Anda di halaman 1dari 33

Referat

HERNIA INGUINALIS

Oleh :

MUHAMMAD REZA NASUTION

1740312223

Preseptor :

dr. Muhammad Riendra, Sp.B-TKV

BAGIAN ILMU PENYAKIT BEDAH

RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan

rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya tulis ilmiah berupa Referat yang berjudul

Hernia Inguinalis dapat penulis selesaikan.

Terima Kasih penulis ucapakan kepada staf pengajar yang telah

membimbing penulis selama menjalani kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu

Bedah, serta dr. Muhammad Riendra, Sp.B-TKV sebagai perseptor dalam

penulisan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh

dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan segala kritik dan

saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberi

manfaat bagi kita semua di masa mendatang.

Padang, Maret 2018

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hernia merupakan penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah

dari dinding rongga bersangkutan. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.

Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital dan hernia

dapatan atau akuisita. Berdasarkan letaknya, hernia diberi nama sesuai dengan

lokasi anatominya, seperti hernia diafragma, inguinal, umbilikalis, femoralis, dan

sebagainya. Sekitar 80-90% ditemukan pada laki-laki dan 10% pada perempuan.1

Hampir 75% dari hernia abdominalis merupakan hernia ingunalis.2 Sebesar

60% hernia terjadi pada sisi kanan, sebesar 20-25% di sisi kiri, dan sebesar 15%

terjadi bilateral.3 Tahun 2004 di Indonesia, hernia inguinalis menempati urutan ke-

8 dengan jumlah 18.145 kasus.4 Berdasarkan data yang didapat di Irna Bedah Pria

RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Bulan Januari-Maret 2016, terdapat 18 orang

pasien yang dirawat dengan kasur hernia.26 Menurut data dari Dinas Kesehatan

Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kasus hernia inguinalis yang dirawat inap pada

tahun 2010 - 2011 yaitu 410 kasus. Faktor resiko yang dapat menjadi etiologi hernia

inguinalis yaitu peningkatan tekanan intraabdomen dan kelemahan otot dinding

perut.5

Pada hernia inguinalis reponibel, keluhan yakni berupa benjolan di lipat

paha yang timbul pada waktu mengejan, batuk, atau mengangkat beban berat dan

menghilang waktu istirahat baring. Sementara itu, benjolan pada hernia ireponibel

3
tidak dapat menghilang dengan berbaring. Sekitar 30% pasien hernia inguinalis

tidak mengeluhkan gejala. 3% pasien hernia inguinalis yang tidak dilakukan operasi

dapat jatuh ke dalam hernia inguinalis inkarserata.27 Hernia inguinalis inkarserata

dan strangulata merupakan kasus akut abdomen yang harus segera ditangani.

Operasi darurat hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua setelah

operasi darurat apendisitis akut. Selain itu hernia inkarserata merupakan penyebab

obstruksi usus nomor satu di Indonesia.3 Berdasarkan permasalahan di atas maka

penulis tertarik untuk membuat Referat dengan judul Hernia Inguinalis

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan referat ini bertujuan untuk memahami serta menambah

pengetahuan tentang hernia inguinalis.

1.3 Batasan Masalah

Batasan penulisan referat ini membahas mengenai anatomi, definisi,

epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis

banding, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis hernia inguinalis.

1.4 Metode Penulisan

Penulisan referat ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan

merujuk pada berbagai literature dan membandingkannya dengan temuan pada

pasien.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi kanalis Inguinalis

Kanalis inguinalis merupakan lintasan oblik yang berada pada dinding

abdomen bawah.8 Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis

internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis

otot transversa abdominis.3 Anulus ini berbentuk U dan berada 1,25 cm di atas

ligamentum inguinal, di tengah antara simfisis pubis dan spina iliaka anterior

suprior.9 Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh

anulus inguninalis eksternus yang merupakan bagian terbuka dari aponeurosis otot

oblikus eksternus abdominis. Anulus ini atapnya adalah aponeurosis otot oblikus

eksternus abdominis dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale.3 Anulus ini

merupakan celah berbentuk segitiga yang terletak 1,25 cm di atas tuberkulus pubik.

Gambar 1. Anatomi kanalis inguinalis

5
Gambar 2. Lokasi terjadinya hernia

2.2 Definisi Hernia Inguinalis

Secara umum, hernia merupakan penonjolan isi rongga melalui defek atau

bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Semua hernia terjadi melalui celah

lemah atau kelemahan yang potensial pada dinding abdomen yang dicetuskan oleh

peningkatan tekanan intraabdomen yang berulang atau berkelanjutan.10

Berdasarkan letaknya, hernia diberi nama sesuai lokasi anatominya, seperti hernia

inguinal, diafragma, umbilikalis, femoralis, dan lain-lain. Meskipun hernia dapat

terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding

abdomen pada umumnya daerah inguinal.8,11 Hernia inguinalis dibagi menjadi

hernia ingunalis lateralis dan hernia ingunalis medialis.12

6
Tabel 1. Perbandingan Antara HIL dan HIM

Tipe Deskripsi Hubungan Dibungkus Onset biasanya pada


dengan oleh fascia waktu
vasa spermatica
epigastrica interna
inferior
Hernia Penojolan melewati Lateral Ya Kongenital
ingunalis cincin inguinal dan dan bisa pada waktu
lateralis biasanya merupakan dewasa.
kegagalan penutupan
cincin ingunalis interna
pada waktu embrio
setelah penurunan testis
Hernia Keluarnya langsung Medial Tidak Dewasa
ingunalis menembus fascia dinding
medialis abdomen

