Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Organisasi pelayanan keperawatan merupakan salah satu bagian penting dalam
oragnisasi pelayan kesehatan. Organisasi pelayanan keperawatan memegang kendali
dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan. Hal ini, disebabkan jumlah tenaga
perawat yang ada mencapai kisaran 40 % dari jumlah sumber daya manusia yang ada
dipelayanan kesehatan (Depkes, 2002). Bahkan, menurut Huber (2006), pelayanan
kesehatan dirumah sakit sebanayk 90 % berupa pelayanan keperawatan. Pelayanan
keperawatan yang ada.

Faktor mausia menjadi titik penting dalam terselenggaranya roda organisasi pelayanan
keperawatan. Manusia merupaakn modal utama suatu organisasi. Berhasil taupun
rusaknya organisasi ditentukan oleh manusianya. Untuk itu, seorang manejer
keperawatan dituntut untuk dapat mengelola sumber daya manusia yang ada supaya
dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berbagai upaya dan pendapat relah dilakukan oleh banyak ahli manajemen tentang
bagaimana mengelola sumber daya manusia yang ada didalam organisasi. Upaay yang
telah dilakukan adalah dengancara menggerakkan orang-orang yanga ad di dalam
organisasi.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa istilah yang telah dikemukakan oleh ahli maajemen
berikut, Henry fayol mengatajkan bahwa bawahan perlu digerakkan secara otokratis.
Dalam tulisannya, Fayol menyebutkan istilah commanding. Ada juga menggunakan
istilah directing sebagi upaya menggerakkan bawahan (siagian, 2007). Sedangkan,
George R. Terry menggunakan istilah actuating sebagai upaya menggerakkan
bawahan. Bahkan, ada yang memeakai istilah motivating dan juga influencing.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan yang dimaksud dengan pengarahan ?
2. Jelaskan yang dimaksud dengan teknik pengendalian ?

C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui maksud dari pengarahan
2. Untuk mengetahui maksud dari pengendalian
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGARAHAN
1. Pengertian Pengarahan
Pengarahan adalah fase kerja manajemen, dimana manajer berusaha memotivasi,
membina komunikasi, menangani konflik, kerja sama, dan negosiasi (Marquis dan
Huston, 2010). Pengarahan yang efektif akan meningkatkan dukungan perawat untuk
mencapai tujuan manajemen keperawatan dan tujuan asuhan keperawatan (Swanburg,
2000).

Pengarahan dilakukan oleh para pimpinan bisa secara individu maupun secara
kelompok. Organisasi yang tahu manfaat pengarahanini selalu melakukan secara rutin
dengan maksud menjalin komunikasi secara vertical maupun horizontal, sehingga
dapat mendiskusikan pemecahan masalah secara efektif (Mortimer, 1996).

2. Fungsi Pengarahan
Fungsi pengarahan selalu berkaitan erat dengan perencanaan kegiatan keperawatan di
ruang rawat inap dalam rangka menugaskan perawat untuk melaksanakan mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Kepala ruangan dalam melakukan kegiatan pengarahan
melalui: saling memberi motivasi, membantu pemecahan masalah, melakukan
pendelegasian, menggunakan komunikasi yang efektif, melakukan kolaborasi dan
koordinasi (Swanburg, 2000). Memotivasi adalah menunjukkan arah tertentu kepada
perawat atau staf dan mengambil langkah yang perlu untuk memastikan mereka
sampai pada tujuan (Soeroso, 2003).

Kepala ruangan haruslah menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan bekerja yang


harmonis, bersikap objektif dalam menghadapai persoalan dalam pelayanan
keperawatan melalui pengamatan, dan objektif juga dalam menghadapi tingkah laku
stafnya. Kepala ruangan harus peka akan kodrat manusia yang punya kelebihan dan
kekurangan, memerlukan bantu an orang lain, dan mempunyai kebutuhan yang
bersifat pribadi dan sosial (Muninjaya, 2004). Manajer keperawatan harus memiliki
keterampilan komunikasi interpersonal yang baik. Kepala ruangan setiap hari
berkomunikasi dengan pasien, staf, dan atasan setiap hari (Nursalam, 2012).
Komunikasi membentuk inti kegiatan manajemen dan melewati semua proses
manajemen (Marquis dan Huston, 2010).

