Anda di halaman 1dari 9

Perkembangan Mikrobiologi

Dalam system klasifikasi dengan lima kingdom, kingdom Protista terdiri atas beberapa filum, yaitu
sebagai berikut :

1. Mastigophora (Protista berbulu cambuk)


2. Sarcodina (Protista berkaki semu) protista mirip hewan
3. Ciliophora (Protista bersilia)
4. Sporozoa (Protista berspora)
5. Eulenophyta (Euglena)
6. Chrysophyta (alga keemasan)
7. Pyrophyta (alga api)
8. Chlorophyta (alga hijau) Protista mirip tumbuhan
9. Phaeophyte (alga cokelat)
10. Rhodophyta (alga merah)
11. Mycomycota (jamur lendir) Protista
12. Oomycote (jamur air)

Klasifikasi sistem whittaker’s

Protista merupakan organisme eukariotik awal yang merupakan turunan dari organisme eukariotik. Pada
umumnya Protista ditemukan di air, baik air tawar maupun air laut. Protista merupakan plankton,
adapula yang melekat di dasar laut, danau, dan sungai. Protista yang dapat berfotosintesis merupakan
produsen utama dan penyedia makanan bagi organisme lain di ekosistem. Protista memiliki cara makan
yang berbeda-beda, dan dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut :

1. Protista autotroph, yaitu Protista yang meiliki klorofil, sehingga mampu berfotosintesis (mampu
mengubah zat anorganik menjadi zat organic dengan bantuan energi matahari). Protista yang
bersifat autotroph adalah alga, meliputi filum euglenophyte, chrysophyta, pyrrophyta, dan
phaeophyta.
2. Protista heterotrof yang menelan makanan dengan cara memasukkan makanan melalui membran
sel dengan cara fagositosis atau memasukkan makanan melalui mulut sel, contohnya adalah
protozoa, meliputi filum mastigophora, sarcodina, ciliophoran, dan sporozoa.
3. Protista yang mencerna makanan di luar sel (ekstraseluler) dan kemudian menyerap hasilnya yang
berupa sari-sari makanan, contohnya adalah jamur lender dan jamur air.
Antara sel-sel tumbuhan dan hewan ada beberapa persamaan yang fundamental, tetapi meskipun
demikian ada dua tipe sel yang mutlak berbeda, yaitu :
a. Eukariotik (Gr. Eu=benar, asli; karyon=nucleus)
b. Prokariotik (Gr. Pro=primitif)
Nucleus dari sel eukariotik terpisah dari sitoplasma oleh membrane nucleus yang beropi banyak.
Sedangkan pada sel prokariotik materi inti (DNA) tidak dibungkus oleh membrane nucleus, tapi
tersebar, kadang-kadang sebagai gumpalan yang jelas terlihat di seluruh (nukleotid)
Gambar. Perbandingan sel prokariotik dengan eukariotik

Prokariotik Eukariotik
1. Daerah nucleus
a. Membran nucleus - +
b. Pembelahan mitosis - +
c. Jumlah kromosom per daerah 1 >1
2. Sitoplasma
a. Mitokondria - +
b. Kloroplas - +/-
c. Aparat golgi - +
d. Ribosom sitoplasma 70 S 80 S
e. Ribosom organel - 70 S
f. Lisosom - +
g. Vakuola terbungkus membrane - +
h. Fagositosis dan gerak ameboid - +/-
3. Dinding sel (bila ada)
a. Asam muramat (muramic acid) + -
b. Asam diaminopimelat (diaminopimelic +/- -
acid)
4. Flagel (bila ada) Sederhana Kompleks

Pada umumnya, sel prokariotik mempunyai dinding sel yang mengandung polimer dari N-
asetilglukosamina dan asam N-asetilmuramat. Adanya struktur semacam ini memberikan sifat-sifat unit
pada sel-sel ini yang membedakannya dari sel eukariotik. Kecuali pada mycoplasma dan beberapa jenis
pseudomonas yang halofil. Asam muramat adalah konstituen yang universal dari dinding sel prokariotik.

Bab II. Susunan sel bakteri

Dinding sel

Dinding sel dari suatu bakteri mem=nentukan bentuk sel. Meskipun tidak mengandung enzim dan tidak
bersifat semipermeable, namun dinding ini banyak diperlukan agar sel dapat berfungsi secara normal.
Dinding selnya kaku sehingga memungkinkan bakteri mengatasi konstrasi osmosi yang sangat berbeda-
beda dan sitoplasma tidak dapat mengembang melampaui batas dinding yang kaku itu.

