Anda di halaman 1dari 24

Latar Belakang:

Manusia tidak akan pernah berhenti untuk berusaha meningkatkan kualitas hidupnya.
Kemajuan industri dan teknologi telah dapat meningkatkan kualitas lingkungan. Akan tetapi
di sisi lain, berdampak kepada lingkungan yang pada akhirnya berdampak pula terhadap
lingkungan. Semua kegiatan tidak boleh mengakibatkan terjadinya pencemaran atau
kerusakan lingkungan. Tetapi harus sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan lingkungan
hidup yang baik, yakni “Sebelum dan sesudah ada kegiatan tidak ada perubahan
terhadap keadaan lingkungan kecuali perubahan atau dampak yg bersifat positif”. Kegiatan
yang tidak menimbulkan dampak negatif disebut Environtment Zero Effect.
Untuk melihat indikator biologis, harus mengetahui daur pencemaran lingkungan,
apakah terjadi pencemaran atau tidak, maka harus diketahui keadaan lingkungan tersebut
sebelum ada kegiatan yang selanjutnya akan dipakai sebagai garis dasar. Apabila terjadi
perubahan (kenaikan) terhadap garis dasar (keadaan lingkungan sebelum ada kegiatan),
berarti lingkungan telah mengalami pencemaran.

Indikator biologis dapat ditentukan dari hewan / tanaman yang terletak pada daur
pencemaran lingkungan sebelum sampai kepada manusia. Maka pengambilan contoh
lingkungan, baik yang berasal dari hewan maupun tanaman, haruslah yang terletak pada jalur
yang menuju dan berakhir pada manusia. Indikator biologis dapat terjadi karena ada beberapa
organisme/bagian organisme berlaku sebagai biokonsentrasi logam/senyawa kimia.

Rumusan masalah:

1. Apa yang dimaksud dengan bioindikator?


2. Apa saja faktor-faktor pada bioindikator?

Tujuan:

1. Untuk mengetahui pengertian bioindikator


2. Untuk mengetahui faktor-faktor pada bioindikator
Pembahasan pertama

Bioindikator berasal dari dua kata yaitu bio dan indicator, bio artinya mahluk hidup
seperti hewan, tumbuhan dan mikroba. Sedangkan indicator artinya variable yang dapat
digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya
pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. jadi
bioindikator adalah komponen biotik (mahluk hidup) yang dijadikan sebagai indikator.
Bioindikator juga merupakan indikator biotis yang dapat menunjukkan waktu dan lokasi,
kondisi alam (bencana alam), serta perubahan kualitas lingkungan yang telah terjadi karena
aktifitas manusia.

Bioindikator dapat dibagi menjadi dua, yaitu bioindikator pasif dan bioindikator aktif.
Bioindikator pasif adalah suatu spesies organisme, penghuni asli di suatu habitat, yang
mampu menunjukkan adanya perubahan yang dapat diukur (misalnya perilaku,
kematian, morfologi) pada lingkungan yang berubah di biotop (detektor). Bioindikator aktif
adalah suatu spesies organisme yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap polutan, yang mana
spesies organisme ini umumnya diintroduksikan ke suatu habitat untuk mengetahui dan
memberi peringatan dini terjadinya polusi.

Pada hewan memiliki indera keenam dan dapat merasakan gejala suatu bencana.
Sebelum terjadinya suatu bencana, hewan akan cenderung bertingkah laku abnormal.
Therapy hewan yang normal sering digunakan untuk memprediksi bencana alam. Berikut
adalah contoh-contoh fenomena dan fakta tentang therapy normal hewan sebagai bioindikator
bencana, antara lain:

1. Hilangnya hewan peliharaan (anjing dan kucing) naik secara signifikan selama dua
minggu sebelum gempa di Loma Prieta, California Utara.
2. Sekitar 80% gempa di Jepang terjadi di tengah lautan. Hal ini menyebabkan terjadinya
therapy normal ikan. Spesies ikan yang biasa hidup di lautan dingin yang dalam, dapat
tertangkap oleh nelayan di pelatihan staf yang dangkal dan hangat beberapa saat
sebelum terjadinya gempa. Ikan memiliki sensitivitas tinggi, terhadap variasi medan
elektrik yang terjadi sebelum gempa. Sensitivitas seperti inisial memungkinkan
beberapa hewan untuk dapat mendeteksi gas radon yang dikeluarkan bahasa dari tanah
sebelum gempa.
3. Sebulan sebelum terjadinya gempa di kota Haicheng di Provinsi Liaoning Cina bulan
Februari 1975, banyak ditemukan therapy normal hewan ternak seperti sapi, babi,
kuda, dan anjing.
4. Tsunami besar yang melanda Sri lanka akhir 2004 lalu juga didahului therapy tak lazim
bahasa dari hewan-hewan. Kantor berita reuters melaporkan, Taman Nasional Yala di
Sri lanka telah dipenuhi mayat manusia, tetapi tidak satu pun ditemukan bangkai-
bangkai hewan. Hal nihil menunjukkan bahwa hewan-hewan telah terlebih dahulu
pergi menyelamatkan diri.
5. Sebelum terjadinya gempa bumi melanda yang Cianjur, Tasikmalaya, Garut, Sukabumi
tahun 2009, situs berita dalam negeri memberitakan bahwa hewan-hewan di Taman
Safari Indonesia (TSI), Bogor menunjukkan therapy terapi aneh. Dilaporkan, empat
puluh ekor gajah tampak histeris dan mengeluarkan lengkingan suara keras bahasa dari
belalainya.
Jenis-jenis bioindikator adalah sebagai berikut :

1. Bioindikator Hewan
Hewan makrozoobentos invertebrata merupakan hewan yang tidak bertulang belakang
yang dapat dilihat oleh mata biasa dengan ukuran lebih besar dari 200µm – 500µm.
Hewan ini hidup pada dasar kolam, danau, dan sungai untuk seluruh atau sebagian tahapan
hidupnya. Mereka dapat hidup pada batuan, ataupun bergerak bebas pada ruang antar
batuan, pada runtuhan bahan organik (Standard Methods, 1989). Dalam KBBI bentos
adalah organisme yang mendiami daerah dasar perairan.