Hernia Inguinalis Lateralis disebut lateralis karena menonjol dari perut di

lateral pembuluh epigastrika inferior. Dikenal sebagai indirek karena keluar melalui

dua pintu dan saluran, yaitu annulus inguinalis dan kanalis inguinalis. Hernia masuk

dari annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika

inferior dan masuk ke kanalis inguinalis, apabila hernia cukup panjang dapat

menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus sampai ke skrotum atau biasa

disebut hernia skrotalis. Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan

berbentuk lonjong.10

7
Gambar 3. Hernia Inguinalis Lateralis

Hernia inguinalis direk disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol

langsung ke depan melalui segitiga Hasselbach, daerah yang dibatasi ligamentum

inguinale di bagian inferior, pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral dan tepi

otot rektus di bagian medial. Dasar segitiga Hasselbach dibentuk oleh fasia

transversal yang diperkuat oleh serat aponeurosis muskulus transversus abdominis

yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi

lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke

skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longgar.

Hernia direct tidak begitu sering seperti hernia indirect; kurang lebih 15 %

dari seluruh hernia inguinalis dan biasanya bilateral. Biasanya terjadi pada laki-laki

berusia lebih dari 40 tahun, jarang terjadi pada wanita dan terjadi sebagai akibat

kelemahan otot-otot abdomen bagian depan, yang disertai peninggian tekanan

intraabdominal. Kantong hernia terdiri dari peritoneum dan fascia transversalis.

8
Hernia inguinalis direk ini hampir selalu disebabkan peninggian tekanan

intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigoum Hasselbach. Oleh

karena itu, hernia ini umumnya terjadi bilateral, khususnya pada lelaki tua. Hernia

ini jarang, bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan strangulasi.

Mungkin terjadi hernia geser yang mengandung sebagian dinding kandung kemih.

Kadang ditemukan defek kecil di m. oblikus internus abdominis, pada segala usia,

dengan cincin yang kaku dan tajam yang sering menyebabkan strangulasi.

Kantung hernia inguinalis direk berasal dari dasar kanalis inguinalis, yaitu

segitiga Hesselbach; menonjol secara langsung; dan kantung hernia ini tidak

mengandung aponeurosis otot obliqus ekstemus. Hanya pada keadaan yang jarang,

hernia ini sedemikian besarnya sehingga mendesak keluar melalui anulus super-

fisialis dan turun ke dalam skrotum. Kandung kemih sering menjadi komponen

sliding dari kantung hernia direk.

Gambar 4. Hernia Inguinalis Medialis

9
Berdasarkan sifat nya, hernia disebut hernia reponibel dan ireponibel.

Hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar ketika berdiri atau

mengedan, dan masuk lagi ketika berbaring atau didorong masuk perut. Sedangkan,

hernia ireponibel bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga

abdomen. Hal ini disebebkan oleh perlekatan isi kantong kepada peritoneum

kantong hernia.10

2.3 Epidemiologi

Hernia lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan rasio

4-8:1. Tidak terdapat predileksi ras pada hernia inguinalis.13 Hampir 75% dari

hernia abdominalis merupakan hernia ingunalis.2, 12 Sebesar 60% hernia terjadi pada

sisi kanan, sebesar 20-25% di sisi kiri, dan sebesar 15% terjadi bilateral.3 Tahun

2004 di Indonesia, hernia inguinalis menempati urutan ke-8 dengan jumlah 18.145

kasus.4

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado Periode Agustus 2012 – Juli 2014 didapatkan pasien hernia

inguinalis lateralis sebanyak 146 pasien dengan distribusi pada bulan Agustus-

Desember tahun 2012 sebanyak 35 pasien (24,0%), tahun 2013 sebanyak 59 pasien

(40,4%) dan bulan Januari-Juli tahun 2014 sebanyak 52 pasien (35,6%).1

Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kasus

hernia inguinalis yang dirawat inap pada tahun 2010 - 2011 yaitu 410 kasus. Ini

merupakan jumlah dari kasus hernia inguinalis yang terjadi di 6 rumah sakit yang

ada di Sulawesi Tengah.14

10
Berdasarkan hasil penelitian mengenai karakteristik penderita hernia

inguinalis yang dirawat inap di RSU Anutapura Palu tahun 2012, Berdasarkan

umur, jumlah pasien tertinggi menderita hernia inguinalis, yaitu pada kelompok

umur > 60 tahun sebanyak 28 orang (35%), dan yang terendah adalah pada

kelompok 11-20 tahun yaitu sebanyak 1 orang (1,2%). Berdasarkan pekerjaan,

jumlah pasien terbanyak memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 23 orang

