Anda di halaman 1dari 155

PENGARUH INTERVENSI PENYULUHAN MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET

TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN MENGENAI POTENSI BAHAYA


DERMATITIS KONTAK DAN PENCEGAHANNYA PADA PEKERJA
CLEANING SERVICE UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 2013

SKRIPSI

Oleh

Arifah Fitriani

109101000058

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1434 H / 2013 M
LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

1. Skrips ini hasil karya saya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoeh gelar strata satu (S1) di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini, telah saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan jiplakan hasil karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi

yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 05 November 2013

Arifah Fitriani

i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, Oktober 2013
Arifah Fitriani, NIM 109101000058

PENGARUH INTERVENSI PENYULUHAN MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET


TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN MENGENAI POTENSI BAHAYA
DERMATITIS KONTAK DAN PENCEGAHANNYA PADA PEKERJA CLEANING
SERVICE UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA TAHUN 2013
xv + 83 halaman, 12 tabel, 2 Bagan, 9 lampiran

ABSTRAK
Salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak pada
pekerja cleaning service adalah penggunaan Alat pelindung diri saat bekerja dan mencuci
tangan dengan langkah yang baik dan benar. Sedangkan berdasarkan studi pendahuluan
pekerja cleaning service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak menggunakan alat
pelindung diri dan tidak mencuci tangan dengan langkah yang baik dan benar. Penelitian ini
bertujuan untuk melakukan melihat pengaruh media leaflet terhadap perubahan
pengetahuan potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya.
Penelitian ini merupakan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi
kuasi eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sampel
dalam penelitian ini adalah 95 pekerja cleaning service yang bekerja UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan
kelompok kontrol. Kelompok intervesi terdiri dari 48 responden dan kelompok kontrol
terdiri dari 47 orang responden. Pada kelompok intervensi diberikan penyuluhan mengenai
potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya dengan bantuan media leaflet.
Sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan penyuluhan dan tidak diberikan media
leaflet. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari kuisioner dan
wawancara.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata skor pengetahuan pada kelompok
intervensi lebih besar dari kelompok kontrol. Kemudian dari hasil bivariat dengan
kemaknaan 5%, diketahui bahwa media leaflet dapat mempengaruhi perubahan
pengetahuan dengan p value sebesar 0,000. Selain itu, digunakan uji bivariat untuk
mengetahui hubungan antara perubahan pengetahuan mengenai potensi bahaya dermatitis
kontak dan pencegahannnya dengan p value sebesar 0,000.
Dapat disimpulkan bahwa media leaflet dapat mempengaruhi pengetahuan potensi
bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya pada pekerja cleaning service UIN syarif
Hidayatullah Jakarta. Diharapkan media leaflet dapat digunakan sebagai media untuk
menyampaikan informasi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan pekerja
cleaning service UIN syarif Hidayatullah Jakarta.
Kata Kunci :Media Leaflet, Dermatitis Kontak, Cleaning Service, Perubahan
Pengetahuan
Daftar Bacaan : 38 (1995-2013)

ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH
OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MAJOR
Thesis, November 2013
Arifah Fitriani, NIM 109101000058

EFFECT OF COUNSELING INTERVENTIONS USING LEAFLET MEDIA TO


CHANGES IN KNOWLEDGE ABOUT THE POTENTIAL HAZARD AND
PREVENTION OF CONTACT DERMATITIS TO CLEANING SERVICE OF UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013
xv + 83 pages, 12 tables, 2 Chart, 9 attachments

ABSTRACT
One of the factors associated with the incidence of contact dermatitis in workers
cleaning service is the use of personal protective equipment while working and wash hands
with a good step and completely. While based on a preliminary study of cleaning service
workers UIN Syarif Hidayatullah Jakarta did not use personal protective equipment and do
not wash your hands with a good step and completely. This study aims to look at the effect
of changes in knowledge leaflet against the potential dangers and prevention of contact
dermatitis.
This research is a quantitative study with a quasi- experimental study design. This
research was carried out in the UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The samples in this study
were 95 workers cleaning service that works UIN Syarif Hidayatullah Jakarta samples were
divided into 2 groups: the intervention group and the control group. Intervention group
consisted of 48 respondents and the control group consisted of 47 respondents. In the
intervention group was given counseling about the potential dangers and prevention of
contact dermatitis with the aid leaflet. Whereas in the control group was not given
counseling and was not given leaflet. The data used is primary data obtained from
questionnaires and interviews.
The survey results revealed that the average knowledge score greater in the
intervention group than the control group. Then from the results of the bivariate
significance 5 %, it is known that the leaflet can affect change knowledge with p value of
0.000. In addition, bivariate test was used to determine the relationship between changes in
knowledge about the potential dangers of contact dermatitis and pencegahannnya with p
value of 0.000.
It can be concluded that the leaflet can affect knowledge of potential hazards and
prevention of contact dermatitis in workers cleaning service Syarif Hidayatullah State
Islamic University Jakarta. Expected leaflet can be used as a medium for conveying
information about the health and safety of workers in the cleaning service UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Keywords: Media Leaflets, Contact Dermatitis, Cleaning Service, Knowledge Changes

References: 38 (1995-2013)

iii
BIODATA PENULIS

Nama : Arifah Fitriani


TTL : Tangerang, 30 April 1990
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Belum Menikah
Tinggi Badan : 160 CM Berat Badan : 50 Kg
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Raya Mauk KM 11 Rt 01/01 no 24, Cadas- Sepatan -
Tangerang
No. telp : 085694174949-081316621494
Universitas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Pekerjaaan : Mahasiswi, Tourism Ambassador, & Master of Ceremony
(MC)

Riwayat Pendidikan

Jenjang Pendidikan Tahun Ajaran

TK Islam Sepatan 1995-1996

SD Negeri Lebak Wangi 1996-2002

SLTP Negeri I Sepatan 2002-2005

SMA Daar El Qolam Islamic Boarding School 2005-2009

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2009-2013

vi
Riwayat Organisasi

No Nama Organisasi Jabatan Tahun Tingkat


1. El- Markazi Pengurus 2007-2009 Lokal
2. Kelompok Ilmiah Santri (KIS) Ketua 2008-2009 Lokal
3 Komunitas Konsulat Tangerang Ketua 2007-2009 Lokal
4 Programmer Community Anggota 2008-2009 Lokal
5 Pramuka Anggota 2007-2010 Lokal
6 Ikatan Santri Mu’alimin Al-Islamiya Deputy II 2008-2009 Lokal
(ISMI)
7 Komunitas Angkatan 34 Daar- El Wakil Ketua 2008-2009 Lokal
Qolam
8 BEMJ Kesehatan Masyarakat Anggota 2010-2011 Lokal
9 Komunitas MC UIN SH Jakarta Anggota 2010- Sekarang Lokal
10 Ikatan Keluarga Pondok Daar El Qolam Pengurus 2011 Nasional
11 Paguyuban Pemuda Tangerang Anggota 2011 Lokal
12 Ikatan Kang & Nong Kabupaten Pengurus 2011-sekarang Lokal
Tangerang
13 Ikatan Kang & Nong Provinsi Banten Anggota 2011-sekarang Lokal
14 Ikatan Duta Pariwisata Se-Tangerang Anggota 2011-sekarang Lokal
Raya
15 Ikatan Duta Pariwisata Nasional Anggota 2011-sekarang Nasinal

16 Ikatan Duta Pariwisata Online Anggota 2011-sekarang Nasional

No Nama Organisasi Jabatan Tahun Tingkat


17 Dewan perwakilan Cabang Daerah Kab Pengurus 2012 Lokal
Tangerang
18 Anggota Termuda dan berbakat Dewan Dewan 2011 Lokal
Perwakilan Cabang Daerah Kab Perwakilan
Tangerang Cabang Kab
Tangerang
19 Anggota Terbaik Duta Pariwisata 2012 Lokal
Se-Tangerang
Raya
20 Grand Finalist Mahasiswa Berprestasi Fakultas 2012 Lokal
FKIK UIN JKT Kedokteran &
Ilmu Kesehatan
21 Dewan perwakilan Cabang Daerah Kab Pengurus 2012 Lokal
Tangerang
22 Paguyuban Kang & Nong Kab Sekretaris 2012-2014 Lokal
Tangerang

vii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim….
Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat
serta karunianya, makalah ini bisa terselesaikan meskipun banyak halangan dan
rintangan yang menghadang. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
Baginda Rasulullah Muhammad saw. beserta keluarganya, sahabatnya, dan kepada
umatnya hingga akhir zaman.

Berkat Rahmat Allah SWT dan dorongan keinginan yang kuat, sehingga penulis
dapat menyusun laporan penelitian skripsi dengan judul " Pengaruh Intervensi
Penyuluhan Menggunakan Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Mengenai
Potensi Bahaya Dermatitis Kontak Dan Pencegahannya Pada Pekerja Cleaning Service
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013 ” dibuat sebagai salah satu syarat untuk
meraih gelar sarjana kesehatan masyarakat (S.KM) Peminatan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menilik akan tujuan yang mulia dari staff pengajar, maka penulis sangat
mendukung karena merupakan sarana pengembangan keahlian mahasiswa untuk
mencapai kemajuan dalam mengembangkan hasil penelitian magang maupun
argumennya. Semua ini merupakan sumbangan ilmu pengetahuan yang sangat dan
dapat memperkaya pengetahuan ilmiah bagi bangsa dan negara Indonesia tercinta,
khususnya mahasiswa Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Negeri Jakarta
Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Menilik lebih dalam,laporan ini masih jauh dari sempurna karena “tak ada
gading yang tak retak”, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca agar penulisan penelitiannya dapat direvisi dan
disempurnakan kembali.
Pada kesempatan yang baik ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan
laporan magang ini, diantaranya:

viii
1. Bpk Syahrudin Asip. Ibu Ustzh Nur’aini selaku orang tuaku yang selalu
mengingatkan, memberikan dukungan, serta kasih sayang yang tiada batas yang
mereka berikan kepada saya..

2. Buat adik-adikku yang tersayang Salvia Rahmawati dan M. Faqih Abdillah


yang selalu memberikan motivasi dan inspirasi kepadaku, dan yang selalu
memberikan senyuman.

3. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

4. Ibu Ir. Febrianti, M.Si selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
(PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Ibu Iting Shofwati, ST. MKKK, selaku Dosen Pembimbing Fakultas kegiatan
magang, dan sebagai penanggung jawab peminatan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) yang tiada henti selalu sabar dan selalu memberikan arahan,
bimbingan dan masukan yang berarti bagi penulis selama penyusuna laporan
ini hingga selesai tepat waktu.
6. Ibu Raihana Nadra Alkaf, SKM, MMA selaku pembimbing II skripsi yang telah
membimbing dengan tulus dan ramah sehingga saya dapat menyelesaikan
skripsi ini tepat pada waktu yang ditetapkan,
7. Ibu Fase Badriah, Ph.D, Bpk. Drs.Farid Hamzein, M.Si, dan Ibu Rostini MKM,
Selaku penguji skripsi yang telah menguji dan mengoreksi hasil penieltian ini,
juga telah meluangkan waktu untuk revisi penelitian ini.

8. Keluarga Besar Paguyuban Kang & Nong Kab Tangerang. Terimaksih banyak
atas support yang kalian berikan. Kalian Memberikan support dan semangat
yang tidak bisa saya lupakan.

9. Temen- temen K3 2009, satu perjuangan dalam mengejar ilmu K3 (Diana,


Vijeh, Amel, Rifqi, Reza, Desi, Nia, Ubay, Fadil, Denis, Defri, Dio, Henny,
Sandi Lina, Fil, Pikih, Novan, Sca) atas semangat juangnya untuk selalu
kompak, semoga kita sukses menjadi ahli K3, Audiotr K3 dan Manager HSE.
Amien 

ix
10. Teman-teman Kesmas 2009, peminatan Kesehatan Lingkungan (Maya, Cita,
Reni, Ami, Dila, Ersa dan Moris), Peminatan Gizi, dan Peminatan Manajemen
Pelayanan Kesehatan sukses selalu dimana pun berada.

11. Sahabat-sahabat terbaik saya selama di UIN yang selalu mendoakan saya
dimanapun mereka berada Putri Rose, Moetz, Nia, Rei, Ikoh, Fatimah, Ita,
Oman dan awesti. Terimakasih atas kebaikan kalian selama saya menuntut ilmu
Ciputat tercinta ini.

12. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung

Terima kasih atas segala bantuan dalam bentuk apapun. Semoga bantuan,
petunjuk, bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada penulis mendapat
barakah dari Allah SWT.

Jakarta, November 2013

Penulis

x
DAFTAR ISI
Cover Judul
Lembar Pernyataan i
Abstrak ii
Lembar Persetujuan iv
Biodata Penulis vi
Kata Pengantar viii
Daftar Isi xi
Daftar Tabel xv
Daftar Gambar xvii
Daftar Lampiran xviii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 9
1.3 Pertanyaan Penelitian 11
1.4 Tujuan Penelitian 11
1.4.1 Tujuan Umum 11
1.4.2 Tujuan Khusus 11
1.5 Manfaat Penelitian 12
1.5.1 Bagi Peneliti 12
1.5.2 Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 12
1.5.3 Bagi Pekerja 13
1.6 Ruang Lingkup Penelitian 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Dermatitis Kontak 15
2.1.1.Epidemiologi Dermatitis Kontak 15
2.1.2.Bahan Kimia yang Menyebabkan Dermatitis Kontak 16
2.1.3. Jenis Pekerjaan dan Prilaku yang berisiko Terkena Dermatitis Kontak 18
2. 1.3.1 Mencuci Tangan 19
2.1.3.2 Penggunaan Alat Pelindung Diri 22
2.2 Konsep Prilaku 23
xi
2.2.1 Teori Lawrence Green 23
2.2.2 Konsep Pengetahuan 24
2.2.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan 24
2.2.2.2 Pengukuran Pengetahuan 28
2.3 Promosi Kesehatan 29

2.3.1 Definisi Promosi Kesehatan 29

2.3.2 Promosi Kesehatan 30

2.3.3 Pendidikan Kesehatan 31

2.3.3.1 Metode Pendidikan Promosi Kesehatan 31

2.3.3.2 Penyuluhan 34

2.3.3.3 Media Pendidikan Promosi Kesehatan 34

2.3.3.4 Media Leaflet 40

2.4 Kerangka Teori 42

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS


PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep 43


3.2 Definisi Operasional 47
3.3 Hipotesis Penelitian 48

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


4.1 Desain Studi 49
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 50
4.3 Populasi & Sampel Penelitian 50
4.4 Instrumen Penelitian 53
4.5 Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian 57
4.5.1 Persiapan Penelitian 57

4.5.2 Kegiatan Pemilihan Sampel pada kedua kelompok 60

xii
4.5.3 Kegiatan Pre-test 61

4.5.4 Kegiatan Penyuluhan 62

4.5.5 Kegiatan Post-Test 62

4.6 Pengumpulan Data Penelitian 63


4.7 Pengolahan Data Penelitian 63

4.8 Teknik Analisis Data Peneltian 64

BAB V HASIL PENELITIAN


5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian dan Sample 69
5.1.1 Gambaran Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 69
5.1.2 Gambaran Umum Pekerja Cleaning Service di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta 70
5.2 Univariat 71
5.2.1 Pengetahuan Sebelum Penyuluhan pada kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol 71
5.2.2 Pengetahuan Setelah Penyuluhan pada kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol 72
5.2.3 Perubahan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah Penyuluhan
pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol 73
5.3 Bivariat 74
5.3.1 Uji Normalitas 75
5.3.2 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah
dilakukan Penyuluhan pada Kelompok Intervensi 76
5.3.3 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah
dilakukan Penyuluhan pada Kelompok Kontrol 77
5.3.4 Perbedaan Pengetahuan sebelum dilakukan Penyuluhan
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 79
5.3.5 Perbedaan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 80
5.3.6 Perbedaan Perubahan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 80
xiii
5.3.7 Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Pekerja
Cleaning sevice Mengenai Potensi Bahaya
Dermatitis Kontak dan Bahayanya 81
5.3.8 Paparan Sumber Informasi & Hubungan Sosial 82

BAB VI PEMBAHASAN
6.1. Keterbatasan Penelitian 84
6.2 Gambaran Karakteristik Pekerja Cleaning Service
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 84
6.3 Pengetahuan Pekerja Cleaning Service pada Kelompok Intervensi 86
6.4 Pengetahuan Pekerja Cleaning Service pada Kelompok Kontrol 88
6.5 Perbedaan Pengetahuan Pekerja Cleaning Service sebelum
dan sesudah dilakukan Penyuluhan antara Kelompok Intervensi
dengan kelompok Kontrol 91

6.6 Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan


Pekerja Cleaning Mengenai Potensi Bahaya Dermatitis Kontak
dan Pencegahnnya 93

6.7 Pengaruh Paparan Informasi dan Hubungan Sosial 94

BAB VII KESIMPULAN & SARAN


7.1 Kesimpulan 96
7.2 Saran 96

Daftar Pustaka
Lampiran

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kelebihan dan kelemahan media cetak 37


Tabel 2.2 Kelebihan dan kelemahan media elektronik 38
Tabel 2.3 Kelebihan dan kelemahan media luar ruang 39
Tabel 2.4 Kelebihan dan Kelemahan Media Leaflet 40
Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional 46
Tabel 4.1 Materi pada Media Leaflet 55
Tabel 4.2 Pembagian Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol 61
Tabel 5.1 Ditribusi Responden Berdasarkan Nama Gedung,
Waktu Pelaksanaan Penyuluhan, dan Jumlah Peserta Penyuluhan 68
Tabel 5.2 Distribusi Pengetahuan Pekerja Cleaning Service Sebelum
Penyuluhan pada kelompok Intervensidan Kelompok Kontrol 72
Tabel 5.3 Distribusi Pengetahuan Pekerja Cleaning Service Sesudah dilakukan
Penyuluhan pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol 73

Tabel 5.4 Distribusi Perubahan Pengetahuan Pekerja Cleaning Service antara


Sebelum dan Sesudah dilakukan Penyuluhan pada kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol 74
Tabel 5.5 Hasil Uji Normalitas Data Skor Pengetahuan Pekerja Cleaning
Service Sebelum Intervensi (Pre-test) dan Setelah Intervensi
(Post-test) pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol 75
Tabel 5.6 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah dilakukan
Penyuluhan pada Kelompok Intervensi 76
Tabel 5.7 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah dilakukan
Penyuluhan pada Kelompok Kontrol 77
Tabel 5.8 Perbedaan Pengetahuan sebelum dilakukan Penyuluhan (pre test)
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 78
Tabel 5.9 Perbedaan Pengetahuan sesudah dilakukan Penyuluhan (post test)

antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 79

xv
Tabel 5.10 Perbedaan perubahan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan

(pre test) antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol 80

Tabel 5.11 Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Pekerja

Cleaning Service Mengenai Potensi Bahaya Dermatitis Kontak

dan Pencegahannya 80

Tabel 5.12 Paparan sumber Informasi yang diterima pekerja cleaning service sebelum
dilakukan penyuluhan Pot ensi Bahaya Dermatitis
Kontak dan Pencegahannya 82

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Langkah Cuci Tangan 21


Gambar 2.2 Kerangka Preced-Proced Lawrence Green 24
Gambar 2.3 Kerangka Teori 42

Gambar 3.1 Kerangka Konsep 43

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner Pre test Penelitian

Lampiran 2 Kuisioner Post test Penelitian

Lamipran 3 Leaflet Dermatitis Kontak sebelum Uji Media

Lampiran 4 Leaflet Dermatitis Kontak Setelah Uji Media

Lampiran 5 Kuisioner Uji Media

Lamipran 6 Rekap hasil Uji Media

Lampiran 7 Kuisioner Uji Validitas

Lampiran 8 Out put Hasil Uji Validitas Kuisioner

Lampiran 9 Out Put Hasil Penelitian

xviii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan

nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen

maupun endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi, fisik,

maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada penyakit

ini (Wolff, 2008). Pada tahun 1898, dermatitis kontak pertama kali dipahami

memiliki lebih dari satu mekanisme, dan saat ini secara general dibagi menjadi

dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak iritan

berbeda dengan dermatitis kontak alergi, dimana dermatitis kontak iritan

merupakan suatu respon biologis pada kulit berdasarkan variasi dari stimulasi

eksternal atau bahan pajanan yang menginduksi terjadinya inflamasi pada kulit

tanpa memproduksi antibodi spesifik (Hogan, 2009).

Badan Pusat Statistik RI pada bulan Agustus 2009 mencatat bahwa

sebanyak 104,87 juta jiwa (92,08%) penduduk Indonesia adalah bagian dari

angkatan kerja, yang bekerja di sektor formal sebanyak 32,14 juta jiwa (30,6%)

dan di sektor informal sebanyak 67,86 juta jiwa (69,3%), sedikitnya terdapat

720.457 kasus penyakit akibat kerja dalam tahun 2009 (Hudoyo, 2009).

1
2

Penyakit kulit akibat kerja sebagai salah satu bentuk penyakit akibat kerja,

merupakan jenis penyakit akibat kerja terbanyak kedua setelah penyakit

muskuloskeletal disorder, berjumlah sekitar 22% dari seluruh penyakit akibat

kerja. Sebanyak 90% penyakit kulit akibat kerja berlokasi di tangan (Depkes,

2008).

Dari hasil penelitian Septiani (2012), dari 99 pekerja cleaning service

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diteliti didapatkan pekerja yang

mengalami dermatitis kontak sebanyak 32,3% dan pekerja yang tidak

mengalami dermatitis kontak sebanyak 67,7%. Penelitian ini juga menunjukan

faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak pada

cleaning sevice UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ialah lama kontak frekuensi

kontak, riwayat penyakit kulit sebelumnya. Faktor-faktor tersebut tidak dapat

dikendalikan atau diintervensi. Dalam populasi peneltian tersebut ditemukan

semua pekerja yang tidak menggunakan APD dan tidak mempunyai kebiasaan

cuci tangan yang baik. Padahal, kedua variabel tersebut dapat menjadi faktor

preventif terhadap timbulnya penyakit dermatitis kontak.

Menurut Lestari (2008) faktor yang paling utama mempengaruhi

terjadinya dermatitis akibat kerja karena kontak dengan bahan kimia adalah

perilaku pemakaian APD berupa sarung tangan. Dari hasil penelitian Erliana

(2008) menunjukkan bahwa variabel penggunaan APD mempunyai hubungan

yang signifikan dengan kejadian dermatitis kontak dengan p value 0,001.

