Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Manusia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tujuan untuk
mengabdi secara total kepadaNya. Perintah Shalat, zakat, puasa dan Haji
merupakan beberapa ritual ibadah yang diperintahkan Allah dalam agama Islam
yang mulia ini. Kesemua perintah tersebut bukan hanya sebatas menggugurkan
kewajiban saja namun didalamnya terdapat manfaat-manfaat yang dapat kita
rasakan baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani dengan syarat kita harus
menjalankannya sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Seiiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern ini terlahirlah
manusia-manusia modern yang banyak mengalami krisis akan spiritualitas
agama. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya kemerosotan mental dan moral pada
manusia. Di Indonesia cenderung telah terjadi kemerosotan mental pada
masyarakat, hal ini diperkuat oleh Balitbangkes RI 2013 menunjukkan bahwa ada
indikasi penurunan kesehatan mental pada masyarakat di beberapa daerah
Republik Indonesia.
Betapa besar pengaruh Ibadah terhadap kesehatan mental manusia yang
membuatnya menarik untuk dikaji dengan harapan agar kita semua dapat
mengetahui eksistensi dari ibadah itu sendiri yang akan berdampak positif bagi
kesehatan mental manusia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Ibadah?
2. Apa yang dimaksud dengan Kesehatan Mental?
3. Apa urgensi Ibadah bagi Kesehatan Mental?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agama
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, agama diartikan sebagai ajaran, system
yang mengatur tata keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha kuasa,
serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta
lingkungannya.1 Definisi agama menurut Sidi Gazalba, kata agama berasal dari
kata gam, yang kemudian mendapat awalan dan akhiran “a” sehingga menjadi a-
gam-a. Akar kata itu juga yang berawalan “I” atau “u” dengan akhiran yang sama
yaitu i-gam-a dan u-gam-a. Dalam Bahasa sanskerta kata gam artinya jalan.2
Beberapa ahli menyatakan definisi dari agama. Menurut Achmad
Mubarok, pengertian agama dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu dari perspektif
doktrin dan sosiologis psikologis. Secara doktrin, agama adalah suatu ajaran yang
datang dari Tuhan yang berfungsi sebagai pembimbing kehidupan manusia agar
mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat. Secara doktriner, agama adalah
konsep, bukan realita. Adapun pengertian agama secara sosiologis psikologis
adalah perilaku manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai keagamaan, yang
merupakan gertaran batin yang dapat mengatur dan mengendalikan perilaku
manusia, baik dalam hubungannya dengan Tuhan (ibadah) maupun dengan
sesama manusia. Pengertian agama dalam perspektif sosiologis psikologis, agama
dipahami sebagai pola hidup yang telah membudaya dalam batin manusia
sehingga ajaran agama kemudian menjadi rujukan dari sikap dan orientasi hidup
sehari-hari.3
Menurut Iredho Fani Reza, agama merupakan system kepercayaan
terhadap dzat yang lebih tinggi diluar kesanggupan manusia (trasenden), dimana

1
Ebta Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline Versi 1.5” Mengacu Pada Data
Dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Edisi III (2010-2013)
2
Achmad Gholib, Studi Islam (Jakarta: Faza Media, 2005),4.
3
Achmad Mubarok, Al-Irsyad an Nafsiy: Konseling Agama Teori dan Kasus (Jakarta:
Bina Rena Pariwara, 2000), 4.

2
setiap penganutnya diwajibkan untuk menjalankan ritual ibadah dan mentaati
aturan-aturan berupa nilai dan norma kehidupan sebagai pedoman kehidupan
manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan nanti
diakhirat.4
Selanjutnya, Aliah B. Purwakania Hasan, menyatakan bahwa agama
merupakan serangkaian praktik perilaku tertentu yang dihubungkan dengan
kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu, dan dianut oleh anggotanya. 5
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang definisi agama. Dapat di tarik
garis besarnya bahwa agama memiliki norma dan nilai yang menjadi pedoman
hidup manusia dalam menjalani setiap permasalahan kehidupan. Agama dapat
menjadi pedoman hidup, sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia, jika
manusia itu sendiri mau mentaati semua peraturan dan menjauhi semua larangan
yang ada di dalam agama.