Prinsip komunikasi manajer keperawatan menurut Nursalam (2012), yaitu:


a. Manajer harus mengerti struktur organisasi, siapa yang terkena dampak dari
keputusan yang dibuat. Jaringan komunikasi formal dan informal perlu dibangun
antara manajer dan staf
b. Komunikasi bukan hanya sebagai perantara, tetapi sebagai proses yang tak
terpisahkan dalam organisasi
c. Komunikasi harus jelas, sederhana, dan tepat.
d. Perawat profesional adalah mampu berkomunikasi dengan secara a dekuat,
lengkap dan cepat
e. Manajer harus meminta umpan balik apakah komunikasi dapat diterima
f. Menjadi pendengar yang baik adalah komponen penting dalam komunikasi.

Konflik sering terjadi dalam tatanan asuhan keperawatan. Konflik yang terjadi antar
staf dengan staf, staf dengan pasien, staf dengan keluarga dan pengunjung, staf
dengan dokter (Swanburg, 2000). Manajer memiliki interaksi dengan staf yang
memiliki nilai, k eyakinan, latar belakang dan tujuan berdeda yang menjadi sumber
terjadinya konflik (Marquis dan Huston, 2010). Sebagai manajer keperawatan, kepala
ruangan memiliki asumsi bahwa konflik suatu hal yang dapat dihindari d an jika
konflik tidak dikelola dengan baik, maka dapat menghasilkan penyelesaian yang
kreatif dan berkualitas. Kepala ruangan menggunakan konflik yang konstruktif dalam
menciptakan lingkungan yang produktif (Nursalam, 2012).

Pengarahan akan mencapai tujuannya jika dikerjakan dengan baik. Dauglas dalam
Swansburg (2000) mengatakan bahwa ada dua belas aktivitas teknis yang
berhubungan dengan pengarahan pada manajemen, yaitu :
a. Merumuskan tujuan perawatan yang realistis u ntuk pelayanan keperawatan,
pasien dan perawat pelaksana
b. Memberikan prioritas utama untuk kebutuhan klien sehubungan dengan tugas-
tugas perawat pelaksana
c. Melaksanakan koordinasi untuk efisiensi pelayanan
d. Mengidentifikasi tanggung jawab dari perawat pelaksana
e. Memberikan perawatan yang berkesinambungan
f. Mempertimbangkan kebutuhan terhadap tugas-tugas dari perawat pelaksana
g. Memberikan kepemimpinan untuk perawat dalam hal pengajaran, konsultasi, dan
evaluasi
h. Mempercayai anggota
i. Menginterpretasikan protocol
j. Menjelaskan prosedur yang harus diikuti
k. Memberikan laporan ringkas dan jelas
l. Menggunakan proses kontrol manajemen

3. Konsep Pengarahan
Menurut Bechtel yang dikutip oleh Sutrisno (2013), pengraham terdiri dari 4
komponen yang dilakukan secara berurutan yang terdiri dari:
a. Greeting merupakan saat dimana terdapat kesempatan untuk menyambut satu
sama lain baik melalui salam maupun berjabat tangan.
b. Sharing membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik dan komplek seperti
memfokuskan ide dan mengajukan pertanyaan yang memperluas topik. Selama
kegiatan
c. Sharing peserta pengarahan mendengarkan dan kemudian memiliki kesempatan
untuk merespon dengan pertanyaan atau komentar.
d. Group activity merupakan aktivitas kelompok dengan berbagai kegiatan yang
membantu membangun komunitas dan memungkinkan semua orang untuk
berkontribusi pada tingkat mereka sendiri. Beberapa kegiatan group activity
seperti mendengarkan, mengikuti petunjuk dari pimpinan, dan menerapkan
penguasaan diri.
e. Newsand announcement merupakan kegiatan yang dilakukan pada akhir
pengarahan, peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat pratinjau dari
kegiatan selanjutnya dan mendapatkan beberapa pengumuman dari peserta yang
lain.