Bentos merupakan organisme yang melekat di permukaan substrat dasar sungai


(Odum, 1993). Sedangkan makrozoobentos adalah bentos yang dapat terlihat dengan mata
biasa. Biasanya menempati ruang kecil antara batuan di dasar dalam runtuhan bahan
organik, di atas batang kayu dan tanaman air atau di dalam sedimen halus. Biasanya
berukuran lebih besar dari 1 mm. Makrozoobentos ini pada umumnya terdiri dari larva
Insecta, Crustacea, Mollusca, Oligochaeta, dan Arachnidae. Hewan-hewan ini secara terus
menerus terkena substansi yang diangkut oleh aliran sungai sehingga memiliki kisaran
toleransi yang berbeda-beda terhadap perubahan kondisi lingkungan. Hal ini menyebabkan
makrozoobentos sesuai untuk dijadikan indikator ekologi dari suatu perairan.

Makrozoobentos tersebut dapat dikuantifikasi dengan menentukan kekayaan spesies


(jumlah jenis hewan yang tercuplik dalam sampel), kelimpahan (jumlah total individu
dalam sampel), kelimpahan rata-rata (jumlah rata-rata satu jenis hewan terhadap jenis
yang lainnya), dan keanekaragaman spesies (distribusi total individu setiap jenis pada
sampel). Mudahnya kuantifikasi makrozoobentos tersebut menunjukkan bahwa
makrozoobentos memenuhi syarat sebagai bioindikator selain terpenuhinya syarat-syarat
yang lainnya (variasi genetis yang sedikit, mobilitas terbatas, dan mudah
pengindentifikasian masing-masing jenis).

Beberapa keuntungan penggunaan makrozoobentos adalah:

 Hewan-hewan ini terdapat di mana-mana sehingga dapat dipengaruhi oleh perubahan


kondisi lingkungan pada berbagai tipe perairan,
 Jenis dari makrozoobentos sangat banyak sehingga memungkinkan spektrum luas
dalam pengamatan terhadap respons stres di lingkungan,
 Hewan-hewan ini pergerakannya cenderung sedikit sehingga dapat dilakukan analisis
spasial yang efektif terhadap efek dari polutan,
 Siklus hidup yang panjang memungkinkan diuraikannya perubahan yang bersifat
sementara akibat gangguan yang terjadi.
Seperti yang telah disebutkan, hewan makrozoobentos dapat digunakan menjadi
indikator pencemaran dengan beberapa kategori. Beberapa hewan makrozoobentos ada
yang memiliki sifat hidup intoleran terhadap pencemaran yang terjadi, contohnya:
Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera. Beberapa jenis yang lain digolongkan fakultatif
yaitu dapat hidup pada lingkungan yang bersih sampai tercemar sedikit atau sedang,
contohnya: beberapa taxa dari Diptera, Odonata, Coleoptera, Pelecypoda. Sedangkan
beberapa jenis yang lain memiliki sifat hidup toleran terhadap berbagai pencemaran yang
terjadi pada habitatnya, contohnya: beberapa jenis Diptera, Hirudinae, Oligochaeta.

Berdasarkan Wilhm (1975) dan Basmi (1999) (Alma Sina, 2005), kepekaan jenis-jenis
makrozoobentos di sungai terhadap polusi bahan organik dapat dikelompokkan menjadi
tiga kategori, yaitu:

1. Kelompok intoleran

Kelompok makrozoobentos yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap berbagai


macam pencemaran. Berbagai faktor perubahan lingkungan dapat menyebabkan hilangnya
jenis-jenis dari kelompok ini. Jenis-jenis pada kelompok ini biasanya hidup pada lingkungan
akuatik (sungai) yang memiliki arus cukup deras (Mellanby, 1963). Lingkungan yang biasa
disukai adalah jeram yang suhunya cukup dingin. Selain itu terdapat hubungan yang baik
antara alkalinitas, konduktivitas, total solid yang terlarut ammonia-nitrogen dan nutrat-
nitrogen dengan jumlah larva. Larva pada ordo Trichoptera umumnya tidak terlalu toleran
atau sensitf terhadap pencemaran organik ringan tapi dapat digunakan sebagai indicator
perairan yang bersih. Namun pada jenis-jenis dari Ephemeroptera dan Plecoptera sangat
sensitif terhadap pencemaran organik. Terhadap pencemaran, seperti pencemaran yang
berasal dari industri tekstil atau penyamakan kulit, jenis-jenis pada kelompok ini sangat
sensitif.

Setiap ordo pada kelompok intoleran ini memiliki ciri habitat yang berbeda-beda.
Bahkan famili pada masing-masing ordo memiliki preferensi kualitas lingkungan tempat
hidupnya. Hal ini menyebabkan jenis dari kelompok ini dikategorikan. Hal ini menyebabkan
jenis dari kelompok ini dikategorikan memiliki relung atau niche yang kecil.

1. Ordo Ephemeroptera (Mayfly)


Ordo ini akan mencapai kelimpahan yang tinggi jika berada pada lingkungan yang cenderung
dingin, berarus sedang sampai deras serta berbatu. Pada beberapa famili dari ordo ini bersifat
burrowers atau penggali pada sedimen halus dari sungai yang berada di atas bebatuan.
Spesies Baetis sp. dari famili Baetidae merupakan jenis yang paling toleran dari ordo ini
untuk pencemaran yang ringan. Hewan ini memerlukan banyak oksigen.

