Anda di halaman 1dari 35

LEMBAR PENGESAHAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI MULYO


NOMOR /SK/DIR/IV/2018
TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN TUBERCULOSIS DENGAN STRATEGI DOT
RUMAH SAKIT BUDI MULYA

Tindakan Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

Anis Irawati, S Kep.Ns Komite


Disiapkan
keperawatan

Authorized
Diperiksa Niken Larasati, SE
Person

Dr.H. Dwi Prasetyo Manager


Diperiksa
Okta Agung.W pelayanan medis

Disetujui dr. Prima Evita, MMR Plt. Direktur


KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI MULYO
NOMOR MMM/SK/DIR/IV/2018
TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN TUBERCULOSIS DENGAN STRATEGI DOT

: 1. Bahwa sesuai dengan tugas pokok dan fungssi rumah sakit dituntut untuk
Menimbang Bahwa dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan terutama pasien
Tuberculosis dengan strategi DOTS memerlukan koordinasi disetiap lini
pelayanan.
2. Bahwa untuk melaksanakan hal tersebut diperlukan Kebijakan Pedoman
Penyelenggaraan Tuberculosis dengan Strategi DOTS
3. Bahwa untuk maksud di atas perlu ditetapkan dalam Keputusan Direktur
Rumah sakit Budi Mulya
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364/Menkes/SK/V/ 2009 tentang
Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.07.06/III/2371/ 09 tentang Ijin
Penyelenggaraan Rumah sakit
MEMUTUSKAN
Menetapkan : 1. Seluruh pelaksana pelayanan di tiap unit pelayanan rumah sakit
mempunyai kewajiban untuk menjaring pasien-pasien yang memiliki
gejala menderita TB (suspek pasien TB)
Pertama : 2. Penegakan diagnosis dan pengobatan pasien TB adalah mengacu pada
Standar WHO dan ISTC (International Standart of Tuberculosis Care)
Kedua : 3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
Ketiga : 4. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dan atau kesalahan dalam
penetapan ini, akan diadakan perubahan dan atau perbaikan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Kesamben
Tanggal : Xxxxxx, Agustus
2018
Direktur,
Rumah Sakit Budi Mulyo

dr. Prima Evita, MMR


NIK. 01.0217.001
Lampiran
Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Budi Mulyo
Nomor : Xxxx/SK/DIR/XIII/2018
Tentang : Pedoman Penyelenggaraan
Tuberculosis Dengan Strategi Dot
Tanggal : Agustus 2018

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada tahun 1990, hampir sepertiga penduduk dunia ter infeksi tuberkulosis dan diperkirakan ada
9 juta pasien tuberkulosis baru dan3 juta kematian akibat penyakit tuberkulosis. Sekitar 95%
kasus dan 98% kematian akibat tuberkulosis di dunia, terdapat di negara-negara berkembang.
Penyebab utama meningkatnya masalah tuberkulosis antara lain adalah:
1. Komitmen politik khususnya pendanaan yang tidak memadai
2. Organisasi pelayanan tuberkulosis yang belum memadai (kurangnya akses ke pelayanan,
obat tidak selalu terjamin ketersediaannya, keterbatasan jumlah pengawas menelan obat,
pencatatan dan pelaporan yang belum standar, dsb.)
3. Tatalaksana kasus yang belum memadai (penemuan kasus dan pengobatan yang tidak
standar)
4. Dampak pandemi HIV dan berkembangnya masalah MDR-TB

Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan tuberkulosis sebagai
kedaruratan dunia (global emergency). WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi
penanggulangan tuberkulosis yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment
Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang efektif (cost-efective).
Global Plan untuk tahun 2006-2015 WHO merekomendasikan 6 elemen kunci Strategi Stop
Tuberkulosis, yang terdiri dari :
1. Meningkatkan dan memperluas Ekspansi DOTS yang berkualitas
Komponen-komponen tambahan
a. Memperhatikan masalah.TB/HIV and MDR-TB
b. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
c. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan
d. Memberdayakan pasien tuberkulosis dan masyarakat
e. Memberdayakan dan meningkatkan penelitian

Pada tahun 2005 International Standard for Tuberculosis Care (ISTC) dikembangkan oleh semua
organisasi profesi international, dan standar tersebut juga didukung oleh organisasi profesi di
Indonesia untuk dilaksanakan. ISTC merupakan standar yang harus dipenuhi dalam menangani
pasien tuberkulosis, yang terdiri dari 6 standar untuk penegakkan diagnosis, 9 standar untuk
pengobatan dan 2 standar untuk fungsi tanggungjawab kesehatan masyarakat. (lihat lampiran)

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam ISTC tersebut adalah:


1. Standar tersebut dibuat dan akan digunakan oleh semua profesi yang terkait dalam
penanggulangan tuberkulosis di semua tempat
2. Standar digunakan untuk menangani semua pasien tuberkulosis, balk tuberkulosis anak,
tuberkulosis paru BTA positif dan BTA negatif, extra paru, MDR TB dan juga TB/HIV.
3. Semua profesi yang menangani tuberkulosis harus memahami fungsi kesehatan masyarakat
dengan tingkat tanggung jawab yang tinggi terhadap masyarakat dan pasien
4. Konsisten dengan pedoman international yang sudah ada
B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan Umum
Tuberkulosis tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia.
2. Tujuan Khusus
a. Menurunkan angka kesakitan (prevalensi dan insidensi) dan angka kematian tuberkulosis
menjadi separuhnya pada tahun 2015 untuk mencapai Millenium Development Goals
b. Menurunkan resistensi terhadap OAT

C. BATASAN OPERASIONAL
1. TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya.
2. Cara penularan
a. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
b. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan
dahak.
c. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu
yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman.
d. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
e. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien
tersebut.
f. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi
percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebu
1) Risiko penularan
a) Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB
paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
b) Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu
tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang di antara 1000 penduduk
terinfeksi setiap tahun.
c) ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.
d) Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.
e) Risiko menjadi sakit TB
2) Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.
3) Dengan ARTI 1%, diperkirakan di antara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000
terinfeksi TB dan 10% di antaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.
Sekitar 50 di antaranya adalah pasien TB BTA positif.
4) Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya
tahan tubuh yang rendah, di antaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).
D. LANDASAN HUKUM
1. Undang–Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495 );
2. Undang–Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun
1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886);
3. Undang-undang Nomor Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437)
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/XI/ 2001 tentang Susunan
Organisasi dan Tatakerja Depkes RI;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 565/Menkes/Per/III/ 2011 tentang Strategi Nasional
Pengendalian Tuberkulosis tahun 2011-2014;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364/Menkes/SK/V/2009 tentang Pedoman
Penanggulangan Tuberkulosis (TB).
BAB II STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM Tim TB-DOTS adalah :
No Nama Jabatan Kualifikasi Formal Keterangan
1. Bersertifikat
1 Ketua Tim TB-DOTS pelatihan DOTS
2. Dr. Spesialis paru
1. Bersertifikat
pelatihan DOTS
2 Dokter Poli TB-DOTS
2. Minimal dokter
umun
1. Bersertifikat
pelatihan TB DOTS
3 Perawat Poli TB-DOTS 2. Minimal berijasah
D3 Keperawatan

1. Bersertifikat
pelatihan TB DOTS
4 Farmasi
2. Minimal berijazah
D3 farmasi
1. Bersertifikat
pelatihan TB DOTS
5 Analis Laboratorium
2. Minimal berijasah
analis

6 Administrasi

B. DISTRIBUSI KETENAGA AN

Pola pengaturan ketenagaan Tim TB-DOTS (MINIMAL) yaitu:


NO JENIS TENAGA PAGI SIANG MALAM LIBUR JUMLAH
1. Ketua Tim TB-DOTS 1 - - - 1
2. Dokter Poli TB-DOTS 1 - - - 1
3. Perawat Poli TB-DOTS 1 - - - 1
4. Analis Laboratorium 1 - - - 1
5. Administrasi 1 - - - 1
JUMLAH 5 - - - 5
BAB III STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANG
Ruangan Poli TB-DOTS terletak di ……………. Denah ruangan Poli TB-DOTS sebagai berikut:

STANDAR FASILITAS
STANDAR SARANA RUANGAN POLI TB-DOTS

No Nama barang Jumlah


1. Meja 2
2. Kursi 6
3. Tempat tidur periksa pasien 1
4. Lemari arsip 1
5. Box x-ray 1
6. Stetoskop 1
7. Tensimeter 1
8. Timbangan berat badan 1
9. Masker 1 box
10. Buku laporan TB 1
11. Kipas angin 1
12. Lemari penyimpanan OAT 1
13. Handscoon 1
14. Wastafel 1
15. Telefon 1
16. Tempat sampah infeksius 1
17. Tempat sampah non infeksius 1
18. Pigora 1
19. Papan nama ruangan 1
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN

A. ALUR PELAYANAN PASIEN TUB ERKULOSI S


1. JEJARING INTERNAL

a. Suspek tuberkulosis atau pasien tuberkulosis dapat datang ke Poli Umum, IGD atau
langsung ke poli spesialis (Penyakit Dalam. Paru)
b. Suspek tuberkulosis dikirim untuk dilakukan pemeriksaan penunjang (Laboratorium
Mikrobiologi, PK, PA dan Radiologi).
c. Hasil pemeriksaan penunjang dikirim ke Dokter yang bersangkutan. diagnosis dan
klasifikasi dilakukan oleh dokter poliklinik masing-masing atau Unit DOTS.
d. Setelah diagnosis tuberkulosis ditegakkan pasien dikirim ke Unit DOTS untuk registrasi
(bila pasien meneruskan pengobatan di rumah sakit tersebut), penentuan PMO,
penyuluhan dan pengambilan obat, pengisian Kartu Pengobatan Tuberkulosis (TB-01).
Bila pasien tidak menggunakan obat paket, pencatatan dan pelaporan dilakukan di
Poliklinik masing-masing dan kemudian dilaporkan ke Unit DOTS.
e. Bila ada pasien tuberkulosis yang dirawat dibangsal, petugas bangsal menghubungi unit
DOTS untuk registrasi pasien(bila pasien meneruskan pengobatan di rumah sakit
tersebut). Paket OAT dapat diambil di Unit DOTS.
f. Pasien tuberkulosis yang dirawat inap, saat akan keluar dari RS harus melalui Unit DOTS
untuk konseling dan penanganan lebih lanjut dalam pengobatannya
g. Rujukan (pindah) dari/ ke UPH lain, berkoordinasi dengan unit DOTS (lihat gambar alur
rujukan)
2. JEJARING EKSTERNAL
Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, RS, puskesmas dan
unit pelayanan TB lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS.
a. Tujuan jejaring eksternal :
1. Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang berkualitas,
mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan
2. Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi
jumlah pasien yang putus berobat .
b. Dinas Kesehatan berfungsi :
1) Koordinasi antara rumah sakit dan UPK lain
2) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis.
3) Koordinasi sistem surveilens
4) Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi
penerapan strategi DOTS di rumah sakit.
5) Menyediakan tenaga/ petugas untuk mengumpulkan laporan
c. Tim TB-DOTS
Untuk melaksanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Tim TB-DOTS.
Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan
1) Seorang koordinator jejaring DOTS rumah sakit di tingkat propinsi atau kabupaten
kota yang bekerja penuh waktu.
2) Peran aktif Wasor Propinsi/Kabupaten/kota
3) Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas
4) Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa
o formulir rujukan
o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk
o daftar nama dan nomor telepon petugas
5) Dukungan & kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK
penerima rujukan
6) Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS
dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan
melibatkan semua pihak lain yang terkait.
d. Tugas Koordinator Jejaring DOTS Rumah Sakit
1) Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik.
2) Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota
3) Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan
menyelesaikan pengobatannya.
4) Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti
5) Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS
6) Validasi data pasien di rumah sakit
7) Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi Hospital DOTS

B. MEKANISME RUJUKAN DA N PINDAH


1. Prinsip : memastikan pasien tuberkulosis yang dirujuk/ pindah akan menyelesaikan
pengobatannya dengan benar di tempat lain
2. Mekanisme rujukan dan pindah pasien ke UPK lain (dalam satu Kab/Kota)
a. Apabila pasien sudah mendapatkan pengobatan di rumah sakit, maka harus dibuatkan
Kartu Pengobatan TB (TB.01) di rumah sakit
b. Untuk pasien yang dirujuk dari rumah sakit surat pengantar atau formulir TB.09 dengan
menyertakan TB.01 dan OAT (bila telah dimulai dibuat pengobatan)
c. Formulir TB.09 diberikan kepada pasien beserta sisa OAT untuk diserahkan kepada UPK
yang dituju
d. Rumah sakit memberikan informasi langsung (telepon atau SMS) ke Koordinator HDL
tentang pasien yang dirujuk
e. UPK yang telah menerima pasien rujukan segera mengisi dan mengirimkan kembali
TB.09 (lembar bagian bawah) ke UPK asal.
f. Koordinator HDL memastikan semua pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan di
UPK yg dituju (dilakukan konfirmasi melalui telepon atau SMS)
g. Bila pasien tidak ditemukan di UPK yang dituju, petugas tuberkulosis UPK yang dituju
melacak sesuai dengan alamat pasien
h. Koordinator HDL memberikan umpan balik kepada UPK asal dan wasor tentang pasien
yang dirujuk.
3. Mekanisme merujuk pasien dari rumah sakit ke UPK Kab/Kota lain : Mekanisme rujukan
sama dengan di atas, dengan tambahan :
a. Informasi rujukan diteruskan ke Koordinator HDL Propinsi yang akan menginformasikan
ke Koordinator Kab/ Kota yang menerima rujukan, secara telepon langsung atau dengan
SMS
b. Koordinator HDL propinsi memastikan bahwa pasien yang dirujuk telah melanjutkan
pengobatan ke tempat rujukan yang dituju.
c. Bila pasien tidak ditemukan maka Koordinator HDL propinsi harus menginformasikan
kepada Wasor atau Koordinator HDLKabupaten/ Kota untuk melakukan pelacakan
pasien.

C. PELACAKAN KASUS MANG KIR DI RUMAH SAKIT


Pasien dikatakan mangkir berobat bila yang bersangkutan tidak datang untuk periksa ulang /
mengambil obat pada waktu yang telah ditentukan.
Bila keadaan ini masih berlanjut hingga 2 hari pada fase awal atau 7 hari pada fase lanjutan,
maka petugas di unit DOTS RS harus segera melakukan tindakan di bawah ini:
1. Menghubungi pasien langsung / PMO
2. Menginformasikan identitas klien alamat lengkap pasien mangkir ke wasor kabupaten/ Kota
atau langsung ke puskesmas agar segera dilakukan pelacakan.
3. Hasil dari pelacakan yang dilakukan oleh petugas puskesmas segera diinforrnasikan kepada
rumah sakit. Bila proses ini di menemui hambatan harus diberi tahu ke koordinatornya
jejaring DOTS rumah sakit.

