Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Dunia Islam semakin terpuruk, miskin, terbelakang, terlilit utang, penuh


konflik politik dan sosial, serta tergantung terhadap belas kasihan bangsa-
bangsa Barat. Berbagai upaya pun dilakukan. Langkah-langkah yang digariskan
lembaga-lembaga Barat termasuk IMF dan Bank Dunia- juga dilaksanakan.
Program restrukturisasi ekonomi, proses demokratisasi, dan proses sekularisasi
seluruh aspek kehidupan dijalankan atas nama solusi krisis.
Namun, alih-alih memecahkan masalah, solusi ini malah menimbulkan
problematika baru yang lebih kompleks. Banyak sekali problematika yang tengah
dihadapi umat. Dalam bidang ekonomi, hampir seluruh negeri Islam masuk
kategori dunia ketiga, negeri-negeri miskin.
Ketimpangan antara negara-negara maju dengan dunia ketiga sangatlah
ironis. Wilayah dunia yang diduduki oleh negara-negara maju sebesar 1/4 dunia,
namun mereka menikmati 80% penghasilan dunia. Bahkan, 90% industri
terdapat di negara-negara utara. Sungguh menyedihkan, kaum Muslimin di
negeri-negeri Islam yang sebenarnya kaya-raya justru malah miskin, kualitas
sumberdaya manusia relatif rendah, lemah, demikian pula kualitas
kesehatannya. Salah satunya di Indonesia, sebagai salah satu negeri dengan
jumlah kaum Muslimin terbesar di dunia.
Pelaksanaan sistem ekonomi kapitalis telah terbukti tidak memberikan
manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Sistem tersebut
hanya memberi manfaat pada sebagian kecil umat manusia yaitu kelompok-
kelompok yang kebetulan memiliki `power` dalam kehidupan perekonomian yang
ada. Selain itu, berbagai krisis ekonomi selalu menyertai perjalanan hidup sistem
ekonomi kapitalis tersebut sementara usaha-usaha untuk mencari jalan keluar
dari krisis yang ada selalu menimbulkan korban di pihak yang lemah saja yang
merupakan mayoritas pelaku-pelaku sistem ekonomi kapitalis yang notabenenya
pelaku-pelaku dari negara-negara yang berpenduduk Muslim."
Suatu sistem yang berpihak kepada semua pelaku ekonomi, bahkan
kepada semua orang. Yakni, suatu sistem yang memberikan kesempatan seluas-
luasnya pada mekanisme pasar, tapi tetap memberikan peran pada pemerintah,

1
kekuatan sosial dan hukum untuk melakukan intervensi dan koreksi demi
menjamin agar pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh masyarakat banyak;
juga suatu sistem yang menjamin kekuatan ekonomi tidak terkonsentrasi pada
sekelompok kecil pengusaha, disamping mampu melakukan pemberdayaan
ekonomi rakyat banyak, serta memberikan kesejahteraan lahir batin secara
hakiki. Sistem yang dimaksud adalah sistem ekonomi Islam. " Sebagai sebuah
sistem memang belum jelas secara faktual, tapi secara konseptual sistem
ekonomi Islam sangat menjanjikan.
Salah satu bagian terpenting dari pembahasan ekonomi Islam adalah
masalah kemiskinan. Secara mendalam Ismail Yusanto (2002:15-16)
menyatakan bahwa sesungguhnya kemiskinan adalah produk dari sistem
ekonomi kapitalistik yang melahirkan pola distribusi kekayaan secara tidak adil.
Fakta empirik menunjukkan, bahwa bukan karena tidak ada makanan yang
membuat rakyat menderita kelaparan melainkan buruknya distribusi makanan.
Mustafa E Nasution pun menjelaskan bahwa berbagai krisis yang melanda
perekonomian dunia yang menyangkut sistem ekonomi kapitalis dewasa ini telah
memperburuk tingkat kemiskinan serta pola pembagian pendapatan di dalam
perekonomian negara-negara yang ada, lebih-lebih lagi keadaan perekonomian
di negara-negara Islam.
Untuk mengatasi kemiskinan ini harus diawali dengan cara mewujudkan
tatanan ekonomi yang memungkinkan lahirnya sistem distribusi yang adil,
mendorong lahirnya kepedulian dari orang berpunya (ahl-aghniya) terhadap
kaum fakir, miskin, dhuafa dan mustadhafin, serta kesadaran untuk
meningkatkan kualitas diri, etos kerja dan sikap optimisme terhadap perubahan
kehidupan. Salah satu bentuk kepedulian ahl-aghniya adalah kesediaannya
untuk membayar zakat. Zakat merupakan salah satu bentuk ibadah. Dalam
konteks ekonomi, zakat merupakan salah satu bentuk distribusi kekayaan
(tauzi`u al-tsarwah) diantara manusia. Yaitu, distribusi yang terjadi tidak melalui
transaksi-transaksi ekonomi" Akhirnya Ismail Yusanto menegaskan : "Jadi
jelaslah bahwa zakat bukan hanya sekedar sebagai sebuah bentuk ibadah.
Bukan pula sekedar realisasi dari kepedulian seorang muslim terhadap orang
miskin. Lebih dari itu, zakat ternyata memiliki fungsi yang sangat strategis dalam
konteks sistem ekonomi, yaitu sebagai salah satu instrumen distribusi kekayaan.
Pemahaman ekonomi Islam secara tepat akan membawa transformasi

2
kesadaran, yakni dari memandang zakat secara personal yang sekedar berfungsi
superfisial dan karitatif menjadi bagian tak terpisahkan dari pola distribusi dalam
sistem ekonomi Islam."
Dari beberapa uraian yang telah dipaparkan di awal tadi, nampaknya
pemerintah saat ini perlu segera mengambil kebijakan perbaikan ekonomi secara
fundamental dan menyeluruh. Kebijakan itu dapat diimplementasikan dalam
bentuk-bentuk sebagai berikut : Pertama, Menjamin pemenuhan kebutuhan
dasar bagi setiap rakyat, seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Kedua,
menjamin kebutuhan darurat rakyat seperti; keamanan, pengobatan dan
pendidikan. Ketiga, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap
rakyat untuk memuaskan kebutuhan sekunder atau tersiernya dengan
semaksimal mungkin secara syar`i. Keempat, mendistribusikan kekayaan
diantara masyarakat dan tidak membatasinya pada tangan orang-orang kaya.
Kelima, menghentikan keterikatan rupiah dengan dolar AS sebagai devisa, dan
tidak mengikatkan rupiah padanya dengan menjadikan dolar sebagai standar
harga barang-barang dan jasa-jasa dalam perdagangan luar negeri.
Hal-hal tersebut tidak akan dapat terlaksana bila para pelaksananya
(kaum birokrat) berkepribadian rusak. Oleh karena itu hal tersebut baru akan
dapat berjalan dengan baik apabila sistem yang diterapkan adalah sistem yang
Islami dan pelaksananya juga orang-orang yang betul-betul takut kepada Allah
SWT dan merindukan bertemu dengan-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai-
Nya.