Anda di halaman 1dari 8

Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...

Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

AKTIVITAS AIR, KURVA SORPSI ISOTHERMIS SERTA PERKIRAAN UMUR


SIMPAN FLAKE UBI KAYU DENGAN VARIASI PENAMBAHAN KORO PEDANG
Water Activity, Moisture Sorption Isotherm and Shelf Life of Cassava Flake with Jack Bean
Addition

Triana Lindriati1)*, Maryanto1)


1)
Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, FakultasTeknologi Pertanian, Universitas Jember
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember
Jalan Kalimantan 37, Kampus Tegal Boto, Jember 68121
*E–mail: lindriatitriana@unej.ac.id

ABSTRACT

The aim of our study determined water activity value, moisture sorption isotherm characteristic
and predicted shelf life of cassava flake with variation of jack bean addition. The purpose of jack
bean addition in to the flake to increase protein content. The result showed that water activity content
of flake with 30% jack bean addition was 0,21±0,0034; 25% addition was 0,29±0,0027 and 20%
addition was 0,21±0,0041. The moisture sorption isotherm characteristic of the flake was adsorption
type (type II). Oswin equation can be used to predict the moisture content of flake related with
relative humidity of environment that suitable with sorption isotherm curve. Flake with 25% jack
bean addition packed in HDPE, stored in 85% relatie humidity room had highest selft life, that was
284 days. The lowest shelf life was flake with 25% and 20% addition packed in LDPE, stored in 95%
relative humidity. The value of the shelf life was 21 days

Keyword: packaging, moisture sorption isotherm, shelf life, water activity, cassava flake, jack bean

PENDAHULUAN Salah satu kelebihan produk flake adalah


Peningkatan jumlah penduduk mempunyai fungsi ganda yaitu bisa
mengakibatkan peningkatan kebutuhan digunakan untuk sarapan pagi, misalnya
akan pangan yang belum diiringi dengan dicampur dengan air susu, namun dapat
peningkatan produksi tanaman pangan, juga dianggap sebagai makanan ringan
khususnya beras, oleh karena itu yang bisa dikonsumsi langsung. Flake juga
diversifikasi pangan pokok diperlukan merupakan makanan siap saji yang praktis,
untuk peningkatan ketahanan pangan. mudah dan cepat dalam penyajiannya serta
Diversifikasi pangan pokok dapat awet. Umumnya bahan dasar yang
dilakukan dengan meningkatkan daya guna digunakan dalam pembuatan flake adalah
sumber pangan lokal seperti misalnya ubi jagung dan gandum, namun tidak menutup
kayu. Ubi kayu merupakan komoditas kemungkinan pemanfaatan ubi kayu.
pertanian yang tumbuh subur di Indonesia. Ubi kayu memiliki kandungan
Produksi ubi kayu cukup tinggi, sehingga protein yang relatif rendah, maka dalam
ubi kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuatan flake perlu adanya upaya untuk
makanan alternatif. Salah satu alternatif meningkatkan kandungan proteinnya,
pangan olahan yang dapat dikembangkan penambahan kacang-kacangan sebagai
adalah flake. sumber protein akan menutup kekurangan
Flake merupakan makanan sarapan tersebut (Permana dan Putri, 2015). Salah
siap saji yang berbentuk lembaran tipis, satu jenis kacang-kacangan yang dapat
berwarna kuning kecoklatan serta biasanya digunakan adalah koro pedang. Menurut
dikonsumsi dengan penambahan susu Bressani et al. (1987) koro pedang
sebagai menu sarapan (Hildayati, 2012). memiliki kandungan protein yang tinggi

