Anda di halaman 1dari 9

Melindungi Segenap bangsa dan seluruh

tumpah darah indonesia


Tugas Melindungi Setiap WNI
Konstitusi menegaskan bahwa pemerintah negara Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap bangsa
Indonesia. Penegasan itu mengandung makna bahwa pemerintah berkewajiban melindungi setiap warga
negara Indonesia (WNI) di mana pun mereka berada, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Mandat itulah yang dipegang teguh oleh pemerintah dalam kasus penyanderaan WNI oleh kelompok
teroris Abu Sayyaf di Filipina. Selama lebih dari sebulan, 10 WNI yang merupakan anak buah kapal
nasibnya berada di ujung tanduk, karena ancaman dibunuh oleh penyandera jika tuntutan uang tebusan
senilai Rp 14 miliar tidak diberikan.

Sikap pemerintah pun tegas tidak mau berkompromi memenuhi tuntutan penyandera. Jalan diplomasi
dengan Pemerintah Filipina menjadi ujung tombak agar para sandera bisa dibebaskan. Kita bersyukur,
sepuluh WNI akhirnya dibebaskan pada Minggu (1/5), setelah 36 hari disandera.

Kasus penyanderaan WNI di Filipina memberi satu catatan penting bagi pemerintah. Tugas melindungi
segenap bangsa Indonesia yang diberikan UUD 1945, seharusnya bersifat preventif. Tugas pemerintah
mencegah warganya berada dalam ancaman atau bahaya.

Penyanderaan 10 anak buah kapal oleh Abu Sayyaf harus dipahami sebagai kelemahan dalam
pengamanan wilayah laut. Sebab, tidak ada deteksi dini terhadap ancaman yang menghampiri para WNI
yang tengah melaut.

Peristiwa ini harus menjadi pelajaran dan mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan
Angkatan Laut, khususnya memperkuat armada kapal. TNI AL harus mampu menjaga setiap jengkal
wilayah perairan dari ancaman yang datang dari luar, baik yang mengancam keselamatan atau nyawa
WNI yang berada di laut maupun mengancam kepentingan ekonomi nasional, seperti para nelayan asing
ilegal. Jika saja armada kapal TNI AL kita dalam jumlah yang memadai, niscaya peristiwa penyergapan
terhadap kapal Indonesia dan penyanderaan terhadap WNI bisa dicegah.

Selain kemampuan armada AL andal, juga perlu diperhatikan pemonitoran terhadap pergerakan kapal-
kapal nasional, apakah sudah melintasi batas wilayah negara atau tidak. Hal ini juga penting agar tidak
ada kapal Indonesia yang melanggar wilayah tanpa izin, yang bisa berujung pada persoalan hukum
dengan negara lain atau menjadi sasaran perompak di laut.
Dua hal ini harus menjadi perhatian pemerintah ke depan. Apalagi, saat ini masih ada empat WNI yang
disandera oleh kelompok yang sama di Filipina. Dua peristiwa penyergapan kapal dan penyanderaan
terhadap WNI yang terjadi secara beruntun, mencerminkan masih lemahnya perlindungan terhadap
kepentingan nasional di wilayah perairan.

Untuk itu, ke depan pemerintah harus menyosialisasikan peta wilayah laut yang rawan ke seluruh pelaut-
pelaut Indonesia, dan menetapkan wilayah itu terlarang untuk dilayari, kecuali dengan izin dan
pengawalan yang memadai. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya penyergapan WNI di tengah
laut.