(28,8%), yang kedua yaitu petani sebanyak 22 orang (27,5%) dan yang terendah

adalah pada pekerjaan pelajar dan anggota DPR yaitu masing-masing sebanyak 1

orang (1,2%). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien hernia inguinalis yang

terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 79 orang (98,8%), sedangkan yang

terendah adalah jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 1 orang (1,2 %).

Berdasarkan klasifikasi hernia menurut jalur keluarnya organ, jenis yang terbanyak

diderita oleh penderita hernia inguinalis adalah HIL (D) sebanyak 43 orang (53,8

%), dan yang terendah adalah HIM (D) dan HIL bilateral yaitu masing-masing

sebanyak 1 orang (1,2%).4

2.4 Etiologi dan Patogenesis

Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau didapat.

Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia di anulus

internus yang cukup lebar, sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain

itu, diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang

sudah terbuka cukup lebar itu. Pada orang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat

mencegah terjadinya hernia inguinalis antara lain, kanalis inguinalis yang berjalan

miring, struktur otot oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis

11
ketika berkontraksi, dan fasia transversa kuat yang menutupi trigonum Hesselbach

yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan mekanisme ini menyebabkan

terjadinya hernia. Faktor yang dipandang berperan adalah peninggian tekanan di

dalam rongga abdomen, adanya prosesus vaginalis yang terbuka, annulus inguinalis

yang cukup besar dan kelemahan dinding abdomen karena usia atau akibat

kerusakan nervus ilioinguinalis dan nervus iliofemoralis setelah apendektomi.10,16

Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami

proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena

daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang

menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk kronik, bersin yang

kuat dan mengangkat barang berat, mengejan, hipertrofi prostat, dan asites. Kanal

yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis

karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui

defek tersebut.17,18,19

Dinding abdomen normal memiliki cukup tenaga untuk menahan tekanan

intraabdomen yang tinggi dan mencegah pembentukan hernia. Hernia diketahui

terjadi akibat tingginya tekanan intraabdomen akibat konstipasi, batuk kronis, dan

obesitas, tetapi beberapa studi menunjukan bahwa tingginya tekanan intraabdomen

bukan faktor terbesar yang menyebabkan hernia, melainkan faktor kolagen. Hernia

merupakan penyakit yang diakibatkan ketidakseimbangan tipe kolagen I dan III.

Hal ini didukung bukti histologis dan hubungan antara hernia dan penyakit lain

yang berhubungan dengan kolagen.20 Penyakit kolagen seperti Sindrom Ehlers-

Danlos juga berhubungan dengan peningkatan insiden hernia. Studi belakangan

12
juga menemukan hubungan antara konsentrasi matriks ekstraseluler dan

pembentukan hernia.2

Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia. Ukuran defek dapat

bervariasi, mungkin sangat kecil atau sangat luas. Defek kecil dengan dinding yang

kaku akan membuat isi hernia terperangkap, sehingga mencegah pergerakan isi

hernia keluar masuk secara bebas dan meningkatkan risiko komplikasi.

Gambar 5. Bagian-bagian dari hernia

Isi hernia bisa berupa jaringan dari rongga ekstraperitoneal seperti vesika

urinaria pada hernia ingunalis medial atau direk. Jika hernia meluas maka

peritoneum bisa juga tertarik ke dalam isi hernia bersama struktur intraperitoneal

seperti usus atau omentum, dikenal sebagai sliding type hernia inguinal.20

Pada hernia lateralis bayi dan anak disebabkan oleh kelainan bawaan berupa

tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses turunnya

testis ke skrotum. Hernia yang tergelincir dapat terjadi disisi kanan atau pun kiri.

Hernia yang berasa disisi kanan biasanya berisi sekum, dan sebagian kolon

asendens, sedangkan yang kiri berisi sebagian kolon desendens.10

Pada umumnya ketika peritoneum berada dalam di bawah otot abdomen yang

lemah, tekanan memaksa peritoneum melewati defek dan masuk ke jaringan

subkutan membentuk kantong. Kantong ini akan membawa usus dan omentum

13
melalui defek. Pada kebanyakan kasus, organ intraperitoneal dapat bergerak bebas

keluar masuk hernia yang disebut hernia reducible/ reponible, tetapi jika terbentuk

adhesi atau defeknya kecil, usus dapat terperangkap dan tidak dapat kembali ke

rongga peritoneum, disebut hernia irreducibel/ irreponibel dengan komplikasi yang

tinggi.20 Apabila tidak ada keluhan nyeri, dan juga tidak ada tanda sumbatan usus

pada keadaan ini disebeut hernia akreta.