129
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

hingga 32% dan produktifitas yang tinggi METODE PENELITIAN


hingga 4000 kg/ha sehingga potensial
untuk dikembangkan sebagai sumber Alat dan Bahan
protein pengganti kedelai. Bahan dasar yang digunakan dalam
Flake secara alami bersifat pembuatan flake adalah ubi kayu dan koro
higroskopis, artinya dapat menyerap air pedang, sedangkan bahan-bahan pembantu
dari udara sehingga perlu dilakukan yang digunakan adalah beras jagung, gula,
pengemasan yang memadai untuk garam dan telur. Pada penelitian ini
memperpanjang umur simpannya. persentase koro pedang divariasikan 30%,
Pengemasan sangat menentukan umur 25% dan 20% (b/b). Pengaturan
simpan suatu produk. Faktor-faktor yang kelembaban lingkungan dapat dilakukan
mempengaruhi umur simpan bahan yang dengan menggunakan berbagai larutan
dikemas diantaranya jenis bahan pengemas garam jenuh yaitu NaOH.H2O (aW =
dan kondisi lingkungan. Bahan pengemas 0,069), MgCl2.H2O (aw = 0,323),
menentukan permeabilitas gas-gas yang NaBr.2H2O (aw = 0,577) dan KCl (aw =
berpengaruh terhadap kerusakan pangan. 0,846), penentuan nilai aw menggunakan
Salah satu faktor lingkungan yang persamaan yang dikembangkan oleh
berpengaruh adalah Relative Humidity Labuza et al. (1985) dengan nilai suhu
(Robertson, 2010). Menurut Adawiyah rata-rata ruang 30oC.
(2006), bahan pangan kering seperti snack,
biskuit dan kerupuk dapat mengalami Tahapan Penelitian
kerusakan yang ditandai dengan penurunan Pembuatan flake ubi kayu
kekerasan atau kerenyahan karena adanya Pembuatan flake ubi kayu diawali
penyerapan air. dengan pengupasan dan pencucian yang
Penambahan koro pedang pada ubi dilanjutkan dengan steaming (100oC)
kayu akan mempengaruhi komposisi selama 1 jam. Beras jagung sebelum
protein dan karbohidrat secara keseluruhan dicampurkan dengan bahan yang lain
di dalam flake. Hal tersebut akan direndam selama 0,5 jam kemudian
mempengaruhi kemampuan flake mengikat dimasak dengan pressure cooker (Maxim)
air sehingga dapat mempengaruhi aktivitas selama 2 jam. Sedangkan koro pedang
air, kurva sorpsi isothermis dan umur direndam 12 jam dikuliti dan dimasak
simpan flake. Karakteristik hidrasi flake dengan pressure cooker selama 1 jam,
dapat digambarkan sebagai kurva sorpsi sebelum dicampurkan dengan bahan yang
isotermis yang dapat memberikan lainnya. Tahap berikutnya dilakukan
gambaran hubungan antara kadar air bahan pencampuran bahan dengan penambahan
dan kelembaban relatif seimbang telur, gula dan garam dengan komposisi
(ERH/Equilibrium Relative Humidity) 5%, 2,5% dan 0,5% (b/b) menjadi satu
ruang tempat penyimpanan atau aktivitas adonan dan kemudian digiling dengan
air (aw) pada suhu tertentu. Tujuan dari penggiling daging. Hasil gilingan berupa
penelitian adalah menentukan nilai aw dan silinder memanjang dengan diameter 2,5
kurva sorpsi isothermis dari flake ubi kayu mm dipotong dengan panjang ± 2 cm,
dengan persentase penambahan koro untuk kemudian dimasak dengan oven
pedang 20%, 25% dan 30%. Selain itu (regulating oven, selecta) pada suhu 65oC
dilakukan perhitungan perkiraan umur hingga kadar air mencapai 19 – 23 %.
simpan dari flake pada berbagai RH Setelah dioven, flake diturunkan suhunya
lingkungan dan jenis pengemas. hingga suhu ruang untuk kemudian dipress
dengan dongkrak hidrolik untuk
menghasilkan bentuk pipih, dengan
ketebalan (0,5- 1 mm). Flake yang telah

