Thermogravimetric Analysis
Thermogravimetric Analysis
THERMOGRAVIMETRIC ANALYSIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode analisis termal yang paling sering digunakan adalah analisis termogavimetrik atau TGA . TGA
adalah suatu teknik analitik untuk menentukan stabilitas termal suatu material dan fraksi komponen
volatile dengan menghitung perubahan berat yang dihubungkan dengan perubahan temperatur.
Kurva yang dihasilkan pada analisis termogavimetrik (TGA) adalah perubahan massa vs temperatur
sebagai kurva TG. Kurva TG merupakan plot dari penurunan massa pada sumbu y dan peningkatan
temperatur pada sumbu x. Terkadang kita juga dapat mengeplotkan waktu pada sumbu y. Kurva TG
dapat membantu menyatakan tingkat kemurnian sampel yang dianalisa dan menentukan tranformasi
dalam sampel dalam range temperatur spesifik.
TGA biasanya diaplikasikan pada beberapa riset untuk menentukan karakteristik material seperti
polimer, untuk menentukan penurunan temperatur, kandungan material yang diserap, komponen
anorganik dan organik dalam material, dekomposisi bahan yang volatile, dan residu bahan pelarut.
TGA juga sering digunakan pada kinetika korosi pada oksidasi temperatur tinggi.
Pengukuran TGA dilakukan diudara pada atmosfer yang inert seperti helium atau argon dan berat
yang dihasilkan merupakan fungsi dari kenaikan temperatur. Pengukuran jugaa dapat dilakukan pada
atmosfer oksigen (1-5% O2 dalam N2 ata He) hal ini bertujuan untuk memperlambat reaksi oksidasi.
Analisis TGA pada umumnya memiliki high precission keseimbangan suatu tempat (platina) yang
terisi dengan sampel. Tempat sampel diletakkan pada pemanas elektrik dalam termo couple untuk
mengukur temperatur. Atmosfer murni dengan gas inert berfungsi untuk mencegah reaksi oksidasi
atau reaksi lain yang tidak diinginkan. Komputer digunakan untuk mengontrol instrumen. Analisis
TGA dilakukan dengan meningkatkan temperatur secara berangsur-angsur dan membuat plot antara
berat dan temperatur. Biasanya sampel diuji pada suhu sampai 100 ᵒC atau lebih besar. Pada
makalah ini kami mencoba membahas mengenai prinsip kerja TGA, prinsip dasar TGA, instrumen
dan teknik TGA, preparasi sampel, interpretasi kurva TG serta berbagai aplikasi TGA pada beberapa
sample yang telah dipublikasi dijurnal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang diajukan adalah :
1.2.1 Bagaimanakah prinsip dasar dari TGA?
1.2.2 Bagaimanakah prinsip kerja dan preparasi sampel pada TGA?
1.2.3 Bagaimanakah teknik dan instrumentasi TGA?
1.2.4 Bagaimanakah interpretasi kurva TG?
1.2.5 Bagaimanakah aplikasi TGA pada beberapa sample yang telah dipublikasi dijurnal?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka rumusan masalah yang diajukan adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui prinsip dasar dari TGA.
1.3.2 Untuk mengetahui prinsip kerja dan preparasi sampel pada TGA.
1.3.3 Untuk mengetahui teknik dan instrumentasi TGA.
1.3.4 Untuk mengetahui interpretasi kurva TG.
1.3.5 Untuk mengetahui aplikasi TGA pada beberapa sample yang telah dipublikasi dijurnal.
BAB II
ISI
2.1 Prinsip Dasar TGA
Termogavimetrik merupakan salaah satu teknik analisis dimana senyawa dikondisikan dalam
lingkungan panas dan dingin dengan laju yang terkontrol dengan hasil berupa grafik fungsi
temperatur. Hasil kurva massa versus temperatur memberikan informasi mengenai stabilitas termal
dan komposisi dari sampel. Kestabilitas termal dan komposisis beberapa senyawa dan komposisi
sampel dan komposisi dari residu. Instrumen analitik yang digunakan yaitu termobalance dengan
furnace yang dipogram untuk menghasilkan data temperatur dengan waktu.
Prinsip dasar analisis termogravimetrik adalah perubahan massa sampel yang diamati ketika sampel
dikenakan pada Controlled temperature programe. Program temperatur seringkali digunakan pada
peningkatan suhu, namun pengamatan isotermal dapat juga dilakukan ketika perubahan massa
sampel dengan waktu diikuti. TGA memiliki sifat kuantitatif, dan oleh karena itu TGA merupakan
teknik pengukuran secara termal yang sangat tepat, namun memberikan informasi kimia secara tidak
langsung. Kemampuan analisis produk yang volatile selama penghilangan berat dalam jumlah yang
besar. Untuk mendapatkan data dalam bentuk informasi grafis TGA biasanya di gabungkan pada
beberapa detektor dan spektrofotometer seperti MS dan FTIR. Proses yang terjadi pada eksperimen
dengan TGA yang menyebabkan pertambahan berat ataupun kehilangan berat dapat dilihat pada
tabel 2.1
Gambar 2.1 Cawan dari alumina, platinum, silika dan platina (Anandhan, 2003)
Analisis TGA memerlukan bahan standar sebagai referensi dan penyeimbang dari timbangan mikro.
