Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembelajaran yang baik terjadi melalui suatu proses. Proses pembelajaran


yang baik hanya bisa diciptakan melalui perencanaan yang baik dan tepat.
Perencanaan pembelajaranlah yang menjadi unsur utama dalam pembelajaran dan
salah satu alat paling penting bagi guru. Guru yang baik akan selalu membuat
perencanaan untuk kegiatan pembelajarannya, maka tidak ada alasan mengajar di
kelas tanpa perencanaan pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran sebenarnya merupakan sesuatu yang
diidealisasikan atau dicita-citakan. Apa yang tertuang dalam perencanaan
pembelajaran itu semuanya merupakan keinginan-keinginan. Setiap keinginan
adakalanya dapat tercapai, adakalanya tidak tercapai. Ini tergantung pada upaya
mewujudkan keinginan itu. Sedangkan keberhasilan suatu upaya ditentukan oleh
berbagai faktor. Faktor yang paling mendasar adalah kemampuan seseorang
melakukan upaya dalam mewujudkan apa yang diinginkan. Perencanaan yang
dibuat merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam
pembelajaran, sehingga tercipta suatu situasi yang memungkinkan terjadinya
proses belajar yang dapat mengantar siswa mencapai tujuan yang diharapkan.
Orang yang bertanggung jawab langsung dalam upaya mewujudkan apa
yang tertuang dalam perencanaan pembelajaran adalah guru. Ini dikarenakan guru
yang langsung melaksanakan perencanaan pembelajaran di kelas. Guru juga yang
bertugas menyusun perencanaan pembelajaran pada tingkatan pembelajaran. Guru
langsung menghadapi masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan
pelaksanaan perencanaan pembelajaran di kelas. Guru yang mencarikan upaya
memecahkan segala permasalahan yang dihadapi, dan melaksanakan upaya itu.
Dengan demikian, perencanaan pembelajaran banyak tergantung kepada
kemampuan guru mengembangkannya, karena tugas guru berkaitan dengan
melaksanakan pembelajaran mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, diperlukan perencanaan pembelajaran dari suatu mata pelajaran

1
tertentu yang akan dilaksanakan pembelajarannya, berpegang pada prinsip-prinsip
psikologi, baik tentang perkembangan individu maupun proses belajar sehingga
tercapai keefektifan pembelajaran yang dilaksanakan.
Perencanaan pembelajaran dapat diterapkan untuk pembelajaran dalam
lingkup luas (sistem makro), maupun dalam lingkup sempit (sistem mikro) atau
dalam lingkup terbatas.
Perencanaan pembelajaran terbatas adalah rencana yang disusun oleh
individual guru. Perencanaan tersebut akan menunjukkan apa yang guru uraikan
setiap pertemuan. Inilah yang disebut dengan perencanaan pembelajaran (lesson
plan) atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru yang baik tentu
terbiasa membuat perencanaan pembelajaran sebelum pertemuan harian dengan
siswanya. Namun pembelajaran sehari-hari hanyalah sebagian kecil dari
perencanaan yang lebih besar, yaitu mencapai target semester, misi sekolah dan
sistem pendidikan nasional.
Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk
watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.
Dari dimensi tersebut, peranan guru sulit digantikan oleh orang lain. Dipandang
dari dimensi pembelajaran, peranan guru dalam masyarakat Indonesia tetap
dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran
berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan karena ada dimensi-dimensi proses
pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh
guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Guru dianggap sebagai suatu profesi bilamana jabatan itu memiliki
persyaratan dasar, keterampilan teknik serta didukung oleh kepribadian yang
mantap. Hal ini berarti guru yang profesional harus memiliki kompetensi-
kompetensi dasar yang melandasi pekerjaannya.
Aspek utama dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan adalah kualitas
guru. Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat minimal yang
ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang profesional. Guru profesional
yang dimaksud adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang
dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi

2
proses belajar mengajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prastasi belajar
siswa yang baik.
Sehingga yang menjadi permasalahan baru adalah, guru hanya memahami
intruksi tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
yang sifatnya administratif, sehingga kemampuan guru profesional dalam hal inti
tidak menjadi prioritas utama. Dengan pemahaman tersebut, kontribusi untuk
siswa menjadi kurang terperhatikan bahkan terabaikan. Masalah lain yang
ditemukan adalah, minimnya tenaga pengajar dalam suatu lembaga pendidikan
juga memberikan celah seorang guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan
keahliannya. Sehingga yang menjadi imbasnya adalah siswa sebagai anak didik
tidak mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Padahal siswa ini adalah
sasaran pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan, bantuan,
latihan, pengetahuan yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai, sikap yang
baik dari seorang guru. Maka hanya dengan seorang guru profesional hal tersebut
dapat terwujud secara utuh, sehingga akan menciptakan kondisi yang
menimbulkan kesadaran dan keseriusan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian, apa yang disampaikan seorang guru akan berpengaruh terhadap
hasil pembelajaran. Sebaliknya, jika hal di atas tidak terealisasi dengan baik, maka
akan berakibat ketidakpuasan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Guru sebagai pendidik merupakan salah satu faktor penentu disamping
faktor keluarga dan lingkungan. Bahkan sebagian berpendapat bahwa guru adalah
ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan. Keberhasilan proses belajar mengajar
di sekolah dasar dipengaruhi oleh berbagai macam komponen pengajaran.
Pemahaman terhadap kurikulum, penguasaan terhadap materi, pemilihan metode
dan media yang tepat merupakan modal utama, disamping situasi dan kondisi
lingkungan yang harus mendukung.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh para guru dalam usahanya memenuhi
komponen tersebut. Namun kenyataan hingga saat ini belum mampu memberikan
hasil yang maksimal sesuai yang diinginkan. Dalam pembelajaran, banyak guru
yang belum sepenuhnya mengoptimalkan dalam merencanakan pembelajaran.
Tidak kompetennya seorang guru dalam membuat perencanaan pembelajaran

3
secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil dari pembelajaran. Karena
dengan perencanaan pembelajaran dapat menyediakan garis besar bahasan dan
muatan inti, hal-hal yang menyangkut organisasi, prosedur evaluasi., sumber
belajar, media dan alat-alat bantu. Dari uraian latar belakang diatas penulis
mengkaji permasalahan dengan Formulasi Judul “Kompetensi Guru dalam
perencanaan dan Evaluasi pembelajaran Sejarah Kelas XI SMA Negeri 1
BILUHU”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, terdapat beberapa masalah
yang diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kompetensi guru dalam perencanaan dan evaluasi pembelajaran Sejarah Kelas
XI SMA Negeri 1 Biluhu belum optimal.
2. Guru belum sepenuhnya mengetahui pentingnya menyusun perencanaan dan
evaluasi pembelajaran Sejarah Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu
3. Guru belum mengetahui cara menyusun perencanaan pembelajaran yang baik
di Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada:
1. Optimalisasi kompetensi guru dalam perencanaan dan evaluasi pembelajaran
Sejarah Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
2. Pentingnya perencanaan dan evaluasi pembelajaran Sejarah yang dilakukan
guru Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
3. Cara menyusun perencanan dan evaluasi pembelajaran Sejarah oleh guru
profesional Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
1.4 Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,
maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana mengoptimalisasi kompetensi guru dalam perencanaan dan
evaluasipembelajaran Sejarah Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu?
2. Apa pentingnya perencanaan dan evaluasi pembelajaran Sejarah yang
dilakukan guru Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu?

4
3. Bagaimana cara menyusun perencanan dan evaluasi pembelajaran Sejarah oleh
guru Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana mengoptimalisasi kompetensi guru dalam perencanaan
dan evaluasi pembelajaran Sejarah Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
2. Mengetahui apa pentingnya perencanaan dan evaluasi pembelajaran Sejarah
yang dilakukan guru profesional Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
3. Mengetahui bagaiman cara menyusun perencanan dan evaluasi pembelajaran
Sejarah oleh guru profesional Kelas XI SMA Negeri 1 Biluhu.
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan Kontribusi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang kompetensi guru dalam
perencanaan dan evaluasi pembelajaran Sejarah di SMA Negeri I Biluhu.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan
bagi guru tentang kompetensi guru profesional dalam perencanaan dan
evaluasi pembelajaran.
2. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi wacana yang produktif bagi Kepala
Sekolah dan guru untuk meningkatkan profesionalisme guru.
3. Bagi Pemangku Kebijakan
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumbangan dan memperoleh
kebijakan yang positif berkenaan dengan penelitian kualitatif.

