Anda di halaman 1dari 24

1

LAPORAN PENDAHULUAN
POST PARTUM (MASA NIFAS)

I. Konsep Anatomi Fisiologi

1.1 Alat Reproduksi Bagian Dalam


Alat reproduksi bagian dalam wanita terdiri atas ovarium (kandung
telur), tuba fallopi atau oviduk (saluran telur), dan vagina (saluran
kelamin).
1.1.1 Ovarium
Ovarium berjumlah sepasang yang terdapat di rongga perut,
yaitu tepatnya di sebelah kiri dan kanan daerah pinggang.
Fungsi ovarium ini untuk menghasilkan sel telur atau ovum dan
hormon-hormon kelamin wanita, seperti progesteron dan .
Ovarium dilindungi oleh suatu kapsul pelindung yang
mengandung folikel-folikel. Setiap folikel berisi sebuah sel
telur yang diselubungi satu atau lebih lapisan sel-sel folikel.
Folikel merupakan suatu struktur yang berbentuk bulatan-
bulatan dan terdapat di sekeliling oosit, berguna sebagai
penyedia makanan dan pelindung bagi sel telur yang sedang
mengalami pematangan.
1.1.2 Tuba Fallopi
Tuba fallopi yang lazim disebut sebagai oviduk berjumlah
sepasang. Tuba fallopi ini merupakan suatu saluran yang
menghubungkan ovarium dengan rahim (uterus). Tuba fallopi
terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ismus yang merupakan
bagian tuba fallopi yang terletak dekat uterus atau

1
2

rahim, ampula,yaitu daerah yang berbentuk lengkungan yang


terletak di atas ovarium, dan infudibulum, yaitu daerah pangkal
tuba fallopi yang berbentuk corong (fimbria). Pangkal tuba
fallopi yang berbentuk corong disebut pula infudibulum.
Infudibulum mengandung tonjolan-tonjolan seperti kaki cumi-
cumi yang berjumbai-jumbai disebut fimbriae. Fimbriae ini
berperan untuk menangkap ovum. Ovum yang telah ditangkap
fimbriae, kemudian diangkat oleh tuba fallopi.
Dengan adanya gerak peristaltik serta dinding tuba fallopi yang
bersilia, ovum kemudian diangkat menuju rahim. Dengan
demikian, tuba fallopi memiliki beberapa fungsi, yaitu untuk
menyalurkan ovum menuju uterus dan menyediakan
lingkungan yang cocok bagi proses pembuahan dan
perkembangan telur sebelum fertilisasi terjadi.
1.1.3 Uterus
Uterus lazim disebut rahim, pada manusia hanya terdiri dari
satu ruang yang disebut simpleks. Uterus ini berbentuk seperti
buah pear dan berotot cukup tebal. Pada wanita-wanita yang
belum pernah melahirkan, ukuran panjang rahimnya adalah 7
cm dengan lebar antara 4 cm sampai 5 cm. Pada rahim bagian
bawah bentuknya mengecil dan dinamakan serviks uterus,
sedangkan bagian yang lebih besar disebut badan rahim atau
corpus uterus. Rahim pada manusia dan mamalia tersusun atas
tiga lapisan, yaitu perimetrium,
meiometrium, dan endometrium. Pada lapisan endometrium
dihasilkan banyak lendir, serta terdapat banyak pembuluh
darah. Lapisan endometrium ini mengalami proses penebalan
dan akan mengelupas setiap bulannya apabila tidak terdapat
zigot yang terimplantasi (tertanam). Uterus ini merupakan
tempat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.
Di samping itu, rahim juga terbagi atas tiga bagian,
yaitu fundus, bagian paling atas yang berdekatan dengan
saluran telur, ismus bagian tengah rahim, dan serviks yang
sering kali disebut sebagai leher rahim adalah bagian paling
bawah dan tersempit, yang memanjang sampai vagina.
3

1.1.4 Vagina
Merupakan bagian dalam kelamin wanita yang berbentuk
seperti tabung dilapisi dengan otot yang arahnya membujur ke
arah bagian belakang dan atas. Bagian dinding vagina lebih
tipis dibandingkan dengan dinding rahim dan terdapat banyak
lipatan-lipatan. Lipatan-lipatan tersebut berguna untuk
mempermudah jalannya proses kelahiran bayi. Di samping itu,
pada vagina juga terdapat lendir yang dikeluarkan oleh dinding
vagina dan sepasang kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar
bartholi. Vagina ini merupakan organ persetubuhan (kopulasi)
pada wanita.