Standar yang biasanya dipakai adalah alumina yang juga perlu dimasukkan dalam cawan. Alumina
dan bahan uji kemudian dimasukkan ke dalam alat TGA. Dalam melakukan analisis dengan TGA
yang perlu dilakukan dengan sangat hati-hati adalah ketika meletakkan cawan-cawan diatas papan
timbangan karena lengan dari papan timbangan sangat mudah patah sehingga dalam menempatkan
dan mengambil cawan perlu dilakukan dengan hati-hati.
Timbangan dalam keadaan nol dan wadah sampel dipanaskan menurut siklus panas yang telah
ditentukan. Timbangan mengirimkan sinyal berat pada komputer sebagai penyimpan, berupa
temperatur sampel dan waktu. Kurva plot dari sinyal TGA dikonversi ke perubahan persen berat pada
sumbu Y terhadap temperatur material referensi pada sumbu X.
Analisis TGA banyak dilakukan pada atmosfer oksidatif (campuran udara atau oksigen dan gas inert)
dengan temperatur linier. Misalnya pada karbon nanotube, penggunaannya dipilih
temperaturmaksimum sehingga berat sampel stabil pada akhir eksperimen, yang mengindikasikan
bahwa semua reaksi kimia telah selesai.
2.3 Teknik TGA
Analisis Termogravimetri (TGA) adalah salah satu teknik analisis termal yang dapat digunakan untuk
menganalisis material anorganik, logam, polimer, plastik, keramik, gelas dan material komposit.
Cuplikan dapat dianalisis dalam bentuk bubuk (powder) atau potongan kecil sehingga bagian dalam
cuplikan dekat dengan suhu gas yang diukur. Instrumen TGA dapat dihubungkan dengan suatu
spektrometer massa RGA untuk mengidentifikasi dan mengukur uap air yang dihasilkan. TGA
mengukur jumlah perubahan massa suatu material sebagai fungsi kenaikan suhu atau secara
eksotermis sebagai fungsi waktu pada atmosfer nitrogen, helium, udara, gas lain atau ruang hampa.
Berat cuplikan mulai dari 1 sampai 150 mg. Berat cuplikan yang biasa digunakan adalah 25 mg, akan
tetapi hasilnya akan sempurna ketika cuplikan yang digunakan 1 mg material. Range suhu yang
digunakan pada analisis adalah 25°C sampai 1500°C.
Teknik penggunaan TGA ialah mengukur kecepatan rata-rata perubahan massa suatu
bahan/cuplikan sebagai fungsi dari suhu atau waktu pada atmosfir yang terkontrol. Pengukuran
digunakan khususnya untuk menentukan komposisi dari suatu bahan atau cuplikan dan
memperkirakan stabilitas termal pada suhu diatas 1000oC. Metode ini dapat mengkarakterisasi suatu
bahan atau cuplikan yang dilihat dari kehilangan massa atau terjadinya dekomposisi, oksidasi atau
dehidrasi. Mekanisme perubahan massa pada TGA ialah bahan akan mengalami kehilangan maupun
kanaikan massa. Proses kehilangan massa terjadi karena adanya proses dekomposi yaitu
pemutusan ikatan kimia, evaporasi yaitu kehilangan atsiri pada peningkatan suhu, reduksi yaitu
interaksi bahan dengan pereduksi, dan desorpsi. Sedangkan kenaikan massa disebabkan oleh
proses oksidasi yaitu interaksi bahan dengan suasana pengoksidasi, dan absorpsi.
TGA menyediakan informasi karakterisasi bebas dan tambahan untuk teknik termal. TGA mengukur
jumlah dan laju (kecepatan) perubahan massa sebuah sampel sebagai fungsi temperatur atau waktu
dalam suasana yang dikendalikan. Pengukuran yang digunakan terutama untuk menentukan panas
dan/atau kestabilan bahan oksidatif serta sifat komposisi mereka. Teknik ini dapat menganalisis
bahan yang menunjukkan massa baik kekurangan atau kelebihan karena dekomposisi, oksidasi atau
hilangnya bahan mudah menguap (seperti kelembaban). Hal ini terutama berguna untuk mempelajari
bahan polimer, termasuk termoplastik, termoset, elastomer, komposit, film, serat, pelapis dan cat
(Mufthi 2009).