Penelitian Nuraga (2006) juga menyebutkan bahwa pekerja yang kadang-


3

kadang memakai APD mempunyai risiko mengalami dermatitis kontak 9 kali

lebih besar dari pekerja yang selalu menggunakan APD. Nilai kisaran

(minimum dan maksimum) Odds Ratio sebesar 2,018-36,279, berarti bahwa

dengan tingkat kepercayaan 95% kelompok responden yang kadang-kadang

menggunakan APD mempunyai risiko yang lebih besar dibandingkan dengan

kelompok responden yang selalu menggunakan APD (Nuraga, 2006).

Selain pemakaian alat pelindung diri saat bekerja, personal hygiene atau

perilaku mencuci tangan juga dapat mencegah terjadinya dermatitis kontak. Dari

penelitian sebelumnya memperlihatkan hasil bahwa pekerja dengan personal

hygiene yang baik dan menderita dermatitis kontak sebanyak 10 orang (41,7%)

dari 24 orang yang terkena dermatitis kontak, sedangkan dengan personal

hygiene yang kurang baik, pekerja yang terkena dermatitis sebanyak 29 orang

(51,8%) dari 56 orang pekerja (Lestari, 2007). Perilaku mencuci tangan dapat

mengurangi potensi penyebab dermatitis akibat bahan kimia yang menempel

sesudah bekerja, namun kenyataannya potensi untuk terkena dermatitis tetap

ada. Penyebabnya adalah kesalahan dalam melakukan cuci tangan sehingga

masih terdapat bahan kimia yang menempel di kulit pekerja. Kesalahan dalam

mencuci tangan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan tentang cara mencuci

tangan yang benar dan pentingnya kebiasaan mencuci tangan (OSHA, 1998

dalam Ruhdiat, 2006).

Menurut penelitian Nuraga (2007) salah satu hal yang menjadi penilaian

personal hygiene adalah masalah mencuci tangan. Kebiasaan mencuci tangan


4

ini seharusnya dapat mengurangi potensi penyebab dermatitis akibat bahan

kimia yang menempel setelah bekerja, namun pada kenyataannya potensi untuk

terkena dermatitis itu tetap ada. Kesalahan dalam melakukan cuci tangan dapat

menjadi salah satu penyebabnya. Misalnya kurang bersih dalam mencuci

tangan, sehingga masih terdapat sisa bahan kimia yang menempel pada

permukaan kulit pekerja.

Cleaning service adalah salah satu jenis pekerjaan basah (sering kontak

dengan air) yang membuat karakteristik cleaning service menjadi berpotensi

terkena penyakit kulit akibat kerja, seperti dermatitis kontak akibat kerja.

Aktivitas pembersihan biasanya berlangsung di rumah, kantor, sekolah atau

pabrik. Pekerjaan yang dilakukan cleaning service berpotensi mengakibatkan

kerusakan fisik kulit karena kontak dengan sabun, detergen, beberapa makanan

dan produk teknis lainnya. Pekerja pembersih rumah tangga dan industri lebih

rentan untuk menderita dermatitis kontak iritan dan dermatitis tangan sebagai

akibat dari paparan alergen (Escala, 2010).

Produk pembersih telah dikembangkan untuk menghilangkan debu,

kotoran, melarutkan kotoran berminyak dan sebagai disinfektan. Namun produk

ini mengandung berbagai jenis bahan kimia yang dapat membahayakan

kesehatan (OSHA, 2008). Bahan iritan yang umum digunakan dalam produk

pembersih yang dapat menyebabkan dermatitis ialah asam dan basa, detergen,

surfaktan dan solvent. Bahan tambahan yang sering digunakan seperti pewangi,

pewarna, dll merupakan zat sensitizer bagi kulit dan detergen keras biasanya
5

mengandung senyawa ammonium surfaktan yang dapat menyebabkan iritasi

pada kulit. Produk pembersih yang mengandung zat berbahaya tersebut dapat

masuk ke dalam tubuh melalui kontak kulit. Jika paparan terlalu tinggi dan

terlalu lama dapat menimbulkan risiko penyakit kulit. Pekerja Cleaning service

terpapar bahan kimia dalam produk pembersih dalam melakukan pekerjaannya

sehari hari yaitu seperti mengepel, mencuci piring atau membersihkan toilet.

Oleh karena itu cleaning service merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko

tinggi terhadap kejadian dermatitis kontak (Frosch, 2011).

Menurut HL Bloom, derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor utama,

yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Meskipun

perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah lingkungan, namun faktor

perilaku berperan dalam ketiga faktor lainnya. Oleh sebab itu, untuk

meningkatkan derajat kesehatan, intervensi terhadap faktor perilaku sangat

strategis. Terbentuknya perilaku baru dimulai pada domain kognitif, dimana

seseorang tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek

diluarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru dan pada akhirnya akan

terbentuk perilaku baru (Bloom, 1956). Oleh sebab itu, intervensi terhadap

faktor perilaku seperti penggunaan APD dan perilaku mencuci tangan dilakukan

melalui pendidikan kesehatan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, dari

30 orang cleaning service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan hasil

bahwa 100 % pekerja menggunakan bahan atau zat kimia tanpa menggunakan
6

alat pelindung diri dalam mengerjakan pekerjaan mengepel lantai,

membersihkan toilet dan beberapa diantaranya membersihkan ruangan

laboratorium. Sebanyak 3 orang mengetahui bahaya dari bahan kimia yang

digunakan untuk mengepel dan membersihkan toilet tersebut, pengetahuan

tersebut pekerja ketahui dari TV, koran, kemasan produk, dan mendengar

informasi dari orang lain, sisanya sebanyak 27 orang tidak mengetahui

mengenai bahaya dari bahan kimia tersebut. Pekerja yang mencuci tangan

setelah bekerja sebanyak 6 orang, sisanya sebanyak 24 orang tidak mencuci

tangan setelah bekerja.

Hasil pendahuluan menunjukkan pekerja cleaning service yang

menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa sarung tangan saat bekerja hanya

2 orang, sisanya tidak memakai APD dengan alasan responden tidak memiliki

APD karena pihak UIN SH Jakarta tidak menyediakan APD tersebut. Pekerja

akan menggunakan sarung tangan hanya disaat melakukan pekerjaan tertentu

seperti pekerjaan yang dianggap kotor seperti membersihkan taman dan

memotong rumput atau tanaman hias yang berada taman kampus. Sekitar 28

orang dari pekerja tidak mengetahui bahaya tidak menggunakan APD saat

bekerja, karena belum pernah ada penyuluhan yang diberikan oleh pihak UIN

mengenai kesehatan dan keselamatan kerja yang berhubungan dengan potensi

bahaya dermatitis kontak dan pencegahan. Dari hasil studi pendahuluan juga

didapatkan hasil bahwa personal hygiene pekerja yang mencuci tangan dengan

sabun pencuci tangan hanya terdapat 5 orang dan sisanya sekitar 25 orang
7

mencuci tangan menggunakan air yang mengalir tanpa menggunakan sabun

pencuci tanagn. Dari keterangan pekerja, alasan pekerja mencuci tangan tanpa

menggunakan sabun pencuci tangan adalah karena pekerja berpendapat bahwa

dengan menggunakan air mengalir saja sudah cukup untuk membersihkan

kotoran yang menempel ditangan pekerja dan pekerja tidak mengetahui manfaat

mencuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun pencuci tangan.

Berdasarkan data penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Septiani

(2012) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis

kontak pada pekerja cleaning service dan berdasarkan hasil studi pendahuluan

yang dilakukan peneliti, melalui kuisioner dan wawancara pada pekerja

cleaning service yang menunjukan bahwa pekerja cleaning service tidak

memiliki pengetahuan mengenai bahaya zat kimia yang digunakan saat bekerja

dan tidak memiliki rasa peduli untuk mencuci tangan setelah bekerja. Oleh

karena itu penulis ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh intervensi

penyuluhan menggunakan media leaflet terhadap perubahan pengetahuan

mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya pada pekerja

cleaning service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013.

Menurut Notoatmodjo (2003) untuk meningkatkan pengetahuan pekerja

cleaning service, maka perlu dilakukan kegiatan penyuluhan kesehatan untuk

meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan yang diperlukan oleh

masyarakat sehingga akan memudahkan terjadinya perilaku sehat pada pekerja.

Penyuluhan kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan


8

masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Penyuluhan

kesehatan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan media.

Metode yang digunakan tergantung pada sasaran. Apabila kelompok sasarannya

besar maka metode yang digunakan adalah ceramah. Ceramah baik untuk

sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Sedangkan media yang

digunakan dapat berupa media cetak (brosur dan poster), elektronik (televisi,

radio, video, slide, dan film), dan media papan (billboard) (Notoatmodjo, 2003).

Salah satu media yang dapat digunakan secara efektif untuk memberikan

informasi kesehatan adalah leaflet. Media leaflet mempunyai beberapa

kelebihan yaitu lebih tahan lama, dapat dibawa kemana-mana dengan mudah,

mencakup banyak orang, biaya murah, dan dapat mempermudah pemahaman

(Notoatmodjo, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Suraya (2011)

menunjukkan bahwa penyuluhan menggunakan leaflet dapat meningkatkan

pengetahuan ibu mengnai pola pemberian ASI. Penelitian yang dilakukan oleh

Jayanti (2010) menunjukan bahwa ada perubahan pengetahuan ibu balita gizi

buruk antara sebelum dan sesudah penyuluhan menggunakan media leaflet.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melihat

pengaruh intervensi penyuluhan menggunakan media leaflet terhadap perubahan

pengetahuan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahnnya

pada pekerja cleaning service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013.
9

1.2. Rumusan Masalah

Penyakit Dermatitis Kontak berisiko menyerang pada pekerja yang

menggunakan bahan kimia dalam melakukan pekerjaannya, salah satunya adalah

pekerja cleaning service yang melakukan pekerjaan mengepel lantai,

membersihkan kaca, membersihkan toilet secara rutin dan membersihkan sisa

praktikum di laboratorium. Dermatitis kontak yang terjadi pada pekerja cleaning

service disebabkan oleh paparan bahan kimia yang digunakan dalam melakukan

pekerjaan mengepel lantai, membersihkan kaca, membersihkan toilet atau

membersihkan ruangan laboratorium. Kejadian dermatitis kontak tersebut dapat

dihindari atau dapat dicegah dengan penggunaan alat pelindung diri APD berupa

sarung tangan saat bekerja dan melakukan langkah cuci tangan yang baik dan

benar sebelum dan sesudah bekerja.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dari 30 orang pekerja cleaning

service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terdapat 27 orang tidak mengetahui

bahaya dari bahan kimia yang digunakan responden saat melakukan pekerjaan

seperti mengepel, membersihkan toilet, membersihkan kaca dan membersihkan

laboratorium. Selain itu, seluruh pekerja cleaning service tersebut tidak

menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dalam

mengerjakan tugas hariannya karena tidak disediakan oleh pihak UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta. Pekerja cleaning service bekerja menggunakan sarung

tangan jika pekerja melakukan pekerjaan yang dianggap kotor seperti

membersihkan taman dan memotong rumput atau tanaman hias yang berada

taman kampus.
10

Berdasarkan hasil studi pendahuluan pula diketahui bahwa dari 19

orang dari 30 pekerja cleaning service mencuci tangan dengan sabun pencuci

tangan setelah bekerja, sisanya sebanyak 11 orang tidak mencuci tangan setelah

bekerja hanya sebelum bekerja, pekerja beranggapan bahwa tangan pekerja tidak

terkena kotoran apapun dan masih terlihat bersih sehingga pekerja akan mencuci

tangan jika tangan pekerja ada kotoran yang terlihat. Oleh sebab itu, pekerja

hanya mencuci tangan sebelum atau sesudah bekerja dan terkadang hanya

menggunakan air saja tanpa menggunakan sabun pencuci tangan.

Hal tersebut terjadi disebabkan karena pekerja cleaning service tidak

memiliki pengetahuan mengenai potensi bahaya penyakit dermatitis kontak dan

juga tidak mengetahui langkah cuci tangan yang baik dan benar sebagai

pencegahan dari penyakit dermatitis kontak tersebut. Berdasarkan studi

pendahuluan diketahui bahwa pekerja cleaning service tidak pernah mengikuti

penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahnnya. Oleh

sebab itu, pekerja cleaning service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta perlu berikan

penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya agar

pekerja terhindar dari penyakit dermatitis kontak yang dapat menghambat

produktivitas pekerja dalam melakukan pekerjaannya.


11

1.3. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah ada perbedaan pengetahuan mengenai potensi dermatitis kontak dan

pencegahannya sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dengan

menggunakan media leaflet pada pekerja cleaning service UIN syarif

Hidayatullah Jakarta Tahun 2013?

2. Apakah ada hubungan antara penyuluhan menggunakan media leaflet dengan

perubahan pengetahuan mengenai potensi dermatitis kontak dan

pencegahannya pada pekerja cleaning service UIN syarif Hidayatullah

Jakarta Tahun 2013?

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

media leaflet dengan perubahan pengetahuan mengenai potensi bahaya

dermatitis kontak antara sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pada

pekerja cleaning service UIN syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

1.4.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Diketahuinya perbedaan pengetahuan mengenai potensi dermatitis

kontak dan pencegahannya sebelum dan sesudah dilakukan


12

penyuluhan dengan menggunakan media leaflet pada pekerja cleaning

service UIN syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

2. Diketahuinya ada hubungan antara penyuluhan menggunakan media

leaflet dengan perubahan pengetahuan mengenai potensi dermatitis

kontak dan pencegahannya pada pekerja cleaning service UIN syarif

Hidayatullah Jakarta Tahun 2013.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Peneliti

Manfaat penelitian bagi peneliti adalah yaitu peneliti menambah

pengetahuan mengenai pengaruh media leaflet terhadap pengetahuan

mengenai dermatitis kontak dan pencegahannya. Selain itu, peneliti juga

mendapatkan pengalaman dalam melakukan penyuluhan kesehatan dan

keselamatan kerja pada pekerja yang berisiko terkena penyakit dermatitis

kontak.

1.5.2 Bagi UIN Syarif Hidayatatullah Jakarta

Manfaat penelitian bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu

dapat memberikan pertimbangan untuk menggunakan media leaflet sebagai

metode untuk meningkatkan pengetahuan pekerja Cleaning service

mengenai informasi- informasi kesehatan dan keselamatan kerja. Selain itu,


13

hasil peneltian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk penelitian

berikutnya atau masukan dalam membuat sebuah kebijakan.

1.5.3 Bagi Pekerja

Manfaat bagi pekerja yaitu sebagai bahan informasi dan

masukan untuk memperhatikan kesehatan kerja pekerja cleaning service

dalam upaya pencegahan dermatitis kontak yang merupakan penyakit kulit

akibat kerja. Para pekerja cleaning service diharapkan dapat mengurangi

kontak secara langsung dengan bahan kimia berbahaya yang berada dalam

produk pembersih, yaitu dengan memakai alat pelindung diri berupa

sarung tangan, sehingga dapat melindungi kulit pekerja dan mengurangi

paparan bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi kulit.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan oleh mahasiswa peminatan Kesehatan

dan Keselamatan Kerja, Kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta untuk melihat pengaruh intervensi penyuluhan dengan media intervensi

menggunakan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan pekerja cleaning

service UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013. Peneltian ini

dilaksanakan mulai bulan Juni 2013 hingga Oktober 2013.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan

desain studi yang digunakan adalah Quasi-Experimental Design dalam bentuk


14

Non-equivalent Control Group Design dengan bantuan instrumen penelitian

berupa kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. Populasi penelitian diketahui dari penelitian sebelumnya

terdapat pekerja cleaning service yang masih aktif bekerja yaitu 99 orang.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 30

orang pekerja cleaning service di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta. Berdasarkan hasil studi pendahuluan Sekitar 75 % dari pekerja tidak

mengetahui bahaya tidak menggunakan APD saat bekerja, karena belum

pernah ada penyuluhan yang diberikan oleh pihak UIN mengenai potensi

bahaya dan pencegahan dermatitis kontak dan bahaya dermatitis kontak.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dermatitis Kontak

2.1.1 Epidemiologi Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari

berbagai golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi penderita

dermatitis kontak sulit didapat. Jumlah penderita dermatitis kontak

diperkirakan cukup banyak, namun sulit untuk diketahui jumlahnya. Hal ini

disebabkan antara lain oleh banyak penderita yang tidak datang berobat

dengan kelainan ringan (Sularsito, 2008). Dari data yang didapatkan dari

U.S. Bureau of Labour Statistic menunjukkan bahwa 249.000 kasus penyakit

akupasional nonfatal pada tahun 2004 untuk kedua jenis kelamin, 15,6%

(38.900 kasus) adalah penyakit kulit yang merupakan penyebab kedua

terbesar untuk semua penyakit okupational. Juga berdasarkan survey tahunan

dari institusi yang sama, bahwa incident rate untuk penyakit okupasional

atau penyakit akibat kerja pada populasi pekerja di Amerika, menunjukkan

90-95% dari penyakit okupasional adalah dermatitis kontak, dan 80% dari

penyakit didalamnya adalah dermatitis kontak iritan (Wolf, 2008).

Menurut Gould (2003), Sebuah kusioner penelitian diantara 20.000

orang yang dipilih secara acak di Sweden melaporkan bahwa 25% memiliki

perkembangan gejala selama tahun sebelumnya. Orang yang bekerja pada

industri berat, mereka yang bekerja bersentuhan dengan bahan kimia keras

15
16

yang memiliki potensial merusak kulit dan mereka yang diterima untuk

mengerjakan pekerjaan basah secara rutin memiliki faktor resiko. laki-laki

yang dipekerjakan sebagai pekerja metal, pekerja karet, terapis kecantikan,

dan tukang roti, pembantu rumah tangg dan cleaning service.

2.1.2 Bahan Kimia yang Menyebabkan Dermatitis Kontak

Paparan bahan kimia ditentukan oleh banyak faktor termasuk lama

kontak (durasi), frekuensi kontak, konsentrasi bahan dan lain-lain (Agius R,

2006). Sehingga terjadinya resiko kontak bahan kimia perlu dikendalikan dan

dikontrol seperti membatasi jumlah kontak yang terjadi. Oleh karena itu

bahan kimia merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya

dermatitis kontak (Djuanda, 2007).

Bahan kimia cair asam berbeda cara kerjanya dengan basa. Asam

menimbulkan luka bakar luas dengan efek panas dengan proses perusakan

jaringan lunak. Cairan korosif memerlukan pH yang rendah atau sangat tinggi

untuk menyebabkan korosi, namun pada paparan awal tidak timbul rasa sakit

(Linins I, 2006).

Beberapa bahan kimia yang memiliki potensi iritasi dan

sensitisasi pada kulit menurut National Safety Council Itasca, Illnois dalam

buletin SHARP tahun 2001 dalam Nuraga (2006) sebagai berikut :


17

Tabel 2.1 Bahaya Kimia di Tempat Kerja Cleaning Service


Kontak Alergi
Kandungan Bahan Kimia Produk yang
Kemungkinan Pengaruh Terhadap
Pada Produk Pembersih Mengandung Bahan
Kesehatan Manusia
Kimia
Bersifat korosif ;
Kulit terbakar-dermatitis; jika kontak
Produk pembersih dengan mata dapat mengurangi
Asam ( sulfur, asam asetat, kimia, terutama penglihatan atau kebutaan misalnya
asam sitrat, hydrochloric) produk pembersih karena asam hydrochloric
toilet Iritasi kulit, mata dan selaput lendir,
masalah pernafasan, adanya
kemungkinan asma
Alkali (amonium Produk pembersih Iritasi kulit, mata dan selaput lendir;
hidroksida, sodium lemak keracunan
hidroksida, silika, karbon)
Hipoklorit, aldehid, Disinfektan Sensitisasi, iritasi selaput lendir
senyawa amonium
Produk pembersih Iritasi kulit, sistem pernafasan; racun
Solvent (toluene, alkohol, lantai, produk bagi saraf atau reproduksi
glikol eter seperti 2- pembersih lemak,
butoxyethanol) disinfektan, deterjen,
wax
Fatty acid salts, organic Deterjen, sabun Iritasi kulit, mata dan selaput lendir
sulphonates
Bahan pengawet atau Terutama menyebabkan alergi dan
disinfekan pada sensitisasi
Formaldehid
pembersih lantai, wax,
deterjen, dll
Bahan pencampur (EDTA, Pelarut pembersih Iritasi kulit, mata dan selaput lendir
Nitrilotriacetc acid (NTA))
Film formers, semir (wax, Produk perawatan Sensitisasi
acryl polymers, permukaan
polyethylene)
Anti korosif: Sensitisasi kulit; iritasi jalur
surfaktan biasa pernafasan dan paru-paru;
digunakan pada berhubungan dengan asma akibat
produk perawatan kerja
Ethanolamine
lantai, pemakaian
umum, kaca dan
pembersih kamar
mandi
Sumber: Emmanuelle Brun. 2009. The Occupational Safety and Health of
Cleaning Workers (EU-OSHA)
18

2.1.3 Jenis Pekerjaan dan Prilaku yang berisiko Terkena Dermatitis Kontak

Tabel 2.2 Pekerja yang Berisiko Terpapar Dermatitis kontak

Sumber : Johansen et al., 2011, p. 320-321


19

2.1.3.1 Mencuci Tangan

Kebiasaan pekerja yang kurang baik untuk tidak segera

mencuci setelah terkena kontak dengan agen bahan kimia merupakan

prilaku yang dapat menyebabkan dermatitis kontak. Kebersihan

pribadi seperti mencuci tangan setelah menyelesaikan setiap pekerjaan

merupakan preventif yang baik, namun tergantung fasilitas mencuci

tangan, yaitu dengan air kran yang mengalir, kualitas saat mencuci

tangan, pengetahuan tentang pentingnya kebiasaan mencuci tangan

(OSHA 1998 dalam Ruhdiat 2006).

