Anda di halaman 1dari 8

Difraksi sinar-X merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis padatan kristalin.

Sinar-X merupakan radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 1


Å, berada di antara panjang gelombang sinar gama (γ) dan sinar ultraviolet. Sinar-X
dihasilkan jika elektron berkecepatan tinggi menumbuk suatu logam target (Gambar 1).

Gambar 1 Pembentukan sinar-X.

Elektron berkecepatan tinggi yang mengenai elektron pada orbital 1s akan menyebabkan
elektron tereksitasi menyebabkan kekosongan (□) pada orbital 1s tersebut, dengan adanya
pengisian elektron pada orbital kosong tersebut dari orbital yang lebih tinggi energinya akan
memberikan pancaran sinar-X.

Sinar-X yang diperoleh memberikan intensitas puncak tertentu yang bergantung pada
kebolehjadian transisi elektron yang terjadi. Transisi Kα lebih mungkin terjadi dan memiliki
intensitas yang lebih tinggi daripada transisi Kβ, sehingga radiasi Kα yang digunakan untuk
keperluan difraksi sinar-X. Sinar-X juga dapat dihasilkan oleh proses perlambatan elektron
pada saat menembus logam sasaran. Proses perlambatan ini menghasilkan sinar-X yang biasa
disebut sebagai radiasi putih. Hasil dari semua proses tadi untuk logam tertentu adalah
spektrum khas sinar-X, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Terdapat bentuk dasar yang
terbentuk oleh radiasi putih dan puncak khas tajam yang bergantung pada kuantisasi transisi
elektron.
Gambar 2. Spektrum panjang gelombang sinar-X pada logam.

Terdapat beberapa jenis pancaran panjang gelombang yang dihasilkan dengan intensitas yang
berbeda, dimana panjang gelombang Kα1 memiliki intensitas yang lebih tinggi, sehingga
digunakan dalam difraksi sinar-X.

Sinar-X yang monokromatis sangat diperlukan dalam suatu eksperimen difraksi sinar-X.
Untuk tujuan itu salah satunya dapat digunakan filter, yang secara selektif meneruskan
panjang gelombang yang ingin digunakan. Untuk sinar-X dari tabung tembaga, biasanya
digunakan lembaran nikel sebagai filter. Nikel sangat efektif dalam meneruskan radiasi Cu
Kα, karena radiasi Cu Kβ memiliki cukup energi untuk mengionisasi elektron 1s Nikel,
sedangkan radiasi Cu Kα tidak cukup untuk mengionisasi. Dengan demikian, lembaran nikel
tersebut akan mengabsorpsi semua panjang gelombang termasuk radiasi putih, kecuali radiasi
Cu Kα.

Hukum Bragg

Suatu kristal memiliki susunan atom yang tersusun secara teratur dan berulang, memiliki
jarak antar atom yang ordenya sama dengan panjang gelombang sinar-X. Akibatnya, bila
seberkas sinar-X ditembakkan pada suatu material kristalin maka sinar tersebut akan
menghasilkan pola difraksi khas. Pola difraksi yang dihasilkan sesuai dengan susunan atom
pada kristal tersebut.
Menurut pendekatan Bragg, kristal dapat dipandang terdiri atas bidang-bidang datar (kisi
kristal) yang masing-masing berfungsi sebagai cermin semi transparan. Jika sinar-X
ditembakkan pada tumpukan bidang datar tersebut, maka beberapa akan dipantulkan oleh
bidang tersebut dengan sudut pantul yang sama dengan sudut datangnya, seperti yang
diilustrasikan dalam Gambar 3, sedangkan sisanya akan diteruskan menembus bidang.

Perumusan secara matematik dapat dikemukakan dengan menghubungkan panjang


gelombang sinar-X, jarak antar bidang dalam kristal, dan sudut difraksi:

nλ = 2d sin θ (Persamaan Bragg)

λ adalah panjang gelombang sinar-X, d adalah jarak antar kisi kristal, θ adalah sudut datang
sinar, dan n = 1, 2, 3, dan seterusnya adalah orde difraksi. Persamaan Bragg tersebut
digunakan untuk menentukan parameter sel kristal. Sedangkan untuk menentukan struktur
kristal, dengan menggunakan metoda komputasi kristalografik, data intensitas digunakan
untuk menentukan posisi-posisi atomnya.