2.4 Instrumentasi pada TGA
Instrumentasi yang digunakan pada analisa termogavimetri (TGA) dapat ditunjukkan pada gambar
dibawah ini:
Gambar 2.9 Kurva TG dan DTG CaCO3 berbagai suhu pemanasan (Brown,2001)
Berdasarknan kurva TG menunjukan bahwa persen massa yang hilang pada sampel adalah 44 %
(100.1-56.1) pada antara suhu 800 ᵒC dan 900 ᵒC. Hal ini sesuai untuk menghitung perubahan massa
berdasarkan stokiometri dekomposisi CaCO3 melalui persamaan
m %= (Mr CO_2)/(Mr C〖aCO〗_3 ) ×100
=(44×100)/100.1=44
2.5.2 Teknik Kualitatif
Kurva TG juga dapat digunakan sebagai analisis kualitatif dengan cara membandingkan stabilitas
termal suatu material. Informasi yang dihasilkan oleh kurva TG dapat digunakan untuk memilih
material yang cocok pada penggunaan akhir aplikasi, memprediksi performa produk dan
meningkatkan kualitas produk. Berikut ini merupakan contoh intrerpretasi kurva TG yang diguanakan
sebagai teknik analisis kualitatif pada berbagai sampel polimer.
Gambar 2.10 Kurva TG dari berbagai sampel polimer (Brydson, 1999)
Kurva TG diatas mengindikasikan bahwa polimer PVC memiliki kestabilan termal yang paling rendah
dan PS memiliki kestabilan paling tinggi. Polimer PS tidak kehilangan berat dibawah suhu 500 ᵒC dan
dekomposisi terjadi pada suhu 600 ᵒC. tiga polimer yang lain sudah terdekomposisi sekitar suhu 450
ᵒC. Polimer PMMA dekomposisinya lebih lambat, hal ini diindikasikan dari slop kurva TG. Kurva TG
polimer PMMA memiliki slop yang lebih rendah dari sebelumnya.
BAB III
APLIKASI
Metode analisis termal yang paling sering digunakan adalah analisis termogavimetrik atau TGA. Hal
ini disebabkan TGA dapat diaplikasikan untuk beberapa tujuan. Berikut ini akan dibahas mengenai
berbagai aplikasi TGA dalam serta contoh aplikasi berdasarkan jurnal yang telah dilaporkan.
3.1 Aplikasi TGA Secara Umum
Berikut ini merupakan berbagai aplikasi dari analisis termogavimetrik atau TGA antara lain:
a. Menentukan temperatur dan perubahan berat reaksi dekomposisi, analisa komposisi kuantitatif,
serta menentukan kandungan air;
b. Analisa reaksi dengan udara, oksigen, atau gas reaktif lainnya;
c. Dapat digunakan untuk mengukur laju evaporasi, seperti untuk mengukur emisi campuran cairan
yang mudah menguap;
d. Menentukan temperatur curie dari transisi magnetis dengan mengukur temperatur dimana
kekuatan yang digunakan oleh suatu magnet menghilang pada pemanasan atau muncul kembali
pada pemdinginan;
e. Membantu mengidentifikasi plastik dan material organik dengan mengukur temperatur ikatan
scissions didalam atmosfer inert atau oksidasi dalam udara atau oksigen;
f. Digunakan untuk mengukur berat fiberglass dan material anorganik dalam plastik, melaminasi,
mengecat, primer, dan material composite dengan pembakaran resin polymer;
g. Dapat mengukur material yang ditambahkan ke beberapa makanan, seperti silika gel, dan titanium
diaoksida;
h. Dapat menentukan kemurnian suatu material, senyawa anorganik, atau material organik.
3.2 Aplikasi TGA Berdasarkan Jurnal
Berikut ini merupakan berbagai aplikasi dari analisis termogavimetrik atau TGA yang telah dilaporkan
dari beberapa jurnal antara lain:
a. Jurnal : Dekomposisi Termal Campuran Huntite dan Hydromagnesite (L.A. Holingbery, T.R. Hull,
2012)
- Sampel :
Huntite (Minelko Ltd), hydromagnesite (Carbomag TL), magnesium klorida, kalsium klorida dan
campuran magnesium klorida dan kalsium klorida (Microcrab ST10H).
- Instrumen :
Pengukuran TGA dilakukan dengan menggunakan instrument instrument Q 5000 IR dengan laju
pemanasan 10ᵒC/min.
- Hasil
Antara huntite dan hydromagnesite mengalami dekomposisi termal melalui penghilangan massa dan
pelepasan air dan karbon dioksida. Gambar 3.1 menunjukan perbandingan dekomposisi termal dari
huntite, hydromagnesite dan campuran antara huntite dan hydromagnesite yang telah tersedia
(UltraCarb LH15).
Gambar 3.1 Kurva TGA dekomposisi termal dari huntite, hydromagnesite dan UltraCarb LH15
(Hollingbery, 2012)
Huntite mengalami dekomposisi secara termal melalui dua tahap. Tahap pertama terjadi pada suhu
sekitar 400 ᵒC dan 630 ᵒC dengan jumlah massa yang hilang sekitar 38%, dan tahap kedua terjadi
sekitar 630 ᵒCdan 750 ᵒC dengan kehilangan massa sekitar 12% sehingga massa total yang hilang
sekitar 50%.