5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Perencanaan Pembelajaran
a. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Lukmanul Hakiim (2009: 238) mengemukakan bahwa “Perencanaan
pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan
dalam kelas untuk mencapai tujuan.” Stenhouse (dalam Lukmanul Hakiim, 2009:
1) berpendapat bahwa perencanaan pembelajaran merupakan suatu ide dari orang
yang merancangnya, tentang bentuk-bentuk pelaksanaan proses pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
Branch (dalam Syamri, 2010) berpendapat bahwa perencana pembelajaran
adalah suatu sistem yang berisi prosedur untuk mengembangkan pendidikan
dengan cara yang konsisten dan reliable.
Ritchy (dalam Syamri, 2010) berpendapat bahwa perencana pembelajaran
adalah ilmu yang merancang detail secara spesifik untuk pengembangan, evaluasi
dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pengetahuan diantara satuan besar dan
kecil persoalan pokok.
Smith & Ragan (dalam Syamri, 2010) berpendapat bahwa perencana
pembelajaran adalah roses sistematis dalam mengartikan prinsip belajar dan
pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran.
Zook (dalam Syamri, 2010) berpendapat bahwa perencana pembelajaran
adalah roses berfikir sistematis untuk membantu pelajar memahami (belajar)
Dari defenisi diatas perencanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang
direncanakan dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar atau
pembelajaran untuk mengembangkan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan
fasilitas pendidikan guna pencapaian tujuan pembelajaran.
b. Pentingnya Menyusun Perencanaan Pembelajaran

Menurut Lukmanul Hakiim (2009: 238) ada beberapa alasan pentingnya


menyusun perencanaan pembelajaran bagi guru dalam proses pembelajaran, yaitu:

6
1) merencanakan pembelajaran akan membantu memanfaatkan atau
menentukan penggunaan sumber materi pembelajaran dan waktu
pembelajaran di kelas secara efisien;
2) mengingatkan guru agar memasukkan seluruh faktor pembelajaran yang
baik.
3) pada saat menyusun perencanaan pembelajaran, guru dapat
memvisualisasikan dirinya sedang mengajar di kelas, sehingga akan
membantu guru mengantisipasi kemungkinan munculnya masalah dan
memikirkan pemecahannya serta mengatasi kendala atau menghindarkan
hal-hal yang menghambat pembelajaran.
4) membantu menciptakan guru yang cermat dan teliti, yaitu menganalisis
bagaimana sesuatu semestinya direncanakan dan diimplementasikan;
5) berguna sebagai sumber belajar saat akan mengajar pada waktu yang akan
datang.
c. Manfaat Perencanaan Pembelajaran
Guru setiap akan mengajar hendaknya menyusun perencanaan
pembelajaran yang tertulis, meskipun merasa sudah berpengalaman atau
merasa sudah hafal, karena menurut Lukmanul Hakiim (2009: 238)
mengemukakan bahwa manfaat perencanaan pembelajaran antara lain:
1) untuk memperjelas pemikiran, karena ide yang masih ada dalam fikiran
biasanya masih belum jelas;
2) melaksanakan urutan-urutan yang tercantum dalam perencanaan
pembelajaran secara sistematis;
3) karena daya fikir manusia terbatas, maka membantu guru jika lupa
terhadap suatu materi pembelajaran dengan cara melihat perencanaan
pembelajaran tersebut;
4) mengetahui kelebihan dan kelemahan perencanaan pembelajaran yang
telah disusun sehingga guru mempunyai kesempatan untuk memperbaiki
atau menyempurnakan perencanaan pembelajaran tersebut untuk
penyusunan perencanaan pembelajaran berikutnya.
d. Menyusun Perencanaan Pembelajaran

7
Menurut Lukmanul Hakiim (2009: 239) cara menyusun perencanaan
pembelajaran yang baik antara lain:
1) perencanaan pembelajaran berisikan tentang hal-hal yang sangat penting
saja jangan terlalu mendetail karena akan membingungkan guru karena
akan terpusat pada menghafal materi pembelajaran tersebut daripada
menyampaikannya;
2) perencanaan pembelajaran disususn sesuai dengan kemampuan guru
dengan materi pembelajaran yang bertahap sedikit demi sedikit, daripada
materi pembelajaran yang luas tetapi tidak dapat disampaikan dengan baik.
3) perencanaan pembelajaran tidak terlalu terikat dengan buku teks, sehingga
guru menerima semua yang tercantum dalam buku teks. Oleh karena itu
guru hendaknya aktif dan kreatif memilih pokok-pokok materi
pembelajaran dari buku teks tersebut.