1.2 Alat Reproduksi Bagian Luar


Alat reproduksi bagian luar pada wanita disebut vulva, terdiri atas
labia mayora, mons pubis, labia minora, organ klitoris, orificium
uretra, dan himen (selaput dara). Labia mayora adalah bibir bagian
luar dari vagina yang tebal dan berlapiskan lemak, sedangkan mons
pubis merupakan bagian tempat bertemunya dua bibir vagina dengan
bagian atas yang terlihat membukit. Labia minora atau bibir kecil,
yaitu sepasang lipatan kulit pada vagina yang halus dan tipis serta
tidak mengandung lapisan lemak.
Organ klitoris, merupakan bagian vagina yang berbentuk tonjolan
kecil yang sering kali disebut klentit. Adapun orificium uretra adalah
muara saluran kencing yang letaknya tepat di bawah organ klitoris. Di
bagian bawah saluran kencing yang mengelilingi tempat masuk ke
vagina, terdapat himen yang dikenal dengan nama selaput darah

II. Konsep Penyakit Post Partum


2.1 Definisi
Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra
hamil. Lamanya berlangsung selama 6-8 minggu (Hadijono, 2008).
Puerperium (masa nifas) adalah masa sesudah persalinan yang
diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6
minggu atau 42 hari. Kejadian yang terpenting dalam nifas adalah
involusi dan laktasi (Prawirordjo, 2008).
4

Menurut WHO menyatakan bahwa, pasca partus-post natal, mulai


sejak 1 jam setelah plasenta lahir sampai minggu ke-6 atau
berlangsung selama 42 hari (Manuaba, 2001).
Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa masa puerparium (nifas)
adalah masa setelah partus selesai dan berakhir kira-kira 6-8 minggu.
Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kambali seperti
sebelumnya pada kehamilan dalam waktu 3 bulan.

2.2 Etiologi
2.2.1 Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:
2.2.1.1 Atonia Uteri
2.2.1.2 Retensi Plasenta
2.2.1.3 Sisa Plasenta dan selaput ketuban:
a. Pelekatan yang abnormal (plasenta akreta dan
perkreta)
b. Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta
seccenturia).
2.2.1.4 Trauma jalan lahir
a. Episiotomi yang lebar
b. Laserasi perineum, vagina, serviks, forniks dan
Rahim
c. Rupture uteri.
2.2.1.5 Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia
/ hipofibrinogenemia. Tanda yang sering dijumpai
yaitu :
a. Perdarahan yang banyak
b. Solusio Plasenta
c. Kematian janin yang lama dalam kandungan
d. Pre eklampsia dan eklampsia
e. Infeksi, hepatitis dan syok septik
f. Hematoma
g. Inversi Uterus

2.2.2 Penyebab umum seksio sesaria


2.2.2.1 Etiologi yang berasal dari ibu
5

Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi


para tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo
pelvik (disproporsi janin / panggul), ada sejarah
kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat
kesempitan panggul, Plasenta previa terutama pada
primigravida, solutsio plasenta tingkat I – II,
komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia,
atas permintaan, kehamilan yang disertai penyakit (
jantung, DM ), gangguan perjalanan persalinan ( kista
ovarium, mioma uteri dan sebagainya).
2.2.2.2 Etiologi yang berasal dari janin
Fetal distress / gawat janin, mal presentasi dan mal
posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan
pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau
forseps ekstraksi.
2.2.3 Faktor Persalinan Pervaginam
2.2.3.1 Vakum ekstrasi
Vakum ekstrasi adalah suatu tindakan bantuan
persalinan, janin dilahirkan dengan ekstrasi
menggunakan tekanan negative dengan alat vacum
yang dipasang di kepalanya (Mansjoer, 2002).
2.2.3.2 Ekstrasi Cunam/Forsep
Ekstrasi Cunam/Forsep adalah suatu persalinan
buatan, janin dilahirkan dengan cunam yang dipasang
di kepala janin (Mansjoer, 2002). Komplikasi yang
dapat terjadi pada ibu karena tindakan ekstrasi forsep
antara lain ruptur uteri, robekan portio, vagina, ruptur
perineum, syok, perdarahan, post partum, pecahnya
varices vagina (Oxorn, 2003)
2.2.3.3 Embriotomi
Adalah prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan
melakukan pengurangan volume atau merubah
struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan untuk
memberi peluang yang lebih besar untuk melahirkan
keseluruhan tubuh bayi tersebut (Syaifudin, 2002).
6

2.2.3.4 Persalinan Presipitatus


Persalinan presipitatus adalah persalinan yang
berlangsung sangat cepat berlangsung kurang dari 3
jam, dapat disebabkan oleh abnormalitas kontraksi
uterus dan rahim yang terlau kuat, atau pada keadaan
yang sangat jarang dijumpai, tidak adanya rasa nyeri
pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya
proses persalinan yang sangat kuat (Cunningham,
2005).

