Anda di halaman 1dari 7

A.

PENGERTIAN KELUARGA BERENCANA (KB)


Keluarga Berencana (KB) adalah suatu program yang dicanangkan
pemerintah dalam upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat
melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia serta
sejahtera (H. Hanafi, 2010). Keluarga Berencana (family planning/planned
parenthood) merupakan suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah
dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi (Sulistyawati, 2013).
Pemerintah menawarkan macam-macam alat kontrasepsi yang ada dan dapat
digunakan oleh masyarakat dalam program Keluarga Berencana (KB). Macam-
macam alat kontrasepsi tersebut, antara lain Intra Uterine Device (IUD), Metode
Operatif Wanita (MOW), Metode Operatif Pria (MOP), kondom, suntik, pil, dan
implant. Dari semua alat kontrasepsi ini, semuanya memiliki keunggulan masing-
masing, termasuk kontrasepsi implant (Veby Monica Lasut, dkk., 2014).
B. PENGERTIAN KONTRASEPSI IMPLANT
Implant atau susuk biasanya disebut alat kontrasepsi bawah kulit karena
pemasangannya memang di bawah kulit lengan atas. Susuk KB implant terdiri
atas 1 atau 6 kapsul silastik sebesar korek api yang mengandung hormon jenis
progestin (progestin sintetik) dan dimasukkan ke bawah kulit lengan atas yang
tidak dominan, dengan metode penyayatan kecil 1,25 cm dan pembiusan lokal,
secara perlahan dan sedikit demi sedikit melepaskan hormon jenis progestin
tersebut selama 3 atau 5 tahun untuk mencegah kesuburan (Ana Wardatul Jannah
& Widja Widjaka, 2012).
Tingkat keberhasilan/efektivitasnya 97 – 99% (Syafrudin & Hamidah, 2007).
Selama jangka waktu itu Anda tidak perlu memikirkan kontrasepsi. Bila Anda
menginginkan anak, maka KB implant dapat dilepas oleh tenaga kesehatan yang
terlatih kapan pun Anda mau dan Anda pun akan kembali subur setelah satu bulan
(Sudarto, 2018).
C. JENIS-JENIS KONTRASEPSI IMPLANT
Kontrasepsi implant terdiri atas beberapa jenis berdasarkan jumlah batang dan
lama waktu mencegah kehamilannya, yaitu (Abdul Bari Saifuddin, 2006):
1) Norplant
Norplant merupakan jenis kontrasepsi implant berisi batang yang mengandung
hormon levonorgestrel. Tiap kapsul panjangnya 3,4 cm, diameter 2,4 mm, berisi
36 mg levonorgestrel yang efektif mencegah kehamilan selama 5 tahun.
2) Implanon
Implanon merupakan jenis kontrasepsi implant berisi 1 batang putih lentur
yang mengandung 63 mg 3-keto-desogestrel. Efektif mencegah kehamilan selama
3 tahun.
3) Indoplant dan Jadena
Indoplant dan jadena merupakan jenis kontrasepsi implant berisi 2 batang yang
mengandung 75 mg levonorgestrel. Efektif mencegah kehamilan selama 3 tahun.
D. WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMULAI PENGGUNAAN
KONTRASEPSI IMPLANT
Waktu penggunaan KB implant didasarkan kondisi wanita yang
menggunakan sebagai berikut (WHO, 2009):
1) Siklus Menstruasi Normal
Pada wanita dengan siklus menstruasi normal maka implant dapat dipasang
dalam 7 hari pertama siklus menstruasi. Tidak diperlukan perlindungan
kontrasepsi tambahan.
Implant juga dapat dipasang kapanpun selama dipastikan tidak hamil. Jika
sudah melebihi 7 hari pertama siklus menstruasi, pengguna harus pantang
berhubungan seksual atau menggunakan perlindungan kontrasepsi tambahan
selama 7 hari berikutnya.
2) Amenorik
Pada wanita amenorik (tidak terjadi haid minimal 3 bulan berturut-turut) maka
implan dapat dipasang kapanpun selama dipastikan tidak hamil. Pengguna harus
pantang berhubungan seksual atau menggunakan perlindungan kontrasepsi
tambahan selama 7 hari berikutnya.
3) Pasca Persalinan (Menyusui)
Jika perempuan tersebut berada di antara masa pasca persalinan 6 minggu atau
6 bulan dan amenorik, maka implan dapat dipasang kapanpun. Jika menyusui
penuh atau hampir penuh, pengguna tidak perlu menggunakan perlindungan
kontrasepsi tambahan.
Jika perempuan tersebut sudah melebihi masa 6 minggu pascapersalinan dan
menstruasinya telah kembali, maka implan dapat dipasang seperti pada
perempuan yang mendapat siklus menstruasi lainnya. Bagi perempuan yang
berada dalam masa pasca persalinan kurang dari 6 minggu dan terutama sedang
menyusui, penggunaan KB implan biasanya tidak dianjurkan kecuali tidak
tersedia metode lain yang sesuai.
4) Pasca Persalinan (Tidak Menyusui)
Jika belum melebihi 21 hari pasca persalinan, implan dapat dipasang kapan