2.2 Kompetensi Guru


2.2.1 Kompetensi
Secara sederhana “kompetensi berarti kemampuan” (Sumiati dan
Asra, 2009: 241).
Menurut Benyamin S. Bloom (dalam Sumiati dan Asra, 2009: 245)
kompetensi terbagi menjadi tiga aspek, yaitu: (1) kompetensi pada
aspek/ranah/matra kognitif (kecerdasan), (2) kompetensi pada
aspek/ranah/matra afektif (perasaan), (3) kompetensi pada aspek/ranah/matra
psikomotor (keterampilan).
Menurut Hall & Jones (Sumiati dan Asra, 2009: 246) kompetensi
meliputi lima macam aspek, yaitu:
1) kompetensi kognitif yang meliputi pengetahuan, pemahaman, dan
perhatian;
2) kompetensi afektif yang meliputi sikap, minat, apresiasi, dan nilai;
3) kompetensi penampilan yang menyangkut demonstrasi keterampilan fisik
atau psikomotor;
4) kompetensi produk atau konsekuensi yang meliputi keterampilan
melakukan perubahan terhadap pihak lain;

8
5) kompetensi eksploratif atau ekspresif yang meliputi pemberian
pengalaman yang mempunyai nilai kegunaan di masa depan sebagai hasil
atau dampak pengiring (nurturant effect) yang efektif.
2.2.2 Kompetensi Guru
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (dalam
Lukmanul Hakiim, 2009: 243) guru atau pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong,
praja, widyaiswara, tutor, instruktur, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 16/2007 tentang Standar
Kompetensi Guru (dalam Lukmanul Hakiim, 2009: 243) kompetensi yang
diperlukan oleh guru terbagi atas 4 kategori, yaitu:
1) Kompetensi pedagogik (akademik)
Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan dalam pengelolaan peserta didik
yang meliputi pemahaman wawasan atau landasan kependidikan,
pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/ silabus,
perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2) Kompetensi pribadi
Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap,
stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi
teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri,
dan mengembangkan diri secara berkelanjutan.
3) Kompetensi sosial
Kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi lisan dan tulisan, menggunakan
teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua/wali peserta didik, dan bergaul secara santun dengan masyarakat
sekitar.

9
4) Kompetensi sosial
Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi konsep, struktur,
dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan
materi ajar, materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, hubungan
konsep antar mata pelajaran terkait, penerapan konsep-konsep keilmuan
dalam kehidupan sehari-hari, dan kompetisi secara profesional dalam
konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

2.3 Kerangka Berpikir


Perencanaan pembelajaran dirumuskan lalu dilaksanakan oleh guru
maupun siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Perencanaan pembelajaran merupakan perencanaan terhadap apa yang hendak
dicapai dalam suatu proses pembelajaran serta bagaimana upaya mencapainya.
Rumusan tentang apa yang hendak dicapai merupakan perencanaan seluruh
komponen sistem yang mengacu kepada tujuan. Semua segi yang tercakup dalam
perencanaan sepatutnya mengacu kepada tujuan, karena tujuan yang hendak
dicapai merupakan landasan kerja dalam melaksanakan seluruh kegiatan dalam
pembelajaran. Agar perencanaan yang dibuat itu sejalan dengan upaya pencapaian
tujuan sebagai acuan, seluruh komponen pembelajaran dianalisis mengacu kepada
analisis tujuan.
Kemampuan merencanakan, melaksanakan dan menilai merupakan tiga
jenis kegiatan yang saling berkaitan. Oleh karena itu, tuntutan kemampuan yang
harus dimiliki pun hendaknya secara lengkap meliputi ketiga jenis kemampuan
tersebut. Demikian pula dalam upaya meningkatkan kemampuan melaksanakan
pembelajaran, kemampuan yang dituntut bukan semata-mata dalam melaksanakan
pembelajran, tetapi mencakup juga kemampuan merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.
Guru adalah termasuk suatu profesi yang memerlukan keahlian tertentu
dan memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan secara profesional. Karena
guru adalah individu yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kesuksesan

