Anda di halaman 1dari 11

MODEL PEMBELAJARAN IPA SD

“GUIDED DISCOVERY”
Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas pendidikan IPA SD

Dosen Pengampu : Ihasul Ardi Nugroho S.Pd Si. M.Pd.

Disusun oleh :

1. Umy Muslikhah Arba’in (16108241020)


2. Galang Sansaka Megahantara (16108244022)
3. Fya Elyalsari (16108244046)
4. Maulidya Prastiwi (16108244048)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami diberi kemudahan dalam menyelesaikan tugas
mengenai pembahasan tentang MODEL PEMBELAJARAN IPA SD “GUIDED
DISCOVERY” ini sesuai dengan harapan.

Kami menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai pihak, tugas ini tidak dapat
terselesaikan. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah Swt
2. Bapak Ihasul Ardi Nugroho S.Pd Si. M.Pd. selaku pengampu mata kuliah
Pendidikan IPA SD
3. Orang tua kami
4. Teman-teman PGSD kelas 2D Universitas Negeri Yogyakarta
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan
kepada teman-teman khususnya dan umumnya bagi para pembaca. kami juga meminta maaf
apabila dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari rekan-rekan pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
tugas ini.

Yogyakarta, 28 Maret 2017

Penyusun
Bab 1
Pendahuluan

a. Latar Belakang
Pendidikan di Sekolah Sekolah Dasar sangatlah penting bagi anak diusia
Sekolah Dasar. Di sinilah anak mendapatkan pengalaman belajar yang sangat
berharga untuk kelanjutan hidupnya mendatang. Apabila pendidikan dasarnya lemah
dan mudah tergoyahkan bisa jadi Ia juga akan lemah dalam memahami dan menjalani
hidupnya kelak. Namun apabila anak dasarnya kuat dan berkarakter baik maka dapat
dipastikan Ia akan kuat pula dalam menghadapi tatangan hidup di kemudian hari.
Kita mengetahui bahwa sebagai Guru atau Pedidik di Sekolah Dasarkita
nantinya akan menjadi Guru kelas dengan mengajarkan 5 mata pelajaran pokok yaitu
IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, IPS, dan PPKn. Tentunya sebagai calon Guru
kita juga harus mengetahui dan memahami berbagai model pembelajaran. Model
pembelajaran sangatlah membantu para Guru nantinya dalam mencapai tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Brgitupun dalam mata pelajaran IPA, pada mata
pelajaran ini, juga terdapat berbagai model pembelajaran yang akan membantu peran
Guru dalam mencapai tujuan. Salah satu model pembelajarannya antara yaitu Guided
Discovery. Kebanyakan dari kita, mungkin asing dengan kata-kata tersebut. Maka dari
itu, kami bermaksud untuk membahas lebih lanjut mengenai model pembelajaaran
IPA SD dengan fokus pada model pembelajaran Guided Discovery.
b. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran?
2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran Guided Discovery?
3. Bagaimana Langkah-langkah dalam pembelajaran Guided Discovery?
4. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaranGuided Discovery?
c. Tujuan
1. Mengetahui arti dari model pembelajaran
2. Mengetahui arti model pembelajaran Guided Discovery
3. Untuk mengetahui langkah- langkah dalam model pembelajaran Guided
Discovery
4. Untuk mengetahui Kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaranGuided
Discovery
Bab II
Pembahasan
a. Pengertian Model Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari komponen-komponen
pembelajaran, salah satu komponen tersebut yaitu model pembelajaran. Menurut Samatowa
(2006 halaman 48) : Model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Menurut Sagala ( dalam Sujana,
2013 : 107 ) Model pembelajaran mempunyai cakupan makna yang luas dibandingkan
dengan metode dan pendekatan.
Pengertian model pembelajaran menurut Joyce and Weil (dalam Samatowa 2006
:48) yaitu: deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum,
kursus-kursus, buku-buku pembelajaran, program multi media, serta program belajar
melalui bantuan komputer. Menurut Sujana (2013: 107) Model pembelajaran merupakan
suatu rancangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang disusun secara sistematis
