Anda di halaman 1dari 27

Tiga Amalan Baik

Oleh: Muhammad Ali Aziz

‫شعههد أعمن همعحممدداً ععببهدهه‬ ‫شرربيعك لعهه عوأع ب‬ ‫شعههد أعبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ِهلل أع ب‬،‫صاَرم برعحببرل ار‬ ‫ي أععمعرعناَ براَبرلبعتر ع‬
‫اًعبلعحبمهد رملر اًلمرذ ب‬
‫صبيكبمه‬ ‫ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ِهلل أبو ر‬،‫ُ أمماَ بعبعهد؛ُ فعياَ رععباَعد ار‬.‫صبحبرره عوعمبن تعبرعع ههعداًهه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫صلل ععلىَ همعحممدد عوععلىَ آلرره عو ع‬ ‫م‬
‫ُ اًللههمم ع‬.‫سبولههه لع نعبرمي بعبععدهه‬
‫ع‬ ‫عوعر ه‬
‫ع‬
‫ق تهعقاَترره عولع تعهمبوتهمن إرلم عوأنتهبم مم ب‬
ُ.‫سلرهمبوعن‬ ‫ع‬
‫ عياَأميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عح م‬:َ‫ِهلل فععقاَعل اه تعععاَعلى‬،‫برتعبقعوىَ ار‬

Kaum Muslimin Yang Terhormat


Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam.
Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada
suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita
dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.
Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi
segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam
hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar yang kita
singkat TIGA IS.

1. Istiqomahُ. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadahُ.

Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi


wasalam berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:

‫سأ علههه‬
‫سلعرم قعبولد لع أع ب‬
‫ِهلل قهبل لربي رفي باًرل ب‬،‫سبوعل ار‬
‫ت عياَ عر ه‬ ‫ قهبل ه‬:‫ضعي اه ععبنهه عقاَعل‬ ‫ععبن أعبربي ه‬
‫سبفعياَعن ببرن ععببرد ار عر ر‬
(‫ُ )رواًه مسلم‬.‫ستعقربم‬ ‫ قهبل آعمبن ه‬:‫ُ عقاَعل‬.‫ُععبنهه أععحدداً عغبيعرعك‬.
‫ت رباَلر ثهمم اً ب‬
“Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata,
“Wahai asulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak
perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah
aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).

Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan
bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup,
ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram
halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas
kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.

Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an
surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan
janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)
2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh
pertimbangan dalam setiap keputusanُ.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu


perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas,
dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim
yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau
mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

‫ُعمبن عكاَعن يهبؤرمهن رباَلر عواًبليعبورم باًلْرخرر فعبليعقهبل عخبيدراً أعبو لريع ب‬.
(‫ُ )رواًه اًلبخاَري ومسلم عن أبي هريرة‬.‫صهمبت‬
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik
atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini
dan bicaralah esok hari).
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka
tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit.
Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah
kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta
menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi


Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu
kehidupan, beliau bersabda:

‫ت‬
‫شبئ ع‬ ‫ت فعإ رنمعك همعفاَرر ق‬
‫ِهلل عواًبععمبل عماَ ر‬،‫ق‬ ‫ِهلل عوأعبحبربب عماَ ر‬،‫ت‬
‫شبئ ع‬ ‫ت فعإ رنمعك عميل ق‬
‫شبئ ع‬ ‫ عياَ همعحممدداً رع ب‬:‫أععتاَنربي رجببرربيهل فععقاَعل‬
‫ش عماَ ر‬
(‫ُ )رواًه اًلبيهقي عن جاَبر‬.‫ي برره‬ ‫ُفعإ رنمعك عمبجرز ي‬.
Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu,
tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau
sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang
engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari
Jabir).

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi
ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa
logika dan data yang benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan
etika agama . Para pakar barang kali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk
banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru
membingungkan masyarakat.

Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-
benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian
hari.
Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
‫شاَعر عولع ععاَعل عمرن اًبقتع ع‬
‫صعد‬ ‫ستععخاَعر عولع نعردعم عمرن اً ب‬
‫ستع ع‬ ‫ُعماَ عخاَ ع‬.
‫ب عمرن اً ب‬
Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang
bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR.
Thabrani dari Anas)

3. Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah
Rabbul Izatiُ.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun


kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya
penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.
‫‪Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan‬‬
‫‪kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun‬‬
‫‪kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih‬‬
‫‪cerah dengan penuh keridloan Allah.‬‬

‫‪Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita‬‬
‫‪disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu.‬‬
‫‪Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita.‬‬
‫‪Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-‬‬
‫‪teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita‬‬
‫‪tumbuhkan.‬‬

‫‪Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami‬‬


‫‪kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang‬‬
‫‪menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya,‬‬
‫‪maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.‬‬

‫‪Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada‬‬


‫‪kaumnya:‬‬
‫‪“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu‬‬
‫‪bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras‬‬
‫‪atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan‬‬
‫‪janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).‬‬

‫‪Para Jamaah yang dimuliakan Allah‬‬


‫‪Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar‬‬
‫‪dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus‬‬
‫‪memiliki dan melakukan TIGA IS di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.‬‬
‫‪Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan‬‬
‫‪dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin‬‬

‫أعهقوهل قعبو رلي عهعذاً عوأع ب‬


‫ستعبغفرهر اع لربي عولعهكبم عفاَ ب‬
‫ستعبغفرهربوهه اًرنمهه ههعو اًبلعغهفوهر اًلمررحبيهم‪ُ.‬‬

‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫شرربيعك لعهه‪ِ،‬هلل إرمياَهه نعبعبههد‬‫شعههد أعبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫صاَرم برعحببرل ار اًبلعمتربيرن‪ ُ.‬أع ب‬ ‫ي أععمعرعناَ براَبرلتلعحاَرد عوباًرلبعتر ع‬ ‫اًعبلعحبمهد رملر اًلمرذ ب‬
‫ع‬
‫صلل ععلىَ همعحممدد عوععلىَ آلرره‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫د‬ ‫ه‬
‫سبولهه‪ِ،‬هلل اًعلعمببهعبوث عربحعمة لرلععاَلرمبيعن‪ ُ.‬عاًللههمم ع‬ ‫ب‬ ‫ه‬ ‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ستعرعبيهن‪ ُ.‬عوأ ب‬ ‫عوإريمهاَه نع ب‬
‫صملبوعن‬ ‫ب اًبلععاَلعرمبيعن‪ ُ.‬إرمن اع عوعملعئرعكتعهه يه ع‬ ‫ساَررهعبواً إرعلىَ عمبغفرعررة عر ل‬ ‫طبعتهبم عو ع‬ ‫صعحاَبرره أعبجعمرعبيعن‪ ُ.‬رععباَعد ا‪ِ،‬هلل اًرتمهقواً اع عماَ اً ب‬
‫ست ع ع‬ ‫عوأع ب‬
‫ع‬ ‫ع‬
‫سلبم عوعباَرربك ععلىَ همعحممدد عوععلىَ آلرره‬ ‫ل‬ ‫صلل عو ع‬ ‫م‬ ‫ع‬
‫سلربيدماَ‪ ُ.‬اًللههمم ع‬ ‫ل‬
‫سلهمبواً تع ب‬ ‫ع‬
‫صلبواً ععلبيره عو ع‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫ع‬
‫عععلىَ اًلنبرلي‪ِ،‬هلل عياَأميهاَ اًلرذبيعن عءاًعمنبواً ع‬
‫ه‬ ‫ع‬ ‫م‬
‫سلررمبيعن‪ِ،‬هلل‬ ‫سلععم عواًبلهم ب‬ ‫صرر باًرل ب‬ ‫سلررمبيعن‪ِ،‬هلل عواًبن ه‬ ‫صلربح عجرمبيعع هولعةع اًبلهم ب‬ ‫صعحاَبرره عوقععراًبعترره عوأعبزعواًرجره عوهذلرمياَترره أبجعمرعبيعن‪ ُ.‬عاًللمههمم أ ب‬
‫ع‬ ‫ع‬ ‫عوأع ب‬
‫ت عواًبلهمبؤرمنربيعن عواًبلهمبؤرمعناَ ر‬
‫ت‬ ‫سلرعماَ ر‬ ‫سلررمبيعن عواًبلهم ب‬ ‫شررركبيعن عوأعبعرل عكلرعمتععك إرعلىَ يعبورم اًللدبيرن‪ ُ.‬عاًللمههمم اًبغفربر لربلهم ب‬ ‫عوأعبهلررك اًبلعكفععرةع عواًبلهم ب‬
‫ق‬ ‫ب‬
‫ت‪ ُ.‬عاًللمههمم اًفتعبح بعبينععناَ عوبعبيعن قعبورممناَ رباَبلعح ل‬ ‫ضعي اًبلعحاَعجاَ ر‬ ‫ت عوعياَ عقاَ ر‬ ‫ب اًلمدعععواً ر‬ ‫ب همرجبي ه‬ ‫ت‪ِ،‬هلل إرنمعك قعرربي ق‬‫باًلعبحعياَرء رمبنههبم عوباًلعبمعواً ر‬
‫ب اًلمناَرر‪ُ.‬‬‫سنعةد عوقرعناَ عععذاً ع‬ ‫سنعةد عورفي اًلْرخعررة عح ع‬ ‫ت عخبيهر اًبلعفاَتررحبيعن‪ ُ.‬عربمعناَ آترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬ ‫عواًعبن ع‬
‫م‬ ‫ه‬ ‫ب‬ ‫ب‬
‫شآَرء عواًلهمنعكرر عواًلبعغري يعرعظهكبم لعععلهكبم‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ب‬
‫ئ رذي اًلقهبرعبىَ عويعبنعهىَ ععرن اًلفبح ع‬ ‫ب‬ ‫ساَرن عورإيعتآَ ر‬ ‫ب‬ ‫ب‬
‫رععباَعد ار‪ِ،‬هلل إرمن اع يعأهمهرهكبم رباَلععبدرل عوباًرلبح ع‬
‫ستعرجبب لعهكبم عولعرذبكهر ار أعبكبعهر‪ُ.‬‬ ‫تععذمكهربوعن‪ ُ.‬عفاَبذهكهرواً اع اًبلععرظبيعم يعبذهكبرهكبم عواً ب ه ع ب‬
‫ي‬ ‫ه‬ ‫و‬‫ع‬‫ه‬ ‫د‬
‫ب‬

‫(‬
Perjuangan Menuju Masyarakat Tauhid

Oleh: Mulyono

‫ِهلل عمبن يعبهردره اه فعلع‬،َ‫ت أعبععماَلرنعا‬ ‫سيلعئاَ ر‬ ‫سعناَ عورمبن ع‬‫شهربورر أعبنفه ر‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬ ‫ستعرعبينههه عونع ب‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ه‬
ُ.‫سبولهه‬‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لهه عوأ ب‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن ل إرلهع إرل اه عوبحعدهه ل ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ُ عوأ ب‬.‫ي لهه‬ ‫ع‬ ‫ضلربل فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬
‫ي عخلعقعهكبم لمبن‬ ‫س اًتمقهبواً عربمهكهم اًلمرذ ب‬ ‫ع‬
‫ُ عياَ أميعهاَ اًلمناَ ه‬.‫سلرهمبوعن‬ ‫ع‬
‫ق تهعقاَترره عولع تعهمبوتهمن إرلم عوأنتهبم مم ب‬ ‫عياَ أعميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عح م‬
‫سآَعءلهبوعن برره عوباًلعبرعحاَعم إرمن اع‬ ‫ي تع ع‬ ‫سآَدء عواًتمهقواً اع اًلمرذ ب‬ ‫ث رمبنههعماَ ررعجاَلد عكثربيدراً عونر ع‬ ‫ق رمبنعهاَ عزبوعجعهاَ عوبع م‬ ‫س عواًرحعددة عوعخلع ع‬ ‫نعبف د‬
‫ه‬ ‫ع‬
‫صلربح لعهكبم أبععماَلعهكبم عويعبغفربر لعهكبم ذنهبوبعهكبم عوعمبن‬ ‫ُ يه ب‬.ً‫سردبيددا‬ ‫ه‬ ‫ع‬
‫ُ عياَ أميعهاَ اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عوقبولهبواً قعبولد ع‬.َ‫عكاَعن ععلعبيهكبم عرقربيدبا‬
ُ.َ‫سبولعهه فعقعبد عفاَعز فعبودزاً ععرظبيدما‬ ‫يهرطرع اع عوعر ه‬
‫ع‬ ‫ه‬
‫شعر اًلهمورر همبحعدثاَتهعهاَ عوهكمل‬ ‫سلعم عو م‬ ‫م‬ ‫صلىَ ا ععلعبيره عو ع‬ ‫م‬ ‫ي همعحممدد ع‬ ‫ي عهبد ه‬ ‫ب‬
‫ِهلل عوعخبيعر اًلعهبد ر‬،‫ب اع‬ ‫ث ركعتاَ ه‬ ‫ب‬
‫ق اًلعحردي ر‬ ‫صعد ع‬ ‫أعمماَ بعبعهد؛ُ فعإ رمن أ ب‬
‫ع‬
‫صبحبرره عوعمبن تعبرععههبم‬ ‫صلل عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آلرره عو ع‬ ‫ُ عاًللمههمم ع‬.‫ضلعلعدة رفىَ اًلمناَرر‬ ‫ضلعلعةق عوهكمل ع‬ ‫همبحعدثعدة بربدععةق عوهكمل بربدععدة ع‬
ُ.‫ساَدن إرعلىَ يعبورم اًللدبيرن‬
‫برإ ربح ع‬

Saudara-saudara sekalian, sidang jamaah Jum’ah rahimakumullah


Dari mimbar yang kita muliakan ini, ijinkanlah khatib mengajak kepada diri khotib
sendiri, dan juga kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita selalu bertaqwa
kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Selalu bertaqwa dalam arti yang sebenarnya dan
selurus-lurusnya. Menjalan-kan secara ikhlas seluruh perintah Allah Subhannahu wa
Ta'ala, kemudian menjauhi segenap larangan-larangan Nya. Marilah kita lebur hati
dan jasad kita kedalam lautan Taqwa yang luasnya tak bertepi. Marilah kita isi setiap
desah nafas kita dengan sentuhan-sentuhan Taqwa. Sebab, hanya dengan Taqwa ...
InsyaAllah ... kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki di akherat yang abadi nanti
atau kebahagiaan hidup di dunia fana ini.