10
anak didik yang berada dibawah pengawasannya, maka keberhasilan siswa akan
sangat dipengaruhi oleh kinerja yang dimiliki seorang guru. Oleh karena itu, guru
professional diharapkan akan memberikan sesuatu yang positif yang berkenaan
dengan keberhasilan prestasi belajar siswa.
Dalam pelaksanaannya, tanggung jawab guru tidak hanya terbatas kepada
proses dalam pentransferan ilmu pengetahuan. Banyak hal yang menjadi tanggung
jawab guru, yang salah satunya adalah memiliki kompetensi idealnya
sebagaimana guru profesional. Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap,
dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun
akademis. Dengan kata lain, guru yang profesional ini memiliki keahlian khusus
dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melaksanakan tugasnya secara
maksimal dan terarah.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar, seorang guru profesional harus
terlebih dahulu mampu merencanakan program pengajaran. Kemudian
melaksanakan program pengajaran dengan baik dan mengevaluasi hasil
pembelajaran sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, seorang
guru profesional akan menghasilkan anak didik yang mampu menguasai
pengetahuan baik dalam aspek kognitif, afektif serta psikomotorik. Dengan
demikian, seorang guru dikatakan profesional apabila mampu menciptakan proses
belajar mengajar yang berkualitas dan mendatangkan prestasi belajar yang baik.
Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 13) dalam penelitian kualitatif,
hipotesis lahir selama penelitian berlangsung sehingga peniliti belum menuliskan
hipotesis dalam proposal penelitian ini.

11
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMA Negeri 1 Gorontalo
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Biluhu Penelitian
dilaksanakan pada bulan Maret 2016 hingga akhir Mei 2016 dengan tabel jadwal
sebagai berikut:

BULAN
Agsts’1
No KEGIATAN Mei’11 Juni’11 Juli’11 Sept’11
1
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan
1. x x x x x
Proposal
Seminar
2. x
Proposal
3. Revisi Proposal x
Koordinasi dan
4. x x x
Perijinan
5. Pelaksanaan x x Xx
Analisis
6. x x X
Penyusunan
Penulisan
7. x x x
Laporan
Penyerahan
8. x
Laporan

12
3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian
1. Bentuk Penelitian
Adapun bentuk penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif
deskriptif.
2. Strategi Penelitian
Strategi penelitian dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu
menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau
sekelompok individu. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti
mengumpulkan informasi secara lengkap (mengeksplorasi suatu proses).
Adapun studi kasus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
kompetensi dasar guru profesional di SMA Negeri 1 Biluhu.
3.3 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian kualitatif dapat diambil dari informan,
tempat dan peristiwa, serta arsip atau dokumen yang berhubungan dengan
permasalahan penelitian.
Berdasarkan pertimbangan jenis data yang dibutuhkan, maka sumber data
penelitian dikelompokkan berikut:
1. Kepala sekolah, selaku pemimpin dalam penyelenggaraan satuan pendidikan
di SMA Negeri 1 Biluhu.
2. Guru, selaku tenaga pengajar dengan jabatan professional di SMA Negeri 1
Biluhu, mulai dari guru kelas X sampai dengan XII.
3. Arsip atau dokumen yang berhubungan dengan Kompetensi guru di SMA
Negeri I Biluhu.
3.4 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan mengikuti paradigma penelitian
kualitatif yaitu:
1. Purposive sampling/internal sampling. Teknik ini dapat dilakukan secara
selektif, karena peneliti tidak melakukan generalisasi temuannya;
2. Snowball sampling. Teknik ini dapat dilakukan tanpa melakukan seleksi.
Peneliti tidak membatasi atau menyeleksi jumlah informan;

13
3. Time sampling. Teknik sampling yang mempertimbangkan waktu dan tempat
dalam pengumpulan data.
Berdasarkan katagori tersebut, maka penarikan ‘sampel’ untuk penelitian
ini menggunakan Theoritical Sampling, antara lain dengan purposive sampling
dan snowball sampling.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 3 teknik pengumpulan data,
yaitu :
1. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan
oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) dan terwawancara (interviewee).
Wawancara dilakukan dengan dua bentuk, yaitu:
a. Wawancara terstruktur, dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan yang telah
disiapkan sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti;
b. Wawancara tak terstruktur, dilakukan apabila ada jawaban berkembang diluar
pertanyaan-pertanyaan terstruktur namun tidak terlepas dari permasalahan
penelitian.
Dalam penelitian ini wawancara dipergunakan untuk mnengadakan
komunikasi dengan pihak-pihak terkait atau subjek penelitian, antara lain kepala
sekolah dan guru dalam rangka memperoleh penjelasan atau informasi tentang
hal-hal yang belum tercantum dalam observasi dan dokumentasi.
2. Observasi
Dalam penelitian ini teknik observasi digunakan untuk memperkuat data,
terutama aktivitas pembelajaran dan unjuk kerja guru. Dengan demikian hasil
observasi ini sekaligus untuk mengkonfirmasikan data yang telah terkumpul
melalui wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya. Observasi ini digunakan
untuk mengamati secara langsung dan tidak langsung tentang kompetensi dasar
guru profesional di SMA Negeri I Gorontalo.
3. Dokumentasi
Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber
dari arsip dan dokumen baik yang berada di sekolah ataupun yang berada di luar