Kekakuan dan kekuatan dinding sel itu terutama disebabkan oleh serat-serat yang kuat yang umumnya
tersusun dari heteropolymer yang disebut peptidoglikan atau mukopeptida, tetapi juga disebut
glikopeptida, muropeptide, glikosamino-peptida, mukokompleks, murein, dsb. Serat-serat ini
membentuk anyaman yang kuat.

Tabel perbedaan susunan dinding bakteri gram positif dan gram negative

No. Gram positif Gram negative


1. Komponen terbesar terdiri dari Terdiri dari tiga lapisan :
mukopeptida a. Lapisan dalam adalah mukopeptida
b. Lapisan bagian luar terdiri dari dua
lapisan:
1) Lipopolisakarida
2) Lipoprotein

2. Pada beberapa bakteri terdapat asam Tidak ada asam teikhoik


teikhoik
3. Mukopeptida mengalami lisis oleh Lisozim melunakkan dinding sel;
lisozim deterjen mengadakan disorganisasi
dinding itu dengan merusak lapisan
lipida
4. Dinding sel tebal, 25-30 nm Dinding sel tipis, 10-15 nm

Membrane sitoplasma

Membrane sitoplasma disebut juga membrane sel. Mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai berikut :

1. Memelihara tekanan osmosis


Memelihara tekanan osmosis intraseluler artinya membrane sel bertindak sebagai penyangga
osmotic (osmotic barrier) dan tidak permeable terhadap zat-zat yang mengion dan zat-zat yang tidak
mengion yang molekulnya tidak lebih besar dari gliserol.
2. System transport aktif
System transport aktif berfungsi untuk mengeluarkan enzim ekstraseluler dan zat-zat untuk
mempolopori pembentukan dinding sel serta mengatur pemasukan garam-garam esensial, asam
amino, dan gula-gula yang molekulnya lebih besar. Tiap system transpor mempunyai fungsi yang
khusus untuk suatu zat tertentu. Enzim-enzim ini seringkali disebut permeases.
3. Menyediakan tempat untuk reaksi utama enzim
Jika membrane sel itu diperiksa secara tersendiri tampak ada partikel kecil yang bergagang pendek
melekat pada sel. Partikel ini menyerupai partikel yang ditemukan dalam mitokondria pada sel
eukariotik dan mengandung aktivitas ATP-ase. Molekul-molekul besar yang melalui dinding sel dapat
dipecah di tempat ini menjadi gula yang sederhana, asam amino, dsb yang kemudian diangkut
melalui membrane sel dengan system transpor.

Sitoplasma

Sitoplasma (Greek:kytos= sel, plasma=substansi) bukan merupakan subtansi yang homogen dan terdiiri
dari bermacam-macam zat dan struktur yang berada dalam membrane sel, kecuali materi nucleus.
Dengan kata lain terdiri dari beraneka ragam mikrosom atau partikel subseluler yang sebagian besar
adalah protein atau nucleoprotein dengan beberapa lipoprotein dan bahan-bahan lain.
1. Ribosom
Semua sitoplasma sel tampak seperti bergranula. Hal ini disebabkan karena adanya sejumlah besar
partikel-partikel halus yang tersebar secara baur. Partikel ini dinamakan ribosom. Setiap ribosom
terdiri dari subunit kecil (30 S) dan subunit yang lebih besar (kira-kira 50 S).ribosom sebagian besar
terdiri dari rRNA (ribosom RNA) dengan sedikit protein (ribonucleoprotein). Sekurang-kurangnya
sebagian dari rRNA itu adalah mRNA (messeger RNA). Dengan demikian, ribosom itu bertanggung
jawab atas sintesis protein spesifik berikut protein dari semua enzim.
2. Nucleus
Sel-sel prokariotik tidak mempunyai nucleus seperti pada eukariotik dengan membrane nucleus
yang jelas, yang ada adalah suatu daerah nucleus yang disebut nukleotid yang tidak dilingkungi oleh
membrane dan tidak mengadakan mitosis dan meiosis. Strukturnya merupakan suatu masa amorf
yang obuler terdiri dari banyak materi kromatin yang fibriler.
Fibril yang Nampak pada nukleotid bakteri dalam mikroskopelektron merupakan filamen DNA yang
panjang (kira-kira 1400 nm) dan tipis (kira-kira 3 nm), fleksibel dan sirkuler (tidak berujung bebas).
Susunannya dalam sel dapat digambarkan sebagai dua helai benang halus sepanajang enam sampai
sepuluh kaki, yang dililitkan Bersama dan digulung, ujungnya diikat Bersama dan keseluruhannya
dikumpulkan dalam genggaman, sehingga berentuk berkas yang bentuknya tidak teratur dan terikat
kuat.
3. Spora
Spora pada bakteri adalah endospora, suatu badan yang refraktil terdapat dalam induk sel dan
merupakan suatu stadium istirahat dari sel tersebut. Endospora tidak mudah dicat, tahan terhadap
pemanasan, pengeringan dan terhadap bahan kimia yang beracun. Pembentukan endospora
terbatas pada genus saja, terutama genus bacillus dan clostridium yang berbentuk batang. Sifatnya
terhadap pengecatan Gram adalah gram positif atau gram variabel pada biakan tua.
Pembentukan spora didahului oleh suatu invaginasi dari membrane sitoplasma yaitu dari sel induk
(sporangium), sehingga terbentuk suatu sel yang bermembran rangkap. Selama maturase terbentuk
dinding-dinding tambahan disekitarnya dan akhirnya sporangium itu pecah dan spora yang telah
matang akan terlepas. Lapisan yang menyebabkan spora tahan panas dinamakan korteks, yang
mengandung garam kalsium dari asam dipikolinat dalam konsentrasi tinggi.