D. PILIHAN PENANGANAN PASIEN BERDASARKAN KESEPAKATAN ANTARA PAS IEN


DAN DOKTER
Rumah sakit mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan
kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah
Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada
yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam
mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai
dengan beberapa pertimbangan :
a. Tingkat sosial ekonomi pasien
b. Biaya konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis)
c. Biaya transportasi
d. Kemampuan rumah sakit

Pilihan 1 :Rumah sakit menjaring suspek tuberkulosis, menentukan diagnosa dan klasifikasi
pasien serta melakukan pengobatan, kemudin merjukan ke puskesmas/UPK lain untuk
melanjutkan pengobatan tetapi pasien kembali ke rumah sakit untuk konsultasi keadaan klinis/
periksa ulang
Pilihan 2 : Rumah sakit menjaring suspek tuberkulosis dan menentukan diagnosis dan klasifikasi
pasien , kemudian merujuk ke puskesmas
Pilihan 3 : Rumah sakit menjaring suspek tuberkulosis dan menentukan diagnosis dan klasifikasi
pasien serta memulai pengobatan , kemudian merujuk ke puskesmas
Pilihan 4 : Rumah sakit melakukan seluruh kegiatan pelayanan DOTS

Hal yang penting diktahui :


Plihan 3 : hanya disarankan untuk rumah sakit yang telah mencapai angka konversi telah
mencapai Iebih dari 80%
Pilihan 4 : hanya disarankan untuk ruma hsakit yang telah mencapai angka sukses rate telah
mencapai Iebih dari 85%

E. TATA LAKSANA PENERIMAAN BARANG LOGISTIK OBAT & ALAT KESEHATAN


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Manajer logistic
b. Staf pembelian medis dan non medis
c. Staf gudang umum
2. Perangkat Kerja
a. Sistem informasi manajemen logistic
b. Surat pemesanan sementara
c. Faktur pembelian
d. Lembar berita acara penerimaan barang
3. Tata Laksana
a. System penerimaan barang kebutuhan logistic obat dan alat kesehatan dengan
menggunakan system informasi manajemen logistic (SPO Pengunaan SIM Logistik – SPO)
b. Proses penerimaan barang dari supplier ke logistic harus melalui bagian logistic / staf
pembelian medis atau non medis. petugas akan memeriksan kesesuaian surat
pemesanan dan faktur pengiriman barang (SPO Penerimaan Barang Logistik Obat & Alat
Kesehatan – SPO )
c. Setiap penerimaan barang staf pembelian dilakukan input data ke SIM Logistik sebagai
laporan dan barang disimpan sampai diterimanya barang oleh unit peminta.
F. TATA LAKSANA DISTRIBUSI LOGI STIK OBAT DAN ALAT KESEHATAN
1. Petugas Penanggung Jawab
a. Staf gudang umum
2. Perangkat Kerja
a. Sistem informasi manajemen logistic
b. Lembar permintaan barang ke gudang
c. Lembar penyerahan barang ke unit peminta
3. Tata Laksana
a. Sistem pengambilan barang kebutuhan logistic obat dan alat kesehatan dengan
menggunakan system informasi manajemen logistic (SPO Pengunaan SIM Logistik – SPO
/ / )
b. Penerimaan dan penyimpanan barang non sediaan sementara dapat dilakukan di
Logistik sampai diterimanya barang oleh unit peminta.
c. Penerimaan dan penyimpanan barang sediaan dilakukan oleh gudang umum, setelah
barang di lakukan penerimaan, maka unit peminta dapat melakukan pengambilan sesuai
dengan lembar permintaan barang yang diinginkan. (SPO Distribusi Logistik Obat & ALat
Kesehatan – SPO / / )
d. Unit gudang umum akan segera melakukan input data penyerahan barang dan dicetak di
lembar kertas saat barang yang diinginkan oleh unit peminta diambil.

BAB V LOGISTIK

Pengelolaan logistik penanggulangan TB merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi


perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi.

A. JENIS LOGISTIK PROGR AM PENANGGULANGAN TB


Logistik penanggulangan TB terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik Obat Anti TB (OAT) dan
logistik lainnya.
1. Logistik OAT
Paket OAT anak dan dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu :
a. OAT dalam bentuk obat kombinasi dosis tetap (KDT) atau Fixed Dose Combination (FDC)
yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet.
b. OAT dalam bentuk Kombipak yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini
disediakan khusus untuk pengatasi efek samping KDT. Khusus untuk dewasa terdiri dari
kategori 1, kategori 2 dan sisipan. 40
2. Logistik non OAT
a. Alat Laboratorium terdiri dari :
Mikroskop, slide box, pot sputum, kaca sediaan, rak pewarna dan pengering, lampu
spiritus, ose, botol plastik bercorong pipet, kertas pembersih lensa mikroskop, kertas
saring, dan lain lain.
b. Bahan diagnostik terdiri dari :
Reagensia Ziehl; Neelsen, eter alkohol, minyak imersi, lysol, tuberkulin PPD RT 23 dan
lain lain.
c. Barang cetakan seperti
Buku pedoman, formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE.
B. PENGELOLAAN OBAT ANTI TB
1. Perencanaan Kebutuhan Obat
Perencanaan kebutuhan OAT dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah
(bottom up planning), dan dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya.
Perencanaan kebutuhan OAT memperhatikan :
a. Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya,
b. Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan,
c. Buffer-stock (tiap kategori OAT),
d. Sisa stock OAT yang ada,
e. Perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi
kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Perencanaan kebutuhan OAT dimulai dari:
1) Tingkat sarana pelayanan kesehatan
Setiap sarana pelayanan kesehatan menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan
bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota.
2) Tingkat Kabupaten/Kota
Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan
Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kab/Kota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur program, Farmasi, Bagian
Perencanaan Dinas Kesehatan dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping
rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket
kombipak atau lepas untuk antisipasi efek samping KDT sebanyak 2-5 % dari
perkiraan pasien yang akan diobati.
3) Tingkat Provinsi
Provinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota
dan menghitung kebutuhan buffer stok untuk tingkat provinsi, perencanaan ini
diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan provinsi ke pusat, sudah
memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer
stok yang tersisa di provinsi.
4) Tingkat Pusat
Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana :
kebutuhan kabupaten/kota, buffer stok provinsi, dan buffer stok di tingkat pusat.
2. Pengadaan OAT
Kabupaten/Kota maupun Provinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan
pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Penyimpanan dan pendistribusian OAT
OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan
masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat
kabupaten/kota maupun tingkat provinsi.
OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Provinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat.
Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat
yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih
awal.
Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di provinsi dilakukan untuk menjamin
berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari Departemen Farmasi ke sarana
pelayanan kesehatan dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah,
kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa.
4. Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik
dan merupakan alat pencatatan/ pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK
mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke provinsi setiap triwulan dengan
menggunakan formulir TB. Pengelola program bersama Farmakmin Provinsi, melaporkan
stock yang ada di Provinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan.
Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Provinsi. Secara fungsional
pelaksana program TB provinsi dan Kabupaten/Kota juga melakukan pembinaan pada saat
supervisi.
5. Pengawasan Mutu
Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada
saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Provinsi, Kabupaten/Kota dan sarana pelayanan
kesehatan, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai
POM dan Ditjen Binfar
6. Pemantauan Mutu OAT
Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi:
a. Keutuhan kemasan dan wadah
b. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan
c. Leaflet dalam bahasa Indonesia
d. Nomor batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial, box dan
master box
e. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan
f. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes/ Gudang Farmasi.
Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium.
Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek-aspek sebagai
berikut:
1) Identitas obat
2) Pemberian
3) Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan
4) Waktu hancur atau disolusi
5) Kemurnian/ kadar cemaran
6) Kadar zat aktif
7) Uji potensi
8) Uji sterilitas
7. Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada :
a. Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian BPOM;
b. Direktur Jenderal PP dan PL, cq Direktur P2ML;
c. Direktur Jenderal Binfar dan Alkes, cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan;
d. Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik;
e. Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat, harus segera dilaporkan kepada
Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti; dan
Pihak lain yang terkait.
8. Tindak lanjut dapat berupa :
a. Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi, maka akan dilakukan
bacth re-call (ditarik dari peredaran).
b. Dilakukan tindakan sesuai kontrak
c. Dimusnahkan sesuai aturan yang berlaku.
C. PENGELOLAAN LOGIST IK NON OAT
Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT.
1. KEBUTUHAN LOGISTIK NON OAT
a. Bahan laboratorium dan formulir pencatatan dan pelaporan: perhitungan berdasarkan
pada perkiraan pasien BTA positif yang akan diobati dalam 1 tahun.
b. Logistik penunjang lainnya (seperti: buku Pedoman TB, Modul Pelatihan, Materi KIE)
dihitung berdasarkan kebutuhan.