Menurut Astonet al,2005 dikutip oleh Sutrisno (2013), pengarahan yang dilakukan
setiap pagi dirumahsakit ini sangat penting untuk pengembangan menuju ke arah
yang lebih profesional untuk mengevaluasi pengalaman dan persepsi anggota tim
keperawatan dan medis terhadap masalah kesehatan yang terjadi pada pasien.
Komitmen yang baik antar perawat dan medis merupakan dampak dari perencanaan
yang baik, proses belajar antar tim, rasa saling menghormati, hubungan dan dukungan
untuk mengenal satu sama lain. Hal ini terbentuk melalui komunikasi yang efektif
antara anggota tim saat kegiatan pengarahan berlangsung.

Menurut Ibnu Hisyam Mukti dikutip oleh Cinantya (2010), ciri-ciri suatu pengarahan,
sebagai berikut:
a. Syarat Pengarahan
1) Materi pengarahan merupakan bagian dari kebijaksanaan atau informasi
umum.
2) Materi atau pesan suatu pengarahan dipersiapkan secara lengkap dan objektif,
sehingga unit-unit penerima pesan tidak lagi mempermasalahkan kebenaran
materi atau pesan. Pengarahan tetapi mempercayakan segi teknis operasional.
3) Pengarahan hendaknya dilaksanakan pada waktu yang tepat sebelum
pelaksanaan operasional suatu tugas atau sesudah pelaksanaan tugas
berikutnya.
4) Proses komunikasi pengarahan hendaknya disampaikan secara jelas, tegas,
ringkas, dan mengandung unsur teknis.
b. Isi Pengarahan
1) Isi suatu pengarahan biasanya berupa policy atau kebijaksanaan tertentu.
2) Penjelasan tentang posisi, peranan dan tanggung jawab tiap unit dalam suatu
organisasi.
3) Penjelasan teknisi kerja tiap unit, hubungan antara unit dan pelengkap yang
diperlukan.
4) Penjelasan data teknis dan fakta yang mendukung suatu kegiatan operasional.
5) Pemberian aba-aba dan tahapan waktu pelaksanaan.
c. Persiapan Pengarahan
1) Persiapan luas lingkup dan tujuan pengarahan.
2) Penyusunan sistematika penyajian.
3) Penetapan sistem monitoring dan evolusi.
4) Penentuan pihak-pihak yang perlu dilibatkan.
5) Penentuan waktu, alat, dan tempat pelaksanaan.