Pekerja yang kurang bersih, misalnya tidak membersihkan

badan sehabis bekerja, tidak memakai alat pelindung diri atau

memakai pakaian yang telah terkontaminasi akan lebih mudah terkena

dermatosis akibat kerja (Ganong 2006 dalam Ernasari 2012). Higiene

perseorangan merupakan salah satu faktor yang dapat mencegah

terjadinya dermatitis kontak. Analisis hubungan antara personal

hygiene dengan dermatitis kontak memperlihatkan hasil bahwa

pekerja dengan personal hygiene yang baik sebanyak 10 orang

(41,7%) dari 24 orang pekerja terkena dermatitis kontak. Sedangkan

dengan personal hygiene yang kurang baik, pekerja yang terkena

dermatitis sebanyak 29 orang (51,8%) dari 56 orang pekerja. Salah

satu hal yang menjadi penilaian adalah masalah mencuci tangan.

Kebiasaan mencuci tangan ini seharusnya dapat mengurangi potensi


20

penyebab dermatitis akibat bahan kimia yang menempel setelah

bekerja, namun pada kenyataannya potensi untuk terkena dermatitis

itu tetap ada. Kesalahan dalam melakukan cuci tangan dapat menjadi

salah satu penyebabnya.

Pemilihan jenis sabun cuci tangan juga dapat berpengaruh

terhadap kebersihan sekaligus kesehatan kulit pekerja. Sebaiknya

memilih sabun cuci tangan yang dapat menghilangkan bahan kimia

tangan namun tidak merusak lapisan pelindung tangan. Jika jenis

sabun ini sulit ditemukan dapat menggunakan pelembab tangan

setelah mencuci tangan. Usaha mengeringkan tangan setelah dicuci

juga dapat berperan dalam mencegah semakin parahnya kondisi kulit

karena tangan yang lembab.

Mencuci pakaian juga merupakan salah satu usaha untuk

mencegah terjadinya dermatitis kontak. Sebaiknya pakaian kerja yang

telah terkontaminasi bahan kimia tidak digunakan kembali sebelum

dicuci. Akan lebih baik lagi jika pencucian baju kerja dilakukan setiap

hari setelah digunakan. Selain itu cara pencucian perlu diperhatikan.

Jangan mencampur/merendam baju kerja dengan pakaian yang

dikenakan sehari-hari. Usahakan mencuci pakaian kerja dengan

menggunakan mesin cuci, namun cara manual tidak menjadi masalah

asalkan setelah mencuci, tangan dibersihkan kembali dengan baik

(WHO, 2005).

Menurut penelitian Ruhdiat (2006) menunjukkan bahwa

sebanyak 15 responden yang selalu menjaga kebersihan diri dengan


21

selalu mencuci tangan (24,46%) dan sebanyak 46 responden (75,41%)

yang kadang-kadang mencuci tangan. Apabila ditinjau dari

frekuensinya terlihat bahwa responden yang selalu mencuci tangan

mempunyai perjalanan dermatitis kontak yang lebih sedikit. Namun

persentase yang tidak pernah mengalami terjadinya dermatitis kontak

pada kelompok responden yang kadang-kadang mencuci tangan

ternyata lebih besar, yaitu 7 orang (87,5%) dibandingkan kelompok

responden yang selalu mencuci tangan hanya 1 orang (12,5%). Hasil

uji statistik menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan setelah

selesai melakukan pekerjaan tidak berpengaruh pada terjadinya

dermatitis kontak (p value=0,407).

aGambar 2.1
Langkah Mencuci Tangan yang Baik dan Benar
22

2.1.3.2 Penggunaan Alat Pelindung Diri

Selain prilaku kebiasaan mencuci tangan, prilaku

menggunakan alat pelindung diri merupakan salah satu prilaku yang

dapat menyebabkan terjadinya dermatitis kontak. Hasil penelitian

Cahyawati (2011) menunjukkan bahwa pemakaian alat pelindung diri

ternyata menjadi faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis

pada nelayan. Responden yang cenderung memakai APD secara baik

lebih rendah berisiko terkena dermatitis p = 0,001 yang berarti bahwa

pemakaian APD berhubungan secara signifikan dengan kejadian

dermatitis.

Selain itu hubungan antara kebiasaan menggunakan APD

dengan dermatitis kontak juga diperoleh dari penelitian Erliana (2008)

bahwa proporsi pekerja yang tidak menggunakan APD diketahui

87,5% menderita dermatitis kontak dibandingkan dengan pekerja yang

menggunakan APD hanya 19%. Hasil uji chi square menunjukkan

bahwa variabel penggunaan APD mempunyai hubungan yang

signifikan dengan kejadian dermatitis kontak (p=0,001).

Untuk mencegah terjangkitnya penyakit kulit akibat kerja

maka pemakaian alat pelindung diri (APD) untuk perlindungan kulit

sangat pentingm, karena dengan pemakaian APD yang tidak sesuai

atau tidak tepat dapat menyebabkan suatu gangguan dari aktivitas

pekerja yaitu bila pekerja tersebut kontak dengan bahan berbahaya

maka penyakit kulit seperti dermatitis dapat terjadi. Perlindungan kulit

ini tidak hanya melibatkan pekerja tapi juga pemberi kerja, namun hal
23

yang juga penting ialah keterlibatan peraturan atau perundang-

undangan (Nuraga, 2006).

2.2 Konsep Prilaku

2.2.1 Teori Lawrence Green

Promosi kesehatan sebagai pendekatan kesehatan tergadap faktor

perilaku kesehatan, maka kegiatannya tidak terlepas dari faktor-faktor yang

menentukan perilaku tersebut. Dengan demikian kegiatan promosi kesehatan

harus disesuaikan dengan determinan. Menurut Lawrence Green perilaku

ditentukan oleh 3 faktor utama, yaitu :

a. Faktor Pendorong (Predisposing Factors)

Faktor yang mempermudah atau memprodisposisi terjadinya perilaku

seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-

nilai, tradisi dan sebagainya.

b. Faktor pemungkin (enabling factors)

Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana

atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan. Misalnya : Puskesmas,

Rumah Sakit, tempat pembangunan dan lain-lain.

c. Faktor penguat (reinforcing factors)

Faktor penguat merupakan faktor pendorong atau memperkuat terjadinya

perilaku. Terkadang seseorang ang mengetahui dan mampu untuk

berperilaku sehat, namun tidak dapat melakukannya. Contoh : Seorang

ibu hamil, tahu manfaat periksa hamil dan di dekat rumahnya ada
24

puskesmas, dekat dengan bidan, tetapi ia tidak mau melakukan periksa

hamil namun anaknya tetap sehat.

aGambar 2.2
Kerangka Preceed-Proceed Menurut Lawrence Green

2.2.2 Konsep Pengetahuan

2.2.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

1. Pengalaman

Notoatmodjo (2003) mengatakan pengetahuan diperoleh

dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seorang anak

memperoleh pengetahuan bahwa apa itu panas adalah setelah

memperoleh pengalaman tangan atau kakinya kena panas. Seorang

ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak

tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat, karena anak

tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. Sulaeman


25

(1995) juga mengatakan bahwa pengetahuan dapat terbentuk dari

pengalaman dan ingatan yang didapat sebelumnya.

2. Pendidikan

Jenjang pendidikan formal yang didapat seseorang akan

membantu pembentukan individu dalam masa perkembangannya

(Sarwono, 2006). Survei Demografi di 40 negara (Engendering

Development, Bank Dunia, 2001) memperlihatkan bahwa makin

tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi.

Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam

tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan

dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar.

Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu

menyelesaikan pendidikan menengah tingkat pertama. Beberapa

penelitian membuktikan adanya hubungan antara tingkat

pendidikandengan pengetahuan. Hasil penelitian Hariyanto (1997)

tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan

tentang penyakit AIDS dan sikap terhadap penderita AIDS,

membuktikan bahwa ternyata ada hubungan bermakna antara

tingkatan pendidikan dengan pengetahuan tentang penyakit AIDS

dengan Pvalue = 0,0071. Wirni (1997) dalam penelitiannya yang

berjudul pendidikan formal ibu balita dengan pengetahuan, sikap,

praktek tentang penyakit Infeksi Cacing Usus (ICU) di RW 03,

Kelurahan Pulo Gadung, Jakarta Timur tahun 1997, menunjukkan


26

ada hubungan bermakna antara pendidikan formal dengan

pengetahuan tentang ICU dengan Pvalue= 0,0003.

3. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya

pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruhi

pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.

4. Fasilitas

Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku.

5. Sumber Informasi

Sumber informasi berhubungan dengan pengetahuan, baik dari

orang maupun media (Notoatmodjo, 2003). Sarwono (1997) juga

menekankan kalau sumber informasi dari orang itu mempengaruhi

pengetahuan seseorang, yang dipengaruhi antara lain: masyarakat, baik

teman bergaul maupun tenaga kesahatan. Dalam proses peningkatan

pengetahuan agar diperoleh hasil yang efektif diperlukan alat bantu. Fungsi

media dalam pembentukan pengetahuan seseorang menyampaikan

informasi atau pesan-pesan (Notoatmodjo, 2003).

a. Keluarga

Keluarga merupakan orang-orang yang saling berinteraksi dan

berkomunikasi satu sama lain dalam peran-peran sosial keluarga

seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan,

saudara dan saudari (Friedman, 1998). Orangtua merupakan “guru”

yang utama, karena orangtua menginterpretasikan dunia dan


27

masyarakat bagi anak-anak mereka. Keluarga memegang peranan

penting dalam unsur pendidikan dan pembina bagi para remaja, karena

keluarga merupakan lingkungan utama dan pertama dalam pendidikan

(Fatah, 2004). Keluarga telah lama dilihat sebagai konteks yang paling

vital bagi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Keluarga

memiliki pengaruh penting sekali terhadap pembentukan identitas

seorang individu dan perasaan harga diri (Friedman, 1998).

b. Teman bergaul

Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi

remaja (siswa) mempunyai peranan yang cukup penting bagi

perkembangan pengetahuannya di masa pubertas yang dapat berlanjut

kepada proses pembentukan kepribadian seorang remaja. Peranannya

itu semakin penting, terutama pada saat terjadinya perubahan dalam

struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini, yaitu: perubahan

struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil; kesenjangan

antara genarasi tua dan generasi muda; ekspansi jaringan komunikasi di

antara kawula muda; dan panjangnya masa atau penundaan memasuki

masyarakat orang dewasa (Yusuf, 2004).

c. Media Massa

Peran media massa hampir setiap saat mensosialisasikan

sebuah gaya hidup remaja, baik berupa tayangan sinetron, iklan yang ada

di televisi maupun sajian yang tersedia dalam majalah. Media begitu

gencarnya memberi hanya satu pilihan ideal yang tidak mungkin dapat

dicapai semua remaja, akibatnya remaja ragu atas pendiriannya dan tidak

ada jalan lain selain mengikuti arus tren (Bambang dalam Elandis, 2005).
28

d. Masyarakat

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling

bergaul, atau dengan istilah lain salinng berinteraksi. Kesatuan hidup

manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang

bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama

(Kontjaraningrat dalam Effendy, 1998). Karena keluarga dan sekolah

berada di dalam masyarakat, lingkungan masyarakat juga menjadi faktor

yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Konsistensi

nilai-nilai, sikap, aturan-aturan, norma, moral, dan perilaku masyarakat

tersebut sehingga akan diidentifikasi oleh individu yang berada dalam

masyarakat tersebut sehingga akan berpengaruh proses perkembangannya.

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit kecenderungan ke arah

penyimpangan perilaku, sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri yang

tidak baik, berasal dari pengaruh lingkungan masyarakat (Ali, 2004).

2.2.2.2 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang

ingin diukur. Guna mengukur suatu pengetahuan dapat digunakan

suatu pertanyaan. Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk

pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi

dua jenis yaitu pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay

dan pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple

choice), betul-salah dan pertanyaan menjodohkan. Pertanyaan essay

disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk pertanyaan ini


29

melibatkan factor subjektif dari nilai, sehingga nilainya akan berbeda

dari seorang penilai yang satu dibandingkan dengan yang lain dan dari

satu waktu ke waktu lainnya. Pertanyaan pilihan ganda, betul-salah,

menjodohkan disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan-

pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa

melibatkan faktor subjektifitas dari penilai. Pertanyaan yang dapat

dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum yaitu

pertanyaan subjektif dari peneliti. Pertanyaan objektif khususnya

pertanyaan pilihan ganda lebih disukai dalam pengukuran

pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan

yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih cepat. Menurut

Arikunto (2010), pengukuran pengetahuan ada dua kategori yaitu:

menggunakan pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay

dan pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple

choise), pertanyaan betul salah dan pertanyaan menjodohkan.

2.3 Promosi Kesehatan

2.3.1 Definisi Promosi Kesehatan

WHO berdasarkan piagam Ottawa (1986) dalam Heri.D.J.

Maulana (2009) hal. 19, mendefinisikan promosi kesehatan adalah suatu

proses yang memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap

kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas

mengenai pemberdayaan diri sendiri.

Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan seseorang

untuk meningkatkan control dan peningkatan kesehatannya. WHO


30

menekankan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses yang

bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap

kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas

mengenai pemberdayaan diri sendiri (Maulana,2009).

2.3.2 Tujuan Promosi Kesehatan

Green,1991 dalam Maulana,2009,tujuan promosi kesehatan

terdiri dari tiga tingkatan yaitu:

a. Tujuan Program

Refleksi dari fase social dan epidemiologi berupa pernyataan tentang apa

yang akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan status

kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka panjang,

contohnya mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja menurun 50 %

setelah promosi kesehatan berjalan lima tahun.

b. Tujuan Pendidikan

Pembelajaran yang harus dicapai agar tercapai perilaku yang diinginkan.

Tujuan ini merupakan tujuan jangka menengah, contohnya : cakupan

angka kunjungan ke klinik perusahaan meningkat 75% setelah promosi

kesehatan berjalan tiga tahun.

c. Tujuan Perilaku

Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah

kesehatan. Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan

pengetahuan, sikap, tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang


31

tanda-tanda bahaya di tempat kerja meningkat 60% setelah promosi

kesehatan berjalan 6 bulan

2.3.3 Pendidikan Kesehatan

2.3.3.1 Metode Pendidikan Promosi Kesehatan

Menurut WHO (1992), yang dimaksud dengan media

pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan

untuk menyampaikan pesan kesehatan sehingga mempermudah

penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat. Berikut ini adalah

uraian mengenai beberapa metode promosiatau pendidikan individual,

kelompok dan massa/publik, :

1. Metode Pendidikan Individual (perorangan)

Bentuk pendekatan ini antara lain :

a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)

Dengan cara ini kontak anatar klien dengan petugas lebih sensitif.

Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikoreksi dan

dibantu penyelsaiannya.

b. Wawancara (interview)

Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan

penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien

untuk menggali informasi mengapa mengapa ia tidak atau belum

menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima perubahan ia

tertarik atau belum menerima perubahan, untuk mempengaruhi

apakah prilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai
32

dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Aapbila belum maka

perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.

2. Metode Promosi Kelompok

Dalam memilih metode promosi kelompok, harus

mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan

formal dari sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan

lain dengan kelompok yang kecil. Efektivitas suatu metode akan

tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

1. Kelompok Besar

Kelompok besar disisni adalah apabila peserta

penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk

kelompok besar ini, antara lain ceramah dan seminar.

a. Ceramah : Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan

tinggi maupun rendah.

b. Seminar : Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok

besar dengan pendidikan menengah keatas. Seminar adalah

suatu penyajian (presentasi) dari seseorang ahli atau beberapa

orang ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan

dianggap hangat di masyarakat.

2. Kelompok Kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya

disebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok

kecil, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Diskusi kelompok
33

b. Curah pendapat (Brain Storming)

c. Bola Salju (Snow Bolling)

d. Kelompok-kelompok kecil (Buzz Group)

e. Role Play (memainkan peranan)

f. Permainan Simulasi

3. Metode Promosi Kesehatan Massa

Metode pendidikan atau promosi kesehatan secara massa

dipakai untuk mengomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang

ditujukan kepada masayarakat yang sifatnya massa atau publik.

Dengan demikian cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.

Beberapa contoh metode promosi kesehatan secara massa ini,

antara lain :

a. Ceramah Umum (Public Speaking)

b. Penyuluhan massa

c. Pidato-pidato

d. Simulasi

e. Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk

artikel maupun tanya jawab atau konsultasi tentang kesehatan

dan penyakit adalah merupakan bentuk pendekatan promosi

kesehatan massa.

f. Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster,

dan sebagainya.
34

2.3.3.2 Penyuluhan

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang

mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat

agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang

(WHO, 1992). Penyuluhan merupakan proses perubahan prilaku melalui

upaya pendekatan edukatif yang dilakukan secara sistematik, terencana

dan terarah dengan peran serta aktif individu maupun kelompok untuk

memmecahkan masalaha dengan memepertimbangkan faktor sosial,

ekonomi, dan budaya setempat.

Dalam pelaksanaannya, penyuluhan sebagai proses perubahan

prilaku selalu saja ada berbagai kendala. Titik berat proses penyuluhan

sebagai proses perubahan prilaku adalah adanya penyuluhan yang

berkesinambungan, sehingga dituntut agar sasaran berubah tidak semata-

mata karena adanya penambahan pengetahuan saja, namun diharapkan

juga ada perubahan pada keterampilan sekaligus sikap mental yang

menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif dan

menguntungkan. Perubahan perilaku terjadi karena adanya kontak yang

intensif antara klien dengan petugas dan setiap masalahnya dapat diteliti

dan dibantu penyelesainnya (Maulana, 2009)

2.3.3.3 Media Pendidikan Promosi Kesehatan

Media pendidikan kesehatan disebut juga sebagai alat peraga

karena berfungsi membantu dan memeragakan sesuatu dalam proses

pendidikan atau pengajaran. Prinsip pembuatan alat peraga atau media


35

bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap

melalui panca indra (Depkes RI, 2008). Semakin banyak panca indra yang

digunakan, semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau

pengetahuan yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan alat

peraga dimaksudkan mengerahkan indera sebanyak mungkin pada suatu

objek sehingga memudahkan pemahaman. Menurut penelitian para ahli,

panca indera yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak

adalah mata (kurang lebih 75%-87%), sedangkan 13%-25% pengetahuan

manusia diperoleh atau disalurkan melalui indra lainnya (Depkes, 2008).

Berdasarkan fusngsinya sebagai penyaluran pesan-pesan

kesehatan (media), media ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu

1. Media Cetak

Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan

sangat bervariasi, antara lain :

c. Booklet

Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan

kesehatan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.

d. Leaflet

Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan

kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam

bentuk kalimat maupun gambar, atau kombinasi.

Leaflet merupakan lembaran kertas berukuran kecil

mengandung pesan tercetak untuk disebarkan kepada umum sebagai

informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.


36

e. Flyer (Selebaran)

Flyer merupakan leaflet tetati tidak dalam bentuk lipatan.

f. Flip Chart (Lembar Balik)

Flip Chart merupakan media penyampaian pesan atau informasi-

informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dslam

bentuk baku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan

dan baliknya berisi kalimat sebagai pesan atau informasi berkaitan

dengan gambar tersebut.

g. Rubrik

Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah mengenai

bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan

kesehatan.

h. Poster

Poster adalah bentuk media cetak berisi pesan-pesan informasi

kesehatan yang biasanya ditempel di dinding atau di tempat umum

maupun di kendaraan umum.

i. Foto yang mengungkapkan Informasi-Informasi Kesehatan


37

Kelebihan dan kelemahan media cetak dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.1
Kelebihan dan kelemahan media cetak

Kelebihan kelemahan
- Tahan Lama - Media ini tidak
- Mencakup banyak orang menstimulir efek suara
- Biaya tidak tinggi dan efek gerak
- Tidak perlu listrik - Mudah rusak
- Dapat dibawa kemana-kemana
- Dapat mengungkit rasa
keindahan
- Mempermudah pemahaman
- Meningkatkan semangat belajar

2. Media Elektronik

Media elektronik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan atau

informasi kesehatan dan jenisnya berbeda-beda antara lain :

A. Televisi

Penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui media televisi

dsalam bentuk : sandiwara, sinetron, forum diskusi atau tanya jawab

sekitar masalah kesehatan, pidato (ceramah), TV, Sport, quiz atau cerdas

cermat dan sebagainya.

B. Radio

Penyampaian informasi atau pesan kesehatn memalui radio juga dapat

berbentuk macam-macam seperti :obrolan/tanya jawab, sandiwara radio,

ceramah, radio sport, dan sebagainya.


38

C. Video

Penyampaian informasi atau pesan kesehatan dapat melalui pemutaran

video-video yang bertemakan kesehatan.

D. Slide

Silde dapat digunakan untuk menyampaikan infoermasi atau pesan

kesehatan yang berisisan point-point keseharan.

Kelebihan dan kelemahan media elektronik dapat dilihat dalam tabel

berikut ini :

Tabel 2.2

Kelebihan dan kelemahan media elektronik

Kelebihan kelemahan
- Sudah dikenal masyarakat - Biaya Lebih tinggi
- Mengikutsertakan semua - Sedikit rumit
panca indra - Perli listrik
- Lebih mudah dipahami - Perlu alat canggih untuk
- Lebih menarik karena ada memproduksinya
suara dan gambar bergerak - Perlu persiapan matang
- Penyajian dapat dikendalikan - Peralatan selalu berkembang dan
- Jangkauan relatif besar berubah
- Sebagai alat diskusi dan - Perlu keterampilan penyimpanan
dapat diulang-ulang - Perlu terampil dalam pengoperasiannya

3. Media Luar ruang

Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar

ruang secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis,

contohnya adalah sbegai berikut :


39

a. Papan Reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat

secara umum diperjalanan.

b. Spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar

yang dibuat atas secarik kain dengan ukuran tergantung kebutuhan dan

dipasang disuatu tempat strategi agar dapat dilihat oleh semua orang.

c. Pameran

d. Banner

e. TV Layar Lebar

Kelebihan dan kelemahan media luar ruang dapat dilihat dalam tabel
berikut ini :

Tabel 2.3
Kelebihan dan kelemahan media luar ruang

Kelebihan kelemahan
- Sebagai informasi umum dan - Biaya lebih tinggi
hiburan - Sedikit rumit
- Mengikutsertakan semua panca - Ada yang memerlukan listrik
- Ada yang memerlukan alat
indra
canggih untuk produksinya
- Lebih mudah dipahami - Perlu persiapan matang
- Lebih menarik karena ada suara dan - Peralatan selalu berkembang dan
gambar bergerak berubah
- Bertatap muka - Perlu keterampilan penyimpanan
- Penyajian dapat dikendalikan - Perlu keterampilan dalam
- Jangkauan relatif besar pengoperasian
- Dapat menjadi tempat bertanya
lebih detail
40

2.3.3.4 Media Leaflet

Leaflet merupakan lembaran kertas berukuran kecil

mengandung pesan tercetak untuk disebarkan kepada umum sebagai

informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.