Kaum muslimin A’azzakumullah


Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti akan kita akan prihatin.
Kalau nurani kita masih bersih, pasti kita akan mengelus dada menyaksikan babak
demi babak kehidupan yang kini berkembang betapa tidak saudara-saudaraku ... saat
ini nyaris dalam seluruh sektor kaum muslimin terpuruk. Dalam segi aqidah banyak
sekali umat Islam yang menganut keyakinan-keyakinan syirik, menyekutukan Allah
dalam hal ibadah. Perdukunan merajalela, penyembahan terhadap ahli kubur masih
dilakukan, pengagungan yang berlebihan terhadap seorang tokoh masih banyak kita
jumpai. Perilaku ini menurut syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, termasuk kategori
syirik (kitab tauhid).

Kemudian dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh
rekayasa, dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba’ yang
diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya adalah makin lebarnya
jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya kita
disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan
beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba
dan sebagainya.

Saudara-saudara sekalian kaum muslimin rahimakumullah


Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat Ar-
Ruum ayat 41:
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena ulah
perbuatan tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang
ini.

Memang, jama’ah sekalian ..


Ummat dan bangsa ini sedang berada dalam bahaya besar. Kerusakan telah menyebar
dalam berbagai tempat dan waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kanapa semua
ini bisa terjadi?
Dan bagaimana cara mengobatinya berdasarkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala ?

Pertanyaan pertama, yakni, kenapa kerusakan-kerusakan itu bisa terjadi, jawabnya


adalah karena ummat ini terputus dari tuntunan agamanya. Ya, sudah sekian lama,
ummat Islam ini jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Ada jarak antara ummat di satu
sisi dengan ajaran Islam di sisi lain, sehingga kehidupan sehari-hari kaum muslimin
sama sekali tidak mencerminkan ajaran agamanya. Bahkan, adakalanya ummat Islam
merasa asing terhadap nilai-nilai dien-nya sendiri. Satu contoh kasus, misalnya
masalah hijab bagi kaum wanita. Kaum wanita yang menutup aurat malah dikatakan
sebagai orang yang nyeleneh.
Padahal sebenarnya merekalah yang justru melaksanakan perintah Allah. Kondisi ini
telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.
Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

ُ.‫سيعهعبوهد عغرربيدباَ عكعماَ بععدأع فعطهبوعبىَ لربلغهعرعباَرء‬ ‫ بععدأع باًرل ب‬:


‫سلعهم عغرربيدباَ عو ع‬

“Islam itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali menjadi asing seperti semula.
Maka beruntunglah orang yang asing.”
Saudara-saudara sekalian, jamaah jum’ah yang berbahagia.

Sekarang ini pun tengah menggejala dikalangan kaum muslimin sebuah paham yang
biasa disebut sebagai sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham ini mengajarkan bahwa
kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya
dunia, jangan bawa masalah agama. Soal agama adalah soal pribadi. Oleh karena itu,
menurut paham ini, dalam masalah hubungan sesama manusia, seperti cara bergaul,
cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio atau akal
manusia saja. Sehingga, merekapun menyombongkan diri dengan meninggalkan
ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-
hari.

Ajaran sekulerisme inilah yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini
sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al-Misri dalam
kitabnya “Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Minal ‘ilmaniyah” (Sikap Ahlus
Sunnah terhadap Sekulerisme). Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali
bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha
menegakkan kehidupan di dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazim disebut
La diniyyah . Sehingga tata kehidupan yang mereka bangun bukanlah tata kehidupan
yang bersumber dari wahyu Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dengan kata lain,
sekulerisme berhukum dengan aturan-aturan selain Allah. Padahal Allah Subhannahu
wa Ta'ala berfirman:
Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah
yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-
Maidah: 50).
Dalam tafsir Ibnu Katsir di sebutkan (tentang ayat ini): “Allah Subhannahu wa Ta'ala
mengingkari setiap orang yang keluar dari hukumNya yang jelas, yang meliputi
segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, lalu berpaling kepada pendapat-
pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang diletakkan oleh manusia tanpa bersandar
kepada syari’at Allah. Seperti sikap kaum jahiliyah dahulu yang berhukum dengan
hukum yang menampakkan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri
berdasarkan hawa nafsu mereka “. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2: 67)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah ...


Padahal, tauhid yang merupakan fondasi agama Islam, merupakan sebuah keyakinan
yang menyandarkan seluruh aspek kehidupan hanya kepada Allah Subhannahu wa
Ta'ala. Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya “ Al-Firqotun
Naajiyah” (Golongan Yang Selamat) menyatakan bahwa yang dimaksud tauhid adalah
mengesakan Allah dengan beribadah. Di mana Allah Subhannahu wa Ta'ala
menciptakan alam semesta ini tidak lain hanyalah agar beribadah. Firman Allah:
“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka
menyembahKu.” (QS. Ad-Dzariyat: 56).
Di dalam kitabnya yang lain, yakni yang berjudul “Hudz Aqidataka Minal Kitab was
Sunnah” Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menegaskan bahwa tauhid merupakan
salah satu syarat diterimanya amal seseorang. Artinya, tanpa keberadaan tauhid, amal
seberapa pun banyaknya tidak akan diterima Allah .

Demikianlah saudara sekalian, jama’ah rahimakumullah


Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini meng-gejala dengan
kebebasannya, amat bersebrangan dengan tauhid, fondasi ajaran agama kita. Oleh
karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu.
Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menye-lesaikan serangkaian
problem-problem yang kita bicarakan tadi? Bagaimana agar kita bisa keluar dari
fitnah yang begitu banyak tersebut?

Saudara sekalian ...


Resepnya tidak ada lain kecuali kembali kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah
Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dengan pemahaman salafus shalih.
Sebab, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan satu-satunya menuju
keselamatan. Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk
menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Ketika Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam dan sahabatnya di Mekkah, yakni di awal-awal beliau menyampaikan
wahyu, situasinya hampir sama dengan keadaan yang kita hadapi saat ini. Yaa, hampir
sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda, namun inti dan subtansinya tidak berbeda.
Kalau dulu ada perzinaan, misalnya, sekarangpun banyak perzinaan dengan berbagai
model.

Oleh karena itu, untuk mengobati kondisi ummat yang seperti sekarang ini, tidak bisa
tidak, kita harus memulai sebagaimana Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam membina
ummat. Masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebelum urusan-urusan
lainnya. Sebab, seperti itulah yang juga dilakukan para salafus shalih. Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
ُ.‫س قعبرنربي ثهمم اًلمرذبيعن يعلهبونعههبم ثهمم اًلمرذبيعن يعلهبونعههبم‬
‫عخبيهر اًلمناَ ر‬

“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah


mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq ‘alaih).

Saudara-saudara sekalian
Sebagaimana saya sebutkan diatas, bahwa tauhid adalah fondasi agama Islam. Maka
kalau fondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau
tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu pun
kuat juga. Dengan demikian mengembangkan tauhid merupakan masalah yang sangat
strategis bagi upaya membangkitkan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk
membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan
tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi. Sia-sia belaka. Oleh
karena itu, pembinaan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan oleh
seluruh kalangan kaum muslimin ini. Pembinaan tauhid sebagaimana yang difahami
salafus shalih harus disosialisasikan kepada seluruh ummat. Sehingga mereka
memahami jalan kehidupan yang benar, meninggalkan pola hidup yang bengkok.

ُ.‫سنمتربي‬ ‫ِهلل ركعتاَ ع‬،َ‫ضلمبواً بعبععدههعما‬


‫ب ار عو ه‬ ‫شبيئعبيرن لعبن تع ر‬ ‫تععربك ه‬
‫ت فربيهكبم ع‬

“Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat darimu setelah
berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (Dishahihkan Al-Albani dalam
kitab Al-Jami’, diambil dari kitab Al-Firqatun Naajiyah)
Dalam hadits yang disebutkan, Ibnu Mas’ud berkata:

‫ عهرذره اًل م‬:‫ِهلل ثهمم عقاَعل‬،‫شعماَلرره‬ ‫ُ عوعخطم هخطهبو د‬.َ‫ستعقربيدما‬ ‫ عهعذاً ع‬:‫طاَ بريعردره ثهمم عقاَعل‬‫ عخ طد‬n ‫سبول ار‬
‫سبههل‬ ‫طاَ ععبن يعرمبينرره عو ر‬ ‫سبربيهل ار هم ب‬ ‫عخطم عر ه ه‬
ً‫ستعرقيدماَ عفاَتمبرهعوهه عولع تعتمبرهعوا‬ ‫صعراًرطي هم ب‬ ‫ عوأعمن عهعذاً ر‬:َ‫ُ ثهمم قععرأع قعبولعهه تعععاَعلى‬.‫طاَقن يعبدهعبو إرلعبيره‬‫شبي ع‬
‫سبربيقل إرلم ععلعبيره ع‬ ‫لعبي ع‬
‫س رمبنعهاَ ع‬
‫ه‬ ‫م‬ ‫ع‬
ُ.‫صاَهكبم برره لععلهكبم تعتمقوعن‬ ‫ع‬
‫سربيلرره ذاًلرهكبم عو م‬
‫ق برهكبم ععبن ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫سبهعل فتعفمر ع‬
‫اًل م‬

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membuat garis dengan tangannya, seraya


bersabda kepada kami: “Ini jalan Allah yang lurus.” Dan beliau membuat garis-garis
banyak sekali dikanan kirinya, seraya bersabda: “Ini jalan-jalan yang tak satu pun
terlepas dari intaian syetan untuk menyesatkan”. Kemudian beliau membaca ayat 153
surat Al-An’am: “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalanKu yang lurus.
Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain. Karena jalan-
jalan lain itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan
Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (HR.Ahmad dan Nasa’i, Shahih)

Saudara sekalian, sidang jama’ah jum’ah rahimakumullah


Kalau kita meneladani Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam maka yang pertama
kali beliau serukan adalah masalah tauhid. Sebelum membicarakan hal-hal lain, beliau
selama kurang lebih 13 tahun di Mekkah menda’wahkan konsep pengesaan Allah
Subhannahu wa Ta'ala ini kepada sahabat-sahabat beliau. Dengan tauhid beliau
membangun ummat.

‫ِهلل أعهقوهل قعبو رلي عهعذاً عواً ب‬،‫ت‬


ُ.‫ستعبغفرهرواً اع اًرنمهه ههعو اًبلعغهفوهر اًلمررحبيهم‬ ‫عفاَ ب‬
‫ستعبرهقواً اًبلعخبيعراً ر‬

Khutbah Kedua:
‫ت أعبععماَلرنعاَ‪ِ،‬هلل عمبن يعبهرد اه فعلع‬‫سيلعئاَ ر‬ ‫شهربورر أعبنفه ر‬
‫سعناَ عورمبن ع‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬‫ستعرعبينههه عونع ب‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫سبولههه‬ ‫ع‬
‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لهه عوأ ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن لع إرلهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ي لهه‪ ُ.‬أ ب‬ ‫ضلربل فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬
‫سلربيدماَ‪ ُ.‬أعمماَ بعبعهد؛ُ‬‫سلمعم تع ب‬
‫صملىَ اه ععلعبيره عو ع‬ ‫ع‬

‫‪Ma’asyiral muslimin rahimakumullah‬‬


‫‪Pada khutbah kedua ini, kembali saya mengajak kepada diri saya sendiri dan jama’ah‬‬
‫‪sekalian. Marilah kita bertaqwa dengan taqwa yang sebenar-benarnya kepada Allah‬‬
‫‪Subhannahu wa Ta'ala . Marilah kita mempelajari Islam ini dari landasannya yang‬‬
‫‪paling asasi yakni tauhid. Marilah kita hidupkan budaya mempelajari tauhid dalam‬‬
‫‪kehidupan beragama kita sebelum yang lain-lainnya.‬‬

‫‪Sebagai ringkasan dari khutbah yang pertama, bisa saya simpulkan bahwa kondisi‬‬
‫‪ummat yang carut marut sekarang ini; banyaknya kesyirikan dan bid’ah, merebaknya‬‬
‫‪budaya sekulerisme (kehidupan tanpa tuntunan agama), meggejalanya berbagai fitnah‬‬
‫‪hanya bisa di atasi dengan kembali kepada sumber ajaran kita yang murni yakni Al-‬‬
‫‪Qur’an dan Sunnah. Sementara itu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan‬‬
‫‪pemahaman salafus shalih itu, langkah awal dalam membangun masyarakat adalah‬‬
‫‪dengan menanamkan tauhid. Sebab yang diseru Rasulullah Shallallaahu alaihi wa‬‬
‫‪Salam pertama kali di Mekkah adalah tauhid, sebelum menyeru masalah-masalah lain.‬‬

‫‪Oleh karena itu, jama’ah sekalian, sudah waktunya meraih kembali jalan kebenaran‬‬
‫‪tersebut. Sudah lama kita terperosok dalam lubang kebodohan. Kita terlalu sering‬‬
‫‪mengulang kesalahan serupa. Solusinya adalah kita pelajari kembali Islam ini dari‬‬
‫‪masalah tauhid. Semoga Allah membimbing kita semua. Amin.‬‬

