Anda di halaman 1dari 36

BAB 1.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepercayaan diri adalah suatu tingkatan rasa sugesti tertentu yang

berkembang dalam diri seseorang sehingga merasa yakin dalam berbuat

sesuatu,dan menerima diri apa adanya, percaya diri merupakan salah satu

modal utama dalam melakukan aktivitas karena kurangnya kepercayaan diri

akan berdampak negatif terhadap kehidupan salah satunya adalah akan

menutup diri/mengasingkan diri.1

Salah satu faktor yang dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang

adalah masalah penampilan fisik menurut Anthony Faktor kondisi fisik

merupakan salaha satu penyebab utama rendahnya harga diri dan rasa percaya

diri.Seperti yang kita tahu bahwa masa remaja merupakan masa dimana terjadi

perubahan fisik yang cukup signifikan dimana menurut Hurlock menyatakan

bahwa masa remaja ditandai dengan perubahan fisik, sikap serta perilaku yang

sangat cepat. Ada beberapa macam perubahan yang umumnya dialami oleh

remaja yaitu meningginya emosi terjadinya perubahan fisik, minat, sikap, dan

1
peran yang harus dijalani pada remaja, sehingga para remaja sangat mudah

mengalami krisis kepercayaan diri jika menyangkut soal penampilan fisik. 2

Penampilan fisik yang dapat berubah dan dapat mempengaruhi masalah

kepercayaan diri pada remaja adalah masalah berat badan, hal ini dikarenakan

Anak remaja selalu membandingkan dirinya dengan gambar-gambar yang ada

direklame dan film-film yang banyak menampilkan figur wanita-wanita berbadan

langsing,sehingga Remaja jadi sangat peduli terhadap kondisi fisik atau

penampilannya dan akan terus menerus bereksperimen untuk mendapatkan citra

diri yang dirasa nyaman bagi mereka. Dengan demikian, adanya kecendrungan

menjadi gemuk atau mengalami obesitas dapat mengganggu dan menjadi sumber

keprihatinan dan ketidakpercayaan diri selama bertahun-tahun masa remaja.3

Menurut Dietz dan Brown terdapat tiga periode kritis dalam masa tumbuh

kembang anak dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu periode pranatal

,periode adiposityrebound yaitu usia6-7 tahun dan periode adolescent. Ada tiga

alasan mengapa remaja dikategorikan rentan; 1) Percepatan pertumbuhan dan

perkembangan tubuh memerlukan energy dan zat gizi yang lebih, sementara itu

ada kecenderungan alami resistensi insulin selama awal pubertas yang mungkin

merupakan kofaktor alami untuk peningkatan berat badan ; 2) perubahan gaya

hidup dan kebiasaan pangan; 3) tidak sedikit remaja dengan pola makan yang

tidak benar.3 Kejadian overweight dan obesitas menjadi masalah di seluruh

2
dunia karena prevalensinya yang meningkat pada orang dewasa dan anak, baik

di negara maju maupun negara berkembang. Di seluruh dunia, prevalensi

kegemukan telah mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat antara tahun

1980 hingga 2008.Pada tahun 2008, 10% pria dan 14% wanita di dunia

mengalami kegemukan tingkat berat dengan IMT ≥ 30 kg/m2, dibandingkan

dengan data penderita pada tahun 1980 yakni 5% untuk pria dan 8% untuk

wanita. Di negara berkembang, jumlah anak remaja dengan overweight

terbanyak berada di kawasan Asia, yaitu 60% populasi atau sekitar 10,6 juta

jiwa.4 Di Indonesia sendiri pada tahun 2008 ditemukan sekitar 19,1 persen

remaja yang mengalami obesitas.9

Penelitian Kim dan Lenon menemukan bahwa remaja yang memiliki

gambaran mental negatif mengenai kondisi fisiknya cenderung mengalami

depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang memiliki

gambaran mental positif terhadap kondisi fisiknya. Selain itu dari hasil

penelitian diAmerika, juga menyatakan bahwa remaja yang mengalami

obesitas akan dijauhi teman-teman, dan akan memiliki kecenderungan untuk

mengalami kepercayaan diri yang rendah dan rasa putus asa yang besar

sehingga remaja akan rentan terhadap berbagai masalah psikologik.1

3
Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin menggali dari sudut pandang