Bagian tersempit dari kantong pada defek dinding abdomen disebut leher

kantong. Ketika jaringan terperangkap di dalam hernia, leher sempit ini bertindak

sebagai cincin kontraksi yang menghambat aliran balik vena dan meningkatkan

tekanan di dalam hernia, sehingga menyebabkan ketegangan dan memicu nyeri.

Jika hernia berisi usus maka akan menyebabkan obstruksi secara total atau parsial

dan menunjukan gejala ileus obstruksi. Pada kondisi terdapatnya gangguan pasase

usus disebut hernia inkarserata. Jika tekanan meningkat, darah arteri tidak dapat

masuk ke hernia dan isi hernia menjadi iskemik bahkan infark, sehingga dikatakan

hernia telah mengalami strangulasi. Dinding usus akan perforasi, melepaskan agen

infeksius, meracuni usus ke dalam jaringan dan kembali ke rongga peritoneal,

sehingga menimbulkan nekrosis/ gangren. Risiko strangulasi tinggi pada hernia

yang memiliki leher kecil dan kaku. Istilah inkarserata tidak didefinisikan secara

jelas dan digunakan untuk menggambarkan hernia yang irreducible/ irreponibel

yang berkembang ke arah strangulasi.20

2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi dari hernia inguinal yaitu: adanya benjolan di selakangan,

benjolan bisa hilang atau timbul dan mengecil, timbul bila menangis, mengejan saat

14
defekasi, mengangkat benda berat dan dapat ditemukan rasa nyeri pada benjolan

atau mual muntah bila terjadi komplikasi.10 Pada hernia strangulasi, dimana aliran

darah ke isi hernia terganggu akan timbul rasa tegang, bengkak, panas, memerah

pada daerah sekitar benjolan, dan tanda-tanda inflamasi, selain itu perasaan sakit

akan bertambah hebat.10

2.6 Diagnosis

Diagnosis hernia inguinal biasanya ditegakkan melalui riwayat ada benjolan

yang hilang timbul di inguinal yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan fisik.21

2.6.1 Anamnesis

Anamnesis yang terarah sangat membantu dalam menegakkan

diagnosis. Uraian lebih lanjut tentang keluhan utama, misalnya bagaimana

sifat keluhan, dimana lokasi dan kemana penjalarannya, bagaimana awal

serangan dan urutan kejadiannya, adanya faktor yang memperberat dan

memperingan keluhan, adanya keluhan lain yang berhubungan perlu

ditanyakan dalam diagnosis. Gejala dan tanda klinik hernia banyak

ditentukan oleh keadaan isi hernia.10 Pasien sering mengeluh tidak nyaman

dan pegal pada daerah inguinal, dan dapat dihilangkan dengan reposisi

manual ke dalam kavitas peritonealis, tetapi dengan berdiri atau terutama

dengan gerak badan, maka biasanya hernia muncul lagi.

Pada hernia reponibel, keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di

lipat paha yang muncul waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan

menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada

biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri

15
viseral karena renggangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus

halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual muntah baru

timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis

atau gangren.10

2.6.2 Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

Adanya benjolan pada kedua sisi lipat paha, skrotum atau labia dalam posisi

berdiri dan posisi berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga

benjolan dapat dilihat.10 Pembengkakan yang timbul mulai dari regio

inguinalis dan mencapai labium majus atau sampai dasar skrotum, selalu

merupakan hernia inguinalis lateralis. Kalau tonjoloan yang terlihat lonjong

kemudian berada di atas lipatan inguinal dan berjalan miring dan lateral atas

menuju ke medial bawah, maka pembengkakan tersebut adalah hernia

inguinalis lateralis. Tetapi kalau tonjolan berbentuk bulat itu kelihatannya

langsung muncul ke depan, maka kita berhadapan dengan hernia inguinalis

medialis.19,17

b. Palpasi

Palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, diraba

konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi.

Untuk menentukan jenis hernianya, ada beberapa pemeriksaan yang dapat

dilakukan, diantaranya:

16
 Finger test

Gunakan tangan kanan untuk hernia sisi kanan, pakai tangan kiri untuk

hernia sisi kiri. Dengan jari kelingking kulit scrotum diinvaginasikan,

jari tersebut digeser sampai kuku berada diatas spermatic cord dan

permukaan volar jari menghadap ke dinding ventral scrotum. Dengan

menyusuri spermatic cord kearah proksimal maka akan terasa jari

tersebut masuk melalui annulus eksternus, dengan demikian dapat

dipastikan selanjutnya akan berada dalam kanalis inguinalis. Bila

terdapat hernia inguinalis lateralis, terasa impuls pada ujung jari, bila

hernia inguinalis medialis maka teraba dorongan pada bagian samping

jari.