Pengarahan sebagai komponen komunikasi menurut Efendy (2003) dalam buku


komunikasi teori dan praktek terbagi menjadi 3 sub variable yakni:
a. Komunikator adalah pihak yang bertugas menyampaikan, memsosialisasikan
dan juga membangun motivasi pada diri komunikan terhadap pesan atau
kebijaksanaan sesuai dengan arah dan tujuan yang diharapkan. Organisasi
bertindak sebagai komunikatornya dalam penelitian ini. Karakteristik
komunikator agar dapat diterima oleh komunikan yaitu:
1) Kredibilitas adalah kewibawaan seorang komunikator dihadapan
komunikan. Terdiri dari 2 faktor yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian
adalah kesan yang dibentuk komunikan tentang kemampuan komunikato
rdalam hubungan dengan topic yang dibicarakan. Keahlian diukur dari
sejauh mana komunikan menganggap kemampuan dan pengalaman
komunikator dalam mengelola perusahaan. Sedangkan kepercayaan adalah
kesan komunikasi tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya.
2) Daya tarik adalah berkenaan dengan keadaan yang menunjukkan
komunikan melihat komuniktor sebagai seorang yang menyenangkan dalam
bentuk peranan yang memuaskan. Jika pihak komunikan merasa bahwa
pihak komunikator mempunyai sifat-sifat yang menarik, maka akan
mendorong keduanya dalam hubungan komunikasi yang menyenangkan.
Dengan demikian efektifitas komunikasi yang dilaksanakan oleh pemimpin
kegiatan morning pengarahan sebagai komunikator akan dipengaruhi oleh
kesan anggota organisasi terhadap daya tarik pemimpin tersebut. Daya tarik
terdiri dari kesamaan, keakraban, rasa suka komunikan,dan daya tarik fisik
komunikator.
b. Pesan Kegiatan Pengarahan
Pesan adalah informasi yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.
Pesan merupakan seperangkat symbol verbal atau nonverbal yang memakai
perasaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber.
Pesan memiliki 3 unsur yaitu
1) Struktur pesan, ditunjukkan dengan pola penyampaian pesan secara tersirat
atau pun tersurat, pola urutan argumentasi (mana yang lebih dahulu,
argumentasi yang disenangi atau tidak disenangi), pola obyektivitas (satu
sisi atau dua sisi).
2) Gaya pesan, menunjukkan adanya variasi linguistic dalam penyampaian
pesan (perulangan, kemudah dimengertian, perbendaharaan kata).
3) Dayatarik pesan, mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung
dalam pesan baik secara rasional maupun emosional.
c. Intensitas kegiatan
Intesitas kegiatan merupakan banyaknya serta jumlah waktu yang digunakan
dalam pelaksanaan sebuah kegiatan. Dalam hal ini intensitas kegiatan diukur
dengan frekuensi dan durasi:
1) Frekuensi adalah seberapa sering karyawan mengikuti kegiatan
pengarahan.
2) Durasi adalah lamanya karyawan mengikuti kegiatan pengarahan dari awal
sampai akhir.

Menurut Ibnu Hisyam Mukti dikutip oleh Cinantya (2010), dalam proses
pengarahan, sang eksekutif atau pemimpin perusahaan hendaknya
memperhatikan unsur-unsur dari program atau tugas yang menjadi pesan
pengarahan, memahami permasalahan pokok, kebijakan-kebijakan serta hal-
hal yang berhubungan dengan tugas, seperti :
1) Sifat-sifat pesan atau tugas.
a) Memahami ruang lingkup pesan dan tugas.
b) Menilai pesan atau tugas yaitu masalahnya tergolong masalah-masalah
kompleks dan tunggal.
c) Jika masalahnya kompleks, maka dibagi sedemikian rupa sehingga
menjadi masalah tunggal.
d) Mengumpulkan informasi, data, dan fakta dari setiap masalah.
2) Batas-batas tugas
a) Batas wewenang dan tanggung jawab.
b) Limit waktu total dan limit untuk tiap tahap.
c) Tersedianya fasilitas.
d) Jumlah tenaga operasional yang dibutuhkan.
3) Deskripsi tugas
a) Luas lingkup tugas yang dipercayakan kepada tiap unit dan individu
pelaksana.
b) Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan.
c) Langkah-langkah kebijakan dan operasional.
d) Target minimum dan maksimum yang diharapkan.
e) Bentuk pertanggungjawaban, seperti bertanggung jawab langsung
kepada siapa, bagaimana bentuk pertanggung jawabannya.
4) Syarat Pelaksana Tugas
a) Kualifikasi kemampuan fisik dan mental pelaksana.
b) Jenis keterampilan yang harus dimiliki pelaksana.
c) Luas lingkup pengalaman pelaksana.
d) Bentuk disiplin yang akan diterapkan.
5) Situasi dan kondisi tugas
a) Bentuk komunikasi internal dan eksternal sesama pelaksana dan unit
kerja yang lainnya.
b) Pentingnya tugas yang akan diberikan.
c) Pimpinan mengharapkan adanya komunikasi timbal balik.

4. Tujuan Pengarahan
Kegiatan pengarahan ini dilakukan dengan komunikasi melalui media pengarahan
yang dilakukan oleh pimpinan, dalam hal ini kepala ruang perawat yang memimpin
jalannya pengarahan. Arni (2009) menyatakan secara umum komunikasi ke bawah
dalam bentuk pengarahan oleh beberapa organisasi digunakan untuk :
a. Instruksi Tugas
Instruksi tugas atau pekerjaan yaitu pesan yang disampaikan kepada bawahan
mengenai apa yang diharpakan dilakukan mereka dan bagaimana melakukannya.
Pesan ini mungkin bervariasi seperti perintah langsung, diskripsi tugas, prosedur
manual, program latihan tertentu, alat-alat bantu melihat dan mendengar yang
berisi pesan-pesan tugas dan sebagainya.