Aspek lain yang harus diperkuat adalah kemampuan diplomasi untuk melindungi kepentingan WNI yang
menghadapi persoalan di negara lain, baik persoalan hukum maupun keselamatan nyawa. Pembebasan 10
anak buah kapal yang disandera Abu Sayyaf pada Minggu (1/5) lalu, harus diakui merupakan buah
langkah diplomasi pemerintah, di mana Kementerian Luar Negeri menjadi ujung tombak. Langkah
diplomasi itu tentunya juga melibatkan unsur intelijen maupun TNI, dan yang menggembirakan juga
melibatkan kelompok masyarakat, dalam hal ini Yayasan Sukma, yang membantu membebaskan para
sandera dengan memanfaatkan jaringan mereka dengan sejumlah tokoh kunci di Filipina. Pada akhirnya
semua pihak bersatu padu membantu pemerintah. Ancaman yang dialami sesama anak bangsa di negeri
seberang telah meruntuhkan sekat kepentingan.

Namun, ke depan sebaiknya kerja gotong royong semacam itu dilakukan dengan lebih terkoordinasi. Hal
ini untuk mencegah saling klaim saat sukses membebaskan sandera, seperti yang terjadi saat ini. Tak bisa
dimungkiri, munculnya saling klaim membuat apresiasi publik sedikit menurun. Sebab, hal itu
mencerminkan kurangnya koordinasi pemerintah dengan kelompok masyarakat yang terlibat.

Pemerintah harus tegas, siapa pun yang bersedia membantu, harus di bawah koordinasi pemerintah.
Jangan sampai ada diplomasi yang dilakukan di luar sepengetahuan pemerintah. Sebab, jika salah
langkah, bisa membahayakan keselamatan para sandera, dan ujungnya pemerintah jugalah yang harus
bertanggung jawab.

Hal lain yang harus menjadi catatan, kita sepakat dengan sikap tegas pemerintah tidak mau berkompromi
dengan memenuhi tuntutan tebusan yang diminta penyandera. Namun, jika langkah diplomasi gagal, dan
opsi pembebasan dengan kekuatan militer tidak bisa dilaksanakan, satu-satunya cara untuk
menyelamatkan para sandera adalah membayar uang tebusan.

Demi menyelamatkan nyawa anak bangsa, membayar uang tebusan bukan hal yang tabu. Langkah ini
juga bukan berarti pemerintah kalah dengan tuntutan penyandera. Kita harus menyadari, nyawa satu WNI
lebih berharga dibandingkan uang miliaran rupiah. Semangat itu kiranya yang mendasari mandat yang
diberikan Konstitusi kepada pemerintah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia.
Memajukan Kesejahteraan Rakyat

Optimalisasi Manajemen Keselamatan Berlalu Lintas, Dirlantas Turun Atur Lalu lintas

WARTA ANDALAS, PADANG - Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia sangat tak seimbang
dengan penyediaan jalan raya. Hal ini tentu berdampak makin krodit-nya situasi di jalanan. Kondisi ini
juga terjadi di Sumatera Barat, terutama di kota Padang.