Mg3Ca(CO3)4 → 3MgO + CaO + 4CO2
Huntite memiliki massa molekular total 353 g/mol. Oleh karena itu, mineral karbonat ini yang mungkin
mengalami dekomposisi termal dengan melepaskan karbon dioksida yang memiliki massa molekular
44 g/mol, sehingga perhitungan stokiometrinya:
Massa yang hilang pada suhu 400 ᵒC dan 630 ᵒC :
38/100×353=134.14 g/mol
Yang hilang molekul CO2, maka :
134.14/44≈3
Jadi, pada suhu 400 ᵒC dan 630 ᵒC terjadi pelepasan sekitar 3 molekul CO2.
Massa yang hilang pada suhu 630 ᵒC dan 750 ᵒC :
12/100×353=42.36 g/mol
Yang hilang molekul CO2, maka :
42.36/44≈1
Jadi, pada suhu 400 ᵒC dan 630 ᵒC terjadi pelepasan sekitar 1 molekul CO2.
Dekomposisi hydromagnesite lebih rumit dibandingkan dengan huntite. Ada massa yang hilang
sekitar 15% pada suhu sekitar 350 ᵒC dan selanjutnya hilang 41% pada suhu sekitar 700 ᵒC dimana
massa molekular hydromagnesite 467.5 g/mol.
Mg3Ca(CO3)4(OH)2.4H2O → 5MgO + 4CO2 + 5H2O
Hasil TGA menunjukkan bahwa tejadi pelepasan empat molekul air (dari air kristal). Selanjutnya,
terjadi dekomposisi molekul air dari ion hidroksida dan pelepasan molekul karbon dioksida.
Massa yang hilang pada suhu 350 ᵒC :
15/100×467.5=70.125 g/mol
Yang hilang molekul H2O, maka :
70.125/18≈4
Jadi, pada suhu 350 ᵒC terjadi pelepasan sekitar 4 molekul CO2.
Massa yang hilang pada suhu 700 ᵒC :
41/100×467.5=191.675 g/mol
Dengan asumsi 1 molekul hilang H2O, maka :
18/467.5=0.0385 ≈3.85%
Jadi, pada suhu 700 ᵒC terjadi pelepasan sekitar 1 molekul H2O dengan massa hydromagnisite yang
hilang sekitar 3.85% dan 4 molekul hilang CO2, maka :
176/467.5=0.376 ≈37.6%
Jadi, pada suhu 700 ᵒC terjadi pelepasan sekitar 1 molekul H2O dengan massa hydromagnisite yang
hilang sekitar 3.85% .
Peneliti juga melakukan pebandingan antara sampel Humatite dan Hydromagnesite dengan
magnesium karbonat dan kalsium karbonat menggunakan TGA untuk melihat dekomposisi
Magnesium dan kalsium karbonat pada humatite dan hydromagnesite. Pengamatan dekomposisi
humatite dilakukan dengan membandingkan dengan magnesium karbonat, kalsium karbonat dan
magnesium karbonat-kalsium karbonat 3:1.
Gambar 3.2 Kurva TGA dekomposisi termal dari huntite, magnesium klorida, kalsium klorida dan
magnesiumklorida-kalsium klorida 3:1 (Hollingbery, 2012)
Humatite mengalami dekomposisi secara termal melalui 2 tahap. Pada tahap pertama dekomposisi
terjadi pada suhu antara 400 dan 630 ᵒC. Dekomposisi yang terjadi adalah ion carbonat yang
berikatan dengan atom magnesium, pelepasan karbon dioksida dan meninggalkan magnesium
oksida kalsium karbonat sebagai residu.
Mg3Ca(CO3)4 → 3MgO . CaCO3 + 4CO2
Kalsium karbonat tidak membentuk struktur kristal seperti kalsium karbonat alami karena kalsium
karbonat terdekomposisi pada temperatur rendah. Hal tersebut menyebabkan terbentuknya
magnesium oksida dengan kalsium karbonat dalam satu struktur. Pada tahap kedua dekomposisi
terjadi pada suhu antara 630 dan 750 ᵒC, terjadi dekomposisi ion karbonat sisa yang berikatan
dengan atom kalsium, pelepasan karbon dioksida dan meninggalkan karbon dioksida dan
meninggalkan residu campuran magnesium oksida dan kalsium oksida.
Mg3Ca(CO3)4 → 3MgO . CaO + CO2
Pada dekomposisi hydromagnesite yang terlihat pada gambar 3.3 tidak sepenuhnya terjadi
dekomposisi melalui tiga tahap. Tetapi yang terlihat digambar 1 bahwa pada suhu 350 ᵒC terjadi
kehilangan 15% massa, selanjutnya kehilangan massa sebesar 41% terjadi pada suhu 700 ᵒC,
sehingga total 56% massa yang hilang dari proses dekomposisi ini.