BAB VI KESELAMATAN PASIEN

A. PENGERTIAN
1. KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY)
adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi:
a. Asesmen risiko
b. Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
c. Pelaporan dan analisis insiden
d. Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
e. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
Sistem ini mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh:
a. Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
b. Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

2. KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN (KTD)/ADVERSE EVENT


Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cidera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan
bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cidera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah

3. KTD YANG TIDAK DAPAT DICEGAH/UNPREVENTABLE ADVERSE EVENT


Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan
mutakhir
4. KEJADIAN NYARIS CIDERA (KNC)/NEAR MISS
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat menciderai pasien,
tetapi cidera serius tidak terjadi :
 Karena “ keberuntungan”
 Karena “ pencegahan ”
 Karena “ peringanan ”

5. KESALAHAN MEDIS/MEDICAL ERRORS
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cidera pada pasien

6. KEJADIAN SENTINEL/SENTINEL EVENT


Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cidera yang serius; biasanya dipakai
untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti : operasi
pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cidera yang terjadi (seperti, amputasi
pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan
adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

B. TUJUAN
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di rumah sakit
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD)
C. STANDAR KESELA MATAN PASIEN
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
D. TATA LAKSANA SASARAN KESELAMATAN PASIEN
1. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien
2. Melaporkan pada dokter jaga IGD
3. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
4. Mengobservasi keadaan umum pasien
E. TATA LAKSANA PENANGA NAN KEJADIAN KESEL AMATAN PASIEN
1. KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN
Kegiatan untuk melakukan verifikasi atas kebenaran atau kesesuaian sosok orang yang akan
mendapatkan pelayanan kesehatan diagnosis dan/atau pengobatan dengan identitas orang
tersebut sebagaimana tercantum dalam file rekam medis pasien atau dokumen lain yang
berkaitan dengan sosok orang tersebut.
Kegiatan identifikasi pasien dilakukan sebelum melakukan pemberian obat-obatan, prosedur
pemeriksaan penunjang medis radiologi (rontgen, MRI, CT-Scan), Laboratorium, endoskopi,
treadmill, EEG ; pengambilan sampel (misalnya darah, tinja, urin, dan sebagainya) ;
intervensi pembedahan dan prosedur invasif lainnya ; transfusi darah ; transfer pasien ;
konfirmasi kematian.
Para staf IGD harus mengkonfirmasi identifikasi pasien dengan benar dengan menanyakan
nama dan tanggal lahir/ umur pasien, kemudian membandingkannya dengan yang
tercantum di rekam medis dan gelang pengenal. Jangan menyebutkan nama, tanggal lahir,
dan alamat pasien dan meminta pasien untuk mengkonfirmasi dengan jawaban ya / tidak.
Identifikasi pasien yang dalam keadaan tidak sadar dapat dilakukan melalui keluarga dan
atau pengantar yang mengetahui identitas pasien. Apabila pasien datang dalam keadaan
tidak sadar dan tidak ada keluarga dan atau pengantar yang mengetahui identitas pasien,
maka pasien sementara akan diidentifikasi sebagai Mr. X atau Ms. X, sampai identitas yang
sesungguhnya diketahui lebih lanjut.
2. PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Komunikasi efektif adalah tepat waktu, akurat, jelas, dan mudah dipahami oleh penerima,
sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan (kesalahpahaman).
Prosesnya adalah pemberi pesan secara lisan memberikan pesan, setelah itu dituliskan
secara lengkap isi pesan tersebut oleh si penerima pesan ; isi pesan dibacakan kembali (read
back) secara lengkap oleh penerima pesan ; dan penerima pesan mengkonfirmasi isi pesan
kepada pemberi pesan.
Komunikasi dilakukan sedemikian sehingga isi pesan yang hendak disampaikan benar-benar
diterima oleh penerima sesuai dengan maksud pemberi pesan. Komunikasi per lisan dengan
menggunakan telepon dilaksanakan sedemikian sehingga sebelum pembicaraan diakhiri,
penerima informasi/ instruksi mengulang kembali informasi/ instruksi yang diberikan dan
pemberi informasi/ instruksi mengecek kebenaran informasi/ instruksi yang diberikan. (lihat
SPO Konsultasi dengan Dokter per Telepon). Informasi/ instruksi lisan yang telah diterima
segera dicatat pada status rekam medis pasien, untuk selanjutnya pada kesempatan
pertama dimintakan tanda tangan dari pemberi instruksi.
3. PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI (HIGH ALERT MEDICATION)
Sasaran high alert medication ditujukan pada identifikasi, pengelolaan, pelaporan serta
dokumentasi obat–obat yang mempunyai risiko tinggi menyebabkan cidera pada pasien bila
digunakan secara salah. Obat–obat yang perlu diwaspadai (High Alert Medications) adalah
obat–obat yang mempunyai risiko tinggi menyebabkan cidera pada pasien bila digunakan
secara salah yang daftarnya diperoleh dari hasil inventarisasi unit pelayanan. Obat-obatan
yang perlu diwaspadai diberi label khusus dengan menggunakan stiker berwarna (lihat SPO
Pemberian Label Obat yang Perlu Diwaspadai).
LASA (nama obat, rupa dan ucapan mirip) adalah obat–obat yang memiliki nama, rupa dan
ucapan mirip yang perlu diwaspadai khusus agar tidak terjadi kesalahan pengobatan
(dispensing error) yang bisa menimbulkan cidera pada pasien. Pemberian obat-obatan
tersebut diberikan kepada pasien dengan melakukan pengecakan ulang atas obat dan pasien
yang akan diberi.
Contoh rupa mirip: Dextrose 40% dan Magnesium Sulfat, Oxytocin dan Lidocaine. Contoh
ucapan mirip: Phenobarbital dan Phentobarbital.
4. KEPASTIAN TEPAT-LOKASI, TEPAT-PROSEDUR DAN TEPAT-PASIEN OPERASI
Tindakan Pembedahan yang dilakukan oleh dokter IGD harus menjamin ketepatan pada pasien
dan pada Lokasi yang tepat, dan menggunakan metode yang sesuai untuk mencegah komplikasi
anestesi dan melindungi pasien dari rasa nyeri. Dokter IGD mengidentifikasi dan mengantisipasi
secara efektif ancaman hilangnya fungsi pernapasan, risiko kehilangan darah, menghindari
penggunaan obat yang dapat menimbulkan reaksi alergi atau reaksi obat yang tidak
dikehendaki pada pasien yang diketahui berisiko, secara konsisten menggunakan metode
pencegahan terjadinya infeksi luka operasi, mencegah tertinggalnya instrumen bedah dan/atau
kasa pada luka/tempat operasi, mengidentifikasi secara akurat dan mengamankan spesimen
bedah, dan melakukan komunikasi dan konsultasi atas informasi penting atas jalannya tindakan
pembedahan yang aman. Formulir Persetujuan Tindakan Medis (informed consent) harus
sudah ditandatangani oleh yang berkepentingan, segera setelah penjelasan/ informasi yang
diperlukan disampaikan kepada pasien dan/ atau keluarganya (lihat SPO Persetujuan
Tindakan Medis).
5. PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN
Semua bahan/material yang terkontaminasi darah dan komponen cairan tubuh pasien harus
dianggap berpotensi terhadap penularan infeksi, oleh karena itu perlu dilakukan
penggunaan alat pelindung diri (APD) dan dilakukan prosedur dekontaminasi terlebih dahulu
(lihat SPO Penggunaan APD dan SPO Dekontaminasi)
Semua peralatan medis yang akan dipergunakan untuk melakukan prosedur invasif terhadap
pasien harus terjamin sterilitasnya (lihat SPO Sterilisasi Alat)
Semua tenaga medis/ keperawatan/ paramedis lain harus melakukan cuci tangan sebelum
dan setelah melakukan tindakan terhadap pasien (lihat SPO Cuci Tangan). Pasien perlu diberi
informasi mengenai maksud dan tujuan tindakan cuci tangan serta setiap prosedur septik
dan antiseptik yang dilakukan terhadapnya
Mencuci tangan adalah prosedur tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan
sabun/ anti septic di bawah air bersih yang mengalir atau cairan lainnya. Lima momen cuci
tangan, meliputi: sebelum kontak dengan pasien; sebelum tindakan aseptik ; setelah kontak
pasien ; setelah kontak cairan tubuh pasien ; setelah kontak lingkungan.