psikologis yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri pada remaja yang

mengalami obesitas. Permasalahan ini berkaitan dengan “apakahsemakin

beratatau semakin obesitas seorang remaja maka akan diikuti semakin rendah

tingkat kepercayaan diri mereka?”,berdasarkan hal tersebut peneliti

mengambil judul “hubungan tingkat kepercayaan diri dengan obesitas pada

siswa SMA Negeri 7 Manado, dikarenakan belum ada penelitian yang

dilakukan sebelumnya pada siswa SMA Negri 7 Manado yang mengalami

obesitas, dan tersedianya sampel yang cukup banyak pada lokasi penelitian.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah tingkat kepercayaan diri pada siswa yang mengalami

obesitas di SMA Negri 7 Manado

2. Apakah ada hubungan antara tingkat kepercayaan diri dengan obesitas

pada siswa SMA Negri 7 Manado

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Untuk melihat hubungan tingkat kepercayaan diri pada siswa yang

mengalami obesitas di SMA Negri 7 Manado

4
2. Tujuan khusus

a. Untuk mengukur tingkat kepercayaan diri pada siswa yang

mengalami obesitas di SMA Negri 7 Manado

b. Untuk mencari tahu apakah ada hubungan antara kepercayaan diri

dengan obesitas pada siswa SMA Negri 7 Manado

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan atau tambahan

yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu-ilmu terkait khususnya dalam

ilmu kedokteran psikologi serta bisa bermanfaat bagi kepentingan

penelitian selanjutnya

2. Manfaat aplikatif

Membantu memberikan informasi baru mengenai tingkat kepercayaan diri

pada siswa yang mengalami obesitas di SMA Negri 7 Manado

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. OBESITAS

a. Definisi obesitas

Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal

yang dapat mengganggu kesehatan. Menurut Myers, seseorang yang

dikatakan obesitas apabila terjadi pertambahan atau pembesaran sel lemak

tubuh mereka.4

b. Epidemiologi obesitas

Angka kejadian obesitas meningkat dengan pesat akibat pola hidup

tidak aktif. Energi dari aktivitas fisik sehari-hari yang digunakan

berkurang seiring globalisasi dan akibat dari kemajuan teknologi. Dengan

adanya fasilitas seperti transportasi bermotor, elevator, lift, pendingin

ruangan, dan pemanas ruangan sehingga energi untuk bergerak digunakan

lebih sedikit. Aktivitas fisik yang minimal pada waktu luang seperti

menonton televisi dan bermain video games pada anak-anak meningkatkan

angka kejadian obesitas. Obesitas dianggap sebagai salah satu faktor yang

dapat meningkatkan prevalensi hipertensi, intoleransi glukosa, dan

penyakit jantung koroner aterosklerotik pada pasien-pasien yang obese.

Berdasarkan data WHO, terdapat 1,6 miliar orang dewasa yang memiliki

6
berat badan berlebih (overweight) dan 400 juta diantaranya mengalami

obesitas atau kegemukan. Menurut data dari American Heart Association

(AHA) pada tahun 2011, terdapat 12 juta (16,3%) anak di Amerika yang

berumur 2-19 tahun sebagai penyandang obese. Sekitar satu pertiga

(32,9%) atau 72 juta orang dewasa warga negara Amerika Serikat adalah

obese. Sedangkan di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) pada tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada

penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% (laki-laki 13,9%, perempuan

23,8%). 4

c. Etiologi obesitas

Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki berat badan

berlebih atau obesitas. Diantaranya adalah:

1. Ketidakseimbangan antara asupan kalori dari makanan dengan penggunaan

kalori sebagai energi pada aktivitas fisik.

