Anda di halaman 1dari 6

RESUME I BUDAYA POPULER

BACAAN PERTEMUAN 2 DAN 3


Nama : Azhar Ritonga
NPM : 210110150228
Kelas : A Ilmu Komunikasi

Memahami Budaya Pop


Sebelum mempelajari Budaya Populer, terlebih dahulu kita harus memahami konsep-
konsep penting yang ada didalamnya. Mulai dari pengertian “budaya” dan “populer” sebagai
pembentuk kata “budaya populer”, kaitan budaya dan ideologi, barulah kita bisa memahami
budaya populer tersebut.

Budaya menurut Raymond Williams dibagi menjadi tiga pengertian:

a. Budaya adalah suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis.
Contohnya pakaian adat, upacara pernikahan, nyanyian atau tarian daerah, dan lain-lain.
b. Budaya adalah pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu.
Berdasarkan pengertian pertama, kita mengetahui bahwa pakaian, upacara, nyanyian, atau
tarian tiap daerah punya ciri khas yang menjadi pembeda antar-masyarakatnya.
c. Budaya adalah karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik (signifying
practices). Hal ini difungsikan sebagai penunjuk atau penanda suatu makna tertentu.

Sedangkan kata “populer” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)


mengandung arti: (1) dikenal dan disukai orang banyak (umum); (2) sesuai dengan kebutuhan
masyarakat pada umumnya/mudah dipahami orang banyak; dan (3) disukai dan dikagumi
orang banyak. Kata pupuler juga dapat diartikan sebagai karya yang dengan sengaja
ditetapkan untuk memenangkan suatu masyarakat, atau budaya yang sebenarnya dibuat oleh
masyarakat untuk diri mereka sendiri.

Ideologi menjadi substansi yang amat penting dalam budaya populer karena berperan
pandangan hidup sebagian masyarakat. Berikut lima makna konsep ideologi sebagai konsep
yang searah dengan budaya populer:

a. Ideologi mengacu pada suatu gagasan-gagasan yang tersusun sistematis dan


diartikulasikan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Contohnya ideologi komunis yang
dapat direpresentasikan oleh negara Tiongkok, Korea Utara, dan lain-lain.

1
b. Ideologi memiliki makna implisit atau penyiratan akan adanya realitas yang
disembunyikan sehingga rasionalitas yang ada terasa semu. Contohnya kolektor sepatu
Adidas/Nike mengetahui ia terkesan konsumtif, namun ia akan menyampaikan alasan-
alasan sebagai pembelaan diri misalnya produknya bagus, modelnya beda, dan lain-lain.
c. Ideologi mengacu pada bentuk-bentuk ideologis yang berfungsi sebagai bentuk citra
tertentu. Inilah mengapa ideologi yang dianut bermacam-macam karena didasari oleh
masyarakat yang cenderung ‘konfliktual’ ketimbang ‘konsesual’.
d. Ideologi dapat dijumpai dalam aktivitas sehari-hari sehingga tak hanya berbentuk ide tapi
termasuk ritual atau kebiasaan yang sudah melekat dalam tatanan sosial. Misalnya
menonton bioskop atau jalan-jalan ke mall untuk mengisi akhir pekan.
e. Ideologi memiliki fungsi utama pada level konotasi atau makna sekunder yang sering
tidak ditampilkan. Misalnya anggapan musik aliran jazz yang diperuntukkan bagi
golongan elit.

Gambar 1. Model Hubungan antara Ideologi, Budaya, dan Politik


(sumber: dokumentasi pribadi)

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita menemui adanya budaya yang bagus secara
kualitas namun tidak disukai oleh banyak orang. Inilah yang kemudian disebut dengan
budaya tinggi. Budaya tinggi dipengaruhi oleh periode atau masa tertentu yang sewaktu-
waktu mengancam ekslusivitas mereka. Misalnya musik indie yang mulai banyak disukai
banyak orang karena strategi komersial yang berhasil dijalankan berbagai media.

