. Mengkoordinasikan obat dengan terapi modalitas
Hal ini penting dalam mendesain program terapi yang akan
dilakukan. Pemilihan terapi yang tepat dan sesuai dengan program
pengobatan pasien akan memberikan hasil yang lebih baik.
c. Pendidikan kesehatan
Pasien di rumah sakit sangat membutuhkan pendidikan
kesehatan tentang obat yang diperolehnya, karena pasien sering
tidak minum obat yang dianggap tidak ada manfaatnya. Selain itu,
pendidikan kesehatan juga diperlukan oleh keluarga karena adanya
anggapan bahwa jika pasien sudah pulang ke rumah tidak perlu lagi
minum obat padahal ini menyebabkan risiko kekambuhan dan
dirawat kembali di rumah sakit.
d. Memonitor efek samping obat
Seorang perawat diharapkan mampu memonitor efek
samping obat dan reaksi-reaksi lain yang kurang baik setelah pasien
minum obat. Hal ini penting dalam mencapai pemberian obat yang
optimal.
e. Melaksanakan prinsip-prinsip pengobatan psikofarmaka
Peran ini membuat perawat sebagai kunci dalam
memaksimalkan efek terapeutik obat dan meminimalkan efek
samping obat karena tidak ada profesi lain dalam tim kesehatan yang
melakukan dan mempunyai kesempatan dalam memberikan tiap
dosis obat pasien, serta secara terus-menerus mewaspadai efek
samping obat. Dalam melaksanakan peran ini, perawat bekerja sama
dengan pasien.
f. Melaksanakan program pengobatan berkelanjutan
Dalam program pengobatan, perawat merupakan
penghubung antara pasien dengan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat. Setelah pasien selesai dirawat di rumah sakit maka
perawat akan merujuk pasien pada fasilitas yang ada di masyarakat
misalnya puskesmas, klinik jiwa, dan sebagainya.
g. Menyesuaikan dnegan terapi nonfarmakologi
Sejalan dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan
perawat, peran perawat dapat diperluas menjadi seorang terapis.
Perawat dapat memilih salah satu program terapi bagi pasien dan
menggabungkannya dengan terapi pengobatan serta bersama pasien
bekerja sebagai satu kesatuan.
h. Ikut serta dalam riset interdisipliner
Sebagai profesi yang paling banyak berhubungan dengan
pasien, perawat dapat berperan sebagai pengumpul data, sebagai
asisten peneliti, atau sebagai peneliti utama. Peran perawat dalam
riset mengenai obat ini sampai saat ini masih terus digali.

D. ECT
1. Sejarah ECT (Electro convulsive Therapy)

ECT pertama kali dilakukan di Roma pada tahun 1938. Seperti peristiwa-
peristiwa lain dalam sains, Pada tahun 1946, Scribonius Largus menggambarkan
penerapan listrik pada ikan torpedo kepala sebagai pengobatan untuk sakit kepala.
Pada tahun 1470, seorang Jesuit misionaris Ethiopia menerapkan lele listrik kepada
orang-orang (situs anatomi tidak diketahui) sebagai sarana untuk mengusir setan.
Di tahun 18 ke belut listrik abad diaplikasikan ke kepala (kondisi diperlakukan
tidak diketahui). Namun, tidak ada sejarah yang jelas penerapan listrik ke kepala
untuk pengobatan gangguan mental sebelum 1938. Kejang-kejang telah diinduksi
untuk tujuan medis pada waktu yang berbeda atas berabad-abad. Paracelsus (1490-
1541) dikelola kamper melalui mulut untuk mendorong kejang-kejang dalam
pengobatan gangguan mental. Rekening pada 1785 muncul di London Medical
Journal of Kamper disebabkan kejang-kejang untuk perawatan psikosis. ECT
muncul pada waktu yang menarik. Hingga awal tahun 1920-an kecil dapat
ditawarkan untuk orang dengan kelainan mental serius selain perawatan
manusiawi.