Tujuan penggunaan Leaflet

1. Untuk mengingat kembali tentang hal-hal yang telah

diajarkanatau dikomunikasikan

2. Diberikan sewaktu kampanye untuk memperkuat ide yang telah

disampaikan

3. Untuk memperkenalkan ide-ide baru kepada orang banyak

Kelebihan dan kelemahan media leaflet dapat dilihat dalam tabel


berikut ini :

Tabel 2.4
Kelebihan dan kelemahan media Leaflet
Kelebihan kelemahan
- Leaflet dipilih karena - Bila cetakannya tidak menarik
dianggap memiliki nilai orang enggan untuk
praktis. menyimpannya.
- Dalam leaflet, hanya di - Pada umumnya orang tidak mau
informasikan secara garis membaca karena hurufnya terlalu
besar kecil.
- media leaflet dianggap - Tidak bisa digunakan oleh
lebih praktis sasaran yang buta huruf

Leaflet yang baik adalah leaflet yang memiliki kriteria dibawah ini :

1. Menggunakan bahasan sederhana dan mudah dimengerti oleh

pembacanya

2. Judul yang digunakan harus menarik untuk dibaca


41

3. Jangan banyak tulisan, sebaiknya dikombinasikan antara tulisan

dan gambar

4. Materi harus sesuai dengan target sasaran yang dituju.


42

2.4 Kerangka Teori

Kerangka teori ini merupakan modifikasi dari teori Lawrence Green,

promosi kesehatan ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu : Faktor Predisposisi,

Faktor Penguat dan Faktor Kemungkinan. Salah satu Faktor Predisposisi adalah

pengetahuan, dan pengetahuan sendiri terdapat faktor faktor yang

mempengaruhinya, antara lain : pengalaman, pendidikan, keyakinan, fasilitas,

sumber informasi dan hubungan sosial (Maulana, 2009).

Pendidikan Kesehatan

Metode
- Penyuluhan Faktor Predisposisi:
- Seminar (predisposing Factors)
- Diskusi Kelompok
- Role Play - Pengetahuan
- Sikap
- Keyakinan
- Kepercayaan
Media:
- Nilai-Nilai
- Leaflet
- Tradisi
- Poster
- Bill board
- Spanduk
- Video/Film
- Flipchart

(Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan)


- Pengalaman
- Pendidikan
- Keyakinan
- Fasilitas
- Sumber Informasi
- Hubungan Sosial

aGambar 2.3
Kerangka Teori
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Penelitian ini bertujuan untuk menegatahui efektivitas media

leaflet terhadap perubahan pengetahuan mengenai potensi bahaya dermatitis

kontak dan pencegahannya pada pekerja cleaning service di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta tahun 2013. Sesuai dengan tujuan tersebut, penelitian

akan lebih difokuskan pada beberapa faktor sesuai dengan kerangka konsep di

berikut ini :

Pengetahuan Pekerja
Intervensi cleaning service Mengenai
Penyuluhan dengan Potensi Bahaya Dermatitis
Media Leaflet Kontak dan Pencegahannya

Sumber Informasi
Hubungan Sosial

Gambar 3.1
Kerangka Konsep

43
44

Berdasarkan kerangka konsep diatas, yang menjadi variable

dependen adalah pengetahuan pekerja cleaning service (selisih skor menjawab

kuisioner sebelum dan sesudah intervensi penyuluhan). Variabel

independennya adalah intervensi penyuluhan dengan media leaflet dan

variabel faktor yang mempengaruhi pengetahuan seperti sumber informasi dan

hubungan sosial, diduga sebagai variabel pengganggunya.

Pengetahuan pekerja cleaning service sebelum dan sesudah

intervensi penyuluhan berdasarkan selisih hasil skor pre-test dan post-test.

Kelompok penyuluhan adalah kelompok pekerja yang mendapatkan perlakuan

berupa penyuluhan menggunakan media leaflet. Sedangkan kelompok kontrol

yaitu kelompok yang tidak diberikan penyuluhan. Pada masing-masing

kelompok akan dilihat selisih skor pengetahuan antara sebelum dan setelah

dilakukan intervensi penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak

dan pencegahannya, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok tersebut.

Selain itu, akan dilihat berapa persentase pekerja cleaning service yang

pengetahuannya meningkat setelah diberikan intervensi penyuluhan dengan

media leaflet.

Variabel faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan

yaitu umur, tingkat pendidikan, dan status ekonomi akan dikendalikan oleh

peneliti dengan membatasi sampel penelitian. Sampel penelitian yang diambil

adalah yang berumur 18 sampai 40 tahun, dengan tingkat pendidikan SMP


45

dan SMA. Sedangkan variabel status ekonomi bersifat homogen. Variabel

faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan lainnya yaitu sumber

informasi dan hubungan sosial tidak dapat dikendalikan oleh peneliti sehingga

menjadi variabel pengganggu (confounding).


46

3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1
Tabel Definisi Operasional

No Variabel Definisi Opersional Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala


Ukur Ukur

1 Intervensi Perlakuan yang diberikan sebagai upaya Wawancara Kuisioner 0. Penyuluhan (Media Ordinal
Penyuluhan pendidikan kesehatan mengenai potensi Leflet)
bahaya dermatitis kontak dan 1. Non penyuluhan
pencegahannya dengan menggunakan
alat bantu berupa media leaflet
2 Pengetahuan sebelum Tahu atau tidaknya responden mengenai Kuisioner Soal 0. Baik (total skor pre-test Ordinal
Intervensi penyuluhan potensi bahaya dermatitis kontak dan pre-test ≥ nilai mean/median)
mengenai potensi pencegahannya yang dinilai berdasarkan 1. Kurang (total skor pre-
bahaya dermatitis kemampuan menjawab pertanyaan pada test < nilai
kontak dan kuisioner pre-test sebelum diberikan mean/median)
pencegahannya intervensi penyuluhan.

3 Pengetahuan Sesudah Tahu atau tidaknya responden mengenai Kuisioner Soal 0. Baik (total skor pre-test Ordinal
Penyuluhan Mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan Post-test ≥ nilai mean/median)
Potensi Bahaya pencegahannya yang dinilai berdasarkan 1. Kurang (total skor pre-
Dermatitis Kontak dan kemampuan menjawab pertanyaan pada test < nilai
Pencegahannya kuisioner post-test, setelah diberikan mean/median)
intervensi penyuluhan
47

No Variabel Definisi Opersional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
4 Perubahan Selisih skor pengetahuan tentang Selisih dari Hasil pre- 0. Meningkat Ordinal
pengetahuan potensi bahaya dan hasil nilai test dan (selisih skor
tentang potensi penanggulangan dermatitis pre-test dan post-test bernilai posotif)
bahaya dan sebelum dan sesudah penyuluhan. post-test 1. Menurun (selisih
penanggulangan skor bernilai
dermatitis negatif)
5 Paparan Pernah memperoleh pengetahuan Kuesioner Lembar 0. Pernah Ordinal
informasi tentang potensi bahaya dan Kuesioner 1. Tidak pernah
pencegahan dermatitis selain dari
intervensi yang dilakukan peneliti
6 Hubungan Hubungan antara responden Kuesioner Lembar 0. Ya Ordinal
sosial dengan kuesioner 1. Tidak
keluarga/teman/tetangga/internet
sehingga terjadi pertukaran
informasi tentang potensi bahaya
dan pencegahan dermatitis
48

3.3 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Ada perbedaan pengetahuan mengenai potensi dermatitis kontak dan pencegahannya

sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dengan menggunakan media leaflet pada

pekerja cleaning service UIN syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013?

2. Ada hubungan antara penyuluhan menggunakan media leaflet dengan perubahan

pengetahuan mengenai potensi dermatitis kontak dan pencegahannya pada pekerja

cleaning service UIN syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013?


BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Studi

Rancangan penelitian ini adalah suatu studi Non-equivalent Control

Group Design. Nonequivalent Control Group Design adalah salah satu bentuk

Quasi-Experimental Design dengan 2 kelompok yang tidak dipilih secara random,

kemudian diberi pre-test untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Sugiyono, 2008). Kemudian setelah

penyuluhan kedua kelompok tersebut diberi post-test. Berdasarkan Sugiyono

(2008), rancangan penelitiannya adalah sebagai berikut :

O1______________________(x) 02

O3______________________(-) 04

Keterangan :

O1 = Pre-test pada kelompok 1 O2 = Post-test pada kelompok 1

O3 = Pre-test pada kelompok 2 O4 = Post-test pada kelompok 2

Pada rancangan diatas, O1 dan O3 merupakan pengukuran pengetahuan

awal (pre-test) yang dilakukan sebelum intervensi kepada kedua kelompok. Setelah

itu diberikan intervensi berupa penyuluhan. (X) adalah kelompok yang diberikan

intervensi berupa penyuluhan dengan media leaflet, sedangkan (-) adalah kelompok

49
50

yang tidak dilakukan penyuluhan. Kemudian dilakukan pengukuran pengetahuan

akhir dengan memberikan post-test yang dilakukan setelah adanya intervensi.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta pada bulan Juni-Oktober tahun 2013. Universitas ini dipilih

karena peneliti meneruskan dari penelitian sebelumnya yang telah dilaksanakan di

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

kejadian dermatitis kontak.

4.3 Populasi & Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah pekerja cleaning service yang bekerja di

Fakultas UIN SH Jakarta yang berjumlah 99 orang. Besar sampel pada penelitian

ini menggunakan uji hipotesis untuk dua rata-rata populasi (Lameshow,1997)

dengan rumus :

n = 2σ2 [Z1- α/2 + Z1- β]2

(μ1- μ2) 2

n = Jumlah Sampel

σ2 = Varians / standar deviasi dari beda rata-rata

Z = Nilai baku distribusi normal pada α atau β tertentu

1-α = Derajat kepercayaan (5%)

1-β = Nilai uji kekuatan (95%)


51

μ1 = Rata-rata populasi 1 (rata-rata peningkatan skor pengetahuan pada kelompok

eksperimen pada penelitian Isnaini) = 14

μ2 = Rata-rata populasi 2 rata-rata peningkatan skor pengetahuan pada kelompok

kontrol pada penelitian Isnaini) = 11

Varians adalah parameter populasi yang tidak diketahui, yang dapat diduga dari

sampel atau dari pendahuluan dengan merata-rata kedua variansi sampel S21 dan S22 yang

membentuk variansi rata-rata S2 P dimana (Lameshow, 1997) :

S2P = (n1 – 1) S21 + (n2 - 1) S22

(n1 – 1) + (n2 - 1)

S²P = Varians gabungan/ standar deviasi dari beda rata-rata

n1 = Jumlah sampel kelompok 1 (jumlah sampel pada kelompok kelompok

eksperimen pada penelitian Isnaini) = 30

n2 = Jumlah sampel kelompok 2 (jumlah sampel pada kelompok kontrol pada

penelitian Isnaini) = 30

S²1 = Standar deviasi kelompok 1 (standar deviasi pada kelompok eksperimen pada

penelitian Isnaini) = 1,612

S²2 = Standar deviasi kelompok 2 (standar deviasi pada kelompok kontrol pada

penelitian Isnaini) = 1,470


52

Dengan menggunakan batas kepercayaan (α ) sebesar 95% dan tingkat

kekuatan (1-β) sebesar 80% serta arah pengujian dua arah (two tailed test) maka

jumlah sampel yang dibutuhkan untuk masing-masing kelompok adalah:

S²p = (30 – 1) 1,612² + (30 – 1) 1,470²

(30 – 1) + (30 – 1)

= 75,4 + 62,64

58

= 2,38

n = 2.2,38 [1.96 + 1,64]²

(14 – 11)²

= 61,69

= 6,85 = 7

Berdasarkan perhitungan sampel di atas, jumlah sampel minimum yang

diperoleh adalah sebanyak 7 orang untuk masing-masing kelompok (total sampel =

14 orang). Pada pelaksanaan penyuluhan, peneliti mengambil sampel sebesar 95

orang. Sebanyak 48 sampel masuk ke dalam kelompok intervensi penyuluhan dan

sebanyak 47 orang masuk ke dalam kelompok kontrol.


53

4.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipergunakan dalam

pengumpulan data untuk mendapatkan data primer langsung dari sampel yang

diteliti.

a) Kuesioner

Salah satu instrumen penelitian yang digunakan ialah kuesioner.

Kuesioner yang digunakan berupa kuesioner tertutup dan terbuka dengan metode

pengisian yang didampingi oleh peneliti. Kuesioner tertutup merupakan

kuesioner yang telah disediakan pilihan jawabannya sehingga memudahkan

responden dalam memilih jawaban pada kolom yang telah disediakan dengan

memberi tanda silang (X). Peneliti menggunakan kuesioner tertutup agar

responden dapat menjawab pertanyaan yang diajukan secara lebih sistematis dan

mudah karena adanya keterbatasan biaya dan waktu penelitian.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kuesioner

pre-test dan post-test yang mencakup tentang penyakit dermatitis, bahan kimia

yang digunakan untuk mengepel lantai dan membersihkan toilet yang dapat

menyebabkan dermatitis, sarung tangan yang digunakan dalam bekerja,

pentingnya menggunakan sarung tangan, pengertian cuci tangan yang baik dan

benar, langkah cuci tangan yang baik dan benar, manfaat mencuci tangan, dan

waktu cuci tangan. Kuesioner pre-test dibagikan kepada responden.

Kuesioner pre-test dan post-test berisi 20 soal dan responden diberi waktu

mengerjakan soal selama 15 menit. Jawaban benar akan diberi nilai 1 dan

jawaban salah akan diberi nilai 0. Hasil dari pre-test dan post-test akan
54

dikategorikan menjadi pengetahuan baik (total skor ≥ mean/median),

pengetahuan kurang baik (total skor ≤ mean/median). Selain itu, selisih skor

pengetahuan antara pre-test dan post-test juga akan dihitung untuk melihat

perubahan pengetahuan yang terjadi, apakah mengalami peningkatan (selisih

skor antara pre-test & pos-test yang bernilai positif) atau mengalami penurunan

(selisih skor antara pre-test & pos-test yang bernilai negatif).

b) Media Leaflet

Selain kuesioner, media leaflet juga merupakan instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini. Media ini berisi mengenai gejala penyakit

dermatitis, bahan kimia yang digunakan dalam melakukan pekerjaan mengepel

lantai dan membersihkan toilet yang dapat menyebabkan dermatitis, definisi cuci

tangan yang baik dan benar dan langkahnya, manfaat mencuci tangan, dan waktu

yang tepat mencuci tangan. Pertama peneliti memberikan pre-test kepada peserta

penyuluhan, setelah peserta selesai menjawab, peneliti membagikan leaflet

kepada peserta penyuluhan. Peserta diberi waktu 15 menit untuk membaca leaflet

tersebut. Setelah itu, peneliti akan membacakan dan menjelaskan isi yang

terdapat pada leaflet tersebut, kepada peserta penyuluhan. Setelah itu, leaflet

dikumpulkan kembali oleh peneliti dari peserta penyuluhan. Hal ini dilakukan

agar peserta penyuluhan tidak dapat melihat jawaban dari rekan kerjanya atau

kerja sama dalam mengisi jawaban pada saat mengerjakan soal post-tes.
Tabel 4.1
Materi pada Media Leaflet
No. Materi Isi Materi Keterangan
1. Dermatitis 1. Pengertian Dermatitis adalah peradangan kulit yang biasanya terdapat di tangan, lengan bawah, dan
wajah
2. Penyebab Penyebab dermatitis di Cleaning Service UIN adalah cairan zat pembersih lantai atau
cairan pembersih toilet yang digunakan setiap hari.
2. Cuci 1. Pengertian Cuci tangan yang baik dan benar adalah aktivitas membersihkan bagian telapak tangan,
tangan punggung tangan dan jari dengan sabun dan air mengalir
yang baik 2. Jenis sabun Jenis sabun yang digunakan dapat menggunakan semua jenis sabun
dan benar 3. Air Air yang digunakan adalah air mengalir yang bersih yaitu air yang tidak berasa, tidak
berbau, dan tidak berwarna.
4. Manfaat cuci - Membersihkan bahan pembersih lantai/toilet yang menempel di permukaan kulit
tangan - - Larutan pembersih lantai/toilet akan menempel pada sabun
- Air akan membersihkan sabun yang sudah menempel dengan larutan pembersih
lantai/toilet tersebut.
5. Langkah-langkah 1. Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir
dan gunakan sabun di bagian telapak tangan yang telah basah, ratakan dengan kedua
telapak tangan.
2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kanan dan tangan kiri.

55
56

No. Materi Isi Materi Keterangan


3. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan.
4. Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci.
5. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya.
6. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan
sebaliknya.
7. Setelah itu, bilas kedua tangan dengan air bersih dan mengalir. Lalu keringkan
Cuci dengan lap tangan atau tisu.
tangan
8. Jangan menutup kran dengan tangan, tetapi gunakan siku atau tisu dan hindari
yang baik
dan benar menyentuh benda disekitarnya setelah mencuci tangan agar kuman yang terdapat di
benda-benda tersebut tidak menempel di tangan.
6. Waktu cuci - Sebelum dan sesudah menyantap makanan
tangan yang tepat - Sebelum & sesudah menyiapkan makanan
- Sebelum & sesudah mengiris sesuatu
- Setelah Buang air besar/kecil
- Sebelum dan setelah bekerja
- Setelah bersentuhan dengan bahan kimia atau zat pembersih lantai
- Saat pindah proses kerja
57

4.5 Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian

4.5.1. Persiapan Penelitian

Proses persiapan penelitian dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian. Kegiatan

yang dilakukan peneliti dalam persiapan penelitian yaitu:

a. Pembuatan Rancangan Penelitian

Tahap ini terdiri dari penyusunan rencana penelitian baik studi pendahuluan,

kepustakaan, kerangka teori dan kerangkakonsep, definisi operasional dan metode

penelitian.

b. Pemilihan Media Penyuluhan dan Perancangan Media

Media penyuluhan yang diguakan adalah media leaflet. Alasan pemilihan

media ini adalah karena media ini memiliki kelebihannya yaitu : mudah dibawa

kemana-mana, mencakup banyak orang, biaya lebih murah, dan dapat mempermudah

pemahaman, sehingga media ini cocok untuk penyuluhan pada pekerja cleaning

service. Dalam tahap perancangan, peneliti merancang media leaflet yang isinya

berdasarkan pada table 4.1, kemudian peneliti merancang design leaflet.

c. Pembuatan Materi dan Tekhnik penyuluhan

Materi penyuluhan yang diberikan adalah materi mengenai definisi dermatitis

kontak, gejala dermatitis kontak, penyebab & pencegahan melalui langkah cuci tangan

yang baik dan benar, tujuan mencuci tangan serta waktu yang tepat untuk mencuci

tangan. Dengan materi-materi tersebut diharapakan dapat meningkatkan kesadaran

para pekerja cleaning service untuk mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum

dan sesudah bekerja untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak.


58

Teknik penyuluhan yang digunakan adalah penyuluhan dengan metode ceramah

dengan alat bantu berupa media penyuluhan. Teknik penyuluhan pada media leaflet

yaitu dengan melihat gambar dan membacakan isi yang tertulis pada leaflet tersebut.

Penyuluhan ini dilakukan setelah responden selesai mengisi kuisioner pre-test.

Penyuluhan tersebut berlangsung selama 20 menit dilakukan oleh peneliti sendiri yang

telah berlatih komunikasi dengan baik dan memahami pengetahuan mengenai potensi

bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya.

d. Permohonan Izin

Tahap permohonan izin penelitian dimulai dengan pengajuan surat

permohonan izin penelitian kepada Biro kepegawaian UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta. Setelah tahap perizinan telah terpenuhi, maka tahap selanjutnya yaitu

melakukan koordinasi dengan para koordinator cleaning service masing-masing

Fakultas di UIN yarif Hidayatullah Jakarta.

e. Uji media Leaflet & Uji Validitas Kuisioner

a. Uji Media Leaflet

- Media Leaflet diuji coba kepada mahasiswa Program Studi Kesehatan

Masyarakat Peminatan Promosi Kesehatan (promkes) UIN Jakarta angkatan

2010 dengan 2 tahap. Tahap pertama yaitu wawancara, sedangkan tahap kedua

yaitu memberikan kuisioner yang memiliki 12 soal mengenai design warna,

design huruf, design gambar dan kesesuaiam pesan/isi leaflet dengan judul

leaflet.

- Pada tahap pertama, peneliti mewawancarai dan berdiskusi dengan mahasiswa

Promkes mengenai design leaflet yang telah dirancang. Dari 10 orang mahasiswa
59

yang diwawancarai, mereka mengemukakan pendapat bahwa design leaflet

untuk pekerja sebaiknya tidak menggunakan gambar animasi, tidak terlalu

banyak tulisan, lebih baik di perbanyak gambar yang menarik dan jelas. Pada

tahap ini design leaflet dapat dilihat pada lampiran 6.

- Setelah memperbaiki design leaflet berdasarkan saran mahasiswa promkes,

peneliti melakukakan tahap kedua, yaitu memberikan kuisioner yang berjumlah

12 pertanyaan pada seluruh mahasiswa promkes angkatan 2010 yang berjumlah

kurang lebih 15 orang. Kuisioner tersebut berjumlah 12 pertanyaan mengenai

design warna, design huruf, design gambar dan kesesuaian pesan/isi leaflet

dengan judul leaflet. Pada tahap ini design leaflet dapat dilihat pada lampiran 6.

- Dari keseluruhan mahasiswa promkes, hanya 50 % yang mengisi kuisioner

tersebut, yaitu sebanyak 10 orang. Dari 10 orang mahasiswa promkes, 5 orang

diantaranya menyarankan untuk menyebutkan nama lain dari dermatitis kontak

yang lebih dikenal oleh masyarakat. Selain itu mahasiswa promkes juga

menyarankan untuk memberikan no urut pada gambar langkah cuci tangan,

sehingga memudahkan responden untuk mengingat urutan langkah cuci tangan.

