Anda di halaman 1dari 42

DIFUSIFITAS INTEGRAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. TUJUAN
1. Menentukan koefisien difusifitas asam oksalat
2. Menentukan hubungan antara konsentrasi aam oksalat dengan waktu difusi
B. DASAR TEORI
Transfer massa adalah gerakan molekul- molekul atau elemen- elemen fluida yang
disebabkan adanya gaya dorong. Difusi molekuler yaitu transfer massa yang
disebabkan oleh gerakan molekul secara acak dalam fluida yang diam atau mengalir
secara laminer. Difusifitas cairan tergantung pada temperatur dan konsentrasi.
Diffusivitas harganya nerubah-ubah dengan konsentrasi larutan. Diffusivitas
molekuler dan diffusivitas olakan termasuk transfer massa yang disebabkan oleh
gerakan-gerakan molekul selama laminer.
Hubunagn dasar diffusivitas molekuler yaitu fluks molar terhadap kecepatan rata-rata
suatu transfer massa dalam suatu proses difusi, pertama kali dikemukakan oleh Ficks

𝑑𝐶𝐴
𝐽𝐴𝑍 = −𝐷𝐴𝐵
𝑑𝑧
Dengan
𝐷𝐴𝐵 = 𝑑𝑖𝑓𝑢𝑠𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐴 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵, 𝑐𝑚2 /𝑑𝑡
𝐽𝐴𝑍 = 𝑓𝑙𝑢𝑘𝑠 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝐴 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑧, 𝑔/𝑐𝑚2 𝑑𝑡
𝑑𝐶𝐴
= 𝑔𝑟𝑎𝑑𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖, 𝑔/𝑐𝑚2
𝑑𝑧
Dalam hukum Fick dijumpai suatu besaran 𝐷𝐴𝐵 yaitu suatu faktor perbandingan yang
disebut koefisien difusi.
Penjabaran dari besaran itu adalah
𝑑𝐶𝐴⁄
𝑁𝐴𝑍 |𝑍 − 𝑁𝐴𝑍 |𝑍+∆𝑍 = (𝜋⁄4) 𝐷2 ∆𝑍 ( 𝑑𝑡)
𝑁𝐴𝑍 |𝑍 − 𝑁𝐴𝑍 |𝑍+∆𝑍 𝑑𝐶
= (𝜋⁄4) 𝐷2 ( 𝐴⁄𝑑𝑡)
∆𝑍
𝑑𝑁𝐴 𝑑𝐶
= (𝜋⁄4) 𝐷2 ( 𝐴⁄𝑑𝑡)
𝑑𝑍

1
𝑑𝐶𝐴
𝑁𝐴 = 𝐽𝐴𝑍 = −𝐷𝐴𝐵
𝑑𝑧
𝑑 2 𝐶𝐴 𝑑𝐶
−𝐷𝐴𝐵 = (𝜋⁄4) 𝐷2 ( 𝐴⁄𝑑𝑡)
𝑑𝑧 2
𝑑 2 𝐶𝐴 2
𝜋⁄ ) 𝐷 (𝑑𝐶𝐴⁄ )
= ( 4 𝐷𝐴𝐵 𝑑𝑡
𝑑𝑧 2
Menurut Sherwood (1984) penyelesaian PD tersebut diatas adalah :


800 1 −(2𝑛 − 1)2 ᴨ2 (𝐷𝐴𝐵 ⁄𝐴)𝑡
𝐸= 2 ∑ 𝑒𝑥𝑝 ( )
ᴨ (2𝑛 − 1) 4𝐿2
𝑛=1

Bila 𝐷𝐴𝐵 (𝑡⁄𝐿2 ) sangat kecil maka bisa didekati dengan


1⁄2
(𝐷𝐴𝐵 ⁄𝐴)𝑡
𝐸 = 100 − 200 ( )
𝐿2 ᴨ
1⁄2
(𝐷𝐴𝐵 )𝑡
𝐸 = 100 − 200 ( )
𝑉𝐿 ᴨ
Dengan V =AL
Persamaan diatas akhirnya akan terbentuk
100 − 𝐸 𝑡
2 𝑙𝑛 ( ) = 𝑙𝑛𝐷𝐴𝐵 + 𝑙𝑛 ( )
200 𝑉𝑡 𝐿 ᴨ
100−𝐸 𝑡
Dengan regresi linear atau dibuat grafik 2 𝑙𝑛 ( ) 𝑣𝑠 𝑙𝑛 (𝑉𝑡 𝐿 ᴨ) akan didapat
200

intersept 𝑙𝑛𝐷𝐴𝐵
Dengan
𝑉𝑡 = volume tube (pipa kapiler)
𝐿 = panjang pipa kapiler
100 − 𝐸 𝑡
2 𝑙𝑛 ( ) = 𝑙𝑛𝐷𝐴𝐵 + 𝑙𝑛 ( )
200 ᴨ

Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi


rendah baik melalui membrane plasma ataupun tidak. Molekul dan ion yang terlarut
dalam air bergerak secara acak dengan konstan. Gerakan ini mendorong terjadinya
difusi.
Sedangkan menurut Wikipedia Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau
berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian
yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut
gradient konsentrasi. Contoh sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar.

2
Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang
berdifusi dalam udara. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler.
Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang
diam dari solid atau fluida.
Metabolisme diartikan pertukaran zat antar suatu sel organisme secara keseluruhan
dengan lingkungannya. Salahsatu aktivitas protoplasma yang penting adalah
pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sebelum sel melakukan pembelahan,
maka protoplasma aktif mengumpulkan serta mensintesis karbohidrat, protein, lemak
dan banyak lagi senyaawa organic kompleks yang merupakan bagian dari
protoplasma dan dinding sel. Bahan dasar untuk sintesa adalah unsur-unsur anorganik
yang diserap oleh akar dan gula yang dibentuk dari karbondioksida dan air dalam
proses fotosintesa. Dengan demikian metabolism pada organisme multiseluler juga
mencakup masalah penyerapan air serta senyawa-senyawa anorganik dari dalam tanah
serta transport nutrien ke tempat sintesa (Campbell, 2002).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi ,yaitu:
a. Ukuran partikel.
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak. Sehingga
kecepatan difusi semakin tinggi.
b. Ketebalan Membran.
Semakin tebal membrane, semakin lambat kecepatan difusinya.
c. Luas suatu area.
Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya
d. Jarak.
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya
e. Suhu.
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energy untuk bergerak dengan lebih cepat.
Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Difusi merupakan peristiwa perpindahan melekul dengan menggunakan tenaga
kinetik bebas, proses perpindahan ini berlangsung dari derajat konsentrasi tinggi ke
derajat konsentrasi rendah. Proses ini akan terus berlangsung hingga dicapai titik
keseimbangan.
Difusi merupakan proses pergerakan partikel-partikel (atom, molekul) gas, cairan, dan
larutan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah hingga mencapai tahap
kesetimbangan.