130
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

pipih kemudian di-toasting pada suhu kesetimbangan dengan nilai RH garam


250oC selama 2 – 3 menit dan disimpan jenuh.
dalam wadah yang di dalamnya terdapat
silika gel. Penentuan persamaan sorpsi isothermis
Penentuan persamaan Sorpsi
Metode Analisis isothermis menggunakan tiga persamaan
Penentuan aktivitas air (aw) flake ubi kayu matematis yaitu persamaan Oswin, Chen-
(Purnomo, 1995). Clayton dan Chung-Pfost, dimana
Pengamatan aw sampel dilakukan persamaannya adalah sebagai berikut:
dengan menggunakan alat cawan conway. Persamaan Oswin:
Sebanyak 1 gram sample (flake yang telah a
dipotong dengan ukuran ± 9 mm2) ln m  ln c  n. ln( w )
1  aw
dimasukkan dalam 4 cawan conway yang
telah diisi dengan larutan garam jenuh (keterangan : m = kadar air kesetimbangan;
NaOH(H2O), MgCl2.6H2O, NaBr.2H2O c = konstanta Oswin; aw = aktivitas air).
dan KCl. Pengamatan dilakukan dengan
menimbang sampel yang disimpan pada 4 Persamaan Chung-Pfost:
cawan conway selama 2, 4 dan 6 jam. Nilai
  1
ln m   ln     ln ln  a   ln ln T ln RH 
aw sampel dapat diketahui dengan
membuat grafik interpolasi antara   b 
perubahan berat sampel dengan nilai aw
masing-masing garam jenuh, Perpotongan (keterangan : m = kadar air kesetimbangan;
antara grafik dari tiga variasi waktu yaitu b dan a = konstanta Chung-Pfost; T = suhu
2, 4 dan 6 jam merupakan nilai aw dari ruang; RH = relative humidity yang
sampel.
nilainya dapat diperoleh dari 1/aw)
Pembuatan kurva sorpsi isotermis
Penentuan kurva sorpsi isotermis Persamaan Chen-Clayton:
 1 
pada penelitian ini menggunakan metode ln m  ln  d   ln ln  aT b   ln ln ln RH 
gravimetri statis dengan menggunakan  cT 
cawan conway. Timbang 1,5 gram flake (Keterangan: m = kadar air kesetimbangan;
dan letakkan pada bagian tengah cawan
conway. Timbang 5 gram garam c dan a = konstanta Chen-Clayton; T =
NaOH(H2O), MgCl2.6H2O, NaBr.2H2O suhu ruang; RH = relative humidity).
dan KCl taburkan diseputar flake pada
tempat yang telah disediakan pada cawan Pengujian persamaan sorpsi isothermis
conway. Teteskan 2 ml aquadest pada menggunakan Mean Relative
garam sehingga diperoleh larutan garam Determination (MRD):
100 n Mi  Mpi
 Mi
jenuh. Tutup cawan conway dan simpan
MRD 
dalam suhu ruang rata-rata 30oC, timbang n i 1
berat flake setiap hari sehingga diperoleh
berat konstan. Ukur kadar air flake setelah Dimana : Mi = kadar air hasil percobaan
beratnya konstan (kadar air Mpi = kadar air hasil
kesetimbangan). Nilai kadar air diukur perhitungan
dengan metode Thermogravimetri (AOAC, n = jumlah data
2007). Model kurva sorpsi isothermis
lembab dari flake dapat dibuat dengan Jika nilai MRD < 5 maka model sorpsi
menghubungkan nilai kadar air isotermis tersebut dapat menggambarkan
keadaan yang sebenarnya atau sangat tepat,