Untuk mendefinisikan kata “budaya populer’, terlebih dahulu perlu memahami makna-
makna berikut ini:

a. Budaya populer bermakna sesuatu yang banyak disukai orang; jenis kerja rendahan; karya
yang dilakukan untuk menyenangkan orang; atau budaya yang memang dibuat oleh orang
untuk dirinya sendiri (Williams). Misalnya musik pop yang hampir disukai semua
kalangan. Berarti di dalamnya terdapat dimensi kuantitatif karena adanya prasyarat untuk
dikatakan ‘populer’ harus disukai oleh banyak orang.
b. Budaya pop dikategorikan sebagai residual yang digunakan untuk mengakomodasi praktik
budaya yang tak memenuhi syarat sebagai budaya tinggi. Hal ini disebabkan oleh

2
perbedaan selera yang menimbulkan perbedaan klas-klas yang selanjutnya diposisikan
sebagi pembeda antar-klas berdasarkan faktor sosial ekonomi dan kualitasnya.
c. Budaya pop sebagai budaya massa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan komersial.
Pemaknaan inilah yang menyebabkan munculnya budaya dominan.
d. Budaya pop merupakan budaya yang berasal dari “rakyat” (folk culture).
e. Budaya pop sebagai bentuk perlawanan (resistance) dari kelompok subordinasi terhadap
inkorporasi kelompok dominan yang ada dalam masyarakat.
f. Budaya pop sebagai sebuah pemikiran postmodernisme yang tidak lagi melihat suatu
budaya sebagai budaya tinggi dan budaya pop. Disinilah penegasan bahwa semua budaya
adalah budaya komersial. Budaya hanya dibedakan menurut kegunaannya.

Sekarang muncul pertanyaan “Mengapa perlu mempelajari budaya populer? Apa


alasannya?”. Tujuan mempelajari budaya populer adalah sebagai berikut:

1. Agar tidak terjebak dalam banalitas (sesuatu yang biasa) yang medorong lahirnya gaya
hidup yang konsumeris. Artinya dengan belajar budaya populer kita jadi lebih tahu ‘harga’
sebuah produk budaya dengan mempertimbangkan kualitas yang mereka berikan.
2. Untuk keperluan pemahaman pengetahuan yang lebih kompleks.

Mazhab Frankfurt dan Industri Budaya

Mazhab Frankfurt didirikan tahun 1923 oleh para intelektual Yahudi yang berasal dari
kelas atas dan menengah masyarakat Jerman. Fungsinya adalah untuk pengembangan teori
dan penelitian kritis. Mereka diantaranya adalah Benjamin (1892-1940), Adorno (1903-
1970), Horkheimer (1895-1973), dan Marcuse (1898).

Mazhab ini melihat budaya populer berdasarkan teori kapitalisme modern dan terdapat
konsep tentang kontrol “industri budaya” yang dapat mengerahkan pikiran dan tindakan
manusia. Dalam mazhab ini dijelaskan juga bagian penting yang belum ada dalam Marxisme,
yaitu tentang kedudukan dan arti penting budaya maupun ideologi. Sebenarnya Mazhab
Frankfurt diilhami oleh Teori Marx, dimana menurut Adorno dan mazhabnya fetisisme
komoditas menjadi landasan teori bagaimana bentuk-bentuk budaya dapat mengamankan
dominasi modal ekonomi, politis, maupun ideologis secara berkelanjutan.

Sejalan dengan Marx, Adorno menyatakan bahwa uang memiliki peranan penting
dalam masyarakat kapitalis. Uang sebagai alat tukar menentukan relasi sosial antara orang-
orang dalam masyarakat kapitalis. Adanya uang juga memunculkan nilai komoditas dan

3
kebermanfaatan suatu barang. Inilah mengapa orang kemudian menuntut kualitas suatu
produk budaya pop (seperti film, tiket konser, dll.) karena telah membayarnya dengan uang.

Hadirnya kapitalisme pada bidang budaya mengambil alih asas manfaat. Sekarang asas
pertukaran mengaburkan dan mendominasi asas manfaat. Maksudnya nilai tukar suatu
produk terhadap uang menjadi asas manfaat yang bertolakbelakang dengan nilai yang ada
didalamnya. Contohnya sekarang orang tidak lagi melihat ‘nilai’ atau kualitas suatu produk,
melainkan lebih mementingkan harga jual barang tersebut. Inilah salah satu bentuk fetisisme
komoditas yang terjadi.

Dalam teori kapitalisme modern Mazhab Frankfurt dikatakan bahwa berbagai kekuatan
produktif kapitalis mampu menghasilkan kemakmuran melalui produksi sia-sia yang sifatnya
‘palsu’. Hal ini mendorong lahirnya monopoli kapitalis dalam sektor ekonomi yang
dikendalikan oleh industri-industri budaya mereka. Kemudian inilah yang menjadi cikal-
bakal konsumerisme dalam masyarakat (kebutuhan sudah tersamarkan).