3
Macam-macam difusi :
 Difusi dipermudah sengan saluran protein
Substansi seperti asam amino, gula, dan substansi bermuatan tidak dapat berdifusi
melalui membran plasma. Substansi-substansi tersebut melewati membran plasma
melalui saluran yang dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran yang
dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran ini merupakan protein
integral.
 Difusi dipermudah dengan protein pembawa
Proses difusi ini melibatkan protein yang membentuk suatu saluran dan mengikat
substansi yang ditransport. Protein ini disebut protein pembawa. Protein pembawa
biasanya mengangkut molekul polar, misalnya sam amino dan glukosa

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :

 Ukuran partikel , Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu
akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.
 Ketebalan membran, Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan
difusi.
 Luas suatu area, Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
 Jarak , Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan
difusinya.
 Suhu, Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak
dengan lebih cepat.

Proses difusi itu terbagi ke dalam 3 jenis yaitu :

1. Difusicair
Dikatakan difusi cair jika terjadi perpindahan molekul cairan dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu ketika kita merendam kedelai
dalam air saat pembuatan tempe. Selama perendaman akan terjadi difusi air
dari lingkungan luar (yang kadar airnya tinggi) ke dalam kedelai (yang kadar
airnya rendah).
2. Difusipadat
Dikatakan difusi padat jika terjadi perpindahan molekul padatan dari

4
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu ketika kita
melakukan perendaman buah dengan larutan gula dalam pembuatan manisan
buah. Selama perendaman selain terjadi difusi air dari lingkungan luar ke
dalam buah juga terjadi difusi molekul gula (molekul padatan) ke dalam buah
dan ini berarti difusi padatan juga terjadi dalam pembuatan manisan buah ini.
Selama ini batasan antara kapan terjadinya difusi air dengan difusi padatan
masih belum jelas karena prosesnya sering terjadi bersamaan dan susah untuk
dibedakan.
3. Difusigas
Dikatakan difusi gas jika terjadi perpindahan molekul gas dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu difusi O₂ pada pengemas
plastik. Ketika kita menggunakan pengemas plastik untuk membungkus suatu
bahan, maka selama penyimpanan akan terjadi difusi oksigen dan uap air dari
lingkungan luar ke dalam plastik pengemas. Jumlah oksigen dan uap air yang
dapat masuk ke dalam plastik pengemas bervariasi tergantung permeabilitas
dari plastik pengemas tersebut. Semakin banyak jumlah oksigen dan uap air
yang dapat masuk ke dalam plastik pengemas berarti kualitas plastik
pengemasnya semakin buruk. Disini, difusi oksigen merupakan difusi gas dan
difusi uap air merupakan difusi cair.

5
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

A. BAHAN
1. Air sebagai media pendifusi
2. Larutan Asam Oksalat
3. Larutan standart NaOH
4. Larutan Asam standart
5. Indikator PP
6. Aquadest

B. ALAT
1. Tangki penampung air
2. Kran pengatur
3. Bak difusi
4. Pipa- pipa kapiler
5. Alat suntik
6. Buret
7. Erlenmeyer
8. Corong
9. Neraca

Gambar 1. Gambar alat percobaan

6
Keterangan gambar:
1. Tangki penampung
2. Kran pengatur
3. Bak difusi
4. Pipa kapiler
5. Outlet (overflow)
C. CARA PERCOBAAN
1. Mencari volume masing- masing pipa kapiler
a. Menimbang pipa kapiler kosong dan pipa kapiler isi dengan aquadest.
b. Mengukur suhu aquadest
c. Mencari rapat massa aquadest dari tabel Perry’s Hand Book
d. Mencari volume pipa kapiler
2. Mengukur tinggi pipa kapiler dari atas yang terbuka hingga kedasar pipa yang
terisi
3. Pembakuan larutan NaOH
a. Mengambil 10ml larutan NaOH yang akan dicari normalitasnya, menambahkan
indikator PP dan menitrasinya dengan larutan standart yang telah diketahui
normalitasnya.
b. Mencatat volume asam standart yang digunakan dalaam titrasi.
4. Pembakuan Larutan Asam Oksalat
a. Mengisi pipa kapiler dengan asam oksalat sampai penuh
b. Mengambil asam oksalat terebut dan mengencerkan hingga 10ml,
menambahkan indikator PP, menitrasinya dengan laruutan NaOH
c. Mencatat volume NaOH yang digunakan dan ini merupakan volume NaOH
sebelum difusi.
5. Menentukan harga koefisien difuifitas
a. Mengisi pipa kapiler dengan asam okalat menggunakan suntikan dan
mengusahakan tidak ada gelembung udara.
b. Menyusun pipa kapiler kedalam bak difusi mengalirkan air dan mengaturnya
agar aliran laminer, pada saat air mencapai puncak pipa kapiler dicatat sebagai
t=0
c. Mengambil pipa kapiler setiap elang waktu 10 menit atau menurut anjuran
intruktur

7
d. Mengambil asam oksalat yang terdapat pada pipa kapiler, memasukkan nya
dalam erlenmeyer, mengencerkan hingga volumenya menjadi 10ml,
menambahkan indikator PP dan menitrasinya dengan larutan NaOH.
6. Mengulang langkah 5 untuk pipa kapiler asam oksalat ke-2
D. PENGAMBILAN DATA
a. Volume pipa kapiler
Temperatur aquadest = 27˚C
Rapat massa aquadest (ρ) = 0,97 gram/ml
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 (𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 =
𝜌

berat berat berat volume panjang


pipa no kosong isi aquadest pipa pipa
(gram) (gram) (gram) (ml) (cm)
1 14,177 14,802 0,625 0,644 10,8
2 14,667 15,313 0,646 0,666 10,8
3 13,848 14,462 0,614 0,633 10,8
4 13,914 14,563 0,622 0,641 10,8
5 14,410 15,040 0,630 0,649 10,8

b. Standarisasi larutan
 Standarisasi NaOH
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐵𝑀
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑁𝑎𝑂𝐻 = 𝑥 𝑥𝑁
1000 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖

50 40
= 𝑥 𝑥0,7 = 1,4 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000 1

Massa NaOH hasil penimbangan = 1,4 gram, kemudian dilarutkan dalam


aquadest sebanyak 50 ml. Maka diperoleh NaOH 0,7 N sebanyak 50 ml
Selanjutnya larutan distandarisasi menggunakan HCl 0,7 N

8
pipa no volume NaOH (ml) volume HCL (ml) normalitas (N)
1 10 2,3 0,161
2 10 2,1 0,147
3 10 2,2 0,154