B. Pengertian Ibadah
Setiap agama, pasti memiliki ritual agamanya masing-masing, dengan
pelbagai cara dan bentuk pelaksanaannya. Begitupun dalam agam islam, memiliki
ritual agama yang memiliki ciri khas tersendiri. Ritual agama dalam perspektif
agama islam biasa juga disebut dengan kata ibadah. Allah menciptakan manusia
dengan tujuan untuk beribadah. Sebagaimana telah disebutkan di dalam firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala QS. Adz-Dzariyaat ayat 56:

Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku”.

4
Iredho Fani Reza, Psikologi Agama : Peran Agama Dalam Membentuk Perilaku
Manusia, 9.
5
Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyikapi Rentang
Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), 295.

3
Menurut Quraish Shihab, ibadah bukan hanya sekedar ketaatan dan
ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai
puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seorang terhadap siapa yang
kepadanya ia mengabdi. Lebih lanjut menurut Shihab, Ibadah terdiri dari ibadah
murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah
adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar dan waktunya.
Seperti, salat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah segala
aktivitas lahir dan batin manusia dengan tujuan untuk untuk mendekatkan diri
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.6
Menurut Ammar Fauzi Heryadi, ibadah berarti tindakan yang dilandasi
oleh pengetahuan akan perbuatan yang baik (menurut akal dan wahyu) dan
keyakinan akan hak menyembah Tuhan semata. Sebagai sebuah media tujuan,
agama menyebut ibadah dengan shirath mustaqim (jalan yang lurus).7
Selanjutnya, Soebahar menyatakan bahwa, setiap ibadah yang
diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk meningkatkan hubungan
vertical dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertical adalah hubungan kita
dengan Allah (hablun min Allah), sedangkan hubungan horizontal adalah
hubungan kita dengan sesama manusia (hablum min an-nas). Hubungan ini
merupakan bentuk komunikasi yang bersifat eksternal antara manusia dengan
diluar dirinya. Namun, ada satu bentuk komunikasi yang sering luput dari
perhatian kita, yaitu hubungan dengan diri sendiri (hablun min nafs).
Bahkan lebih lanjut, menurut Iredho Fani Reza ibadah juga termasuk
hubungan dengan alam semesta (hablun min alam). Dalam artian bahwa manusia
memiliki kewajiban untuk melindungi dan tidak merusak alam semesta ini,
semua unsur makhluk hidup di muka bumi. Sebagaimana terdapat di dalam
alquran QS. Al-Qashash ayat 77:

6
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran Volume
15 (Jakarta: Lentera Hati, 2009), 108.
7
Ammar Fauzi Heryadi, “Logika Tindakan: Membangun Sistem Nilai Religius,” Al-
Huda Vol 2 No.8 (2003): 106.

4
Artinya :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Karena manusia sebagai khalifah/pemimpin di dunia ini.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Berdasarkan pelbagai pendapat ahli yang menyatakan tentang ibadah,
maka dalam perspektif psikologi islam ibadah adalah serangkaian ritual
keberagamaan yang memiliki empat dimensi yaitu pertama, hubungan dengan
Tuhan (hablun min Allah) seperti pelaksanaan ritual yang telah ditentukan dalam
agama yaitu pelaksanaan salat, zikir, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya yang
telah di syariat-kan. Kedua, hubungan dengan sesama manusia (hablun min an-
nas) seperti berbuat baik kepada sesama manusia dan saling membantu di jalan
kebaikan. Ketiga, hubungan dengan diri sendiri (hablun min-nafs) seperti
menjalankan kewajiban sebagai seorang manusia dan memperhatikan yang
menjadi hak untuk diri sendiri. keempat, hubungan dengan alam semseta (hablun
min-alam) seperti turut menjaga kelestarian ekosistem kehidupan didunia ini.