131
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

apabila 5<MRD<10 maka model tersebut Tabel 1. Permeabilitas uap air kemasan plastik
agak tepat dan jika MRD > 10 maka model polietilen dan polipropilen pada kondisi
suhu 30oC
tersebut tidak tepat menggambarkan
keadaan yang sebenarnya (Isse et al., Jenis Kemasan Permeabilitas
1983). Kemasan
(g/m2mmHg/24
jam)
Penentuan Umur Simpan Low Density Poliethylene 0,5
Umur simpan hingga produk
(LDPE)
mencapai batas kadar air kritis dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan Medium Density Poliethylene 0,3
yang dikembangkan oleh Labuza (1984) (MDPE)
sebagai berikut: Polypropilene (PP) 0,185
me  mi High Density Poliethylene 0,1
ln
 s  me  mc (HDPE)
P A Po
Sumber: Modern Plastic Encyclopedia
X Ws b
Pengukuran kadar air kritis dilakukan
Dimana: dengan meletakkan flake pada wadah
θs = waktu umur simpan (hari) terbuka sampai flake menjadi rusak yang
me = kadar air kesetimbangan produk ditandai dengan nampaknya pertumbuhan
(%berat kering) kapang, kemudian flake diukur kadar
mi = kadar air awal produk (%berat airnya dengan metode thermogravimetri
kering) (AOAC, 2007).
mc = kadar air kritis (% berat kering)
P/X = permeabilitas uap air kemasan
HASIL DAN PEMBAHASAN
(g/m2mmHg/24 jam)
A = luas permukaan kemasan (m2)
Aktivitas Air (Aw) Sample
Ws = berat bahan dalam kemasan (g) Nilai aktivitas air ketiga jenis flake
Po = tekanan jenuh uap air pada suhu dengan variasi komposisi ubi kayu : koro
penyimpanan (mmHg), yang pedang memiliki kisaran nilai yang hampir
diperoleh berdasarkan tabel vapor sama yaitu 0,21 – 0,29, dimana nilai aw
pressure pada suhu 30oC untuk flake dengan komposisi koro 30%
b = slope dari kurva sorpsi isotermis adalah 0,21 ± 0,0034 dan untuk flake
(yang diasumsikan linier) dengan komposisi koro 25% adalah 0,29 ±
0,0027 sedangkan untuk flake dengan
Perkiraan umur simpan flake ubi komposisi koro 20% adalah 0,21 ± 0,0041.
kayu digunakan berbagai jenis bahan Pada kisaran aw tersebut maka bahan
pengemas yang diketahui nilai cenderung awet dan sulit untuk ditumbuhi
permeabilitas kemasannya dapat dilihat
mikroorganisme, karena mikroorganisme
sebagai berikut: berupa bakteri, jamur dan kapang tidak
dapat hidup. Demikian pula oksidasi lemak
berjalan sangat lambat pada nilai aktivitas
air tersebut.
Kebanyakan bakteri tidak tumbuh
pada nilai aw dibawah 0,87. Beberapa
jamur xerofilik telah menunjukkan
kemampuan untuk tumbuh pada nilai aw
0,75 – 0,65 (Tapia et al., 2007). Menurut

132
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

Purnomo (1995), pada nilai aW antara 0,20 30

kadar air kesetimbangan (%)


sampai 0,60, air berperan sebagai pelarut
25
sehingga aktifitas enzim dan pencoklatan
non enzimatis dapat terjadi. Menurut Bell 20
(2007), pada nilai aw 0,2 - 0,3 oksidasi 15
lemak berjalan sangat lambat. Oleh karena
10
itu apabila nilai aw flake bisa
dipertahankan maka kerusakan karena 5
mikroorganisme maupun oksidasi lemak 0
bisa dihindari. 0,000 0,500 1,000
aw garam (%)
Kurva Sorpsi Isothermis
Gambar 2. Kurva sorpsi isothermis flake ubi kayu
Kurva sorpsi isothermis dapat
dengan komposisi koro 25%
diperoleh dengan membuat grafik
hubungan antara kelembaban relatif atau aw
35