Akibatnya popularitas ECT terus menurun dan mencapai titik terendah pada
era tahun 1970-an. Pada tahun 1980 tercatat hanya 30.000 pemakaian ECT di
seluruh Inggris, angka ini jauh dibandingkan catatan tahun 1972 yang masih
mencapai 60.000.Ditemukannya obat antidepresan trisiklik pada tahun 1950-an
turut menggeser popularitas ECT. Terlebih ketika antidepresan yang jauh lebih
aman, selektif serotonin reuptake inhibitors (SSRI) diperkenalkan tak lama
kemudian.
Namun baru-baru ini, peneliti dari Columbia University merancang
prosedur ECT terbaru yang diklaim mampu mengurangi efek samping. Jika pada
ECT konvensional arus listrik dialirkan selama 1,5 milidetik, maka pada prosedur
terbaru dipersingkat menjadi 0,3 milidetik.Prosedur baru ini bisa mengurangi risiko
kehilangan ingatan, serta memberikan waktu pemulihan 2 kali lebih cepat. Hasil
pengujian sementara menunjukkan keberhasilan terapi meningkat hingga 73 persen
dibandingkan prosedur konvensional. (Anonim, 2010).

2. Definisi ECT (Electro convulsive Therapy)

Electro Convulsive Therapy adalah Sistem Pengobatan (terapi) berupa


pemberian rangsangan listrik pada otak untuk pasien pada rumah sakit jiwa. Terapi
rangsangan listrik terbukti lebih manjur dibandingkan dengan penggunaan obat-
obatan. ECT adalah pengobatan gangguan kejiwaan yang menggunakan arus
listrik singkat pada otak dengan menggunakan mesin khusus dimana pasien di
anastesi terlebih dahulu dan akan menimbulkan efek convulsi karena relaksasi otot.
ECT adalah suatu terapi berupa aliran listrik ringan yang dialirkan ke dalam otak
untuk menghasilkan suatu serangan yang serupa dengan serangan epilepsi.
Electroconvulsive therapy (ECT), adalah suatu teknik terapi dengan menggunakan
gelombang listrik yang dapat membantu kesembuhan klien dengan depresi
(Anonim. 2010)

Jadi, ECT merupakan pengobatan somatik untuk menginduksi kejang grand


mal secara buatan dg mengalirkan arus listrik ke dalam otak melalui elektroda yang
dipasang pada satu atau kedua pelipis.

3. Jenis-jenis ECT (Electro convulsive Therapy)


a. ECT konvensional

ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada pasien sehingga


tampak tidak manusiawi.Terapi konvensional ini di lakukan tanpa menggunakan
obat-obatan anastesi seperti pada ECT premedikasi.
b. ECT pre-medikasi

Terapi ini lebih manusiawi dari pada ECT konvensional,karena pada terapi
ini di berikan obat-obatan anastesi yang bisa menekan timbulnya kejang yang
terjadi pada pasien.

4. Mekanisme Kerja ECT (Electro convulsive Therapy)

Didalam buku psikiatri dijelaskan bahwa terapi elektrokonvulsi dilakukan


dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ketubuh sehingga penderita menerima
aliran listrik yang terputus-putus. Alat yang digunakan dalam terapi ini dinamakan
konvulsator didalamnya terdapat pengatur waktu voltase yang merupakan pengatur
waktu otomatis memutuskan aliran listrik yang keluar sesudah waktu yang
ditetapkan. Prinsip kerja dari terapi elektrokonvulsi ialah aliran listrik dimasukkan
kedalam kepala orang yang mengalami gangguan jiwa, setelah itu orang yang
menjalaninya menjadi tidak sadar seketika dan konvulsi yang terjadi mirip epilepsy,
diikuti fase klonik, kemudian rasa relaksasi otot dengan pernapasan dalam dan
keras. Orang menjadi tidak sadar kurang lebih 5 menit dan biasanya setelah bangun
dan sadar,kemudian timbul rasa kantuk,kemudian orang tersebut tertidur.( Residen
Bagian Psikiatri UCLA. 1997).