Kota Padang kini terasa makin macet dan semberawut. 142,6 ribu unit kendaraan bermotor, 80
persen di antaranya sepeda motor bertambah tahun 2014. Pelanggaran terus terjadi, dan
kecelakaan juga tak terelakan. Korban sudah berjatuhan.
Menyikapi persoalan ini, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas), Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi
Sumatera Barat melakukan optimalisasi manajenen keselamatan berlalu lintas. Salah satu
program unggulannya adalah penggelaran kekuatan, yaitu menurunkan seluruh polisi lalu lintas
(polantas) ke jalan.
Dan hebatnya, Kombes Pol Eddy Djunaedi, SIK sebagai Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) juga
turun langsung mengatur lalu lintas di jalan bersama anggotanya. Sejak sebulan lalu, simpang-
simpang jalan dan ruas-ruas tertentu di kota Padang diramaikan oleh polantas. Berbeda dengan
sebelumnya, polantas yang berjaga terlihat ramah dan mengayomi. Tak ada lagi yang
menghardik pengguna jalan. Tak terlihat lagi ada razia di tempat-tempat yang menjebak.
Polantas terlihat telah menerapkan slogan S3 dalam tugasnya, yaitu senyum, sapa dan salam.
Kondisi ini mulai membuat nyaman pengguna jalan di kota Padang.
“Ya… Kami turunkan semua petugas pada jam-jam sibuk, terutama pada pagi dan sore,” kata
Kombes Pol Eddy Djunaedi, SIK, Dirlantas Polda Sumbar di ruang kerjanya, Kamis (1/10).
“Kita ubah pendekatan dalam menyadarkan masyarakat pengguna jalan, yaitu kita ajak mereka
mematuhi peraturan lalu lintas secara humanis,” tambahnya.
“Sebagai pimpinan, saya tentu harus memberi contoh bagaimana jadi polantas yang baik dan
benar itu,” tambahnya lagi. Dikatakan Eddy Djunaedi, polantas diwajibkan menerapkan slogan
S3 kepada pengguna jalan, yaitu senyum, sapa dan salam.
“Bagi yang belum tertib kita ajak untuk tertib dengan ramah,” jelasnya. “Tali helm yang tidak
terpasang, kita ingatkan dan kita pasangkan, sehingga mereka merasa dimanusiakan,” ujarnya
mencontohkan.
“Kita lebih mengedepankan preentif (pendidikan) dan prevenfit (pencegahan) ketimbang represif
(penindakan),” tegasnya.
Putera Magetan, Jawa Timur yang didampingi Kepala Subditbingakum, AKBP Zulkifli Malaras
ini menegaskan, salah satu tujuan penggelaran kekuatan ini adalah untuk mewujudkan
keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran (kamseltibcar) lalu lintas. “Dengan senyum
mereka yang melanggar kita sapa dan kita salami untuk mengajaknya supaya tertib dalam berlalu
lintas,” tegas alumni Akpol tahun 1993 itu.
“Hasilnya lumayan bagus, kota Padang sudah mulai tertib,” tegasnya lagi. Disamping itu, lelaki
ramah nan low profile itu juga meningkatkan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan kampus-
kampus. “Kita ingin generasi muda kita taat aturan dalam berlalu lintas,” sebutnya. “Kalau
mudanya sudah taat, tentu dewasanya nanti juga tetap taat,” tambahnya.
“Ketika nanti sebagian besar pengguna jalan sudah tertib, baru yang nakalnya kita tindak,”
tegasnya. “Ini semua bertujuan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas,” tegasnya lagi.
“Kota Padang kita jadikan pilot proyek optimalisasi manajemen keselamatan berlalu lintas,
bekerja sama dengan Polresta Padang,” ujar Eddy Djunaidi.
“Dan, polres/polresta lain akan menyusul segera,” tambahnya sembari menegaskan, program
tersebut adalah terjemahan dari program Kapolda Sumbar, Brigjen Pol Drs Bambang Sri
Hermanto, MH yang menginginkan terwujudnya polisi bersih (tanpa pungli), pengguna jalan
yang tertib (taat aturan) dan polisi peduli sosial (suka menolong).
Untuk itu, polisi harus melayani dan mengayomi masyarakat,” pungkasnya. Di kesempatan yang
sama, Kasubditbingakum, AKBP Zulkifli Malaras menjelaskan, angka laka lantas Sumbar tahun