‫ت عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوعععلىَ آرل إرببعراًرهبيعم‪ِ،‬هلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‪ ُ.‬عوعباَرربك عععلىَ‬ ‫صلمبي ع‬‫صلل عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آرل همعحممدد عكعماَ ع‬ ‫عاًللمههمم ع‬
‫ت عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوعععلىَ آرل إرببعراًرهبيعم‪ِ،‬هلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‪ُ.‬‬ ‫همعحممدد عوعععلىَ آرل همعحممدد عكعماَ عباَعربك ع‬
‫ف مررحبيقم‪ ُ.‬عربمناَع‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫د‬ ‫ط‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ع‬
‫سبعقبوناَ براَرلبيعماَرن عول تعبجععبل فربي قلبوبرناَ رغل للرذبيعن عءاًعمنبواً عربمناَ إرنعك عرهءبو ق‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫عربمعناَ اًبغفربر لععناَ عورلبخعواًنرعناَ اًلمرذبيعن ع‬
‫سرربيعن‪ ُ.‬عربمعناَ اًبغفربر لععناَ عولرعواًلرعدبيعناَ عواًبرعحبمههعماَ عكعماَ عربمعياَعناَ‬ ‫سعناَ عوإربن لمبم تعبغفربر لععناَ عوتعبرعحبمعناَ لعنعهكبونعمن رمعن اًبلعخاَ ر‬ ‫ظلعبمعناَ أعبنفه ع‬ ‫ع‬
‫سأ علهعك رمعن اًبلعخبيرر هكللره عماَ ععلربمناَع‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫م‬ ‫ع‬
‫ب اًلناَرر‪ ُ.‬اًللههمم إرناَ ن ب‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫سنة عوقرناَ ععذاً ع‬ ‫د‬ ‫ع‬ ‫سنة عورفي اًلْرخعررة عح ع‬ ‫د‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫صغاَدراً‪ ُ.‬عربمناَ آترناَ رفي اًلمدنعياَ عح ع‬ ‫ع‬ ‫ر‬
‫سأ علععك برره رععباَهدعك‬ ‫سأ علهعك رمبن عخبيرر عماَ ع‬ ‫شلر هكللره عماَ ععلربمعناَ رمبنهه عوعماَ لعبم نعبعلعبم‪ ُ.‬عاًللمههمم إرمناَ نع ب‬ ‫رمبنهه عوعماَ لعبم نعبعلعبم‪ِ،‬هلل عونعهعبوهذ برعك رمعن اًل م‬
‫سنعةد‬ ‫سنعةد عورفي اًلْرخعررة عح ع‬ ‫صاَلرهحبوعن‪ ُ.‬عربمعناَ آترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬ ‫ستعععاَعذ برعك رمبنهه رععباَهدعك اًل م‬ ‫شلر عماَ اً ب‬ ‫صاَلرهحبوعن‪ِ،‬هلل عونعهعبوهذ برعك رمبن ع‬ ‫اًل م‬
‫ب اًلمناَرر‪ُ.‬‬ ‫ع‬
‫عوقرعناَ ععذاً ع‬
‫شآَرء عواًبلهمنعكرر عواًبلبعبغري يعرعظههكبم لعععلمهكبم‬ ‫ئ رذي اًبلقهبرعبىَ عويعبنعهىَ ععرن اًبلفعبح ع‬ ‫ع‬
‫تآَ‬ ‫إي‬ ‫و‬ ‫ن‬ ‫ساَ‬ ‫ح‬ ‫ل‬
‫ع ع ه ه ب ر ع ر ع ر ب ع ر عر ر‬ ‫ب‬
‫اً‬ ‫و‬ ‫ل‬ ‫د‬
‫ب‬ ‫ع‬‫ل‬‫ب‬ ‫باَ‬ ‫م‬ ‫ه‬
‫ك‬ ‫ر‬ ‫م‬‫ب‬ ‫أ‬‫ي‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫رععباَعد ار‪ِ،‬هلل ر‬
‫إ‬
‫ع‬ ‫ع‬
‫ضلرره يهبعرطهكبم عولرذبكهر ار أبكبعهر‪ُ.‬‬ ‫ع‬
‫سألبوهه رمبن ف ب‬ ‫ه‬ ‫ع‬ ‫ب‬
‫تععذمكهربوعن‪ ُ.‬عفاَذهكهرواً اع اًلععرظبيعم يعذهكبرهكبم عواً ب‬
‫ب‬ ‫ب‬

‫‪Mengukir Prestasi Dihadapan Ilahi‬‬

‫‪Oleh Suyadi Husein Mustofa‬‬

‫ت أعبععماَلرنعاَ‪ِ،‬هلل عمبن يعبهردره اه فعلع‬ ‫شهربورر أعبنفه ر‬


‫سعناَ عورمبن ع‬
‫سيلعئاَ ر‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ستعرعبينههه عونع ب‬
‫سبولههه‪ُ.‬‬ ‫ع‬
‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لعهه عوأ ب‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ع‬
‫ي لعهه‪ ُ.‬عوأ ب‬ ‫ضلربلهه فعلع عهاَرد ع‬
‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬

‫سللبم عوعباَرربك عععلىَ نعبريلعك همعحممدد عوعععلىَ آلرره عوعمبن تعبرعع ههعداًهه إرعلىَ يعبورم اًبلقرعياَعمرة‪ُ.‬‬ ‫صلل عو ع‬ ‫عاًللمههمم ع‬
‫ي برتعبقعوىَ ار‪ِ،‬هلل فعقعبد عفاَعز اًبلهمبؤرمنهبوعن اًبلهمتمقهبوعن‪ِ،‬هلل عوتععزموهدبواً فعإ رمن عخبيعر اًلمزاًرد‬ ‫ياَ‬‫إ‬ ‫و‬
‫ب ر ب ب عرم ع‬ ‫م‬‫ك‬ ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ص‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫أ‬ ‫‪ُ.ُ.ُ.‬‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ه‬
‫ك‬ ‫د‬ ‫ش‬ ‫ر‬‫ع‬
‫شعر ه ب ر ر ب ع ب ع ع ه ه‬
‫أ‬ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫م‬ ‫ل‬‫س‬ ‫م‬ ‫ب‬
‫ل‬ ‫اً‬ ‫عمععاَ ر‬
‫سرم ار اًلمربحعمـَرن اًلمررحبيرم‪:‬‬ ‫ع‬
‫شبيطاَرن اًلمررجبيرم‪ِ،‬هلل بر ب‬ ‫ه‬ ‫ع‬
‫ث قاَعل تعععاَعلىَ فربي ركعتاَبرره اًبلعكرربيرم‪ِ،‬هلل أهعبوذ رباَلر رمعن اًل م‬ ‫ع‬ ‫اًلتمبقعوىَ‪ِ،‬هلل عحبي ه‬
‫سآَدء عواًتمهقواً‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫راً‬
‫رب د ع ر ع‬ ‫ي‬ ‫ث‬ ‫ع‬
‫ك‬ ‫د‬ ‫ل‬‫جاَ‬ ‫ر‬ ‫ماَ‬ ‫ه‬ ‫ب‬
‫ن‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫م‬
‫ر ع ب ع ع عع ر هع ر ع‬ ‫ب‬ ‫و‬ ‫هاَ‬ ‫ج‬ ‫و‬‫ز‬‫ع‬ ‫هاَ‬‫ن‬ ‫ب‬ ‫م‬ ‫ق‬
‫ع‬ ‫ع‬ ‫ل‬‫خ‬‫ع‬ ‫و‬ ‫ة‬ ‫د‬
‫ع‬
‫د ع ر د ع‬ ‫ح‬ ‫واً‬ ‫س‬ ‫ب‬
‫ف‬ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫ن‬‫ب‬ ‫م‬
‫ب ل‬‫م‬‫ك‬‫ه‬ ‫ع‬ ‫ق‬ ‫ع‬ ‫ل‬‫خ‬‫ع‬ ‫ي‬ ‫ذ‬‫م‬ ‫ل‬ ‫اً‬
‫ب عم ه ر ب‬ ‫م‬ ‫ه‬
‫ك‬ ‫ب‬ ‫ر‬ ‫واً‬ ‫ه‬ ‫ق‬‫م‬ ‫ت‬ ‫اً‬ ‫س‬‫عياَ أعميعهاَ اًلمناَ ه‬
‫ع‬
‫سآَعءلبوعن برره عوباًلبرعحاَعم إرمن اع عكاَعن ععلبيهكبم عرقربيدباَ‪ُ.‬‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫ي تع ع‬ ‫اع اًلمرذ ب‬
‫صلربح لعهكبم أعبععماَلعهكبم عويعبغفربر لعهكبم هذنهبوبعهكبم عوعمبن يهرطرع اع عوعر ه‬
‫سبولعهه‬ ‫عياَ أعميعهاَ اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عوقهبولهبواً قعبولد ع‬
‫ُ يه ب‬.ً‫سردبيددا‬
ُ.َ‫فعقعبد عفاَعز فعبودزاً ععرظبيدما‬

‫شعر اًلههمورر همبحعدعثاَتهعهاَ عوهكمل‬


‫سلمعم عو م‬
‫صملىَ ا ععلعبيره عو ع‬
‫ي همعحممدد ع‬
‫ي عهبد ه‬ ‫ِهلل عوعخبيعر اًبلعهبد ر‬،‫ب اع‬ ‫ق اًبلعحردي ر‬
‫ث ركعتاَ ه‬ ‫أعمماَ بعبعهد؛ُ فعإ رمن أع ب‬
‫صعد ع‬
ُ.‫ضلعلعدة رفي اًلمناَرر‬ ‫ضلعلعةق عوهكمل ع‬ ‫همبحعدثعدة بربدععةق عوهكمل بربدععدة ع‬

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah ...


Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah
Ta’ala yang telah memberikan taufiq serta hidayahNya, sehingga kita masih dalam
keadaan Iman dan Islam...

Selanjutnya, dari atas mimbar Jum’ah ini, saya wasiatkan kepada diri saya berikut
jama’ah sekalian, Marilah,- dari sisa-sisa waktu yang Allah berikan ini, kita gunakan
untuk selalu mening-katkan ketaqwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu
memper-hatikan syariat Allah, kita aplikasikan dalam setiap derap langkah hidup kita
hingga akhir hayat. Baik berhubungan dengan hal-hal yang wajib, sunnah, haram,
makruh, maupun yang mubah. Karena, dengan ukuran inilah prestasi seorang manusia
dinilai dihadapan Allah. Suatu ketika Umar Ibnul Khaththab bertanya kepada Ubay
bin Ka’ab tentang gambaran taqwa itu. Lalu ia menjawab dengan nada bertanya:
“Bagaimana jika engkau melewati jalan yang penuh onak dan duri?” Jawab Umar.
“Tentu aku bersiap-siap dan hati-hati” Itulah taqwa, kata Ubay bin Ka’ab

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah


Telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli,
Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak
bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau
berdua. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13,
artinya:“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal.”

Disebutkan dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama,
tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam
urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya.
Al-Hafifzh Ibnu Katsir menambahkan: “Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena
taqwanya, bukan karena jumlahnya”
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

ُ.(‫ُ )رواًه اًلبيهقي‬.‫ح‬ ‫ضقل إرلم رباَللدبيرن أعبو عععمدل ع‬


‫صاَلر د‬ ‫س لععحدد عععلىَ أععحدد فع ب‬
‫لعبي ع‬

“Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya
atau amal shalih.”

Ma’asyiral muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah ...


Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya.
Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan
ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa
dikem-bangkan. Darinya pula muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-
lain, termasuk teknologi yang mereka temukan. Namun, kalau kita renungkan semua
itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi
kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban
persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” hidup seorang manusia.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah ...


Tak pelak dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga,
bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa
lebih baik dan harus diikuti (baca: ditakuti) oleh negara yang lain. Orang kaya merasa
lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu
yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam
segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai
“kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyu-ruh (memaksa)-nya
untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’ah rahikumullah ...


Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau
bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan
agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau maksiat. Itulah
parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia
banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak
punyak hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali kembali
kepada syariat agama Allah. Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menyebabkan
banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke lumpur dosa.
Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau
malah bangga dengan “amal dosa” itu, na’udzubillah.
Renungkanlah syair seorang tabi’in Abdullah Ibnul Mubarak:

ُ.َ‫صعياَنهعها‬ ‫ب عوعخبيقر لرنعبف ر‬


‫سعك رع ب‬ ‫ِهلل عوتعبرهك اًلمذنهبو ر‬،َ‫ب عويهبوررثهعك اًلمذعل اًربدعماَنهعها‬
‫ب عحعياَةه اًبلقهلهبو ر‬ ‫ت اًبلقهلهبو ع‬
‫ب تهرمبي ه‬ ‫عرأعبي ه‬
‫ت اًلمذنهبو ع‬

“Aku lihat perbuatan dosa itu mematikan hati, membiasakannya akan mendatangkan
kehinaan. Sedang meninggalkan dosa itu menghidupkan hati, dan baik bagi diri(mu)
bila meninggalkannya”

Prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun, taqiyyun, karimun (baik,
taqwa, mulia!) Ataukah prestasi fajirun, syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat, celaka,
hina) Dalam hal mana? Yaitu sejauh mana kita menyikapi ajaran Allah dan RasulNya.
Perhatikanlah wasiat Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

ُ.‫ضعك‬ ‫ِهلل هكلمعماَ عذعه ع‬،‫ت أعمياَقم‬


‫ب يعبوقم عذعه ع‬
‫ب بعبع ه‬ ‫أعميعهاَ اًلنمهاَس إرنمعماَ أعبن ع‬

“Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap


ada sehari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah ..

 Sudah berapa umur kita yang berlalu begitu saja ..


 Sudah berapa amal taat yang telah kita kumpulkan sebagai investasi di sisi
Allah ..

 Sudah berapa pula, amal maksiat yang telah kita lakukan yang menyebabkan
kita (nantinya) terseret kedalam Neraka ..