2. Lingkungan tempat tinggal dan tempat bekerja.

3. Faktor genetik.

4. Faktor lain seperti obat-obatan. Orang yang menggunakan steroid jangka

panjang akan mengalami penambahan berat badan. Pendapat yang sama juga

dikemukakan oleh beberapa ahli fisiologi, dimana salah satu faktor yang dapat

menyebabkan kegemukan adalah dikarenakan kurangnya olahraga. Faktor-

7
faktor lainnya adalah karena gangguan emosi dengan makan berlebihan yang

menggantikan rasa puas lainnya, pembentukan sel-sel lemak dalam jumlah

berlebihan akibat pemberian makan yang berlebihan pada saat usia anak-anak,

gangguan endokrin tertentu seperti hipotiroidisme, gangguan pusat pengatur

kenyak-selera makan (satiety-apetite centre) di hipotalamus dan kelezatan

makanan yang tersedia. Selain itu, Sherwood juga mengatakan bahwa,

makanan yang dimakan sebelum tidur lebih besar kemungkinannya akan

disimpan sebagai cadangan makanan atau biasa disebut glikogen. Dalam hal

ini, makanan yang dimakan sebelum tidur lebih menyebabkan seseorang

menjadi gemuk jika dibandingkan dengan makanan yang dimakan lebih awal.

d. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat

atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa,

khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.

Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi,

sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit

degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal

memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih

panjang. Untuk mengetahui nilai IMT, dapat dihitung dengan rumus berikut:

8
IMT = Berat Badan (Kg)

Tinggi Badan (m) 2

Menurut CDC (2011) dan WHO (2011) batas ambang untuk orang

dewasa yang dikatakan overweight, apabila memiliki IMT 25-29,9.

Sedangkan orang dewasa yang dikatakan obesitas apabila ia memiliki IMT

lebih dari atau sama dengan 30. Untuk menentukan berat badan normal, WHO

membagi batas ambang laki-laki berbeda dengan perempuan. IMT bernilai

20,1–25,0 adalah ambang batas berat badan normal untuk laki-laki dan 18,7-

23,8 untuk berat badan normal perempuan. Berdasarkan Pedoman Praktis

IMT yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia

(Depkes RI) tahun 1994, ambang batas yang digunakan di Indonesia, sedikit

berbeda dengan ambang batas yang digunakan di seluruh dunia. Ambang

batas yang digunakan berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian

dibeberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas

ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Klasifikasi IMT
Berat badan kurang <18,5
Kisaran normal 18,5-22,9
Berat badan lebih >23,0
Beresiko 23,0-24,9
Obese I 25,0-29,9
Obese II >30,0

Jika seseorang termasuk kategori :

9
1. IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat

badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.

2. IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan

berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.

Penting untuk diingat bahwa meskipun IMT berkorelasi dengan jumlah lemak

tubuh, IMT tidak secara langsung mengukur lemak tubuh. Pada beberapa

orang, seperti atlet, mungkin memiliki IMT yang tergolong sebagai kelebihan

berat badan meskipun mereka tidak memiliki tubuh yang kelebihan lemak. 4

B. REMAJA

a. Definisi Remaja

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan

manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa

kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik,

perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat

dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun

dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Menurut Soetjiningsih Masa remaja

merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat

terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai

dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda.5

b. Tahap – tahap Perkembangan Remaja

10
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap

perkembangan remaja: 5

a. Remaja awal (early adolescent)

Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-

perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan- dorongan

yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan

pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah

terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis

ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah

dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para remaja awal

ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.

b. Remaja madya (middle adolescent)

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau

banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu

mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama dengan

dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu

memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri,

optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja

pria harus membebaskan diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada

11
ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan

kawan-kawan.

c. Remaja akhir (late adolescent)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai

dengan pencapaian lima hal yaitu:

• Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.

• Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan

dalam pengalaman- pengalaman baru.

• Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

• Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti

dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.

• Tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan

masyarakat umum.

Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk

mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau

ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu:

a. Masa remaja awal (10-12 tahun)

• Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya.

12
• Tampak dan merasa ingin bebas.

• Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya

dan mulai berpikir yang khayal (abstrak).

b. Masa remaja tengah (13-15 tahun)

• Tampak dan ingin mencari identitas diri.

• Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.

• Timbul perasaan cinta yang mendalam.

c. Masa remaja akhir (16-19 tahun)

• Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.

• Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.

• Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya.

• Dapat mewujudkan perasaan cinta.

• Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.

c. Tugas –tugas Perkembangan Remaja

Terdapat perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya

meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai

13
kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugas-tugas

perkembangan masa remaja menurut Hurlock adalah sebagai berikut:

1) Mampu menerima keadaan fisiknya.

2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.

3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis.

4) Mencapai kemandirian emosional.

5) Mencapai kemandirian ekonomi.

6) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat

7) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan

orang tua.

8) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk

memasuki dunia dewasa.

9) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

10) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan

keluarga. 5

14
Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan

perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan

pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam

melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat

memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan, diperlukan

kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak diwarnai oleh

perkembangan kognitifnya

Kepercayaan diri

a. Pengertian self confidence

Self confidence adalah keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku

sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan dan keyakinan seseorang

bahwa dirinya dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan sesuatu

yang positif. Percaya diri menurut Braden dalam Walgito adalah

kepercayaan seseorang pada kemampuan yang ada dalam dirinya. Ciri-ciri

individu yang memiliki kepercayaan diri adalah mempunyai sikap yang

tenang dan seimbang dalam situasi sosialnya.6 Waterman mengatakan

orang yang mempuyai percaya diri adalah mereka yang mampu bekerja

efektif, dapat melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab serta

mempuyai rencana terhadap masa depan.7 Percaya diri menurut Santrock

merupakan dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri sendiri, dimana

15
remaja dapat mengerti bahwa siswa tidak hanya seseorang, tapi ia juga

seseorang yang baik.8 Menurut Loekmono, seseorang yang mempuyai rasa

percaya diri adalah seseorang yang merasa tenang dan dapat berfikir secara

cermat.9

b. Aspek-Aspek Self Confidence ( Percaya Diri )

Rasa Percaya diri seseorang dapat diketahui dari ciri-ciri utama yang

khas yang dimilikinya. Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa

seseorang atau individu itu mempuyai kapercayaan diri. Rasa percaya diri

dapat juga meningkat ketika remaja menghadapi masalah dan berusaha

untuk mengatasinya, bukan hanya menghindarinya. Beberapa ciri atau

karakteristik individu yang mempuyai percaya diri yang proposional,

diantaranya adalah:10

a. Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, hinggga tidak

menumbuhkan pujian, pengakuan, penerimaan atau rasa hormat

orang lain.

b. Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima

oleh orang lain atau kelompok.

c. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, berani

menjadi diri sendiri.

d. Punya pengendalian diri yang baik.

16
e. Mempuyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang

lain dan situasi di luar dirinya.

Seseorang individu yang memiliki kepercayaan diri akan memiliki

ciri-ciri seperti yang dikemukakan oleh Guilford dan Lauster sebagai

berikut :

1. Individu merasa kuat terhadap tindakan yang dilakukan. Hal ini didasari

oleh keyakinan terhadap kekuatan, kemampuan, dan ketrampilan yang

dimiliki. Ia merasa optimis, ambisius, bekerja

keras, tidak membutuhkan bantuan orang lain.

2. Individu merasa diterima oleh kelompoknya. Hal ini didasari oleh keyakinan

terhadap kemampuannya dalam berhubungan sosial.