C. Definisi Kesehatan Mental


Secara teoritis kesehatan mental diartikan sebagai kemampauan seseorang
untuk menyesuaikan diri secara normal, mampu mengembangkan potensi dirinya

5
semaksimal mungkin, tercapainya keharmonisan jiwa dan dapat menciptakan
hubungan pribadi dan orang lain yang bermanfaat serta bahagia.8
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah
kemampuan adaptasi seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan alam sekitar
secara umum, sehingga merasakan senang, bahagia, hidup dengan lapang,
berperilaku sosial secara normal, serta mampu menghadapi dan menerima
pelbagai kenyataan hidup.9
Semiun (2006) mengatakan bahwa ilmu kesehatan mental merupakan
terjemahan dari istilah mental hygiene. Mental berasal dari kata latin mens,
mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat, sedangkan hygiene
berasal dari kata yunani hygiene yang berarti ilmu tentang kesehatan. Jadi ilmu
kesehatan mental adalah ilmu yang membicarakan kehidupan mental manusia
dengan memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks.
Menurut Darajat (dalam Bastaman, 2001) kesehatan mental adalah
terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan
terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan
lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk
mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat. Definisi ini
memasukkan unsur agama yang sangat penting dan harus diupayakan
penerapannya dalam kehidupan, sejalan dengan penerapan prinsip-prinsip
kesehatan mental dan pengembangan hubungan baik dengan sesama manusia.
Jaelani (2001) menambahkan bahwa ilmu kesehatan mental merupakan
ilmu kesehatan jiwa yang memasalahkan kehidupan rohani yang sehat, dengan
memandang pribadi manusia sebagai suatu totalitas psikofisik yang kompleks.
Hawari (1997) juga mengatakan bahwa pengertian kesehatan mental menurut
paham ilmu kedokteran adalah satu kondisi yang memungkinkan perkembangan
fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan

8
Ghozali Rusyid Affandi & Dewanti Ruparin Diah, Religiusitas Sebagai Prediktor
Terhadap Kesehatan Mental Studi Terhadap Pemeluk Agama Islam, JURNAL PSIKOLOGI, Vol 6,
No.1, 383 – 389
9
Iredho Fani Reza, Efektivitas Pelaksanaan Ibadah Dalam Upaya Mencapai Kesehatan
Mental, PSIKIS- Jurnal Psikologi Islami, Vol. 1, No.1, 105-115

6
itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Oleh karena itu makna kesehatan
mental mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua
segi-segi dalam penghidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia
lain.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
kesehatan mental adalah satu kondisi dimana perkembangan fisik, intelektual dan
emosional seseorang berkembang sejalan dengan terwujudnya keserasian dan
penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya yang
berlandaskan keimanan dan ketaqwaan sehingga mencapai kehidupan bahagia di
dunia dan akhirat.

D. Hubungan Ibadah dengan Kesehatan Mental


Setelah kita mengetahui pengertian ibadah dan kesehatan mental,
selanjutnya kita akan membahas apa hubungan ibadah dengan kesehatan mental
itu sendiri. Sebagaimana penjelesan yang sudah dibahas yakni mengenai ibadah
yang diartikan sebagai tindakan yang dilandasi oleh pengetahuan akan perbuatan
yang baik (menurut akal dan wahyu) dan keyakinan akan hak menyembah Tuhan
semata. Ibadah didalam agama Islam terbagi menjadi dua yakni ibadah murni
(mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah
ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar dan waktunya. Seperti,
salat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir
dan batin manusia dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Individu yang memahami dan menghayati pelaksanaan ibadah, cenderung
mampu mengatasi permasalahan kehidupan yang sedang dialami, sehingga
memiliki kesehatan mental yang baik. Seseorang yang menjalankan ibadah
dengan benar cenderung mengalami ketenangan dalam jiwa nya yang berdampak
positif bagi kesehatan jasmani dan rohani nya. Jahoda mengatakan kesehatan
mental tidak hanya terbatas pada absennya seseorang dari gangguan kejiwaan dan
penyakitnya. Akan tetapi, orang yang sehat mentalnya memiliki karakter utama
sebagai berikut:

7
1) Sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri dalam arti dapat mengenal
diri sendiri dengan baik;
2) Pertumbuhan, perkembangan, dan perwujudan diri yang baik;
3) Integrasi diri yang meliputi keseimbangan mental, kesatuan pandangan, dan
tahan terhadap tekanan-tekanan yang terjadi;
4) Otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam atau
kelakuan-kelakuan bebas;
5) Persepsi mengenai realitas, bebas dari penyimpangan kebutuhan, serta
memiliki empati dan kepekaan sosial;
6) Kemampuan untuk menguasai lingkungan dan berintegrasi (Dalam A.F.
Jaelani, 2001)
Al-Ghazali menetapkan indikator kesehatan mental didasarkan kepada
seluruh aspek kehidupan manusia berupa hablun min Allah, hablum min an-nas,
dan hablun min al-alam. Adapun indikator kesehatan mental diantaranya:
1) Keseimbangan yang terus menerus antara jasmani dan rohani dalam
kehidupan manusia;
2) Memiliki kemuliaan akhlak dan kezakiyahan jiwa, atau memiliki kualitas
iman dan takwa yang tinggal;
3) Memiliki makrifat kepada Allah (Dalam Ramayulis, 2013).
Berdasarkan penjelasan diatas maka untuk mendapatkan kesehatan mental,
diperlukan keseimbangan antara aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual pada
diri individu manusia. Dalam pembahasan kali ini lebih menekankan pentingnya
aspek spiritual yang berasal dari pelaksanaan ibadah sebagai salah satu cara
mendapatkan kesehatan mental. Berikut merupakan manfaat dari serangkaian
ibadah yang akan kita dapatkan untuk kesehatan mental :

1. Manfaat Shalat bagi Kesehatan Mental


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan shalat kepada semua umat
terdahulu. Hal ini sebagaimana disebutkan melalui lisan para nabi dan rasul-Nya.

8
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi Ibrahim a.s dalam Al-
Qur’an surat Ibrahim [14] ayat 40.10 :

Artinya :
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap
mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”.
Salah satu ibadah yang dapat mencegah maksiat dan menenangkan hati
yaitu shalat. Shalat adalah satu-satunya perintah yang disampaikan Allah
langsung, di singgasana-Nya, kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Shalat diajarkan, diamati secara cermat, dicoba diawasi, diulang dalam praktik,
diriwayatkan dan dibukukan dengan mengacu kepada al-Qur’an.11 Sebagaimana
di dalam Al Quran QS. Al-Ankabut [29] : 45

Artinya :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran)
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan”.
Dalam buku Thibbun Nabawiyy, Ibnu Qayyim al Jauziyyah pernah
berkata, “shalat mendatangkan rejeki, memelihara kesehatan, menolak gangguan,
mengusir penyakit, menolak kemalasan, mengaktifkan anggota, membantu
kekuatan, melapangkan dada, memberikan santapan kepada ruh, menerangi hati,
memelihara nikmat, menolak bencana, mendatangkan berkah, menjauhkan setan
dan mendekatkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.12

10
Ahmad Bin Salim Baduwailan Dan Hishshah Binti Rasyid, Berobatlah dengan Shalat
dan Al-Qur’an, (Solo: Aqwam Media Profetika, 2010), hlm. 10
11
Bahar Azwar, Fikih Kesehatan, (Jakarta: Qultum Media, 2005), hlm. 3
12
Imam Musbikin, Rahasia Shalat Bagi Penyembuhan Fisik dan Psikis, (Yogyakarta:
Mitra Pustaka, 2003), hlm 23