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Model Pembelajaran
merupakan Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman peserta didikuntuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan
berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan
dan melaksanakan aktivitas mengajar.
Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yaitu
kerangka perencanaan pembelajaran yang dirancang secara sistematis untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
b. Pengertian Guided Discovery
Dalam pembelajaran IPA di sekolah Dasar, banyak sekali model pembelajaran yang
dapat diterapkan. Slah satu model pembelajaran tersebut adalah Discovery Learning
atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pembelajaran penemuan. Menurut
Herdian (2010) “Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode
mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh
pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan,
sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.” Sedangkan menurut Moejiono dan
Dimyati (1992 : 86) “Metode penemuan didefinisikan sebagai suatu prosedur yang
menekankan belajar secara individual, manipulasi objek atau pengaturan,
pengkondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau
penarikan kesimpulan dibuat.”
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa model Discovery Learning merupakan
suatu prosedur yang mengatur kegiatan pembelajaran yang menekankan siswa dapat
mempelajari suatu konsep atau materi pelajaran tanpa diberitahu secara langsung oleh Guru,
melainkan melalui serangkaian tahapan-tahapan penemuan. Menurut Gorman (Effendi,
2012), pembelajaran menggunakan metode penemuan dapat dilakukan dalam dua bentuk,
yaitu free discovery (penemuan bebas) dan guided discovery (penemuan terbimbing).
Dalam penemuan bebas, siswa benar-benar dilepas dalam mengidentifikasi masalah, dan
menguji hipotesis dengan konsep-konsep dan prinsip yang sudah ada, dan berusaha menarik
pada situasi baru. Pada penemuan terbimbing, guru berperan sebagai pembimbing siswa
dalam belajar. Guru membantu siswa memperoleh pengetahuan yang dicarinya dengan cara
mengorganisasi masalah, mengumpulkan data, mengkomunikasikan, memecahkan masalah,
dan menyusun kembali data-data sehingga membentuk konsep baru.
Markaban (Wulandari, 2012) mengatakan bahwa metode penemuan bebas kurang
tepat digunakan karena pada umumnya siswa masih membutuhkan konsep dasar untuk
dapat menemukan sesuatu. Selain itu, penemuan bebas dapat memakan waktu berhari-hari
atau bahkan siswa tidak berbuat apa-apa karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka metode penemuan yang lebih tepat digunakan
untuk siswa adalah metode penemuan terbimbing atau Guided Discovery.
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Guided Discovery

Adapun kelebihan model Guided Discovery Learning menurut Brunner dalam Sujana
(2013:50) yaitu:

1. Pengetahuan itu dapat bertahan lebih lama atau dapat diingat lebih lama ataulebih
mudah diingat jika dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh melalui model
lain.
2. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih lebih baik jika
dibandingkan dengan hasil belajar lainnya.
3. Belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa serta kemampuan untuk
berfikir secara bebas.
Dengan kata lain, pembelajaran dengan menggunakan model penemuan ini dapat
melatih kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan suatu permasalahan.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001:
179) sebagai berikut:

1. siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan
untuk menemukan hasil akhir;
2. siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses
menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin
melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
4. siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu
mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.