Faktor yang prinsip adalah mempengaruhi isi dari instruksi tugas-tugas yang
kelihatannya kompleks dan menghendaki keterampilan dan pengalaman untuk
melakukannya. Instruksi tugas yang tepat dan langsung cenderung dihubungkan
dengan tugas yang sederhanayang hanya menghendaki keterampilan dan
pengalaman yang minimal. Instruksi yang lebih umum biasanya digunakan bagi
tugas-tugas yang komplek, dimana bawahan diharapkan menggunakan
pertimbangan, keterampilan, dan pengalaman.

b. Rasional Pekerjaan
Rasional pekerjaan adalah pesan yang menjelaskan mengenai tujuan aktifitas dan
bagaimana kaitan itu dengan aktifitas lain dalam organisasi atau obyektif
organisasi. Kualitas dan kuantitas dari komunikasi rasional ditentukan oleh
filosofi dan asumsi pimpinan mengenai bawahannya. Bila pimpinan menganggap
bawahannya pemalas, atau hanya mau bekerja bila dipaksa maka pimpinan
memberikan pesan yang bersifat rasional ini sedikit. Tetapi bila pimpinan
menganggap bawahannya orang yang dapat memotivasi diri sendiri dan produktif,
maka biasanya diberikan pesan rasional yang banyak.

c. Ideologi
Pesan mengenai ideologi adalah merupakan perluasan dari pesan rasional. Pada
pesan rasional penekanannya ada pada penjelasan tugas dan kaitannya dengan
perspektif organisasi. Sedangkan pada pesan ideologi sebaliknya mencari
dukungan dan antusias dari anggota organisasi guna memperkuat loyalitas, moral,
dan motivasi.

d. Informasi
Pesan informasi dimaksudkan untuk memperkenalkan bawahan dengan praktik-
praktik organisasi, peraturan-peraturan organisasi, keuntungan, kebiasaan dan data
lain yang tidak berhubungan dengan instruksi dan rasional.

e. Balikan atau FeedBack


Balikan adalah pesan yang berisi informasi mengenai ketepatan individu dalam
melakukan pekerjaannya. Salah satu bentuk sederhana dari balikan ini dapat
dilihat pada pegawai yang telah melakukan pekerjaannya apabila tidak ada
informasi dari atasan yang mengkritik pekerjaannya, berarti pekerjaannya sudah
memuaskan. Tetapi apabila hasil pekerjaan pegawai kurang baik balikannya
mungkin berupa kritikan atau peringatan terhadap pegawai tersebut.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengarahan


Arni (2009) menyatakan bahwa arus komunikasi melalui media pengarahan
dipengaruhi oleh struktur hierarki dalam organisasi. Namun arus komunikasi ini
tidaklah berjalan lancar, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain sebagai
berikut :
a. Keterbukaan
Kurangnya sifat terbuka diantara pimpinan dan pegawai akan menyebabkan
pemblokan atau tidak mau menyampaikan pesan atau gangguan dalam pesan.
Umumnya para pimpinan tidak begitu memperhatikan arus komunikasi kebawah.
Pimpinan mau memberikan informasi kebawah bila mereka merasa bahwa pesan
itu penting bagi penyelesaian tugas. Tetapi apabila suatu pesan tidak relevan
dengan tugas, pesan tersebut tetap dipegangnya. Misalnya seorang pimpinan akan
mengirimkan pesan untuk memotivasi pegawai guna penyempurnaan hasil kerja,
tetapi tidak mau mendiskusikan kebijaksanaan baru dalam mengatasi masalah-
masalah organisasi.
b. Kepercayaan Pada Pesan Tulisan
Kebanyakan para pimpinan lebih percaya pesan tulisan dan metode diskusi yang
menggunakan alat-alat elektronik dari pada pesan yang disampaikan secara lisan
dan tatap muka. Hal ini menjadikan pimpinan lebih banyak menyampaikan pesan
secara tertulis berupa bulletin, manual yang mahal, buklet dan film sebagai
pengganti kontak personal secara tatap muka antara pimpinan dan bawahan.
c. Pesan Yang Berlebihan
Karena banyaknya pesan-pesan yang dikirim secara tertulis, maka pegawai
dibebani dengan memo-memo, bulletin, surat-surat pengumuman, majalah, dan
pernyataan kebijaksanaan sehingga banyak sekali pesan-pesan yang harus dibaca
oleh pegawai. Reaksi pegawai terhadap pesan tersebut biasanya cenderung untuk
tidak membacanya. Banyak karyawan hanya membaca pesan-pesan tertentu yang
dianggap penting bagi dirinya dan yang lain diberikan saja tidak dibaca.
d. Timing
Timing atau ketepatan waktu pengiriman pesan mempengaruhi komunikasi ke
bawah. Pimpinan hendaklah mempertimbangkan saat yang tepat bagi pengiriman
pesan dan tampak yang potensial kepada tingkah laku karyawan. Pesan
seharusnya dikirim kebawah pada saat saling menguntungkan kepada kedua belah
pihak yaitu pimpinan dan karyawan. Tetapi bila pesan yang dikirimkan tersebut
tidak pada saat dibutuhkan oleh karyawan maka mungkin akan mempengaruhi
kepada efektifitasnya.
e. Penyaringan
Pesan-pesan yang dikirimkan kepada bawahan hendaklah semuanya diterima
mereka, tetapi mereka saring mana yang mereka perlukan. Penyaringan pesan ini
dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor diantaranya perbedaan persepsi
diantara pegawai, jumlah mata rantai dalam jaringan komunikasi dan perasaan
kurang percaya kepada pimpinan.
B. TEKNIK, FUNGSI PENGENDALIAN
1. Pengertian Dan Tujuan Pengendalian
Adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, sehingga
pelaksanaan kerja dan rencana kerja yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan.
Tujuan pengendalian :
a. Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
rencana.
b. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan-penyimpangan.
c. Supaya tujuan yang dihasilkan sesuai dengan rencananya.

Pengendalian bukan hanya untuk mencari kesalahan-kesalahan, tetapi berusaha


untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan serta memperbaikinya jika
terdapat kesalahan. Jadi pengendalian dilakukan sebelum proses, saat proses, dan
setelah proses, yakni hingga hasil akhir diketahui. Dengan pengendalian diharapkan
pemanfaatan unsure-unsur manajemen efektif dan efisien.

2. Asas-Asas Pengendalian
a. Asas tercapainya tujuan
Pengendalian harus ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan
mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari
rencana.
b. Asas efisiensi
Pengendalian itu efisisen, jika dapat menghindari dari penyimpangan rencana.
c. Asas tanggung jawab pengendalian
Pengendalian hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan rencana.
d. Asas pengendalian terhadap masa depan
Pengendalian yang efektif harus ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan-
penyimapngan yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun masa yang
akan datang.
e. Asas pengendalian langsung
Teknik control yang paling efektif ialah mengusahakan adanya bawahan yang
berkualitas baik.
f. Asas refleksi rencana
Pengendalian harus disusun dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter
dan susunan rencana.
g. Asas penyesuaian dengan organisasi
Pengendalian harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi
h. Asas pengendalian individual
Pengendalian dan teknik pengendalian harus sesuai dengan kebutuhan manajer.
i. Asas standar
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan standar yang tepat yang akan
dipergunakan sebagai tolok ukur pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.
j. Asas pengendalian terhadap strategi
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang
ditujukan terhadap faltor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
k. Asas pengecualian
Efisiensi dalam pengendalian membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan
terhadap factor pengecualian dalam keadaan tertentu atau tidak sama.
l. Asas pengendalian fleksibel
Pengendalian harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
m. Asas peninjauan kembali
Sistem pengendalian harus ditinjau berkali-kali, agar system yang digunakan
berguna untuk mencapai tujuan.
n. Asas tindakan
Pengendalian dapat dilakukan, apabila ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi
penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing, dan actuating.