pun. Tidak diperlukan perlindungan kontrasepsi tambahan. Jika berada dalam
masa 21 hari pasca persalinan atau lebih dan belum kembali menstruasi, implan
dapat dipasang kapanpun selama dipastikan tidak hamil. Pengguna harus pantang
berhubungan seksual atau menggunakan perlindungan kontrasepsi tambahan
selama 7 hari berikutnya.
Jika sudah kembali menstruasi, implan dapat dipasang seperti pada perempuan
yang mendapat siklus menstruasi lainnya. Seorang perempuan sangat kecil
kemungkinannya untuk hamil selama 21 hari pertama pasca persalinan. Akan
tetapi untuk kepentingan program, beberapa metode kontrasepsi dapat diberikan
dalam periode ini.
5) Pasca Aborsi
Implan dapat segera dipasang pasca aborsi. Tidak diperlukan perlindungan
kontrasepsi tambahan.
6) Berganti dari Metode Hormon Lain
Jika metode hormon sebelumnya digunakan secara konsisten dan benar atau
perempuan tersebut diyakini tidak hamil, implan dapat segera dipasang. Tidak
perlu menunggu siklus menstruasi berikutnya.
Jika metode yang digunakan sebelumnya adalah metode suntik, maka implan
harus dipasang pada jadwal suntikan yang berikutnya. Tidak diperlukan
perlindungan kontrasepsi tambahan.
7) Berganti dari Metode Non-Hormon (Selain KB Implant)
Implan dapat segera dipasang selama dipastikan tidak hamil. Tidak perlu
menunggu siklus menstruasi berikutnya. Jika pengguna berada dalam masa 7 hari
pertama siklus menstruasi, ia tidak perlu menggunakan perlindungan kontrasepsi
tambahan. Jika sudah melebihi 7 hari pertama siklus menstruasi, ia harus pantang
berhubungan seksual atau menggunakan perlindungan kontrasepsi tambahan
selama 7 hari berikutnya.
E. PROSES PEMASANGAN KONTRASEPSI IMPLANT
Datanglah ke klinik, puskesmas, atau rumah sakit yang tersedia pemasangan
KB implant. KB implant harus dipasang oleh dokter, bidan, dan petugas kesehatan
yang sudah diberi pelatihan untuk memasang KB implant. Dokter mungkin akan
menunda pemasangan KB implant tergantung pada siklus menstruasi Anda atau
jika Anda sedang menggunakan metode kontrasepsi lain (Sulistyawati, 2013).
Proses pemasangan KB implant akan dimulai dengan memberi obat bius pada
bagian lengan atas yang tidak dominan yang akan dimasukkan susuk, supaya
Anda tidak merasa sakit. Dokter kemudian akan menggunakan jarum kecil untuk
memasukkan tabung susuk di bawah kulit yang sudah dibuat baal tersebut.
Keseluruhan prosesnya hanya berlangsung beberapa menit saja (Atikah
Proverawati, dkk., 2010).
Setelah susuk dipasang, Anda dianjurkan untuk tidak mengangkat barang
berat dulu selama beberapa hari. Anda harus kembali datang ke
dokter/klinik/puskesmas untuk mengganti susuk dengan yang baru, setelah 3
tahun atau sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan jenis KB implant yang Anda
pasang. Saat sudah lewat masanya, susuk akan berhenti berfungsi dan tidak lagi
melindungi Anda dari kehamilan (Abdul Bari Saifuddin, 2006).
Untuk mengeluarkan KB implant, kulit Anda akan dibius lagi, kemudian
dibuat sayatan kecil untuk menarik keluar susuk. Anda sebenarnya tak perlu
menunggu sampai 3 tahun untuk mengganti atau mengeluarkan KB implant,
sehingga kapanpun Anda ingin melepasnya, ini bisa dilakukan. Namun ingat,
jangan pernah melepas KB implan sendiri. Prosedur ini harus dilakukan oleh
tenaga medis profesional dan sudah terlatih (Atikah Proverawati, dkk., 2010).
F. CARA KERJA KONTRASEPSI IMPLANT
KB implant yang memiliki banyak kelebihan ini bekerja dengan cara sebagai
berikut (BKKBN, 2003):
1) Mengentalkan Lendir Leher Rahim/Serviks
Kadar levonorgestrel yang konstan berefek nyata terhadap lendir/mukus
serviks. Mukus tersebut menebal dan jumlahnya menurun, yang membentuk
sawar untuk penetrasi sperma atau mencegah sperma memasuki rahim.
2) Menggangu Proses Pembentukan Endometrium sehingga Sulit Terjadi
Implantasi
Levonorgestrel menyebabkan gangguan pada proses pembentukan lapisan
dinding rahim/endometrium yang menyebabkan lapisan dinding rahim menipis
sehingga jika ada sperma yang berhasil membuahi sel telur, telur tersebut akan
sulit menempel pada dinding rahim untuk memulai kehamilan.
3) Mengurangi Transportasi Sperma
Perubahan lendir leher rahim/serviks menjadi lebih kental dan sedikit
menyebabkan penghambatan pada pergerakan sperma.
4) Menekan Ovulasi karena Progesteron Menghalangi Pelepasan LH
Levonorgestrel menyebabkan pertahanan terhadap lonjakan Luteinizing