Ordo ini merupakan serangga terestrial pada masa dewasanya, tetapi pada tahap nimpha, ordo
ini merupakan hewan akuatik sehingga biasa digunakan sebagai bioindikator perairan.
Beberapa jenis hidup di perairan tenang (lentik) dan yang lainnya hidup di perairan deras
(lotik). Nimpha dewasa menunjukkan morfologi yang beragam sebagai bentuk adaptasi
terhadap habitatnya masing-masing. Waktu hidup nimphanya bisa beberapa tahun sedangkan
yang sudah dewasa hanya bertahan tiga hari.

Secara umum, morfologi dari nimpha dewasa memiliki ciri tubuh yang memanjang, bagian
kepala yang besar, bagian mandibula pada mulut yang berkembang dengan baik, kaki yang
kuat, antena filiform (berbentuk seperti jarum) dan mata majemuk yang besar. Bagian
abdomen atau perut terdiri dari 10 segmen dan memiliki insang trakeal pada permukaan
dorsal (punggung) atau lateral (perut) di bagian tersebut. Biasanya pada ujung abdomen
terdapat dua atau tiga filament ekor (filamen kaudal) yang berjumbai dan bersegmen
(Pennak, 1978)
Gambar spesies dari Ordo Ephemeroptera (Tabrani. 2017)

Berdasarkan Mackie (2001), hewan pada ordo Ephemeroptera lebih menyukai kondisi
lingkungan yang memiliki pH dengan kisaran netral. Sedangkan berdasarkan Roback (1974
dalam Hart dan Fuller, 1974) setiap famili pada ordo ini memiliki preferensi lingkungan
hidupnya masing-masing, hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

a. Famili Baetidae
Famili ini memiliki sifat makan yang tergolong scraper atau tipe hewan yang memakan
organisme yang menempel pada substrat perairan atau yang disebut perifiton. Biasanya
hewan pada golongan ini akan menurun kelimpahannya jika terdapat sedimentasi serta polusi
organik.

Ciri lingkungan tempat hidup famili ini adalah:

1. pH berkisar 5,6 – 8,5


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 4 – 14 ppm
3. amonium antara < 0,01 – 5,00 ppm
4. nitrat antara 0,03 – 15,4 ppm
5. fosfat antara <0,01 – 0,62 ppm
6. nilai BOD 0,3 – 15,4 ppm
7. kekeruhan pada 3 – >72000 ppm

b. Famili Ephemerellidae
Famili ini memiliki sifat makan yang sama dengan famili Baetidae yaitu scraper. Ciri
lingkungan tempat hidup famili ini adalah:

1. pH berkisar 6,6 – 8,4


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 4 – 11 ppm
3. amonium antara <0,01 – 0,05 ppm
4. nitrat antara 0,12 – 2,3 ppm
5. fosfat antara <0,01 – 0,05 ppm
6. nilai BOD 0,5 – 4,1 ppm
7. kekeruhan pada 10 – 120 ppm

c. Famili Leptophlebiidae
Famili ini memiliki sifat makan yang tergolong shredder atau tipe hewan yang memakan
tumbuhan baik yang masih hidup maupun sisa tumbuhan yang sudah mati atau materi
organik yang kasar. Biasanya hewan pada golongan ini sensitif pada perubahan vegetasi.
Hewan pada kelompok makan ini sangat baik untuk digunakan sebagai indikator toksikan
yang menempel pada materi organik.

Ciri lingkungan hidup famili ini adalah:

1. pH berkisar 5,4 – 8,5


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 2 – 14 ppm
3. amonium antara < 0,01 – 0,97 ppm
4. nitrat antara 0,21 – 0,50 ppm
5. fosfat antara < 0, 01 – 0,12 ppm
6. nilai BOD 0,4 – 2,5 ppm
7. kekeruhan pada 7 – 140 ppm

d. Famili Caenidae
Famili ini memiliki sifat makan yang sama dengan Baetidae tergolong scraper atau tipe
hewan yang memakan organisme yang menempel pada substrat perairan atau yang disebut
perifiton. Biasanya hewan pada golongan ini akan menurun kelimpahannya jika terdapat
sedimentasi serta polusi organik. Ciri lingkungan tempat hidup famili ini adalah:

1. pH berkisar 5,5 – 8,5


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 2 – 14 ppm
3. amonium antara < 0,01 – 0,34 ppm
4. nitrat antara 0,03 – 1,18 ppm
5. fosfat antara < 0,01 – 0,87 ppm
6. nilai BOD 0,4 – 7,5 ppm
7. kekeruhan pada 3 – >72000 ppm
2. Ordo Trichoptera (Caddisfly)
Ordo ini merupakan salah satu ordo serangga yang bermetamorfosis sempurna. Tahapan larva
dari ordo ini termasuk ke dalam hewan makrobentos dan biasa dijadikan bioindikator
perairan. Larva dan pupa berada di daerah akuatik. Sebagian besar larva dari ordo ini
membangun sarang, baik yang dapat dipindahkan maupun tidak. Biasanya sarang tersebut
dibuat dari kerikil kecil, butiran pasir, debris, tumbuhan, alga dan lainnya. Selain itu,
beberapa famili membangun jaring di depan sarangnya untuk menangkap debris, sebagai
makanannya, yang hanyut oleh air.