2.3 Tanda dan Gejala (Manifestasi Klinik)


Periode post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai
organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil.
Periode ini kadang-kadang disebut puerperium atau trimester keempat
kehamilan (Bobak, 2004).
2.3.1 Sistem reproduksi
2.3.1.1 Proses involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil
setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah
plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat
sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1
minggu setelah melahirkan dan 350 gr dua minggu
setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus
berada di dalam panggul. Pada minggu keenam,
beratnya menjadi 50- 60gr. Pada masa pasca partum
penurunan kadar hormone menyebapkan terjadinya
autolisis, perusakan secara langsung Djaringan
hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang
terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah
penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah
hamil.
2.3.1.2 Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna
segera setelah bayi lahir, hormon oksigen yang dilepas
dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur
7

kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan


membantu hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca
partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan
menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan
kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena
atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta
lahir.
2.3.1.3 Tempat plasenta
Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan,
kontraksi vaskular dan trombus menurunkan tempat
plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul
tidak teratur. Pertumbuhan endometrium ke atas
menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan
mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi
karakteristik penyembuha luka. Regenerasi
endometrum, selesai pada akhir minggu ketiga masa
pasca partum, kecuali pada bekas tempat plasenta.
2.3.1.4 Lochea
Lochea yang keluar setelah bayi lahir, mula-mula
berwarna merah, kemudian menjadi merah tua atau
merah coklat. Lochea rubra terutama mengandung
darah dan debris desidua dan debris trofoblastik.
Aliran menyembur menjadi merah setelah 2-4 hari.
Lochea serosa terdiri dari darah lama, serum, leukosit
dan denrus jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir,
cairan berwarna kuning atau putih. Lochea alba
mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus,
serum dan bakteri. Lochea alba bisa bertahan 2-6
minggu setelah bayi lahir.
2.3.1.5 Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu
melahirkan.18 jam pasca partum, serviks memendek
dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali
ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah
uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama
beberapa hari setelah ibu melahirkan.
8

2.3.1.6 Vagina dan perineum


Vagina yang semula sangat teregang akan kembali
secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, 6-8 minggu
setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada
sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan
semenonjol pada wanita multipara.
2.3.2 Sistem endokrin
2.3.2.1 Hormon plasenta
Penurunan hormon human plasental lactogen,
esterogen dan kortisol, serta placenta enzim insulinase
membalik efek diabetagenik kehamilan. Sehingga
kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada
masa puerperium. Kadar esterogen dan progesteron
menurun secara mencolok setelah plasenta keluar,
penurunan kadar esterogen berkaitan dengan
pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstra
seluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil.
2.3.2.2 Hormon hipofisis
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita
menyusui dan tidak menyusui berbeda. Kadar
prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui
tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena
kadar follikel-stimulating hormone terbukti sama pada
wanita menyusui dan tidak menyusui di simpulkan
ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika
kadar prolaktin meningkat (Bowes, 1991).
2.3.3 Abdomen
Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan,
abdomenya akan menonjol dan membuat wanita tersebut
tampak seperti masih hamil. Diperlukan sekitar 6 minggu untuk
dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil.
2.3.4 Sistem urinarius
Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah
wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira dua smpai 8 minggu
supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis
9

ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil (Cunningham, dkk ;