3. Individu percaya sekali terhadap dirinya serta memiliki ketenangan sikap.

Hal ini didasari oleh keyakinan terhadap kekuatan dan

kemampuannya.Dari beberapa uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa

individu yang memiliki self confidence (percaya diri) memiliki ciri-ciri

tertentu yaitu cenderung untuk bersikap positif seperti halnya memiliki

keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya, mempuyai

17
pengendalian diri yang baik, dapat diterima oleh kelompoknya serta

memiliki harapan yang realistis terhadap dirinya sendiri.

c. Proses Pembentukan Self Confidence (Percaya Diri)

Percaya diri tidak muncul begitu saja pada diri seseorang, ada

proses tertentu di dalam pribadi seseorang sehingga terjadilah

pembentukan self confidence (percaya diri) secara garis besar,

terbentuknya self confidence (perca ya diri) yang kuat oleh Thursan

melalui proses sebagai berikut :11

a. Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai dengan

prosesperkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan tertentu.

b. Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yangdimilikinya

dan melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat segala sesuatu dengan

memanfaatkan kelebihannya.

c. Pemahaman reaksi positif seseorang terhadap kelemahan yang

dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri.

d. Pengalaman di dalam menjalani berbagai aspek kehidupan dengan

menggunakan segala kelebihan yang ada pada dirinya.

e. Kekurangan pada salah satu proses tersebut, kemungkinan besarakan

mengakibatkan seseorang akan mengalami hambatan untuk memperoleh

rasa percaya diri.

18
d. Membangun Self Confidence (Percaya Diri) Melalui Pendidikan

Sekolah

Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan yang paling berperan untuk

bisa mengembangkan self confidence (percaya diri). Self confidence

(percaya diri) siswa di sekolah bisa dibangun melalui berbagai macam

bentuk kegiatan sebagai berikut :12

a. Memupuk keberanian untuk bertanya.

b. Peran guru yang aktif bertanya pada siswa.

c. Melatih diskusi dan berdebat.

d. Bersaing dengan mencapai prestasi belajar.

e. Penerapan disiplin yang kosisten.

f. Memperluas pergaulan yang sehat.

e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Confidence (Percaya diri)

Salah satu aspek pribadi yang berpengaruh dalam membentuk

kepribadian seseorang adalah aspek kepercayaan diri. Setiap individu

sangat memerlukan kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang

dimilikinya, dan kepercayaan diri seseorang dipengaruhi oleh

beberapafaktor. Menurut Santock faktor -faktor yang mempengaruhi

kepercayaan diri adalah :13

a. Penampilan fisik

19
Seseorang yang memiliki anggota badan yang lengkap dan tidak memiliki

cacat/kelainan fisik tertentu akan cenderung memiliki rasa percaya diri

yang kuat dari pada seseorang yang mempuyai anggota tubuh yang

memiliki kelainan.

b. Penerimaan Sosial

Seseorang yang mendapatkan dukungan sosial dari teman sebaya secara

positif maka akan lebih percaya diri dalam melakukan sesuatu.

c. Faktor Orang Tua

Dukungan orang tua seperti rasa kasih sayang, penerimaan dan

memberikan kebebasan pada anak anaknya dengan batasan tertentu serta

keadaan keluarga yang baik sangat mempengaruhi pembentukan rasa

percaya diri seseorang.

d. Prestasi

Seseorang yang memiliki kecerdasan dan wawasan yang tinggi akan

menghasilkan suatu prestasi yang baik, hal itu juga bisa meningkatkan rasa

percaya diri seseorang.

C. HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN REMAJA YANG

OBESITAS

20
Obesitas merupakan masalah yang kompleks dengan penyebab yang

bersifat multifaktorial. Pada usia remaja, dan dewasa muda, obesitas dapat

mempengaruhi perkembangan psikososial seseorang. obesitas juga sering

dikaitkan dengan kematian dini,seperti penyakit jantung, hipertensi,

diabetes, dan stroke. obesitas biasanya lebih sering terjadi pada usia

remaja, pertambahan berat badan tersebut disebabkan oleh gangguan

endokrin yang mempengaruhi kondisi fisik remaja tersebut. biasanya

remaja yang mengalami obesitas akan berperawakan lebih pendek.