Secara umum larva ordo ini memiliki bagian kepala dan dada yang tersklerotisasai (terbuat
dari zat tanduk) dan berwarna gelap. Ketiga bagian dada terpisah satu dengan yang lainnya.
Bagian abdomen biasanya lembut dan berwarna hijau, coklat, abu-abu, krem atau keputih-
putihan. Pada bagian kepala terdapat sepasang antena yang sangat kecil, mulut termasuk ke
dalam tipe pengunyah dan memiliki dua ocelli (mata tunggal) berwarna hitam. Kaki
prothorax biasanya kuat dan kecil, berfungsi untuk memegang makanan tetapi tidak
digunakan untuk pergerakan. Pada bagian ujung tubuh terdapat sepasang proleg yang
berbentuk kait sehingga larva dapat mengaitkan diri pada sarang atau substrat hidupnya. Pada
bagian samping tubuh terdapat garis samping tubuh dan memiliki jumbai rambut pada setiap
sisi beberapa segmen abdomen bagian atas (Pennak, 1978).

Gambar Ordo Trichoptera (Politeknik Pertanian Negeri Kupang. 2018)

3. Ordo Plecoptera (Stonefly)


Ordo nimpha Plecoptera merupakan hewan akuatik. Metamorfosis yang terjadi tidak lengkap.
Nimpha ordo ini memiliki antena yang panjang berbentuk filiform, bentuk mulut yang
termasuk tipe pengunyah, insang trakea yang berfilamen (berlembar-lembar), bagian
abdomen yang memiliki 10 segmen, berwarna kuning atau coklat atau kehitam-hitaman,
biasanya hidup di bawah batu pada perairan deras/lotik.

Gambar Ordo Plecoptera (Hanafi. 2012)

Menurut Roback (1974), secara umum hewan-hewan pada ordo ini memiliki kisaran toleransi
kimiawi yang menjadi faktor pembatas untuk bertahan hidup, antara lain sebagai berikut:
1. pH berkisar antara 5,5 – 8,8
2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 5 – 14 ppm
3. amonium antara < 0,01 – 5,0 ppm
4. nitrat antara 0,06 – 1,10 ppm
5. fosfat antara < 0,01 – 0,48 ppm
6. nilai BOD 0,4 – 2,8
7. kekeruhan pada 3 – >72000 ppm
Beberapa famili dari ordo ini termasuk kelompok cara makan collector-filterer yaitu
kelompok hewan yang mendapatkan makanan dari mengumpulkan bahan organik yang
terbawa oleh arus (Pennak, 1978). Namun beberapa famili yang termasuk dalam kelompok
karnivorus.

2. Kelompok fakultatif
Hewan pada kelompok ini memiliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan
hidupnya. Biasanya hewan dari kelompok ini dapat hidup pada daerah yang bersih sampai
tercemar sedang, baik oleh polutan organik maupun anorganik. Hewan pada kelompok ini
lebih menyukai tempat hidup yang dangkal di perairan. Untuk hewan dari kelas Insekta, lebih
menyukai tempat yang berarus sedang sampai deras, sedangkan dari kelas Pelecypoda lebih
menyukai daerah yang berarus lambat sampai perairan yang tenang.
Hewan dari kelas Insekta pada kelompok ini merupakan jenis karnivora sehingga
tempat hidupnya akan mengikuti daerah yang terdapat banyak mangsa dan mudah untuk
ditangkap. Sedangkan, pada kelas Pelecypoda lebih menyukai daerah yang berlumpur karena
terdapat makanan yang lebih banyak. Berdasarkan Streamkeepers Database (2000) famili
Tipulidae dan Rhagionidae dari ordo Diptera termasuk dalam kategori hewan fakultatif
terhadap pencemaran. Ordo Diptera biasanya dikenal sebagai lalat, nyamuk, dan serangga
kecil (flies, mosquitos, midges).

Ciri khas morfologi dari ordo ini adalah tubuh yang berbentuk menyerupai thorax dan
sembilan segmen abdomen, tubuh yang lembut dan fleksibel, berwarna putih, abu-abu,
kuning, kemerahan, coklat, dan hitam. Permukaan segmen badan dapat ditutupi oleh rambut
atau duri, atau dapat pula halus tanpa rambut. Antena jarang yang menonjol keluar. Pada
beberapa famili terdapat kaki yang pendek dan kecil. Tipe mulut pada ordo ini sangat
beragam tergantung pada kebiasaan makannya.

Menurut Roback (1974) (dalam Alma Sina, 2005), kedua famili ini memiliki preferensi
kondisi lingkungan tempat hidupnya, yaitu sebagai berikut:

1. Famili Tipulidae
Famili ini termasuk pada kelompok cara makan collector-filterer yaitu kelompok hewan yang
mendapatkan makanan dari mengumpulkan bahan organik yang terbawa oleh arus (Pennak,
1978). Kondisi habitat famili ini adalah:

1. pH berkisar antara 4,4 – 8,4


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 8 – 11 ppm
3. amonium antara 0,02 – 0,35 ppm
4. nitrat antara 0,12 – 2,30 ppm
5. fosfat antara 0,02 – 0,56 ppm
6. nilai BOD 0,2 – 4,4
7. kekeruhan pada 2 – 24 ppm

2. Famili Rhagionidae
Kondisi habitat ini adalah:

1. pH berkisar antara 6,3 – 8,2


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 8 – 9 ppm
3. amonium antara 0,01 – 5,0 ppm
4. nitrat antara 0,4 – 0,9 ppm
5. fosfat antara < 0,01 – 0,72 ppm
6. nilai BOD 0,6 – 2,8
7. kekeruhan pada 5 – 36 ppm

3. Kelompok toleran
Kelompok ini merupakan kelompok yang dapat hidup pada daerah yang tercemar berat,
walaupun ada beberapa jenis yang dapat hidup di daerah yang tercemar sedang. Sebagian
jenis dari kelompok ini merupakan karnivora, sedangkan yang lainnya memakan materi
organik dari lingkungan hidupnya. Hewan dari famili Hirudinae (lintah) merupakan jewan
predator dan pemakan sisa mahluk hidup yang telah mati. Hewan dari famili ini menyukai
daerah yang hangat, arus yang tidak terlalu deras, dapat hidup pada daerah yang bersifat
asam, dan yang menjadi faktor pembatas untuk distribusinya adalah rendah. Sedangkan
hewan dari kelas Gastropoda lebih menyukai daerah yang berarus tenang dan tercemar parah.