Prosedur cuci tangan:


a. Gosokkan kedua telapak tangan.

b. Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan


atau sebaliknya.
c. Dengan menghadapkan telapak tangan kiri dan telapak
tangan kanan dan bersihkan sela – sela jari.

d. Mengepalkan tangan dan gosok pungung jari tangan kanan


dengan tangan kiri atau sebaliknya.

e. Membersihkan ibu jari dengan cara mengosok dan putar ibu


jari tangan kanan dengan tangan kiri atau sebaliknya.

f. Bersihkan ujung jari dengan cara menggosok ujung jari


tangan kanan di atas telapak tangan kiri atau sebaliknya

F. PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH


Jatuh dapat diartikan sebagai hilangnya posisi tegak yang berakibat pada berakhirnya posisi
tubuh di lantai, tanah atau obyek lain seperti mebeler atau tangga ; atau dapat diartikan
perpindahan tubuh ke bawah dan mencapai lantai/tanah atau membentur obyek lain (kursi,
tangga, dsb.) secara tiba-tiba, tidak terkontrol, tidak disengaja, dan tanpa tujuan.
Dokter/ perawat/ paramedis wajib melakukan asesmen terhadap pasien dengan risiko jatuh dan
memberikan identifikasi berupa gelang dan papan petunjuk mengenai hal tersebut (lihat
Panduan Pencegahan Pasien Jatuh).
Pasien yang telah diidentifikasi berpotensi atas risiko jatuh wajib dimonitor dan dilakukan
tindakan pencegahan (lihat SPO Pencegahan Pasien dengan Risiko Jatuh).
Asesmen harus sudah ditetapkan dalam waktu selambat-lambatnya 24 jam sejak pasien dirawat
di Rumah Sakit. Asesmen dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (DPJP) dan / atau
perawat (minimal penanggung jawab shift / kepala tim) dengan menentukan skore risiko jatuh
berdasarkan Morse Fall Scale.
Terhadap semua pasien baru dilakukan penilaian atau asesmen atas potensi risiko jatuh dan
penilaian diulang jika diindikasikan adanya perubahan kondisi pasien atau pengobatan yang
menimbulkan adanya risiko jatuh. Hasil penilaian dimonitor dan ditindaklanjuti sesuai level risiko
jatuh. Seluruh pasien rawat inap dinilai risiko jatuh dengan menggunakan lembar penilaian risiko
jatuh. Penilaian memakai formulir Morse Fall Scale (MFS).
1. Kriteria Pasien dengan risiko jatuh (label Kuning – Morse Fall)
2. Upaya pencegahan risiko pasien jatuh : railing, restraint, ...................
3. Indikasi restraint : gaduh gelisah, kejang, ..........
G. PELAPORAN INSIDEN KESELA MATAN PASIEN
Pelaporan secara anonym dan tertulis kepada Tim KPRS setiap kejadian nyaris cidera (KNC) atau
kejadian tidak diharapkan (KTD) yang menimpa pasien atau kejadian lain yang terjadi di rumah
sakit.
1. ALUR PELAPORAN INSIDEN KE TIM KESELAMATAN PASIEN DI RS (INTERNAL)
a. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) di rumah sakit, wajib segera ditindaklanjuti
(dicegah/ditangani) untuk mengurangi dampak/akibat yang tidak diharapkan.
b. Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi Formulir
Laporan Insiden pada akhir jam kerja/shift kepada atasan langsung. Paling lambat 2x24
jam, jangan menunda laporan.
c. Setelah selesai mengisi laporan, segera serahkan kepada atasan langsung pelapor.
(Atasan langsung disepakati sesuai keputusan Manajemen : Supervisor/Kepala
Bagian/Instalasi/Departemen/Unit, Ketua Komite Medis/ Ketua KSMF)
d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading risiko terhadap
insiden yang dilaporkan
e. Hasil grading akan memeriksa laporan dan melakukan grading risiko terhadap insiden
yang dilakukan sebagai berikut : (Pembahasan lebih lanjut lihat BAB III)
1) Grade biru: investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 1 minggu
2) Grade hijau: investigasi sederhana oleh Atasan langsung, waktu maksimal 2 minggu
3) Grade kuning: investigasi komprehensif/Analisis akar masalah/RCA oleh Tim KP di
RS, waktu maksimal 45 hari.
4) Grade merah: investigasi komprehensif/Analisis akar masalah/RCA oleh Tim KP di RS,
waktu maksimal 45 hari.
f. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi dan laporan
insiden dilaporkan ke Tim KP di RS.
g. Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil investigasi dan laporan insiden untuk
menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan (RCA) dengan melakukan
Regrading.
h. Untuk grade Kuning/Merah, Tim KP di RS akan melakukan Analisa akr masalah/Root
Cause Analysis (RSC).
i. Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan dan Rekomendasi untuk
perbaikan serta “Pembelajaran” berupa : Petunjuk/”Safety Alert” untuk mencegah
kejadian yang sama terulang kembali.
j. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada Direksi.
k. Rekomendasi untuk “Perbaikan dan Pembelajaran” diberikan umpan balik kepada unit
kerja terkait.
l. Unit Kerja membuat analisa dan trend kejadian di satuan kerjanya masing-masing.
m. Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh Tim KP di RS.

2. ALUR PELAPORAN INSIDEN KE TIM KESELAMATAN PASIEN DI RS (INTERNAL)


a. Faktor Kontributor
Adalah keadaan, tindakan atau faktor yang mempengaruhi dan berperan dalam
mengembangkan dan atau meningkatkan risiko suatu kejadian (misalnya pembagian
tugas yang tidak sesuai kebutuhan).
Contoh:
1) Faktor kontributor di luar organisasi (eksternal)
2) Faktor kontributor dalam organisasi (internal), misal : tidak adanya prosedur
3) Faktor kontributor yang berhubungan dengan petugas (kognitif atau perilaku
petugas yang kurang, lemahnya supervisi, kurangnya teamwork atau komunikasi).
4) Faktor kontributor yang berhubungan dengan keadaan pasien.

b. Analisa akar masalah/ Root cause analysis (RCA)


Adalah suatu proses berulang yang sistematik dimana faktor-faktor yang berkontribusi
dalam suatu insiden diidentifikasi dengan merekonstruksi kronologis kejadian
menggunakan pertanyaan “kenapa” yang diulang hingga menemukan akar
penyebabnya dan penjelasannya. Pertanyaan “kenapa” harus ditanyakan hingga tim
investigator mendapatkan fakta, bukan hasil spekulasi.
Banyak metode yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko, salah satu caranya adalah
dengan mengembangkan sistem pelaporan dan sistem analisis. Dapat dipastikan bahwa
sistem pelaporan akan mengajak semua orang dalam organisasi untuk peduli akan
bahaya/ potensi bahaya yang dapat terjadi kepada pasien. Pelaporan juga penting
digunakan untuk memonitor upaya pencegahan terjadinya error sehingga diharapkan
dapat mendorong dilakukannya investigasi selanjutnya.
1) Mengapa pelaporan insiden penting?
Karena pelaporan akan menjadi awal proses pembelajaran untuk mencegah kejadian
yang sama terulang kembali.
2) Bagaimana memulainya?
Dibuat suatu sistem pelaporan insiden di rumah sakit meliputi kebijakan, alur
pelaporan, formulir pelaporan dan prosedur pelaporan yang harus disosialisasikan
pada semua karyawan.
3) Apa yang harus dilaporkan?

c. Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi ataupun
yang nyaris terjadi.
1). Siapa yang membuat Laporan Insiden?
a). Siapa saja atau semua staf RS yang menemukan kejadian
b). Siapa saja atau semua staf yang terlibat dalam kejadian.
2). Masalah yang dihadapi dalam Laporan Insiden
a). Laporan dipersepsikan sebagai “pekerjaan perawat”
b). Laporan sering disembunyikan, karena takut disalahkan.
c). Laporan sering terlambat
d). Bentuk laporan miskin data karena adanya budaya blame culture.
3). Bagaimana cara membuat Laporan Insiden?
a). Karyawan diberikan pelatihan mengenai sistem pelaporan insiden mulai dari
maksud, tujuan dan manfaat laporan, alur pelaporan, bagaimana cara mengisi
formulir laporan insiden, kapan harus melaporkan, pengertian-pengertian yang
digunakan dalam sistem pelaporan dan cara menganalisis laporan.
BAB VII KESELAMATAN KERJA

Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para karyawan
rumah sakit dilakukan dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian
bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.