Gambar 3.3 Kurva TGA dekomposisi termal dari hydromagnetite, magnesium klorida, kalsium klorida
dan magnesiumklorida-kalsium klorida 4:1 (Hollingbery, 2012)
Massa yang hilang berhubungan dengan dekomposisi ion hidroksida yang mungkin terjadi pada suhu
sekitar 330 ᵒC dan 430 ᵒC tetapi didukung dengan hilangan massa yang cukup besar yang
berhubungan dekomposisi ion karbonat. Rentang temperatur ini juga dekat dengan rentang
temperatur dimana terjadi dekomposisi magnesium hidroksida.
b. Jurnal : Synthesis and Hydrogen Storage Behavior of Metal Organic Framework MOF-5 (Li, 2009)
- Sampel :
Sampel yang digunakan pada karakterisasi TGA ini adalah material berpori MOF-5 yang disintesis
dengan metode yang berbeda-beda yaitu Direct Mixing of TEA (Difusi cepat TEA), Slow Diffusion of
TEA (Difusi lambat TEA), serta Solvotermal. Pada prinsipnya MOF-5 disintesis dengan menggunakan
Zn(NO3)2. 6H2O sebagai sumber logam, Benzen Dikarboksilat Acid (H2BDC) sebagai ligan organik,
dan pelarut yang digunakan adalah DMF (Dimetil Formamide) dan membentuk kerangka
(framework). Adapun struktur dari MOF-5 adalah sebagai berikut:
Gambar 3.4 : (a) bangunan unit di dalam kristal MOF-5 dimana atom karbon karboksilat ada pada
posisi geometri oktahedral (b) MOF-5 dalam bentuk kubus primitif (c) MOF-5 dalam bentuk karbon
berpori secara 3D (Eddaoudi, 2001)
- Instrumen :
Pengukuran TGA dilakukan dengan menggunakan instrumen Netzsch STA409C dengan kecepatan
pemanasan 10 K/menit.
- Hasil
Kurva TGA pada sampel MOF-5 yang disintesis dengan menggunakan metode yang berbeda
ditunjukkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.5 : Kurva TGA MOF-5 yang disintesis dengan metode yang berbeda (Li, 2009)
Gambar 3.5 menunjukkan bahwa kurva TGA MOF-5 dengan metode yang berbeda menunjukkan
bentuk yang mirip. Sampel MOF-5 baik yang disintesis dengan metode Direct Mixing of TEA (Difusi
cepat TEA), Slow Diffusion of TEA (Difusi lambat TEA), maupun Solvotermal mengalami perubahan
% berat pada suhu antara 300 sampai 523 K. Hal ini menunjukkan pelarut DMF yang ada pada
framework mulai terhapus pada suhu 300 K dan akan komplit terhapus pada suhu 523 K. Pada suhu
diatas 523 K semua kurva TGA menunjukka % berat yang relatif konstan, yang artinya struktur MOF-
5 stabil.
Namun % berat kembali menurun secara drastis yang menunjukkan bahwa struktur MOF-5 kembali
tidak stabil karena kerangkanya (framework) mulai mengalami kerusakan (collapse). Saat collapse
terjadi perbedaan suhu antara sampel MOF-5 yang disintesis dengan metode difusi TEA (baik cepat
atau lambat) dengan solvotermal. Sampel MOF-5 yang disintesi dengan metode difusi TEA
mengalami collapse pada suhu 673 K sedangkan solvotermal collapse baru terjadi pada suhu 773 K.
Hal ini menunjukkan bahwa MOF-5 yang disintesis dengan metode solvotermal memiliki kestabilan
termal yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan MOF-5 yang disintesis dengan metode Direct
Mixing of TEA (Difusi cepat TEA) dan Slow Diffusion of TEA (Difusi lambat TEA).
c. Jurnal : Thermal Properties of Nanoporous Carbon Prepared by A Template Method Using
Different Polymeric and Organic Precursor (Sobiesiak, 2012)
- Sampel :
Sampel yang digunakan pada karakterisasi TGA ini adalah karbon nanopori yang disintesis dengan
metode hard template dengan polimer dan precursor organik. Adapun variasi yang dilakukan antara
lain:
Keterangan:
Furfuril Alkohol (FA); 4,4’-bismaleimidediphenyl methane (BM); 4,4’-bismaleimidediphenyl methane
(BM) ditambah kopolimer Divinil Benzene (BM-DVB); silika gel dengan ukuran yang berbeda, yaitu
SG (ukuran butir 0,063 – 0,2 mm) dan ZK (ukuran butir 2 – 7 mm); Sulfosalicylic Acid (c1) dan
Phosphoric Acid (P1.5)
- Instrumen :
Pengukuran TGA dilakukan dengan menggunakan instrumen Netzsch derivatograph STA 449 F1
Jupiter (Netzsch, Germany) pada range 40–1000 oC dengan kecepatan pemanasan 10oC/menit.