Gambar 3. Pemantulan berkas sinar-X monokromatis oleh dua bidang kisi dalam kristal,
dengan sudut sebesar θ dan jarak antara bidang kisi sebesar dhkl

Difraksi Sinar-X Serbuk


Salah satu teknik yang digunakan untuk menentukan struktur suatu padatan kristalin, adalah
metoda difraksi sinar-X serbuk (X-ray powder diffraction). Sampel berupa serbuk padatan
kristalin yang memiliki sejumlah besar kristal kecil dengan diameter butiran kristalnya sekitar
10-7 – 10–4 m ditempatkan pada suatu plat kaca dalam difraktometer seperti terlihat pada
Gambar 4.

Gambar 4 Skema difraktometer sinar-X serbuk. Tabung sinar-X akan mengeluarkan sinar-X
yang yang difokuskan sehingga mengenai sampel oleh pemfokus, detektor akan bergerak
sepanjang lintasannya, untuk merekam pola difraksi sinar-X.

Pola difraksi yang dihasilkan berupa deretan puncak-puncak difraksi dengan intensitas relatif
yang bervariasi sepanjang nilai 2θ tertentu. Besarnya intensitas relatif puncak dari deretan
puncak tersebut bergantung pada jumlah atom atau ion yang ada, dan distribusinya di dalam
sel satuan material tersebut. Pola difraksi setiap padatan kristalin khas, yang bergantung pada
kisi kristal, unit parameter, dan panjang gelombang sinar-X yang digunakan. Dengan
demikian, sangat kecil kemungkinan dihasilkan pola difraksi yang sama untuk suatu padatan
kristalin yang berbeda.
Gambar 5. Pola Difraksi Sinar-X Serbuk

Metode Le Bail

Pada pola difraksi sinar-X serbuk sering terjadi adanya overlap pada puncak difraksi terutama
pada nilai 2θ yang tinggi. Dengan adanya overlap tersebut menyebabkan sulitnya pemisahan
intensitas dari tiap-tiap pemantulan sinar, sehingga penentuan struktur sukar dilakukan.
Namun, dengan metoda Rietveld, kini dimungkinkan untuk menentukan struktur kristal,
terutama untuk struktur yang relatif sederhana, dari data difraksi serbuk.

Sebagai langkah awal penggunaan metoda Rietveld, sering digunakan metoda Le Bail. Pada
metode Le Bail, intensitas dari berbagai puncak difraksi dihitung dengan hanya menggunakan
parameter sel satuan dan parameter yang mendefinisikan puncak. Dari analisis Le Bail akan
didapatkan parameter sel dan plot Le Bail mirip plot Rietveld.

Gambar 6. Hasil Refinement Pola Difraksi Sinar-X Serbuk Menggunakan Metode Le Bail
Dengan Menggunakan Program Rietica.
Difraksi elektron dan percobaan Davisson-Germer adalah percobaan yang menampilkan sifat
gelombang dari partikel. Percobaan pertama untuk mengamati difraksi dilakukan
oleh CJ.Davisson dan L.H Germer di Bell Telephone Laboratories meyakinkan hipotesis de
Broglie dengan menunjukkan berkas elektron terdifraksi jika berkas itu dihamburkan oleh kisi
(segi empat kecil) atom yang teratur dari suatu kristal. Sebelum mengetahui bagaimana
mekanisme percobaan Davisson-Germer terlebih dahulu kita pahami apa itu difraksi dan
elektron.

Secara umum, Difraksi Elektron adalah peristiwa penyebaran atau pembelokan cahaya pada
saat melintas melalui celah atau ujung penghalang. Difraksi merupakan metode yang unggul
untuk memahami apa yang terjadi pada level atomis dari suatu material kristalin. Sinar X, elektron
dan neutron memiliki panjang gelombang yang sebanding dengan dimensi atomik sehingga
radiasi sinar tersebut sangat cocok untuk menginvestigasi (penyelidikan dan penelitian tentang
suatu masalah dengan cara mengumpulkan data di lapangan) material kristalin. Teknik difraksi
mengeksploitasi (mengusahakan) radiasi yang terpantul dari berbagai sumber seperti atom dan
kelompok atom dalam kristal.

Elektron adalah partikel sub atom yang bermuatan negatif dan umumnya ditulis sebagai e-.
Elektron tidak memiliki komponen dasar atau pun substruktur apa pun yang diketahui, sehingga
ia dipercayai sebagai partikel elementer. Elektron memiliki massa sekitar 1/1836 massa proton.