- Setelah leaflet tersebut di perbaiki berdasarkan saran dari mahasiswa promosi

kesehatan, kemudian leaflet & kuisioner tersebut di uji coba pada pekerja

cleaning service yang memiliki karakteristik sama dengan cleaning service UIN

SH Jakarta. Pada tahap ini design leaflet dapat dilihat pada lampiran 6.

- Setelah saran mengenai uji media leaflet telah dilakukan, peneliti merevisi setiap

tahap uji media, dan hasil terakhir dalam uji media leaflet dapat dilihat pada

lampiran 6.
60

b. Uji Validitas Kuisioner

- Langkah Uji coba leaflet & kuisioner dilakukan dengan cara memberikan

kuisioner pre-test dahulu kepada 40 orang pekerja cleaning service yang memiliki

karakteristik yang sama dengan sampel, di salah satu universitas swasta di

Tangerang. Peneliti membagikan leaflet dan memberikan penyuluhan kepada

pekerja cleaning service mengenai dermatitis kontak. Setelah diberikan

penyuluhan, responden tersebut diberikan waktu 15 menit untuk membaca leaflet

dilanjutkan dengan kuisioner. Setelah itu, peneliti memberikan kuisioner.Hasil Uji

validitas kuisioner penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 6.

4.5.2. Kegiatan Pemilihan Sampel pada kedua kelompok

Sampel ditentukan berdasarkan random sampling, yaitu dengan langkah sebagai

berikut :

1. Peneliti membuat gelas undian yang bertuliskan A dan B. Gelas A beirisi kertas

undian yang digulung kecil. Gelas A berisi 13 gulung kertas kecil yang bertuliskan

nama-nama fakultas dan gedung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjumlah

10 fakultas. Sedangkan gelas B berisi 13 gulung kertas, yang bertuliskan “intervensi

penyuluhan dan sisanya bertuliskan “non-penyuluhan”. Pembagian kelompok

penyukuhan dan kelompok kontrol berdasarkan jumlah sampel pada tiap

fakultas/gedung, agar jumlah pembagiannya seimbang.

2. Gulungan kertas tersebut dimasukan kedalam gelas kemudian gelas tersebut ditutup

rapat dengan kertas dan diberi lubang kecil.


61

3. Peneliti mengocok gelas A terlebih dahulu dan mengeluarkan kertas gulungan yang

berada didalamnya kemudian membaca tulisan di dalam kertas tersebut dan

mencatatnya.

4. Selanjutnya peneliti dan mengeluarkan kertas gulungan yang berada didalamnya

kemudian membaca tulisan di dalam kertas tersebut dan mencatatnya.

5. Selanjutnya peneliti kembali mengocok gelas A dilanjutkan mengocok gelas B dan

begitu seterusnya hingga semua gulungan kertas di dalam gelas tidak ada yang tersisa.

Berikut ini hasil kocokan gelas undian :

Tabel 4.2
Pembagian Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
Kelompok Intervensi Penyuluhan Kelompok Kontrol
- Fakultas Tarbiyah dan ilmu Keguruan -Fakultas Adab dan Humaniora
- Fakultas Ushuludin - Fakultas Ekonomi dan Bisnis
- Fakultas Sains dan Teknologi - Fakultas Psikologi
- Fakultas Dakwah dan Komunikasi - Gedung Akademik Pusat
-Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan - Gedung Laboratorium Terpadu
- Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik - Gedung Student Centre
- Gedung Rektorat

4.5.3. Kegiatan Pre-test

Setelah randomisasi, peserta kelompok intervensi penyuluhan dan kelompok

non penyuluhan masing-masing memasuki sebuah ruangan yang ditentukan peneliti.

Masing-masing diberi soal pre-test yang berisi 12 pertanyaan pilihan ganda mengenai

dermatitis kontak dan 8 pertanyaan menjodohkan gambar langkah mencuci tangan.

Peserta diberi waktu kurang lebih 15 menit untuk mengisi data karakteristik peserta dan

menjawab soal pre-test tersebut. Setelah selesai menjawab, peneliti akan mengumpulkan

kembali lembar soal pre-test dari responden.


62

4.5.4. Kegiatan Penyuluhan

a. Kelompok Intervensi penyuluhan

Kegiatan penyuluhan dilakukan 10 kali di tempat yang berbeda, yaitu dilakukan di

masing masing fakultas dan gedung UIN yang termasuk kelompok intervensi

penyuluhan. Pemberian materi penyuluhan berlangsung selama 20 menit. Materi

Penyuluhan ini menjelaskan mengenai potensi dermatitis kontak dan pencegahannya

dengan menggunakan alat bantu leaflet. Penyuluhan ini menggunakan metode

ceramah yang akan dilakukan oleh peneliti sendiri yang medalami alur kegiatan

penyuluhan dan mendalami pengetahuan mengenai potensi dermatitis kontak dan

pencegahannya pada pekerja cleaning service.

b. Kelompok kontrol

Pada kelompok kontrol tidak diberikan penyuluhan mengenai potensi bahaya

dermatitis kontak & pencegahannya melainkan hanya diberikan penyuluhan mengenai

kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yaitu penyuluhan mengenai sistem tanggap

darurat di gedung bertingkat, materi ini tidak berhubungan dengan dermatitis kontak

dan tidak menggunakan alat bantu media leaflet. Penyuluhan ini berlangsung selama

15 menit.

4.5.5. Kegiatan Post-test

Setelah kegiatan penyuluhan selesai, peneliti mengumpulkan kembali leaflet

dari kelompok intervensi penyuluhan, dilanjutkan dengan pemberian soal post test. Pada

kelompok intervensi penyuluhan, soal post test diberikan setelah peserta penyuluhan

selesai diberi penyuluahan mengenai potensi bahaya dermatitis dan pencegahannya.


63

Sedangkan pada kelompok non penyuluhan soal post test diberikan setelah peserta

diberikan penyuluhan mengenai sistem tanggap darurat digedung bertingkat.

4.6 Pengumpulan Data Penelitian

Data yang dikumpulkan berupa data primer, yaitu data yang diperoleh secara

langsung oleh peneliti dari pekerja cleaning service Universitas Islama Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. Data yang dikumpulkan adalah data karakteristik responden (nama,

umur, alamat,no telepon, dan pendidikan terakhir) serta data hasil pre-test dan post-test.

4.7 Pengolahan Data Penelitian

4.7.1 Editing

Tahap ini merupakan kegiatan penyuntingan data yang telah terkumpul dengan cara

memeriksa kelengkapan data dan kesalahan pengisian kuesioner.

4.7.2 Coding

Kegiatan mengklasifikasikan data dan memberi kode terhadap setiap variabel

sebelum diolah dengan komputer dengan tujuan untuk memudahkan dalam melakukan

analisa data.

Data yang dicoding antara lain:

a. Pengetahuan sebelum dan intervensi mengenai cuci tangan yang baik dan benar,

dicoding menjadi:

0. Baik (total skor ≥ mean / median)

1. Kurang baik (total skor ≤ mean / median)


64

b. Intervensi Penyuluhan, dicoding menjadi :

0. Kelompok intervensi penyuluhan menggunakan media leaflet

1. Kelompok kontrol

c. Perubahan pengetahuan mengenai cuci tangan yang baik dan benar, dicoding

menjadi:

0. Meningkat (selisih skor antara pre-test & post-test yang bernilai positif)

1. Menurun (selisih skor antara pre-test & post-test yang bernilai negatif)

4.7.3 Entry Data

Merupakan proses pemasukan data dari kuesioner ke dalam komputer untuk kemudian

diolah dengan bantuan perangkat lunak, yaitu SPSS.

4.7.4 Cleaning

Merupakan proses pembersihan data setelah data di entri. Cara yang sering dilakukan

adalah dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel dan menilai

kelogisannya. Tahapan cleaning data terdiri dari mengetahui missing data, mengetahui

variasi data, dan mengetahui konsistensi data.

4.8 Teknik Analisis Data Peneltian

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan

analisis bivariat.

4.8.1 Analisis Univariat

Analisis univariat merupakan suatu analisis untuk mendeskripsikan

masing-masing variabel yang diteliti. Analisis univariat bertujuan untuk mendapat

gambaran distribusi frekuensi dari variabel dependen dan independen. Pada

penelitian ini variabel yang akan dianalisis menggunakan analisis univariat adalah
65

pengetahuan sebelum penyuluhan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol

serta pengetahuan sesudah penyuluhan pada kelompok intervensi dan kelompok

kontrol.

4.8.2 Analisis Bivariat

Untuk mengetahui jenis uji yang digunakan dalam analisis bivariat terhadap

data efektivitas keterpaparan media penyuluhan, pengetahuan mengenai potensi

bahaya dermatitis kontak dan pencegahnnya sebelum penyuluhan (pre-test), dan

pengetahuan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahnnya setelah

penyuluhan (post-test) terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Setelah itu, uji yang

digunakan dalam penelitian ini adalah Uji T.

Uji T yang digunakan dalam analisis bivariat pada penelitian ini adalah uji

beda mean independen dan uji beda mean dependen. Uji beda mean independen (Uji T

Independen) digunakan untuk mengetahui perbedaan mean dua kelompok data

independen. Sedangkan uji beda mean dependen (Uji T dependen) digunakan untuk

menguji perbedaan mean antara dua kelompok data yang dependen. Kedua sampel

disebut dependen jika kedua sampel yang dibandingkan mempunyai sampel yang

sama.

Uji T Independen digunakan untuk menilai apakah ada perbedaan pengaruh

intervensi penyuluhan antara penyuluhan menggunakan media leaflet dengan tidak

dilakukan penyuluhan pada pekerja cleaning service, menilai apakah ada perbedaan

pengetahuan cuci tangan yang baik dan benar antara kedua kelompok sebelum

dilaksanakan intervensi penyuluhan, dan menilai apakah ada perbedaan antara kedua

kelompok setelah dilaksanakannya intervensi penyuluhan. Sedangkan Uji T Dependen


66

digunakan untuk menilai perbedaan pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan

pada masing-masing kelompok. Bila Pvalue < 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada

perbedaan atau ada hubungan. Sebaliknya bila Pvalue > 0,05 maka Ho gagal ditolak,

artinya tidak ada perbedaan atau tidak ada hubungan antara keduanya.
BAB V
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di 13 Gedung yang berada di Universitas

Islam Negeri Jakarta, yaitu di gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan,

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas

Usuludin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Tekhnologi, Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan

Politik, Gedung Rektorat UIN Jakarta, Gedung Akademik Pusat UIN SH Jakarta,

Gedung Student Centre¸ Gedung Laboratorium Terpadu. Penelitian dilaksanakan

pada tanggal 3 September – 12 September.

Pada waktu pelaksanaan penelitian, jumlah total populasi yang

menghadiri kegiatan penelitian sebanyak 99 orang. Terdapat 4 responden yang

tidak termasuk penelitian, 2 orang diantaranya hanya mengisi lembar pre-test saja

dan 2 orang hanya mengisi post-test saja. Sehingga sample penelitian sebanyak 95

orang. Berikut merupakan distribusi responden penelitian berdasarkan lokasi dan

waktu penyuluhan. Jadwal kegiatan pelaksanaan penyuluhan dapat dilihat pada

tabel berikut ini :

67
68

Tabel 5.1
Ditribusi Responden Berdasarkan Nama Gedung, Waktu Pelaksanaan
Penyuluhan, dan Jumlah Peserta Penyuluhan
No Waktu Pelaksanaan Jumlah Keterangan Tempat
Tempat
peserta Kerja Peserta
Hari/ Tanggal Pukul Penyuluhan
penyuluhan
Kelompok Intervensi
1 Selasa, 2 Sept 11.00-12.00 Gedung Tarbiyah 11 orang 7 orang Tarbiyah
2013 UIN SH Jakarta 4 orang  Ushuludin

2 Kamis, 4 Sept 13.00-14.00 Gedung Saintek 13 orang 7 orang Saintekh


2013 UIN SH Jakarta 6 orang Dakwah
3 Jum’at, 5 Sept 17.00-18.00 Gedung FKIK 11 orang 11 orang Kedokteran
2013 UIN SH Jakarta
4 Senin, 8 Sept 10.00-11.00 Gedung FISIP 13 orang 13 orang Fisip
2013 UIN SH Jakarta
KelompokKontrol
5 Selasa, 9 Sept 10.00-11.00 Gedung FEB UIN 11 orang 7 orang Ekonomi
2013 SH Jakarta 4 orang Adab
7 Selasa, 10 Sept 17.00-18.00 Gedung Psikologi 7 orang 7 orang Psikologi
2013 UIN SH Jakarta
8 Rabu, 10 Sept 11.00-14.00 Gedung Aula 8 orang 8 orang Akademik
2013 Madya UIN SH Pusat
Jakarta
9 Kamis, 11 Sept 13.00-14.00 Gedung Aula 10 orang 10 orang Rektorat
2013 Madya UIN SH
Jakarta
10 Jum’at, 12 13.30-14.30 Gedung Student 11 orang 4 orangLab Terpadu
Sept 2013 Centre 4 orang  Perputakaan
Umum
3 orang student
centre

Berdasarkan tabel 5.1 diatas, waktu pelaksanaan penyuluhan

dilaksanakan siang hari di jam kerja. Rata-rata setiap kegiatan yang dimuali

dengan pengisian pre-test hingga pengisian post-test berlangsung selama 60 menit.

Penyuluhan biasanya dilakukan sebelum jam makan siang yaitu puku 10.00-

11.WIB atau setelah jam makan siang yaitu pukul 13.00-14.00 WIB dan ada pula
69

yang dilakukan setelah jam kerja yaitu pukul 17.00-18.00 WIB. Alasan peneliti

melakukan pada jam tersebut karena pekerja cleaning service memiliki waktu

luang yang cukup santai untuk mengikuti penyuluhan. Setiap kali penyuluhan,

rata-rata peserta yang hadir lebih dari 6 orang.

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian dan Sample


5.1.1 Gambaran Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki sebelas Fakultas yaitu di

gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan, Fakultas Ilmu Dakwah dan

Komunikasi, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas

Syariah, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Usuludin, Fakultas Ekonomi

dan Bisnis, Fakultas Sains dan Tekhnologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta juga memiliki Gedung Rektorat UIN Jakarta, Gedung

Akademik Pusat Jakarta, Gedung Student Centre¸ Gedung Laboratorium Terpadu.

Setiap Gedung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta rata-rata lebih dari 5 lantai dan

memiliki pekerja cleaning service minimal 1 orang di setiap lantai gedung UIN

SH Jakarta.
70

5.1.2 Gambaran Umum Pekerja Cleaning Service di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta

Cleaning Service di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam

proses kerjanya menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang digunakan antara

lain, pembersih lantai, toilet dan kaca. Jenis bahan kimia yang digunakan dalam

proses kerja cleaning service bervariasi. Bahan-bahan tersebut berpotensi

menimbulkan gangguan pada kulit pekerja. Jumlah pekerja cleaning service

berdasarkan hasil pengamatan terdapat sebanyak 95 orang. Ruang lingkup

pekerjaan cleaning service di tempat penelitian antara lain, membersihkan

ruangan kelas, ruangan kantor, perpustakaan, toilet, musholla, laboratorium,

koridor dan ruangan serbaguna lainnya. Tidak ada sistem shift kerja di tempat

penelitian ini, pada umumnya waktu kerja pekerja cleaning service mulai hari

senin hingga jum’at pukul 06.30-17.00 WIB tetapi apabila ada pekerjaan

tambahan maka jam kerja mereka menjadi tidak tentu setiap harinya. Pekerja

cleaning service lebih banyak melakukan aktivitas pada jam 06.00-08.00 WIB

dan pukul 15.00-16.00 WIB. Setiap pekerja memiliki luas area kerja yang berbeda

tergantung kebijakan dari pihak fakultas yang membawahi para pekerja tersebut.

Dalam melakukan pekerjaan tersebut pekerja tidak dilengkapi dengan

standar opersional prosedur dan tidak diberikan alat pelindung diri berupa sarung

tangan dan masker. Terkadang pekerja cleaning service melakukan pekerjaan

menggunakan sarung tangan plastik tipis yg didapatkan dari pembelian bahan

pembersih lantai/toilet. Pihak fakultas/universitas memberikan sarung tangan jika


71

pekerja cleaning service melakukan pekerjaan yang dianggap kotor seperti

mencangkul tanah di taman atau menanam tanaman di taman kampus yang biasa

dilakukan sekali dalam sebulan .

Pekerja cleaning service disediakan sabun pencuci tangan (handsoap),

namun pekerja biasa mencuci tangan hanya setelah bekerja dan sesudah makan.

Mereka terbiasa mencuci tangan jika tangannya terlihat kotor oleh kasat mata.

Jika sabun pencuci tangan yang disediakan oleh fakutas telah habis, pekerja

mencuci tangan hanya menggunakan air tanpa menggunakan sabun antibakteri

lainnya. Bahan kimia yang digunakan pekerja adalah bahan yang mengandung

desinfektan, klorin, amoniak dan bahan pembersih lainnya. Bahan-bahan tersebut

dapat menyebabkan iritasi kulit dalam jangka pemakaian yang cukup lama.

5.2 Univariat
5.2.1 Pengetahuan Sebelum Penyuluhan pada kelompok Intervensi dan Kelompok
Kontrol

Pengetahuan pekerja cleaning service mengenai potensi bahaya

dermatitis kontak dan bahayanya sebelum di lakukan penyuluhan pada kelompok

intervensi dan pada kelompok kontrol dapat dilihat pada pada tabel dibawah ini.
72

Tabel 5.2
Distribusi Pengetahuan Pekerja Cleaning Service Sebelum Penyuluhan
pada kelompok Intervensidan Kelompok Kontrol

Pengetahuan
No Kelompok Baik Kurang
Total
N % N %
1 Intervensi 17 35.4 % 31 64.6 % 100 %
2 Kontrol 17 36.2 % 30 63.8 % 100 %

B erdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa pada kelompok

intervensi, pekerja cleaning service memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 17

orang (35.4%) dan pekerja cleaning service yang memiliki pengetahuan kurang

sebanyak 31 orang (64.6%). Pada kelompok kontrol, pekerja yang memiliki

pengetahuan baik sebanyak 17 orang (36.2%) dan pekerja yang memiliki

pengetahuan kurang yaitu sebanyak 30 orang (63.8%). Pada kedua kelompok,

pekerja yang memiliki pengetahuan “kurang” lebih banyak dibandingkan dengan

pekerja yang memiliki pengetahuan baik.

5.2.2 Pengetahuan Setelah Penyuluhan pada kelompok Intervensi dan Kelompok


Kontrol
Pengetahuan pekerja cleaning service mengenai potensi bahaya

dermatitis kontak dan bahayanya setelah di lakukan penyuluhan pada kelompok

intervensi dan pada kelompok kontrol dapat dilihat pada pada tabel dibawah ini.
73

Tabel 5.3
Distribusi Pengetahuan Pekerja Cleaning Service Sesudah dilakukan
Penyuluhan pada kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Pengetahuan
Total
No Kelompok Baik Kurang
N % N % N %
1 Intervensi 29 60.4 % 19 39.6% 48 100 %
2 Kontrol 17 36.2 % 30 63.8 % 48 100 %

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat pekerja cleaning service pada

kelompok intervensi memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 29 orang (60.4%)

dan pekerja yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 19 orang (39.6%). Pada

kelompk kontrol, pekerja yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 17 orang

(36.2%) dan pekerja yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 30 orang

63.8%). Pada kelompok intervensi, pekerja yang memiliki pengetahuan “baik”

lebih banyak dibandingkan dengan pekerja yang pengetahuannya “kurang”.

Sedangkan Pada kelompok kontrol, pekerja yang memiliki pengetahuan “kurang”

lebih banyak dibandingkan dengan pekerja yang pengetahuannya “kurang”.

5.2.3 Perubahan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah Penyuluhan pada


kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Perubahan pengetahuan pekerja cleaning service mengenai potensi

bahaya dermatitis kontak dan bahayanya setelah di lakukan penyuluhan pada

kelompok intervensi dan pada kelompok kontrol dapat dilihat pada pada tabel

dibawah ini.
74

Tabel 5.4
Distribusi Perubahan Pengetahuan Pekerja Cleaning Service antara Sebelum
dan Sesudah dilakukan Penyuluhan pada kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol

Meningkat Tetap Menurun


No Kelompok Total
N % N % N %
1 Intervensi 48 100 % 0 0% 0 0% 100 %
2 Kontrol 16 34 % 18 38.3 % 13 27.7 % 100 %

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat perubahan pengetahuan pekerja

cleaning service sesudah dilakukan penyuluhan pada kelompok intervensi,

pengetahuannya “meningkat” 100% yaitu sebanyak 48 orang. Pada kelompok

kontrol, pekerja cleaning service yang pengetahuannya “meningkat” terdapat 16

orang (34%), pekerja yang pengetahuannya “tetap”/tidak ada perubahan terdapat 18

orang (38.3%), sedangkan pekerja yang pengetahuannya “menurun” terdapat 13

orang (27.7%). Jadi, pada kelompok intervensi pengetahuan pekerja cleaning

service mengenai bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya meningkat semua

(100%).

5.3 Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui hubungan antara

dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dalam pengujian hipotesis

penelitian dengan data (rasio) harus memenuhi syarat uji normalitas distribusi data

sehingga dapat dianalisis dengan uji parametrik. Uji normalitas distribusi data pada
75

penelitian ini dilakukan pada skor pengetahuan baik sebelum penyuluhan maupun

sesudah dilakukan penyuluhan. Selanjutnya variabel skor pengetahuan dianalisis

dengan uji parametrik yaitu uji t-dependent. Berikut merupakan hasil uji bivariat

terhadap variabel dependent dan independent pada penelitian ini :

5.3.1 Uji Normalitas

Peneliti melakukan uji normalitas dahulu sebelum melakukan uji t-

dependent dengan menggunakan kolmogorof-smirnof. Hasil uji normalitas

tersebut, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.5
Hasil Uji Normalitas Data Skor Pengetahuan Pekerja Cleaning Service
Sebelum Intervensi (Pre-test) dan Setelah Intervensi (Post-test) pada
Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Uji Normalitas
Kelompok Skor Pengetahuan Kolmogorof- Ket.
Smirnof (P-value)
Intervensi Skor Pre-Test 0,188 Normal
Skor Post-Test 0,134 Normal
Kontrol Skor Pre-Test 0,372 Normal
Skor Post-Test 0,079 Normal

Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 5.5 diketahui pada

kelompok intervensi nilai probabilitas skor pre-tes pekerja cleaning service

adalah 0.1888 dan nilai probabilitas skor-post tes pekerja cleaning service adalah

0.134. Pada kelompok kontrol nilai probabilitas skor pre-test pekerja cleaning

service adalah 0.372 dan nilai probabilitas skor post-test pekerja cleaning
76

service adalah 0.079. Dari data diatas, nilai probabilitas skor pre-test maupun

skor post-test pada kedua kelompok lebih besar dari 0.05 (Pvalue > α), artinya

data tersebut berdistribusi normal.