Marilah, segera bertobat untuk ‘mengukir” dengan amal taat terhadap Allah dan
Rasulnya.
Umat Islam (termasuk saya dan jama’ah sekalian) telah diberi hidayah berupa Al-
Qur’an (dan As-Sunnah). Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam menerjemahkan
dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk zhalimun linafsih, muqtashid,
atau saabiqun bil khairat bi idznillah.
Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan pengertiannya masing-masing
sebagai berikut:

 Zhalimun linafsihi: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi


banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang)
 Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang
diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang
makruh.

 Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan yang sunnah,
serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian
yang mubah (karena wara’nya)

Tak seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk mendekam dalam penjara.
Apalagi penjara Allah yang berupa siksa api Neraka yang bahan bakarnya dari
manusia dan bebatuan. Tetapi semua itu terpulang kepada kita masing-masing. Kalau
kita tidak mempedulikan syari’at Allah, tidak mustahil kita akan mendekam di
dalamnya. Na’udzu billah.
Itulah ujian Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasul SAW.

ُ.‫ت‬ ‫ت اًبلعجنمةه رباَبلعمعكاَررره عوهحفم ر‬


‫ت اًلمناَهر رباَل م‬
‫شعهعواً ر‬ ‫هحفم ر‬

“(Jalan) menuju Jannah itu penuh dengan sesuatu yang tidak disukai manusia, dan
(jalan) Neraka itu dilingkupi sesuatu yang disukai oleh syahwat”
Semoga Allah mengumpulkan kita dalam umatNya yang terbaik dan terjauhkan dari
ketergelinciran ke dalam jurang kemaksiatan. Amin

ُ.‫ت عواًللذبكرر اًبلعحركبيرم‬


‫ِهلل عونعفعععنربي عوإرمياَهكبم برعماَ فربيره رمعن باًلْعياَ ر‬،‫عباَعرعك اه لربي عولعهكبم رفي اًبلقهبرآرن اًبلععرظبيرم‬

Khutbah Kedua

‫ِهلل عولع عحبوعل عولع قهموةع إرلم رباَ ر‬،‫سبورل ار‬


ُ.‫ل‬ ‫سلعهم عععلىَ عر ه‬ ‫اًعبلعحبمهد رملر عواًل م‬
‫صلعةه عواًل م‬
‫ه‬
ُ.‫سبولهه‬ ‫ع‬
‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لهه عوأ ب‬ ‫شعههد أعبن لع إرلعهع إرل ا عوبحعدهه ل ع‬
‫ع‬ ‫م‬ ‫عوأع ب‬
ُ.‫سللبم عوعباَرربك عععلىَ نعبريلعك همعحممدد عوعععلىَ آلرره عوعمبن تعبرعع ههعداًهه إرعلىَ يعبورم اًبلقرعياَعمرة‬ ‫صلل عو ع‬ ‫عاًللمههمم ع‬
‫ه‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ه‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
ُ.‫ِهلل فقبد فاَز اًلهمؤرمنبوعن اًلهمتقبوعن‬،‫ي برتقعوىَ ار‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ه‬
‫صبيكبم عوإرمياَ ع‬ ‫ه‬
‫ُ أبو ر‬.ُ.ُ. ‫شعدكهم اه‬‫ه‬ ‫ع‬
‫سلررمبيعن أبر ع‬ ‫ب‬
‫شعر اًلهم ب‬‫عمععاَ ر‬
َ‫ُ عوعباَرربك عععلى‬.‫ِهلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‬،‫ت عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوعععلىَ آرل إرببعراًرهبيعم‬ ‫صلمبي ع‬‫صلل عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آرل همعحممدد عكعماَ ع‬ ‫عاًللمههمم ع‬
ُ.‫ِهلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‬،‫ت عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوعععلىَ آرل إرببعراًرهبيعم‬ ‫همعحممدد عوعععلىَ آرل همعحممدد عكعماَ عباَعربك ع‬
‫م‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫سرمبععناَ همعناَرددياَ يهعناَردي لررليعماَرن أبن عءاًرمهنواً برعربلهكبم فعئاَعممناَ عربمعناَ فاَغفربر لععناَ ذهنوبععناَ عوعكفبرععمناَ ع‬
‫سيلعئاَترعناَ عوتععوفعناَ عمعع‬ ‫مربمعنآَإرنمعناَ ع‬
‫ف اًبلرميععاَعد‪ُ.‬‬ ‫سلرعك عولعتهبخرزعناَ يعبوعم اًبلقرعياَعمرة إرنمعك لعتهبخلر ه‬ ‫باًلعببعراًرر‪ ُ.‬عربمعناَ عوعءاًترعناَ عماَعوععدتععناَ عععلىَهر ه‬
‫م‬ ‫ع‬
‫سنعة عوقرعناَ ععذاً ع‬
‫ب اًلناَرر‪ُ.‬‬ ‫د‬ ‫سنعةد عورفي باًلعرخعررة عح ع‬ ‫عربمعنآَ عءاًترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬
‫ب عجعهنمعم إرمن عععذاًبععهاَ عكاَعن عغعراًدماَ‪ُ.‬‬ ‫ف ععمناَ عععذاً ع‬ ‫صرر ب‬ ‫عربمعناَ اً ب‬
‫ب‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ع‬
‫عربمعناَ عهبب لناَ رمبن أزعواًرجناَ عوذلرمياَترناَ قمرة أبعيهدن عواًبجععلناَ لرلهمتمرقيعن إرعماَدماَ‪ُ.‬‬
‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫صلربح لععناَ آرخعرتععناَ اًلمتربي إرلعبيعهاَ‬ ‫ع‬ ‫صلربح لععناَ هدبنعياَعناَ اًلمتربي فربيعهاَ عمععاَ ه‬
‫شنعاَ‪ِ،‬هلل عوأ ب‬ ‫صعمةه أعبمررنعاَ‪ِ،‬هلل عوأع ب‬ ‫ي ههعو رع ب‬ ‫صلربح لععناَ ردبينععناَ اًلمرذ ب‬ ‫عاًللمههمم أع ب‬
‫شرر‪ُ.‬‬ ‫ت عراًعحةد لععناَ رمبن هكلل ع‬ ‫عمععاَهدنعاَ‪ِ،‬هلل عواًبجععرل اًبلعحعياَةع رزعياَعدةد لععناَ فربي هكلل عخبيدر‪ِ،‬هلل عواًبجععرل اًبلعمبو ع‬
‫ف مررحبيقم‪ُ.‬‬ ‫د‬
‫سبعقهبوعناَ براَبرلبيعماَرن عولعتعبجععبل فربي قهلهبوبرعناَ رغلط لللمرذبيعن عءاًعمنهبواً عربمعناَ إرنمعك عرهءبو ق‬ ‫عربمعناَ اًبغفربر لععناَ عورلبخعواًنرعناَ اًلمرذبيعن ع‬
‫صعحاَبرره أعبجعمرعبيعن‪ ُ.‬عواًبلعحبمهد رملر عر ل‬
‫ب اًبلععاَلعرمبيعن‪ُ.‬‬ ‫صملىَ اه عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آلرره عوأع ب‬ ‫عو ع‬

‫‪Istighfar Dan Taubat Adalah Kunci Rizki Dan keberkahan dari Allah Ta'ala‬‬

‫‪oleh: Anton Zamroni‬‬

‫‪Khutbah pertama‬‬

‫ت أعبععماَلرنعـَـَاَ‪ِ،‬هلل عمـَبن يعبهـَردره اهـَـَ فعلع‬ ‫شهربورر أعبنفه ر‬


‫سـَعناَ عورمـَـَبن ع‬
‫سـَيلعئاَ ر‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ستعرعبينههه عونع ب‬
‫سبولههه‪ُ.‬‬
‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لعهه عوأ ب‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ع‬
‫ي لعهه‪ ُ.‬عوأ ب‬‫ضلربل فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬

‫ي عخلعقعهكـَبم لم بن‬ ‫س اًتمقهبواً عربمهكهم اًملـَرذ ب‬ ‫سلرهمبوعن‪ ُ.‬عياَ أعميعهاَ اًلمناَ ه‬ ‫ق تهعقاَترره عولع تعهمبوتهمن إرلم عوعأنتهبم مم ب‬ ‫عياَ أعميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عح م‬
‫سـَآَعءلهبوعن ربـَره عوباًلعبرعحـَاَعم إرمن ع‬
‫اـَ‬ ‫اـَ اًملـَرذ ب‬
‫ي تع ع‬ ‫سآَدء عواًتمهقواً ع‬ ‫ث رمبنههعماَ ررعجاَلد عكثربيدراً عونر ع‬ ‫ق رمبنعهاَ عزبوعجعهاَ عوبع م‬ ‫س عواًرحعددة عوعخلع ع‬ ‫نعبف د‬
‫ه‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫صلربح لهكبم أبععمـَاَلهكبم عويعغرفـَبر لهكـَبم ذهنـَبوبعهكبم عوعمـَبن‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫عكاَعن ععلبيهكبم عرقربيدباَ‪ ُ.‬عياَ أميعهاَ اًلرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عوقبولبواً قبولد ع‬
‫سردبيدداً‪ ُ.‬يه ب‬
‫سبولعهه فعقعبد عفاَعز فعبودزاً ععرظبيدماَ‪ُ.‬‬
‫يهرطرع اع عوعر ه‬

‫شعر اًلههمورر همبحعدعثاَتهعهاَ عوهكـَـَمل‬


‫سلمعم عو م‬
‫صملىَ ا ععلعبيره عو ع‬
‫ي همعحممدد ع‬
‫ي عهبد ه‬ ‫ب اع‪ِ،‬هلل عوعخبيعر اًبلعهبد ر‬‫ث ركعتاَ ه‬ ‫ق اًبلعحردي ر‬ ‫أعمماَ بعبعهد؛ُ فعإ رمن أع ب‬
‫صعد ع‬
‫م‬
‫ضللدة رفي اًلناَرر‪ُ.‬‬‫ع‬ ‫ع‬ ‫ه‬
‫ضللة عوكمل ع‬ ‫ق‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫همبحعدثعدة بربدععةق عوهكمل بربدععدة ع‬

‫ساَدن إرعلىَ يعبورم اًللدبيرن‪ُ.‬‬ ‫عاًللمههمم ع‬


‫صلل عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آلرره عو ع‬
‫صبحبرره عوعمبن تعبرععههبم برإ ربح ع‬

‫‪Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...‬‬

‫‪Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan‬‬
‫‪jama’ah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena iman dan‬‬
‫‪taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.‬‬

‫‪Jamaah Jum’at yang berbahagia ...‬‬

‫‪Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan‬‬
‫‪menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang‬‬
‫‪dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan‬‬
‫‪lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga‬‬
‫‪sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan‬‬
‫‪kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari‬‬
‫‪hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.‬‬

‫‪Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah men-syari’atkan agamaNya‬‬
‫‪hanya sebagai petunjuk bagi ummat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di‬‬
‫‪akhirat saja. Padahal Allah mensyari’atkan agama ini juga untuk menunjuki manusia‬‬
‫‪dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.‬‬
Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , ia
berkata:

‫سنعةد عوقرعناَ عععذاً ع‬


ُ.‫ب اًلمناَرر‬ ‫ عربمعناَ آترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬:n ‫عكاَعن أعبكثعهر هدععاَرء اًلنمبرلي‬
‫سنعةد عورفي اًلْرخعررة عح ع‬

“Sesungguhnya do’a yang sering diucapkan Nabi adalah, “Wahai Tuhan Kami’
karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari
siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari, Kitabud Da’awat, Bab Qaulun Nabi Rabbana
Aatina fid Dunya Hasanah, no. Hadist 6389, II/191).

Ma'asyirol Muslimin a’azza kumullah ...

Allah dan RasulNya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam
kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari penghidupan. Tapi sebaliknya, sebab-sebab
mendapat rizki telah diatur dan dijelaskan. Sekiranya ummat ini mau memahami dan
menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan mencapai jalan-jalan untuk
mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit
dan bumi. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami ingin menjelaskan tentang
berbagai sebab di atas dan meluruskan pemahaman yang salah dalam usaha mencari
rizki .

Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...

Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun)


dan taubat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nuh yang berkata kepada
kaumnya:

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampunlah kepada Tuhanmu’,


sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan
kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan
untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
(Nuh: 10-12)

Yang dimaksud istighfar dan taubat di sini bukan hanya sekedar diucap di lisan
saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam
perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah
sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun)
dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”

Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-
Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah
dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa
yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat
taubatnya telah sempurna.

Begitu pula Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari
setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah,
yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:

1. Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.


2. Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.
3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu
ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi)
hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had
(hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf
kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (surat Nuh: 10-12) berkata: “Maknanya, jika
kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya, niscaya Ia akan
memperbanyak rizki kalian, Ia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit,
mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
melimpahkan air susu, memperbanyak harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan
kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta
mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.

Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata: “Ada


seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka
beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain mengadu kepadanya
tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang
lain lagi berkata kepadanya, ’Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’
maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi
mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan
(pula),’Beristighfarlah kepada Allah!.

Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...

Kemudian di ayat yang lain Allah yang menceritakan tentang seruan Hud kepada
kaumnya agar beristighfar.

“Dan (Hud berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu


bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia kan menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu
dan Dia akan membawa kekuatan kepada kekuatanmu dan juga janganlah kamu
berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan:
“Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sehingga dosa-dosa yang
lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintah-kan bertaubat untuk waktu yang mereka
hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya,
melancarkan urusannya dan menjaga keadaanya.

Dan pada surat Hud di ayat yang lain Allah juga berfirman:

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-
Nya (jika kamu mengerjakan yang demikian (niscaya Dia akan memberi kenikmatan
yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan Dia
akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan)
keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa
hari kiamat.” (Hud: 3).