Normalitas NaOH dihitung menggunakan 𝑉1𝑥𝑁1 = 𝑉2𝑥𝑁2


Normalitas rata-rata NaOH = 0,154 N
 Standarisasi Asam Oksalat
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐵𝑀
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝑂𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 = 𝑥 𝑥𝑁
1000 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖

50 126,07
= 𝑥 𝑥0,7 = 2,2062 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000 2

Massa Asam Oksalat hasil penimbangan = 2,2026 gram, kemudian dilarutkan


dalam aquadest sebanyak 50ml. Maka diperoleh Asam Oksalat 0,7 N sebanyak
50 ml. Selanjutnya larutan distandarisasi menggunakan NaOH 0,154 N
normalitas
pipa no volume asam oksalat (ml) volume NaOH (ml)
(N)
1 10,637 0,9 0,0138
2 10,633 1 0,0154
3 10,622 1 0,0154
4 10,629 0,8 0,0123
5 10,620 0,9 0,0138

Normalitas Asam Oksalat dihitung menggunakan 𝑉1𝑥𝑁1 = 𝑉2𝑥𝑁2


Normalitas rata-rata Asam Oksalat sebelum difusi = 0,01414 N
 Normalitas Asam Oksalat setelah dilakukan difusi
Normalitas NaOH = 0,154 N
t (waktu) = 5 menit

9
pipa no volume asam oksalat (ml) volume NaOH (ml) normalitas (N)
1 10 1,7 0,02618
2 10 2,2 0,03388
3 10 1,3 0,02002
4 10 0,7 0,01078
5 10 0,6 0,00924

Normalitas rata-rata Asam Oksalat setelah difusi = 0,02002 N

10
BAB III

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan difusi integral, difusi adalah perpindahan
massa dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang rendah. Sedangkan osmosis
adalah perpindahan massa dari konsentrasi yang rendah ke konsentasi yang tinggi.
Percobaan ini dilakukan dengan asam oksalat dengan dialirkan air yang laminer, asam
oksalat mempunyai konsentrasi yang tinggi dari pada air, sehingga perpindahan massa
yang terjadi antara air ke asam oksalat. Data praktikum kali ini menunjukkan sebelum
dilakukan difusi konsentrasi atau normalitas rata – rata Asam oksalat sebelum difusi
adalah 0,01414 N dan Normalitas rata – rata Asam Oksalat setelah difusi 0,02002 N.
Data ini menunjukaan pertambahan normalitas asam oksalat setelah dilakukan difusi
sehingga didapatkan noramlitas yang lebih besar dari pada normalitasasam oksalat
sebelum dilakukan difusi. Ini dikarenakan adanya perpindahan massa yang terjadi dari
konsentrasi rendah ke asam oksalat yang mempunyai konsentrasi yang tinggi,
sehingga didapatkan normalitas yang tinggi setelah dilakukan difusi.

Peristiwa difusi berakhir jika telah mencapai keadaan setimbang antara dua
keadaan (pada keadaan sebelumnya terdapat perbedaan konsentrasi sehingga keadaan
belum setimbang). Proses difusi dapat terus-menerus berlangsung jika perbedaan
konsentrasi antara dua kondisi dipertahankan. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengalirkan fluida yang merupakan tempat akan berdifusinya suatu molekul secara
terus menerus. Proses difusi akan berhenti jika kondisi dari dua fluida sudah sama
atau setimbang.

Batas perpindahan fase tercapai apabila kedua fase itu mencapai


kesetimbangan dan perpindahan netto berhenti. Untuk proses praktis, yang harus
mempunyai laju produksi, maka proses kesetimbangan harus dihindari, karena laju
perpindahan massa pada setiap keseimbangan.
Ada beberapa macam kesetimbangan yang penting dalam perpindahan massa. Dalam
fase lindak (bulk), pengaruh luas permukaaan dapat diabaikan dan variabel yang
menentukan adalah sifat-sifat intensif seperti suhu, tekanan dan konsentrasi.

Walaupun penyebab difusi umumnya karena gradien konsentrasi,tetapi difusi


dapat juga terjadi karena gradien tekanan, karena gradien suhu, atau karena medan ga

11
ya yang diterapkan dari luar seperti pada pemisah sentrifugal. Difusi molekuler yang
terjadi karena gradien tekanan (bukan tekanan parsial) disebut difusi
tekanan ( pressure diffusion), yangdisebabkan karena gradien suhu disebut difusi
termal (thermal diffusion), sedangkan yang disebabkan oleh medan gaya dari luar
disebut difusi paksa ( forced diffusion).

Kesalahan yang dimungkinkan terjadi pada difusi integral adalah salahna


menghitung dalam mengencerkan asam pekat, atau dalam pembacaan buret dalam
titrasi kurang teliti, atau bisa juga bak aliran yang bocor sehingga tidak mengalir
airnya bisa juga air yang dialirkan tidak laminer, sehingga proses difusi terjadi sangat
cepat.

12
LEACHING

BAB I

PENDAHULUAN

A. TUJUAN
Mencari koefisien perpindahan massa pada proses leaching
B. DASAR TEORI
Leaching atau ekstraksi zat padat merupakan satu pemisahan fraksi padat yang
diinginkan dari fraksi padat lain dalam satu campuran padat- padat, dengan
menggunakan solven cair. Dalam hal ini fraksi padat yang diinginkan bersifat larut
dalam solven, sedangkan fraksi padat lainnya tidak larut.
Leaching tidak banyak berbeda dari pencucian zat padat hasil filtrasi. Dalam leaching,
kuantitas zat mampu larut yang dikeluarkan biasanya lebih banyak.
Agar proses leaching dapat berjalan dengan baik, maka perlu diperhatikan hal- hal
sebagai berikut :
1. Campuran padatan harus mempnyai rapat massa yang lebih besar dari solven.
2. Campuran padatan harus bersifat selective permeable sehingga mudah dilalui
oleh solven yang membawa partikel- partikel.
3. Campuran padatan mempunyai permukaan aktif sehingga terjadi kontak antara
solven dan padatan
4. Partikel yang akan dipisahkan harus bisa keluar dari pori- pori dan dapat larut
dalam solven
5. Solven harus merupakan cairan yang hanya dapat melarutkan konstituen yang
dikehendaki saja.
Sebelum proses leaching ini dilakukan perlu diperhatikan sifat- sifat fisika dan
kimia yang digunakan sebagai umpan. Hal ini diperlukan untuk menentukan
jenis solven dan bahan peralatan yang akan digunakan
(Sumber:Mc.Cabe hal:)

Transfer massa padat cair dimana padatan berpori dapat digambarkan sebagai berikut

13
CAS

Padat

Cair

CA

NA = kl . A . (CAS – CA)

Nerca masa zat A pada cairan di sekitar alat eksraktor proses batch dapat dinyatakan
Dengan Massa masuk – massa keluar = massa akumulasi

0 + kl . A . ( CAS – CA ) – 0 = V . dCa / dt

Dengan mengintegralkan dari t = 0 sampai t = t dan dari CA = CAO sampai CA = CA

Maka akan didapaat

ln [(CAS – CA) / (CAS – CAO)] = (-A . kl / V ) . t

Dalam hal ini V menyatakan vokume larutan, CAS konsentrasi jenuh padatan
dalam larutan, CA konsentrasi padatan dalam waktu t, S luas permukaan partikel, kl
koefesien transfer massa (Geankopis, 1995).