1. Subfamili Tanypodinae, famili Chironomidae, ordo Diptera


Hewan yang berasal dari kelas Insekta pada kelompok ini merupakan subfamili dari
famili Chironomidae yang termasuk ke dalam ordo Diptera. Ordo Diptera memiliki ciri khas
morfologi tersendiri dari famili Chironomidae adalah tubuh larva memanjang dan berbentuk
silindris, memiliki sepasang proleg pada segmen thorax pertama dan segmen abdomen
terakhir, terdapat insang anal pada permukaan lantroventral, berwarna putih, kekuningan,
kehijauan, kebiruan, kemerahmudaan, atau merah tua. Hewan ini memiliki kondisi habitat
sebagai berikut:

1. pH berkisar antara 4,4 – 8,8


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 3 – 14 ppm
3. amonium antara < 0,01 – 1, 10 ppm
4. nitrat antara 0,05 – 1,3 ppm
5. fosfat antara < 0,01 – 0,87 ppm
6. nilai BOD 0,2 – 4,4 ppm
7. kekeruhan pada 2 – > 72000 ppm

2. Famili Simuliidae, ordo Diptera


Simulidae merupakan salah satu famili yang berada pada ordo Diptera dari kelas Insekta. Ciri
khas morfologi famili ini adalah berwarna abu-abu, coklat, atau hitam, berbentuk silindris,
berkulit halus, pada prothorax terdapat proleg yang kuat dengan kait kecil, pada bagian akhir
tubuh terdapat piringan datar, terdapat insang darah yang rektratil pada anus. Sebagai
tambahan, pada daerah yang biasanya merupakan tempat duduk mulut, terdapat dua struktur
prominen yang berbentuk seperti kipas. Kondisi habitat famili ini adalah:

1. pH berkisar 7,2 – 8,2


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 8 – 9 ppm
3. amonium antara 0,01 – 5,0 ppm
4. nitrat antara 0,4 – 0,9 ppm
5. fosfat antara < 0,01 – 0,72 ppm
6. nilai BOD 0,6 – 2,8
7. kekeruhan pada 5 – 36 ppm

3. Kelas Hirudinae
Hirudinae merupakan salah satu kelas dari filum Annelida. Hirudinae atau yang lebih
dikenal sebagai lintah merupakan hewan dorsoventral yang memiliki penghisap pada bagian
ventral tubuhnya. Bagian mulut dari kelas ini dikelilingi oleh penghisap oral yang berukuran
besar atau kecil menghadap ke arah ventral. Penghisap bagian ekor biasanya menghadap
ventral, sedangkan anus berada pada bagian dorsal dan di depan penghisap. Tubuh Hirudinae
biasanya memiliki otot yang kuat dan kelas ini dapat bergerak dengan bebas.

Hirudinae merupakan hewan yang dikenal sebagai hewan yang parasit pada mahluk hidup.
Beberapa famili dari Hirudinae memakai larva Insekta yang ada di perairan sebagai tempat
hidupnya. Tempat hidup yang disukai oleh Hirudinae merupakan perairan tawar sebagai
tempat hidupnya. Tempat hidup yang disukai Hirudinae merupakan perairan yang memiliki
substrat dasar yang keras untuk memudahkan pergerakannya. Biasanya Hirudinae menyukai
habitat yang berarus antara 10 – 30 cm/detik. Hirudinae memiliki toleransi yang tidak biasa
terhadap DDT jika dibandingkan dengan beberpa jenis nyamuk dan lalat rumahan. LC50 dari
DDT pada beberapa jenis Hirudinae menunjukkan bahwa Hirudinae memiliki toleransi yang
cutup tinggi terhadap jenis pestisida ini. Kehadiran Hirudinae dapat diasosiasikan denganb
uruknya kondisi lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena Hirudinae merupakan
parasit pada hewan-hewan yang telah diasosiasikan secara langsung dengan pencemaran pada
lingkungan seperti Oligochaeta, larva Insekta, dan Crustacea kecil. Kondisi habitat yang
disukai Hirudinae adalah:

1. pH berkisar antara 7,0 – 7,5


2. kadar oksigen terlarut berkisar antara 5,0 – 11,5 ppm
3. amonium antara 0,01 – 5,0 ppm
4. nitrat antara 0,4 – 0,9 ppm
5. fosfat antara 0,1 – 0,6 ppm
6. nilai BOD 0,6 – 2,8
7. kekeruhan pada 5 – 36 ppm

4. Kelas Gastropoda (Siput)


Gastropoda atau lebih dikenal sebagai siput air ini merupakan salah satu makrozoobentos
yang terdapat di berbagai perairan. Kelas ini memiliki variasi yang beragam pada perairan
tawar dengan cangkangnya yang beragam dari bentuk yang spiral sampai yang berbentuk
piringan. Dalam pengindentifikasiannya, Gastropoda biasa dibedakan dari jenis cangkangnya.
Biasanya siput perairan air tawar memiliki warna yang gelap yaitu abu-abu, coklat, dan
kehitaman. Permukaan cangkang terlihat halus tetapi jika diperhatikan lebih jauh terdapat
garis pertumbuhan yang longitudinal. Selain itu kelas ini dibedakan pula dari bentuk bukaan
cangkangnya.