Gambar 6. Finger Test

17
 Silk Glove Sign

Jika dilakukan perabaan pada kantong hernia dengan cara menggesek

dua lapis kantong hernia, maka akan terasa seperti sensasi gesekan dua

permukaan sutera.

 Tes Visibel

Pasien disuruh untuk mengedan, dan perhatikan benjolan yang keluar.

Dikatakan hernia inguinalis lateralis apabila benjolan keluar dari lateral

dan berbentuk lonjong. Apabila benjolan yang keluar langsung ke

bagian depan dan berbentuk bulat, maka itu disebut hernia inguinalis

medial.

c. Auskultasi

Terdengar suara usus, bila auskultasi negatif maka kemungkinan isi

hernia berupa omentum. Auskultasi juga bisa untuk mengetahui derajat

obstruksi usus.17

d. Perkusi

Jika isi kantung hernia adalah gas, maka akan terdengar bunyi timpani.17

2.6.3 Pemeriksaan Penunjang

Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk penilaian pasien

dengan suspek hernia inguinal dan atau hidrokel. Pemeriksaan pencitraan

umumnya juga tidak dibutuhkan untuk pemeriksaan hernia inguinal.8,9

Meskipun begitu, ultrasonografi (USG) dapat bermanfaat pada pasien

tertentu.8 Penggunaan USG dapat dilakukan untuk membedakan antara

hidrokel dan hernia inguinal. Pada hidrokel, akan ditemukan gambaran

18
kantong yang terisi cairan. Namun, pada hernia inguinal inkarserata, USG

tidak lagi sensitif untuk membedakan dua kondisi tersebut.8

Selain USG, herniografi juga dapat digunakan dengan cara

menyuntikkan kontras larut air ke dalam kavum peritoneum melalui injeksi

infraumbilikal dengan bantuan fluoroskopi. Kontras yang dimasukkan akan

menuju ke kantung hernia dengan bantuan gravitasi. Selanjutnya, dilakukan

foto inguinal pada menit ke-5, 10, dan 45 secara serial. Herniografi dapat

dilakukan untuk memeriksa hidrokel, hernia inguinalis kontralateral, dan

membedakan antara hernia inguinalis dengan hernia femoralis.22

2.7 Differential Diagnosis

Tabel 2. Diagnosis banding hernia inguinalis adalah:23

Perbedaan Hernia Hidrocele Lipoma Orcitis


Inguinalis
Pole atas (-) (+) (+) (+)
Bila Benjolan Benjolan Benjolan Benjolan
mengejan membesar tetap membesar membesar
Warna Sewarna kulit Sewarna kulit Sewarna kulit Sewarna
kulit
Fluktuasi (-) (+) (+) (-)
pseudofluktuatif

2.8 Penatalaksanaan

a. Konservatif

Pengobatan konservatif bukan merupakan tindakan definitif

sehingga dapat kambuh lagi. Reposisi adalah suatu usaha atau tindakan

untuk memasukkan atau mengembalikan isi hernia ke dalam cavum

peritoneum atau abdomen secara hati-hati dan dengan tekanan yang lembut

19
dan pasti.10 Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi

hernia sambil membentuk corong sedangakan tangan kanan mendorongnya

kearah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetep sampai

terjadi reposisi. Reposisi spontan pada anak lebih sering terjadi dari pada

orang dewasa. Hal ini terjadi karena cincin annulus pada anak masih elastis.

Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan menggunakan sedatif

dan kompres es diatas hernia. Bila reposisi berhasil, anak dipersiapkan

operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi tidak berhasil. Operasi harus

segera dilakukan dalam waktu enam jam.10

b. Operatif

Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia

inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis

ditegakkan.10 Pada herniotomi, dilakukan pembebasan kantong hernia

sampai ke lehernya. Kantong dibuka, dan isi hernia dibebaskan kalau ada

perlengketan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi

mungkin lalu dipotong.

Pada hernioplasti, dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis

internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti

lebih penting dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan

herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti, seperti memperkecil

anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan

memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan otot transversus

internus abdominis dan otot oblikus internus abdominis, yang dikenal

20
dengan nama conjoint tendon, ke ligamentum inguinale Pouparti menurut

metode Bassini, atau menjahitkan fasia transversa, otot transversus

abdominis, dan otot oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada

metode Lotheissen-Mc Vay.

Gambar 7. McVay open anterior repair.

Metode Bassini merupakan teknik herniorafi yang pertama

diperkenalkan tahun 1887. Setelah diseksi kanalis inguinalis, dilakukan

rekonstruksi dasar lipat paha dengan cara mendekatkan muskulus oblikus

internus abdominis, muskulus transversus abdominis, dan fasia transversalis

ke traktus iliopubik dan ligamentum inguinale. Teknik ini dapat diterapkan

baik pada hernia direk maupun indirek.

21
Kelemahan teknik Bassini dan teknik lain yang berupa variasi teknik

herniotomi Bassini adalah terdapatnya renggangan berlebihan pada otot-

otot yang dijahit.