Kadar air kesetimbangan (%)


lingkungan dengan kadar air
kesetimbangan. Kadar air kesetimbangan 30
bahan pangan akan bervariasi tergantung 25
pada kondisi bahan tersebut maka setiap 20
bahan juga mempunyai tipe kurva sorpsi 15
isothermis yang berbeda. Adapun kurva 10
sorpsi isothermis dari ketiga jenis flake 5
dengan komposisi yang berbeda disajikan
0
pada Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 0,000 0,500 1,000
3.
aw garam (%)
35 Gambar 3. Kurva sorpsi isothermis flake ubi kayu
Kadar air kesetimbangan (%)

30 dengan komposisi koro 20%

25
Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar
20 3 menunjukkan kurva sorpsi isothermis
15 flake bertipe adsorpsi karena proses sorpsi
10 air oleh bahan dimulai dari bahan kering.
5 Kurva sorpsi isothermis yang dihasilkan
dari penelitian ini merupakan tipe II yang
0
0,000 0,500 1,000
menurut Wolft et al. (1972) merupakan
model kurva makanan kering dengan
aw garam (%) karbohidrat tinggi. Kurva berbentuk
Gambar 1. Kurva sorpsi isothermis flake ubi kayu sigmoid ini menurut Adawiyah (2006)
dengan komposisi koro 30% disebabkan oleh adanya interaksi antara
permukaan bahan dengan molekul air dan
efek kapilarisme.
Berdasarkan kurva sorpsi isothermis
(Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 3)
apabila flake ubi kayu dengan penambahan
koro 30% disimpan pada RH ruang sekitar
80% akan memiliki nilai kadar air
kesetimbangan 30,94%, sedangkan flake
ubi kayu dengan penambahan koro 25%

133
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

akan memiliki nilai kadar air Tabel 2. Hasil perhitungan nilai MRD pada
kesetimbangan 24,01% dan flake dengan berbagai model persamaan dan
komposisi flake
penambahan koro 20% akan memiliki nilai
kadar air kesetimbangan 30,8%. Persamaan Konsentrasi Nilai
Berdasarkan data tersebut, flake ubi kayu koro pedang MRD
Oswin 30 % 1,70
dengan penambahan koro 30% dan 20% 25 % 1,33
lebih mudah menyerap air dibandingkan 20 % 1,67
dengan flake dengan penambahan koro Chung-Pfost 30 % 5,54
25%. Hal tersebut disebabkan karena pada 25 % 6,72
flake dengan penambahan koro 30% 20 % 7,98
Chen-Clayton 30 % 9,25
memiliki kandungan koro pedang paling 25 % 8,10
tinggi sehingga kadar proteinnya paling 20 % 9,34
tinggi. Semakin tinggi kandungan
proteinnya kemampuan mengikat air Berdasarkan Tabel 2 nilai MRD dari
semakin tinggi. Protein memiliki sifat persamaan Oswin adalah yang paling kecil
fungsional mudah menyerap air dan sehingga persamaan Oswin merupakan
menahannya dalam sistem pangan. Protein model yang paling tepat untuk
bersifat hidrofilik dikarenakan memiliki menggambarkan keseluruhan kurva sorpsi
banyak gugus polar. Pada flake ubi kayu isotermis flake ubi kayu. Nilai MRD untuk
dengan penambahan koro 20% memiliki persamaan Oswin rata-rata lebih kecil dari
kandungan pati paling banyak, dimana 5 (MRD<5), nilai MRD untuk persamaan
semakin banyak kandungan pati, maka Chung-Pfost dan Chen-Clayton antara 5
semakin banyak jumlah air yang diserap dan 10 (5<MRD<10). Menurut Isse et al.
saat gelatinisasi sehingga kadar air flake (1983), jika nilai MRD < 5 maka model
semakin tinggi. sorpsi isothermis tersebut dapat
Flake ubi kayu dengan penambahan menggambarkan keadaan yang sebenarnya,
koro 25% cenderung sulit untuk menyerap apabila nilai MRD antara 5 dan 10 maka
air. Hal ini ditandai dengan kenaikan kadar model tersebut agak tepat dan jika MRD >
air yang kecil seiring dengan kenaikan nilai 10 maka persamaan tersebut tidak tepat
aw-nya. Dibandingkan dengan dua jenis menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
flake yang lain flake tersebut memiliki Perhitungan umur simpan flake ubi kayu
kandungan protein dan karbohidrat yang dengan persamaan Heiss dan Eichner dapat
menengah. Diduga pada komposisi tersebut dilihat pada Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5.
terjadi interaksi antara molekul protein dan Perhitungan kadar air keseimbangan pada
karbohidrat yang mengakibatkan persamaan tersebut dilakukan dengan
penurunan afinitasnya terhadap air. menggunakan persamaan Oswin.