Salah satu teori yang berkaitan dengan hal ini adalah teori
neurofisiologi.Teori ini mempelajari aliran darah serebral, suplai glukosa dan
oksigen, serta permeabilitas sawar otak akan meningkat. Setelah kejang, aliran
darah dan metabolisme glukosa menurun. Hal ini paling jelas dilihat pada lobus
frontalis. Beberapa penelitian mengatakan bahwa derajat penurunan metabolisme
serebral berhubungan dengan respon terapeutik. Teori lain adalah teori
neurokimiawi yang memusatkan perhatian pada perubahan neurotrasmiter dan
second messenger .Hampir semua pada sistem neurotrasmiter dipengaruhi oleh
ECT. Akhir-akhir ini mulai berkembang neuroplastisitas yang berhubungan dengan
stimulasi kejang listrik.Pada percobaan hewan,di jumpai plastisitas sinaps,
dihipotalamus,yakni pertumbuhan serabut saraf, peningkatan konektifitas jaras
saraf, dan terjadinya neurogenesis

5. Tujuan Terapi ECT (Electro convulsive Therapy)


a) Mengembalikan fungsi mental klien.
b) Meningkatkan ADL klien secara periodik.

6. Indikasi penggunaan ECT (Electro convulsive Therapy)


1. Gangguan afek yang berat :
Pasien dengan depresi berat atau gangguan bipolar, atau depresi
menunjukkan respons yang baik pada pemberian ECT (80-90% membaik versus
70% atau lebih dengan antidepresan). Pasien dengan gejala vegetatif yang jelas
(seperti insomnia, konstipasi; riwayat bunuh diri, obsesi rasa bersalah, anoreksia,
penurunan berat badan, dan retardasi psikomotor) cukup bersespon.
2. Skizofrenia:
skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited memberikan
respons yang baik dengan ECT. Tetapi pada keadaan schizofrenia kronik hal
ini tidak terlalu berguna.

7. Kontraindikasi penggunaan ECT (Electro convulsive Therapy)

1. Tumor intrakranial karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

2. Kehamilan karena dapat mengakibatkan keguguran.

3. Osteoporosis karena dapat berakibat terjadinya fraktur tulang.

4. Infark mikardiom karena dapat terjadi henti jantung.

5. Asthma bronchiale karena dapat memperberat keadaan penyakit yang diderita.

6. Hipertensi berat

7. Hiperpireksia
8. Diatesa Haemoragic karena adanya kelainan perdarahan sehingga menyebabkan
perdarahan yang hebat.

9. Epilepsi

10. Ansietas berat.

8. Komplikasi penggunaan ECT (Electro convulsive Therapy)

1. Amnesia (retrograd dan anterograd) bervariasi dimulai setelah 3-4 terapi


berakhir 2-3 bulan (tetapi kadang-.kadang lebih lama dan lebih berat dengan
metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik yang
meningkat dan adanya organik sebelumnya.

2. Sakit kepala, mual, nyeri otot.

3. Kebingungan.

4. Reserpin dan ECT diberikan secara bersamaan akan berakibat fatal

5. Fraktur jarang terjadi dengan relaksasi otot yang baik.

6. Risiko anestesi pada ECT, atropin mernperburuk glaukom sudut sempit, kerja
Suksinilkolin diperlama pada .keadaan defisiensi hati dan bisa menyebabkan
hipotonia.

9. Keuntungan menggunakan ECT (Electro convulsive Therapy)

Efektifitas ECT dalam mengobati pasien dengan gangguan jiwa karena


adanya peningkatan sensitivitas reseptor terhadap neurotransmitter. ECT
meningkatkan pergantian dopamin, serotonin dan meningkatkan pelepasan
norepineprin dari neuron-neuron ke reseptor. ECT juga akan menstimulasi
pelepasan serotonin.

