Anda di halaman 1dari 4

Berdasarkan catatan-catatan sejarah dan pengertian di atas membuktikan bahwa intelijen

memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan yang krusial. Jadi,secara


kronologis, praktik dan makna intelijen dapat berubah dari waktu kewaktu baik dari segi
pemanfaatan, teknik analisis, teknologi yang digunakan danlain-lain.

Dari uraian di atas tampak bahwa Competitive Intelligence memiliki peran dalam mendukung
keputusan,namun Competitive Intelligence dapatjuga memecahkan berbagai permasalahan
yang lain, antara lain :

 Memahami lingkungan bisnis dengan lebih baik.


 Memahami dan mengantisipasi strategi bisnis pesaing.
 Meramalkan kesempatan dan ancaman terhadap perusahaan/organisasi.
 Mengantisipasi riset yang dilakukan oleh pesaing dan proses-proses baru yang
mempengaruhi bisnis.
 Membantu dalam proses akuisisi.
 Melakukan validasi terhadap rumor-rumor industry yang dihembuskan.

Competitive Intelligence seems to be one of the best answer to understand the complexity in
which we are moving. For companies, Competitive Intelligence will provide the best way to
anticipate, to understand the value map surrounding the enterprises. With the today
facilitiesto get information, to acces fast communication networks, to develop distance
learning and working, even small companies may used Competitive Intelligence with success.

Dalam perputaran roda bisnis banyak terjadi perubahan-perubahan yang mengharuskan


perusahaan siap dalam menghadapinya, Competitive Intelligence akan sangat membantu
dalam hal kesiapan menghadapi perubahan tersebut.

Competitive Intelligence dapat menunjukan siapa pesaing-pesaing yang harus dihadapi dan
tindakan-tindakan apa saja yang sedang mereka lakukan, sehingga dapat direspon dengan
cepat tindakan-tindakan tersebut. Dengan Competitive Intelligence kita juga dapat
mempelajari kesuksesan dan kegagalan dari pesaing kita.

Penerapan Competitive Intelligence di Berbagai Negara


Competitive Intelligence melibatkan banyak informasi dan sering kali informasi-informasi
yang dibutuhkan berada di negara lain. Kompetisi yang bersifat global juga menuntut
Competitive Intelligence untuk melintas batas kenegaraan. Adapun penerapan Competitive
Intelligence di negara-negara besar dunia.

1. Jepang
Jepang merupakan Negara yang secara intensif dan ekstensif menggunakan Competitive
Intelligence untuk mendukung perkembangan ekonominya. Jepang adalah negara dengan
sedikit sumber daya, namun bisa memasok 18% produk bruto dunia, menghasilkan sepertiga
mobil dunia, dua pertiga chip computer di seluruh dunia. Salah satu kunci keberhasilan
adalah intelijen. Keberhasilan Jepang ini membuktikan kebenaran sebagian pakar yang
mengatakan bahwa “Keberhasilan dan kekuatan suatu negara adalah berbanding lurus
dengan penguasaan negara tersebut dalam bidang Competitive Intelligence”.

Competitive Intelligence digunakan Jepang untuk belajar tentang berbagai hal dan dipadukan
dengan kebudayaanya, maka Jepang mampu mengandalkan ekonominya. Jepang memainkan
Competitive Intelligence dengan dukungan kuat dari pemerintahannya. Pemerintah
membentuk berbagai badan yang mengurusi aliran informasi yang kemudian disebarkan ke
berbagai satuan-satuan Competitive Intelligence dimasing-masing perusahaan dan ke
perusahaan-perusahaan dagang (Sogo Shosha).

Sebagai ringkasan di bawah ini adalah beberapa prinsip Competitive Intelligence yang
diterapkan dan telah membawa Jepang sebagai salah satu pemain kunci diera pasar global.

 Informasi adalah sesuatu yang memiliki nilai intrinsik yang tinggi.