Pada tahun 1980-an dikenalkan suatu teknik operasi bebas regangan,

yaitu teknik hernioplasti bebas renggangan menggunakan mesh, dan

sekarang teknik ini banyak dipakai. Pada teknik ini digunakan mesh

prostesis untuk memperkuat fasia transversalis yang membentuk dasar

kanalis inguinalis tanpa menjahitkan otot-otot ke ligamentum inguinale.10

Gambar 8. Open mesh repair

2.9 Komplikasi

Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi

hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia irreponibel, ini dapat terjadi

kalau isi hernia terlalu besar atau terdiri dan omenturn, organ ekstra peritoneal

(hernia geser atau hernia akreta). Disini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa

benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi

hernia strangulata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana.

22
Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia richter. Jepitan

cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada

pemulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur

didalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem

menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya

peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia

akan berisi transudat berupa serosanguinus. Kalau isi hernis terdiri dari usus, dapat

terjadi perforasi yang dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis jika

terjadi hubungan dengan rongga perut.10

Pada pasien dewasa. tingkat komplikasi dari herniorafi inguinal yang

terbuka berbeda antara 1% sampai 26% dengan banyak laporan yang tersusun dari

7% sampai I 2%. Kira-kira 700 ribu herniorafi inguinal yang terjadi setiap

tahunnya, komplikasi yang muncul kira-kira 10% dari orang-orang ini memiliki

sebuah masalah yang cukup besar.24

Infeksi luka merupakan masalah yang sering dihadapi. Sebuah infeksi yang

lebih dalam dapat berdampak dalarn kernunculan kembali hernia. Kandung kemih

dapat luka dengan cara saat dasar saluran inguinal dibentuk kembali dan dilakukan

untuk hernia pangkal paha. Jika rnungkin melukai testis, vasdeferens, pembuluh

darah atau syaraf, illiohypogastrik, illioinguinal

Komplikasi intra operatif meliputi rnelukai atau pembedahan struktur

sperma, luka vaskular mernproduksi pendarahan, mengganasnya sakit atau

pengharnbatan syaraf-syaraf, luka visceral (biasanya perut atau kandung kemih).

23
Komplikasi sistemik setelah operasi berhubungan dengan suatu prosedur khusus

dalam kemunculannya.10

2.10 Prognosis

Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi kantong

hernia. Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus segera ditangani. Penyulit

pasca bedah seperti nyeri pasca herniorafi, atrofi testis, dan rekurensi hernia

umumnya dapat diatasi.25

24
BAB 3

ILUSTRASI KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Tn. RF

Usia : 23 tahun

Jenins Kelamin : Laki-laki

Alamat : Batusangkar

3.2 Anamnesa

Keluhan Utama

Benjolan yang hilang timbul pada lipat paha kiri sejak 4 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

- Benjolan yang hilang timbul pada lipat paha kiri sejak 4 bulan yang lalu

- Awalnya benjolan berukuran sebesar kelereng pada lipat paha kanan dan

kiri. Benjolan hilang timbul, muncul saat beraktivitas berat, mengedan,

dan batuk. Benjolan akan hilang ketika dibawa berbaring. Makin lama

benjolan membesar sebesar telur ayam dan memanjang ke arah kantung

kemaluan.

- Benjolan pada kantung kemaluan kanan dirasakan nyeri sejak 1 bulan ini,

dan benjolan masih bisa menghilang

- Benjolan sewarna dengan kulit dan teraba lunak.

- BAB ada, flatus (+)

- Mual (-), Muntah (-)

- Demam (-)

25
- BAK tak ada keluhan

Riwayat Penyakit Dahulu

- Riwayat penyakit yang sama sebelumnya tidak ada.

- Riwayat batuk kronik (+), pembesaran prostat (-), konstipasi (-).

- Hipertensi (-), DM (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

- Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama seperti pasien

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Kebiasaan

- Pasien pernah bekerja sebagai pedagang pakaian, sepatu dan bahan

makanan ± selama 3 tahun

- Pasien merokok sejak 8 tahun yang lalu, 1 bungkus perhari

3.3 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik Umum

- Keadaan Umum : Sakit sedang

- Kesadaran : Komposmentis kooperatif

- TekananDarah : 110/80 mmHg

- Nadi : 68 kali/menit

- Nafas : 22 kali/menit

- Suhu : 36.5 o C

Status Generalis

 Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut

 Kepala : Tidak ditemukan kelainan (Normochepali)

 Kulit dan kuku : Turgor kulit baik

26
 Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

 Hidung : Tidak ditemukan kelainan

 Telinga : Tidak ditemukan kelainan

 Leher : Tidak ada pembesaran KGB

 Paru :

- Inspeksi : Simetris, kiri = kanan

- Palpasi : Fremitus kiri = kanan

- Perkusi : Sonor

- Auskultasi : Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

 Jantung :

- Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

- Palpasi : Iktus kordis teraba 1 jari medial línea mid

clavicula sinistra RIC V

- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal

- Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 normal, murmur (-),

Gallop (-)

 Regio Abdomen :

- Inspeksi : Distensi (-), DC (-), DS (-)

- Auskultasi : Bising usus (+) normal

- Perkusi : Timpani

- Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-)

 Anggota Gerak : Akral hangat, CRT < 3 detik

27
Status Lokalis (Regio Inguinoskrotalis Sinistra)

Berdiri

 Inspeksi : Massa di Inguinal (+)

Tampak benjolan dari inguinal hingga skrotum sinistra

sebesar telur ayam, bentuk bulat lonjong/memanjang,

warna sama dengan kulit sekitar, tanda inflamasi (-),

valsava test (+).

 Palpasi : Pole atas (-), teraba massa didaerah inguinal hingga

skrotum kiri, konsistensi lunak, permukaan rata, batas

tegas, mobile, ukuran panjang 5 cm lebar 3 cm tebal

3 cm, dapat direposisi kembali, nyeri (-).

Berbaring

 Inspeksi : Tampak sebagian benjolan kembali ke rongga abdomen

 Palpasi : Benjolan dimanipulasi dan dapat dimasukkan kembali,

finger test teraba impuls diujung jari.

 Perkusi : Tidak dilakukan

 Auskultasi : Bising usus (+)

3.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang

 Laboratorium

Hb : 13,6 gr%
Leukosit : 4900 /mm3
Trombosit : 149.000 /mm3
GDR : 79 mg/dl

28
Ur : 17 /mm3
Cr : 0,89 /mm3
SGOT : 23 /mm3
SGPT : 26 /mm3

3.5 Diagnosis kerja


Hernia inguinalis Lateralis Sinistra Reponibel.
3.6 Tatalaksana
Hernioplasty
IVFD RL
Cefotaxim 2x1 (IV)
Ketorolac 2x1 (IV)

Kondisi pasien post op

S : Nyeri dilokasi jahitan (+)

O : Luka jahitan tertutup perban (+)

A : Hernia inguinalis lateralis sinistra reponibel post herniorafi sinistra H+1

P:

 IVFD RL

 Cefotaxim 2 x 1 gr (IV)

 Ranitidin 2 x 1 ampul (IV)

 Ketorolac 2 x 1 ampul (IV)

 Mobilisasi

29
BAB 4

DISKUSI

Telah dirawat seorang pasien laki-laki usia 23 tahun di bangsal bedah RSUD

Prof. dr. MA Hanafiah SM Batusangkar dengan diagnosis hernia inguinalis lateralis

sinistra reponibel. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan

pemeriksaan fisik. Dari hasil anamnesis didapatkan keluhan utama benjolan pada

lipat paha kiri sejak 4 bulan yang lalu. Benjolan hilang timbul. Benjolan muncul

saat bekerja mengangkat beban berat, mengedan, dan batuk. Benjolan akan hilang

ketika dibawa berbaring atau beristirahat. Awalnya benjolan berukuran sebesar

kelereng dan muncul ketika pasien mengangkat beban berat. Makin lama benjolan

bertambah besar sebesar telur ayam.

Pada umumnya keluhan pada hernia inguinalis lateralis pada orang dewasa

berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau

mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Benjolan pada

lipatan paha yang bisa dimasukkan lagi disebut dengan hernia reponibel. Secara

klinis, istilah hernia reponibel dimaksudkan untuk kasus hernia yang tidak disertai

dengan adanya gangguan pasase.

Pada pasien ini tidak mengeluhkan perut kembung, mual dan muntah. Hal

ini menunjukkan bahwa belum terjadi komplikasi berupa hernia inkarserata,

dimana isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga menimbulkan gejala

obstruksi usus. Pasien tidak mengeluhkan nyeri hebat , ini menunjukkan belum

terjadi strangulasi, yakni gangguan perfusi jaringan isi hernia akibat gangguan

30
vaskularisasi hingga menyebabkan iskemik, kematian jaringan dan pasien akan

mengeluhkan nyeri hebat pada tempat hernia.

Pasien tidak mengeluhkan perubahan warna pada skrotumnya, sehingga

etiologi seperti adanya orkhitis, torsio testis bisa disingkirkan (onset bengkak tidak

tiba-tiba). Pasien mengaku benjolan teraba lunak sehingga bisa dipisahkan etiologi

ke arah tumor, yaitu tumor testis. Benjolan berawal dari inguinal ke skrotal

sehingga hidrokel bisa disingkirkan.

Pemeriksaan status lokalis di regio inguinosakralis sinistra didapatkan

massa bulat lonjong memanjang dari inguinal ke skrotal, valsava test (+), pool atas

(-), perabaan lunak, dapat direposisi kembali, ini menunjukkan adanya hernia

inguinalis lateralis sinistra reponibel.