Eksperimen Difraksi Eleketron oleh Davisson dan Germer

Bentuk kisi yang dapat mendifraksikan elektron yaitu kisi yang memiliki keteraturan dan tersusun
secara periodik, seperti halnya kisi pada kristal. Berkas sinar monokromatik yang jatuh pada
sebuah kristal akan dihamburkan ke segala arah, akan tetapi karena keteraturan letak atom-atom,
pada arah tertentu gelombang hambur itu akan berinterferensi konstruktif sedangkan yang
lainnya berinterferensi destruktif.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas syarat terjadinya difraksi adalah apabila panjang gelombang
sinar sama dengan lebar celah/kisi difraksi dan perilaku gelombang ditunjukkan oleh beberapa
gejala fisis, seperti interferensi dan difraksi. Namun manifestasi gelombang yang tidak
mempunyai analogi dalam perilaku partikel newtonian adalah gejala difraksi.

Davisson dan Germer mempelajari elektron yang terhambur oleh kristal dengan menggunakan
peralatan. Dengan mengamati energi elektron dalam berkas primer, sudut jatuhnya pada target,
dan kedudukan detektor dapat diubah-ubah. Fisika klasik meramalkan bahwa elektron yang
terhambur akan muncul dalam berbagai arah, dengan hanya sedikit kebergantungan dari
intensitas terhadap sudut hambur dan lebih sedikit lagi dari energi elektron primer.

Manifestasi gelombang yang tidak mempunyai analogi dalam kelakuan partikel Newtonian ialah
gejala difraksi. Dalam tahun 1927 Davisson dan Germer di Amerika Serikat dan dalam
percobaanya Davisson dan Germer secara bebas meyakinkan hipotesis de Broglie dengan
menunjukan berkas elektron terdifraksi bila berkas itu dihamburkan oleh kisi atom yang teratur
dari suatu kristal.
Davisson dan Germer mempelajari elektron yang terhambur oleh zat padat dengan memakai
peralatan seperti di bawah ini

Di tengah-tengah percobaan tersebut terjadi suatu peristiwa yang memungkinkan udara masuk
ke dalam peralatannya dan mengoksidasi permukaan logam. Menguasai oksida nikel murni,
target itu dipanggang dalam oven bertemperatur tinggi. Setelah perlakuan itu, targetnya
dikembalikan ke dalam peralatan dan dilakukan pengukuran lagi. Sekarang ternyata hasilnya
sangat berbeda dari sebelum peristiwa itu terjadi : sebagai ganti dari variasi yang malar (continue)
dari intensitas elektron yang tehambur terhadap sudut, timbul maksimum dan minimum yang
jelas teramati, kedudukannya bergantung dari energi elektron.

Hipotesa de Broglie mendorong tafsiran bahwa gelombang elektron didifraksikan oleh target
sama seperti sinar x didifraksikan oleh bidang–bidang atom dalam kristal. Tafsiran ini mendapat
dukungan setelah disadari bahwa efek pemanasan sebuah blok nikel pada temperatur tinggi
menyebabkan kristal individual kecil yang membangun blok tersebut bergabung menjadi kristal
tunggal yang besar yang atom-atomnya tersusun dalam kisi yang teratur.

Untuk membuktikan bahwa hipotesa de Broglie penyebab dari hasil davisson dan germer, pada
suatu percobaan tertentu berkas elektron 54eV diarahkan tegak lurus pada target nikel, dan
maksimum yang tajam dalam distribusi elektron terjadi pada sudut 500 dari berkas semula. Sudut
datang dan sudut hambur relatif terhadap suatu keluarga bidang (tersusun atas berkas elektron,
bidang dan sudut) bragg ditunjukkan dalam gambar 1 keduanya bersudut 650. Jarak antara
bidang dalam keluarga bidang yang bisa diukur melalui difraksi sinar x adalah 0,091 nm
persamaan bragg untuk maksimum dalam pola difraksi.

Panjang gelombang yang dihitung sesuai dengan panjang gelombang yang diamati. Jadi
eksperimen Davisson dan Germer menunjukkan bukti langsung dari Hipotesis de Broglietentang
sifat gelombang benda bergerak. Analisis eksperimen Davisson-Germer sebenarnya tidak
langsung seperti yang ditunjukkan di atas karena energi elektron bertambah ketika elektron itu
masuk ke dalam kristal dengan besar yang sama dengan besar fungsi kerja (work function)
permukaan itu. Jadi kecepatan elektron dalam eksperimen lebih besar dalam kristal dan panjang
gelombang de Broglie yang bersangkutan menjadi lebih kecil dari harga di luar kristal.

Komplikasi lainnya timbul dari inferensi antara gelombang yang didifraksikan oleh keluarga lain
dari bidang bragg yang membatasi terjadinya maksimum dan minimum menjadi hanya
kombinasi tertentu dari energy elektron dari sudut pandang sebagai pengganti dari setiap
kombinasi yang memenuhi persamaan Bragg.