Gastropoda biasanya mengkonsumsi algae serta debris tumbuhan maupun hewan pada
permukaan batu atau tumbuhan tempat tinggalnya. Gastropoda terbagi menjadi dua kelompok
yaitu prosobranchia (Gastropoda yang berinsang) dan pulmonata (Gastropoda berparu-paru).
Pada Prosobranchia, sensitivitas terhadap oksigen yang terlarut sangat tinggi sehingga
kelompok ini tidak dapat hidup pada daerah yang kurang kadar oksigen terlarutnya dan
tercemar organik. Sedangkan pada Pulmonata, karena organ pernafasannya berupa paru-paru
maka kelompok ini tidak bergantung pada kadar oksigen terlarut dalam air, mereka naik ke
permukaan untuk mengambil oksigen yang diperlukan. Banyak jenis pada kelompok
Pulmonata yang memiliki habitat di tempat yang tercemar berat.

Kondisi habitat yang disukai oleh Gastropoda adalah berada pada pH dengan kisaran antara
6,7 – 9,0 serta kadar oksigen terlarut antara 0,5 – 14 ppm. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa Gastropoda dapat bertahan hidup pada daerah yang tercemar berat dan bahan-bahan
pencemar tersebut, seperti logam berat, pestisida, radioaktif, terkonsentrasi pada organ serta
cangkang Gastropoda.

Gambar Kelas Gastropoda (Prasetya. 2010)

2. Bioindikator Tumbuhan

Tumbuhan, sifat-sifatnya merupakan pencerminan yang ada di dalam tumbuhan itu


(hereditas), tetapi selain itu pertumbuhannya juga dipengaruhi lingkungan. Jadi fenotipe yang
terjadi merupakan paduan dari hereditas dan lingkungan itu. Tumbuhan dapat hidup dengan
baik di lingkungan yang menguntungkan. Suatu tumbuhan atau komunitas tumbuhan dapat
berperan sebagai pengukur kondisi lingkungan tempat tumbuhnya, disebut indikator
biologi atau bioindikator atau fitoindikator. Atau dengan istilah lain tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai indikator kekhasan habitat tertentu disebut tumbuhan indikator.
Banyaknya tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai indikator suatu lingkungan. Dalam suatu
komunitas tumbuhan beberapa diantaranya dominan dengan jumlah yang melimpah.
Tumbuhan semacam ini merupakan indikator yang penting karena mereka sudah sangat erat
hubungan dengan habitatnya. Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa komunitas atau
setidak-tidaknya kebanyakan tumbuhan merupakan indikator yang lebih baik daripada
tumbuhan yang tumbuh secara individual.

Tanaman dapat berfungsi sebagai indikator kondisi lingkungan. Tanaman bereaksi


terhadap kondisi tanah maupun kondisi cuaca. Banyak tumbuhan yang dapat dijadikan
sebagai indikator suatu lingkungan. Beberapa jenis tumbuhan yang dapat dijadikan indikator
pencemaran lingkungan, antara lain sebagai berikut:

1. Lamun sebagai Bioindikator Timbal (Pb)


Kerusakan lingkungan akibat industrialisasi, diakibatkan oleh limbah yang umumnya
mengandung bahan-bahan berbahaya bagi kehidupan, di antaranya adalah unsur logam berat.
Salah satu unsur logam berat tersebut adalah timbal (Pb), yang menunjukkan beracun pada
sistem syaraf, mempengaruhi kerja ginjal dan menyebabkan kelumpuhan. Tumbuhan Lamun
dapat digunakan sebagai bioindikator logam berat Pb di wilayah pesisir, di mana kandungan
logam Pb adalah sebesar (biomass lamun/m2 x kandungan Pb mg/kg)/1000 dengan
mangakumulasi dari sedimen. Selain itu bagian daun lamun dapat berfungsi sebagai
bioakumulator terakhir sehingga dapat digunakan untuk menentukan sebaran kandungan
logam berat Pb dalam suatu perairan besar. Lamun juga dapat digunakan untuk membantu
mengurangi toksisitas logam berat Pb.

a. Bunga Terompet Biru


Bunga terompet biru yang berwarna ungu kebiruan ini termasuk dalam famili
Solanaceae (terong-terongan). Bunga ini berbentuk seperti terompet, berwarna ungu
kebiruan, buahnya yang kering jika dikenai air selama beberapa detik akan pecah/meledak
seperti petasan namun tidaklah berbahaya karena ukurannya kecil (1cm-2,5 cm). Bunga ini
digunakan sebagai indikator untuk mengukur asam basa.

b. Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)


Bunga sepatu memang sudah dikenal dapat digunakan sebagai indikator asam basa.
Bunga sepatu atau nama ilmiahnya Hibiscus rosa-sinensis termasuk dalam famili Malvaceae
atau kapas-kapasan bermanfaat sebagai tanaman hias, bahan campuran kosmetik (sabun), dan
sebagai indikator. Bunga sepatu ini memiliki banyak varietas warna dan bentuk. Namun
biasanya yang digunakan untuk indikator adalah yang berwana merah. Bunga ini digunakan
sebagai indikator asam-basa.