Dalam hal ini diasumsi :

1, Ukuran benda padat berpori tetap

2. Luas permukaan kontak tiap satuan volum padatan tetap

Ada beberapa jenis metode operasi leaching, yaitu :

1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal dalaam metode ini pengontakan antara
padatan dan pelarut dilakukan sekaligus dan kemudian disusul dengan pemisahan
larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemui dalam operasi industri, karena
perolehan solute yang rendah.

14
2. Operasi kontinu dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
(countercurrent) dalam sistem ini aliran bawah dan atas mengalir secara
berlawanan. Operasi ini dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan
larutan pekat, yang merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan baru, operasi
berakhir pada tahap ke n (tahap terakhir), dimana terjadi pencampuran antara
pelarut baru dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Sistem ini
memungkinkan didapatnya perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak
digunakan di dalam industri (Treyball, 1985: 719).

Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi :
 Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran partikel
maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi kontak
secara tepat. Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan
memerlukan waktu yang relative lama.
 Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam
permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama waktu
pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus
dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum agar konsumsi energi tak terlalu
besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada bila laju pelarutan
memungkinkan.
 Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat dengan
temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
 Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang
cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan
meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan
kecepatan reaksi akan melambat

15
BAB II
PELAKSANAN PERCOBAAN

A. ALAT DAN BAHAN


Bahan Alat
1. NaCl 1. Labu leher tiga
2. Pasir 2. Pemanas spiritus
3. Aquadest 3. Termometer
4. Pompa vakum
5. Pendingin
6. Tabung sampel
7. Tabung pengaman

16
B. CARA KERJA
1. Mengukur volume piknometer
2. Menimbang pasir dan garam dapur dengan berat yang telah ditentukan
3. Pasir dan garam dapur dicampur dan dibungkus dengan kertas saring lalu
dimasukkan kedalam tabung sampel
4. Mengisi labu leher tiga dengan aquadest dengan volume tertentu, ketinggian
tidak boleh melebihi ketinggian tempat sampel
5. Menghidupkan pemanas dan pendingin ampai aqudest mendidih dan
menguap. Uap akan melewati pendingin dan diembunkan
6. Mencatat titik didih embun pada saat embun pertama kali menetes dicatat
sebagai waktu awal leaching
7. Mematikan pemanas pada selang waktu tertentu
8. Air dikembalikan ke labu dengan cara membuka kran dan sisa air yang ada
ditempatka ampel diambil dengan cara menghidupkan pompa vakum
9. Menimbang berat dan menghitung berat jeni larutan garam
10. Langkah- langkah diata diulang sampai didapatkan berat larutan yang konstant

C. PENGAMBILAN DATA
Massa pasir = 12,0660 gram
Massa garam = 31,9645 gram
Volume solvent (aquadest) = 300 ml
Berat pikno kosong = 11,2010 gram
Berat pikno + aquadest = 21,4590 gram
Suhu aquadest = 26˚C
Volume pikno tertera = 10 ml
10,258
𝜌 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 = = 1,0258 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
10

Waktu = 40 menit

17
D. PERHITUNGAN
1. Leaching 1
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 21,5120 gram
(𝑏 − 𝑎) 21,5120 − 11,2010
𝜌= = = 1,0311 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10

2. Leaching 2
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 21,6550 gram

3. Leaching 3
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 21,7800 gram
(𝑏 − 𝑎) 21,7800 − 11,2010
𝜌= = = 1,0579 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10
4. Leaching 4
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 21,8250 gram
(𝑏 − 𝑎) 21,8250 − 11,2010
𝜌= = = 1,0624 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10
5. Leaching 5
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 22,0080 gram

18
(𝑏 − 𝑎) 22,0080 − 11,2010
𝜌= = = 1,0807 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10
6. Leaching 6
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 22,0080 gram
(𝑏 − 𝑎) 22,0080 − 11,2010
𝜌= = = 1,0807 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10
7. Leaching 7
Suhu atas = 29˚C
Suhu bawah = 100˚C
Volume pikno kosong(a) = 11,2010 gram
Volume pikno+solvent(b) = 22,0080 gram
(𝑏 − 𝑎) 22,0080 − 11,2010
𝜌= = = 1,0807 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 10

19
BAB III

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan percobaan leaching oleh garam dan pasir yang
ditimbang dengan berat perbandingan tertentu dan sebagai pelarutnya adalah air,
sehingga diharapkan garam yang terlarut dalam air dapat memisah dengan pasir
sehingga mempengaruhi berat jenis air lebih berat. Pada leaching ini air dipanaskan
yang bertujuan untuk memurnikan solvent yang dipakai, sehingga pelarutan dengan
garam menjadi lebih banyak. Semakin koefesien besar, semakin bagus percobaan
tersebut. Pada percobaan diatas didapat 7 kali percobaan dengan rapat masssa yang
semakin naik karena ada garam yang larut di dalam air sehingga menjadikan berat
jenis air tersebut lebih besar karena ada proses pelarutan garam.Pada alam sekitar,
leaching ini metode yang sangat diperlukan oleh manusia karena pada alam ini
ditemukan mineral – mineral yang belum murni, sehingga diperlukan pemisahan yang
tepat, pada fase padat dengan padat tidak dapat dipisahkan oleh ekstraksi, karena
ekstraksi hanya dilakukan oleh padat dan cair, dan juga tidak dengan destilasi karena
destilasi merupakan pemisahan dengan memanfaatkan titik didihnya yang berbeda
jauh. Sehingga diperlukan leaching yang dapat memisahkan kedua komponen yang
berfase padat – padat, namun diperlukan pelarut yang dapat melarutkan salah satu
komponen tersebut. Pada industri leaching ini berguna untuk memisahkan garam dari
pengotornya, sehingga garam yang dihasilkan adalah garam yang kemurniannya
tinggi.