Bakteri berbentuk L

Penelitian menunjukkan bakteri bentuk L ini dapat kembali ke bakteri asli yang berdinding, tetapi
beberapa diantaranya tetap tidak berdinding dan menghasilkan keturunan tanpa dinding. Karena bakteri
berbentuk L tidak berdinding, maka tidak dapat diganggu oleh penisilin dan antibiotic lain dengan daya
kerjanya pada dinding sel.

Mutase menjadi bentuk L akan bebahaya bila bakteri tersebut bersifat patogen. Bila masih ada
sedikit dinding sel tertinggal, seperti terbentuknya sferoplas oleh reaksi penisilin atau lisozim, dinding
akan terbentuk kembali bila kedua zat tersebut dihilangkan, tetapi bila tidak ada sisa dinding sel yang
tertinggal, maka sel tersebut tidak ada kesanggupan lagi untuk meregenerasi sel baru yang berdinding,
sehingga terbentuklah bakteri berbentuk L. secra normal, sel-sel ini dapat membesar tapi tidak
membelah. Bila dipindahkan ke dalam medium pembiakan agar unak (0,8%) dapat terjadi pembelahan
dengan keturunan tanpa dinding. Perubahan menjadi bentuk L ini stabil tanpa batas. Reproduksi hanya
dapat terjadi dalam medium lunak.

Bab III nutrisi mikroorganisme

Pada umumnya makanan masuk melalui membrane sel (juga dinding sel bila ada) dalam bentuk
larutan pada sel tumbuhan dan sel hewan dengan cara difusi dan osmosis. Cara pengambilan makanan
seperti ini disebut osmotrof. Dengan bantuan enzim permease, larutan makanan dapat melalui
membrane sel.