5.3.2 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah dilakukan


Penyuluhan pada Kelompok Intervensi

Tabel 5.6
Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah
dilakukan Penyuluhan pada Kelompok Intervensi
Pengetahuan Mean SD PValue N
Kelompok
Pre test 8.06 2.254
Intervensi 0.00 48
Post test 14.56 2.736

Berdasarkan tabel 5.6, diketahui bahwa rata-rata skor pengetahuan pada

kelompok intervensi sebelum penyuluhan adalah 8.06 dengan standar deviasi

2.254. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan

adalah 14.56 dengan standar deviasi 2.736. Dari hasil uji statistik diperolah nilai

probabilitas (P-Value) sebesar 0.00 artinya pada alpha 5 % terdapat perbedaan

signifikan rata-rata skor pengetahuan antara sebelum dan sesudah dilakukan

penyuluhan.
77

5.3.3 Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah dilakukan


Penyuluhan pada Kelompok Kontrol

Tabel 5.7
Perbandingan Pengetahuan antara Sebelum dan Sesudah dilakukan
Penyuluhan pada Kelompok Kontrol
Pengetahuan Mean SD PValue N
Kelompok
Pre test 6.87 2.060
Kontrol 0.286 47
Post Test 7.09 1.886

Berdasarkan tabel hasil diatas, diketahui bahwa rata-rata skor

pengetahuan pada kelompok intervensi sebelum penyuluhan adalah 6.87 dengan

standar deviasi 2.060. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan sesudah dilakukan

penyuluhan adalah 7.09 dengan standar deviasi 1.886. Dari uji statsitik diperolah

nilai probabilitas (P-Value) sebesar 0.286 artinya hasil pada alpha 5 % tidak ada

perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan antara sebelum dan sesudah

dilakukan penyuluhan.

5.3.4 Perbedaan Pengetahuan sebelum dilakukan Penyuluhan antara Kelompok


Intervensi dengan kelompok Kontrol

Perbedaan Pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan antara kelompok

intervensi dengan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
78

Tabel 5.8
Perbedaan Pengetahuan sebelum dilakukan Penyuluhan (pre test)
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol

Kelompok Mean SD PValue N


Intervensi 8.06 2.254 48
0.009
Kontrol 6.87 1.886 47

Berdasarkan output uji T-independent yang terdapat pada lampiran 9 ,

diketahui varian masing-masing kelompok sama. Hal ini terlihat pada kolom

levene’s Quality of Variance nilai probabilitas uji F nya menunjukan nilai 0.905,

artinya pada alpha 5 % disimpulkan tidak ada beda varian pengetahuan sebelum

dilakukan penyuluhan pada pekerja cleaning service yang dikelompokkan dalam

kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Interpretasi dari uji T-independen ini adalah diketahui rata-rata skor

pengetahuan pekerja cleaning service pada kelompok intervensi sebelum

dilakukan penyuluhan adalah 8.06. pekerja cleaning service pada kelompok

kontrol sebelum dilakukan penyuluhan rata-rata skor pengetahuannya adalah

6.87. Dari uji statistik diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.009, artinya pada

alpha 5 % tidak terdapat perbedaan rata-rata skor pengetahuan pekerja cleaning

service sebelum dilakukan penyuluhan antara kelompok intervensi dengan

pekerja cleaning service pada kelompok kontrol.


79

5.3.5 Perbedaan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan antara Kelompok


Intervensi dengan kelompok Kontrol

Perbedaan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan antara Kelompok

Intervensi dengan kelompok Kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.9
Perbedaan Pengetahuan sesudah dilakukan Penyuluhan (post test)
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol

Kelompok Mean SD PValue N


Intervensi 14.56 2.739 48
0.00
Kontrol 7.09 1.886 47

Berdasarkan output uji T-independent yang terdapat pada

lampiran 9, diketahui varian masing-masing kelompok sama. Hal ini terlihat

pada kolom levene’s Quality of Variance nilai probabilitas uji F nya menunjukan

nilai 0.038, artinya pada alpha 5 % disimpulkan terdapat perbedaan pengetahuan

sesudah dilakukan penyuluhan pada pekerja cleaning service yang

dikelompokkan dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Interpretasi dari uji T-independen ini adalah diketahui rata-rata skor

pengetahuan pekerja cleaning service pada kelompok intervensi sesudah

dilakukan penyuluhan adalah 14.56. pekerja cleaning service pada kelompok

kontrol sesudah dilakukan penyuluhan rata-rata skor pengetahuannya adalah

7.09. Dari uji statistik diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.000, artinya pada

alpha 5 % terdapat perbedaan rata-rata skor pengetahuan pekerja cleaning


80

service sesudah dilakukan penyuluhan antara pekerja cleaning service pada

kelompok intervensi dengan pekerja cleaning service pada kelompok kontrol.

5.3.6 Perbedaan Perubahan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan antara


Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol

Perbedaan perubahan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan antara

kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel dibawah

ini.

Tabel 5.10
Perbedaan perubahan Pengetahuan setelah dilakukan Penyuluhan (Post test)
antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol

Kelompok Mean SD PValue N


Intervensi 6.50 2.975 48
0.00
Kontrol 0.21 1.301 47

Berdasarkan output uji T-independent yang terdapat pada

lampiran 9, diketahui varian masing-masing kelompok sama. Hal ini terlihat

pada kolom levene’s Quality of Variance nilai probabilitas uji F nya menunjukan

nilai 0.000, artinya pada alpha 5 % disimpulkan ada beda varian perubahan

pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan pada pekerja cleaning service yang

dikelompokkan dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Interpretasi dari uji T-independen ini adalah diketahui rata-rata skor

perubahan pengetahuan pekerja cleaning service pada kelompok intervensi


81

sesudah dilakukan penyuluhan adalah 6.50. Pekerja cleaning service pada

kelompok kontrol sesudah dilakukan penyuluhan rata-rata skor perubahan

pengetahuannya adalah 0.21. Dari uji statistik diperoleh nilai probabilitas sebesar

0.000, artinya pada alpha 5 % terdapat perbedaan rata-rata skor perubahan

pengetahuan pekerja cleaning service sesudah dilakukan penyuluhan antara

kelompok intervensi dengan pekerja cleaning service pada kelompok kontrol.

5.3.7 Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Pekerja Cleaning


Mengenai Potensi Bahaya Dermatitis Kontak dan Bahayanya

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian

media leaflet Potensi bahaya Dermatitis kontak dan pencegahnnya terhadap

perubahan skor pengetahuannya. Perbedaan perubahan skor pengetahuan pekerja

cleaning service sesudah penyuluhan dapat dilihat pada tabel 5.8 dibawah ini.

Tabel 5.11
Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Pekerja Cleaning
Service Mengenai Potensi Bahaya Dermatitis Kontak dan Pencegahannya

Kelompok Mean SD PValue N


Intervensi 6.50 2.975 48
0.00
Kontrol 0.21 1.301 47

Berdasarkan tabel diatas, diketahui rata-rata skor perubahan

pengetahuan pekerja cleaning service pada kelompok intervensi sesudah

dilakukan penyuluhan adalah 6.50 dengan standar deviasi 2.975. Pekerja


82

cleaning service pada kelompok kontrol sesudah dilakukan penyuluhan rata-

rata skor perubahan pengetahuannya adalah 0.21 dengan standar deviasi 1.301.

Dari uji statistik diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.000, artinya pada alpha 5

% artinya terdapat pengaruh media leaflet terhadap perubahan pengetahuan

mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya.

5.3.8 Paparan Sumber Informasi dan Hubungan Sosial

Sumber informasi yang didapatkan pekerja cleaning service

mengenai sudah pernah atau belum mendapatkan informasi mengenai penyakit

dermatitis kontak dan pencegahannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.12
Paparan sumber Informasi yang diterima pekerja cleaning service
sebelum dilakukan penyuluhan Potensi Bahaya Dermatitis
Kontak dan Pencegahannya

Kelompok Informasi Pernah Tidak Keterangan


Pernah
Dermatitis 2 orang 46 orang Mendapatkan informasi
kontak mengenai penyakit dermartitis
kontak dari keluarga atau
kerabat dekat.
Penggunaan 12 orang 36 orang Berdiskusi dengan teman
sarung
Intervensi
tangan saat
bekerja
Langkah 13 orang 35 orang Mendapatkan informasi dari
Cuci tangan penyuluhan kesehatan
yang baik
dan benar
83

Kelompok Informasi Pernah Tidak Keterangan


Pernah
Dermatitis 0 47 orang -
kontak
Penggunaan 0 orang 47 orang -
sarung
tangan saat
Kontrol
bekerja
Langkah 5 orang 42 orang Mendapatkan informasi dari
Cuci tangan iklan televisi sabun kesehatan
yang baik
dan benar

Berdasarkan tabel diatas, pada kelompok intervensi pekerja yang sudah

pernah mendapatkan informasi mengenai penyakit dermatitis kontak sebanyak 2

orang dan mendapatkan informasi tersebut dari keluarga dan kerabat dekat yang

pernah mengalami penyakit tersebut. Pekerja yang mengetahui informasi mengenai

penggunaan sarung tangan saat bekerja sebanyak 12 orang mendapatkan informasi

tersebut dari teman kerja. Sedangkan pekerja yang mengetahui langkah cuci tangan

yang baik dan benar pada kelompok kontrol sebanyak 13 orang, mendapatkan

informasi tersebut dari pengalaman penyuluhan yang sebelumnya pernah diikuti

mengenai kesehatan kerja.

Pada kelompok kontrol, pekerja cleaning service hanya ada 5 orang yang

mengetahui langkah cuci tangan yang baik dan benar. Mereka mendapatkan

informasi tersebut melalui iklan televisi mengenai sabun kesehatan. Informasi yang

mereka dapatkan hanya sekilas dan berdurasi beberapa detik saja, sehingga mereka

tidak pernah menerapkan dalam kegiatan sehari-hari.


BAB VI
PEMBAHASAN

6.1. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan menggunakan data

primer yang diperoleh melalui instrumen kuesioner. Dalam penelitian ini terdapat

keterbatasan-keterbatasan manusia baik sebagai subyek maupun sebagai obyek

penelitian yang tidak dapat dihindari. Dengan keterbatasan ini, diharapkan dapat

dilakukan perbaikan untuk penelitian yang akan datang. Adapun keterbatasan dalam

penelitian ini yaitu : tempat kegiatan dilakukan di dalam ruangan meeting sehingga

peneliti kesulitan untuk mempraktekan secara langsung mengenai langkah cuci

tangan yang baik dan benar menngunakan air yang mengalir, sabun cair, dan lap

kering. Sehingga pekerja cleaning service hanya mengikuti gerakan dan langkah

cuci tangan yang diperagakan peneliti tanpa menggunakan air yang mengalir, sabun,

dan lap kering.

6.2 Gambaran Karakteristik Pekerja Cleaning Service UIN Syarif Hidayatullah


Jakarta
Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 95 pekerja cleaning service

yang bekerja di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sample dibagi menjadi dua

kelompok, yaitu 48 orang kelompok intervensi dan 47 orang menjadi kelompok

kontrol. Pada penelitian ini, karakteristik pekerja cleaning service dilihat dari jenis

84
85

kelamin, usia dan tingkat pendidikan. Karakteristik tersebut diduga menjadi

variabel counfounding, namun peneliti sudah mengendalikan variabel-variabel

tersebut diawal penelitian dengan menentukan jenis kelamin yaitu laki-laki, usia

yang ditentukan ialah usia produktif antara 20-50 tahun, dan tingkat pendidikan

yang ditentukan ialah pendidikan menengah atas (SMA/SMK/SMEA/MA).

Pekerja cleaning service menggunakan bahan kimia dalam setiap

pekerjaannya seperti mengepel lantai, membersihkan toilet, membersihkan kaca dan

membersihkan ruang laboratorium. Dalam setiap melakukan pekerjaannya pekerja

tidak menggunakan alat pelindung diri berupa sarung tangan. Pekerja cleaning

service berisiko terkena penyakit dermatitis kontak dari paparan bahan kimia yang

diterimanya setiap hari. Selain itu, peluang berisiko terkena penyakit dermatitis

kontak semakin besar ditambah dengan pola kebiasaan mencuci tangan yang tidak

menggunakan sabun pencuci tangan hanya menggunakan air saja. Pekerja cleaning

service pun sebagain besar diantaranya hanya melakukan cuci tangan setelah

bekerja saja tidak melakukan cuci tangan sebelum bekerja maupun dalam pindah

proses pekerjaan.

Pengetahuan pekerja cleaning service meningkat setelah diberikan

penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya, karena

sebeumnya pekerja cleaning service belum pernah mengikuti penyuluhan

mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya. Sebelum dilakukan

intervensi pun pekerja cleaning service tidak mengetahui langkah cuci tangan yang

baik dan benar karena sebelumnya tidak ada pelatihan dan tidak ada penyuluhan
86

mengenai langkah cuci tangan yang baik dan benar, sehingga dalam kesehariannya

pekerja hanya cuci tangan jika telapak tangan pekerja nampak kotor yang terlihat

oleh kasat mata. Pekerja cleaning service tidak menggunakan alat pelindung diri

karena tidak disediakan oleh pihak universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

selain itu pekerja merasa terganggu dalam melakukan pekerjaannya jika

menggunakan sarung tangan. Pekerja cleaning service menggunakan sarung tangan

dalam bekerja jika melakukan pekerjaan yang kotor seperti merapihkan taman

kampus yang bersentuhan langsunng dengan tanah.

6.3 Pengetahuan Pekerja Cleaning Service pada Kelompok Intervensi

Berdasarkan hasil diperoleh bahwa rata-rata skor pengetahuan pekerja

cleaning service penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan

pencegahannya pada kelompok intervensi sebelum dilakukan penyuluhan adalah

8.06 kemudian sesudah penyuluhan terjadi peningkatan rata-rata skor

pengetahuan yaitu menjadi 14.56. Hasil uji T dependen menunjukkan Pvalue =

0.000 yang artinya ada perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan

mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya pada pekerja

cleaning service yang mendapatkan penyuluhan (kelompok intervensi).

Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya.

Penelitian Saefullah (1997) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna

antara nilai rata-rata pengetahuan pre-test (sebelum penyuluhan) dengan nilai rata-
87

rata pengetahuan post-test (setelah penyuluhan) (Pvalue = 0.000). Penelitian

Notoatmodjo (1988) membuktikan bahwa jumlah ibu yang mempunyai pengetahuan

baik pada kelompok permainan dan kelompok ceramah meningkat secara bermakna

setelah penyuluhan. Penelitian Agustin (2003), menunjukkan terdapat perbedaan rata-

rata nilai pre-test dan post-test (Pvalue = 0.000), dimana terdapat peningkatan sebesar

4,61 poin.

Selain itu, dalam penyuluhan juga terdapat diskusi kelompok secara

sederhana antara para responden mengenai langkah-langkah cuci tangan yang baik

dan benar. Setelah seluruh responden pada kelompok intervensi mempraktekkan

urutan langkah cuci tangan yang baik dan benar, fasilitator (penyuluh) memberikan

penjelasan dan memperbaiki urutan langkah cuci tangan tersebut jika terdapat

kekeliruan pada responden tanpa menyatakan para responden tersebut salah. Dengan

demikian dapat dikatakan diskusi sederhana ini cukup efektif.

Sebelum dilakukan penyuluhan pada kelompok intervensi, rata-rata pekerja

cleaning service benar menjawab soal-soal mengenai definisi dermatitis kontak,

bahan sarung tangan yang digunakan untuk bekerja, sabun yang tepat digunakan

untuk mencuci tangan, dan mengenai ciri-ciri air bersih. Soal yang paling banyak

salah sebelum dilakukan penyuluhan adalah soal mengenai gejala dermatitis kontak,

penyebab dermatitis kontak soal mengenai definisi mencuci tangan yang baik dan

benar serta soal menjodohkan gambar mengenai langkah-langkah mencuci tangan.

Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan pada kelompok intervensi, rata-rata soal

pilihan ganda yang paling banyak dijawab dengan benar adalah soal mengenai

definisi dermatitis kontak, gejala dermatitis kontak, penyebab dermatitis kontak,


88

bahan sarung tangan yang cocok untuk bekerja, jenis sabun yang digunakan cuci

tangan, dan soal mengeai ciri-ciri air bersih.

Pada soal menjodohkan gambar soal hanya 1 dari 48 peserta penyuluhan

yang menjawab dengan benar langkah urutan mencuci tangan yang baik dan benar.

Pekerja cleaning service banyak yang tepat menjawab soal pilihan ganda no

4,5,6,7,dan 8. Sedangkan soal no 1,2,3 dan 4 lebih banyak yang menjawab salah. Hal

ini diduga karena gambar yang ditampilkan pada gambar pilihan sekilas terlihat sama,

sehingga dapat membuat pekerja salah memilih jawaban yang tepat. Gambar soal

mengenai menjodohkan gambar dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.

Pada kelompok intervensi, skor pengetahuan responden meningkat

sekuruhnya (100%), tidak ada yang menurun satu pun. Menurut UNICEF (2002),

orang akan lebih mudah percaya terhadap sebuah informasi dan mau

mempraktekannya apabila mereka dianjurkan untuk berdiskusi membahas isi

informasi yanng disampaikan, dan bilamana perlu mengajukan pertanyaan untuk

memperoleh kejelasan tentang pemahaman mereka sendiri tentang apa yang perlu

dilakukan, kapan pelaksanaan yang tepat dan alasan mengapa perlu dilakukan hal

tersebut.

6.4 Pengetahuan Pekerja Cleaning Service pada Kelompok Kontrol

Berdasarkan hasil diperoleh bahwa rata-rata skor pengetahuan pekerja

cleaning service mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya

pada kelompok kontrol sebelum dilakukan penyuluhan adalah 6.87 kemudian

sesudah penyuluhan terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan yaitu menjadi


89

7.09. Hasil uji T-dependen menunjukkan Pvalue = 0.286 yang artinya tidak ada

perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan pekerja cleaning service yang

mendapatkan tidak penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan

pencegahannya pada (kelompok kontrol).

Menurut Notoadmodjo (2007), seseorang yang terpapar informasi

mengenai suatu topik tertentu akan memiliki pengetahuan yang lebih banyak

daripada yang tidak terpapar informasi. Pemberian media leaflet merupakan salah

satu metode untuk meningkatkan pengetahuan dengan melalui tulisan-tulisan dan

gambar mengenai suatu materi. Pada kelompok kontrol diberikan penyuluhan

mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di gedung bertingkat. Karena tidak

ada diberikan informasi mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan

pencegahannya jadi pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan atau tidak ada

perubahan pengetahuan antara sebelum dan sedudah penyuluhan.

Sebelum dilakukan penyuluhan pada kelompok kontrol, rata-rata pekerja

cleaning service benar menjawab soal mengenai definisi dermatitis kontak, bahan

sarung tangan yang digunakan untuk bekerja, jenis sabun yang tepat digunakan untuk

mencuci tangan, mengenai ciri-ciri air bersih. Soal yang paling banyak salah sebelum

dilakukan penyuluhan pada kelompok kontrol adalah soal mengenai gejala dermatitis

kontak, penyebab dermatitis kontak, soal mengenai definisi mencuci tangan yang

baik dan benar serta soal menjodohkan gambar mengenai langkah-langkah mencuci

tangan. Pada kelompok kontrol tidak diberikan intervensi, sehingga pekerja cleaning

service cenderung menjawab pertanyaan post test sama dengan jawaban pada soal

pre test.
90

Berdasarkan hasil diperoleh rata-rata skor perubahan pengetahuan

pekerja cleaning service pada kelompok intervensi sesudah dilakukan

penyuluhan adalah 6.50. Pekerja cleaning service pada kelompok kontrol

sesudah dilakukan penyuluhan rata-rata skor perubahan pengetahuannya adalah

0.21. Dengan nilai probabilitas sebesar 0.000, artinya pada alpha 5 % terdapat

perbedaan rata-rata skor perubahan pengetahuan pekerja cleaning service

sesudah dilakukan penyuluhan antara kelompok intervensi dengan pekerja

cleaning service pada kelompok kontrol.

Kelompok Intervensi memiliki rata-rata skor pengetahuan lebih besar

dari rata-rata skor pengetahauan kelompok kontrol. Menurut Tana (2004),

berbagai faktor yang mungkin berpengaruh pada penyuluhan adalah faktor

penyuluh, materi yang diberikan, media penyuluhan, serta sasaran yang disuluh.

Faktor penyuluh yang dapat mempengaruhi penurunan pengetahuan pada

penelitian ini yaitu cara berbicara, bahasa, dan beberapa kata yang digunakan

penyuluh yang dapat tidak dimengerti ataupun tidak diketahui oleh beberapa

responden. Hal ini dapat dikarenakan oleh perbedaan cara bicara, bahasa,

kalimat, dan kata yang digunakan oleh penyuluh dengan bahasa keseharian para

responden. Banyaknya materi yang diberikan dan waktu penyuluhan yang

singkat bagi para responden dapat mempengaruhi daya ingat dan minat para

responden terhadap materi dan media penyuluhan, sehingga pada saat

pelaksanaan penelitian ada beberapa ibu yang kurang memperhatikan

penyuluhan yang diberikan oleh penyuluh.


91

6.5 Perbedaan Pengetahuan Pekerja Cleaning Service sebelum dan sesudah


dilakukan Penyuluhan antara Kelompok Intervensi dengan kelompok Kontrol

Nilai rata-rata skor pengetahuan pekerja cleaning service sebelum

dilakukan penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan

pencegahannya pada kelompok intervensi adalah 8.06 dan pada kelompok

kontrol rata-rata skornya adalah 6.87. Berdasarkan hasil uji T independen dengan

nilai probabbilitas 0.009 menunjukkan tidak adanya perbedaan rata-rata skor

pengetahuan pekerja cleaning service mengenai potensi bahaya dermatitis kontak

dan pencegahannya sebelum dilakukan penyuluhan antara kelompok intervensi

dan kelompok kontrol.