9
Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi
gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan
dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis penyakit.
Penelitian yang dilakukan Doufesh, Faisal, Lim dan Ibrahim menunjukkan
bahwa posisi shalat pada saat sujud merupakan kondisi gelombang alpha pada
otak. Meningkatnya kondisi otak di tingkat gelombang alpha menunjukkan
keadaan relaksasi.13 Selanjutnya kajian yang dilakukan oleh Biocybernaut
Institute menunjukkan bahwa dengan meningkatkan gelombang alpha, dapat
mengurangi stress, kecemasan dan meningkatkan system kekebalan tubuh.
Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Iredho Fani Reza,
menemukan bahwa salah satu bentuk implementasi coping religious dalam
perspektif agama Islam terhadap kerentanan stress pada pasien gagal ginjal kronik
yaitu pelaksanaan salat.14
Zaharuddin, Dkk, menyatakan bahwa shalat memiliki pelbagai unsur
penting. Pertama, salat mengurangi stimulasi reaksi psiko-fisiologis, sehingga
menghasilkan respons relaksasi. Kemudian, hal ini akan memberikan keadaan
mental yang mencerminkan penerimaan dan kepasrahan yang dikenal sebagai
respons relaksasi tingkat lanjut. Cara umat Islam melakukan penyembahan
terhadap Allah yang dinamik juga melatih postur tubuh bergerak dalam sikap
waspada yang terkonsentrasi dalam kesatuan jiwa dan raga. Kedua, sebagai alat
komunikasi, salat dapat memberikan dukungan psikologis bagi mereka yang
melaksanakannya. Dukungan ini terutama sangat berarti jika bentuk dukungan
lain tidak memungkinkan.15
Penelitian yang dilakukan oleh Ari Wisono Adi menunjukkan korelasi
negative yang signifikan antara keteraturan menjalankan salat dengan tingkat

13
Hazem Doufesh, Tarig Faisal, Kheng Seang Lim and Fatimah Ibrahim, “EEG Spectral
Analysis on Muslim Prayers,” Appl Psychophysiol Biofeedback (2012), 123.
14
Iredho Fani Reza, Mengatasi Kerentanan Stres Melalui Coping Religius (Studi Pada
Pasien Gagal Ginjal Kronik) (Yogyakarta: Kanisius, 2015), 192.
15
Zaharuddin, dkk, Stress Menghadapi Musibah Perspektif Islam Ditinjau Dari Adversity
Quotient (Studi Pada Remaja Panti Asuhan di Kecamatan Plaju Kota Palembang (Palembang:
Rafah Press, 2013), 25.

10
kecemasan. Artinya, makin rajin dan teratur orang melakukan salat, makin rendah
tingkat kecemasannya.16
Berdasarkan hasil penelitian dari para ahli mengenai manfaat shalat bagi
kesehatan mental dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan ibadah shalat
sangat berpengaruh positif terhadap aspek kehidupan manusia.

2. Manfaat Puasa bagi Kesehatan Mental


Ibadah puasa dilaksanakan bukan hanya sebatas kewajiban sebagai
seorang muslim. Tetapi, melalui ilmu pengetahuan, banyak terungkap manfaat
puasa dalam aspek kehidupan manusia, salah satunya terhadap kesehatan manusia.
Menurut Zahrani, puasa memiliki faedah dan manfaat kedokteran dalam
mengobati banyak penyakit tubuh. Puasa merupakan salah satu terapi yang efisien
dalam melepaskan diri dari perasaan bersalah dan berdosa serta dari perasaan
depresi ataupun penyakit kejiwaan lainnya.17
Menurut Harun Nasution, ibadah puasa merupakan penyucian roh. Di
dalam berpuasa seseorang harus menahan hawa nafsu makan, minum dan seks.
Dismaping itu, ia juga harus menahan rasa amarah, keinginan menggunjing orang,
bertengkar dan perbuatan kurang baik lainnya. Melalui puasa, latihan jasmani dan
rohani bersatu dalam usaha menyucikan roh manusia.18
Secara penelitian empiris, pengaruh ibadah puasa juga banyak dilakukan
oleh para ahli, sebagian besar menyimpulkan berpengaruh positif terhadap
kesehatan manusia. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Abdul Jawwad ash-
Shawi, menemukan bahwa aktivitas dan kegiatan di tengah berpuasa, mampu
memenuhi kadar glukosa yang diproduksi atau disimpan di dalam hati. Glukosa
ini adalah makanan ideal untuk otak. Glukosa berfungsi memproduksi sel-sel

16
Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islami: Solusi Islam atas
Problem-Problem Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 98.
17
Musfir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, 490-491.
18
Harun Nasution, Islam: Jilid I (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia(UI-Press),
2013), 31-32.