Imam Al-Qurthubi mengatakan:”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan
memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki
dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang
dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.”

Ma'asyirol Muslimin A’azza kumullah ...

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i
Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:

ُ.‫ب‬ ‫ق عمبخعردجاَ عوعرعزقعهه رمبن عحبي ه‬


‫ث لع يعبحتع ر‬
‫س ه‬ ‫ضبي د‬ ‫عمبن أعبكثععر باًرل ب‬
‫ستربغعفاَعر عجعععل اه رمبن هكلل عهرم فععردجاَ عورمبن هكلل ر‬

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya


Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap
kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang
tidak disangka-sangka.” (Dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (AlMustadrak, 4/262) dan
Syaikh Ahmad Muhammad Syaikh (Hamisy Al-Musnad, 4/55)

Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...

Dalam hadist yang mulia ini, Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang dapat
dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang
Maha Esa, Yang memiliki kekuatan akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-
sangka dan tidak pernah diharapkan serta tidak pernah terbersit dalam hati.

Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia bersegera untuk
memperbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaklah
kita selalu waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan.
Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.

‫ُ أعقهبوهل قعبولربي عهعذاً عوأع ب‬.‫ت عواًللذبكرر اًبلعحركبيرم‬


‫ستعبغفرهر‬ ‫ِهلل عونعفعععنربي عوإرمياَهكبم برعماَ فربيره رمعن باًلْعياَ ر‬،‫عباَعرعك اه لربي عولعهكبم رفي اًبلقهبرآرن اًبلععرظبيرم‬
ُ.‫ِهلل إرنمهه ههعو اًبلعغفهبوهر اًلمررحبيهم‬،‫ستعبغفرهربوهه‬ ‫سلررمبيعن رمبن هكلل عذبن د‬
‫ُ عفاَ ب‬.‫ب‬ ‫ساَئررر اًبلهم ب‬
‫اع اًبلععرظبيعم لربي عولعهكبم عولر ع‬

Khutbah kedua:
‫ت أعبععماَلرنعـَـَاَ‪ِ،‬هلل عمـَبن يعبهـَردره اهـَـَ فعلع‬
‫سـَيلعئاَ ر‬ ‫شهربورر أعبنفه ر‬
‫سـَعناَ عورمـَـَبن ع‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ستعرعبينههه عونع ب‬
‫ه‬
‫سـَـَبولهه‪ُ.‬‬ ‫ع‬
‫شـَـَعههد أمن همعحممـَـَدداً ععببـَـَهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لـَـَهه عوأ ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن لع إرلهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫ي لهه‪ ُ.‬عوأ ب‬ ‫ضلربل فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬
‫أعمماَ بعبعهد؛ُ‬

‫‪Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...‬‬

‫‪Kembali pada khutbah yang kedua ini, saya mengajak diri saya dan jama’ah untuk‬‬
‫‪senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan sesungguhnya.‬‬

‫‪Kemudian dari khutbah yang pertama tadi dapat kita tarik kesimpulan sebagai‬‬
‫‪berikut:‬‬

‫‪1.‬‬ ‫‪Bahwasannya telah disyari’atkan oleh Allah kepada kita untuk senantiasa ber-‬‬
‫‪istighfar dan taubat dengan lisan yang disertai perbuatan. Karena istighfar dan taubat‬‬
‫‪dengan lisan semata tanpa disertai dengan perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.‬‬
‫‪2.‬‬ ‫‪Bahwasannya dengan istighfar dan taubat, Allah akan mengampuni dosa-dosa‬‬
‫‪hambaNya, Allah akan menurunkan hujan yang lebat, Allah akan memperbanyak harta‬‬
‫‪dan anak-anak, Allah akan menjadikan untuknya kebun yang di dalamnya mengalir‬‬
‫‪sungai-sungai. Jadi dengan istighfar dan taubat, Allah akan membukakan pintu-pintu‬‬
‫‪rizki dan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi.‬‬

‫‪Karena itu, marilah pada kesempatan ini kita berdo’a kepada Allah, memohon‬‬
‫‪ampunan atas segala dosa dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai ber‬‬
‫‪istighfar agar Allah senantiasa membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi.‬‬

‫صـَلل ععلعـَـَىَ همعحممـَـَدد‬‫سـَـَلربيدماَ‪ ُ.‬عاًللمههـَـَمم ع‬


‫سـَـَللهمبواً تع ب‬‫صـَملبواً ععلعبيـَـَره عو ع‬ ‫صملبوعن عععلىَ اًلنمبرلي‪ِ،‬هلل عياَ أعميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمنهبواً ع‬ ‫إرمن اع عوعملعئرعكتعهه يه ع‬
‫ت عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوعععلىَ آرل إرببعراًرهبيعم‪ِ،‬هلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‪ ُ.‬عوعباَرربك ععلعـَـَىَ همعحممـَـَدد عوععلعـَـَىَ آرل همعحممـَـَدد‬ ‫ي‬‫م‬
‫عوعععلىَ آرل همعحممدد عكعماَ ع ب ع‬
‫ل‬‫ص‬
‫ت عواًبلهمـَـَبؤرمنربيعن‬ ‫سـَـَلررمبيعن عواًبلهم ب‬
‫سـَـَلرعماَ ر‬ ‫ب‬
‫ت ععلـَعـَىَ إرببعراًرهبيـَـَعم عوععلعـَىَ آرل إرببعراًرهبيـَـَعم‪ِ،‬هلل إرنـَمـَعك عحرمبيـَـَقد عمرجبيـَـَقد‪ ُ.‬عاًللمههـَـَمم اًغفرـَـَبر لربلهم ب‬ ‫عكعماَ عباَعربك ع‬
‫ت‪ُ.‬‬ ‫واً‬‫م‬ ‫ع‬ ‫ل‬‫اً‬ ‫و‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ء‬ ‫ياَ‬ ‫ح‬‫ع‬
‫عواًبلهمبؤرمعناَ ر ب ع ر ر ه ب ع ب ع ر‬
‫ب‬ ‫ب‬ ‫ل‬ ‫ب‬
‫اً‬ ‫ت‬

‫‪Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu bertaubat dan‬‬
‫‪beristighfar, dan mudahkanlah rizki -rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta‬‬
‫‪jagalah keadaan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha‬‬
‫‪Mengabulkan do’a.‬‬

‫‪Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba Mu yang pandai beristighfar.‬‬


‫‪Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akherat. Sesungguhnya‬‬
‫‪Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a. Wahai Dzat yang memiliki‬‬
‫‪keagungan dan kemuliaan.‬‬

‫شلر هكللره عماَ ععلربمعناَ رمبنهه عوعماَ لعبم نعبعلعبم‪ ُ.‬عاًللمههمم‬ ‫سأ علهعك رمعن اًبلعخبيرر هكللره عماَ ععلربمعناَ رمبنهه عوعماَ لعبم نعبعلعبم‪ِ،‬هلل عونعهعبوهذ برعك رمعن اًل م‬ ‫عاًللمههمم إرمناَ نع ب‬
‫س يعـَـَاَ عحـَـَمي يعـَـَاَ قعميـَـَبوهم يعـَـَاَ عذاً‬ ‫ب‬
‫ن‬ ‫ل‬ ‫ب‬
‫اً‬
‫ر ع ر ر‬ ‫و‬ ‫ن‬
‫ل‬ ‫ج‬ ‫ب‬
‫ل‬ ‫اً‬ ‫ع‬ ‫ة‬‫ع‬ ‫ق‬ ‫س‬
‫ع‬ ‫ع‬ ‫ف‬ ‫م‬
‫ناَ‬ ‫ع‬
‫ع‬ ‫ف‬
‫ب‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫واً‬
‫ع ر ع ب ر‬ ‫‪ِ،‬هلل‬‫ل‬‫ع‬ ‫ل‬ ‫ح‬ ‫ب‬
‫ل‬ ‫اً‬ ‫في‬ ‫ق‬
‫ل ر ر‬‫ز‬‫ب‬ ‫ر‬ ‫اًل‬ ‫ن‬‫ع‬ ‫م‬
‫ر‬ ‫ع‬
‫ناَ‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫س‬ ‫و‬
‫ر ع ب ر ب‬‫ع‬ ‫أ‬ ‫و‬ ‫ر‬ ‫ناَ‬‫م‬ ‫اًل‬ ‫ن‬
‫ع‬ ‫م‬‫ق ررعقاَبع ع ر‬
‫ناَ‬ ‫أعبعتر ب‬
‫سـَـَنعةد‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫سععاَعرههبم عوآرمبنههبم فربي أبوطاَنررهبم‪ ُ.‬عربمعناَ آترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬ ‫ع‬
‫صأ ب‬ ‫ع‬
‫سلررمبيعن عوأبررخ ب‬ ‫ب‬
‫صلربح أبحعواًعل اًلهم ب‬‫ع‬ ‫ع‬
‫اًبلعجلعرل عوباًرلبكعراًرم‪ ُ.‬عاًللههعم أ ب‬
‫م‬
‫ب اًلمناَرر‪ُ.‬‬ ‫سنعةد عوقرعناَ عععذاً ع‬ ‫عورفي اًلْرخعررة عح ع‬

‫شآَرء عواًبلهمنعكرر عواًبلبعبغري يعرعظههكبم لعععلمهكبم‬


‫ئ رذي اًبلقهبرعبىَ عويعبنعهىَ ععرن اًبلفعبح ع‬ ‫رععباَعد ار‪ِ،‬هلل إرمن اع يعأبهمهرهكبم رباَبلععبدرل عوباًرلبح ع‬
‫ساَرن عورإيعتآَ ر‬
‫ب‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ه‬
‫ضلرره يهبعرطكبم عولرذكهر ار أكبعهر‪ُ.‬‬ ‫ع‬
‫سألبوهه رمبن ف ب‬ ‫ه‬ ‫ع‬ ‫ه‬ ‫ع‬
‫شكهربوهه ععلىَ نرععرمره يعرزبدكبم عواً ب‬ ‫ه‬ ‫تععذمكهربوعن‪ ُ.‬عفاَبذهكهرواً اع اًبلععرظبيعم يعبذهكبرهكبم عواً ب‬
Cinta Dan Benci Karena Allah

Oleh: Ramaisha Ummu Hafidz

‫ضلِل للهه‬ ‫ لمهن يلههضد اه فللل هم ض‬،َ‫ت ألهعلماَلضلنا‬ ‫إضلِن اهللحهملد ضلِلض نلهحلمهدهه لونلهستلضعهينههه لونلهستلهغفضهرهه لونلهعوُهذ ضباَلض ضمهن هشهرهوضر ألهنفهضسلناَ لوضمهن لسييلئاَ ض‬
.‫ك للهه لوألهشهلهد أللِن هملحلِمددا لعهبهدهه لولرهسهوُلهه‬
‫ه‬ ‫ لوألهشهلهد ألهن لل إضللهل إضللِ اه لوهحلدهه لل لشضرهي ل‬.‫ي للهه‬ ‫ضلضهل فللل لهاَضد ل‬ ‫لولمهن يه ه‬
‫ي لخللقلهكهم يمهن نلهف س‬
‫س‬ ‫س اتلِقههوُا لربلِهكهم اللِضذ ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ لياَ أيَيلهاَ اللِناَ ه‬.‫ق تهلقاَتضضه لولل تلهمهوُتهلِن إضللِ لوأنتههم يَمهسلضهمهوُلن‬ِ‫لياَ أليَيهاَ ل اللِضذهيلن لءالمهنوُا اتلِهقوُا ال لح ل‬
‫ي تللسآَلءلههوُلن بضضه لوهاللهرلحاَلم إضلِن ال لكاَلن لعللهيهكهم‬ ‫ث ضمهنههلماَ ضرلجاَلد لكثضهيدرا لونضلسآَدء لواتلِهقوُا ال اللِضذ ه‬ ِ‫ق ضمهنلهاَ لزهولجلهاَ لوبل ل‬ ‫لواضحلدسة لولخلل ل‬
‫ه‬
‫صلضهح للهكهم أهعلماَللهكهم لويلهغفضهر للهكهم ذنههوُبلهكهم لولمهن يهضطضع ال لولرهسهوُللهه‬ ‫ل‬ ‫ يه ه‬.‫ لياَ أليَيلهاَ الضذهيلن لءالمهنوُا اتلِهقوُا ال لوقههوُلهوُا قلهوُلد لسضدهيددا‬.َ‫لرقضهيدبا‬
‫ه‬ ِ‫ل‬
.َ‫فلقلهد لفاَلز فلهوُدزا لعضظهيدما‬
‫ه‬ ِ‫ل‬
‫صلىَّ ا لعللهيضه لولسللم لولِشلر الهموُضر همهحلدلثاَتهلهاَ لوهكلِل‬ ِ‫ل‬ ‫ي هلهد ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫أللِماَ بلهعهد؛ُ فلإ ضلِن أل ه‬
‫ي هملحلِمسد ل‬ ‫ لولخهيلر الهلهد ض‬،‫ا‬ ‫ب ل‬ ‫ث ضكلتاَ ه‬‫ق اللحضدي ض‬ ‫صلد ل‬
.‫ضللللسة ضفيِ اللِناَضر‬ ‫ضللللةة لوهكلِل ل‬ ‫همهحلدثلسة بضهدلعةة لوهكلِل بضهدلعسة ل‬
‫ل‬
.‫صهحبضضه لولمهن تلبضلعهههم بضإ ضهحلساَسن إضلىَّ يلهوُضم اليدهيضن‬ ‫صيل لعللىَّ هملحلِمسد لولعللىَّ آلضضه لو ل‬ ‫لالللِههلِم ل‬

Jamaah Jum’ah rahimakumullah


Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Azza wajalla, yang telah
menganugerakan rasa cinta dan benci dihati para makhlukNya. Dan hanya Dia pulalah
yang berhak mengatur kepada siapakah kita harus mencintai dan kepada siapa pula
kita membenci.