A. PENGENDALIAN BAHAYA DI TEMPAT KERJA


3. PENGENDALIAN BARANG BERBAHAYA DAN BERACUN (B-3)
a. Tata Laksana Inventarisasi B-3
1) Melakukan pencatatan penggunaan, penyimpanan bahan dan limbah berbahaya
yang ada di lingkungan Rumah Sakit
2) Pencatatan/inventarisasi berdasarkan unit kerja terkait yang menggunakan,
menyimpan dan mengelola berdasarkan jenis, spesifikasi dan kategori bahan.
3) Mapping lingkungan tempat kerja (area atau tempat kerja yang dianggap berisiko
dan berbahaya)
4) Melakukan pemantauan secara berkala oleh unit berwenang, akan pengunaannya
5) Menyusun prosedur pencatatan, pelaporan, penanggulangan dan tindak lanjutnya
b. Tata Laksana Penanganan B-3
Dalam penanganan B-3 (menyimpan, memindahkan, menangani tumpahan,
menggunakan, dsb.) setiap staf wajib mengetahui betul jenis bahan dan cara
penanganannya dengan melihat standar prosedur dan MSDS (material safety data
sheet) yang telah ditetapkan.
1) Penanganan untuk personil
a) Kenali dengan seksama jenis bahan yang akan digunakan atau disimpan
b) Baca petunjuk yang tertera pada kemasan
c) Letakkan bahan sesuai ketentuan
d) Tempatkan bahan pada ruang penyimpanan yang sesuai dengan petunjuk
e) Perhatikan batas waktu pemakaian bahan yang disimpan
f) Jangan menyimpan bahan yang mudah bereaksi di lokasi yang sama
g) Jangan menyimpan bahan melebihi pandangan mata
h) Pastikan kerja aman sesuai prosedur dalam pengambilan dan penempatan
bahan, hindari terjadinya tumpahan/kebocoran
i) Laporkan segera bila terjadi kebocoran bahan kimia atau gas.
j) Laporkan setiap kejadian atau kemungkinan kejadian yang menimbulkan
bahaya/kecelakaan atau nyaris celaka (accident atau near miss) melalui formulir
yang telah disediakan dan alur yang telah ditetapkan.
2. PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN
a. Tata laksana identifikasi area berisiko kebakaran
1) Melakukan identifikasi area/lokasi yang berisiko
2) Melakukan inventarisasi bahan dan sumber yang berisiko terjadinya kebakaran
dimasing-masing unit Rumah Sakit.
3) Melakukan mapping (denah) area berdasarkan kategori dan jenis/tingkat risiko
bahaya kebakaran.
4) Memberikan tanda dan symbol tempat serta bahan yang mengandung risiko
kebakaran
5) Melakukan sosialisasi ke staf dan pengunjung tentang sumber risiko bila terjadi
kebakaran
b. Tata laksana pencegahan kebakaran
1) Memberikan informasi dan edukasi kepada staf, pasien, pengunjung tentang bahaya
kebakaran.
2) Memberikan pendidikan, pelatihan dan aplikasi/uji coba yang nyata kepada staf
tentang kebakaran secara berkala
3) Mengidentifikasi pemakaian, penggunaan dan penempatan bahan-bahan/sumber-
sumber/peralatan yang mengakibatkan kebakaran.
4) Menetapkan lokasi-lokasi yang dapat menyebabkan risiko kebakaran, baik risiko
kebakaran kecil maupun besar
5) Melakukan kontrol/inspeksi, perbaikan dan penggantian secara berkala
peralatan/fasilitas yang rusak atau sudah waktunya dilakukan pembaharuan.
6) Menjauhkan peralatan dan fasilitas yang berisiko terbakar dengan sumber/bahan
yang mudah terbakar.
7) Menempatkan alat pemadam kebakaran di area-area/titik-titik tertentu yang dapat
mudah dijangkau oleh semua orang.
8) Memasang label, symbol dan tanda peringatan pada lokasi-lokasi yang berisiko
terjadinya kebakaran.
9) Mengatur/mendesain bangunan, peralatan dan sumber-sumber risiko kebakaran
sesuai dengan jarak aman yang diperkenankan.
10) Melakukan pengawasan setiap pembangunan didalam atau berdekatan dengan
bangunan yang dihuni pasien
c. Tata laksana deteksi dini kebakaran
1) Deteksi asap (smoke detector) dan alarm kebakaran
a) Penempatan peralatan disesuaikan dengan fungsi dan area berisiko (public area)
b) Pastikan terlebih dahulu lokasi/area alarm kebakaran atau deteksi asap yang
bunyi/mendeteksi kebakaran.
c) Lakukan penanganan secepatnya bila sistem deteksi mengetahui adanya tanda-
tanda kebakaran dengan menuju lokasi terjadinya kebakaran.
d) Ambil peralatan kebakaran yang tersedia/terjangkau sekitar area/lokasi
kebakaran dan melakukan tindakan penyelamatan.
e) Pemeliharaan sistem/komponen deteksi kebakaran yang dilakukan secara
berkala
f) Dilakukan uji coba/simulasi terhadap peralatan dalam periode tertentu untuk
memastikan fungsi dan kegunaan alat.
2) Patroli kebakaran
a) Penetapan/penunjukkan staf sebagai petugas patroli kebakaran
b) Adanya prosedur pengawasan yang menjadi prosedur baku yang ditetapkan
sebagai langkah control yang ada.
c) Adanya rute/jadwal ronda secara berkala untuk melakukan pemantauan
area/lokasi dan tempat/fasilitas yang berisiko terjadinya kebakaran
d) Adanya sistem/kategori tingkat pengawasan lokasi/fasilitas dan area public yang
menimbulkan bahaya kebakaran besar, sedang dan kecil.
d. Tata laksana penghentian/supresi atau pengendalian kebakaran
1) Memastikan sistem penghentian/supresi pemadam kebakaran dapat berjalan
dengan baik dengan melakukan inspeksi dan uji coba secara berkala atas fungsi alat.
2) Penggunaan dan penempatan peralatan disesuaikan dengan jenis bahan pada lokasi
yang mudah terjadinya kebakaran dan besarnya risiko yang terjadi (supresan kimia
dan springkler)
3) Gunakan sistem pemadaman sesuai dengan jenis/bahan yang terbakar, sistem
isolasi, sistem pendinginan dan sistem urai untuk mengurangi serta membatasi api.
4) Memastikan petugas patroli kebakaran, staf dan pengunjung dapat menggunakan
peralatan pemadam kebakaran dengan baik dan tepat sasaran sebagai fungsi
pengendalian tingkat pertama sebelum terjadinya kebakaran yang lebih besar lagi.
5) Memastikan ketersediaan APAR dan hydrant pada area/lokasi terdekat atau pada
titik rawan risiko terjadinya kebakaran
e. Tata laksana evakuasi
1) Pasien
a) Informasikan terjadinya kebakaran dengan membunyikan alarm/sirene tanda
bahaya kebakaran
b) Kepala ruangan/kepala unit yang terkait dengan pelayanan pasien melakukan
instruksi untuk melakukan pengosongan ruangan dengan cara memindahkan
pasien ke ruangan yang lebih aman/titik kumpul.
c) Kepala ruangan/kepala unit bekerjasama dengan kepala unit perawatan dan
perawat yang ada untuk mengevakuasi pasien dengan terlebih dahulu
menginformasikan alasan dilakukannya evakuasi.
d) Kepala ruangan/kepala unit dapat bekerjasama dengan keluarga dan
pengunjung yang berada dilokasi/ruangan untuk mempercepat jalannya
evakuasi pasien.
e) Lakukan evakuasi pada pasien yang mempunyai kondisi/keadaan yang lebih
stabil (dapat berjalan/menggunakan kursi roda), selanjutnya evakuasi pasien
yang berikutnya.
2) Karyawan & pengunjung/keluarga
a) Informasikan terjadinya kebakaran dengan membunyikan alarm/sirene tanda
bahaya kebakaran
b) melakukan evakuasi terhadap staf/tamu/pengunjung yang berada dilokasi atau
dekat dengan lokasi kebakaran (pengosongan area atau gedung).
c) Mengarahkan dan memandu staf/tamu/pengunjung ke area yang aman (titik
kumpul) dari jangkauan kebakaran.
d) Mengamankan lokasi sekitar dari staf/tamu/pengunjung dan bantu kelancaran
jalur evakuasi petugas pemadam menuju area kebakaran
e) Lakukan pemadaman listrik instalasi yang terdekat dengan area/lokasi
kebakaran atau bahan-bahan/sumber yang dapat menimbulkan terjadinya
kebakaran yang lebih hebat.
f. Tata laksana penanganan korban kebakaran
1) Proses penanganan korban dilakukan secepatnya untuk mencegah risiko kecacatan
dan atau kematian
2) Menentukan prioritas penanganan terhadap korban dan penempatan korban sesuai
hasil triage
3) Evakuasi korban ke tempat yang lebih aman dan layak untuk dapat dilakukan
pertolongan
4) Melakukan stabilisasi atau tindakan dasar (basic live support) pada korban
5) Tindakan definitive sesuai kondisi kegawatan dan bila diperlukan Memberikan
tindakan perawatan lanjutan