Tidak adanya perbedaan skor pengetahuan yang bermakna mengenai

potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya antara kelompok intervensi

dan kelompok kontrol dapat diakibatkan oleh homogenitas dari kedua kelompok

pekerja cleaning service. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Afrianthee

(2008), hasil peneltian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan

bermakna antara rata-rata nilai pretest pada kedua kelompok penelitiannya

(Pvalue = 0.881).

Pada kedua kelompok, anatara kelompok intervensi dan kelompok

kontrol sama-sama belum diberikan penyuluhan saat pekerja mengisi soal pre-

test, sehingga pekerja belum terpapar pengetahuan mengenai potensi bahaya


92

dermatitis kontak dan pencegahannya. Salah satu faktor yang mempengarhui

pengetahuan menurut Notoadtmodjo yaitu pengalaman dan sumber informasi

yang didapatkan. Sebelum dilakukan penyuluhan, pekerja cleaning service pada

kedua kelompok sama-sama belum mendapatkan pengalaman diberikan

penyuluhan sehingga belum mendapat informasi yang ada dalam penyuluhan

tersebut.

Nilai rata-rata skor pengetahuan pekerja cleaning service sesudah

dilakukan penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan

pencegahannya pada kelompok intervensi adalah 14.57 dan pada kelompok

kontrol rata-rata skornya adalah 7.09. Berdasarkan hasil uji T independen

diperoleh Pvalue 0.000 yang berarti terdapat perbedaan pengetahuan sesudah

dilakukan penyuluhan pada pekerja cleaning service yang dikelompokkan dalam

kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hal ini dapat disebabkan karena

kelompok intervensi diberikan penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis

kontak dan pencegahannya, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan

penyuluhan tersebut.

Hasil penelitian ini telah sesuai dengan beberapa penelitian lainnya

yang membuktikan bahwa penyuluhan menggunakan media dapat meningkatkan

pengetahuan responden. Penelitian Susilowati (1990) membuktikan bahwa

pengetahuan para ibu yang mendapatkan media penyuluhan berupa leaflet lebih

baik dari para ibu yang menjadi kelompok pembanding yang tidak mendapat

leaflet. Penelitian Supardi (2002) membuktikan bahwa pengaruh metode


93

ceramah dan media leaflet terhadap peningkatan skor pengetahuan tentang

pengobatan sendiri pada responden perlakuan lebih tinggi secara bermakna dari

pada peningkatan pengetahuan pada responden kontrol (hanya ceramah saja).

6.6 Pengaruh Media Leaflet Terhadap Perubahan Pengetahuan Pekerja Cleaning


Mengenai Potensi Bahaya Dermatitis Kontak dan Pencegahnnya

Berdasarkan hasil statistik, diperoleh bahwa adanya pengaruh dari

media leaflet terhadap perubahan pengetahuan mengenai potensi bahaya

dermatitis kontak dan pencegahnnya. Hasil penelitian yang sama juga

ditemukan pada penelitian yang dilakukan Munawaroh, dkk. (2010).

Berdasarkan penelitian tersebut, media leaflet efektif dilakukan untuk

meningkatkan pengetahuan.

Dalam Notoadmodjo (2007), media dapat digunakan untuk

meningkatkan pengetahuan, dengan peningkatan pengetahuan diharapkan

adanya perubahan perilaku pekerja cleaning service untuk mencegah timbulnya

penyakit dermatitis kontak. Media merupakan alat bantu dalam proses

pendidikan. Media memiliki manfaat untuk merangsang minat sasaran

pendidikan, mengatasi keterbatasan waktu, tempat, bahasa dan daya indera dari

sasaran pendidikan, mengatasi sikap pasif sasaran pendidikan dan dapat

memberikan rangsangan, pengalaman serta menimbulkan persepsi yang sama,

mendorong keinginan sasaran untuk mengetahui, mendalami, dan akhirnya

memberikan pengertian yang lebih baik serta merangsang sasaran untuk

meneruskan pesan-pesan kepada orang lain (Subargus, 2011).


94

Media leaflet dapat diperoleh dengan mudah serta efektif digunakan

sebagai media informasi. Sebagai media informasi, gambar atau foto haruslah

dipilih atau digunakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan

adanya gambar atau foto dapat membangkitkan motivasi dan minat untuk

membantu menafsirkan serta mengingat pesan yang berkenaan dengan gambar

atau foto-foto tersebut.

Penggunaan media leaflet tersebut dapat dibawa dengan mudah oleh

pekerja cleaning service dan dapat dibaca kapan saja jika dalam keadaan santai

ketika pekeerja tersebut sedang istirahat dari pekerjaannya. Pekerja cleaning

service pada penelitiani ni adalah lulusan SMA sehingga tidak ada pekerja yang

buta huruf dan memudahkan pekerja untuk membaca dan memahami isi atau

pesan yang disampaikan dalam media leaflet tersebut. Kualitas gambar dan

kualitas kertas media leaflet mendukung untuk meningkatkan pengetahuan,

sehingga pekerja yang membaca leaflet tersebut dapat memahami dengan

mudah.

6.7 Pengaruh Paparan Informasi dan Hubungan Sosial

Paparan informasi dan hubungan sosial pekerja cleaning service diduga

pula sebagai variabel counfounding. Dari hasil wawancara, sumber informasi dan

hubungan sosial pekerja cleaning service diperoleh hasil yang homogen, yaitu

seluruh pekerja tidak pernah mendapatkan informasi dari penyuluhan, dan dari

media massa maupun media elektronik mengenai potensi bahaya dermatitis kontak
95

dan pencegahannya. Pekerja cleaning service sebanyak 50% dari seluruh

responden, menyatakan bahwa informasi mengenai langkah cuci tangan yang

dilihat melalui iklan di televisi, menurut pekerja langkah cuci tangannya tidak

lengkap dan tayangan iklan hanya beberapa detik, sehingga pekerja tidak bisa

menangkap informasi tersebut dengan baik. Selain itu dari 98 pekerja cleaning

service hanya 5 orang yang mendapatkan informasi mengenai penyakit dermatitis

kontak yang mereka kenal sebagai “eksim” dari kerabat atau keluarga yang pernah

terkena penyakit ini.

Menurut Yusuf (2000), salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan

adalah keluarga dan lingkungan masyarakat. Konsistensi nilai-nilai, sikap, aturan-

aturan, norma, moral, dan perilaku masyarakat tersebut sehingga akan diidentifikasi

oleh individu yang berada dalam masyarakat tersebut sehingga akan berpengaruh

proses perkembangannya. Hubungan sosial mengenai interaksi komunikasi satu

sama lain dapat meberikan informasi yang saling menguntungkan.


BAB VII
KESIMPULAN & SARAN

7.1 Kesimpulan

1. Terdapat perbedaan pengetahuan pekerja cleaning service syarif Hidayatullah

Jakarta mengenai mencuci tangan yang baik antara sebelum dan sesudah

dilakukan intervensi penyuluhan menggunakan media leaflet mengenai potensi

bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya pada kelompok intervensi.

2. Terdapat hubungan antara intervensi penyuluhan menggunakan media leaflet

dengan perubahan pengetahuan penyuluhan menggunakan media leaflet

mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan pencegahannya pada pekerja

cleaning service UIN syarif Hidayatullah Jakarta.

7.2 Saran

1. Pemberian penyuluhan pada pekerja cleaning service UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta untuk memberikan informasi-informasi pencegahan mengenai dermatitis

kontak sebaiknya sering dilakukan untuk menambah wawasan/pengetahuan

pekerja tersebut. Media leaflet dapat diberikan pada pekerja cleaning service

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memberikan informasi-informasi

mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Leaflet dapat diberikan saat pekerja

tengah beristirahat dari pekerjaannya. Pemberian informasi mengenai kesehatan

dan keselamatan kerja pada pekerja cleaning service UIN Syarif Hidayatullah

96
97

Jakarta dapat diberikan dengan bentuk media lainnya seperti poster, brosur atau

spanduk, agar pekerja lebih menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.

2. Untuk mendukung program pencegahan penyakit dermatitis kontak, sebaiknya

pihak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberikan alat pelindung diri (APD)

seperti sarung tangan dan masker untuk pekerja cleaning service dalam

menyelesaikan pekerjaannya dan menyediakan pula sabun antiseptic untuk

mencuci tangan dan Pekerja Cleaning Service Sebaiknya menggunakan sarung

tangan saat melakukan rutinitas pekerjaan dan melakukan cuci tangan secara

rutin sebelum dan sesudah melakukan pekrjaan.

3. Untuk penelitian selanjutnya jika menggunakan soal menjodohkan gambar,

sebaiknya gambar dicetak dengan jelas dan diambil gambar yang paling jelas

perbedaannnya, sehingga dapat menghindari kekeliruan dalam memilihnya. Uji

media leaflet, sebaiknnya diuji pada pihak-pihak yang mengerrti design dan

memahai promosi kesehatan di tempat kerja.

4. Untuk mengembangkan penelitian kesehatan maupun penelitian lainnya,

sebaiknya seluruh pihak fakultas yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

bekerja sama satu sama lain, sehingga tidak mempersulit peneliti berikutnya

nanti, untuk mengadakan penelitian di fakultas tersebut terkait dengan masalah

administrasi dan masalah perizinan.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, M dan Asrori, M. (2004). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara

Asnita. 2001. Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Pengetahuan Dan Sikap tenaga Kerja
Indonesia Tentang HIV/AIDS. Depok : FKM UI. Skripsi

Budimulja, Unandar. Dermatofitosis. In: Djuanda A, Mochtar H, Aisah S, editors. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.p.92-3

Buxton, Paul K. ABC Of Dermatology 4th ed. London: BMJ Books; 2003.p.19-21

Depkes RI. 2008. Pedoman Pengelolaan Promosi Kesehatan dalam Pencapaian Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat. Jakarta : Depkes RI.

Depkes. 2008. Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

Effendy, Nasrul. (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC

Elandis, Melati H. (2005). Hentikan Pembodohan Remaja Putri di Media. Dibuka pada tanggal
16 September, 2006 dari rakyat.com/cetak/2005/0205/26/1104.htm

Escala, Martinez, et.al. 2010. Occupational Contact Dermatitis in Cleaning Workers Our First
Approach. Department of Dermatology Hospital del Mar. Universitas Autonoma

Fatah, M Zainal. (2004). Self Curiosity Remaja terhadap Perubahan Perilaku Reproduksi
(Perilaku Seksual) Siswa SMU Negeri I Kamal Madura. Dibuka pada tanggal 26
Oktober, 2006 dari http://www.healthcenteronline.com,2006

Friedman, Marilyn M. (1998). Keperawatan Keluarga: teori dan praktik. Jakarta: EGC

Gould Dinah. Occupational Irritan Dermatitis in Healthcare Workers – Meeting the Challenge
of Prevention.[Online] 2012 [cited 2013 April 9]:[5 screens]. Available from :
URL:http://ssl-international.com

Grand SS. Allergic Contact Dermatitis Versus Irritant Contact Dermatitis. [Online]. 2013.
[cited 2013 Maret 9] : [30 screens]. Available from:
URL:http://wsiat.on.ca/english/mlo/allergic.htm
Guzewich J, Ross MP. 1999. Interventions Prevent Associated with bare-hand contact with
ready to eat foods. Http ;//vm.Crsan. Fda. Gov/ear/rtensk.html. (20 April 2013)

Herman, Susilowati. 1997. Penggunaan Lefleat dalam Pendidikan Gizi dan Pengaruhnya
terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan
Gizi, 39-46.

Hogan D J. Contact Dermatitis, Irritant. [Online] 2013 [cited 2013 Mei 8]:[4 screens]. Available
from: URL: http://emedicine.medscape/ article/1049352-overview.htm

http://www.pdat.co.id/hg/newbookspdat/2005/02/01/nwb,20050201-02,id.html.

Levin C, Basihir SJ, and Maibach HI, editors. Treatment Of Irritant Contact Dermatitis. In: :
Chew AL and Howard IM, editors. Irritant Dermatitis. Germany: Springer-Verlag
Berlin Heidelberg; 2006.p.461-5

McSwanne D, rue N, Linton R. 2000. Essential Food Safty and Sanitation. Second Edition.
Prentice : New Jersey.

Munawaroh,Siti dan Sulistyorini, Anik.2010. Efektifitas Metode Ceramah Dan Leaflet Dalam
Peningkatan Pengetahuan Remaja Tentang Seks Bebas Di SMA Negeri Ngrayun. Diunduh
melalui http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/4/jkptumpo-gdl-sitimunawa-174-1-efektifi-
s.pdf . Pada tanggal 7 Juli 2013 Pukul 10.00 WIB
Notoatmodjo, Soekidjo. (Ed. Rev). 2010. Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Jakarta : Rineka
Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT ASDI


Mahasatya.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehata & Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.

OSHA. 2008. Cleaners and Dangerous Substances. Eropa: European Agency for Safety and
Health at Work

Resti, K. (2005). Artikel fungsi ibu sulit diganti; fungsi istri dapat diganti. Dibuka pada tanggal
18 Agustus, 2006, dari

Sagoyo et al. 1996. Pengetahuan dan Perilaku tentang Pemberian makanan Pada Bayi. Jakarta
: Majalah Kedokteran Indonesia

Sarwono, S. W. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2002-2003 : Analisis lanjut SDKI 2002-
2003. 2004. Pengetahuan dan Persepsi tentang HIV AIDS dan PMS lainnya serta
Faktor-faktor yang berpengaruh. Jakarta : BKKBN

Septiani, Sofia. 2012. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak pada
pekerja cleaning service di kampus uin syarif hidayatullah jakarta Tahun 2012.
Skripsi : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN SH Jakarta.

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC 147-148

Subargus,Amin. 2011. Promosi Kesehatan Melalui Pendidikan Kesehatan Masyarakat.


Yogyakarta: Gosyen Publishing
Sulaeman, D. (1995). Psikologi Remaja Dimensi-dimensi Perkembangan. Bandung: Mandar
Maju

Sularsito, S.A dan Suria Djuanda, editors. Dermatitis. In: Djuanda A, Mochtar H, Aisah S,
editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2008.p.130-33.

Suma’mur. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES). Jakarta: Sagung Seto

Supardi, Sudibyo. 2002. Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Perilaku
Pengobatan Sendiri yang Sesuai dengan aturan untuk keluhan Demam, Sakit Kepala,
Batuk,dan Pilek. Depok : FKM UI. Disertasi.

Wilkinson SM, and Beck MH. Rook’s Textbook Of Dermatology 7th ed. Australia: Blackwell
Publishing. 2004.chapter 19.

Wolff K, Lowel AG, Stephen IK, Barbara AG, Amy SP, David JL, editors. Fitzpatrick’s
Dermatology in general medicine. 7th ed. New York: McGraw – Hill; 2008.p.396-
401.

World Health Organization (WHO). 2005. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care
(Advance Draft): A Summary. Switzerland: WHO Pres.

Yusuf, Syamsu LN. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Lampiran 1 Kuisioner Pre test Penelitian

KUESIONER PRE-TEST
PENGETAHUAN TENTANG POTENSI BAHAYA DAN PENANGGULANGAN
DERMATITIS

Nama :
Umur :
Pendidikan Terakhir :
No.Telp/HP :

A. Berilah tanda silang (x) pada pilihan A, B, C, atau D yang menurut Anda tepat

1. Dermatitis atau eksim adalah peradangan kulit biasanya terjadi di .....


a. Wajah, lengan bawah, dan tangan
b. Lengan bawah, tangan, dan kaki
c. Kaki, wajah, dan lengan bawah
d. Tangan, wajah, dan kaki

2. Gejala dermatitis atau eksim yaitu .....


a. Pembengkakan, panas di kulit, demam, dan bernanah
b. Terasa gatal, pusing, dan telihat bercak putih pada tangan
c. Kulit merah, terasa gatal, panas di kulit, dan pembengkakan
d. Pusing, bernanah, terlihat bercak putih pada tangan

3. Penyebab dermatitis pada pekerja cleaning service adalah .....


a. Larutan bahan pembersih lantai & Toilet
b. Bahan kimia sisa praktikum Laboratorium
c. A dan B benar
d. A dan B Salah

4. Berikut ini merupakan dampak dermatitis yaitu, kecuali .....


a. Rasa Terbakar dan sakit
b. Meningkatnya hari tidak masuk kerja
c. Meningkatnya rasa semangat bekerja
d. A dan B salah

5. Dermatitis dapat dicegah dengan menggunakan sarung tangan dan mencuci tangan
dengan .....
a. Air di ember dan sabun colek
b. Air kobokan dan sabun mandi
c. Air selang dan sabun mandi
d. Air selang dan sabun colek

6. Bahan sarung tangan yang cocok digunakan untuk pekerja cleaning service atau
office boy yaitu yang terbuat dari bahan .....
a. Kulit
b. Karet
c. Plastik
d. Asbes

7. Cuci tangan yang baik dan benar adalah aktivitas membersihkan bagian .....
a. Telapak tangan, punggung tangan, dan jari
b. Telapak tangan, punggung tangan, dan jari
c. Telapak tangan, punggung tangan, dan jari
d. Telapak tangan, punggung tangan, dan jari

8. Sabun yang tepat digunakan untuk mencuci tangan adalah sabun ...
a. Mandi cair
b. Pembersih wajah
c. Colek
d. Sabun detergen

9. Hal-hal diperlukan untuk cuci tangan yang baik dan benar yaitu .....
a. Sabun detergen, air kobokan, dan lap
b. Sabun detergen, air selang, dan lap
c. Sabun mandi, air selang, dan lap
d. Sabun mandi, air kobokan dan lap

10. Air yang digunakan untuk mencuci tangan adalah air mengalir yang bersih. Ciri-ciri
air bersih yaitu .....
a. Berwarna putih, tidak berasa, tidak berbau
b. Tidak berwarna, tidak berasa, berbau kaporit
c. Tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau
d. Berwarna putih, tidak berasa, berbau kaporit

11. Berikut ini tujuan cuci tangan bagi penyakit dermatitis kontak yaitu…..
a. Membersihkan larutan pembersih lantai yang menempel di kulit
b. Memboroskan sabun dan air yang digunakan pada saat mencuci tangan
c. Mencegah penularan penyakit
d. Mencegah penyebaran bakteri dan kuman

12. Waktu yang tepat untuk mencuci tangan adalah,


a. Setelah bersentuhan dengan bahan/ larutan/ zat
b. Saat berpindah proses kerja
c. A dan B Benar
d. A dan B Salah
B. Jodohkan langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar dengan gambar
yang sesuai di sebelah kanan

1. Langkah 1 [.....] a.

2. Langkah 2 [.....] b.

3. Langkah 3 [.....] c.

4. Langkah 4 [.....] d.

5. Langkah 5 [.....] e.

6. Langkah 6 [.....] f.

7. Langkah 7 [.....] g.

8. Langkah 8 [.....] h.
Lampiran 3 Leaflet Sebelum Uji Media

Tahap I

Bagian Depan

Bagian Belakang
Tahap II

Bagian Depan

Bagian Belakang
Lampiran 4 Leaflet Setelah Uji Media

Tahap I

Bagian Depan

Bagian Belakang
Tahap II

Bagian Depan

Bagian Belakang
Tahap III

Bagian Depan

Bagian Belakang
Lampiran 5 Kuisioner Uji Media

Angket Penilaian Media


PENGARUH INTERVENSI PENYULUHAN ANTARA MEDIA LEMBARBALIK
DENGAN MEDIA LEAFLET TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN
TENTANG POTENSI BAHAYA DAN PENANGGULANGAN DERMATITIS
PADA PEKERJA CLEANING SERVICE UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA TAHUN 2013

INFORMED CONSENT

Assalamualaikum Wr. Wb
Saya Arifah Fitriani, mahasiswi Kesehatan Masyarakat Peminatan K3 Universitas Islam
Negeri Jakarta. Saat ini saya sedang melakukan penilaian media pembelajaran yang akan
digunakan dalam tugas akhir (skripsi). Atas perhatian dan kerjasama saudara saya
ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
ANGKET PENILAIAN MEDIA “LEAFLET”

Nama :

No.HP :

Email :

No. Pertanyaan Keterangan


Ya Tidak
1. Apakah anda mengerti informasi yang ada dalam media?
2. Apakah informasi dalam media memberikan pengetahuan bagi
anda?
3. Apakah pesan yang tertuang dalam media memberikan
kesinambungan informasi?
4. Apakah ada kata-kata yang tidak dipahami?
5. Apakah bahasa yang digunakan di dalam media leaflet cukup
jelas?
6. Apakah anda mengalami kesulitan dalam membaca informasi di
media leaflet?
7. Apakah hurufnya terlalu kecil bagi anda?
8. Apakah gambar pada media leaflet ini mudah terlihat?
9. Apakah gambar-gambar yang ditampilkan menarik perhatian
Anda?
10. Apakah gambar yang ditampilkan terlalu banyak?
11. Apakah warna-warna dalam media leaflet menarik bagi anda?
12. Apakah penempatan teks dan gambar sudah sesuai?
Lampiran 6 Rekap Penilaian Uji Media Leaflet

1. Yang di tulisan apa itu dermatitis kan ada tulisan yang merah kan yang kulit

merah Nah itu di comment kalo fontnya gak serasi, trus jarak spasinya gede2

kayak gak rata gitu

2. Gambarnya kotak2 kayak terkesan kaku gitu

3. Nah trus yang di tulisa tujuan cuci tangan yang di judulnya ki, itu kenepa gak di

tulis kayak gini “ apa sih tujuan mencuci tangan” kayak yang depan, kan tertulis

apa itu dermatitis.