1993).
2.3.5 Sistem cerna
2.3.5.1 Nafsu makan
Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia,
anestesia, dan keletihan, ibu merasa sangat lapar.
2.3.5.2 Mortilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot
traktus cerna menetap selam waktu yang singkat
setelah bayi lahir.
2.3.5.3 Defekasi
Buang air besar secara spontan bias tertunda selama
dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.
2.3.6 Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasai perkembangan payu
dara selama wanita hamil (esterogen, progesteron, human
chorionic gonadotropin, prolaktin, krotison, dan insulin)
menurun dengan cepat setelah bayi lahir.
2.3.6.1 Ibu tidak menyusui
Kadar prolaktin akan menurun dengan cepat pada
wanita yang tidak menyusui. Pada jaringan payudara
beberapa wanita, saat palpasi dailakukan pada hari
kedua dan ketiga. Pada hari ketiga atau keempat pasca
partum bisa terjadi pembengkakan. Payudara teregang
keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika di raba.
2.3.6.2 Ibu yang menyusui
Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan
suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum. Setelah
laktasi dimula, payudara teraba hangat dan keras
ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama
sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan dapat dikeluarkan
dari puting susu.
2.3.7 Sistem Perkemihan
2.3.7.1 Uretra dan kandung kemih
Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih
selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi
10

melewati jalan lahir. Dinding kandung kemih dapat


mengalami hiperemis dan edema, seringkali diserti
daerah-daerah kecil hemoragi.
2.3.8 Sistem Integumentasi
Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang
seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit yang meregang pada
payudara,abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar
tetapi tidak hilang seluruhnya.

2.4 Patofisiologi
2.4.1 Adaptasi Fisiologi
2.4.1.1 Involusi uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil
setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah
plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di
garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus
dengan bagian fundus bersandar pada promontorium
sakralis. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai
kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Fundus turun
kira-kira 1 smpai 2 cm setiap 24 jam Pada hari pasca
partum keenam fundus normal akan berada
dipertengahan antara umbilikus dan simpisis pubis.
Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat
sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1
minggu setelah melahirkan dan 350 gr 2 minggu
setelah lahir. Satu minggu setelah melahirkan uterus
berada di dalam panggul. Pada minggu keenam,
beratnya menjadi 50-60 gr. Peningkatan esterogen dan
progesteron bertabggung jawab untuk pertumbuhan
masif uterus selama hamil. Pada masa pasca partum
penurunan kadar hormone menyebapkan terjadinya
autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi
yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk
selama masa hamil menetap. Inilah penyebap ukuran
uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
11

2.4.1.2 Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna
segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon
terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat
besar. homeostasis pasca partum dicapai terutama
akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium,
bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan
bekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar
hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus,
mengopresi pembuluh darah dan membantu
hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum
intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi
tidak teratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus,
suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler
diberikan segera setelah plasenta lahir. Ibu yang
merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan
membiarkan bayinya di payudara segera setelah lahir
karena isapan bayi pada payudara merangsang
pelepasan oksitosin.
2.4.2 Adaptasi psikologis
Menurut Hamilton, 1995 adaptasi psikologis ibu post partum
dibagi menjadi 3 fase yaitu :
2.4.2.1 Fase taking in/ ketergantungan
Fase ini dimuai hari pertama dan hari kedua setelah
melahirkan dimana ibu membutuhkan perlindungan
dan pelayanan.
2.4.2.2 Fase taking hold / ketergantungan tidak
ketergantungan
Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan
dan berakhir pada minggu keempat sampai kelima.
Sampai hari ketiga ibu siap untuk menerima peran
barunya dan belajar tentang semua hal-hal baru.
Selama fase ini sistem pendukung menjadi sangat
bernilai bagi ibu muda yang membutuhkan sumber
informasi dan penyembuhan fisik sehingga ia dapat
istirahat dengan baik
12

2.4.2.3 Fase letting go / saling ketergantungan


Dimulai sekitar minggu kelima sampai keenam setelah
kelahiran. Sistem keluarga telah menyesuaiakan diri
dengan anggotanya yang baru. Tubuh pasian telah
sembuh, perasan rutinnya telah kembali dan kegiatan
hubungan seksualnya telah dilakukan kembali.