Pada praktikum leaching ini banyak faktor yang menjadikan data yang didapat
tidak valid, misalnya pemanasan yang tidak sempurna karena adanya gangguan dari
angin dan lingkungan sekitar, maka dari itu api spirtus yang digunakan harus ditutup
oleh kardus atau penutup sehingga ttidak akan terganggu oleh lingkungan sekitar.
Selain api, hal yang terpenting adalah pendinginan oleh kondensor, pendingin yang
dilakukan oleh kondensor adalah counter atau berlawanan arah sehingga pendinginan
yang dilakukan bisa dimaksimalkan, kesalahan yang dimungkinkan adalah
pendinginannya bocor (pemasangan alat yang kurang teopat) atau pendinginan tidak
dihidupkan yang mengakibatkan penasnya sistem dan yang ditakutkan adalah alat
yang digunakan pecah atau rusak. Didalam sistem ada terdapat pompa vakum yang
berguna untuk menghisap air garam yang masih tertinggal atau yang tidak bisa turun

20
sehingga diperlukan pompa yang dapat menghisap air garam tersebut. Kesalahan yang
mungkin lagi terjadi adalah pasir yang belum disiapkan, pada praktikum ini pasir
yang digunakan harus diayak, dicuci dan dijemur terlebih dahulu dan dijadikan
sampel bersama garam agar ukuran pasir dan garam sama sehingga tidak ada
perbedaan ukuran antara garam dengan pasir. Pencucian pasir dilakukan agar pasir
yang didapat tidak mengandung partikel – partikel yang larut dalam air sehingga data
yang didapatkan tidak valid.

21
MIXING

BAB I

PENDAHULUAN

A. TUJUAN
Menentukan waktu yang diperlukan untuk melarutkan gula dalam aquadest hingga
diperoleh larutan yang homogen.
B. DASAR TEORI
Waktu pelarutan adalah waktu yang diperlukan untuk melarutkan bahan yang mudah
larut yang terdapat pada fasa yang berbeda sehingga diperoleh fasa yang homogen
dimana konsentrasi disetiap permukaan sama. Pelarutan terbaik dilakukan dalam
waktu yang telah ditentukan dengan daya yang sekecil- kecilnya. Dalam hal ini
diinginkan waktu yang singkat (tidak terlalu menentukan) karena yang penting adalah
konseraian biaya energy untuk melarutkan dan biaya investasi alat pelarut, proses
pelarutan angat tergantung pada jenis impeller, karakteritik fluida, ukuran, serta
perbandingan dan waktu pelarutan.
Model matematis untuk menentukan waktu pelarutan adalah sebagai berikut :

𝑑𝐶𝐴
= 𝑘𝐶𝐴 𝑛
𝑑𝑡
𝑑𝐶𝐴
= 𝑘𝑑𝑡
𝐶𝐴 𝑛
𝐶𝐴 =𝐶𝐴0 𝑡=𝑡
−𝑛
∫ 𝐶𝐴 𝑑𝐶𝐴 = ∫ 𝑘𝑑𝑡
𝐶𝐴 =0 𝑡=0

1
(𝐶𝐴01−𝑛 − 𝐶𝐴1−𝑛 ) = 𝑘𝑡
𝑛−1

Pencampuran merupakan operasi yang bertujuan mengurangi ketidaksamaan


kondisi, suhu, atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan. Pencampuran dapat
terjadi dengan cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu yang menyebabkan
bagian-bagian bahan saling bergerak satu terhadap yang lainnya, sehingga operasi
pengadukan hanyalah salah satu cara untuk operasi pencampuran. Pencampuran fasa
cair merupakan hal yang cukup penting dalam berbagai proses kimia. Pencampuran
fasa cair dapat dibagi dalam dua kelompok. Pertama, pencampuran antara cairan yang
saling tercampur (miscible), dan kedua adalah pencampuran antara cairan yang tidak

22
tercampur atau tercampur sebagian (immiscible). Selain pencampuran fasa cair
dikenal pula operasi pencampuran fasa cair yang pekat seperti lelehan, pasta, dan
sebagainya; pencampuran fasa padat seperti bubuk kering, pencampuran fasa gas, dan
pencampuran antar fasa.
Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan
mementum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi pada 3
skala yang berbeda, yaitu:
1) Pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang
disebut mekanisme konvektif
2) Pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies,
sehinggamekanisme pencampuran ini disebut eddy diffusion
3) pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme pencampuran
difusi.

Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan


adalah eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan
turbulen daripada pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat fisik fluida yang
berpengaruh pada proses pengadukan adalah densitas dan viskositas.

Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam industry


kimia. Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi
ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas, temperatur dan lain-
lain. Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara acak dua fasa atau lebih
yang mula-mula heterogen sehingga menjadi campuran homogen. Peralatan proses
pencampuran merupakan hal yang sangat penting, tidak hanya menentukan derajat
homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga mempengaruhi perpindahan panas yang
terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak tepat dapat menyebabkan konsumsi energi
berlebihan dan merusak produk yang dihasilkan. Salah satu peralatan yang menunjang
keberhasilan pencampuran ialah pengaduk.

Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain:

1. Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian bawahnya


cekung
2. Ukuran: yaitu diameter dan tinggi tangki

23
3. Kelengkapannya:
a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola aliran di dalam tangki
b. jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi sebagai pengendali
suhu
c. letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu
d. kelengkapan lainnya seperti tutup tangki, dan sebagainya.

24
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

A. BAHAN
1. Gula
2. Aquadest
B. ALAT
1. Beaker glass
2. Cawan timbang
3. Alat injeksi
4. Statif
5. Refraktometer
6. Pengaduk listrik
7. Tabung reaksi
8. Thermometer
9. Gelas ukur

25
C. CARA PERCOBAAN
1. Membuat larutan standar
a. Mengambil 1 ml aquadest dan dimasukkan kedalam tabung reaksi
b. Menimbang kertas timbang kosong.
c. Menimbang gula (0,1 ; 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 ; 1,0) gram, kemudian
memasukkan gula tersebut pada tabung reaksi
d. Melarutkan gula yang sudah ditimbang kemudian digoyang hingga
homogen
e. Mengukur indeks bias larutan gula dengan refraktometer
f. Membuat grafik hubungan konsentrasi larutan gula (C) dengan indeks bias

𝑤 1000
𝐶= 𝑋
𝐵𝑀 𝑉

2. Menentukan waktu pelarutan (Mixing Time)


a. Memasukkan 300 ml aquadest kedalam bekker glass
b. Menimbang gula sebanyak 25 dan 55 gram
c. Memasukkan gula kedalam bekker glass yang sebelumnya pengaduk
sudah dihidupkannya. Setiap 1 menit sampel diambil dan diamati indek
biasnya. Pengamatan indeks bias dilakukan sampai diperoleh indeks bias
yang konstan.
d. Membuat grafik hubungan antara konsentrasi larutan gula dengan waktu
pelarutan. Konsentrasi diperoleh dengan memplotkan indeks bias pada
grafik standart,
e. Membuat persamaan garis untuk larutan percobaan.
f. Menghitung persentase kesalahan dari peramaan garis yang didapat