kebanyakan remaja yang mengalami obesitas dipicu oleh makan yang

terlalu banyak dan sedikit berolahraga. kondisi inilah yang dapat

menimbulkan perasaan dimana remaja yang mengalami obesitas merasa

dirinya berbeda atau dibedakan dari lingkungan sosial. remaja yang

mengalami obesitas akan labih rentan mengalami berbagai masalah

psikologis. dalam sebuah penelitian memperlihatkan bahwa remaja dengan

obesitas yang dijauhi oleh teman-temannya memiliki kecenderungan untuk

mengalami rasa putus asa yang besar, kurangnya kepercayaan diri dan

memilih menjadi pendiam dan terisolasi secara sosial. Seseorang yang

mengalami obesitas akan mudah merasa tersisih atau tersinggung. hal ini

akan lebih parah lagi apabila remaja dengan obesitas tersebut mengalami

kegagalan dalam pergaulan sehari-hari. seseorang dengan obesitas akan

21
cenderung dicap sebagai orang yang susah bergaul dan mudah tersinggung

dikarenakan kurangnya rasa kepercayaan diri pada remaja yang mengalami

obesitas.14

D. HIPOTESIS

H1 = Terdapat hubungan antara tingkat kepercayaan diri dengan obesitas

pada siswa SMA Negeri 7 Manado

H0 = Tidak adanya hubungan antara tingkat kepercayaan diri dengan

obesitas pada siswa SMA Negeri 7 Manado

22
E. KERANGKA TEORI

Asupan kalori Aktifitas fisik Lingkungan Faktor genetik

Obesitas IMT ≥25 kg/m2

IMT = BB (kg)

(TB)2
Remaja

15-20 thn

Faktor sosial Faktor fisik Faktor mental

Kepercayaan diri

23
F. KERANGKA KONSEP

KEPERCAYAAN DIRI :

1. Percaya akan
REMAJA YANG OBESITAS
kompetensi atau
USIA 15-20 TAHUN DENGAN IMT kemampuan diri
≥25.0 kg 2. Berani menerima
dan menghadapi
OBESITAS I : IMT = 25,0-29 kg/m2 penolakan orang
OBESITAS II : IMT = ≥30 kg/m2 lain
3. Punya
pengendalian diri
yang baik
4. Mempuyai cara
pandang yang
positif terhadap
diri sendiri

24
BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian korelasional dengan

rancangan cross sectional (potong lintang).

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

 Tempat penelitian

penelitian ini dilaksanakan di SMA Negri 7 Manado

 Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2015 – Desember 2015

C. POPULASI DAN SAMPEL

 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siwi SMA Negeri 7

manado dengan total jumlah siswa keseluruhan sebanyak 920, tetapi untuk

jumlah populasi yang obesitas belum diketahui

 Sampel

25
Sampel pada penelitian ini adalah murid SMA Negri 7 manado yang

mengalami obesitas dengan total sampel minimal sebanyak 40 orang

D. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI

 Kriteria inklusi :

Siswa-siswi kelas X sampai kelas XII SMA Negri 7 manado

Siswa-siswi SMA Negri 7 Manado dengan indeks masa tubuh (IMT)

≥25.0 kg/m2

Siswa-siswi yang Bersedia menjadi sampel penelitian dan mengisi

informed consent

 Kriteria eksklusi :

Siswa-siswi dengan indeks masa tubuh (IMT) ≤25.0 kg/m2

Tidak lengkap dalam pengisian kuisioner

Pindah sekolah saat dilakukan penelitian

E. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah :

Variabel bebas (X) : Obesitas

Variabel terikat (Y) : kepercayaan diri

F. DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN

26
 Obesitas

Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun

abnormal yang dapat mengganggu kesehatan,yang ditandai dengan IMT

≥25.0 kg/m2 Obesitas sendiri dibagi dalam dua kelompok yaitu obesitas I

yang ditandai dengan IMT 25,0-29 kg/m2 dan obesitas II yang ditandai

dengan IMT ≥30 kg/m2

Cara ukur : IMT = Berat Badan (Kg)

(Tinggi Badan)2 (m)2

Alat ukur : timbangan dan meteran berat badan

 Kepercayaan diri

percaya diri adalah tidak takut ataupun tidak malu atas segala

kondisi dalam melakukan sesuatu,sehingga dapat bebas melakukan sesuatu

dan tidak malu untuk tampil depan umum.