B. PROMOSI KESEHATAN
1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi SDM Rumah Sakit:
a. Pemeriksaan fisik lengkap
b. Kesegaran jasmani;
c. Rontgen paru-paru (bilamana mungkin);
d. Laboratorium rutin;
e. Pemeriksaan lain yang dianggap perlu;
f. Pemeriksaan yang sesuai kebutuhan guna mencegah bahaya yang
diperkirakan timbul, khususnya untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu.
g. Jika 3 (tiga) bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh
dokter (pemeriksaan berkala), tidak ada keragu-raguan maka tidak perlu
dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja.
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi SDM Rumah Sakit
a. Pemeriksaan berkala meliputi pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran
jasmani, rontgen paru-paru (bilamana mungkin) dan laboratorium rutin, serta
pemeriksaanpemeriksaan lain yang dianggap perlu;
b. Pemeriksaan kesehatan berkala bagi SDM Rumah Sakit sekurang-kurangnya 1
tahun.
c. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada :
1) SDM Rumah Sakit yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit
yang memerlukan perawatan yang lebih dari 2 (dua) minggu;
2) SDM Rumah Sakit yang berusia di atas 40 (empat puluh) tahun
atau SDM Rumah Sakit yang wanita dan SDM Rumah Sakit yang cacat serta
SDM Rumah Sakit yang berusia muda yang mana melakukan pekerjaan
tertentu;
3) SDM Rumah Sakit yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai
gangguan-gangguan kesehatan perlu dilakukan pemeriksaan khusus
sesuai dengan kebutuhan;
4) Pemeriksaan kesehatan kesehatan khusus diadakan pula apabila
terdapat keluhan-keluhan diantara SDM Rumah Sakit, atau atas
pengamatan dari Organisasi Pelaksana K3RS.
d. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan
kerja dan memberikan bantuan kepada SDM Rumah Sakit dalam penyesuaian
diri baik fisik maupun mental.
Yang diperlukan antara lain:
1) Informasi umum Rumah Sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan
K3;
2) Informasi tentang risiko dan bahaya khusus di tempat kerjanya;
3) SOP kerja, SOP peralatan, SOP penggunaan alat pelindung diri
dan kewajibannya;
4) Orientasi K3 di tempat kerja;
5) Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi/penyuluhan
kesehatan kerja secara berkala dan berkesinambungan sesuai
kebutuhan dalam rangka menciptakan budaya K3.
e. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik
SDM Rumah Sakit :
1) Pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk SDM
Rumah Sakit yang dinas malam, petugas radiologi, petugas lab, petugas
kesling dll;
2) Pemberian imunisasi bagi SDM Rumah Sakit;
3) Olah raga, senam kesehatan dan rekreasi;
4) Pembinaan mental/rohani.

C. PENGOBATAN DAN REHAB ILITASI


1. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi SDM Rumah Sakit
yang menderita sakit :
a. Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seiuruh SDM Rumah Sakit;
b. Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk SDM
Rumah Sakit yang terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK);
c. Menindak lanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan
pemeriksaan kesehatan khusus;
d. Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait.
2. Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit penyakit yang ditimbulkan akibat karyawan melakukan
aktivitas pekerjaannya atau sebagai akibat/risiko yang diitimbulkan karena aktivitas yang
dilakukan karyawan selama melakukan pekerjaan tersebut. Penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh factor-faktor biologi (virus, bakteri, jamur, parasit), faktor kimia (antiseptik,
reagen, gas anestesi), faktor ergonomis (lingkungan kerja, cara kerja dan posisi kerja yang
salah), faktor fisik (suhu, cahaya, bising, listrik, getaran dan radiasi), faktor psikososial (kerja
bergilir, beban kerja, hubungan sesame pekerja/atasan) sehingga dapat mengakibatkan
penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi dari
Penyakit Akibat Kerja berupa :
a. Jenis pekerjaan (saat ini dan sebelumnya)
b. Gerakan dalam bekerja
c. Tugas yang berat / berlebihan
d. Perubahan / pergeseran kerja
e. Iklim di tempat kerja
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

A. INDIKATOR PROGRAM TB
Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan penanggulangan TB digunakan beberapa indikator.
Indikator penanggulangan TB secara Nasional ada 2 yaitu:
1. Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA positif (Case Detection Rate = CDR) dan
2. Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR).

Selain itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di atas,
yaitu:
1. Angka Penjaringan Suspek
2. porsi Pasien TB Paru BTA positif diantara Suspek yang diperiksa dahaknya
3. porsi Pasien TB Paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru
4. porsi pasien TB anak diantara seluruh pasien
5. angka Notifikasi Kasus (CNR)
6. Angka Konversi
7. Angka Kesembuhan
8. Angka Kesalahan Laboratorium

Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan (marker of
progress).
Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti:
1. Sahih (valid)
2. Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific)
3. Dapat dipercaya (realiable)
4. Dapat diukur (measureable)
5. Dapat dicapai (achievable)

Analisa dapat dilakukan dengan :


1. Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan.
2. Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu.
3. Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel 19 berikut:
B. ANGKA PENJARINGAN SUSPEK
Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.000 penduduk pada suatu wilayah
tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam
suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu
(triwulan/tahunan)
Rumus:

Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB .06) sarana pelayanan
kesehatan yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk, misalnya rumah sakit, BP4 atau
dokter praktek swasta, indikator ini tidak dapat dihitung.

C. PROPORSI PASIEN TB BTA POSITIF DIANTARA SUSPEK


Adalah prosentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa
dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien,
serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.
Rumus:

Angka ini sekitar 5 - 15%. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan:
1. Penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek, atau
Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu).

Bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan :


a). Penjaringan terlalu ketat atau
b). Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).

D. PROPORSI PASIEN TB PARU BTA POSITIF DIAN TARA SEMUA PASIEN TB PARU
TERCATAT/DIOBATI
Adalah prosentase pasien TB paru BTA positif diantara semua pasien TB paru tercatat. Indikator
ini menggambarkan prioritas penemuan pasien TB yang menular diantara seluruh pasien TB paru
yang diobati.
Rumus:

Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Bila angka ini jauh lebih rendah, itu berarti mutu
diagnosis rendah, dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular
(pasien BTA Positif).
E. PROPORSI PASIEN TB A NAK DIANTARA SELURUH PASIEN TB
Adalah prosentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat.
Rumus :

Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB
pada anak. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu besar dari 15%, kemungkinan terjadi
overdiagnosis.
F. ANGKA PENEMUAN KASUS (CASE DETECTION RATE = CDR)
Adalah prosentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah
pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate
menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.