Penentuan Umur Simpan Tabel 3. Hasil perhitungan umur simpan flake ubi
Tabel 2 menunjukkan hasil kayu dengan penambahan koro 30 %.
perhitungan MRD yang digunakan untuk Jenis Permeabilitas Umur simpan
menguji persamaan sorpsi isothermis dari Kemasan Kemasan pada
model-model persamaan matematis dengan (g/m2mmHg/24 RH RH
model Oswin, Chung-Pfost dan Chen- jam) 85% 95%
Clayton. Hasil perhitungan kadar air HDPE 0,1 255 113
kesetimbangan dan nilai MRD untuk PP 0,185 138 60
masing-masing model persamaan dan MDPE 0,3 85 38
kelembaban dapat dilihat Tabel 2. LDPE 0,5 51 23

134
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

Tabel 4. Hasil perhitungan umur simpan flake ubi Pada Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5
kayu dengan penambahan koro 25%. dapat diketahui bahwa umur simpan flake
Jenis Permeabilitas Umur simpan ubi kayu paling lama adalah dengan
Kemasan Kemasan pada penambahan koro 25% dikemas dengan
(g/m2mmHg/24 RH RH HDPE pada ruang dengan RH 85% selama
jam) 85% 95% 284 hari, sedangkan umur simpan flake ubi
HDPE 0,1 284 106 kayu paling pendek adalah penambahan
PP 0,185 154 58 koro 25% dan 20% dikemas dengan LDPE
MDPE 0,3 95 35 pada RH 95% selama 21 hari.
LDPE 0,5 57 21
KESIMPULAN
Tabel 5. Hasil perhitungan umur simpan flake ubi
kayu dengan penambahan koro 20%.
Produk flake pada penelitian ini
memiliki rentang nilai aw 0,21 – 0,29.
Jenis Permeabilitas Umur simpan Flake ubi kayu dengan penambahan koro
Kemasan Kemasan pada pedang merupakan produk yang awet yang
(g/m2mmHg/24 RH RH sulit ditumbuhi mikroorganisme dan
jam) 85% 95% mengalami reaksi oksidasi. Kurva sorpsi
HDPE 0,1 236 105 isothermis flake ubi kayu berbentuk
PP 0,185 127 57
sigmoid (menyerupai huruf S) dan
MDPE 0,3 78 35
merupakan kurva sorpsi isothermis
LDPE 0,5 47 21
adsorpsi. Hal tersebut menunjukkan flake
mudah menyerap air, oleh karena itu
Berdasarkan data umur simpan flake pemilihan pengemas yang rendah nilai
ubi kayu (Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5) transfer uap airnya sangatlah penting.
menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Apabila flake dengan komposisi koro
permeabilitas kemasan maka umur simpan pedang 25 % dikemas dengan kemasan
flake ubi kayu akan semakin pendek. Hal HDPE dan disimpan pada ruang dengan
ini disebabkan karena semakin tinggi RH 85% akan memiliki umur simpan 284
permeabilitas kemasan maka tingkat hari.
kerapatan kemasan semakin rendah,
sehingga proses difusi uap air dan oksigen DAFTAR PUSTAKA
terhadap bahan yang dikemas juga semakin Adawiyah, D.R. 2008. “Hubungan Sorpsi Air,
besar. Peningkatan difusi uap air dan Suhu Transisi Gelas dan Mobilitas Air
oksigen dapat meningkatkan terjadi proses serta Pengaruhnya Terhadap Stabilitas
kerusakan bahan akibat pertumbuhan Produk pada Model Pangan”. Disertasi.
mikroba maupun oksidasi. Penggunaan Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian
kemasan yang permeabilitasnya rendah Bogor, Bogor.
dapat mengurangi pertumbuhan jamur dan AOAC International. 2007. Official Methods of
proses oksidasi dalam flake ubi kayu Analysis, 18 th edn, 2005. AOAC
selama penyimpanan. Umur simpan ubi International, Gaithersburg, MD.
kayu juga dipengaruhi oleh RH lingkungan Bell, L.N. 2007. Moisture effect on Food’s
tempat penyimpanan, dimana semakin Chemical Stability. In: Water Activity in
tinggi RH lingkungan umur simpan flake Foods: Fundamentals and Applications.
ubi kayu semakin pendek. Hal ini Barbosa-Canovas, G.V., Fontana Jr.,
disebabkan semakin tinggi RH maka A.J., Schmidt, S.J., Labuza, TP (ed).
penyerapan uap air dari lingkungan juga Blackwell Publishing. Iowa, USA.
semakin besar, sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya peningkatan
kadar air bahan.