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan hernia

inguinalis lateralis bilateral reponibel. Direncanakan untuk Hernioplasty.

Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan yang rasional untuk

hernia inguinalis. Prinsip dasar operasi hernia terdiri atas herniotomi dan

hernioplastik. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke

lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian

direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Pada

hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan

memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplastik penting dalam

mencegah terjadinya residif.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Claudia G. Rawis, dkk. Pola Hernia Inguinalis Lateralis di RSUP Prof.


Dr. R. D. Kandou Manado Periode Agustus 2012 – Juli 2014; Jurnal e-
Clinic (eCl), Volume 3, Nomor 2, Mei-Agustus 2015.
2. Rasjad C. Hernia. In: Sjamsuhidayat R, Jong WD, editors. Buku Ajar
Ilmu Bedah (Edisi ke-3). Jakarta: EGC, 2010; p. 619-29.
3. Luthfi A, Thalut K. Dinding perut, hernia, retroperitoneum, dan
omentum. Dalam (Sjamsuhidajat R, Karnadiharja W, Prasetyono TOH,
et al, ed) Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 3. Hal. 615-41. 2007. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
4. Mayasari I & Ahram A. Karakteristik Penderita Hernia Inguinalis yang
Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Tahun 2012.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako. 2012
5. Rumah Sakit Umum Anutapura Palu. Profil Rumah Sakit Umum
Anutapura Palu. RSU. Palu: Anutapura. 2012
6. Aru W, Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III (Edisi V).
Jakarta: Interna Publishing. 2009.
7. Sherman V, Macho JR, Brunicardi FC. Inguinalis hernias. In:
Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG,
Matthews JB, et al, editors. Schwartz’s Principles of Surgery (9th ed.).
New York: McGraw-Hill Companies, 2010; p. 1305-42
8. Ellis H. The abdomen and pelvis. Dalam Clinical Anatomi: A revision
and applied anatomy for clinical students, 11th ed. Hal. 51-64. USA:
Blackwell Publishing Ltd.2006
9. Kingsnorth AN, Giorgobiani G, Bennett DH. Hernias, umbilicus, and
abdominal wall. Dalam (Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connel PR,
ed.) Bailey and love’s: Short Practice of Surgery 25th ed. Hal. 968-90.
2008. London: Edward Arnold Ltd.
10. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi III.
Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 619-628
11. Seibert A., MD. Understanding hernia – the basic on April 18, 2012.
(online journal diakses pada 22 Oktober 2017)
12. Townsend, Courtney M. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery (17th
ed.). Philadelphia: Elsevier Saunders, 2004; p. 1199-217)
13. Hebra A. Pediatric hernias. Tersedia dari:
http://emedicine.medscape.com/article/932680-overview#a6. Diunduh
pada 22 Oktober 2017
14. Rumah Sakit Umum Anutapura Palu. Profil Rumah Sakit Umum
Anutapura Palu. RSU. Palu: Anutapura. 2012.
15. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Data Keadaan Morbiditas
Pasien Rawat Inap Rumah Sakit. Dinkes. Palu. 2012.
16. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR. Schwartz’s Principle of
Surgery, Edisi ke-10. New York : Mc Graw Hill. 2010

32
17. A. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media Aesculapius,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2000. Hal 313-317
18. H G, Burhitt & O.R.G. Quick. Essential Surgery . Edisi III. 2003. Hal
348-356
19. C. Palanivelu. Operative Manual of Laparoscopic Hernia Surgery.
Edisi I. Penerbit GEM Foundation. 2004. Hal 39-58
20. Petroze RT, Groen RS, Niyonkuru F. Estimating operative disease
prevalence in low income country results of nationwide population
survey surgery. 2012.
21. American College of Surgeons. Pediatric hernia inguinal and femoral
repair. Tersedia dari: http://www.facs.com. Diunduh pada 22 Oktober
2017.
22. Glick, P.L., & Boulanger, S.C. Inguinal Hernias and Hydroceles. In
A.G. Coran, N.S. Adzick, & T.M. Krummel, Pediatric Surgery .2012.
(pp. 985-1001). Philadelphia, USA: Elsevier Saunders.
23. Bailey and love’s: Short Practice of Surgery 25th ed. Hal. 968-90. 2008.
London: Edward Arnold Ltd.
24. Sabiston and Lyerly, Text Book of Surgery The Biological Basis of
Modern Surgical Practice, 15nd ed, 1.219- 1.232, W. B, Saunders
Company, London.1997.
25. Cameron, J. L, Terapi Bedah Mutakhir, edisi IV, 709- 713, Binarupa
Aksara, Jakarta. 1997.
26. Jensen KK, Henriksen NA, Jorgensen LN. Inguinal Hernia
Epidemiology. In: Hope WM, Cobb WS, Adrales GL, ed. Textbook of
Hernia. pp: 23. 2017. Switzerland: Springer Internatonal Publishing.

33