14
sekolah, yang ada hubungannya dengan penelitian tersebut. Menurut Suharsimi
Arikunto (2006: 132) “Teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,
notulen rapat, agenda dan sebagainya.”
3.6 Validitas Data
Dalam penelitian kualitatif, kesahihan data dapat diperoleh melalui:
1. Keabsahan Konstruk (Construct validity)
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang
berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga
dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya
adalah dengan proses triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau
Sebagai pembanding terhadap data itu. Ada 4 macam triangulasi sebagai teknik
pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu :
a. Triangulasi Data
Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil
wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu
subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda.
b. Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan
data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai
pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil
pengumpulan data.
c. Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data
yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori
telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya
data tersebut.
d. Triangulasi Metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode
wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan

15
metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat
wawancra dilakukan.
2. Keabsahan Internal (Internal validity)
Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh
kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.
Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat.
Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya
akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji
keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang
berbeda.
3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity)
Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat
digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki
sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan
memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut
memiliki konteks yang sama.
4. Keajegan (Reabilitas)
Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian
berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang
sama, sekali lagi.
Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti
selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi
dengan subjek yang sama. Hal ini menunjukan bahwa konsep keajegan penelitian
kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan
data dan pengolahan data.
3.7 Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Pekerjaan analisis data adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan
dan memberikan suatu kode tertentu dan mengkategorikannya, pengelolaan data

16
tersebut bertujuan untuk menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya
diangkat menjadi teori substantive (Moleong, 2007: 103).
Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan
yang perlu dilakukan, diantaranya:
1. Mengorganisasikan Data
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara
mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape
recorder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan
mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis
secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis
mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.
2. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan Pola Jawaban
Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data,
perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar
apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara,
peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman
dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali
membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan
data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode
dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan
berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.
Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang
diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman
terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan
tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-
tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap
penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek.
3. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data
Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji
data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada
tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali

17
berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat
dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang
dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari
landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara
konsep-konsep dan faktor-faktor yang ada.
4. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data
Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud,
peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan
yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau
alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam
penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan yang lain. Dari
hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi
atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan
alternative lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan
sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran.
5. Menulis Hasil Penelitian
Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan
suatu hal yang membantu penulis untuk memeriksa kembali apakah
kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang
dipakaiadalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil
penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek
dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek
dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar
permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai
penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi
secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencangkup keseluruhan
kesimpulan dari hasil penelitian.
3.8 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini dilakukan melalui 3 tahap, yaitu:
1. Tahap Penjajagan

18
Tahap penjajagan ialah tahap orientasi, menyajikan berbagai persiapan
sebagai langkah awal menuju tahapan berikutnya. Dalam tahap ini dilakukan
pula pengurusan surat ijin penelitian kepada instansi berwenang. Selain itu,
dilakukan pula studi penjajagan ke lokasi penelitian untuk memperoleh data
awal dan menentukan subjek penelitian yang sesuai dengan permasalahan
penelitian serta menentukan jumlah responden yang diperlukan.
2. Tahap Eksplorasi
Tahap ini menyajikan pelaksanaan pengumpulan data secara terarah
dan spesifik yang pada tahap ini digali data sebanyak mungkin secara lebih
berstruktur dengan harapan memperoleh informasi yang lebih mendalam
mengenai permasalahan penelitian, sehingga menjamin keabsahan data yang
diperoleh.
3. Tahap “Member Check”
Tahap ini merupakan tahap akhir yang dilakukan untuk menguji
keabsahan dan keakuratan data yang dihasilkan pada tahap sebelumnya.
Selain itu, tahap ini juga bertujuan untuk melengkapi data yang masih kurang
serta memberikan penjelasan baru kepada responden agar hasil penelitian
dapat lebih dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Tahap ini dilakukan
dengan mengadakan konfirmasi kepada responden tentang data yang telah
diperoleh sebelumnya dalam bentuk laporan hasil wawancara dan eksplorasi
untuk memastikan kebenaran hasil laporan tersebut.

19