Kekurangan model Guided Discovery Learning Moedjiono dan Damayati (1992:88)


yaitu:

1. Model ini mempersyaratkan suatu persiapan kemampuan berfikir yang dapat


dipercaya.
2. Model ini kurang berhasil untuk mengajarpada kelas yang besar dan banyak jumlah
siswanya.
3. Harapan yang ditimbulkan oleh model ini mungkin mengecewakan apabila diterapkan
untuk guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran yang
tradisional.
4. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai model yang terlalu
menekankan pada penegasan pengetahuan dan kurang memperhatikan perolehan
sikap dan ketrampilan.
5. Dalam beberapa disiplin ilmu mungkin dibutuhkan fasilitas tertentu untuk menguji
gagasan dari disiplin ilmu tersebut yang tidak tersedia di sekolah.
6. Model ini tidak memberi kesempatan untuk berfikir kreatif.

d. Prinsip Model Pembelajaran Guided Discovery


1. Pembelajaran berpusat pada siswa
2. Guru hanya sebagai fasilitator, organisator, dan motivator
3. Siswa mampu mengeksplor pengetahuannya
4. Siswa mendapatkan pengetahuannya tidak hanya bersal dari guru, melainkan dari
lingkungan sekitarnya,maupun teman sebayanya
5. Kemampuan berpikir siswa dapat berkebang
6. Olah pikir siswa mningkat
7. Siswa tidak hanya memiliki aspek pengetahuan, namun juga ketrampilan dalam
melakukan sebuah percobaan mupun penyelidikan.

e. Lngkah-Langkah Model Pembelajaran Guided Discovery

Agar pelaksanaan metode penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, ada beberapa
langkah yang perlu ditempuh oleh guru. Berikut adalah langkah pelaksanaan metode
penemuan menurut Gilstrap dan Schuman (Suryosubroto, 2002) :
1. Identifikasi kebutuhan siswa

2. Pemilihan pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep, dan generalisasi yang


akan dipelajari

3. Pemilihan bahan dan masalah atau tugas-tugas yang akan dipelajari

4. Membantu memperjelas tugas/masalah yang akan dipelajari serta peranan masing-masing


siswa

5. Mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan

6. Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas
siswa
7. Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan melalui kegiatan
pengumpulan data dan pengolahan data;
8. Membantu siswa dengan informasi/data jika diperlukan oleh siswa
9. Membimbing siswa untuk melakukan analisis sendiri dengan pertanyaan yang
mengarahkan dan mengidentifikasi proses yang digunakan
10. Memuji dan membesarkan hati siswa yang ikut serta dalam proses penemuan
11. Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya
Menurut Bruner (dalam Winataputra, 2008: 3.19), tahap-tahap penerapan belajar
penemuan, yaitu:
1) Stimulus (Pemberian Perangsang/Stimuli),
2) Problem Statement (Mengidentifikasi Masalah),
3) Data Collection (Pengumpulan Data),
4) Data Processing (Pengolahan Data),
5) Verifikasi, Dan
6) Generalisasi.
Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode guided discovery learning
dilaksanakan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
1) Stimulus (memberikan pertanyaan atau menganjurkan siswa untuk mengamati gambar
maupun membaca buku mengenai materi),
2) Problem statement (memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan
merumuskannya dalam bentuk hipotesis),
3) Data collection (memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi
4) Data processing (mengolah data yang telah diperoleh oleh siswa),
5) Verifikasi (mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya
hipotesis), dan
6) Generalisasi (mengadakan penarikan kesimpulan).
f. Penerapan Guided Discovery

Penerapan Model Pembelajaran Model Guided Discovery (Penemuan Terbimbing)


pada kelas Rendah yaitu penyampaian materi mengenai ciri ciri benda padat, cair, dan gas.

Dalam pembelajarann tersebut, guru memfasilitasi, mengorganisasi, dan memotivasi


siswa. Pembelajaran yang menggunakan model guided discovery berpusat pada siswa, karena
siswa yang akan melakukan sebuah penyelidikan mengenai masalah yang telah diberikan
oleh gurunya. Setelah siswa melakukan sebuah penyelidikan, siswa bersama kelompoknya
juga akan menyimpulkan sendiri hasil pengamatannya menurut diskusi bersama
kelompoknya. Setelah didapatkan sebuah kesimpulan, siswa akan membagikan hasil
pengamatannya bersama kelompok lain, sehingga antar kelompok mampu bertukar pikiran
dan saling melengkapi. Dalam proses pembelajaran itu, guru membimbing dan mengarahkan
siswa,jika siswa melenceng dari topik yang sedang dipelajari. Setelah siswa melakukan
pengamatan hingga siswa mampu menyimpulkan, guru akan mengevaluasi hasil diskusi
siswa bersama kelompoknya, dan guru memberikan butir simpulan yang tepat.