A. Makronutrien
1. Nitrogen nitrogen dan Sulfur
Kedua unsur ini harus berada dalam bentuk reduksi untuk kombinasi organic. Beberapa
genus bakteri secara enzimatik (enzim nitrogenase) dapat mereduksi nitrogen atmosfer untuk
sintesis persenyawaan organic dalam sel, proses ini disbeut fiksasi nitrogen biologis. Organisme
yang tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk mengkatalisis reduksi N dan S harus
mendapatkan unsur-unsur ini dalam bentuk sudah direduksi.
2. Hydrogen dan Oksigen
a. Hydrogen molekuler, digunakan oleh beberapa spesies bakteri sebagai sumber energi.
b. Oksigen molekuler
Sehubungan dengan penggunaan oksigen molekuler, dikenal sekurang-kurangnya lima
kelompok organisme:
1) Obligat aerob, membutuhkan O2 yang sangat banyak sebagai akseptor akhir dalam
oksidasi biologis atau respirasi aerob.
2) Obligat anaerob, mikroorganisme yang termasuk golongan ini tidak membutuhkan
oksigen bebas, bahkan jika kontak dengan oksigen akan mengakibatkan penghambatan
atau mematikan organisme tersebut.
3) Fakultatif aerob atau fakultatif anaerob dapat menggunakan O2 sebagai akseptor
electron.
4) Mikroaerofil, organisme dari golongan ini mati atau terhambat pertumbuhannya oleh
tegangan oksigen penuh. Pertumbuhan terbaik dari organisme ini ialah pada konsentrasi
oksigen terbatas.
5) Indeferen, ialah organisme yang tidak membutuhkan O2 bebas ataupun terhambat
olehnya, kecuali dalam keadaan tertentu.
3. Karbon
a. Organisme itu dapat hidup dari diet bahan organic dengan menggunakan CO2 atau karbonat
sebagai satu-satunya sumber karbon. Golongan ini disebut autotrof
b. Tidak dapat menggunakan CO2 sebagai satu-satunya sumber karbon , tetapi membutuhkan
satu atau lebih zat organic (glukosa, asam amino) disamping mineral sebagai sumber
karbon. Golongan ini disebut heterotrof.
B. Mikronutrien
1. Mikronutrien Anorganik
Beberapa unsur logam berat (Co, Mo, Cu, Zn) sangat dibutuhkan untuk kehidupan sel meskipun
jumlah yang digunakan sangat sedikit. Zat-zat ini disebut unsur pelacak atau mikronutrien
anorganik. Zat ini biasanya berfungsi sebagai molekul kecuali dalam enzim-enzim dan vitamin
tertentu.
2. Mikronutrien organic, zat lain yang bertindak sebagai mikronutrien organic untuk banyak
spesies adalah purin dan pirimidin, komponen dari DNA dan RNA.

Bab IV hubungan ekologi mikroorganisme

A. Aspek ekologi
Suatu aspek ekologi bakteri yang penting ada;ah kesanggupan sel-sel itu melekat pada benda-
benda padat. Karena suatu ciri ekosistem alam menunjukkan bahwa bakteri jarang ditemukan
mengambang bebas dalam air. Bakteri biasanya ditemukan melekat pada partikel-partikel tanah dan
sisa-sisa bahan organic dalam tanah, bahan-bahan organic yang tersuspensi dalam air laut, air
danau, batu-batuan dalam sungai, kulit, gigi membrane epitelium hewan dan manusia serta pada
kutikula tumbuhan.
B. Keuntungan ekologis
Keuntungan ekologis untuk bakteri dapat tetap berada dalam bentuk kelompok (bersatu) tidak
selalu jleas; populasi campuran bersatu membentuk flokulasi yang stabil di bawah suatu
pengendalian keadaan yang tidak banyak diketahui. Sifat ini digunakan untuk menjernihkan air
dalam pengerjaan air gorong (riol).
C. Kerugian ekologis
Kerugian ekologis disebabkan oleh mikroorganisme golongan parasite yang pada mulanya
merupakan golongan saprofit, tetapi karena evolusi progresif, regresif, atau kedua-keduanya
berubah menjadi golongan parasite. Organisme tidak hanya dapat hidup dari benda mati atau sisa
buangan bahan organic, tetapi juga memasuki dan merusak zat-zat yang terdapat dalam sel atau
jaringan hidup lain; dengan demikian mengakibatkan gangguan keseimbangan fisik atau kimia dari
orgnaisme yang diracuni atau yang didiaminya.

Bab V. morfologi dan pengecatan

Bentuk bakteri

1. Bakteri berbentuk bulat (bola), bakteri berbentuk bola dinamakan kokus (coccus)
a. Monokokus; berbentuk bola tunggal, misalnya Neisseria gonorrhoeae, penyebab penyakit
kencing nanah
b. Diplokokus; berbentuk bola yang bergandengan dua-dua, misalnya Diplokokus pneumoniae,
penyebab penyakit pneumonia atau radang paru-paru
c. Sarkina, bakteri berbentuk bola yang berkelompok empat-empat, sehingga bentuknya mirip
kubus
d. Strepkokus, berbentuk bola yang berkelompok memanjang membentuk rantai.
e. Stafilokokus, berbentuk bola yang berkoloni membentuk sekelompok sel yang yang tidak
teratur, sehingga bentuknya mirip dompolan buah anggur.
2. Bakteri berbentuk batang
Bakteri berbentuk batang dinamakan basilus/bacillus
a. Basil tunggal, yaitu bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal mislanya salmonella
typhi, penyebab penyakit tifus
b. Diplobasil, bakteri berbentuk batang yang bergandengan dua-dua.
c. Streptobasil, yaitu bakteri berbentuk batang yang bergandengan memanjang membentuk
rantai misalnya Bacillus anthracis penyebab penyakit antraks.
3. Bakteri berbentuk melilit (spirillum atau spiral)
a. Spiral; golongan bakteri yang seperti spiral, contohnya spirillum. Sel tubuh umumnya kaku
b. Vibrio; bentuk koma yang dianggap sebagai bentuk spiral tak sempurna, misalnya vibrio
cholerae penyebab penyakit kolera
c. Spirochaeta; golongan bakteri berbentuk spiral yang bersifat lentur. Pada saat bergerak
tubuhnya memanjang dan mengerut.