2014 turun dibanding tahun 2013. Tahun 2013 terjadi 2.635 kasus dengan 611 orang meninggal,
sementara tahun 2014 turun menjadi 2.336 kasus dengan 530 orang meninggal. “Pasca laka
lantas, kita juga terus mempermudah proses klaim asuransi bagi korban dan ahli warisnya,”
ujarnya.
“Untuk itu, setiap laka lantas harus tercatat, supaya kita bisa mengeluarkan surat keterangan
sebagai syarat pencairan klaim asuransi,” tegas Rang Dharmasraya yang hobi Bulutangkis itu.
Jasa Raharja Siap Mendukung PT Jasa Raharja (Persero) sebagai perusahaan yang menangani
asuransi kecelakaan lalu lintas siap mendukung program Ditlantas, Polda Sumbar.
“Dalam hal pendidikan dan penyuluhan tertib berlalu lintas, kita juga punya program untuk itu,”
sebut Doni Firmansyah, Humas PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumbar di kantornya, Kamis
(1/10). “Kami sering kerja sama dengan polantas dalam memberikan penyuluhan tertib berlalu
lintas, dan cara mengurus klaim asuransi kecelakaan lalu lintas,” tambahnya.
Ditegaskan Doni, pihaknya sangat care dengan ahli waris dan korban kecelakaan lalu lintas.
“Makanya kita terus mempermudah pengurusan klaimnya,” tegasnya.
“Begitu administrasinya lengkap, langsung kita bayarkan,” tegasnya lagi sembari mengatakan,
salah satu syaratnya adalah surat keterangan polisi dan catatan medis dari dokter. “2014, kita
bayar klaim Rp 25,6 miliar untuk 603 yang meninggal dan 1.317 luka berat serta pertanggungan
lainnya, dan sampai September 2015 kita sudah bayarkan Rp20,1 miliar untuk 561 meninggal
dan 1.096 luka berat,” jelasnya.
Dijelaskan Doni, klaim pertanggungan yang diterima ahli waris dan korban kecelakaan lalu
lintas adalah, Rp 25 juta untuk yang meninggal dan biaya pengobatan maksimal Rp10 juta jika
terjadi di darat, laut dan kereta api. “Kecelakaan pesawat (udara), yang meninggal dapat Rp50
juta dan biaya pengobatan maksimal Rp25 juta,” ujarnya.
“Kita siap mendukung program Ditlantas, Polda Sumbar untuk mengoptimalkan manajemen
keselanatan berlalu lintas,” ulangnya. Seperti diketahui, konsep manajemen keselamatan berlalu
lintas tersebut sejalan tujuan dari UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan
(LLAJ), yaitu Mewujudkan dan memlihara Kamseltibcarlantas, Meningkatkan kualitas
keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas,
Membangun budaya tertib berlalu lintas dan Meningkatkan kualitas pelayanan di bidang LLAJ.
Amanat dari PBB di bidang Road Safety, salah satunya adalah dengan membangun RUNK
(Rencana Umum Nasional Keselamatan) yang terdiri dari 5 Pilar, yaitu Management Road
Safety ( Manajemen Keselamatan Berlalu lintas), Safer Road (Jalan yang berkeselamatan), Safer
Vehicle (Kendaraan yang berkeselamatan), Safer People (Manusia yang berkeselamatan) dan
Post Crash (Pasca Kecelakaan). Program-program RUNK dijabarkan dalam Decade of Action
(DoA) atau dekade aksi keselamatan dengan semangat "Saatnya Bertindak".
Dekade Aksi Keselamatan merupakan upaya baik perorangan maupun institusi untuk
menampilkan kinerja yang profesional, cerdas, bermoral dan moderen. Sejalan dengan amanat di
atas, Korps Lalu Lintas Polri bertekad mengimplemntasikan Dekade Aksi Keselamatan dan
mengimplementasikan Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan dengan motto "Jadilah Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas dan Budayakan sebagai
Kebutuhan". (novermal)
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Inilah salah satu tugas nasional kita: mencerdaskan kehidupan bangsa. Sampai sekarang, negara kita belum
sanggup mewujudkannya. Sekitar 9 juta rakyat Indonesia masih buta huruf. Di daerah pedalaman, seperti
diakui Kementerian Pembangunan Daerah tertinggal (PDT), angka melek huruf masih rata-rata 26%.