2.5 Patway
13

2.6 Komplikasi
2.6.1 Perdarahan
Perdarahan adalah penyebab kematian terbanyak pada wanita
selama periode post partum. Perdarahan post partum adalah :
kehilangan darah lebih dari 500 cc setelah kelahiran kriteria
perdarahan didasarkan pada satu atau lebih tanda-tanda sebagai
berikut:
2.6.1.1 Kehilangan darah lebih dai 500 cc
2.6.1.2 Sistolik atau diastolik tekanan darah menurun sekitar
30 mmHg
2.6.1.3 Hb turun sampai 3 gram %.
Perdarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan
terjadinya perdarahan dini terjadi 24 jam setelah melahirkan.
Perdarahan lanjut lebih dari 24 jam setelah melahirkan, syok
hemoragik dapat berkembang cepat dan menadi kasus lainnya,
tiga penyebap utama perdarahan antara lain:
a. Atonia uteri : pada atonia uteri uterus tidak mengadakan
kontraksi dengan baik dan ini merupakan sebap utama dari
perdarahan post partum. Uterus yang sangat teregang
(hidramnion, kehamilan ganda, dengan kehamilan dengan
janin besar), partus lama dan pemberian narkosis
merupakan predisposisi untuk terjadinya atonia uteri.
b. Laserasi jalan lahir : perlukan serviks, vagina dan
perineum dapat menimbulkan perdarahan yang banyak bila
tidak direparasi dengan segera.
c. Retensio plasenta, hampir sebagian besar gangguan
pelepasan plasenta disebapkan oleh gangguan kontraksi
uterus.retensio plasenta adalah : tertahannya atau belum
lahirnya plasenta atau 30 menit selelah bayi lahir.
d. Lain-lain
1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi
kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah
yang tetap terbuka
2) Ruptur uteri, robeknya otot uterus yang utuh atau
bekas jaringan parut pada uterus setelah jalan lahir
hidup
14

3) Inversio uteri
2.6.2 Infeksi puerperalis
Didefinisikan sebagai; inveksi saluran reproduksi selama masa
post partum. Insiden infeksi puerperalis ini 1 % - 8 %, ditandai
adanya kenaikan suhu > 380 dalam 2 hari selama 10 hari
pertama post partum. Penyebap klasik adalah : streptococus dan
staphylococus aureus dan organisasi lainnya.
2.6.3 Endometritis
Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebapkan oleh
infeksi puerperalis. Bakteri vagina, pembedahan caesaria,
ruptur membrane memiliki resiko tinggi terjadinya
endometritis.
2.6.4 Mastitis
Yaitu infeksi pada payudara. Bakteri masuk melalui fisura atau
pecahnya puting susu akibat kesalahan tehnik menyusui, di
awali dengan pembengkakan, mastitis umumnya di awali pada
bulan pertamapost partum.
2.6.5 Infeksi saluran kemih
Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum, pembedahan
meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Organisme
terbanyak adalah Entamoba coli dan bakterigram negatif
lainnya.
2.6.6 Tromboplebitis dan thrombosis
Semasa hamil dan masa awal post partum, faktor koagulasi dan
meningkatnya status vena menyebapkan relaksasi sistem
vaskuler, akibatnya terjadi tromboplebitis (pembentukan
trombus di pembuluh darah dihasilkan dari dinding pembuluh
darah) dan thrombosis (pembentukan trombus) tromboplebitis
superficial terjadi 1 kasus dari 500 – 750 kelahiran pada 3 hari
pertama post partum.
2.6.7 Emboli
Yaitu partikel berbahaya karena masuk ke pembuluh darah
kecil menyebapkan kematian terbanyak di Amerika.
2.6.8 Post partum depresi
Kasus ini kejadinya berangsur-angsur, berkembang lambat
sampai beberapa minggu, terjadi pada tahun pertama. Ibu
15

bingung dan merasa takut pada dirinya. Tandanya antara lain,


kurang konsentrasi, kesepian tidak aman, perasaan obsepsi
cemas, kehilangan kontrol, dan lainnya. Wanita juga mengeluh
bingung, nyeri kepala, gangguan makan, disminore, kesulitan
menyusui, tidak tertarik pada sex, kehilanagan semangat.

2.7 Prognosis
Seperti dikatakan oleh Tadjuluddin (1965): “Perdarahan postpartum
masih merupakan ancaman yang tidak terduga; walaupun dengan
pengawasan yang sebaik-baiknya, perdarahan postpartum masih
merupakan salah satu sebab kematian ibu yang penting”. Sebaliknya
menurut pendapat para ahli kebidanan modern: “Perdarahan
postpartum tidak perlu mambawa kematian pada ibu bersalin”.
Pendapat ini memang benar bila kesadaran masyarakat tentang hal ini
sudah tinggi dalam klinik tersedia banya darah dan cairan serta
fasilitas lainnya. Dalam masyarakat kita masih besar anggapan, bahwa
darahnya adalah merupakan hidupnya, karena itu mereka menolak
menyumbangkan darahnya, walaupun jiwa istri dan keluarganya
sendiri.
Pada perdarahan postpartum, Mochtar R. dkk, (1969) melaporkan
angka kematian ibu sebesar 7,9% dan Wiknjosastro H. (1960) 1,8% –
4,5%. Tingginya angka kematian ibu karena banyak penderita yang
dikirim dari luar negeri dengan keadaan umum yang sangat jelek dan
anemis dimana tindakan apapun kadang-kadang tidak menolong.