Pengukuran dilakukan dengan wadah Al2O3 dibawah atmosfer helium dan udara.
- Hasil
Kurva TGA pada sampel karbon nanopori yang disintesis dengan polimer serta precursor organik
yang berbeda dan diukur dibawah atmosfer helium ditunjukkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.6 : Kurva TGA Karbon nanopori yang diukur dibawah atmosfer helium (Sobiesiak, 2012)
Gambar 3.6 menunjukkan bahwa kurva TGA karbon nanopori yang diukur dibawah atmosfer helium
terlihat landai dan tidak menurun secara drastis dan penurunan % berat terjadi secara lambat. Hal ini
disebabkan dekomposisi karon nanopori terjadi tanpa oksidasi. Setelah suhu mencapai 1000oC
(setelah pengukuran selesai) residu yang diperoleh juga tinggi, yaitu berkisar 73 – 83%. Pada sampel
P1, dekomposisi terjadi lebih cepat dibandingkan dengan sampel lain terutama pada suhu 225 -
450oC. Setelah suhu 450oC, dekomposisi sampel P1 terjadi secara lambat kembali. Kurva TGA
sampel P2 menunjukkan bahwa destruksitermal terjadi secara intensif pada suhu 800-900oC.
Adapun sampel P3-P6 menunjukkan dekomposisi yang hambir sama yaitu penurunan % berat terjadi
secara lambat. Hal ini dapat ditunjukkan pada kurva TGA sampel P3-P6 yang bentuk kurvanya mirip.
Sehingga dapat ditarik simpulan bahwa sampel P2 memiliki kestabilan termal terbaik.
Kurva TGA pada sampel karbon nanopori yang disintesis dengan polimer serta precursor organik
yang berbeda dan diukur dibawah atmosfer udara ditunjukkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.7 : Kurva TGA Karbon nanopori yang diukur dibawah atmosfer udara (Sobiesiak, 2012)
Gambar 3.7 menunjukkan bahwa kurva TGA karbon nanopori yang diukur dibawah atmosfer udara
terlihat turun secara drastis dan penurunan % berat terjadi secara cepat. Hal ini disebabkan
dekomposisi karon nanopori terjadi dengan oksidasi. Kurva TGA menunjukkan bahwa destruksi
termal terjadi pada range 150-250oC bergantung pada tipe prekursor dan temperatur karbonisasinya.
Pada sampel karbon nanopori dengan kode P1, P3-P6 dekomposisi mula-mula terjadi pada suhu
150-175oC dan hampir selesai (komplit) pada suhu 500oC. Sedangkan sampel karbon nanopori
dengan kode P2 memiliki kurva TGA yang sedikit berbeda, yaitu dekomposisi mula-mula terjadi pada
suhu 250oC dan hampir selesai (komplit) pada suhu 550oC. Hal ini menunjukkan bahwa sampel P2
memiliki kestabilan termal terbaik.
d. Rapid Synthesis of Zeolitic Imidazolate Framework-8 (ZIF-8) Nanocrystals In An Aqueous System
(Pan, 2011)
- Sampel :
ZIF-8 nanokristal yang disintesis dalam larutan encer. Larutan tersebut terdiri dari Zn(NO3)2.6H2O, 2-
metil imidazol, dan air deionized (DI) dengan rasio molar Zn2+ : 2-metil imidazol : H2O = [Link].
Sintesis dilakukan pada temperatur ruang (22±2 oC) dan secara khusus hanya dilakukan dalam
beberapa menit. Adapun struktur dari ZIF-8 adalah sebagai berikut:
Gambar 3.10 Kurva TGA katalis Li dengan doping Magnesium Oxide (Wen, 2010)
Ada tiga tipe pengurangan berat pada suhu 298-373 K, 543-573 K, dan 763-883K. Pengurangan
berat pertama (298-373 K) adalah penghilangan adsorpsi fisik air. Pengurangan berat kedua (543-
573 K) adalah dekomposisi Mg(OH)2. Pada suhu mulai 763 K LiNO3 mulai terdekomposisi dan
struktur kembali menjadi MgO. Berat tetap konstan pada suhu diatas 883 K. Suhu kalsinasi tinggi baik
untuk interaksi kuat antara ion Li dan MgO, dengan demikian untuk meningkatkan konversi biodiesel
dengan meningkatkan suhu dari 823 K ke 773 K. Di sisi lain luas permukaan menurun menurun
secara signifikann dengan meningkatnya suhu kalsinasi, kecuali pada suhu range antara 873 K
hingga 973 K. Ini tidak baik untuk sintesis biodiesel. Dua pertentangan pengaruh tersebut
menunjukkan suhu rata-rata dekomposisi LiNO3 823 K, ini adalah suhu optimum untuk katalis Li
dopping MgO.