Pada depresi terjadi gangguan neurotrasmitter otak yaitu penurunan dopamin,


serotonin dan norepineprin. Dengan ECT penurunan tersebut dapat ditingkatkan,
sehingga pasien depresi dapat disembuhkan dengan pemberian ECT. ECT adalah
terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini sering
digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar
dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik. Pada penderita dengan
risiko bunuh diri, ECT menjadi sangat penting karena ECT akan menurunkan risiko
bunuh diri dan dengan ECT lama rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.

10. Kerugian menggunakan ECT (Electro convulsive Therapy)

Tidak ada kejelasan mengapa ECT bisa menghasilkan sikap yang negatif.
Salah satu faktor mungkin karena sikap fanatik kita, yaitu sikap jijik untuk
melakukan tindakan biologis tertentu. Kejang –kejang, seperti muntah adalah bukan
sesuatu suka kita tonton. Mungkin ada faktor evaluasi. Kejang-kejang dan muntah,
dapat mengindikasikan sebagai penyakit yang mungkin dapat menular. Masyarakat
secara genetis diprogramkan untuk takut dan menghindari situasi seperti itu. Kita
menghindari berdiskusi topik kejang-kejang karena beberapa orang yang
menderita epilepsy kurang setuju dengan terapi ECT.

ECT sebagai alat terapi orang yang mengalami gangguan jiwa karena
banyak efek samping yang ditimbulkan seperti yang Patah tulang vertebra,
Kehilangan memori dan kekacaun mental sememtara, Dislokalisasi sendi rahang,
Amnesia, Nyeri kepala, bahkan samapi kematian. Risiko yang ditimbulkan juga
cukup berbahaya seperti kerusakan otak, kematian dan kehilangan memori
permanen. Dari segi etik juga tidak etis memperlakukan manusia seperti hewan
percobaan walaupun dibilang cukup efektif untuk terapi gangguan kejiwaan tapi
sangat kurang etis, apalagi untuk budaya kita.
(http://www.ect.org/effects/testimony.html).

11. Frekuensi Tindakan ECT (Electro convulsive Therapy)

Frekuensi pemberian ECT tergantung pada keadaan penderita yang dapat di


perlakukan dengan cara sebagai berikut :

a) Pemberian ECT secara blok 2-4 hari berturut-turut 1-2 kali sehari.
b) Dua sampai tiga kali seminggu.
c) Pasien dengan gangguan depresi berat di berikan antara 5-10 kali.
d) Untuk pasien yang mengalami gangguan dipolar,mania,dengan gangguan
skizofrenia ,pasien baru mendapat respon yang maksimum setelah 20-25 kali
tindakan ECT.

12. Pemasangan Unilateral dan Belateral ECT (Electro convulsive Therapy)

Ada dua jenis penempatan elektroda yang digunakan untuk pengiriman


ECT . Perbedaan antara kedua teknik ini meliputi area otak dirangsang , waktu
respon dan potensi efek samping .

1. Unilateral kanan : satu elektroda ditempatkan pada mahkota kepala dan


yang lainnya di pelipis kanan . Mereka yang menerima perawatan unilateral
yang tepat dapat merespon agak lebih lambat daripada mereka yang
menerima perawatan bilateral . Perbedaan ini biasanya tidak lebih dari 1
sampai 2 perawatan . Pengobatan unilateral kanan biasanya terkait dengan
efek samping yang lebih sedikit memori . Pasien yang tidak merespon
pengobatan unilateral kanan mungkin memerlukan beralih ke penempatan
bilateral .

2. Bilateral : Pengobatan ECT bilateral melibatkan menempatkan elektroda


pada kedua candi . Perawatan ini mungkin berhubungan dengan lebih
banyak efek samping memori akut daripada pengobatan unilateral kanan .
Bilateral ECT diindikasikan untuk penyakit mental yang berat termasuk
depresi dengan psikosis , episode manik dari gangguan bipolar , psikosis
yang berhubungan dengan skizofrenia dan katatonia .