3. Jenis-Jenis Pengendalian
a. Pengendalian karyawan, ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan
kegiatan karyawan.
b. Pengendalian keuangan, ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut keuangan.
c. Pengendalian produksi, ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas
produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
d. Pengendalian waktu, ditujukan kepada penggunaan waktu, apakah waktu untuk
mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak.
e. Pengendalian teknis, ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang
berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
f. Pengendalian kebijaksanaan, ditujukan untuk mengetahui dan menilai, apakah
kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan.
g. Pengendalian penjualan, ditujukan untuk mengetahui, apakah produksi atau jasa
yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang ditetapkan.
h. Pengendalian inventaris, ditujukan untuk mengetahui, apakah inventaris
perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
i. Pengendalian pemeliharaan, ditujukan untuk mengetahui apakah inventaris
kantor dipelihara dengan baik atau tidak, jika rusak apakah masih bisa diperbaiki
atau tidak.

4. Proses Dan Cara-Cara pengendalian


Langkah-langkah proses pengendalian :
a. Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
b. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
c. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standard an menentukan
penyimpangan jika ada.
d. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan
tujuan sesuai dengan rencana

Cara-cara pengendalian

a. Pengawasan langsung, pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh


seorang manajer.
b. Pengawasa tidak langsung, pengawasan jarak jauh dengan melalui laporan oleh
bawahan baik secara lisan maupun tulisan.
c. Pengawasan berdasarkan kondisi tertentu, pengendalian yang dikhususkan untuk
kesalahan-kesalahan atau kondisi tertentu, dilakukan dengan cara kombinasi
langsung dan tidak langsung.

5. Sifat Dan Waktu Pengendalian


Sifat dan waktu pengendalian/control dibedakan atas :
a. Preventive control, pengendalian yang dilakukan sebelum kegiatan dilakukan
untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaannya.
Cara melakukannya:
1) Menentukan proses pelaksanaan pekerjaan
2) Membuat peraturan dan pedoman pelaksanaan pekerjaan itu
3) Menjelaskan dan mendemonstrasikan cara pelaksanaan pekerjaan
4) Mengorganisasi segala macaam kegiatan
5) Menentukan jabatan, job description, authority, dan responsibility bagi
setiap karyawan
6) Menetapkan sistem koordinasi pelaporan dan pemeriksaan
7) Menetapkan sanksi bagi karyawan yang membuat kesalahan
b. Repressive control, pengendalian yang dilakukan setelah terjadi kesalahan
dalam pelaksanaannya, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi di waktu
yang akan datang.
Cara melakukannya:
1) Membandingkan antara hasil dengan rencana
2) Menganalisis sebab-sebab yang menimbulkan kesalahan dan mencari
tindakan perbaikannya
3) Memberikan penilaian terhadap pelaksananya, jika perlu dikenakan sanksi
hukuman kepadanya
4) Menilai kembali prosedur-prosedur pelaksanaan yang ada
5) Mengecek kebenaran laporan yang dibuat oleh petugas pelaksana Jika perlu
meningkatkan keterampilan atau kemampuan pelaksana melalui training
atau education
c. Pengendalian saat proses dilakukan, jika terjadi kesalahan segera diperbaiki.
d. Pengendalian berkala, pengendalian yang dilakukan secara berkala.
e. Pengendalian mendadak, pengawasan yang dilakukan secara mendadak untuk
mengetahui apa pelasakanaan atau peraturan-peraturan yang ada dilaksanakan
dengan baik.
f. Pengamatan melekat, pengendalian yang dilakukan mulai dari sebelum, saat,
dan sesudah kegiatan dilakukan.