Sintaks:

1. Guru membuka pelajaran dengan berdoa bersama dengan siswa


2. Guru menanyakan kehadiran dan keadaan siswa
3. Guru bersama dengan siswa melakukan apersepsi dengan menyanyikan lagu tik
tik buyi hujan
4. Guru menjelaskan pembelajaran yang akan dilakukan pada hari ini
5. Guru bertanya mengenai apersepsi yang telah dilakukan, benda apa saja yang
termasuk benda cair, padat dan gas pada lagu tik bunyi hujan
6. Siswa menjawab pertanyaan guru bahwa air hujan termasuk benda cair, genting,
pohon termasuk benda padat, udara atau angin yang ada di kebun termasuk udara.
7. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
8. Guru memberikan masalah kepada siswa mengenai ciri-ciri benda padat cair dan
gas, yaitu mengapa benda dapat disebut benda padat,benda cair, dan benda gas.
9. Siswa dibimbing guru untuk membuat sebuah hipotesa mengenai masalah tersebut
10. Setiap kelompok diberikan lembar observasi oleh gurunya
11. Siswa mengamati benda disekitarnya yang termasuk benda padat cair dan gas
beserta cirinya
12. Siswa bersama kelompoknya menyimpulkan hasil pengamatannya
13. Siswa bersama kelompoknya mempresentasikan hasil pengamatannya ke depan
kelas
14. Guru menyimpulkan dan meraangkum hasil pengamatan masing-masing
kelompok
15. Guru membuat butir simpulan mengenai ciri benda padat, cair dan gas
16. Guru bertanya jawab mengenai materi yang telah dipelajari
17. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menanyakan hal yang belum
dipahami mengenai pembelajaran yang telah dilakukan
18. Guru memberikan umpan balik pada siswa
19. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa bersama siswa.
Bab III
Penutup

a. Simpulan
 Model pembelajaran yaitu kerangka perencanaan pembelajaran yang dirancang
secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
 Model Discovery Learning merupakan suatu prosedur yang mengatur kegiatan
pembelajaran yang menekankan siswa dapat mempelajari suatu konsep atau materi
pelajaran tanpa diberitahu secara langsung oleh Guru, melainkan melalui
serangkaian tahapan-tahapan penemuan.
 Model guided Discovery Learning memiliki kelebihan serta kekurangan
 Kelebihan Model Guided Discovery Learning antara lain :
- siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan
kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
- siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri
proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih
lama diingat;
 Kekurangan Model Guided Discovery Learning antara lain :
- Model ini mempersyaratkan suatu persiapan kemampuan berfikir yang
dapat dipercaya.
- Model ini kurang berhasil untuk mengajarpada kelas yang besar dan
banyak jumlah siswanya.
- Harapan yang ditimbulkan oleh model ini mungkin mengecewakan
apabila diterapkan untuk guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan
perencanaan dan pengajaran yang tradisional.
 Penerapan Model Pembelajaran Model Guided Discovery (Penemuan Terbimbing)
pada kelas Rendah yaitu penyampaian materi mengenai ciri ciri benda padat, cair,
dan gas.
b. Saran
Sebagai calon guru hendaknya kita memilih model pembelajaran yang sesuai
dengam kondisi kelas yang kita ampu.
Pustaka

Hafizh Fajar Rajab. 2004. Penerapan Metode Pembelajaran Guided Discovery Berbantuan
Multimedia Interaktif Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Sma Dalam Mata Pelajaran
TIK
Usman Samatowa. (2006). Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta:
Direktorat Pendidikan Nasional
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.