Lihat pula kemampuan rakyat Indonesia mengakses pendidikan. Kita tahu, angka partisipasi kasar (APK)
tingkat SMP baru 70%. Sedangkan APK untuk tingkat SMU baru berkisar 60%. Mengacu ke data
Kemendiknas saja, dari 3,7 juta lulusan SMP, yang melanjutkan ke SMA/SMK hanya sekitar 2,2 juta. Artinya,
ada 1,5 juta lulusan SMP yang terlempar di jalan.

Jangan tanyakan tingkat partisipasi rakyat mengakses Perguruan Tinggi. APK Pendidikan Tinggi, seperti
diklaim Menteri Pendidikan Nasional, baru berkisar 26 persen. Tetapi versi lain menyebutkan bahwa APK
pendidikan tinggi di Indonesia baru berkisar 18,7 persen.

Dengan mengacu pada fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa negara masih gagal menjalankan tugasnya
mencerdaskan kehidupan bangsa. Ironisnya, negara gagal bukan karena keterbatasan sumber daya, melainkan
karena negara sendiri mengadopsi berbagai kebijakan yang merugikan pendidikan nasional.

Pertama, cara pandanga negara, dalam hal ini pemerintahan berkuasa, dalam soal pendidikan sudah bergeser
dari cita-cita proklamasi: pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa,
melainkan sebagai mediun untuk akumulasi keuntungan (profit).

Ini sudah menjadi realitas dalam pendidikan nasional kita saat ini. Para pengusaha berlomba-lomba
menanamkan modalnya dalam “bisnis pendidikan”. Biaya pendidikan pun melambung tinggi, khususnya di
perguruan tinggi. Akibatnya, banyak rakyat Indonesia tidak bisa mengakses pendidikan itu.

Kedua, lahirnya berbagai regulasi yang mengarahkan pendidikan tak ubahnya komoditi yang siap diperjual-
belikan. Sebelumnya, sudah pernah disahkan UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Beruntung, berkat
tekanan gerakan massa rakyat, UU tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Akan tetapi, keinginan pemerintah memprivatisasi pendidikan tinggi tidak berhenti di situ. Sekarang, misalnya,
pemerintah sedang menyiapkan pengesahan RUU perguruan tinggi—terakhir dinamai RUU Pendidikan
Tinggi. Semangat RUU PT ini tidak berbeda jauh dengan semangat UU BHP.

Ketiga, negara mulai lepas tangan dalam urusan pendidikan. Penguasa di negara kita percaya betul dengan
agama kaum neoliberal bahwa “pasar akan mengatur dan mengefisienkan segalanya”. Pasar, yang disemangati
oleh nafsu mencari keuntungan, tidak akan bisa menjamin hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan.

Akhir-akhir ini, kita melihat bagaimana tingkah-laku negara menelantarkan pendidikan: gedung sekolah yang
ambruk, bangunan sekolah yang tak ubahnya kandang ayam, peserta didik yang diusir dari sekolah karena soal
biaya, fasilitas belajar-mengajar yang tak memadai, tawuran antar sekolah, dan lain sebagainya.

Keempat, anggaran untuk mendanai pendidikan nasional belum memadai dan mengcover seluruh rakyat. Ini
bisa dilihat pada anggaran pendidikan yang sangat rendah: anggaran pendidikan kita masih berkisar 3,41% dari
PDB. Sedangkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand masing-masing 7,9% dan 5,0% dari
PDB-nya. UNESCO sendiri menyerukan anggaran ideal untuk pendidikan adalah 6% dari PDB.

Kelima, orientasi atau tujuan pendidikan nasional makin berorientasi kepada bisnis dan pasar tenaga kerja.
Penanaman nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, patriotisme, budaya nasional dan kecintaan terhadap bangsa
makin berkurang. Kurikulum kita banyak diwarnai oleh nilai-nilai individualisme, konsumtifisme,
pragmatisme, dan penghambaan terhadap uang.