Hormone (LH), yaitu hormon yang berperan penting untuk ovulasi/pelepasan sel
telur dalam siklus bulanan. Jika seorang wanita tidak berovulasi, maka ia tidak
dapat hamil karena tidak ada sel telur untuk dibuahi.
G. KELEBIHAN KONTRASEPSI IMPLANT
KB implant memiliki banyak kelebihan yang dapat dirasakan oleh
penggunanya, antara lain (Syafrudin & Hamidah, 2007.):
1) Tidak mengganggu produksi Air Susu Ibu (ASI);
2) Praktis sebab pengguna tidak perlu repot-repot bolak-balik ke bidan untuk
suntik atau meminum pil setiap malam;
3) Masa pakai jangka panjang (3 atau 5 tahun);
4) Tingkat keberhasilan/efektivitasnya 97 – 99%
5) Kesuburan cepat kembali setelah pengangkatan KB implant;
6) Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen;
7) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam;
8) Dapat dicabut oleh tenaga kesehatan yang terlatih setiap saat sesuai dengan
kebutuhan pengguna
H. KEKURANGAN KONTRASEPSI IMPLANT
Setiap ada kelebihan pasti juga terdapat beberapa kekurangan. Penggunaan
KB implan juga memiliki beberapa kekurangan bagi penggunanya, antara lain
(Syafrudin & Hamidah, 2007):
1) KB implan harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih;
2) KB implan memerlukan pemasangan pembedahan minor, yaitu melalui
penyayatan 1,25 cm pada bagian dalam permukaan lengan yang tidak dominan.
Alat ini sulit untuk dilepaskan dan seharusnya tidak digunakan oleh seorang
wanita yang menderita tromboflebitis (pembengkakan pada pembuluh darah
balik/vena) aktif, perdarahan yang tidak dapat dijelaskan, penyakit atau tumor
hati yang aktif, maupun kanker payudara yang telah diketahui atau masih
dicurigai;
3) Tidak dapat mencegah pengguna terkena penyakit menular seksual
I. EFEK SAMPING KONTRASEPSI IMPLANT
KB implan juga menimbulkan beberapa efek samping. Kebanyakan pengguna
mengeluhkan beberapa hal, seperti nyeri kepala, nyeri dada, perasaan
mual/pening/pusing, maupun peningkatan/penurunan berat badan (Susilo Rini &
Feti Kumala D., 2016). Efek samping berupa nyeri tekan dan memar pada tempat
pemasangan juga kadang dirasakan oleh pengguna (Barbara R. Stright, 2004).
Pada kebanyakan pengguna, dapat menyebabkan perubahan pola menstruasi,
berupa perdarahan bercak/spotting, perdarahan haid yang banyak dan lebih lama
dari normal/hipermenorea, dan pemanjangan siklus haid dari biasanya atau tidak
terjadi haid minimal 3 bulan berturut-turut/amenorea (Susilo Rini & Feti Kumala
D., 2016).
Ibu tidak perlu khawatir, sebab tidak semua pengguna KB implan akan
mengalami efek samping tersebut, bahkan efek samping KB implant ini biasanya
akan membaik dan lama-lama menghilang seiring waktu. Beda hal nya jika ibu
adalah seorang perokok, maka risiko ibu mengalami efek samping dari KB implan
akan meningkat, oleh sebab itu dokter menyarankan pada wanita pengguna KB
impan untuk berhenti merokok (Susilo Rini & Feti Kumala D., 2016).
REFERENSI

Hanafi, H. 2010. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Edisi 7. Jakarta: Pustaka


Sinar Harapan.

Sulistyawati. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika.

Lasut, Veby Monica, dkk. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap


Pengetahuan Pus tentang Alat Kontrasepsi Implan
di Wilayah Kerja Puskesmas Nuangan Bolaang
Mongondow Timur. Jurnal Keperawatan 2014: 2(2).

Jannah, Ana Wardatul & Widjaka, Widja. 2012. Enjoy Your Pregnancy, Moms!.
Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

Syafrudin & Hamidah. 2007. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.

Sudarto. 2018. Buku Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah. Yogyakarta: Deepublish.

Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.


Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

WHO. 2009. Rekomendasi Praktik Pilihan untuk Penggunaan Kontrasepsi.


Jakarta: EGC.

Proverawati, Atikah, dkk., 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi: Langkah


Lengkap dengan Panduan Praktik Pemasangan dan
Penggunaannya. Yogyakarta: Nuha Medika.

BKKBN. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta:


BKKBN.

Rini, Susilo & Kumala D., Feti. 2016. Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Based
Practice. Yogyakarta: Deepublish.

Stright, Barbara R. 2004. Panduan Belajar: Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir.


Jakarta: EGC.