13. Prosedur pemasangan ECT (Electro convulsive Therapy)

ECT dilakukan dengan mengirimkan sinyal listrik ke otak yang


menyebabkan kejang sementara. Mesti terlihat menakutkan, tak perlu khawatir
karena sebelum menjalaninya pasien terlebih dahulu diberikan anestesi umum
untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh. Rangkaian terapi ECT biasanya
dilakukan 6-12 kali selama beberapa minggu.ECT dilakukan dengan mengalirkan
listrik melalui dua elektroda yang dilekatkan pada daerah temporal kepala. Sebelum
menjalani pengobatan, pasien diberikan anestesi umum dan menerima relaksasi otot
guna mencegah cedera. ( Media Hidup Sehat, 2010)

14. Pre, Pelaksanaan, dan Post-ECT


a. Pre-ECT

Perawat sebelum melakukan tindakan ECT, harus mempersiapkan alat


dan mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan
dilakukan.

a) Persiapan alat :
1. Konvulsator set (diatur inensitas dan timer)
2. Tounge spatel atau karet mentah di bungkus kain.
3. Kain kasa.
4. Cairan NaCL secukupnya.
5. Spuit disposibel.
6. Obat S A injeksi 1 ampul.
7. Tensimeter .
8. Stetoskop .
9. Slim suiger.
10. Set konvulsator.

b) Persiapa klien:
1. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur
tindakan yang akan dilakukan.
2. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi
adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT.
3. Siapkan surat persetujuan.
4. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT.
5. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang
mungkin di pakai klien.
6. Klien diminta untuk menggosongkan kandung kemih dan defekasi.
7. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam
sebelum ECT.
8. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-
hipnotik, dan antikonvulsan harus di hentikan sehari sebelumnya.
Litium biasanya di hentikan beberapa hari sebelumnya karena
berisiko organik.
9. Premidikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah
jam sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan
aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal.
1. Pelaksanaan ECT
a) Setelah alat sudah di siapkan, pindahkan klien ke tempat dengan
permukaan rata dan cukup keras.posisikan hiperektensi punggung tanpa
batal. Pakaian di kendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut,
kecuali bagian kepala.
b) Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini di
pakai untuk menghasilkan koma ringan.
c) Berikan pelemas otot suksinikolin atau anictine (30-80 mg IV) untuk
menghindari kemungkinan kejang umum.
d) Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat
elektrode menempel.
e) Kedua pelipis tempat elektrode menempel dilapisi dengan kasa yang
dibasahi cairan NaCL.
f) Klien diminta untuk membuka mulut dan memasang spatel/karet yang
dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta untuk menggigit.
g) Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang
dengan dilapisi kain.
h) Persendian (bahu, siku, pinggang, lutut) di tahan selama kejang dengan
mengikuti gerak kejang.
i) Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudian tekan tombol sampai
timer berhenti dan di lepas.
j) Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan
kejang (menahan tidak boleh dengan kuat).
k) Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan
diafragma.
l) Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger.
m) Kepala di miringkan.
n) Observasi sampai klien sadar.
o) Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan.

2. Post-ECT :
a) Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil.
b) Jaga keamanan.
c) Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai
kebutuhan,biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.

DAPUS

Chanpattana, Worrawat, 2007, ‘Electroconvulsive Therapy for


Schizophrenia’,CurrentPsychiatry Reviews, vol. 3, no. 1. pp.: 15-24,
journal article.
Yusuf, Ah.,Rizky Fitryasari.,PK Hanik Endang Nihayati.2015.”Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa ”.Halaman 289-292. Jakarta:Salemba
Medika.
BAB III
PANUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Chanpattana, Worrawat, 2007, ‘Electroconvulsive Therapy for
Schizophrenia’,CurrentPsychiatry Reviews, vol. 3, no. 1. pp.: 15-24,
journal article.
Yusuf, Ah.,Rizky Fitryasari.,PK Hanik Endang Nihayati.2015.”Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa ”.Halaman 289-292. Jakarta:Salemba
Medika.
Sop-restrain(1)pdf diunduh pukul 16.30 18 September 2017