Jama’ah sidang Jum’ah rahimakumullah


Cinta yang paling tinggi dan paling wajib serta yang paling bermanfaat mutlak adalah
cinta kepada Allah Ta’ala semata, diiringi terbentuknya jiwa oleh sikap hanya
menuhankan Allah Ta’ala saja. Karena yang namanya Tuhan adalah sesuatu yang hati
manusia condong kepadanya dengan penuh rasa cinta dengan meng-agungkan dan
membesarkannya, tunduk dan pasrah secara total serta menghamba kepadaNya. Allah
Ta’ala wajib dicintai karena DzatNya sendiri,sedangkan yang selain Allah Ta’ala
dicintai hanya sebagai konsekuensi dari rasa cinta kepada Allah Ta’ala.

Jamah Jum’ah yang berbahagia.


Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda:

ُ.(‫ُ )رواًه اًلترمذي‬.‫ا‬


‫ض رفي ر‬ ‫أعبوثع ه‬
‫ق هععرىَ باًرلبيعماَرن اًبلهحمب رفي ار عواًبلبهبغ ه‬

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
(HR.At Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:

‫ض رملر عوأعبع ع‬
‫طىَ رملر عوعمنععع رملر فعقعرد اً ب‬
ُ.(‫ُ )رواًه أبو داًود واًلترمذي وقاَل حديث حسن‬.‫ستعبكعمعل باًرلبيعماَعن‬ ‫ب رملر عوأعببعغ ع‬
‫عمبن أععح م‬

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena
Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR.
Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

Jamaah Jum’ah yang berbahagia.


Dari dua hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan
dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu
yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa
yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan
kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi
kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada
orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.

Jamaah Jum’ah yang dimuliakan Allah.


Dalam pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai
karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang –orang
yang beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang mereka
lakukan.
Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah
mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang
mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya
dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan
kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan
dengan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya,
sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara
keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)

Jamaah Jum’ah yang berbahagia……


Jadi, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta pengikut mereka di seluruh penjuru
dunia adalah orang-orang yang lebih berhak untuk kita cintai (meskipun kita tidak
punya hubungan apa-apa dengan mereka), dari pada orang-orang yang dekat dengan
kita seperti tetangga kita, orang tua kita, anak-anak kita sendiri, saudara-saudara kita,
ataupun saudara kita yang lain, apabila mereka itu membenci, memusuhi dan
menentang Allah dan RasulNya dan tidak melakukan ketaatan kepada Allah dan
RasulNya maka kita tidak berhak untuk mencintai melebihi orang-orang yang berjalan
di atas al-haq dan orang yang selalu taat kepada Allah dan rasulNya. Demikian juga
kecintaan dan kebencian yang tidak disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada
kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Dan hal ini bermacam-
macam jenisnya di antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh
harta kekayaan, derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran,
kekeluargaan dan lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah
digariskan oleh Allah Ta’ala

Jamaah Jum’ah yang berbahagia ...


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Bahwasannya seorang mukmin wajib
dicurahkan kepadanya kecintaan dan kasih sayang meskipun mendhalimi dan
menganggu kamu, dan seorang kafir wajib dicurahkan kepadanya kebencian dan
permusuhan meskipun selalu memberi dan berbuat baik kepadamu.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ...


Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah, marilah kita
berlindung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati, supaya hati kita dipatri dengan
kecintaan dan kebencian yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Karena kadang
orang-orang yang menentang Allah di sekitar kita lebih baik sikapnya terhadap kita
dari pada orang-orang yang beriman kepada Allah, sehingga kita lupa dan lebih
mencintai orang-orang kafir dari pada orang-orang yang beriman. Naudzubilla min
dzalik.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia ...
Dalam pandangan ahlusunnah wal jamaah kadar kecintaan dan kebencian yang harus
dicurahkan terbagi menjadi tiga kelompok:

1. Orang-orang yang dicurahkan kepadanya kasih sayang dan kecintaan secara


utuh. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya,
melaksanakan ajaran Islam dan tonggak-tonggaknya dengan ilmu dan
keyakinan yang teguh . Mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan
segala perbuatan dan ucapannya untuk Allah semata. Mereka adalah orang-
orang yang tunduk lagi patuh terhadap perintah-perintah Allah dan RasulNya
serta menahan diri dari segala yng dilarang oleh Allah dan Rasulnya. Mereka
adalah orang-orang yang mencurahkan kecintaan, kewala’an, kebencian dan
permusuhan karena Allah ta’ala serta mendahulukan perkataan Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam atas yang lainnya siapapun orangnya.
2. Orang-orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lainnya.
Mereka adalah orang yang mencampuradukan antara amalan yang baik dengan
amalan yang buruk, maka mereka dicintai dan dikasihani dengan kadar
kebaikan yang ada pada diri mereka sendiri, dan dibenci serta dimusuhi sesuai
dengan kadar kejelekan yang ada pada diri mereka. Dalam hal ini kita harus
dapat memilah-milah, seperti muamalah Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam terhadap seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Himar. Saat itu
Abdulllah bin Himar dalam keadaan minum khamr maka dibawalah dia
kehadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, tiba-tiba sorang laki-laki
melaknatnya kemudian berkata: “betapa sering dia didatangkan kehadapan
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam keadaan mabuk.” Rasulullah
bersabda: “janganlah engkau melaknatnya. Sesungguhnya dia adalah orang
yang cinta kepada Allah dan RasulNya (Shohih Al-Bukhari kitab Al-Hudud).
Pada hal jama’ah yang berbahagia, dalam riwayat Abu Dawud dalam kitab Al-
Asyribah juz 4 yang dishahihkan oleh Al-Bani dalam shahih Al-Jami Ash
Shaghir hadits nomer 4967 Rasulullah n melaknat khamr, orang yang
meminumnya, orang yang menjualnya, orang yang memerasnya dan orang
yang minta diperaskan, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan
khamr kepadanya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ... adapun yang ketiga

3. Orang–orang yang dicurahkan kebencian dan permusuhan kepadanya secara


utuh.
Mereka adalah orang yang tidak beriman kepada rukun iman dan orang yang
mengingkari rukun Islam baik sebagian atau keseluruhan dengan rasa mantap,
orang yang mengingkari asma’ wa sifat Allah ta’ala, atau orang yang
meleburkan diri dengan ahlu bida’ yang sesat dan menyesatkan, atau orang
yang melakukan hal-hal yang membatalkan keIslamannya. Terhadap orang ini
wajib bagi kita untuk membenci secara utuh, karena mereka adalah musuh
Allah dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam.

Sidang Jumah yang dimuliakan Allah


Ada beberapa faktor yang dapat mengkokohkan kecintaan dijalan Allah, antara lain:
1. Memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintai karena Allah
ta’ala. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallaahu anhu, bahwa ia mendengar
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

‫صاَرحبعهه فعبليعأب ر‬
ُ.(712 ‫ِهلل‬،‫ُ )رواًه اًبن اًلمباَرك في اًلزهد‬.َ‫ت فربي عمبنرزلرره فعبليهبخبربرهه أعنمهه يهرحمبهه رفي ار تعععاَعلى‬ ‫ب أععحهدهكبم ع‬
‫إرعذاً أععح م‬

“Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia datangi
rumahnya dan mengkhabarinya bahwa ia mencintainya (seorang teman tadi) kerena
Allah Ta’ala.” (HR.Ibnul Mubarok dalam kitab Az-Zuhdu, hal 712 dengan sanad
shohih)

2. Saling memberi hadiah


Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah Radhiallaahu anhu:

ُ.(‫ِهلل وسنده حسن‬،6/169 ‫ِهلل‬،‫ واًلبيهقي‬120 ‫ُ )رواًه اًلبخاَري في اًلدب اًلمفرد‬.ً‫تععهاَعدبواً تععحاَمببوا‬

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-
Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod, hal 120 dan Baihaqi 6/169 dengan sanad hasan)

3. Saling mengunjungi
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah .

ُ.(‫ِهلل سنده صحيح‬،‫ُ )رواًه اًلطبراًني واًلبيهقي‬.َ‫عياَ أععباَ ههعربيعرعة!َ هزبر رغ طدباَ تعبزعدبد هح طدبا‬

“Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik tidak terlalu sering dan
terlalu jarang, niscaya akan bertambah sesuatu dengan kecintaan.” (HR.Thabrani dan
Baihaqi dengan sanad yang shahih)

4. Saling menyebarkan salam.

‫سلععم‬ ‫ِهلل أعبف ه‬،‫شبيدء إرعذاً فعععبلتههمبوهه تععحاَبعببتهبم‬


‫شواً اًل م‬ ‫ِهلل أععولع أعهدملهكبم عععلىَ ع‬،ً‫لع تعبدهخلهبوعن اًبلعجنمةع عحمتىَ تهبؤرمنهبواً عولع تهبؤرمنهبواً عحمتىَ تععحاَمببوا‬
ُ.(2/35 ‫ِهلل‬،‫ُ )رواًه مسلم‬.‫بعبينعهكبم‬

“Tidaklah kalian masuk Surga sehingga kalian beriman, tidakkah kalian beriman
sehingga kalian saling mencintai, Maukah kamu aku tunjukkan tentang sesuatu yang
apabila kalian melakukan-nya akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara
kalian.” (HR. Muslim 2/35).

5. Meninggalkan dosa-dosa.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

‫ُ )رواًه اًلبخاَري في اًلدب‬.َ‫ب يهبحردثههه أععحهدههعما‬


‫ق بعبينعههعماَ إرلم برعذبن د‬ ‫عماَ تععواًمد اًبثعناَرن رفي ار ععمز عوعجمل أعبو رفي باًرل ب‬
‫سلعرم فعيعبفهر ه‬
ُ.(‫ وهو حديث حسن‬84 ‫اًلمفرد ص‬

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah atau karena Islam kemudian
berpisah kecuali salah satu dari ke duanya telah melakukan dosa.” (HR. Al-Bukhari
dalam kitabnya Al-Adab AlMufrad hal.84)
6. Meninggalkan perbuatan ghibah (membicarakan sesuatu tentang saudaranya di saat
tidak ada, dan jika saudaranya tersebut mendengarkan dia marah-marah atau tidak
suka) Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan
(ghibah) sebagian yang lain,sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tubat lagi Maha
Penyayang.” (Al-Hujurat:12)

‫ُ أعقهبوهل قعبولربي عهعذاً عوأع ب‬.‫ت عواًللذبكرر اًبلعحركبيرم‬


‫ستعبغفرهر‬ ‫ِهلل عونعفعععنربي عوإرمياَهكبم برعماَ فربيره رمعن باًلْعياَ ر‬،‫عباَعرعك اه لربي عولعهكبم رفي اًبلقهبرآرن اًبلععرظبيرم‬
ُ.‫ِهلل إرنمهه ههعو اًبلعغفهبوهر اًلمررحبيهم‬،‫ستعبغفرهربوهه‬ ‫سلررمبيعن رمبن هكلل عذبن د‬
‫ُ عفاَ ب‬.‫ب‬ ‫ساَئررر اًبلهم ب‬
‫اع اًبلععرظبيعم لربي عولعهكبم عولر ع‬

Khutbah kedua

‫ِهلل عمبن يعبهردره اه فعلع‬،َ‫ت أعبععماَلرنعا‬


‫سيلعئاَ ر‬‫سعناَ عورمبن ع‬‫شهربورر أعبنفه ر‬
‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬‫ستعرعبينههه عونع ب‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ه‬
ُ.‫سبولهه‬ ‫ع‬
‫شعههد أمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شرربيعك لهه عوأ ب‬ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫شعههد أبن ل إرلهع إرل اه عوبحعدهه ل ع‬ ‫ع‬
‫ُ عوأ ب‬.‫ي لهه‬ ‫ع‬ ‫ضلربل فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬
ُ.ً‫سلربيدماَ عكثربيدرا‬‫سلمعم تع ب‬
‫صملىَ اه ععلعبيره عو ع‬ ‫ع‬

Jama’ah Jum’at yang berbahagia ...