Alat ukur : kuisioner kepercayaan diri,yang diambil dari penelitian

sebelumnya yang telah diuji validitas dan reabilitasnya.17

G. INSTRUMEN PENELITIAN

Kuisioner/angket

27
Kuisioner/angket adalah teknik pengumpulan data melalui

formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

untuk mendapat jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan

oleh peneliti, kuisioner terdiri dari 48 buah pertanyaan yang terdiri dari 24

pertanyaan favourable dan 24 pertanyaan unfavourable

Pada penelitian ini peneliti menggunakan skala pengukuran

likert,dengan empat macam kategori jawaban yaitu :Sangat setuju

(SS),Setuju(S),Tidak setuju(TS),Sangat tidak setuju(STS). Skala likert

meniadakan kategori jawaban yang ditengah yaitu (R) berdasarkan tiga

alasan yaitu : kategori undecided itu mempunyai arti ganda,dapat diartikan

belum dapat memutuskan atau memberi jawaban (menurut konsep aslinya

dapat diartikan netrral,setuju,tidak setuju,atau bahkan ragu-ragu).

28
Skor skala likert

Jawaban skor favourable skor unfavourable

Selalu (S) 4 1

Sering (SR) 3 2

Kadang kadang (KD) 2 3

Tidak pernah (TP) 1 4

Skala yang digunakan yaitu skala kepercayaan diri,skala

kepercayaan diri bertujuan untuk mengetahui sejauh mana ciri-ciri

kepercayaan diri seseorang yang disusun menurut lautser dengan

komponen sebagai berikut :10

A. Percaya diri pada kemampuan sendiri

B. Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan

C. Memiliki rasa positif terhadap diri sendiri

D. Berani mengungkapkan pendapat

29
Indikator Skala Kepercayaan Diri

Variabel Indikator Indikator Perilaku Nomor Aitem Jumlah


F UF
Kepercayaan Percaya pada Keyakinan atas diri 1,3,5,7, 2,4,6,8, 12
diri kemampuan diri sendiri dalam 9,11 10,12
sendiri mengevaluasi dan
mengatasi masalah

Bertindak Dapat bertindak 13,15,17, 14,16,18, 12


mandiri dalam mandiri dalam 19,21,23 20,22,24
mengambil mengambil
keputusan keputusan, tanpa
bantuan orang lain

Mampu meyakini
tindakan yang
diambil

Memiliki rasa Memiliki penilaian 25,27,29, 26,28,30, 12


positif pada diri yang baik dari dalam 31,33,35 32,34,36
sendiri sendiri

Memiliki dorongan
berprestasi

Berani Mampu 37,39,41, 38,40,42, 12


mengungkapkan mengutarakan 43,45,47 44,46,48
pendapat sesuatu dalam diri
yang ingin
diungkapkan kepada
orang lain tanpa
adanya paksaan

Jumlah 24 24 48

30
H. CARA KERJA

1. Permohonan izin penelitian di SMA Negeri 7 manado.

2. Pemberian penjelasan kepada semua responden tentang latar belakang,

tujuan, manfaat, cara, dan waktu penelitian

3. Membagikan kuisioner kepada semua responden untuk mengisi

pertanyaan yang diajukan

4. Mengumpulkan data responden siswa yang mengalami obesitas yang

bersekolah di SMA Negeri 7 manado.