2.8 Penanganan Medis


2.8.1 Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi
perdarahan)
2.8.2 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan
miring kanan miringkiri
2.8.3 Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui
yang benar dan perawatan payudara, perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa nifas, pemberian informasi tentang
senam nifas
2.8.4 Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
2.8.5 Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan
16

III. Rencana asuhan klien dengan post partum


3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
3.1.2 Riwayat kehamilan
Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyertai.
3.1.3 Riwayat persalinan
3.1.3.1 Tempat persalinan
3.1.3.2 Normal/terdapat komplikasi
3.1.3.3 Keadaan bayi
3.1.3.4 Keadaan ibu
3.1.4 Riwayat nifas yang lalu
3.1.4.1 Pengeluaran ASI lancer atau tidak
3.1.4.2 BB bayi
3.1.4.3 Riwayat ber KB atau tidak
3.1.5 Pemeriksaan fisik
3.1.5.1 Keadaan umum
a. Pemeriksaan TTV
b. Pengkajian tanda-tanda anemia
c. Pengkajian tanda-tanda edema atau
tromboflebitis
d. Pemeriksaan reflek
e. Kaji adanya varises
f. Kaji CVAT ( cortical vertebra area tenderness )
3.1.5.2 Payudara
a. Pengkajian daerah areola ( pecah, pendek, rata )
b. Kaji adanya abses
c. Kaji adanya nyeri tekan
d. Observasi adanya pembengkakanatau ASI
terhenti
e. Kaji pengeluaran ASI
3.1.5.3 Abdomen atau uterus
a. Observasi posisi uterus atau tiggi fundus uteri
b. Kaji adnanya kontraksi uterus
c. Observasi ukuran kandung kemih
3.1.5.4 Vulva atau perineum
a. Observasi pengeluaran lokhea
17

b. Observasi penjahitan lacerasi atau luka


episiotomy
c. Kaji adanya pembengkakan
d. Kaji adnya luka
e. Kaji adanya hemoroid
3.1.5.5 Pemeriksaan psiko sosial
a. Respon + persepsi keluarga
b. Status psikologis ayah
c. Respon keluarga terhadap bayi
3.1.6 Pemeriksaan penunjang
3.1.6.1 Darah lengkap : Hb, WBC, PLT
3.1.6.2 Elektrolit sesuai indikasi

3.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


3.2.1 Diagnosa 1: Nyeri akut
3.2.1.1 Definisi
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang
aktual atau potensial.
3.2.1.2 Batasan karakteristik
Subjektif:
a. Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan
nyeri dengan isyarat
Objektif:
a. Posisi untuk mengindari nyeri
b. Perubahan tonus otot dengan rentang lemas
sampai tidak bertenaga
c. Respon autonomic misalnya diaphoresis,
perubahan tekanan darah, pernapasan atau
nadi, dilatasi pupil
d. Perubahan selera makan
e. Perilaku distraksi missal, mondar-mandir,
mencari orang atau aktivitas lain, aktivitas
berulang
f. Perilaku ekspresif misal; gelisah, merintih,
menangis, kewaspadaan berlebihan, peka
18

terhadap rangsang, dan menghela napas


panjang
g. Wajah topeng; nyeri
h. Perilaku menjaga atau sikap melindungi
i. Fokus menyempit, missal; gangguan persepsi
waktu, gangguan proses piker, interaksi
menurun
j. Bukti nyeri yang dapat diamati
k. Berfokus pada diri sendiri
l. Gangguan tidur, missal; mata terlihat layu,
gerakan tidak teratur atau tidak menentu dan
tidak menyeringai
3.2.1.3 Faktor yang berhubungan
a. Agen-agen penyebab cedera; biologis, kimia,
fisik dan psikologis