11
darah merah, membentuk tulang, system syaraf, otot dan menjadikannya lebih
berfungsi.19
Penelitian Wahjoetomo menyatakan bahwa aktivitas puasa secara nyata
tidak mengganggu kesehatan tubuh sama sekali, bahkan justru dapat
meningkatkan derajat kesehatan seseorang yang menjalankannya secara baik,
terutama menyangkut fungsi liver atau hati, kendatipun kualitas pelaksanaan
ibadah puasanya relative masih rendah.20
Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli
diatas maka dapat disimpulkan bahwa puasa memiliki peran yang efektif dalam
meningkatkan kesehatan manusia.

3. Manfaat Wudhu bagi Kesehatan


Ibadah wudu memiliki manfaat yang baik terhadap kesehatan manusia
secara holistis. Salah satu alat pelaksanaan berwudu adalah air. Air adalah cairan
jernih tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau yang terdapat dan diperlukan
dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara kimiawi
mengandung hydrogen dan oksigen. Dalam perspektif agama Islam, air memang
memberikan manfaat yang banyak dalam kehidupan manusia. Sebagaimana
terdapat di dalam beberapa surah dalam alquran bahwa air menjadi suatu zat
sangat bermanfaat dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Menurut Muwaffaq al-Shati, wudu dapat meningkatkan tekanan darah,
menambah gerakan jantung, sehingga menambah jumlah sel-sel darah merah,
mengaktifkan sirkulasi dalam tubuh, memperkuat gerakan pernafasan, menambah
kadar oksigen dalam tubuh, memperbanyak karbondioksida yang keluar.21
Kajian yang dilakukan Lela dan Lukmawati, menyimpulkan manfaat wudu
bagi kesehatan psikologis diantaranya :
1) Wudu dapat mereduksi (mengurangi) rasa marah.
2) Wudu dapat membantu piikiran berkonsentrasi dan menenangkan jiwa.

19
Saiful Akhyar, Dahsyatnya Terapi Puasa (Jakarta: Naskah Pustaka, 2009), 31.
20
Wahjoetomo, Puasa dan Kesehatan (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), 44.
21
Ahmad Rusydi, Religiusitas dan Kesehatan Mental (Studi Pada Aktivis Jama’ah
Tabligh Jakarta Selatan) (Tanggerang Selatan: Young Progressive Muslim, 2012), 144.

12
3) Wudu dapat menghindarkan reaksi stress.
4) Wudu dapat memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang “bersih”
dan sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti
mendirikan shalat atau membaca alquran.22
Lebih lanjut, menurut Abdul Mujib, wudu memiliki makna terapi, baik
jasmani maupun rohani. Wudu sebagai terapi jasmani yaitu : 1) Hydro Therapy:
yaitu terapi dengan air. Terapi ini sangat baik dilakukan bagi individu yang
memiliki penyakit insomnia (sulit tidur), stress dan gampang naik darah (marah);
2) Massage Therapy: yaitu terapi dengan pijatan-pijatan refleksi pada bagian-
bagian tertentu di muka, tangan dan kaki. Pijatan ini selain dapat memiliki makna
relaksasi dengan mengendorkan otot atau urat syaraf, juga untuk melancarkan
aliran darah yang pada akhirnya dapat berfungsi sebagai perawatan wajah dan
secara keseluruhan, sebab dalam teknik pijatan refleksi tangan dan kaki
merupakan pusat tusukan. Wudu sebagai terapi ruhani yaitu: wudu dapat mengikis
dan menghapus dosa akibat perilaku maksiat. Rukun-rukun wudu dapat
menghilangkan dosa yang dilakukan oleh mata, mulut, hidung, telinga, tangan dan
kaki.23
Lebih lanjut, kajian yang dilakukan Mukhtar Salem, dari sudut pandang
pengobatan non alternative, mengatakan bahwa ada enam manfaat kesehatan dari
setiap bagian dalam sunnah berwudu, diantaranya:
1) Kulit
Wudu membantu untuk mencegah kanker kulit. Bagian yang dibilas
selama berwudhu adalah bagian dimana tubuh paling rentan terkena polusi,
apakah itu polusi dari dalam tubuh yang keluar melalui pori-pori kulit, seperti
keringat, maupun dari luar tubuh.