I. PENGUMPULAN DATA

 Data primer

menggunakan kuisioner yang berisi tentang identitas siswa-siswi

dan daftar pertanyaan tentang tingkat kepercayaan diri dan obesitas yang

dialami siswa-siswi

 Data sekunder

data dari pihak sekolah sehubungan dengan jumlah siswa-siswi di

sekolah

31
J. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dan dianalisis melalui tahap

sebagai berikut :

1. Pemeriksaan kembali (Editing)

Pemeriksaan kembali apakah data telah sesuai dengan harapan serta

memeriksa kelengkapan dan keseragaman data.

2. Pemrosesan atau entry data (processing)

Memasukkan data dari kuisioner ke dalam computer.

3. Pembersihan data (cleaning)

Pengecekkan kembali data yang telah dimasukkan,apabila ada kesalahan

atau tidak

4. Analisis data

Data yang berhasil dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan

bantuan program SPSS versi 2.0.untuk mengkategorikan kepercayaan diri

maka digunakan kategorisasi dengan mengacu pada mean dan standar

deviasi.

32
Sesuai dengan tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara

variabel X (obesitas) dengan variabel Y (kepercayaan diri),maka peneliti

menggunakan teknik analisis korelasi pearson product moment.

Nilai korelasi bervariasi dari -1melalui 0 hingga 1

Bila r = 0 atau r mendekati, berarti antara kedua variabel tidak terdapat

hubungan atau antara kedua variabel sangat lemah

Bila r = 1, berarti kedua variabel mempunyai hubungan positif dan

sempurna

Bila r = -1 berarti kedua variabel mempunyai hubungan negatif dan

sempurna

33
UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

a. Uji Validitas

Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang
terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Hasil
penelitian yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.
validitas adalah Derajat keetepatan/kelayakan instrumen yang digunakan untuk
mengukur apa yang akan diukur serta sejauh mana instrumen tersebut
menjalankan fungsi pengukurannya.

Cara yang dapat digunakan adalah dengan mengkorelasikan nilai pengukuran


dengan nilai total.apabila korelasi signifikan maka alat ukur tersebut dapat
dikatakan valid.

Rumus yang digunakan untuk menguji validitas instrumen ini adalah Product
Moment dari Karl Pearson, sebagai berikut:

Kemudian hasil dari rxy dikonsultasikan dengan harga kritis product moment (r
tabel), apabila hasil yang diperoleh rhitung > rtabel, maka instrumen tersebut
valid.

Dalam praktiknya untuk menguji validitas kuesioner sering menggunakan bantuan


software Microsoft Office Excel dan Statistical Product and Service Solution
(SPSS).
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas mengandung pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. Alat
ukur itu reliable, bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang
berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama. Jadi alat yang reliabel secara

34
konsisten memberi hasil ukuran yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan
rumus cronbach alpha sebagai berikut:

Apabila koefisien Cronbach Alpha (r11) ≥ 0,6 maka dapat dikatakan instrumen
tersebut reliabel

Sama halnya dengan Uji Validitas, Uji Reliabilitas juga dapat dilakukan dengan
bantuan software Microsoft Office Excel dan Statistical Product and Service
Solution (SPSS). Namun, memang lebih mudah dan praktis jika menggunakan
software SPSS.

35
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran umum Objek penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 7 Manado yang terletak di

Provinsi Sulawesi Utara,Kota Manado, Jl. Tololiu Supit No. 25. SMA Negeri 7

Manado merupakan SMA Negeri dan juga salah satu sekolah yang memiliki

banyak prestasi dengan siswa sebanyak 1.164 siswa dan 36 ruang kelas. Sekolah

ini berdekataan dengan pasar Karombasan dan Area Perbelanjaan.

B. Uji validitas dan Reliabilitas

Uji validitas

Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul
dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Hasil penelitian
yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. validitas
adalah Derajat keetepatan/kelayakan instrumen yang digunakan untuk mengukur
apa yang akan diukur serta sejauh mana instrumen tersebut menjalankan fungsi
pengukurannya.

Cara yang dapat digunakan adalah dengan mengkorelasikan nilai pengukuran


dengan nilai total.apabila korelasi signifikan maka alat ukur tersebut dapat
dikatakan valid.

36