3.2.2 Diagnosa 2: Ketidakefektifan pemberian ASI


3.2.2.1 Definisi
Ketidakpuasan atau kesulitan ibu, bayi atau anak
dalam proses pemberian ASI
3.2.2.2 Batasan Karakteristik
Subjektif:
a. Persepsi suplai asi yang tidak adekuat
b. Ketidakpuasan proses menyusui
Objektif:
a. Ketidakadekuatan suplai asi
b. Menggeliat dan menangis sipaudara ibu
c. Rewel dan menangis dalam waktu satu jam
setelah menyusui
d. Ketidakmampuan bayi untuk menempel pada
payudara ibu dengan benar
e. Pengosongan masing-masing payudara setiap
kali menyusui yang tidak sempurna

f. Kesempatan untuk mengisap pada payudara


yang tidak mencukupi
g. Tidak tampak tanda pelepasan oksitosin
19

h. Mengisap pada payudara tidak kontinu


i. Menunnjukkan tanda ketidakadekuatan asupan
bayi
j. Putting terus lecet pada minggu pertama
k. Menolak untuk lacth on
l. Tidak berespon terhadap tindakan kenyamanan
3.2.2.3 Faktor yang berhubungan
a. Kelainan pada bayi
b. Bayi mendapatkan makanan tambahan
menggunakan putting buatan
c. Diskontinuitas pemberian asi
d. Kurang pengetahuan
e. Kecemasan atau sikap ibu yang ambivalen
f. Kelainan pada payudara ibu
g. Pasangan atau keluarga tidak mendukung
h. Reflex menghisap bayi buruk
i. Prematuritas
j. Riwayat pembedahan payudara sebelumnya
k. Riwayat kegagalan menyusui
l. Keletihan atau penyakit maternal
m. Asupan cairan yang tidak adekuat

3.2.3 Diagnosa 3: Risiko tinggi infeksi


3.2.3.1 Definisi
Peningkatan resiko masuknya organisme patogen
3.2.3.2 Faktor resiko
a. Prosedur invasif
b. Ketidakcukupan pengetahuan untuk
menghindari paparan pathogen
c. Trauma
d. Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan
e. Ruptur membran amnion
f. Agen farmasi (imunosupresan)
g. Malnutrisi
h. Peningkatan paparan lingkungan pathogen
20

i. Imonusupresi
j. Ketidakadekuatan imum buatan
k. Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan
Hb, Leukopenia, penekanan respon inflamasi)
l. Tidak adekuat pertahanan tubuh primer (kulit
tidak utuh, trauma jaringan, penurunan kerja
silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH,
perubahan peristaltik)
m. Penyakit kronik

3.2.4 Diagnosa 4: Risiko kekurangan volume cairan


3.2.4.1 Definisi
Penurunan cairan intravaskuler, interstisial,
dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke dehidrasi,
kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium.
3.2.4.2 Batasan Karakteristik
a. Kelemahan
b. Haus
c. Penurunan turgor kulit/lidah
d. Membran mukosa/kulit kering
e. Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan
darah, penurunan volume/tekanan nadi
f. Pengisian vena menurun
g. Perubahan status mental
h. Konsentrasi urine meningkat
i. Temperatur tubuh meningkat
j. Hematokrit meninggi
k. Kehilangan berat badan seketika (kecuali pada
third spacing)
3.2.4.3 Faktor-faktor yang berhubungan
a. Kehilangan volume cairan secara aktif
b. Kegagalan mekanisme pengatura
21

3.3 Perencanaan
No Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri akut NOC: NIC:
1. Pain Level Pain Mangement:
2. Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri
3. Comfort level secara komprehensif (PQRST)
Kriteria Hasil: 2. Monitor vital sign
1. Mampu mengontrol nyeri 3. Gunakan teknik komunikasi
(tahu penyebab nyeri,mampu terapeutik untuk mengetahui
menggunakan teknik non pengalaman nyeri pasien
farmakologi untuk 4. Pilih dan lakukan penanganan
mengurangi nyeri, mencari nyeri (Farmakologi non
bantuan) farmakologi dan interpersonal)
2. Melaporkan bahwa nyeri Analgesic Administration
berkurang dengan 1. Tentukan PQRST sebelum
menggunaka manajemen pemberian obat
nyeri 2. Tentukan pilihan analgesic
3. Mampu mengenali nyeri tergantung tipe dan beratnya
(PQRST) nyeri
4. Merasakan rasa nyaman 3. Evaluasi efektifitas analgesic
setalah nyeri berkurang tanda dan gejala
2 Ketidakefektifan NOC NIC
pemberian ASI 1. Breastfeding ineffective Breastfeding Assistence
2. Bretahing pattern ineffective 1. Evaluasi pola menghisap/
3. Breasfeeding interrupted menelan bayi
Kriteria hasil: 2. Tentukan keinginan dan
1. Kementapan pemberian ASI: motivasi ibu untuk mrnyusui
Bayi: perlekatan bayi yang 3. Kaji kemampuan bayi untuk
sesuai pada dan proses latch on dan menghisap secara
menghisap dari payudara ibu efektif
untuk memperoleh nutrisi 4. Pantau integritas kulit putting
selama 3 minggu pertama ibu
pemberian ASI 5. Pantau berat badan dan pola
2. Kemantapan pemberian eliminasi bayi
ASI:IBU: kemantapan ibu Breast examination Lactation
untuk membuat bayi melekat suppression
dengan tepat dan menyusui 1. Sediakan informasi tentang
dari payudara ibu untuk laktasi dan teknik memompa
memperoleh nutrisi selama 3 ASI (secara manual atau
22