Lela dan Lukmawati, “Ketenangan”: Makna Dawamul Wudhu (Studi Fenomenologi


22

Pada Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang)”: 59.


23
Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, 266-267.

13
2) Mulut
Alasan berkumur dalam wudhu, adalah untuk menyingkirkan sisa-sisa
makanan, yang dapat menyebabkan masalah pada gigi dan gusi. Ini salah satu
alasan bersiwak (menggosok gigi) dianjurkan sebelum berwudhu.

3) Lubang Hidung
Ketika membersihkan kedua lubang hidung, gerakan ini pula
menghasilkan sebuah tindakan pencegahan terhadap penyakit dengan
menyingkirkan kuman yang terperangkap di kedua lubang hidung dan
mencegahnya masuk ke system pernapasan.

4) Wajah
Membersihkan wajah berulang-ulang dapat memperkuat sel kulit wajah
dan membantu mencegah penuaan dini keriput seperti halnya efek membersihkan
bagian dalam mata, yang dapat mencegah infeksi mata. Membersihkan telinga
dapat menyingkirkan penumpukan lilin, yang menyebabkan infeksi telinga serta
mempengaruhi bagian dalam telinga, yang menyebabkan ketidakseimbangan
tubuh.

5) Kaki
Sunnah mendorong untuk membersihkan sela-sela jari kaki ketika
berwudhu, yang itu juga sangat penting. Bagi kaki di zaman modern ini
terperangkap sepanjang hari dalam sepatu.

6) Memadamkan Api Amarah


Disarankan agar berwudhu jika dalam keadaan marah untuk
menurunkannya. Efek menyegarkan dari air, serta marah itu berasal dari setan
yang terbuat dari api dan dapat dipadamkan dengan air.24

24
M. Aliudin, “Keajaiban Wudu, Mencegah Kanker Kulit”, Tribarata News Sumsel,
Edisi: 3/I-III/2016: 4

14
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa berwudhu bukan
hanya merupakan sarana Ibadah kepada Allah, tetapi juga sebagai sarana terapi
kesehatan bagi manusia yang berfungsi secara holistic. Dalam artian wudhu
bermanfaat bagi kesehatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual.

4. Manfaat Doa bagi Kesehatan


Menurut Rothe, doa adalah cara ampuh untu mendapatkan kekuatan
dalam menjalani kehidupan beragama dan sebagai penyembuh untuk kelemahan
dalam beragama.25 Terdapat pelbagai pendapat ahli yang mengungkapkan
pengaruh positif doa terhadap aspek kehidupan manusia.
Menurut Zaharuddin, Dkk, doa merupakan alat komunikasi dengan Allah
yang dapat memberikan dukungan dalam menghadapi konflik. Doa dapat
memberikan ketenangan.26 Selanjutnya penelitian Fazlur Rahman, Adnan, Al-
Tharshi, Tariq bin Ali Al-Habib dan Shahid Athar, menemukan bahwa doa
memiliki peran penting dalam pemulihan atau mengatasi penyakit dari pasien
Muslim. Lebih lanjut, hasil penelitian Rahman, dkk. Menunjukkan bahwa doa di
dalam islam dapat menyebabkan stress berkurang dan menurunkan tekanan
darah, memberikan pasien kenyamanan spiritual dan meningkatkan kemampuan
emosional untuk menghadapi penyakit yang dialami.27
Doa dapat memberikan dampak yang sangat besar dalam mewujudkan
harapan seseorang menurut Carrel seorang ajli bedah Prancis (1873-1941),
menyatakan “banyak diantara mereka yang memperoleh kesembuhan dengan
jalan berdoa”. Menurutnya doa adalah “suatu gejala keagamaan yang paling
agung bagi manusia karena, pada saat itu, jiwa manusia terbang, menuju
Tuhannya”.28