c. Bunga Suring
Tanaman yang daunnya di beberapa daerah seperti Puworejo, Kebumen, Pati, dsb ini
dijadikan sayuran lezat, ternyata bunganya pun bermanfaat sebagi indikator asam basa.
Tanaman ini masih berkerabat jauh dengan bunga matahari dan bunga krisan yang termasuk
famili Compositae. Bunga suring pun memiliki beberapa varietas dan jenis yang bermacam-
macam, ada yang bunganya berwarna kuning, oranye, dan pink keunguan. Namun yang kami
gunakan untuk indikator adalah yang berwarna oranye.
d. Bunga Terompet Ungu
Bunga ini sekilas mirip dengan bunga terompet biru. Namun jika lebih diperhatikan,
warnanya lebih ungu daripada bunga terompet biru. Apalagi jika kita melihat bentuk
tanamannya, baik batang maupun daunnya sangat berbeda. Jika bunga terompet biru daunnya
membulat ujungnya, maka daun bunga terompet ungu ini berbentuk oval dengan ujung daun
meruncing, bunga terompet biru batangnya tidak terlalu tinggi sedangkan bunga terompet
ungu batangnya tinggi. Tetapi bunga ini masih termasuk famili Solanaceae.

e. Bunga Canna sanseviera


Bunga yang sering kita jumpai di tepi-tepi jalan sebagai penghias tepi jalan ini dapat
pula dijadikan indikator asam basa. Bunga yang berwarna merah ini termasuk dalam famili
Cannae atau tasbih-tasbihan.

f. Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa L)


Bunga yang termasuk dalam famili Nyctaginaceae ini termasuk tanaman multifungsi.
Manfaatnya yaitu sebagai obat tradisional, terutama batang, akar, daun, dan bijinya. Akan
tetapi kami menemukan manfaat lain dari tanaman ini, yaitu bunganya dapat dijadikan
indikator asam basa.

g. Bunga Pacar Cina


Bunga ini biasa kita temui di pinggir-pinggir kebun, tepi jalan, atau di depan rumah
kita. Tanaman ini bunganya berbentuk seperti bunga anggrek, warnanya bermacam-macam;
ada yang oranye, merah, ungu, pink, putih, dll. Daunnya biasa dijadikan cat kuku dengan cara
ditumbuk lalu dibubuhkan pada kuku. Buahnya berbentuk oval dan berisi biji-biji kecil yang
coklat bila sudah tua. Tanaman ini termasuk dalam famili Balsaminaceae. Bagian tumbuhan
yang digunakan sebagai indikator adalah daunnya karena bunganya tidak dapat digunakan.

h. Acanthus icilifliu
Digunakan untuk mengetahui habitat saline Tumbuhan ini tumbuh dan tahan dalam
habitat dengan kandungan garam tinggi Kegaraman tanah antara lain oleh NaCl, CaSO4,
NaCO3, KCl.
i. Astragalus rocemosus
Digunakan sebagai indikator logam berat Kebanyakan tumbuhan sensitif terhadap
logam berat Sebagian besar logam berat ini merupakan deposit di dinding sel-sel perakaran
dan daun.

j. Lumut Kerak (lichen)


Lichen dapat digunakan sebagai indikator polusi udara alami dengan cara
membandingkan jumlah tumbuhan lumut kerak (Lichen) yang terdapat pada batang
pepohonan di suatu derah. Semakin sedikit tumbuhan lumut kerak (Lichen) yang tumbuh
pada pepohonan di suatu lingkungan, maka tingkat polusi di lingkungan tersebut tinggi.
Begitu pula sebaliknya, semakin banyak tumbuhan lumut kerak (Lichen) yang tumbuh, maka
tingkat polusi si lingkungan tersebut rendah. Polusi udara mengakibatkan kondisi suhu udara
di lingkungan menjadi meningkat, serta tanah dan tumbuhan dilingkungan yang terkena
polusi udara menjadi kering.
k. Tumbuhan Alga
Alga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator logam berat karena dalam proses
pertumbuhannya, alga membutuhkan berbagai jenis logam sebagai nutrien alami, sedangkan
ketersediaan logam dilingkungan sangat bervariasi. Suatu lingkungan yang memiliki tingkat
kandungan logam berat yang melebihi jumlah yang diperlukan, dapat mengakibatkan
pertumbuhan alga terhambat, sehingga dalam keadaan ini eksistensi logam dalam lingkungan
adalah polutan bagi alga.

l. Bunga Raflesia Arnoldy


Bunga Raflesia Arnoldi akan banyak diketemukan atau tumbuh pada sepanjang jalur
migrasi babi. Raflesia Arnoldimerupakan jenis tumbuhan yang tidak memiliki akar, sehingga
untuk dapat tumbuh dan berkembang Raflesia Arnoldiakan menyerap makanan/nutrisi dari
tumbuhan lain yang ada disekitarnya. Saat bermigrasi babi akan memakan tumbuhan
terutama umbi-umbian yang ditemuinya selama dalam perjalanan dengan cara mencabut
tumbuhan tersebut hingga ke akar atau umbinya. Raflesia Arnoldi akan tumbuh dengan cara
menyerap makanan/nutrisi dari sisa-sisa akar/umbi dari tumbuhan yang telah dimakan babi.
Hal ini menunjukkan bahwa lokasi atau endemi Raflesia Arnoldi banyak diketemukan di
sepanjang jalur migrasi babi.
m. Jamur
Tumbuhan jamur merupakan Indikator tumbuhan untuk humus karena dapat hidup
pada humus yang tebal di dalam tanah.
n. Saccharum munja, Acacia, Calotropis, Agare, Opuntia.
Tumbuhan-tumbuhan ini yang lebih suka hidup di daerah kering dan akan
menunjukkan kandungan air tanah yang rendah di dalam tanah.
Sedangkan Citrullus dan Eucalypus adalah tumbuhan yang tumbuh di tanah yang dalam.
o. Rumex acetosa Rhododendron, Polytrichum dan Spagnum
Merupakan tumbuhan yang digunakan sebagai Indikator tumbuhan untuk
menunjukkan tanah kapur dan bergaram.

p. Metallocolus atau Metallophytes


Digunakan sebagai Indikator tumbuhan untuk mineral. Tumbuhan semacam itu
seperti di bawah ini :