Dengan demikian, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional hari ini, kami mengajak semua
pembaca dan seluruh rakyat Indonesia untuk merenungkan nasib pendidikan nasional kedepan. Apakah kita
menyerah dan membiarkan pendidikan nasional ditaklukkan oleh logika profit ataukah kita ingin
mengembalikan pendidikan nasional sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kalau kita konsisten dengan cita-cita nasional kita, sebagaimana dikehendaki oleh para pendiri bangsa, maka
pilihan kita sudah pasti: akhiri model pendidikan yang berbau profit itu dan marilah kita mewujudkan
pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
Aktif Melaksanakan Ketertiban Dunia

Indonesia menganut politik bebas aktif dalam diplomasi internasional. Selain itu dalam
pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pun tertulis tujuan untuk mewujudkan
perdamaian dunia.

"...ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial," bunyi kutipan alinea keempat pembukaan UUD 1945.

Pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla juga sudah menjalankan kebijakan diplomasi untuk
wujudkan tujuan itu dalam dua tahun ini. Kebijakan internasional yang ingin menghadirkan
negara melalui politik bebas aktif juga dituangkan dalam Nawacita atau sembilan program
prioritas Jokowi-JK.

"Diplomasi itu jangka panjang, hasilnya tidak hari ini Anda bicara langsung kelihatan hasilnya.
Tapi ialah menjaga sinergi, menjaga koordinasi, menjaga memperlihatkan sikap dan juga tentu
memberikan suatu partisipasi dalam konstalasi keamanan, perdamaian dunia dan juga bagaimana
menjaga kepentingan Indonesia. Pada akhirnya harus kita menomorsatukan kepentingan kita,"
tutur Wapres JK di Markas PBB, 1st Avenue, New York, Amerika Serikat, Jumat (23/9/2016).

detikcom merangkum agenda internasional pemerintah dalam rangka mewujudkan perdamaian


dunia. Agenda itu ada yang dihelat di Indonesia, ada pula yang di luar negeri.

1. Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina

Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Konferensi Islam digelar di Jakarta pada 6-7
Maret 2016. Agenda besar dari acara itu adalah untuk mewujudkan perdamaian di Palestina.

Presiden Jokowi menyampaikan sikap tegas RI dan ajakan kepada negara-negara OKI lainnya
untuk tujuan itu. Berikut kutipannya:

Untuk itu, terdapat urgensi bagi OKI untuk meningkatkan dukungan terhadap Palestina, melalui
sejumlah langkah-langkah konkret, yaitu :

Penguatan dukungan politis untuk hidupkan kembali proses perdamaian. Peninjauan kembali
Quartet, dengan kemungkinan penambahan anggotanya. Indonesia siap untuk berpartisipasi dan
mendukung mekanisme ini.
Penguatan tekanan kepada Israel, termasuk boikot terhadap produk Israel yang dihasilkan di
wilayah pendudukan.

Peningkatan tekanan pada DK PBB untuk memberikan perlindungan internasional bagi


Palestina, dan penetapan batas waktu pengakhiran pendudukan Israel.

Penolakan tegas atas pembatasan akses beribadah ke Masjid Al-Aqsa serta tindakan Israel
mengubah status-quo dan demografi Al-Quds Al-Sharif.

Pemenuhan kebutuhan kemanusiaan yang mendesak.

(Baca juga: Fadli Zon Apresiasi Seruan Presiden Jokowi Boikot Produk Israel)

Setelah itu Indonesia diundang menghadiri KTT OKI di Turki. Wapres JK memimpin delegasi
Indonesia dalam acara tersebut.

Di Turki pun Wapres JK menyampaikan kritik keras kepada negara-negara OKI. Menurut dia
dunia Islam saat ini sudah terpecah belah.

"Kenyataan yang menyedihkan. Kita sebagai Dunia Islam telah gagal. OKI telah gagal
mempersatukan anggotanya," kata JK di Istanbul, Turki, Jumat (15/4/2016).

(Baca juga: Menlu Palestina Apresiasi RI yang Konsisten Beri Dukungan)

Pada KTT ke-17 Gerakan Non-Blok di Venezuela dan Sidang Umum ke-71 PBB di AS pun
Wapres JK menyampaikan dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.