6. Macam-Macam Pengendalian
a. Internal control, pengendalian yang dilakukan oleh seorang atasan kepada
bawahannya.
b. External contro, pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar.
c. Formal control, pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi atau pejabat resmi
dan dapat dilakukan secara intern maupun ekstern.
d. Informal control, penilaian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik
langsung maupun tidak langsung.
7. Alat-Alat Pengendalian
a. Budget
Adalah suatu ikhtisar hasil yang akan diharapkan dari pengeluaran yang
disediakan untuk mencapai hasil tersebut. Apabila tidak sesuai dengan budget,
baik pemerimaan maupun pengeluaran maupun hasil yang diperoleh maka
perusahaan itu tidak efektif karena terdapat penyimpangan.
b. Tipe-tipe budget:
1) Sales budget
2) Production budget
3) Cost Production Budget
4) Step budget, berhubungan dengan production budget dan menunjukkan
bermacam-macam tingkat tingkat produksi
5) Purchasing budget
6) Personnel budget
7) Cash & Financial budget
8) Master budget (budget keseluruhan)
c. Non-Budget
Alat pengenalian non budget:
1) Personal observation, pengawasan langsung secara pribadi oleh
pimpinan perusahaan terhadap para bawahan yang sedang bekerja.
2) Report, laporan yang dibuat oleh para manajer.
3) Financial statement, daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari
Balance sheet dan Income Statement (neraca rugi laba).
4) Statistic, merupakan pengumpulan data, informasi, dan kejadian yang
tealh berlalu.
5) Break event point, suatu titik atau keadaan ketika jumlah penjualan
tertentu tidak mendapat laba ataupun rugi.
6) Intenal Audit, pengendalian yang dilakukan oleh atasan terhadap
bawahan yang meliputi bidang-bidang kegiatan secara menyeluruh yang
menyangkut masalah keuangan.
7) Auditing ini juga menyangkut pengendalian persediaan yang baik,
pembayaran barang yang dibeli, dan pemeriksaan yang cukup, apakah
barang yang telah dibayar benar-benar telah diterima.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pengarahan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok
berusaha untuk mencapai sasar sesuha organisasiai perencanaan manajerial dan usaha-
usaha organisasi. Melakukan kegiatan untuk memengaruhi orang lain agar agar mau an
suka bekerja dalam rangka menyelesaiakn tugas. Motivasi adalah aktivitas pokok dalam
manajemen yang mendorong dan menjuruskan semua bawahan agar berkeinginan,
bertujuan bergerak untuk mencapai tujuan yang telah di tentuakn denagn rencana usaha
organisasi.

B. SARAN
Seorang pemimpin harus mampu menciptakan suasana yang baik, serta aman dan
nyaman untuk anggota kelompoknya dalam menjalankan tugas dalam untuk mencapai
suatu tujuan yang efektif. Tanggung jawab akan tercipta jika pemimpin memberikan
wewenang serta pengarahan dan motivasi yang baik kepada anggota kelompok, sehingga
tercipta kerja sama yang saling mendukung dalam suatu organisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, Montague. 1997. Manajemen Perawatan Kesehatan. Jakarta : EGC


http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2114200-pengertian-
pendelegasian/#ixzz1d4s4BXHE
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2114200-pengertian-
pendelegasian/#ixzz1d4vzdNzA
http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/h/c771.shtml
http://satriagosatria.blogspot.com/2009/12/pengertian-delegasi.html
http://ummahattokyo.tripod.com/kepribadian/pendelegasian.htm
Kron,T. & Gray, A. (1987). The manajemen of patient care putting leadership skill to work,
sixth edition. Philadelphia : W.B Saunders Company.
Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika
Nursalam (2001). Proses & dokumentasi keperawatan konsep & praktik. Jakarta:Salemba
Medika.
Nursalam. (2007). Manajemen keperawatan aplikasi dalam praktik keperawatan
profesional. Jakarta: Salemba Medika,
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Suarli dan Bahtiar, Yanyan. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta : Erlangga
Suyanto. (2009). Mengenal kepemimpinan dan manajemen keperawatan di rumah sakit.
Jogjakarta: Mitra Cendikia.