 Pengumpulan Informasi adalah proses yang berkelanjutan, centralized, mendalam dan
mengikuti prinsip Kaizen (Continous Improvement).
 Pemerintah memberikan dukungan terhadap satuan-satuan Competitive Intelligence
yang ada disetiap perusahaan dan menyediakan sarana serta prasarana untuk saling
bertukar intelijen.
 Adanya konsep berbagi informasi yang kuat di kalangan pebisnisJepang.
 CompetitiveIntelligence tidak pernah dipertanyakan dan dipermasalahkan
manfaatnya, mereka telah membuktikan bahwa semua yang dipermasalahkan oleh
orang lain itu tidak perlu.
 Adanya system informasi raksasa yang menjadi sumber akurat bagi para praktisi
Competitive Intelligence.
 Competitive Intelligence bukan hanya sekedar praktik, namun dipercaya dan
diaplikasikan dalam berbagai keputusan strategis perusahaan.

2. Amerika
Amerika terkenal dengan negara bebas dan adidaya baik dalam ekonomi, teknologi,
pertahanan dan terutama di dalam bidang kebebasan informasi. Namun kebebasan ini tidak
dimanfaatkan sepenuhnya oleh segenap pelaku bisnis Amerika. Kebebasan ini justru menjadi
boomerang untuk dunia bisnis Amerika. Pelaku bisnis belum sepenuhnya menggunakan
informasi yang tersebar luas, justru mereka menganggap informasi tersebut menjadi murah
dan cenderung tidak berguna. Kecuali oleh sebagian perusahaan Amerika yang menyadari
sepenuhnya manfaat Competitive Intelligence, perusahaan inilah yang kemudian dapat
memposisikan dirinya menjadi terangkat di papan atas perusahaan terbaik dalam daftar
Fortune 500.

Pemerintah Amerika sebagaimana Jepang, sangat mendukung proses pengumpulan informasi


dan intelijen terutama dengan memanfaatkan Central Intelligence Agency (CIA), bahkan dari
berbagai sumber kekuatan USA dengan “Echelon Machine-nya” mampumen deteksi
informasi penting dan kemajuan bisnis di suatu belahan dunia lain,demikian juga berbagai
percakapan dan transaksi penting. Banyak negara di Eropa sekalipun ketakutan akan
penyadapan Amerika dengan menggunakan piranti tersebut. Amerika memilki sumber-
sumber informasi yang mungkin terbesar di dunia, seluruh jaringan internet di dunia
terhubung dengan Heart of Internet yang terletak di Pentagon.

3. Perancis
Standar etika yang berbeda membuat praktek Competitive Intelligence juga berbeda untuk
setiap negara. Perancis mungkin memiliki standar yang lain sehingga Competitive
Intelligence memiliki dimensi yang luas, masih juga ada konotasi bahwa untuk mendapatkan
intelijen harus dilakukan dengan cara-cara informal tertentu, yang kerap bisa jadi berbenturan
dengan etik tertentu. Namun demikian, pengetahuan di bidang ini di Perancis sangat
transparan terutama yang berkaitan dengan pendidikan.
Kita akan sangat mudah menemukan Universitas dari tingkatan S1 hingga Ph.D. yang
menemukan bidang ini. Lain halnya di USA dan Jepang, anda akan kesulitan mencari
Universitas dalam bidang ini, pendidikan di Universitas di Amerika dan Jepang masih kalah
popular dibandingkan praktik lapangan. Sementara di Perancis keduanya berimbang.
Mungkin keadaan ini hampir sama dengan di Swedia.

Pemerintah mendukung praktik-praktik intelijen, kalau di USA kita mengenal CIA, maka di
Perancis kita mengenal DGSE (Direction Generale de la Securite Exterieure). DGSE
disinyalir melakukan kegiatan intelijen terhadap berbagai perusahaan yang tersebar di
UniEropa. Semua informasi intelijen tersebut di teruskan ke perusahaan yangbersaing dengan
IBM dan Texas Instrument.