Rumus:

Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh berdasarkan perhitungan angka insidens
kasus TB paru BTA positif dikali dengan jumlah penduduk. Target Case Detection Rate Program
Penanggulangan TB Nasional minimal 70%.
G. ANGKA NOTIFIKASI KA SUS (CASE NOTIFICATION RATE = CNR)
Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat
diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan
menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.
Rumus :
Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 x 100.000
Jumlah penduduk

Angka ini berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya
penemuan pasien pada wilayah tersebut.
H. ANGKA KONVERSI ( CONVERSION RATE)
Angka konversi adalah prosentase pasien baru TB paru BTA positif yang mengalami perubahan
menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Indikator ini berguna untuk
mengetahui secara cepat hasil pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung
menelan obat dilakukan dengan benar.
Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien baru TB paru BTA positif
Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yg konversi x 100%
Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yg diobati
Di sarana pelayanan kesehatan, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu
dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan
sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif,
setelah pengobatan intensif (2 bulan). Di tingkat kabupaten, provinsi dan pusat, angka ini
dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.11. Angka minimal yang harus dicapai adalah
80%.
I. ANGKA KESEMBUHAN (CURE RATE)
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru TB paru BTA positif
yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien baru TB paru BTA positif yang
tercatat. Angka kesembuhan dihitung juga untuk pasien BTA positif pengobatan ulang dengan
tujuan:
1. Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kekebalan terhadap obat terjadi di
komunitas, hal ini harus dipastikan dengan surveilans kekebalan obat.
2. Untuk mengambil keputusan program pada pengobatan menggunakan obat baris kedua
(second-line drugs).
3. Menunjukan prevalens HIV, karena biasanya kasus pengobatan ulang terjadi pada pasien
dengan HIV.

Cara menghitung angka kesembuhan untuk pasien baru BTA positif.

Jumlah pasien baru TB BTA positif yg sembuh x 100%


Jumlah pasien baru TB BTA positif yg diobati

Di sarana pelayanan kesehatan, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu
dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9-12
bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh setelah selesai
pengobatan.
Di tingkat kabupaten, provinsi dan pusat, angka ini dapat dihitung dari laporan TB.08. Angka
minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui hasil
pengobatan.
1. Walaupun angka kesembuhan telah mencapai 85%, hasil pengobatan lainnya tetap perlu
diperhatikan, yaitu berapa pasien dengan hasil pengobatan lengkap, meninggal, gagal,
default, dan pindah.
2. Angka default tidak boleh lebih dari 10%, karena akan menghasilkan proporsi kasus
retreatment yang tinggi dimasa yang akan datang yang disebabkan karena ketidak-
efektifan dari pengendalian TB.
3. Menurunnya angka default karena peningkatan kualitas penanggulangan TB akan
menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang antara 10-20 % dalam beberapa tahun.
Sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk
daerah yang belum ada masalah resistensi obat, dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk
daerah yang sudah ada masalah resistensi obat.
J. ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru TB paru BTA positif
yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara
pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan
penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Cara perhitungan untuk
pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori1.
Rumus :
Jumlah pasien baru TB BTA positif (sembuh + pengobatan lengkap) x 100%
Jumlah pasien baru TB BTA positif yg diobati
K. ANGKA KESALAHAN LABO RATORIUM
Pada saat ini Penanggulangan TB sedang dalam uji coba untuk penerapan uji silang pemeriksaan
dahak (cross check) dengan metode Lot Sampling Quality Assessment (LQAS) di beberapa
provinsi. Untuk masa yang akan datang akan diterapkan metode LQAS di seluruh sarana
pelayanan kesehatan.
1. METODE LQAS
Perhitungan angka kesalahan laboratorium metode ini digunakan oleh provinsi uji coba.
Untuk mengetahui klasifikasi kesalahan dapat dilihat pada tabel.
Klasifikasi kesalahan

Betul : Tidak ada kesalahan


KH (Kesalahan Hitung) : Kesalahan kecil
NPR (Negatif Palsu Rendah) : Kesalahan kecil
PPR (Positif Palsu Rendah) : Kesalahan kecil
NPT (Negatif Palsu Tinggi) : Kesalahan besar
PPT (Positif Palsu Tinggi) : Kesalahan besar
Selain kesalahan besar dan kesalahan kecil, kesalahan juga dapat berupa tidak memadainya
kualitas sediaan, yaitu: terlalu tebal atau tipisnya sediaan, pewarnaan, ukuran, kerataan,
kebersihan dan kualitas spesimen. Mengingat sistem penilaian yang berlaku sekarang
berbeda dengan yang terbaru, petugas pemeriksa slide harus mengikuti cara pembacaan
dan pelaporan sesuai buku Panduan bagi petugas laboratorium mikroskopis TB Interpretasi
dari suatu laboratorium berdasarkan hasil uji silang dinyatakan terdapat kesalahan bila :
a. Terdapat PPT atau NPT
b. Laboratorium tersebut menunjukkan tren peningkatan kesalahan kecil dibanding periode
sebelumnya atau kesalahannya lebih tinggi dari rata-rata semua sarana pelayanan
kesehatan di kabupaten/kota tersebut, atau bila kesalahan kecil terjadi beberapa kali
dalam jumlah yang signifikan.
c. Bila terdapat 3 NPR
Penampilan setiap laboratorium harus terus dimonitor sampai diketemukan penyebab
kesalahan. Setiap sarana pelayanan kesehatan agar dapat menilai dirinya sendiri dengan
memantau tren hasil interpretasi setiap triwulan.
2. METODE 100 % BTA POSITIF & 10 % BTA NEGATIF
Sebagian besar provinsi masih menerapkan metode uji silang perhitungan sebagai berikut :
a. Error Rate
Error rate atau angka kesalahan baca adalah angka kesalahan laboratorium yang
menyatakan prosentase kesalahan pembacaan slide/ sediaan yang dilakukan oleh
laboratorium pemeriksa pertama setelah di uji silang (cross check) oleh BLK atau
laboratorium rujukan lain. Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan slide secara
mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama.
Rumus :
Jumlah sediaan yang dibaca salah x 100%
Jumlah seluruh sediaan yang diperiksa

Angka kesalahan baca sediaan (error rate) ini hanya bisa ditoleransi maksimal 5%.
Apabila error rate ≤ 5 % dan positif palsu serta negatif palsu keduanya ≤ 5% berarti mutu
pemeriksaan baik.
Error rate ini menjadi kurang berarti bila jumlah slide yang di uji silang (cross check) relatif
sedikit. Pada dasarnya error rate dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa,
di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten/kota harus menganalisa berapa persen
laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya melaksanakan cross check, di samping
menganalisa error rate per PRM/PPM/RS/BP4, supaya dapat mengetahui kualitas
pemeriksaan slide dahak secara mikroskopis langsung.
L. ANGKA KEBERHASILAN RUJUKAN
Angka keberhasilan rujukan adalah persentase pasien TB yang dirujuk dan sampai di sarana
pelayanan kesehatan rujukan diantara seluruh pasien TB yang dirujuk.
Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan rujukan.
Rumus:

M. ANGKA DEFAULT
Angka Default adalah persentase pasien TB yang default diantara seluruh pasien TB yang diobati
dalam kurun waktu tertentu.
Angka ini dihitung untuk mengetahui kepatuhan pengobatan pasien TB.
Rumus:

Angka Default sebaiknya <5% pada setiap rumah sakit


BAB IX PENUTUP

Demikian Pedoman Pelayanan Tim TB-DOTS ini disusun agar semua pihak yang terkait dalam
penyelenggaraan pelayanan TB-DOTS dapat melaksanakan semua ketentuan dan prosedur yang
diatur dalam Pedoman ini, sesuai dengan kebutuhan pelayanan medis kepada pasien. Apabila di
kemudian hari didapatkan kondisi yang tidak lagi dimungkinkan menggunakan ketentuan dalam
Pedoman ini, dapat dilakukan pembicaraan dengan semua pihak terkait untuk dilakukan perubahan
kebijakan dan sistem pelayanan TB-DOTS sesuai dengan kondisi tersebut.

Ditetapkan di : Blitar
Tanggal : Agustus 2018
Direktur,
Rumah Sakit BUDI MULYO,

dr. Prima Evita


NIK. 10107053