Pengecatan bakteri

Pada umumnya, ada dua macam zat warna yang sering dipakai, yaitu sebagai berikut :

1. Zat warna yang bersifat asam; komponen warnanya adalah anion, biasanya dalam bentuk garam
natrium.
2. Zat warna yang bersifat alkalis, dengan komponen warna kation, biasanya dalam bentuk klorida.
Setelah dilakukan pengecatan, daalm tubuh bakteri akan terjadi proses pertukaran ion-ion zat
warna dengan ion-ion protoplasma (misalnya asam nukleat) bakteri. Untuk mendapatkan hasil
pengenceran yang lebih baik diperlukan bahan penolong yang biasanya disebut pemantek
(mordant). Bahan-bahan yang dapat dipakai sebagai pemantek antara lain ammonium oksalat,
fenol, asam tanat, garam-garam aluminium, besi, timah, seng, tembaga, krom, dan lain-lain. Cara-
cara pengecatan sebagai berikut:
a. Pengecatan sederhana
Tujuan pengecatan ini untuk membedakan bakteri dari benda-benda mati lain yang bukan
bakteri dan untuk melihat bentuk dan ukurannya. Larutan cat hanya terdiri dari satu bahan cat
yang dilarutkan dalam suatu bahan pelarut. Bahan-bahan yang banyak dipakai untuk keperluan
ini adalah karbol fuksin, kristal violet dan methylen blue.
b. Pengecatan diferensial
Untuk pengecatan ini digunakan lebih dari satu macam bahan cat. Bahan cat yang dipakai
adakalanya terpisah, atau adakalanya dicampur dan digunakan dalam satu larutan. Dua macam
pengecatan yang terpenting dari golongan ini ialah pengecatan Gram dan pengecatan tahan
asam seperti pengecatan Ziehl-Naelsen.

Cat. : fiksasi ialah melekatkan bakteri pada kaca objek , mematikan bakteri dengan cepat agar
sifat-sifatnya tidak banyak berubah. Fiksasi ini harus dilakukan setelah preparat kering.