Pendekatan peramaan misalnya menggunakan garis lurus yaitu :


Y = ax + b
Dengan, Y= indeks bias
X = konsentrasi
Nilai a dan b dicari dengan metode least quare

26
D. PENGAMBILAN DATA
1. Larutan standar

indeks
gula volume
bias rata-
(gram) air (ml)
rata
0,1 1 1,3352
0,2 1 1,3405
0,4 1 1,3437
0,6 1 1,3438
0,8 1 1,3515
1,0 1 1,3580

Grafik hubungan konsentrasi dan indeks bias

Indeks bias VS berat gula


1.2
y = 41.538x - 55.371
1 R² = 0.9344

0.8
Indeks bias VS berat
0.6 gula
Linear (Indeks bias VS
0.4 berat gula)

0.2

0
1.33 1.34 1.35 1.36

27
2. Larutan percobaan
Pengadukan tanpa bekker baffle

Waktu massa indeks bias Kesalahan


volume
(menit) gula Dari grafik
air (ml) atas tengah bawah
(gram)
1 15 300 1,3419 1,3417 1.3415 1,73%
2 15 300 1,3420 1,3419 1,3418 1,71%
3 15 300 1,3427 1,3426 1,3425 1,66%
4 15 300 1,3427 1,3425 1,3425 1,66%
5 15 300 1,349 1,346 1,342 1,44%
6 15 300 1,3453 1,3452 1,3451 1,47%
7 15 300 1,3456 1,3455 1,3454 1,45%
8 15 300 1,3456 1,3455 1,3454 1,45%
9 15 300 1,3456 1,3455 1,3454 1,45%

Pengadukan menggunakan bekker baffle


massa indeks bias Kesalahan
volume
Waktu gula dari grafik
air (ml) atas tengah bawah
(menit) (gram)
1 15 300 1,3429 1,3423 1.3421 2,18%
2 15 300 1,3429 1,3440 1,3555 1,35%
3 15 300 1,3435 1,3436 1,3437 1,59%
4 15 300 1,3437 1,3437 1,3437 1,58%
5 15 300 1,3437 1,3437 1,3437 1,58%
6 15 300 1,3437 1,3437 1,3437 1,58%

28
Pengadukan tanpa bekker baffle
Waktu massa gula volume indeks bias Kesalahan
(menit) (gram) air (ml) atas tengah bawah dari grafik
1 25 300 1,3469 1,3469 1,3468 1,35%
2 25 300 1,3692 1,3690 1,3688 0,22%
3 25 300 1,3800 1,3850 1,3780 1,06%
4 25 300 1,3812 1,3811 1,3809 1,06%
5 25 300 1,3817 1,3815 1,3813 1,10%
6 25 300 1,3820 1,3820 1,3820 1,13%
7 25 300 1,3820 1,3820 1,3820 1,13%
8 25 300 1,3820 1,3820 1,3820 1,13%

Pengadukan menggunakan bekker baffle


Waktu massa gula volume indeks bias Kesalahan
(menit) (gram) air (ml) atas tengah bawah dari grafik
1 25 300 1,3492 1,3491 1,3490 1,20%
2 25 300 1,3493 1,3492 1,3491 1,19%
3 25 300 1,3499 1,3497 1,3495 1,15%
4 25 300 1,3520 1,3510 1,3500 1,06%
5 25 300 1,3520 1,3510 1,3500 1,06%
6 25 300 1,3520 1,3510 1,3500 1,06%

Pengadukan tanpa bekker baffle


Waktu massa gula volume indeks bias Kesalahan
(menit) (gram) air (ml) atas tengah bawah dari grafik
1 35 300 1,3514 1,3512 1,3510 1,05%
2 35 300 1,3525 1,3523 1,3521 0,97%
3 35 300 1,3532 1,3530 1,3528 0,92%
4 35 300 1,3537 1,3535 1,3533 0,88%
5 35 300 1,3537 1,3535 1,3533 0,88%
6 35 300 1,3537 1,3535 1,3533 0,88%

29
Pengadukan menggunakan bekker baffle
Waktu massa gula volume indeks bias Kesalahan
(menit) (gram) air (ml) atas tengah bawah dari grafik
1 35 300 1,3540 1,3530 1,3520 0,92%
2 35 300 1,3544 1,3542 1,3540 0,83%
3 35 300 1,3544 1,3542 1,3540 0,83%
4 35 300 1,3544 1,3542 1,3540 0,83%

30
BAB III

PEMBAHASAN

Pada percobaan mixing ini dilakukan dengan menggunakan pengaduk listrik


dengan kecepatan yang konstan dan bahan yang digunakan ada;ah air dengan gula.
Yang membedakan data diatas adalah konsentrasi gula tersebut dan dengan
menggunakan buffel atau penyekat tidak, sehingga terlihat perbedaan yang mencolok
antara data tersebut. Pada umumnya pengadukan menggunakan buffel atau penyekat
lebih cepat dari pada tempat yang tidak memakai buffel karena fungsi dari buffel adalah
memutarkan lebih cepat adukan sehingga partikel bertumbukan juga lebih banyak dari
pada yang tidak memakai buffel,sehingga waktu yang digunakan untuk pengadukan
lebih cepat. Cara mengetahui agar larutan tersebut sudah homogen ada 3 cara

1. Menggunakan piknometer untuk menghitung berat jenis


2. Dirasakan manual menggunakan lidah (untuk makanan dan minuman)
3. Indeks bias dengan menggunakan refraktometer

Cara yang digunakan pada praktikum kali ini adalah menggunakan refraktometer
dengan indeksbias. Sebenarnya menggunakan piknometer atau dengan menggunakan
berat jenis dapat dilakukan, namun dari segi kesulitan mengambil sampel dan waktu
lebih menguntungkan dengan cara refraktometer atau dengan indeksbias. Data yang
didapat diatas pencampuran gula dengan air yang dilakukan pengecekan dengan
refraktometer didapatkan pada konsentrasi 15 gram / 300 ml pengadukan menggunakan
buffel dilakukan hanya 6 menit sudah homogen, sementara yang tidak menggunakan
buffel 9 menit baru homogen, sehingga pdengan menggunakan buffel pada konsentrasi
15 gram / 300 ml dapat menghemat waktu sekitar 3 menit atau menjika dipersenkan
menghemat energi dan waktu 33,33%. Pada konsentrasi 35 gram / 300 ml dengan
menggunakan buffel diperlukan waktu 4 menit, dan tanpa buffel 6 menit larutan akan
homogen, dengan konsentrasi 35 gram / 300 ml dapat menghemat waktu 2 menit jika
menggunakan buffel atau jika dipersenkan akan menghemat energi dan wkatu sebesar
33,33%.Semakin besar konsentrasi yang akan dimixing akan semakin berat pula kerja
pengaduk, sehingga mengakibatkan besarnya energi yang diperlukan untuk mengaduk
larutan tersebut. Untuk mempercepat maka pengaduk harus dipercepat yang berarti
harus menambah cost untuk energi yang dibutuhkan pula. Pengadukan juga dipengaruhi
oleh konsentrasi, konsentrasi yang tinggi lebih mudah terhomogenkan dibandingkan