135
Aktivitas Air, Kurva Sorpsi Isothermis serta Perkiraan Umur ...
Jurnal Agroteknologi Vol. 10 No. 02 (2016)

Bressani, R., Brenes, R.G., Garcia, A. And


Elias, L.G. 1987. Chemical composition,
amino acid content and protein quality
of Canavalia spp. Seeds. Journal of
Science Food Agriculture, 40: 17–23.
Hildayanti. 2012. “Studi Pembuatan Flakes
Jewawut (Setaria italica)”. Skripsi.
Universitas Hasanuddin, Makassar
Isse, M.G., Schuchmann, H and Schubert, H.
1983. Divided Sorption Isotherm
Concept an Alternative Way to Describe
Sorption Isotherm Data. Journal of Food
Engineering, 16: 147–157
Labuza, T.P, Kaanane, A. and Chen, J.Y.,
1985. Effect of temperature on the
moisture sorption isotherms and water
activity shift of two dehydrated foods.
Journal of Food Science, 50: 385–397.
Labuza, T.P., 1984. Practical Aspects of
Isotherm Measurement and Use.
America Association of Cereal
Chemistry, St. Paul, Minnesota
Permana, R.A. dan Putri, W.D.R, 2015.
Pengaruh proporsi jagung dan kacang
merah serta substitusi bekatul terhadap
karakteristik fisik kimia flakes. Jurnal
Pangan dan Agroindustri, 3 (2): 734–
742.
Purnomo, H. 1995. Aktivitas Air dan
Peranannya dalam Pengawetan Pangan.
Universitas Indonesia, Jakarta.
Robertson, G.L., 2010. Food Packaging and
Shelflife. CRC Press, New York.
Tapia, M.S., Alzamora, S.M. and Chirife, J.,
2007. Effects of water activity (aw) on
microbial stability: As a Hurdle in Food
Preservation. In: Water Activity in
Foods: Fundamentals and Applications.
Barbosa-Canovas, G.V., Fontana Jr.,
A.J., Schmidt, S.J., Labuza, TP (ed).
Blackwell Publishing. Iowa. USA.
Wolft, M., Walker, J.E. and Kapsalis, J.G.,
1972. Water vapor sorption hyteresis in
dehydrated food. Journal of agricultural
and Food Chemistry, 20: 1073.

136