Kewajiban saling mencintai dijalan Allah bukanlah suatu perintah yang tidak
membawa hasil apa-apa. Tetapi Allah memerintahkan sesuatu itu pasti ada buahnya
dan hasilnya. Buah dan hasil dari saling mencintai di jalan Allah di antaranya adalah:

1. Mendapatkan kecintaan Allah.


2. Mendapatkan Kemuliaan dari Allah.

3. Mendapatkan naungan Arsy Allah di hari kiamat, pada saat tidak ada naungan
kecuali naungan Allah.

4. Merasakan manisnya iman.

5. Meraih kesempurnaan iman.

6. Masuk Surga

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia


Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang tunduk patuh hanya kepada
Allah. Semoga kecintaan dan kebencian kita selalu sesuai dengan apa yang telah
disyariatkan oleh Allah dan RasulNya n. Apalagi yang kita harapkan kecuali
mendapatkan kecintaan dari Allah, mendapatkan kemuliaan dari Allah, mendapatkan
naungan ‘Arsy Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, meraih
manisnya Iman, mendapatkan kesempurnaan iman dan masuk ke dalam SurgaNya
yang tinggi. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati kita. Amiin.
‫صلل عععلىَ همعحممدد‬ ‫سلربيدماَ‪ ُ.‬عاًللمههمم ع‬
‫سللهمبواً تع ب‬ ‫صملبواً ععلعبيره عو ع‬ ‫صملبوعن عععلىَ اًلنمبرلي‪ِ،‬هلل عياَ أعميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمنهبواً ع‬ ‫إرمن اع عوعملعئرعكتعهه يه ع‬
‫ت‪ِ،‬هلل‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬
‫ت باًلبحعياَرء رمنههبم عوباًلبمعواً ر‬ ‫سلرعماَ ر‬ ‫ب‬
‫سلررمبيعن عواًلهم ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫م‬
‫صبحبرره أبجعمرعبيعن‪ ُ.‬عاًللههمم اًغفربر لرلهمبؤرمنربيعن عواًلهمبؤرمعناَ ر‬
‫ت عواًلهم ب‬ ‫ع‬ ‫عوعععلىَ آلرره عو ع‬
‫سبعقهبوعناَ براَبرلبيعماَرن عولع تعبجععبل فربي قهلهبوبرعناَ رغلطد لللمرذبيعن عءاًعمنهبواً‬ ‫شبيدء قعردبيقر‪ ُ.‬عربمعناَ اًبغفربر لععناَ عورلبخعواًنرعناَ اًلمرذبيعن ع‬ ‫إرنمعك عععلىَ هكلل ع‬
‫د‬
‫سنة عورفي‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬ ‫ع‬
‫صغاَدراً‪ ُ.‬عربمناَ آترناَ رفي اًلمدنعياَ عح ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ع‬
‫ف مررحبيقم‪ ُ.‬عربمناَ اًغفربر لناَ عولرعواًلرعدبيناَ عواًبرعحبمههعماَ عكعماَ عربمعياَناَ ر‬ ‫عربمعناَ إرنمعك عرهءبو ق‬
‫ب‬‫سلربيعن عواًبلعحبمهد رملر عر ل‬ ‫سلعقم عععلىَ اًبلهمبر ع‬ ‫صفهبوعن‪ِ،‬هلل عو ع‬‫ب اًبلرعمزرة ععمماَ يع ر‬ ‫سببعحاَعن عربلعك عر ل‬ ‫ب اًلمناَرر‪ ُ.‬ه‬‫سنعةد عوقرعناَ عععذاً ع‬ ‫اًلْرخعررة عح ع‬
‫اًبلععاَلعرمبيعن‪ُ.‬‬
‫شآَرء عواًبلهمنعكرر عواًبلبعبغري يعرعظههكبم لعععلمهكبم‬ ‫ئ رذي اًبلقهبرعبىَ عويعبنعهىَ ععرن اًبلفعبح ع‬ ‫ساَرن عورإيعتآَ ر‬ ‫ب‬
‫رععباَعد ار‪ِ،‬هلل إرمن اع يعأهمهرهكبم رباَبلععبدرل عوباًرلبح ع‬
‫ضلرره يهبعرطهكبم عولعرذبكهر ار أعبكبعهر‪ُ.‬‬ ‫تععذمكهربوعن‪ ُ.‬عفاَبذهكهرواً اع اًبلععرظبيعم يعبذهكبرهكبم عواً ب ب ه ر ب ب‬
‫ع‬ ‫ف‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫ل‬‫ع‬ ‫أ‬ ‫س‬

‫‪Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman Dan Akhlaq‬‬

‫‪Oleh: Hُ. Hartono Ahmad Jaiz‬‬

‫ت أعبععماَلرنعاَ‪ِ،‬هلل عمبن يعبهردره اه فعلع‬ ‫شهربورر أعبنفه ر‬


‫سعناَ عورمبن ع‬
‫سيلعئاَ ر‬ ‫ستعبغفرهربه عونعهعوهذ رباَلر رمبن ه‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمهدهه عونع ب‬
‫ستعرعبينههه عونع ب‬
‫شعههد أعمن همعحممدداً ععببهدهه عوعر ه‬
‫سبولههه‪ ُ.‬عياَ‬ ‫شرربيعك لعهه عوأع ب‬ ‫شعههد أعبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫ي لعهه‪ ُ.‬عوأع ب‬
‫ضلربلهه فعلع عهاَرد ع‬ ‫ضمل لعهه عوعمبن يه ب‬ ‫هم ر‬
‫ي برتعبقعوىَ ار فعقعبد عفاَعز اًبلهمتمقهبوعن‪ ُ.‬عقاَعل تعععاَعلىَ‪ :‬عياَ أعميهاَ ع اًلمرذبيعن عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عح م‬
‫ق تهعقاَترره عولع‬ ‫صبيهكبم عوإرمياَ ع‬‫س أهبو ر‬
‫أعميعهاَ اًلمناَ ه‬
‫ق رمبنعهاَ عزبوعجعهاَ‬ ‫س عواًرحعددة عوعخلع ع‬ ‫ي عخلعقعهكبم لمبن نعبف د‬ ‫سلرهمبوعن‪ ُ.‬عقاَعل تعععاَعلىَ‪ :‬عياَ أعميعهاَ اًلمناَ ه‬
‫س اًتمقهبواً عربمهكهم اًلمرذ ب‬ ‫تعهمبوتهمن إرلم عوعأنتهبم مم ب‬
‫سآَعءلهبوعن برره عوباًلعبرعحاَعم إرمن اع عكاَعن ععلعبيهكبم عرقربيدباَ‪ ُ.‬عياَ أعميعهاَ اًلمرذبيعن‬ ‫سآَدء عواًتمهقواً اع اًلمرذ ب‬
‫ي تع ع‬ ‫ث رمبنههعماَ ررعجاَلد عكثربيدراً عونر ع‬‫عوبع م‬
‫صلربح لعهكبم أعبععماَلعهكبم عويعبغفربر لعهكبم هذنهبوبعهكبم عوعمبن يهرطرع اع عوعر ه‬
‫سبولعهه فعقعبد عفاَعز فعبودزاً‬ ‫عءاًعمهنواً اًتمهقواً اع عوقهبولهبواً قعبولد ع‬
‫سردبيدداً‪ ُ.‬يه ب‬
‫ععرظبيدماَ‪ُ.‬‬

‫شعر اًلههمورر همبحعدعثاَتهعهاَ عوهكمل‬‫سلمعم عو م‬


‫صملىَ ا ععلعبيره عو ع‬ ‫ي همعحممدد ع‬
‫ي عهبد ه‬ ‫ب اع‪ِ،‬هلل عوعخبيعر اًبلعهبد ر‬ ‫ق اًبلعحردي ر‬
‫ث ركعتاَ ه‬ ‫أعمماَ بعبعهد؛ُ فعإ رمن أع ب‬
‫صعد ع‬
‫صبحبرره عوعمبن‬ ‫سللبم عععلىَ نعبريلعناَ همعحممدد عوعععلىَ آلرره عو ع‬
‫صلل عو ع‬‫ضلعلعدة رفىَ اًلمناَرر‪ ُ.‬عاًللمههمم ع‬‫ضلعلعةق عوهكمل ع‬ ‫همبحعدثعدة بربدععةق عوهكمل بربدععدة ع‬
‫ساَدن إرعلىَ يعبورم اًبلقرعياَعمرة‪ُ.‬‬
‫تعبرععههبم برإ ربح ع‬

‫‪Ada gelombang dahsyat yang menimpa ummat Islam sedunia, yaitu gelombang‬‬
‫‪budaya jahiliyah yang merusak akhlaq dan aqidah manusia yang disebarkan lewat televisi‬‬
‫‪dan media lainnya. Gelombang itu pada hakekatnya lebih ganas dibanding senjata-senjata‬‬
‫‪nuklir yang sering dipersoalkan secara internasional. Hanya saja gelombang dahsyat itu‬‬
‫‪karena sasarannya merusak akhlaq dan aqidah, sedang yang paling menjunjung tinggi‬‬
‫‪akhlaq dan aqidah itu adalah Islam, maka yang paling prihatin dan menjadi sasaran‬‬
‫‪adalah ummat Islam. Hingga, sekalipun gelombang dahsyat itu telah melanda seluruh‬‬
‫‪dunia, namun pembicaraan hanya sampai pada tarap keluhan para ulama dan Muslimin‬‬
‫‪yang teguh imannya, serta sebagian ilmuwan yang obyektif.‬‬

‫‪Gelombang dahsyat itu tak lain adalah budaya jahiliyah yang disebarkan lewat‬‬
‫‪aneka media massa, terutama televisi, VCD/ CD, radio, majalah, tabloid, koran,dan buku-‬‬
‫‪buku yang merusak akhlak.‬‬

‫‪Dunia Islam seakan menangis menghadapi gelombang dahhsyat itu. Bukan hanya‬‬
‫‪di Indonesia, namun di negara-negara lain pun dilanda gelombang dahsyat yang amat‬‬
‫‪merusak ini.‬‬
Di antara pengaruh negatif televisi adalah membangkitkan naluri kebinatangan
secara dini... dan dampak dari itu semua adalah merosotnya akhlak dan kesalahan yang
sangat mengerikan yang dirancang untuk menabrak norma-norma masyarakat. Ada
sejumlah contoh bagi kita dari pengkajian Charterz (seorang peneliti) yang berharga
dalam masalah ini di antaranya ia berkata: “Sesungguhnya pembangkitan syahwat dan
penayangan gambar-gambar porno, dan visualisasi (penampakan gambar) trik-trik porno,
di mana sang bintang film menanamkan rasa senang dan membangkitkan syahwat bagi
para penonton dengan cara yang sangat fulqar bagi kalangan anak-anak dan remaja itu
amat sangat berbahaya.”

Peneliti ini telah mengadakan statistik kumpulan film-film yang ditayangkan


untuk anak-anak sedunia, ia mendapatkan bahwa:
 29,6% film anak-anak bertemakan seks
 27,4% film anak-anak tentang menanggulangi kejahatan
 15% film anak-anak berkisar sekitar percintaan dalam arti syahwat buka-bukaan.

Terdapat pula film-film yang menampilkan kekerasan yang menganjurkan untuk


balas dendam, memaksa, dan brutal.

Hal itu dikuatkan oleh sarjana-sarjana psikologi bahwa berlebihan dalam


menonton program-program televisi dan film mengakibatkan kegoncangan jiwa dan
cenderung kepada sifat dendam dan merasa puas dengan nilai-nilai yang menyimpang.
(Thibah Al-Yahya, Bashmat ‘alaa waladi/ tanda-tanda atas anakku, Darul Wathan,
Riyadh, cetakan II, 1412H, hal 28).

Jangkauan lebih luas

Apa yang dikemukakan oleh peneliti beberapa tahun lalu itu ternyata tidak
menjadi peringatan bagi para perusak akhlaq dan aqidah. Justru mereka tetap
menggencarkan program-programnya dengan lebih dahsyat lagi dan lebih meluas lagi
jangkauannya, melalui produksi VCD dan CD yang ditonton oleh masyarakat, dari anak-
anak sampai kakek- nenek, di rumah masing-masing. Gambar-gambar yang merusak
agama itu bisa disewa di pinggir-pinggir jalan atau dibeli di kaki lima dengan harga
murah. Video dan komputer/ CD telah menjadi sarana penyaluran budaya kaum jahili
untuk merusak akhlaq dan aqidah ummat Islam. Belum lagi situs-situs porno di internet.

Budaya jahiliyah itu jelas akan menjerumuskan manusia ke neraka. Sedangkan


Allah Subhannahu wa Ta'ala memerintahkan kita agar menjaga diri dan keluarga dari api
Neraka. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS
At-Tahriim: 6).

Sirkulasi perusakan akhlaq dan aqidah


Dengan ramainya lalulintas tayangan yang merusak aqidah dan akhlaq lewat
berbagai jalur itu penduduk dunia -dalam pembicaraan ini ummat Islam-- dikeroyok oleh
syetan-syetan perusak akhlaq dan aqidah dengan aneka bentuk. Dalam bentuk gambar-
gambar budaya jahiliyah, di antaranya disodorkan lewat televisi, film-film di VCD, CD,
bioskop, gambar-gambar cetak berupa foto, buku, majalah, tabloid dsb. Bacaan dan cerita
pun demikian.

Tayangan, gambar, suara, dan bacaan yang merusak aqidah dan akhlaq itu telah
mengeroyok Muslimin, kemudian dipraktekkan langsung oleh perusak-perusak aqidah
dan akhlaq dalam bentuk diri pribadi, yaitu perilaku. Lalu masyarakatpun meniru dan
mempraktekkannya. Sehingga praktek dalam kehidupan sehari-hari yang sudah
menyimpang dari akhlaq dan aqidah yang benar itupun mengepung ummat Islam.

Dari sisi lain, praktek tiruan dari pribadi-pribadi pendukung kemaksiatan itupun
diprogramkan pula untuk dipompakan kepada masyarakat dengan aneka cara, ada yang
dengan paksa, misalnya menyeragami para wanita penjaga toko dengan pakaian ala
jahiliyah. Sehingga, ummat Islam didesak dengan aneka budaya yang merusak aqidah
dan akhlaq, dari yang sifatnya tontonan sampai praktek paksaan.

Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam memperingatkan agar ummat


Islam tidak mematuhi suruhan siapapun yang bertentangan dengan aturan Allah swt.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam Bersabda:
ُ.(20191 ‫ُ )رواًه أحمد في مسنده‬.َ‫صيعرة ار تععباَعرعك عوتعععاَعلى‬ ‫طاَععةع لرعمبخلهبو د‬
‫ق فربي عمبع ر‬ ‫لع ع‬

“Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam maksiat pada Allah Tabaraka wa
Ta’ala.” ( Hadits Riwayat Ahmad, dalam Musnadnya nomor 20191).

Sikap Ummat Islam

Masyarakat Muslim pun beraneka ragam dalam menghadapi kepungan


gelombang dahsyat itu. Golongan pertama, prihatin dengan bersuara lantang di masjid-
masjid, di majlis-majlis ta’lim dan pengajian, di tempat-tempat pendidikan, dan di rumah
masing-masing. Mereka melarang anak-anaknya menonton televisi karena hampir tidak
diperoleh manfaat darinya, bahkan lebih besar madharatnya. Mereka merasakan kesulitan
dalam mendidikkan anak-anaknya. Kemungkinan, tinggal sebagian pesantrenlah yang
relatif lebih aman dibanding pendidikan umum yang lingkungannya sudah tercemar
akhlaq buruk.