f. Production of Biodiesel by Esterification of Natural Fatty Acids Over Modified Organoclay Catalysts
(Ghiaci, 2011)
- Sampel :
Biodisel dari asam lemak alami yang dimodivikasi dengan bentonit, dimana 3A = The acidic ionic
liquids used were 3-hexadecyl-6-sulfo-1-(4-sulfobenzyl)-1H-benzimidazolium hydrogensulfate, 3B =
3,30-(butane-1,6-diyl)bis(6-sulfo-1-(4-sulfobenzyl)-1H-benzimidazolium) hydrogensulfate, dan 4B
=3,30-(hexane-1,6-diyl) bis(6-sulfo-1-(4-sulfobenzyl)-1H-benzimidazolium) hydrogensulfate.
- Instrumen :
Analisis termogravimetri (TGA) dilakukan dengan menggunakan Instrument Bahr STA 503 model
agilent GC 6890N, dengan laju pemanasan 100 C / menit. Pada setiap analisis dilengkapi dengan
HP-50 + kolom kapiler (60 m, 0,25 mm, 0,25 lm) dan detektor FID.
- Hasil
Kurva TGA dari sampel biodisel yang telah dimodivikasi dengan bentonit ditunjukan pada gambar
dibawah ini:
Gambar 3.11 Kurva TGA biodisel yang dimodifikasi bentonit (Ghiaci, 2011)
Stabilitas termal dari sampel cairan ionik dapat diketahui dari hasil thermograms TGA. Dari hasil TGA
dapat disimpulkan bahwa semua cairan ionik menunjukkan stabilitas termal yang baik hingga
temperature mencapai 2000 C, meskipun dicationic ionik cairan 3B dan 4B secara signifikan lebih
stabil daripada monocationic ionik 3A cair.
g. Thermal, Rheological, Mechanical and Morphological Behavior of HDPE/Chitosan Blend (Mir,
2011)
- Sampel :
Polimer komposit HDPE/Kitosan. Di mana variasi rasio HDPE/kitosan masing-masing 100/0, 85/15,
75/25, 70/30 dan 65/35.
- Instrumen :
Pengukuran TGA dilakukan dengan menggunakan instrument Mettler Toledo (TGA/DSC star system)
dengan kecepatan pemanasan 10◦C/min, dan dibawah aliran nitrogen dengan kecepatan 50mL/min.
- Hasil
Kurva TGA dari sampel polimer komposit HDPE/Kitosan ditunjukan pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.13 Kurva TGA Kobalt Nitrat dan Kobalt Klorida (Garavaglia, 1983)
Gambar 3.13 menunjukkan Dekomposisi nitrat pada Co(NO¬3)2∙6H2O ditunjukkan oleh kurva A
sedangkan Dekomposisi nitrat pada CoCl2∙6H2O ditunjukkan oleh kurva B. Kurva A menunjukkan
bahwa, pada suhu kamar adanya hidrasi molekul air ditunjukkan oleh komposisi heksahidrat. Hidrasi
molekul air hilang pada temperature antara 40-200°C, akan tetapi pada waktu pemanasan yang
pendek mungkin masih terdapat molekul air pada suhu diatas 200°C. Pemanasan pada waktu yang
cukup Co3O4 mulai terbentuk pada suhu 150°C. Padatan Co3O4 satu-satunya produk yang
terbentuk pada saat suhu 250-700°C, walaupun digunakan waktu yang paling pendek yaitu 1 jam.
Kurva B menunjukkan bahwa, pada suhu 40-80°C terjadi kehilangan berat yang sangat kecil. Hal ini
menunjukkan hilangnya molekul air yang terserap secara fisik (physisorp). Pada saat suhu 130°C
molekul air yang terikat secara kimia sedikit demi sedikit akan hilang sehingga komposisi yang
terbentuk adalah CoCl2∙2H2O. Step by step pada saat suhu 160°C akan terbentuk CoCl2∙H2O.
Molekul air yang terakhir hilang sangat lambat pada interval suhu 60°C untuk membentuk CoCl2 yang
akan stabil pada kenaikan suhu diatas 200°C. Ketika suhu 400°C penurunan berat terus meningkat
dan akan konstan ketika suhu 700°C. Pada suhu 820°C reaksi dekomposisi telah menyeluruh
membentuk Co3O4 dan tidak ada variasi komposisi ketika suhu 900°C.
i. Memprediksi Waktu Hidup Berdasarkan Informasi TGA Dekomposisi
Informasi TGA dekomposisi dapat dipakai untuk memprediksi waktu hidup (lifetimes) produk dari
beberapa material polimer, seperti pelapisan untuk keadaan elektrik atau kabel telekomunikasi.
