Anda di halaman 1dari 14

EFLORESENSI KULIT

Di Susun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Kepanitraan Klinik


Di Bagian Ilmu Kulit dan Kelamin
RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

Diajukan Kepada:

Dr. Cut Putri Yohana,M.Sc,Sp.KK

Disusun Oleh:

Wahyu Zutianda
15174005

SMF ILMU KULIT DAN KELAMIN


RSUD CUT NYAK DHIEN MEULABOH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA
2016

1
A. ANAMNESIS

Anamnesis yang baik merupakan tiang utama diagnosis. Anamnesis


dimulai dengan memperoleh keterangan mengenai identitas penderita. Pertanyaan
lanjutan yang sebaiknya diajukan adalah:
1. Kapan dimulai/onset/awitan (sifat penyakit: bawaan/didapat, akut/kronik,
hilang timbul)
2. Apakah disertai rasa gatal, panas, nyeri, demam (keparahan penyakit)
3. Dimulai dari mana (predileksi)
4. Bagaimana penyebarannya (tanda khas penyakit)
5. Apakah ada perubahan pada lesi (tanda penyakit infeksi sekunder
perjalanan penyakit)
6. Apakah ada faktor pencetus/sumber penularan/riwayat penyakit
keluarga (obat-obatan, penyakit alergi, penyakit kulit menular, pekerjaan,
penyakit sistemik lainnya)
7. Sudah diobati/belum (untuk mengetahui perubahan gambaran klinis yang
dapat berbeda dengan lesi awalnya, obat dari dokter maupun yang dibeli
sendiri, sistemik dan topikal)

A. EFLORESENSI

1. Efloresensi primer
a. Makula : kelainan kulit berbatas tegas, lesi datar, berbeda dengan kulit
sekitarnya karena warnanya.
 Akibat hiperpigmentasi, pigmen melanin
 Akibat pigmentasi dermal
 Akibat dilatasi kapiler, eritema
 Akibat purpura, ekstravasasi eritrosit
Contoh: melanoderma, leukoderma, purpura, petekie, ekimosis.

2
Gambar 1. Makula. A (hiperpigmentasi, pigmen melanin), B (biru, bayangan
melanosit), C (eritema, vasodilatasi kapiler), D (purpura, ekstravasasi
eritrosit)

b. Papul : penonjolan di atas permukaan kulit, sirkumskrip, berukuran kecil (Ø


< 1 cm), dan berisikan zat padat. Bentuk papul dapat bermacam-macam,
misalnya setengah bola, contohnya pada eksem atau dermatitis, kerucut pada
keratosis folikularis, datar pada veruka plana juvenillis, datar dan berdasar
poligonal pada liken planus, berduri pada veruka vulgaris, bertangkai pada
fibroma pendulans dan pada veruka filiformis. Warna papul dapat merah
akibat peradangan, pucat, hiperkrom, putih, atau seperti kulit di sekitarnya.
Beberapa infiltrat mempunyai warna sendiri yang biasanya baru terlihat
setelah eritema yang timbul bersamaan ditekan dan hilang (lupus, sifilis).
Letak papul dapat epidermal atau kutan.

Gambar 2. Papula. A ( deposit metabolik), B (sebukan sel radang),


C (hiperplasi sel epidermis)

3
c. Plakat : peninggian kulit akibat perluasan atau menyatunya beberapa papul
atau nodul. Contoh: psoriasis, granuloma annulare.

Gambar 3. Plakat

d. Nodul : peninggian kulit berbatas jelas, lebih dalam dan lebih besar dari
papula, terdapat di dermis atau subkutis. Contoh: eritema nodusum, furunkel.

Gambar 4. Nodul. A (Infiltrat sampai di subkutan), B ( Infiltrat di dermis)

4
e. Vesikel : peninggian kulit yang terbatas, beratap, mempunyai dasar,
berdiameter < 0,5 cm, berisi cairan jernih di dalamnya (serum) dan biasanya
terletak pada subcorneal. Jika berisi darah disebut vesikel hemoragik. Contoh:
verisela, herpes simpleks.

Gambar 5. Vesikel. A (Subkorneal), B (Intra Epidermal)

f. Pustul : Vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap di bagian bawah
vesikel disebut vesikel hipopion. Contoh: pioderma, acne vulgaris

Gambar 6. Pustul

5
g. Bula : Vesikula yang berukuran lebih besar, nampak adanya cairan di
dalamnya. Dikenal juga istilah bula hemoragik, bula purulen, dan bula
hipopion. Dapat terletak intraepidermal-dermoepidermal-intradermal.
Contoh: impetigo vesikobulosa, eksantema bulosa, pemfigus.

Gambar 7. Bula

h. Urtika : peninggian kulit yang terbatas, disebabkan edema di dermis yang


timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan. Contoh: urtikaria, angioedema.