1. Vallozia candida menunjukkan adanya intan di Brasilia.


2. Equisetum speciosa, Thuja sp, tumbuh di tanah yang mengandung mineral emas.
3. Eriogonium ovalifolium tumbuh di tanah yang mengandung perak di USA.
4. Stelaria setacea tumbuh di tanah yang mengandung air raksa di Spanyol.
5. Astragalus sp., Neptunia amplexicalis, Stanleya pinnata, Onopsis
condensator menunjukkan adanya Selanium.
6. Astragalus sp. tumbuh di tanah berkandungan uranium di USA.
7. Viscaria alpina di Norwegia, Gymnocolea acutiloba di Amerika, Gypsophila patrini di
Rusia tumbuh di tanah yang kandungan Cu nya tinggi.
8. Viola calaminara, V. lutea di Eropa tumbuh di tanah yang mineral Zinc nya tinggi.
9. Salsola nitrata, Eurotia cerutoides tumbuh di tanah yang kandungan BO tinggi.
10. Silene cobalticola di Kongo dan Nyssa sylvatica di Amerika tumbuh di tanahdengan
kandungan Cobalt tinggi.
11. Lychnis alpina di Swedia menunjukkan adanya Ni.
12. Allium, Arabis Oenothera, Atriplex tumbuh di tanah yang ber Sulfur.
13. Lycium, Juncus, Thalictrum tumbuh dengan adanya lithium (Li).
14. Damara orata, Dacrydium aledonicum di skotlandia tumbuh di tanah mengandung
mineral Fe (Iron).
15. Flex aquifolium di Italia tumbuh dengan adanya Alumunium.

Pembahsaan kedua
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan komponen
penyusunannya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air,
kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang
terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan -tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem
yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

1. Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik
tumbuhan maupun hewan. Dalam ekologi, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan
berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor
biotik juga meliputi tingkatan - tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi,
komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan - tingkatan organisme makhluk hidup tersebut
dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem
yang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup
adalah sebagai berikut.

Gambar tingkatan organisasi makhluk hidup


Sumber: Ane. 2016. (online). https://aneafsblog.wordpress.com/2016/06/22/tingkatan-
organisasi-makhluk-hidup-2/.

Ada bermacam – macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi
morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.
1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan
hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara sebagai berikut:

a) Gigi - gigi khusus


Gigi hewan karnivor atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi
taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan
ujung pemotong yang tajam untuk mencabik - cabik mangsanya.
b) Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika
Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain
yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak
bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya.
Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yang dapat dijulurkan keluar mulut
untuk menangkap serangga.
c) Paruh

Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan Ujungnya
tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya.

d) Daun
Tumbuhan insektivor (tumbuhan pemakan serangga). Misalnya kantong semar,
memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga
dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki
tumbuhan insektivor, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini
memperoleh unsur yang diperlukan.
e) Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang, berfungsi untuk menyerap air yang terdapat
jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas.

2. Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan
hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut:

a) Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busuk dengan cara menyemprotkan cairan melalui
sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.
b) Kantong tinta
Cumi - cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila
musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat
melihat kedudukan cumi -cumi dan gurita.
c) Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna
ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta
keadaan sekitarnya.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya
sebagai berikut
a) Pura - pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura - pura tidur atau mati, misalnya tupai virginia. Hewan ini
sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b) Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai
untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur
empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk di sepanjang Pantai Barat Amerika Utara
untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas
telur - telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah
menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka
bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.

2. Faktor Abiotik

Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor
fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah suhu, sinar matahari, air, tanah,
ketinggian, angin dan garis lintang.
a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan
organisme untuk hidup. Ada jenis - jenis organisme yang hanya dapat hidup pada
kisaran suhu tertentu
b. Sinar Matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan
suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan
sebagai produsen untuk berfotosintesis.
c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup
organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan
penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan
sarana hidup lain. Misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan.
Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan
pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda
menyebabkan organisme yang hidup di dalamnya juga berbeda. Tanah juga
menyediakan unsur - unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.
e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena
ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam
penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula.
Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di
permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja
h. Nutrisi
Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu
energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses
kehidupan (Soenarjo, 2000). Menurut Rock CL (2004), nutrisi adalah proses dimana
tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan
kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ baik
antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.

Kesimpulan:

1. Bioindikator merupakan indikator biotis yang dapat menunjukkan waktu dan lokasi,
kondisi alam (bencana alam), serta perubahan kualitas lingkungan yang telah terjadi
karena aktifitas manusia
2. Faktor-faktor pada bioindikator terdiri dari faktor biotik yang merupakan tingkatan
organisme makhluk hidup (individu, populasi, komunitas, bioma, biosfer) dan faktor
abiotik (suhu, tanah, air, api, ketinggian, garis lintang, dll).

Daftar pustaka

Jumhana, Nana. (online)


http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195905081984031-
NANA_JUMHANA/FINALISASI_IPA_PJJ/UNIT_5.pdf diakses tanggal 9 februari 2018.

Odum, H.T. 1996. EnvironmentalAccounting, Emergyand Decision Making. New York: John
Willey.

Affandy. M. Aziz. 2015. Bioindikator Kualitas air Danau. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Santana. Ramlado. 2012. Makrobentos. (online)


https://www.scribd.com/document/78298264/makalah-makrobentos diakses tanggal 9
februari 2018
Darojah. Yuyun. 2005. Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos Di Ekosistem Perairan
Rawa Pening Kabupaten Semarang. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Pennak, R.W. 1978. Freshwater Invertebrates of United States. 2nd. Ed. A. Willey
Interscience Pbl. John Willey and Sons. New york