Sampel dipanaskan pada tiga atau lebih perbedaan pemanasan. Pemakaian perbedaan pemanasan
merubah skala waktu pada saat proses dekomposisi. Jika kecepatan pemanasan diperlakukan lebih
cepat, maka temperatur dekomposisi akan menjadi lebih tinggi. Pendekatan ini membuktikan sebuah
hubungan antara waktu dan temperatur untuk dekomposisi polimer dan informasi ini dapat dipakai
untuk memodelkan kinetik dekomposisi. Hal ini dapat ditunjukkan melelui kurva TGA dibawah ini:
Gambar 3.14 Pengaruh panas pada dekomposisi termal dari polietilena
Gambar 3.15 Kurva Isokonversi untuk Degradasi Termal Polietilena Berdasarkan pada Pemodelan
Kinetik
Gambar 3.14 menunjukkan hasil TGA yang diperoleh dari sampel polietilena pada bentangan
kecepatan pemanasan dari 1—40 °C/min. Sepanjang kecepatan pemanasan ditingkatkan, permulaan
dekomposisi berubah ke temperatur yang tinggi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis
menggunakan software Kinetik Dekomposisi TGA PerkinElmer. Analisis kinetik disajikan oleh
informasi prediksi yang bernilai dari software pada material polimer, termasuk estimasi waktu hidup
(lifetime). Ditunjukkan dalam Gambar 3.15 Kurva Isokonversi, yang menghadirkan waktu untuk
mencapai sebuah tingkatan khusus konversi sebagai sebuah fungsi temperatur. Terutama yang
digunakan untuk penilaian waktu hidup produk. Jika menginginkan bahwa tingkat kritik konversi bisa
diketahui, maka waktu untuk mencapai tingkat kritik ini direncanakan secara khusus (particular) atau
akhir penggunaan temperature dapat diprediksi.
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:
4.1 Prinsip dasar analisis termogravimetrik adalah perubahan massa sampel yang diamati ketika
sampel dikenakan pada Controlled temperature programe.
4.2 Cara pemakaian TGA dapat dilakukan dengan material yang berupa serbuk dimasukkan ke
dalam cawan kecil dari bahan platina, atau alumina ataupun teflon.
4.3 Teknik penggunaan TGA ialah mengukur kecepatan rata-rata perubahan massa suatu
bahan/cuplikan sebagai fungsi dari suhu atau waktu pada atmosfir yang terkontrol. Adapun instrumen
yang digunakan pada termogavimetri (TG) disebut termobalance.
4.4 Kurva TG merupakan plot dari % penurunan massa pada sumbu y dan peningkatan temperatur
pada sumbu x. Terkadang kita juga dapat mengeplotkan waktu pada sumbu y.
4.5 Pengukuran TGA digunakan khususnya untuk menentukan komposisi dari suatu bahan atau
cuplikan dan memperkirakan stabilitas termal pada suhu diatas 1000oC. Metode ini dapat
mengkarakterisasi suatu bahan atau cuplikan yang dilihat dari kehilangan massa atau terjadinya
dekomposisi, oksidasi atau dehidrasi.
Daftar Pustaka
Anandhan, 2003. Thermal Analysis. Dept. of Met. and Mat. Engg., NITK
Brydson, J A. 1999. Plastics Materials. Butterworth-Heinemann: 7th Ed
Brown, M.E. 2001. Introduction to Thermal Analysis. London: Kluwer Academic Publisher
Garavaglia R., C. M. Mari and S. Trasatti. 1983. Physicochemical Characterization of Co3O4
Prepared by Thermal Decomposition: Phase Composition and Morphology. Surface Technology (19):
197 – 215
Ghiaci M., B. Aghabarari and A. Gil. Production of Biodiesel by Esterification of Natural Fatty Acids
Over Modified Organoclay Catalysts. Fuel (90): 3382–3389
Hollingberya, LA and T.R. Hullb. 2012. The Thermal Decomposition of Natural Mixtures of Huntite and
Hydromagnesite. Thermochimica Acta (528): 45 – 52
Li, Jinping. et. al. 2009. Synthesis and Hydrogen-Storage Behavior of Metal–Organic Framework
MOF-5. International Journal of Hydrogen Energy (34): 1377–1382
Mir, Sadullah. et. al. 2011. Thermal, Rheological, Mechanical and Morphological Behavior of
HDPE/Chitosan Blend. Carbohydrate Polymers (83): 414–42
Pan, Yichang. et. al. 2011. Rapid Synthesis of Zeolitic Imidazolate Framework-8 (ZIF-8) Nanocrystals
in an Aqueous System. Journal Royal Society of Chemistry (47): 2071–2073
Sobiesiak, Magdalena. 2012. Thermal Properties of Nanoporous Carbons Prepared by a Template
Method Using Different Polymeric and Organic Precursors. New Carbon Materials 27(5): 337–343
Wen, Zhenzhong. et. al. 2010. Synthesis of Biodiesel from Vegetable Oil with Methanol Catalyzed by
Li-Doped Magnesium Oxide Catalysts. Applied Energy (87): 743–748