minggu pertama pemberian dengan pompa elektrik) cara


ASI. mengumpulkan dan
3. Pemeliharaan pemberian menyimpan ASI
ASI: keberlangsungan 2. Ajarkan orang tua
pemberian ASI untuk mempersiapkan, menyimpan,
menyediakan nutrisi bagi menghangatkan dan
bayi/toddler kemungkinan pemberian
4. Penyapihan pemberian ASI: tambahan susu formula
Diskontinuitas progresi Lactation Counseling
pemberian ASI 1. Sediakan infromasi tentang
5. Pengetahuan pemberian keuntungan dan kerugian
ASI: tigkat pemahaman yang peberian ASI
ditunjukan mengenai laktasi 2. Demonstrasikan latihan
dan pemberian makanan menghisap jika perlu
bayi melalui proses 3. Diskusikan metode alternative
pemberian ASI. pemberian makan bayi
6. Ibu mengenali isyarat lapar
dari bayi dengan segera
7. Ibu mengindikasikan
kepuasan terhadap
pemberian ASI
8. Ibu tidak mengalami nyeri
tekan pada putting
9. Mengenali tanda-tanda
penurunan suplai ASI
3 Risiko tinggi NOC NIC
infeksi 1. Immune Status Infection control (control infeksi)
2. Knowledge: Infection 1. Bersihkan lingkungan setelah
control dipakai pasien lain
3. Risk control 2. Pertahankan teknik isolasi
3. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai lat pelindung
4. Pertahankan lingkungan
aseptic selama pemsangan alat
5. Monitor tanda gejala infeksi
sistemik dan local
6. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
7. Pertahankan teknik asepsis
23

pada pasien yang berisiko


8. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
4 Risiko NOC: NIC
kekurangan 1. Fluid Balance Fluid management
volume cairan 2. Hydration 1. Pertahankan catatan intake dan
3. Nutrisional Status: Food and output yang akurat
Fluid intake 2. Monitor status hidrasi
Kriteria Hasil : (kelembaban membrane
1. Mempertahankan urine mukosa, nadi adekuat, tekanan
output sesuai dengan usia darah ortostatik) jika
dan BB, BJ, urine normal, diperlukan
HT normal. 3. Monitor vital sign
2. Tekanan darah, nadi, suhu 4. Monitor masukan
tubuh dalam batas normal. makanan/cairan dan hitung
3. Tidak ada tanda-tanda intake kalori harian
dehidrasi, elastisitas turgor 5. Monitor status nutrisi
kulit baik, membrane Hypopolemia Management :
mukosa lembab, tidak ada 1. Monitor respon pasien
rasa haus yang berlebihan terhadap penambahan cairan.
2. Monitor BB
3. Dorong pasien untuk
menambah intake oral
4. Monitor adanya tanda gagal
ginjal
24

IV. Daftar Pustaka


Hadijono, Soerjo. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.
Prawirohardjo, Sarwono. (2006). Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Prawirohardjo, Sarwono. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wilkinson, Judith M. (2011). Buku Saku Diagnosa Keperawatan :
diagnosa NANDA, Intervensi NIC, Kreteria hasil NOC ed. 9.
Jakarta: EGC.

Banjarmasin, 24 April 2017


Preseptor akademik, Preseptor klinik,

( Meti Agustini, Ns., M.Kep ) ( )

Anda mungkin juga menyukai