Anda di halaman 1dari 2

11.

Kobodohan Universal

Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama-sama pada kesempatan ini,
karena jangan-jangan akibat kesibukan kita-kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang
yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia
membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita. Pastilah kita akan menyayangkannya,
dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh. Sekarang marilah kita perhatikan diri kita;
jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan
pemuda itu. Kita acapkali menghabiskan modal yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu
yang sama sekali tidak berarti. Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah
usia! Bukankah
umur merupakan modal yang paling besar bagi manusia? Dalam hal ini Nabi kita yang mulia bersabda,
"Kemuliaan umur dan waktu, lebih bernilai disbanding kemuliaan harta”
Bila kita perhatikan dengan cermat, manusia itu pada hakikatnya adalah pengendara diatas
punggung usia. Ia menempuh perjalanan hidupnya, melewati hari demi hari, menjauhi dunia dan
mendekati liang kubur. Dalam hal ini ada seorang bijak yang mengutarakan keheranannya, "Aku heran
terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan bepaling
dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepada-Nya”
Kadang-kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta
benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita yang berkurang? Bukankah tidak
ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya? Ironisnya lagi, kehilangan usia ini malahan kita
rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya kebodohan manusia yang bersifat
universal, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya. Padahal
semua orang mengerti, bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik
kita lagi.
Para hadirin khalifah Allah yang berbanagia, ada lagi yang aneh pada diri kita. Yaitu kita mau
berjuang mati-matian mengerahkan seluruh daya dan potensi yang ada untuk mendapatkan sesuatu yang
belum pasti kita peroleh: sementara untuk hal yang sudah pasti terjadi, kita hadapi dengan usaha yang
sekedarnya saja. Bukankah satu-satunya kepastian bagi manusia itu adalah hanya kematian? Tidakkah kita
sadari, bahwa sebenarnya kita semua sedang berkarya dalam batas hari-hari yang pendek untuk hari-hari
yang panjang? Lalu mengapa kita selalu cenderung membangun istana duniawi, sedangkan istana akhirat
kita abaikan?
Bila kita sadar dengan tujuan keberadaan kita di dunia, maka pastilah kita menjadikan usia sebagai
sesuatu yang paling berharga. Ia lebih mahal dari emas, intan berlian, atau batu mulia apa pun. Oleh
sebab itu, ia harus digunakan seoptimal mungkin.
Ada perkataan seorang bijak yang sangat baik kita renungkan, katanya : "Aku tidak menyesali
sesuatu seperti penyesalanku terhadap tenggelamnya matahari yang berarti umurku berkurang, akan
tetapi amal shalihku tidak bertambah”
Mengapa kita biarkan umur kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti?
Apakah sudah demikian parahnya kebodohan kita, sehingga rela menghabiskan modal yang paling bernilai
untuk sesuatu yang tidak bernilai? Bukankah kita harus mempertanggung jawabkan setiap menit yang
berlatu? Firman Allah dalam surat Al-Mukminun :115 sangat tegas menegaskan hal ini, Apakah kamu
sekalian mengira, bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan?"
Sebuah pepatah mengatakan, "Kuburan akan datang ke setiap orang dengan kecepatan 60 menit
per jam, tidak peduli sekaya atau sesehat apapun ia sekarang."
(Sumber tulisan : Buku Sentuhan Kalbu Melalui Kultum oleh : Ir.Permadi Alibasyah)