Ummat Islam adalah golongan pertama yang ingin mempertahan-kan aqidah dan
akhlaq anak-anaknya itu, di bumi zaman sekarang ini ibarat orang yang sedang dalam
keadaan menghindar dari serangan musuh. Harus mencari tempat perlindungan yang
sekira-nya aman dari aneka “peluru” yang ditembakkan. Sungguh!

Golongan kedua, Ummat Islam yang biasa-biasa saja sikapnya. Diam-diam


masyarakat Muslim yang awam itu justru menikmati aneka tayangan yang sebenarnya
merusak akhlaq dan aqidah mereka dengan senang hati. Mereka beranggapan, apa-apa
yang ditayangkan itu sudah lewat sensor, sudah ada yang bertanggung jawab, berarti
boleh-boleh saja. Sehingga mereka tidak merasa risih apalagi bersalah. Hingga mereka
justru mempersiap-kan aneka makanan kecil untuk dinikmati sambil menonton tayangan-
tayangan yang merusak namun dianggap nikmat itu. Sehingga mereka pun terbentuk
jiwanya menjadi penggemar tayangan-tayangan itu, dan ingin mempraktekkannya dalam
kehidupan. Tanpa disarari mereka secara bersama-sama dengan yang lain telah jauh dari
agamanya.

Golongan ketiga, masyarakat yang juga mengaku Islam, tapi lebih buruk dari
sikap orang awam tersebut di atas. Mereka berangan-angan, betapa nikmatnya kalau
anak-anaknya menjadi pelaku-pelaku yang ditayangkan itu. Entah itu hanya jadi penjoget
di belakang penyanyi (namanya penjoget latar), atau berperan apa saja, yang penting bisa
tampil. Syukur-syukur bisa jadi bintang top yang mendapat bayaran besar. Mereka tidak
lagi memikir tentang akhlaq, apalagi aqidah. Yang penting adalah hidup senang, banyak
duit, dan serba mewah, kalau bisa agar terkenal. Untuk mencapai ke “derajat” itu, mereka
berani mengorbankan segalanya termasuk apa yang dimiliki anaknya. Na’udzubillaah. Ini
sudah bukan rahasia lagi bagi orang yang tahu tentang itu. Na’udzu billah tsumma
na’udzu billah.

Golongan pertama yang ingin mempertahankan akhlaq dan aqidah itu dibanding
dengan golongan yang ketiga yang berangan-angan agar anaknya ataupun dirinya jadi
perusak akhlaq dan aqidah, boleh jadi seimbang jumlahnya. Lantas, golongan ketiga
--yang ingin jadi pelaku perusak akhlaq dan aqidah itu-- digabung dengan golongan
kedua yang merasa nikmat dengan adanya tayangan maksiat, maka terkumpullah jumlah
mayoritas. Hingga Muslimin yang mempertahankan akhlaq dan aqidah justru menjadi
minoritas.

Itu kenyataan. Buktinya, kini masyarakat jauh lebih meng-unggulkan pelawak


daripada ulama’. Lebih menyanjung penyanyi dan penjoget daripada ustadz ataupun
kiyai. Lebih menghargai bintang film daripada guru ngaji. Dan lebih meniru penjoget
daripada imam masjid dan khatib.

Ungkapan ini secara wajar tampak hiperbol, terlalu didramatisir secara akal,
tetapi justru secara kenyataan adalah nyata. Bahkan, bukan hanya suara ulama’ yang tak
didengar, namun Kalamullah pun sudah banyak tidak didengar. Sehingga, suara
penyayi, pelawak, tukang iklan dan sebagainya lebih dihafal oleh masyarakat daripada
Kalamullah, ayat-ayat Al-Quran. Fa nastaghfirulaahal ‘adhim.

Tayangan-tayangan televisi dan lainnya telah mengakibatkan berubahnya


masyarakat secara drastis. Dari berakhlaq mulia dan tinggi menjadi masyarakat tak punya
filter lagi. Tidak tahu mana yang ma’ruf (baik) dan mana yang munkar (jelek dan
dilarang). Bahkan dalam praktek sering mengutamakan yang jelek dan terlarang daripada
yang baik dan diperintahkan oleh Allah SWT.

Berarti manusia ini telah merubah keadaan dirinya. Ini mengakibatkan dicabutnya
ni’mat Allah akibat perubahan tingkah manusia itu sendiri, dari baik menjadi tidak baik.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka


merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d/ 13:11).

Mencampur kebaikan dengan kebatilan


Kenapa masyarakat tidak dapat membedakan kebaikan dan keburukan? Karena
“guru utama mereka” adalah televisi. Sedang program-program televisi adalah
menampilkan aneka macam yang campur aduk. Ada aneka macam kebohongan misalnya
iklan-iklan yang sebenarnya bohong, tak sesuai dengan kenyataan, namun ditayangkan
terus menerus. Kebohongan ini kemudian dilanjutkan dengan acara tentang ajaran
kebaikan, nasihat atau pengajian agama. Lalu ditayangkan film-film porno, merusak
akhlaq, merusak aqidah, dan menganjurkan kesadisan. Lalu ditayangkan aneka macam
perkataan orang dan berita-berita yang belum tentu mendidik. Sehingga, para penonton
lebih-lebih anak-anak tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Masyarakat pun demikian. Hal itu berlangsung setiap waktu, sehingga dalam tempo
sekian tahun, manusia Muslim yang tadinya mampu membedakan yang haq dari yang
batil, berubah menjadi manusia yang berfaham menghalalkan segala cara, permissive atau
ibahiyah, apa-apa boleh saja.

Munculnya masyarakat permissive itu karena adanya penyingkiran secara


sistimatis terhadap aturan yang normal, yaitu larangan mencampur adukkan antara yang
haq (benar) dan yang batil. Yang ditayangkan adalah jenis pencampur adukan yang haq
dan yang batil secara terus menerus, ditayangkan untuk ditonton oleh masyarakat.
Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala telah melarang pencampur adukan antara yang haq
dengan yang batil:

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil dan
janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah:
42).

Dengan mencampur adukkan antara yang benar dengan yang batil secara terus
menerus, akibatnya mempengaruhi manusia untuk tidak menegakkan yang haq/ benar
dan menyingkirkan yang batil. Kemudian berakibat tumbuhnya jiwa yang membolehkan
kedua-duanya berjalan, akibatnya lagi, membolehkan tegaknya dan merajalelanya
kebatilan, dan akibatnya pula menumbuhkan jiwa yang berpandangan serba boleh. Dan
terakhir, tumbuh jiwa yang tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk. Lantas, kalau sudah tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk, mana yang haq dan mana yang batil, lantas keimanannya di mana?

Menipisnya keimanan itulah bencana yang paling parah yang menimpa ummat
Islam dari proyek besar-besaran dan sistimatis serta terus menerus yang diderakan kepada
ummat Islam sedunia. Yaitu proyek mencampur adukkan antara kebaikan dan keburukan
lewat aneka tayangan. Apakah upaya kita untuk membentengi keimanan kita?
‫ُ أعقهبوهل قعبولربي عهـَـَعذاً عوأع ب‬.‫ت عواًللذبكرر اًبلعحركبيرم‬
‫سـَـَتعبغفرهر‬ ‫ِهلل عونعفعععنربي عوإرمياَهكبم برعماَ فربيره رمعن باًلْعياَ ر‬،‫عباَعرعك اه لربي عولعهكبم رفي اًبلقهبرآرن اًبلععرظبيرم‬
ُ.‫اع اًبلععرظبيعم لربي عولعهكبم‬
‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫سـَعناَ‬ ‫شـَهربورر أعبنفه ر‬ ‫سـَـَتعبغفرهربه عونعهعـَـَوهذ برـَاَلر رمـَبن ه‬ ‫سـَـَتعرعبينههه عونع ب‬ ‫إرمن اًبلعحبمعد رملر نعبحعمـَهدهه عونع ب‬
‫ي لعـَـَهه‪ُ.‬‬ ‫ضـَـَلربل فعلع عهـَـَاَرد ع‬ ‫ضمل لـَعـَهه عوعمـَبن يه ب‬ ‫ت أعبععماَلرنعاَ‪ِ،‬هلل عمبن يعبهردره اه فعلع هم ر‬ ‫سيلعئاَ ر‬ ‫عورمبن ع‬
‫سـَبولههه‬ ‫شـَعههد أعمن همعحمم دداً ععببـَهدهه عوعر ه‬ ‫شرربيعك لعهه عوأع ب‬ ‫شعههد أعبن لع إرلعهع إرلم اه عوبحعدهه لع ع‬ ‫أع ب‬
‫سـَـَلربيدماَ عكثربيـَـَدراً‪ ُ.‬قعـَـَاَعل‬
‫سـَـَلمعم تع ب‬
‫صـَـَعحاَبرره عو ع‬ ‫صملىَ اه عععلىَ نعبريلعناَ همعحممدد عوععلعـَـَىَ آلرـَـَره عوأع ب‬ ‫ع‬
‫ق تهقعـَـَاَترره عولع تعهمـَـَبوتهمن إرلم عوعأنتهـَـَبم‬ ‫تعععـَـَاَعلىَ‪ :‬يعـَـَاَ أعميهـَـَاَ ع اًلمـَـَرذبيعن عءاًعمنهـَـَواً اًتمقهـَـَواً اعـَـَ عحـَـَ م‬
‫ق اع‬ ‫ق اع يعبجععل لمهه عمبخعردجاَ{ عوعقاَعل‪} :‬عوعمن يعتم ر‬ ‫سلرهمبوعن‪ ُ.‬عقاَعل تعععاَعلىَ‪} :‬عوعمن يعتم ر‬ ‫مم ب‬
‫سيلعئاَترره عويهبعرظبم لعهه أعبجدراً{‬ ‫يهعكفلبر ععبنهه ع‬
‫سـَـَبولرره فعقعـَـَاَعل‪} :‬إرمن اعـَـَ‬ ‫سـَـَلعرم ععلعـَـَىَ عر ه‬ ‫صـَـَلعرة عواًل م‬ ‫ثهمم اًبعلعهمبواً فعـَـَإ رمن اعـَـَ أععمعرهكـَـَبم رباَل م‬
‫سـَـَللهمبواً‬ ‫صـَـَلمبواً ععلعبيـَـَره عو ع‬ ‫صلمبوعن عععلىَ اًلنمبرلي‪ِ،‬هلل يعـَـَاَ أعميهـَـَاَ ع اًلمـَـَرذبيعن عءاًعمنـَهـَبواً ع‬ ‫عوعملعئرعكتعهه يه ع‬
‫سلربيدماَ{‪ُ.‬‬ ‫تع ب‬
‫ت ععلعـَىَ إرببعراًرهبيـَعم عوععلعـَىَ آرل‬ ‫صـَلمبي ع‬
‫صلل عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آرل همعحمم دد عكعمـَاَ ع‬ ‫عاًللمههمم ع‬
‫ت‬ ‫إرببعراًرهبيعم‪ِ،‬هلل إرنمعك عحرمبيقد عمرجبيقد‪ ُ.‬عوعباَرربك ععلعـَـَىَ همعحممـَـَدد عوععلعـَـَىَ آرل همعحممـَـَدد عكعمـَـَاَ بعـَـَاَعربك ع‬
‫سـَـَلررمبيعن‬ ‫عععلىَ إرببعراًرهبيعم عوععلعـَـَىَ آرل إرببعراًرهبيـَـَعم‪ِ،‬هلل إرنمـَـَعك عحرمبيـَـَقد عمرجبيـَقد‪ ُ.‬عاًللمههـَـَمم اًبغفرـَـَبر لربلهم ب‬
‫سـَرمبيقع‬ ‫ت‪ِ،‬هلل إرنـَمـَعك ع‬‫ت باًلعبحيعـَـَاَرء رمبنههـَـَبم عوباًلعبمـَـَعواً ر‬ ‫ت‪ِ،‬هلل عواًبلهمبؤرمنربيعن عواًبلهمبؤرمنعـَـَاَ ر‬ ‫سلرعماَ ر‬ ‫عواًبلهم ب‬
‫ق عح طدقاَ عواًبرهزبقنعـَـَاَ اًتلبعـَـَاَععهه‪ِ،‬هلل عوأعررنعـَـَاَ اًبلعباَرطـَـَعل بـَـَاَ عرطلد عواًبرهزبقنعـَـَاَ‬ ‫ب‪ ُ.‬عاًللمههمم أعررعناَ اًبلعح م‬ ‫قعرربي ق‬
‫ب اًلمناَرر‪ ُ.‬عربمعناَ‬ ‫سنعةد عوقرعناَ عععذاً ع‬ ‫سنعةد عورفي اًلْرخعررة عح ع‬ ‫اًبجترعناَبعهه‪ ُ.‬عربمعناَ آترعناَ رفي اًلمدبنعياَ عح ع‬
‫سببعحاَعن عربلـَـَعك‬ ‫عهبب لععناَ رمبن أعبزعواًرجعناَ عوهذلرمياَترعناَ قهمرةع أعبعيهدن عواًبجععبلعناَ لربلهمتمرقيعن إرعماَدماَ‪ ُ.‬ه‬
‫ب اًبلععاَلعرمبيعن‪ُ.‬‬ ‫سلربيعن عواًبلعحبمهد رملر عر ل‬ ‫سلعقم عععلىَ اًبلهمبر ع‬ ‫صفهبوعن‪ِ،‬هلل عو ع‬ ‫ب اًبلرعمزرة ععمماَ يع ر‬ ‫عر ل‬
‫صلععة‪ُ.‬‬ ‫سلمعم‪ ُ.‬عوأعقررم اًل م‬ ‫صبحبرره عو ع‬ ‫صملىَ اه عععلىَ همعحممدد عوعععلىَ آلرره عو ع‬ ‫عو ع‬