1) Pengecatan gram
No. Bakteri gram positif Bakteri gram negatif

1. Sangat sensitif terhadap zat warna Kuang sensitif terhadap zat warna
trifenilmetan trifenilmetan
2. Sensitif terhadap penisilin Sensitif terhadap streptomisin
3.
Resisten terhadap alkali; tidak larut Sensitif terhadap alkali; larut oleh
oleh 1% KOH 1% KOH
4. Biasanya kokus atau batang Biasanya batang tidak membentuk
pembentuk spora (kecuali spora (kecuali Neisseria yang
Lactobacillus, Corynebacterium) berbentuk kokus)
5. Dapat bersifat tahan asam (acid fast) Tampaknya tidak pernah tahan asam
2) Pengecatan tahan asam
Disebut pengecatan tahan asam karena pada beberapa jenis bakteri sukar dilakukan
pengecatan, tetapi sekali dapat tercat tidak mudah dilunturkan meskipun dengan
menggunakan zat peluntur (decolorizing agent) asam (atau asam-alkohol). Yang termasuk
pada golongan bakteri yang sukar dicat adalah genus mycobacterium. Bakteri tahan asam
sangat banyak mengandung lipida, asam lemak, dan kandungan inilah yang mencerminkan
sifat tahan asam pada golongan bakteri tersebut antara lain asam mikolat. Hal yang perlu
diperhatikan pada pengecatan bakteri tahan asam adalah alat penetes minyak imersi jangan
sampai menyentuh film preparat untuk menghindarkan terbawanya bakteri ke dalam botol
minyak imersi terutama pada pengecatan bakteri yang bersifat patogen.
3) Pengecatan granula metakromatik
Granula ini bersifat kromofil dan metakromatik, yang berarti mempunyai aktivitas kuat
terhadap zat-zat warna, dan seringkali tampak berwarna lain dari zat warna yang diberikan.
Pengecatan yang banyak digunakan di klinij adalah pengecatan Neisser dan Albert.
4) Pengecatan spora
Spora bakteri adalah endospora. Dinding spora itu relative tidak permeable, tetapi zat-
zat warna dapat diserapkan ke dalamnya dengan jalan memanaskan preparat tersebut. Sifat
permeable ini mencegah dekolorisasi spora oleh alcohol bila diperlakukan dalam waktu yang
sama seperti pada dekolorisasi sel-sel vegetative. Bagian vegetative sel ini dapat dicat
dengan warna kontras. Spora biasanya dicat dengan zat warna hijau malakhit atau
karbolfuksin.
5) Pengecatan kapsul
Beberapa jenis bakteri dapat membentuk zat lender di sekitar tubuhnya. Kadang-kadang
lender ini menjadi padat, sehingga merupakan bentuk yang tetap sebagai lapisan luar.
Lapisna ini dikenal dengan kapsul. Kapsul tidak mempunyai afinitas yang besar terhadap
bahan-bahan cat basa. Cara pengecatan dibagi menjadi pengectaan negative dan
pengecatan kapsul.
6) Pengecatan flagel
Adanya flagel pada tubuh bakteri menunjukkan bahwa bakteri dapat bergerak sendiri.
Flagel ini tidak ditemukan pada semua jenis bakteri. Oleh karena itu, dapat atau tidaknya
bakteri bergerak digunakan sebagai salah satu ciri dalam determinasi jenis bakteri. Gerak
semacam ini disebut gerak brown. Untuk memeriksa gerak bakteri dapat dilakukan dengan
cara mikroskopis (langsung) dan cara makroskopis (tidak langsung). Sehubungan dengan
masalah gerak bakteri ini diamati suatu fenomena yang disebut aerotaksis. Arah bakteri
dapat menentukan sifat bakteri, yaitu:
a. Bila terdapat gerak menuju ke perifer, bakteri bersifat aerob obligat
b. Bila terdapat gerak ke sentrum, bakteri bersifat anaerob obligat
c. Bila gerak menuju daerah antara perifer dan sentrum, bakteri bersifat mikroaerofil.
Bab VI. Sterilisasi dan disinfeksi

Istilah dan pengertian

1. Sterilisasi : membebaskan tiap benda/substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun
2. Disinfeksi : mematikan atau menyingkirkan organisme yang dapat menyebabkan infeksi
3. Disinfektan : bahan yang digunakan intuk melaksanakan disinfeksi
4. Antiseptika : bahan yang mematikan atau menghambat mikroorganisme, khusunya berkontak
dengan tubuh tanpa mengakibatkan kerusakan besar pada jaringan
5. Bakteriostatika : menghambat multiplikasi
6. Bakterisida : zat/agen yang dapat membunuh atau memusnahkan bakteri
7. Bakterin : vaksin yang dibuat dari bakteri yang mati dan dapat menimbulkan kekebalan pada tubuh
terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri jenis itu
8. Bakteriosilin : jenis antibody yang terbentuk dalam darah dan dapat menghancurkan bakteri
9. Bakteriolisis : pembasmian dan pelarutan bacterium
10. Bakteriostatis : pencegahan atau penghentian pertumbuhan bakteri
11. Bakteriostat : substansi/agen yang menghambat pertumbuhan atau perkembang-biakan bakteri
12. Bakterisidal : berkemampuan untuk membunuh atau memusnahkan bakteri
13. Bakteritik : sifat atau karakter yang ditimbulkan oleh bakteri
14. Bacteriuria : terdapatnya bakteri dalam urin
15. Septik : berkenaan dengan kondisi sepsis
16. Septikimia : persistenal dan multiplikasi bakteri hidup di dalam darah
17. Sepsis : status toksis atau sakit yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme yang merusak
setelah kontak dengan jaringan yang menghasilkan pus/nanah
18. Asepsis : keadaan diaman tidak adanya mikroorganisme dalam jaringan hidup atau dengan kata lain
tidak ada sepsis (pembusukan). Tetapi istilah ini biasa digunakan untuk Teknik pengerjaan dalam
menghindarkan adanya mikroorganisme yang tidak dikehendaki terdapat dalam lingkungan
pengamatan itu