4. Australia
Lokasi yang terpencil menyebabkan industry Australia cenderung ketinggalan dibandingkan
dengan negara-negara maju lainnya. Oleh karena Competitive Intelligence diAustralia masih
berada pada tahap embrio. Namun melihat kecenderungan yang terjadi, Australia sedang
berbenah dan berusaha melepas keterkucilannya. Australia secara ekstensif mengembangkan
intelijennya baik dengan alasan keamanan maupun ekonomi. Setelah kejadian Bom Bali,
Australia berusaha mengamankan kepentingan-kepentingan bisnis dan negaranya. Hal ini
dicoba dilakukan Australia dengan memohon kepada Indonesia, negara tetangga yang sangat
dekat, untuk mendirikan biro intelijennya di Jakarta. Meskipun ditolak pemerintah Indonesia,
namun ini mengisyaratkan adanya usaha-usaha intelijen Australia untuk bangkit.

5. Malaysia
Malaysia merupakan negara dengan kultur Islam dan Melayu yang sangat kuat. Standar etika
yang tinggi membuat Competitive Intelligence dipraktekkan dengan tidak menyentuh sisi
spionase industri. Malaysia menyadari pentingnya Competitive Intelligence guna
mengamankan kepentingan-kepentingannya. KementrianMalaysia telah mendorong
tumbuhnya Competitive Intelligence di negaranya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah
membangun unit intelijen di dalam MPOA (The Malaysian Palm Oil Association) untuk
mendukung perdagangan minyak sawit. Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim, pemimpin MPOA,
mengatakan bahwa unit intelijen di dalam MPOA bertujuan untuk menyediakan informasi
vital secara terus-menerus kepada para anggotanya. Demikian juga institusi-institusi yang
tidak dapat dirinci semuanya,seperti MIDA sebagai Strategic Think Thank milik Malaysia
dalam melakukan pengembangan ekonomi dan pembangunan negara Malaysia.

6. Indonesia
Competitive Intelligence di Indonesia masih berumur sangat muda. Baru beberapa
perusahaan di Indonesia yang menerapkan Competitive Intelligence, itupun belum
sepenuhnya dijadikan pedoman dalam menyusun rencana strategis. Namun seiring dengan
semakin kuatnya tuntutan lingkungan bisnis yang mengglobal telah membuat beberapa
perusahaan diIndonesia mulai menerapkan Competitive Intelligence untuk mendukung
kinerja bisnisnya. Penerapan tersebut dimulai dengan melibatkan konsultasi intelijen yang
ada di Jakarta, baik itu konsultan asing maupun lokal, sebagai contoh diantaranya AMI-
Group (Synovate), INBRA, AC Nielson, INSIGHT, Asian Business Intelligence,
Financialintelligence, dan lain sebagainya.

Pemerintah Indonesia menyadari perlunya intelijen namun penerapannya masih terbatas pada
bidang militer saja. Kegiatan intelijen di bawah tanggung jawab Badan IntelijenNegara ( BIN
) dan Badan IntelijenStrategis ( BAIS ) yang bertugas mengumpulkan intelijen dari dalam
negeri maupun luar negeri.

Sayangnya pemerintah Indonesia dan rakyatnya belum menyadari sesungguhnya manfaat dari
Competitive Intelligence, sehingga upaya mengintegrasikannya dengan intelijen militer,
intelijen economy dan Competitive Intelligence lainnya belum dilakukan. Saat ini sudah
mulai dirintis dan mengarah kepada kesadaran bangsaIndonesia dalam Competitive
Intelligence yang dalam jangka panjang bisa menjadi visi/misi nasional dalam memajukan
pembangunan dan ekonomi bangsa.

Ada satu titik penting yang belum dilakukan oleh Indonesia dalam mempratikkan
Competitive Intelligence, titik tersebut adalah integrasi. Pemerintah Indonesia masih
mengeksklusifkan kegiatan intelijen untuk bidang militer saja. Padahal apabila ada kegiatan
intelijen dibidang ekonomi dan industri didukung oleh pemerintah maka produk-produk
Indonesia pasti lebih bisa berbicara di dunia Internasional.