31
konsentrasi yang rendah seperti yang didapat data percobaan diatas. Homogenisasi
bergantung pada viskositas zat, kecepatan pengadukan, jenis pengadukan, berat jenis
zat, konsentrasi zat, ketinggian zat di dalam tangki, ada tidaknya baffle, ukuran
pengaduk, dan jenis zat.

Kesalahan yang dimungkinkan terjadi adalah ketika pembacaan refraktometer,


harus teliti dalam membaca refraktometer agar indke bias yang dibaca sesuai dengan
data kenyataan sehingga persentase kesalahan yang didapat kecil (kurang dari 5%)

Pada industri, mixing sangat sering sekali dilakukan, misalnya saja industri Coca
– Cola, disana proses hanya dilakukan mixing pencampuran konsentrat dengan air yang
sudah diaduk oleh gula dan di cek apakah sudah homogen atau belum. Industri lain
misalkan industri teh botol sosro yang selain ekstraksi dilakukan juga pengadukan
sampai homogen, industri minuman dan makanan sangat banyak yang menggunakan
proses mixing ini.

32
SEDIMENTASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. TUJUAN
Menentukan kecepatan pengendapan (sedimentasi) pada berbagai konentrasi
padatan, dengan membuat grafik hubungan antara fungsi bidang batas bening keruh
(Z) dengan waktu pengendapan (Φ), grafik hubungan antara kecepatan pengendapan
(v) dengan konentrasi (C) secara sedimentasi batch
B. DASAR TEORI
Sedimentasi merupakan proses permurnian yang dijalankan secara mekanis. Prinsip
pemisahannya adalah perbedaan rapat masa pada temperatur yang sama yang terjadi
antara padatan dan fluida. Pada sistem sedimentasi secara batch ini sangat tergantung
pada selang waktu operasi untuk memisahkan antara padatan dan fluida. Tahapan
proses sedimentasi dapat digambarkan sebagai berikut (Geankoplis,1983)

Pada gambar a menunjukkan slurry berada dalam keadaan konsentrasi butiran yang
sama diseluruh bagian (b) pada selang waktu (ɵ) = 0
Gambar b menunjukkan selang beberapa waktu pengendapan mulai terjadinya bagian-
bagian antara lain fluida bebas butiran (A), fluida dengan konsentrasi butiran yang
sama diseluruh bagian (B), fluida dengan butiran yang tidak sama diseluruh bagian
(C), dan endapan (D).

33
Gambar c menunjukkan selang waktu pengendapan dengan kecepatan pengendapan
relatif kecil sehingga didapatkan tinggi endapan (Z) tetap.
Dengan pertolongan grafik hubungan antara tinggi bidang batas (Z) dengan waktu
pengendapan (ɵ).

Zo

Zi

Z1

Dari grafik diatas pada ɵ=ɵ1, didapat slopenya

34
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

A. BAHAN-BAHAN
1. CaCO3
2. Air
B. ALAT-ALAT DAN RANGKAIANNYA
1. Tabung kaca besar
2. Tabung kaca kecil
3. Bejana penampung
4. Timbangan
5. Beaker glass
6. Pengaduk
7. Corong

Keterangan Gambar :

1. Tabung kaca besar


2. Tabung kaca kecil
3. Skala

35
4. Papan penyangga
5. Bejana penampang
C. CARA KERJA
1. Mengukur volume tabung besar dan tabung kecil dengan memasukkan air sampai
ketinggian tertentu, kemudian air tersebut ditampung dalam beker gela dan diukur
volumenya dengan gelas ukur
2. Membuat slurry CaCO3 dengan cara menimbang CaCO3 kemudian dicampur dengan
air, mialnya dengan konsentrasi yang telah ditentukan. Kemudian slurry tersebut
dimasukkan ke dalam tabung kaca besar dan tabung kaca kecil
3. Mengukur dan mengamati tinggi batas antara batas bening – keruh (Z) pada selang
waktu tertentu (ɵ)
4. Menghentikan percobaan setelah diperoleh tinggi yang tetap
5. Mengulangi langkah- langkah yang ama untuk konsentrasi slurry yang berbeda
D. PENGAMBILAN DATA
Konsentrasi 15 gram/liter
Massa CaCO3 = 13,8 gram
Volume tabung besar = 600 ml
Volume tabung kecil = 320 ml

Z V
ɵ tabung
no tabung tabung besar tabung kecil
(menit) kecil
besar (cm) (cm/menit) (cm/menit)
(cm)
1 0 80 80 0 0
2 5 64 63 3,2 3,4
3 10 47 45 6,6 7
4 15 29,5 25 10,1 11
5 20 13 9,5 13,4 14,1
6 25 9,5 8 14,1 14,4
7 30 7 7 14,6 14,6
8 35 7 7 14,6 14,6
9 40 7 7 14,6 14,6

36
Z VS Waktu
90
80
70
60
50
40 Z VS Waktu
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40

Z VS Waktu
90
80 Kecil
70
60
50
40 Z VS Waktu
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40

Konsentrasi 35 gram/liter
Massa CaCO3 = 32,2 gram
Volume tabung besar = 600 ml
Volume tabung kecil = 320 ml

37
Z V
ɵ
no tabung tabung tabung besar tabung kecil
(menit)
besar (cm) kecil (cm) (cm/menit) (cm/menit)
1 0 80 80 0 0
2 5 71,5 69,5 1,7 2,1
3 10 63,2 57,5 3,36 4,5
4 15 55 45 5 7
5 20 46 34 6,8 9,2
6 25 38 25 8,4 11
7 30 31,4 20,5 9,72 11,9
8 35 27,8 18,3 10,44 12,34
9 40 23,7 16,5 11,26 12,7
10 45 22 15 11,6 13
11 50 19 13,5 12,2 13,3
12 55 18,7 12,7 12,26 13,46
13 60 17,1 11,5 12,58 13,7
14 65 15,6 10,5 12,88 13,9
15 70 14,5 10,5 13,1 13,9
16 75 13,5 10,5 13,3 13,9
17 80 12,6 10,3 13,48 13,94
18 85 12,6 10,3 13,48 13,94
19 90 11,4 10 13,72 14
20 95 11,4 10 13,72 14
21 100 11,4 10 13,72 14