Sejatinya orang-orang memiliki kebutuhan ‘asli’ yang dapat menuntun mereka menjadi
kreatif, bebas, dan mandiri. Namun kebutuhan ini dikesampingkan oleh kapitalisme modern
dengan menonjolkan kebutuhan-kebutuhan ‘palsu’ untuk memperkokoh ideologi
kapitalisnya. Implikasinya orang-orang tidak menyadari kebutuhan ‘asli’-nya sudah terpenuhi
atau tidak. Intinya adanya industri budaya mengaburkan kebutuhan ‘asli’ dan kebutuhan
‘palsu’.

Secara industrial, produk budaya merupakan sebuah proses standarisasi atas semua
produk yang ada. Namun agar tidak terkesan sama (akibat distandarisasi), produk budaya itu
diberi rasa individualitas sebagai ‘pembeda’. Contohnya film tema superhero dibuat dengan
karakter bermacam, padahal topik yang ada didalamnya sama yaitu memberantas kejahatan.

Musik pop merupakan salah satu bentuk industri budaya yang dibahas oleh Adorno.
Menurut beliau, musik pop yang dihasilkan oleh industri budaya didominasi oleh dua proses,
yaitu standarisasi dan individualisasi semu. Standarisasi disini diartikan sebagai kemiripan
yang ada dalam musik pop. Sementara individualisasi dianggap sebagai perbedaan yang
sifatnya kebetulan. Inilah mengapa musik pop terkesan mirip, hanya diberi variasi tertentu
agar terlihat berbeda satu sama lain. Standarisasi ini juga yang menjaga konsumen untuk
tetap pada jalan yang diinginkan. Adorno mengibaratkan pendengar musik pop sebagai bayi
atau anak-anak yang mudah didikte, mengetahui apa yang mereka inginkan namun tidak
dapat menyampaikannya.

4
Gendron menulis artikel berjudul “Theodor Adorno meets Cadillacs” sebagai penilaian
teori musik pop Adorno dengan melakukan contoh pada music Doo-Wop. Menurut Gendron
standarisasi musik pop berlangsung secara diakronis (terjadi terus-menerus sesuai dengan
standarnya) dan secara sinkronis (standar tersebut berlaku kapanpun). Gendron juga
mengatakan ketidakmampuan Adorno membedakan artefak fungsional (seperti mobil dan
cadillacs) dengan artefak tekstual (seperti musik pop dan kelompok musik Doo-Wop).

Baik artefak fungsional maupun tekstual merupakan objek konsumsi. Artefak


fungsional dapat dibeli lagi setelah dianggap bermanfaat dan dibutuhkan, contohnya mobil.
Berbeda dengan artefak tekstual, misalnya buku, tidak peduli seberapa kesan yang diberikan
pada buku tersebut, mustahil seseorang membeli buku yang sama untuk kedua kalinya.

Ilustrasi ini menjadi alasan lahirnya “genre” atau aliran dalam budaya populer, yang
dikategorikan berdasarkan kesukaan masyarakat. Budaya populer bisa saja populer karena
kenikmatan yang diperoleh konsumen atas standarisasi yang ada di dalamnya. Hadirnya
genre mengindikasikan adanya perubahan dan disesuaikan dengan kriteria profitabilitas dan
marketabilitas. Genre ini juga berfungsi membantu masyarakat dalam memilih produk mana
yang mereka ingini. Artinya masyarakat budaya populer ternyata ‘pemilih’ dan kritis terhadap
apa yang mereka konsumsi.

Kritik yang muncul terhadap Mazhab Frankfurt adalah kebutuhan ‘asli’ yang dipandang
sebagai sesuatu yang abstrak dan teori yang dikemukan belum cukup menjelaskan gagasan
yang mereka kemukakan. Sebuah keniscayaan mendefinisikan sebuah kebutuhan tanpa
adanya rujukan sosial, transformasi historis, dan pemenuhan praktis. Kritik lain yang muncul
adalah produk budaya tidak semestinya dipandang secara negatif (Benjamin). Karya seni
yang dapat diproduksi tidak hanya kehilangan aura dan otonominya, tapi semakin banyak
dijangkau oleh banyak orang.

Referensi

Adorno, T. W. dan A. G. Rabinbach. 1975. Culture Industry Reconsidered. New German


Critique, Hal 12-19

Storey, J. 2015. Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction (7 th Edition). New
York: Routledge. Bab 1

5
Strinati, D. 2003. Populer Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta:
Jejak. Bab 2

https://kbbi.web.id/populer (diakses tanggal 5 Maret 2018, pukul 05.55 WIB)