25
Friedrich Heiler, Prayer: A Study in the History and Psychology of Religion, xiv
26
Zaharuddin, dkk, Stress Menghadapi Musibah Perspektif Islam Ditinjau Dari Adversity
Quotient (Studi Pada Remaja Panti Asuhan di Kecamatan Plaju Kota Palembang (Palembang:
Rafah Press, 2013), 29.
27
Salih Yucel, Prayer And Healing In Islam: with addendum of 25 Remedies for the Sick
by Said Nursi, 4-5.
28
M. Quraush Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran
Volume 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2009), 493.

15
Menurut Tuwajiri, seberapa besar kekuatan dari keyakinan kepada Allah,
istiqamah terhadap perintah-perintah Allah dan menggerakan kemampuan untuk
meninggikan kalimah Allah, maka sebesar itu pula peluang terkabulnya doa dan
keberhasilan mendapatkan apa yang diminta. Lebih lanjut menurut Quraish
Shihab, kalaupun apa yang diinginkan tidak sepenuhnya tercapai, dengan doa
tersebut seseorang telah hidup dalam suasana optimism, harapan dan hal ini tidak
ragu lagi mempunyai dampak yang sangat baik dalam kehidupannya.
Menurut William M. Gabler, semua jenis doa, berhubungan positif
terhadap kepuasan hidup, kesejahteraan, kebahagiaan, kepuasan agama dan
sebagai cara mengatasi penyakit pada individu.29 Penelitian Polama menyatakan
bahwa semua jenis doa berkorelasi positif dengan perasaan pribadi akan
kedekatan dengan Tuhan. Frekuensi berdoa juga berkorelasi positif terhadap
peningkatan kedekatan dengan Tuhan.
Penelitian Wachholtz dan Sambamoorthi menunjukkan bahwa
penggunaan doa untuk masalah kesehatan dari tahun 2001-2007 menagalami
peningkatan. Meningkatnya hubungan positif antara rasa sakit dan penggunaan
dia sebagai cara mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami, menunjukkan
bahwa sangat penting bagi pelayanan perawatan kesehatan mental dan fisik untuk
menyadari pentingnya hubungan antara doa dan kesehatan.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa doa
memiliki pengaruh yang baik terhadap penjagaan dan peningkatan dalam setiap
aspek kehidupan manusia. Sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa melalui doa memberikan harapan kepada
seseorang untuk apa yang diharapkan. Melalui doa juga dapat meningkatkan
optimism seseorang dalam menghadapi permasalahan. Sehingga seseorang akan
berupaya untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.

29
William M. Gabler, “The Relationship of Prayer and Internal Religiosity to Mental and Spiritual
Well-being”: 22.

16
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan orang yang dapat berkembang dalam lingkungan
keluarga yang sehat akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwanya yang
sehat dan mentalnya akan sehat pula. Lalu sebaliknya orang yang orang yang dari
latar belakang kehidupannya tidak dilandasi dan dibentengi dengan agama maka
cenderung akan mengalami gangguan kesehatan baik itu secara fisik maupun
secara mental yang mengganggu kepribadian seseorang dalam mengarungi
kehidupan. Bersyukur segali masih diberi nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat
materi, dan nikmat-nikmat lainnya jangan lah kita terpengaruh terhadap
lingkungan yang tidak baik karna hanya akan merusak diri kita sendiri dan akan
merugikan masa depan.
Keberagamaan sangat berpengaruh dalam membentuk mental seseorang
agar dapat menata hidup yang lebih baik dan menyadari bahwa didalam mental
yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

17