38
Z VS Waktu
90 Besar
80
70
60
50
40 Z VS Waktu
30
20
10
0
0 20 40 60 80 100 120

Z VS Waktu
90 Kecil
80
70
60
50
40 Z VS Waktu
30
20
10
0
0 20 40 60 80 100 120

39
BAB III

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan proses sedimentasi, sedimentasi merupakan


prosespemisahan larutan suspensi menjadi fluida jernih supernatant dan slurry yang
mengandung konsentrasi padatan lebih tinggi. Larutan suspensi terdiri dari campuran fase
cair dan fase padat yang bersifat settleable, dapat diendapkan karena perbedaan densitas
antar fasenya. Proses sedimentasi dapat dilakukan neraca batch dan continue. Proses batch
sering dipergunakan untuk skala laboratorium yang menggambarkan proses sedimentasi
sederhana, sedangkan proses continue dipergunakan dalam skala komersial dengan
mempertimbangkan kecepatan pengendapan terminal dari partikel-partikelnya. Pada
percobaan kali ini dilakukan proses secara batch dan pada percobaan skala laboratorium
biasanya dilakukan pada suhu uniform untuk menghindari gerakan fluida atau konveksi
karena perbedaan densitasnya yang dihasilkan dari perbedaan suhu. Faktor yang
mempengaruhi sedimentasi adalah :
1. Konsentrasi
Dengan semakin besarnya konsentrasi, gaya gesek yang dialami partikel karena
partikel lain semakin besar sehingga drag force-nya pun semakin besar. Hal ini disebabkan
karena dengan semakin besarnya konsentrasi berarti semakin banyak jumlah partikel
dalam suatu suspensi yang menyebabkan bertambahnya gaya gesek antara suatu partikel
dengan partikel yang lain. Drag force atau gaya seret ini bekerja pada arah yang
berlawanan dengan gerakan partikel dalam fluida. Dalam hal ini gaya drag ke arah atas
dan gerakan partikel ke bawah. Gaya seret ini disebabkan oleh adanya transfer momentum
yang arahnya tegak lurus permukaan partikel dalam bentuk gesekan. Maka, dengan adanya
drag force yang arahnya berlawanan dengan arah partikel ini akan menyebabkan gerakan
partikel menjadi lambat karena semakin kecilnya gaya total ke bawah sehingga kecepatan
pengendapan semakin turun.
2. Ukuran partikel
Ukuran partikel berpengaruh langsung terhadap diameter partikel. Jika ukuran
partikel semakin besar maka semakin besar pula permukaan dan volumenya. Luas
permukaan partikel berbanding lurus dengan gaya drag dam volume partikelnya
berbanding lurus dengan gaya apungnya. Hal ini disebabkamn gaya ke atas (gaya drag dan
gaya apung) semakin besar sehingga gaya total untuk mengendapkan partikel semakin
kecil sehingga kecepatan pengendapan semakin menurun.

40
3. Jenis partikel
Jenis partikel berhubungan dengan densitas partikel yang berpengaruh terhadap gaya
apung dan gaya gravitasi yang dapat mempengaruhi kecepatan pengendapan suatu partikel
dalam suatu fluida yang statis. Densitas partikel yang semakin besar akan menyebabkan
gaya apung semakin kecil sedangkan gaya gravitasi semakin besar, sehingga resultan gaya
ke bawah yang merupakan penjumlahan dari gaya drag, gaya apung dan gaya gravitasi
akan semakin besar pula. Ini berarti kecepatan pengendapannya akan semakin besar.
Proses sedimentasi dalam dunia industri dilakukan secara sinambung dengan
menggunakan alat yang dikenal dengan nama thickener,sedangkan untuk skala
laboratorium dilakukan secara batch. Data-data yang diperoleh dari prinsip sedimentasi
secara batch dapat digunakan untuk proses yang sinambung.
Di industri aplikasi sedimentasi banyak digunakan, antara lain :
1. Pada unit pemisahan , misalnya untuk mengambik senyawa magnesium dari air laut
2. Untuk memisahkan bahan buangan dari bahan yang akan diolah, misalnya pada
pabrik gula
3. Pengolahan air sungan menjadi boiler feed water.
4. Proses pemisahan padatan berdasarkan ukurannya dalam clarifier dengan prinsip
perbedaan terminal velocity
Pada praktikum sedimentasi ini kesalahan yang dapat terjadi adalah ketika
penuangan 2 tabung kaca (tabung kaca besar dan tabung kaca kecil) tidaklah sama. Bisa
juga waktu penuangan tinggi dari larutan antar tabung kaca besar dan tabung kaca kecil
tidak sama yang menyebabkan data tidak valid. Pada praktikum diatas pada konsentrasi 15
gram/liter didapatkan data pada tabung besar tinggi endapan Zi didapat 33 cm, pada
tabung kecil 27 cm. Sementara itu pada konsentrasi 35 gram/liter didapatkan data tinggi
35 cm dan tabung kecil 30 cm. Laporan ini membuktikan bahwa ukuran tabung dan
konsentrasi dapat mempengaruhi kecepatan pengendapan, konsentrasi tinggi otomatis
akan lebih tinggi dari pada konsentrasi rendah, karena partikel partikel CaCO3 yang ada
dalam konsentrasi 35 gram/liter lebih banyak dari pada konsentrasi 15 gram/liter sehinga
akan mempengaruhi tinggi dari pengendapan tersebut. Ukuran diameter dari tabung juga
akan mempengaruhi ketinggian dari pengendapan. Ukuran tabung yang lebih besar akan
membuat ketinggian endapan lebih tinggi dari pada tabung kecil, karena volume yang
ditampung oleh tabung besar juga lebih besar dari pada volume yang ditampung oleh
tabung kecil.

41
Kesalahan yang kemungkinan terjadi adalah ketika mencampurkan kedua tabung
tidak sama atau waktunya berbeda, sehingga mempengaruhi hasil atau data yang
didapatkan untuk ketinggian kedua tabung. Efeknya data yag didapatkan tidak valid atau
kesalahanya tinggi. Cara untuk meminimasi kelasalahan tersebut adalah menentukan
berapa tinggi yang akan ditampung tabung besar dan kecil, misalkan ambil 80 cm.
Selanjutnya mencampurkannya secara bersamaan sehingga waktu pengendapannya
kesalahannya tidak terlalu besar atau didapat kesalahan yang kecil.

42