Gambar 8. Urtika

6
i. Kista : ruangan berdinding dan berisi cairan, sel maupun sisa sel. Kista
terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun kemudian dapat meradang.
Dinding kista merupakan selaput yang terdiri atas jaringan ikat dan biasanya
dilapisi sel epitel atau endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang melebar dan
tertutup, saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah bening, atau lapisan
epidermis. Isi kista terdiri atas hasil dindingnya, yaitu serum, getah bening,
keringat, sebum, sel-sel epitel, lapisan tanduk dan rambut.

Gambar 9. Kista

j. Tumor : istilah umum untuk benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel


maupun jaringan.

7
2. Efloresensi Sekunder
Terdiri atas skuama, krusta, erosi, ekskoriasi, ulkus, sikatriks :
a. Skuama
Merupakan lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama dapat
halus sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal dan luas sebagai
lembaran kertas. Dapat dibedakan misalnya pitiriasiformis (halus),
psoriasiformis (berlapis-lapis), iktiosiformis (seperti ikan), kutikular (tipis),
lamelar (berlapis), membranosa atau ekfoliativa (lembaran-lembaran), dan
keratotik (terdiri atas zat tanduk)

Gambar 10. Squama

b. Krusta
Merupakan cairan badan yang mengering. Dapat bercampur dengan jaringan
nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat, dan sebagainya). Warnanya ada
beberapa macam: kuning muda berasal dari serum, kuning kehijauan berasal
dari pus, dan kehitaman berasal dari darah.

8
Gambar 11. Krusta

c. Erosi
Kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak melampaui
stratum basal. Contoh: bila kulit digaruk sampai stratum spinosum maka akan
keluar cairan serous dari bekas garukan

Gambar 12. Erosi

d. Ekskoriasi
Kelainan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan sampai dengan
stratum papilare. Contoh: bila kulit digaruk lebih dalam sehingga tergores
sampai ujung papil, maka akan terlihat darah yang keluar selain serum

e. Ulkus
Kelainan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan yang lebih dalam dari
ekskoriasi. Dengan demikian ulkus memiliki tepi, dinding, dasar, dan isi.
Termasuk erosi dan ekskoriasi dengan bentuk linier adalah fisura (rhagades)

9
yaitu belahan kulit yang terjadi oleh tarikan jaringan di sekitarnya, terutama
terlihat pada sendi dan batas kulit dengan selaput lendir

Gambar 13. Ulkus

f. Likenefikasi
Penebalan kulit disertai dengan relief kulit

Gambar 14. Likenifikasi

g. Sikatriks
Terdiri atas jaringan tidak utuh, relief kulit tidak normal, permukaan kulit
licin dan tidak terdapat adneksa kulit.
Sikatriks dapat atrofik, kulit mencekung dan dapat hipertrofik, yang secara
klinis lebih menonjol karena kelebihan jaringan ikat. Bila sikatriks hipertrofik
menjadi patologik, dengan pertumbuhan melampaui batas luka disebut keloid
(sikatriks yang pertumbuhan selnya mengikuti pertumbuhan tumor), dan ada
kecenderungan untuk terus membesar.

10
Gambar 15. Sikatriks

11
B. UKURAN, SUSUNAN KELAINAN / BENTUK SERTA PENYEBARAN
DAN LOKALISASI

1. Susunan kelainan/bentuk (lihat gambar) :


 Liniar : seperti garis lurus.
 Sirisnar/anular : seperti lingkaran.
 Arsinar : berbentuk bulan sabit.
 Polisiklik : bentuk pinggiran yang sambung menyambung.
 Korimbiformis : susunan seperti induk ayam yang dikelilingi anaknya.

2. Bentuk lesi :
 Teratur : misalnya bulat,lonjong, seperti ginjal dan sebagainya.
 Tidak teratur : tidak memiliki bentuk yang teratur.

3. Penyebaran dan lokalisasi (distribusi) :


 Sirkumskrip : berbatas tegas
 Difus : tidak berbatas tegas
 Generalisata : tersebar pada sebagian besar bagian tubuh
 Regional : mengenai daerah tertentu badan
 Universalis : seluruh atau hampir seluruh tubuh (90-100 %)
 Solitar : hanya satu lesi
 Herpetiformis : vesikel berkelompok seperti pada herpes zoster
 Konfluens : dua atau lebih lesi yang menjadi satu.
 Diskret : terpisah satu dengan yang lain.
 Serpiginosa : proses yang menjalar ke satu jurusan diikuti oleh
penyembuhan pada bagian yang ditinggalkan.
 Irisformis : eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel warna
yang lebih gelap di tengahnya.
 Simetrik : mengenai kedua belahan badan yang sama.
 Bilateral : mengenai kedua belah badan.
 Unilateral : mengenai sebelah badan.

12
13
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A, Hamzah M,editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin ed.3. Jakarta
: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
2. Wolff, K, Johnson, R.A, and Suurmond, D. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis
of Clinical Dermatology. Fifth Edition. USA: The McGraw-Hill Companies. 2005.
3. Bag/Lab. Ilmu Kulit&Kelamin FK UNAIR. Atlas Kulit dan Kelamin.
Surabaya; Airlangga University Press; 2007.

14