4. Trus yang di judul waktu cuci tangan, kenapa gak di tambahin ada gambar

jamnya gitu

5. Trus yang judul Dermatitis kontak ( eksim ) yang ada gambar tangan merah2 itu

Itu kenapa gak diperjelas buat siapa. Kalo gw kan pekerja tahu nohhh. Masa di

depannya tulisan dermatitis, eh kesononya malah tiba2 ngomongin penyebabnya

dari larutan cleaning service. Jadi kalo bisa yang di depan judulnya ntu ada

gamabar pekerja kayunya kiii biar jelas sasarannya buat siapa gituuuu

6. Terus tulisan sama warna backgroundnya tolong diperhatiin. Biar jelas gitu ki

kebacanya, biar gak samar. Nah kalo bisa ada beberapa ytang harus di BOLD-in

( ctrl + b )

7. Trus yang di gamabar langkah2 kan ada kotak buat nomer kan kayak nah ntu

warna kotaknya jangan hitam kiii, kan soalnya warna dindingnya item jadi kayak

nabrak gitu 1

8. Trus kalo bisa yang judl ntu lebih eye cathing, biar orang pada penasaran buat

liat halaman2 berikutnya, soalnya kan depannya dah menarik gituuuu


9. Nah yang buat tujuan ntu ka nada tahap2nya noh yang ada gambar tangan trus

ada sabun ada apa lgi nohhh, kata kak ida ntu kayak gak nyambung tujuannya.

Kalo bisa biar nyambung tulisannya gini tujuan cuci tangan ntu “ Agar kotoran

atao bahan ( finishing kayu yang melamic celar, thinner, ato spirtus ntu ) yang

menempel pada tangan hilang

10. Nah kan di dampak dermatitis ada gambar duit yah kii, nah kalo bisa tolong dig

anti gambar yang tiba2 orang jatuh miskin gituuuu. Kalo gw ketemu gw kirimin,

kalo gak ketemu tolong cariin yah

11. Nah pas gambar orang sakit yang di rawat di RS kalo bisa diganti kegambar

tangan yang udah terkena dermatitis

12. Nah di gambar kalender kan gak jelas noh gambar silang silang gitu kalo bisa

dibawahnya tertulis sering tidak masuk kerja gituy

13. Kalo bisa lebih banyak visualnya alias gambarnya ki, soalnya kalo tu;lisan orang

jadi pada gak seneng. Soalnya juga kan ki, sasaran kita kan pekerja yang

pendiikannnya dari yang gak sekolah ampe SMP doing, jadi takutnya dari

beberapa pekerja males baca

14. Trus kalo bisa di masing2 judul ntu gak bisa apa tulisannya di miring2-in gituuu,

ato di gelombang2-in gituuuu, jangan data raja, jadi orang pada males bacanya.
Lampiran 7 Kuisioner Uji Validitas

KUESIONER PENELITIAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kuesioner ini merupakan instrumen penelitian efektivitas media Leaflet terhadap


penyuluhan mengenai potensi bahaya dermatitis kontak dan poencegahnnya pekerja
cleaning service di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013. Hasil penelitian ini
merupakan tugas akhir dari peneliti untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan
Masyarakat (SKM). Untuk itu, saya mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara untuk
mengisi kuesioner ini secara jujur dan lengkap.
Pengisian kuesioner ini tidak akan berpengaruh terhadap pekerjaan
Bapak/Ibu/Saudara. Atas kerja sama dan perhatian Bapak/Ibu/Saudara, saya ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya.
Saya menyatakan bahwa saya telah membaca pernyataan di atas, dan saya setuju untuk
menjadi responden dalam penelitian ini.

Wassallamu’alaikum Wr. Wb,

Ciputat, Juli 2013

Peneliti Responden

( Arifah Fitriani ) ( )
Identitas Responden

Nama
Umur
Pendidikan Terakhir *SD/ SMP/ SMA/ SMK
No HP
Alamat
Lama Bekerja …………..Tahun

1. Dermatitis kontak Iritan disebabkan oleh faktor


a. Faktor Ekonomi dan politik
b. Faktor Eksogen dan Endogen
c. Faktor sosial dan budaya

2. Dibawah ini yang termasuk faktor Eksogen adalah


a. Kimia
b. Genetik
c. Riwayat penyakit kulit

3. Kapan Dermatitis muncul?


a. Segera setelah terpajan
b. 5 Hari kemudian
c. 1 Bulan kemudian

4. Bahan kimia atau larutan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan
adalah…
a. Deterjen
b. Kopi
c. Alkohol

5. Penyebab lain dermatitis kontak iritan adalah…


a. Bakteri dan jamur
b. Pakaian bersih
c. Makanan yang di konsumsi

6. Faktor lain yang menjadi penyebab Dermatitis kontak adalah


a. Buah yang dikonsumsi
b. Kekeringan atau kondisi kulit
c. Sarung tangan yang bersih

7. Salah satu pencegahan Dermatitis kontak adalah :


a. Cuci tangan
b. Minum obat
c. Menggunakan krim kulit
8. Hal utama yang diperlukan dalam mencuci tangan yang baik adalah adalah…
a. handsanitizer
b. Sabun dan air yang mengalir
c. Handuk dan tissu

9. Sabun yang digunakan untuk cuci tangan, sebaiknya mengandung…


a. Mikroorganisme
b. Antibacterial
c. Busa yang banyak

10. air yang digunakam untuk cuci tangan, sebaiknya air yang,,,
a. berwarna dan mengalir
b. Jernih dan mengalir
c. Tergenang dan jernih

11. Manfaat cuci tangan bagi kesehatan ialah …


a. Menghabiskan air dan sabun
b. Mengharumkan kulit tangan
c. Membiasakan hidup bersih dan sehat

12. Berikut ini waktu yang tepat mencuci tangan, kecuali


a. Sebelum dan sesudah makan
b. Sebelm dan sesuduah bekerja
c. Sebelum dan sesudah membaca buku

13. Ada berapakah langkah mencuci tangan yang baik dan benar
a. 6
b. 5
c. 7

14. Langkah ke-dua dalam mencuci tangan adalah


a. Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
b. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman
c. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kanan & kiri

15. Langkah ke-tiga dalam mencuci tangan adalah


a. Basuh tangan dengan air mengalir
b. Bilas kedua tangan dengan air
c. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari tangan

16. Gambar ini merupakan langkah ke-


a. 3
b. 5
c. 6
17. Gambar ini merupakan langkah ke-
a. 2
b. 4
c. 6

18. Gambar ini merupakan langkah ke-


a. 3
b. 7
c. 1

19. Menutup keran setelah mencuci tangan sebaiknya menggunakan anggota badan
bagian,
a. Siku
b. Bahu
c. Wajah

20. Untuk mengeringkan tangan yang basah sebaiknya menggunakan


a. Tissue
b. Sarung tangan
c. Pakaian yang dipakai
Lampiran 8 Out put Hasil Uji Validitas Kuisioner

Tahap I

Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 10 100.0


a
Excluded 0 .0

Total 10 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

P1_Dermatitis 2.50 1.080 10

P2_Gejala 3.10 1.287 10

P3_Penyebab 2.30 .949 10

P4_Dampak 3.70 .675 10

P5_pencegahan 3.10 .876 10

P6_sarung_tangan 2.00 .000 10

P7_cuci_tangan 3.50 .850 10

P8_sabun 2.00 1.054 10

P9_air 4.00 .000 10

P10_pengering 2.20 .632 10

P11_langakah1 3.90 2.079 10

P12_Langkah2 2.50 1.269 10

P13_Langkah3 2.70 1.494 10

P14_Langkah4 3.70 1.889 10

P15_Langkah5 3.70 1.767 10

P16_Langkah6 4.50 1.179 10

P17_Langkah7 7.70 .483 10

P18_Langkah8 7.30 .483 10


Reliability Statistics

Cronbach's
a
Alpha N of Items

-5.195 18

a. The value is negative due to


a negative average covariance
among items. This violates
reliability model assumptions.
You may want to check item
codings.

Item-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted
a
P1_Dermatitis 61.90 4.544 -.362 -4.250
a
P2_Gejala 61.30 4.678 -.411 -3.988
a
P3_Penyebab 62.10 2.544 .198 -8.537
a
P4_Dampak 60.70 3.567 .009 -5.918
a
P5_pencegahan 61.30 4.678 -.370 -4.189
a
P6_sarung_tangan 62.40 4.044 .000 -5.213
a
P7_cuci_tangan 60.90 2.100 .496 -10.659
a
P8_sabun 62.40 5.156 -.464 -3.632
a
P9_air 60.40 4.044 .000 -5.213
a
P10_pengering 62.20 4.178 -.206 -4.911
a
P11_langakah1 60.50 4.278 -.530 -3.797
a
P12_Langkah2 61.90 3.433 -.213 -5.832
a
P13_Langkah3 61.70 6.456 -.612 -2.502
a
P14_Langkah4 60.70 8.011 -.705 -1.633
a
P15_Langkah5 60.70 11.344 -.876 -.882
a
P16_Langkah6 59.90 6.989 -.695 -2.358
a
P17_Langkah7 56.70 4.011 -.103 -5.204
a
P18_Langkah8 57.10 4.544 -.356 -4.468
Item-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted
a
P1_Dermatitis 61.90 4.544 -.362 -4.250
a
P2_Gejala 61.30 4.678 -.411 -3.988
a
P3_Penyebab 62.10 2.544 .198 -8.537
a
P4_Dampak 60.70 3.567 .009 -5.918
a
P5_pencegahan 61.30 4.678 -.370 -4.189
a
P6_sarung_tangan 62.40 4.044 .000 -5.213
a
P7_cuci_tangan 60.90 2.100 .496 -10.659
a
P8_sabun 62.40 5.156 -.464 -3.632
a
P9_air 60.40 4.044 .000 -5.213
a
P10_pengering 62.20 4.178 -.206 -4.911
a
P11_langakah1 60.50 4.278 -.530 -3.797
a
P12_Langkah2 61.90 3.433 -.213 -5.832
a
P13_Langkah3 61.70 6.456 -.612 -2.502
a
P14_Langkah4 60.70 8.011 -.705 -1.633
a
P15_Langkah5 60.70 11.344 -.876 -.882
a
P16_Langkah6 59.90 6.989 -.695 -2.358
a
P17_Langkah7 56.70 4.011 -.103 -5.204
a
P18_Langkah8 57.10 4.544 -.356 -4.468

a. The value is negative due to a negative average covariance among items. This violates
reliability model assumptions. You may want to check item codings.

Df-2 = 18-2= 16 , lihat tabel r = 0.6319

Nilai Corrected Item Total Correlation > nilai r = valid


Tahap II

Reliability

Scale: ALL VARIABLES


Case Processing Summary

N %

Cases Valid 10 100.0


a
Excluded 0 .0

Total 10 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

P1_Dermatitis 2.50 1.080 10

P2_Gejala 3.10 1.287 10

P3_Penyebab 2.30 .949 10

P4_Dampak 3.70 .675 10

P5_pencegahan 3.10 .876 10

P6_sarung_tangan 2.00 .000 10

P7_cuci_tangan 3.50 .850 10

P8_sabun 2.00 1.054 10

P9_air 4.00 .000 10

P10_pengering 2.20 .632 10

P11_langakah1 3.90 2.079 10

P12_Langkah2 2.50 1.269 10

P13_Langkah3 2.70 1.494 10

P14_Langkah4 3.70 1.889 10

P15_Langkah5 3.70 1.767 10

P16_Langkah6 4.50 1.179 10

P17_Langkah7 7.70 .483 10

P18_Langkah8 7.30 .483 10


reliability Statistics

Cronbach's
a
Alpha N of Items

-5.195 18

a. The value is negative due to


a negative average covariance
among items. This violates
reliability model assumptions.
You may want to check item
codings.

Item-Total Statistics

Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted
a
P1_Dermatitis 61.90 4.544 -.362 -4.250
a
P2_Gejala 61.30 4.678 -.411 -3.988
a
P3_Penyebab 62.10 2.544 .198 -8.537
a
P4_Dampak 60.70 3.567 .009 -5.918
a
P5_pencegahan 61.30 4.678 -.370 -4.189
a
P6_sarung_tangan 62.40 4.044 .000 -5.213
a
P7_cuci_tangan 60.90 2.100 .496 -10.659
a
P8_sabun 62.40 5.156 -.464 -3.632
a
P9_air 60.40 4.044 .000 -5.213
a
P10_pengering 62.20 4.178 -.206 -4.911
a
P11_langakah1 60.50 4.278 -.530 -3.797
a
P12_Langkah2 61.90 3.433 -.213 -5.832
a
P13_Langkah3 61.70 6.456 -.612 -2.502
a
P14_Langkah4 60.70 8.011 -.705 -1.633
a
P15_Langkah5 60.70 11.344 -.876 -.882
a
P16_Langkah6 59.90 6.989 -.695 -2.358
a
P17_Langkah7 56.70 4.011 -.103 -5.204
a
P18_Langkah8 57.10 4.544 -.356 -4.468

a. The value is negative due to a negative average covariance among items. This violates
reliability model assumptions. You may want to check item codings.
Df-2 = 18-2= 16 , lihat tabel r = 0.6319

Nilai Corrected Item Total Correlation > nilai r = valid


Lampiran 9 Out Put Hasil Penelitian

KELOMPOK INTERVENSI KELOMPOK CONTROL

Statistics
statistics
SkorPre_Test SkorPost_Test
SkorPre_Test SkorPost_Test
N Valid 48 48
N Valid 47 47
Missing 0 0
Missing 0 0
Mean 8.06 14.56
Mean 6.87 7.09
Median 8.00 15.00
Median 7.00 7.00

PERUBAHAN PENGETAHUAN ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PENYULUHAN PADA KELOMPOK INTERVENSI
DAN KELOMPOK KONTROL

KELOMPOK INTERVENSI

Statistics

KATEGORIPENGETAHUAN

N Valid 48

Missing 0
KATEGORIPENGETAHUAN

Cumulative
KELOMPOK CONTROL Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Meningkat 48 100.0 100.0 100.0

Statistics

KATEGORIPENGETAHUAN

N Valid 47

Missing 0
Lampiran 6 Rekap Penilaian Uji Media Leaflet

Mahasiswa 1 Mahasiswa 2 Mahasiswa 3 Mahasiswa 4 Laboran


Apakah anda Ya Ya bahasa dermatitis lebih Sebaiknya lebih diperjelas Ya
mengerti informasi keterkaitan antara tujuan
disederhanakan dengan
yang ada dalam penelitian dan maksud
media? menggunakan bahasa sehari – pembuatan leaflet.
Informasi yang terkandung
hari.
didalam leaflet harus lebih
diperkaya lagi, karena
leaflet tidak memerlukan
gambar yang banyak.
(menurut saya bentuk
leaflet bukan seperti ini,
leaflet biasanya hanya
berisi 1 atau 2 gambar saja,
ini lebih cendurung seperti
brosur, terlalu banyak
gambar yang digunakan)
Apakah informasi Ya Ya Ya Masih kurang banyak Ya
dalam media pengetahuan yang harusnya
memberikan diberikan.
pengetahuan bagi
anda?
Apakah pesan yang Ya Setiap gambar Kalau tujuan materinya hanya Jika ingin memberikan Di judul tambahin
tertuang dalam yang ada di memberikan informasi sekilas pengetahuan kepada gambar pekerja
media memberikan perjelas dengan tentang penyakit dan pekerja di pabrik tahu proses finishing kayu
kesinambungan kata-kata biar sebaiknya isi yang supaya jelas
informasi? tidak terjadi terkandung di dalam media sasarannya siapa
ambiguitas diberikan keterkaitan
dengan keadaan yang ada di
dalam pabrik tahu itu
sendiri sehingga ada
kesinambungan informasi.
Apakah ada kata- Lebih Mungkin Bahasa dermatitis lebih Bahasa dermatitis lebih Tidak
kata yang tidak menggunakan dermatitisnya disederhanakan dengan
disederhanakan dengan
dipahami? bahasa yang ada penjelasan menggunakan bahasa sehari –
awam yg dapat secara definisi hari. Dan untuk penyebab dan menggunakan bahasa sehari
di ketahui oleh masyarakat dampak, seharusnya ada
– hari. Dan untuk penyebab
semua lapisan awam sedikit penjelasan setidaknya 1
masyarakat kalimat. Contoh pendapatan dan dampak, sebaiknya
seperti kata berkurang, apa hubungannya
ditambahkan penjelasan
dermatitis, dengan dermatitis.
mungkin ada lagi setidaknya 1 kalimat.
bahasa yang
Contoh pendapatan
masyarakat
awam lebih berkurang, apa
mengenal
hubungannya dengan
penyakit ini
dengan nama dermatitis.
lain
Apakah bahasa yang Ya Ya Ya Ya Ya
digunakan di dalam
media leaflet cukup
jelas?
Apakah anda Tidak Terkait Untuk sasaran dengan bahasa yang digunakan juga Tidak
mengalami kesulitan penjelasan pendidikan di bawah SMP harus disesuaikan dengan
dalam membaca gambar sepertinya kurang sampai. tingkat pendidikan para
informasi di media mungkin di beri pekerja. Ambil pendidikan
leaflet? tanda gambar yang terendah agar dapat
1.1 jadi ketika lebih mudah dimengerti
menjelaskan oleh sasaran.
bisa tidak
pusing gambar
mana yang di
maksud
Apakah hurufnya ukuran huruf Huruf monoton, Ya Gunakan font yang agak  Fontnya tidak
terlalu kecil bagi pada bagian font d buat besar, sebaiknya huruf serasi, spasinya
anda? penyejalasan menarik dan kapital semua, dan di bold tidak sama
lebih ukuran di agar lebih jelas.  Subjudul tujuan
diperbesar sesuaikan cuci tangan
Pada sub judul dengan gambar kenapa tidak di
lebih di ( hampir sama tulis kayak gini “
tebalkan. besarnya atau apa sih tujuan
setengah dari mencuci tangan?”
gambar) kayak yang tulisan
“apa itu
dermatitis?”
 Ada beberapa
tulisan yang di
Bold

Apakah gambar pada Ya Ya Ya Kurangi jumlah gambar Ya


media leaflet ini yang ada di dalam media.
mudah terlihat? Semakin banyak gambar
semakin sedikit informasi
yang bisa dimasukkan.
Apakah gambar- Ya Ya (ada baiknya Ya Ya  Untuk judul lebih
gambar yang ada gambar eye catching biar
ditampilkan menarik orisinal dan menarik
perhatian Anda? coba di perhalus  Gambarnya kotak-
border kotak terkesan
gambarnya kaku
 Nomor gambar
langkah- langkah,
warna kotaknya
jangan hitam
Apakah gambar yang Tidak (sudah Tidak Sudah ideal jumlah gambar Ya Subjudul waktu cuci
ditampilkan terlalu sesuai dengan (Sebenarnya tangan, kenapa tidak
yang ditampilkan
banyak? penjelasan) cukup cuman di tambahin ada
lebih di perjelas gambar jamnya
maksud dari
gambarnya)
Apakah warna-warna Ya Warna masih Hurufnya terlalu datar Warna untuk huruf lebihTulisan dan warna
dalam media leaflet kurang, terlihat warnanya diperkaya lagi, misalnya
backgroundnya
menarik bagi anda? monoton dan dengan warna ungu, pink,
diperhatikan, biar
standar leaflet dll. jelas kebacanya, gak
biasa yang ada samar
Apakah penempatan Seharusnya Terkait Ya Cukup kurangi jumlah Banyakin lagi
teks dan gambar pada bagian penjelasan gambar yang digunakan. gambarnya
sudah sesuai? muka, tidak gambar
hanya mungkin di beri
tercantumlogo tanda gambar
uin saja tetapi 1.1 jadi ketika
judul dari menjelaskan
leaflet tersebut bisa tidak
juga di pusing gambar
cantumkan mana yang di
pada bagian maksud
muka leaflet
ini.
Lampiran 8 Output Hasil Penelitian

Kelompok Intervensi Kelompok Control

Statistics
statistics
SkorPre_Test SkorPost_Test
SkorPre_Test SkorPost_Test
N Valid 48 48
N Valid 47 47
Missing 0 0
Missing 0 0
Mean 8.06 14.56
Mean 6.87 7.09
Median 8.00 15.00
Median 7.00 7.00

Perubahan pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol

Kelompok intervensi

Statistics KATEGORIPENGETAHUAN
KATEGORIPENGETAHUAN
Cumulative
N Valid 48 Frequency Percent Valid Percent Percent

Missing 0 Valid Meningkat 48 100.0 100.0 100.0


Kelompok Kontrol

KATEGORIPENGETAHUAN

Statistics Cumulative
KATEGORIPENGETAHUAN Frequency Percent Valid Percent Percent

N Valid 47 Valid Meningkat 16 34.0 34.0 34.0

Missing 0 Tetap 18 38.3 38.3 72.3

Menurun 13 27.7 27.7 100.0

Total 47 100.0 100.0

Uji Normalitas Kelompok Intervensi Uji Normalitas Kelompok kontrol

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
SkorPre_Te
SkorPre_ SkorPost_T
st SkorPost_Test
Test est
N 48 48
N 47 47
a
Normal Parameters Mean 8.06 14.56 a
Normal Parameters Mean 6.87 7.09
Std.
2.254 2.736 Std.
Deviation 2.060 1.886
Deviation
Most Extreme Differences Absolute .157 .168
Most Extreme Differences Absolute .133 .186
Positive .157 .103
Positive .111 .186
Negative -.072 -.168
Negative -.133 -.122
Kolmogorov-Smirnov Z 1.087 1.162
Kolmogorov-Smirnov Z .915 1.272
Asymp. Sig. (2-tailed) .188 .134
Asymp. Sig. (2-tailed) .372 .079
a. Test distribution is Normal.
a. Test distribution is Normal.
Uji T Dependent Kelompok Intervensi

Paired Samples Statistics


Paired Samples Correlations
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
N Correlation Sig.
Pair 1 SkorPre_Test 8.06 48 2.254 .325
Pair 1 SkorPre_Test &
SkorPost_Test 14.56 48 2.736 .395 48 .301 .037
SkorPost_Test

aired Samples Test

Paired Differences

95% Confidence Interval of the


Difference

Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)

Pair 1 SkorPre_Test - SkorPost_Test -6.500 2.975 .429 -7.364 -5.636 -15.137 47 .000
Uji T Dependent Kelompok Kontrol

Paired Samples Statistics Paired Samples Correlations

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean N Correlation Sig.

Pair 1 SkorPre_Test 6.87 47 2.060 .301 Pair 1 SkorPre_Test &


47 .786 .000
SkorPost_Test 7.09 47 1.886 .275 SkorPost_Test

paired Samples Test

Paired Differences

95% Confidence Interval of the


Difference

Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)

Pair 1 SkorPre_Test - SkorPost_Test -.213 1.301 .190 -.595 .169 -1.121 46 .268

Frekuensi pengetahuan sebelum penyuluhan kelompok intervensi

Statistics

kategori_pretest

NValid 48

Missing 0

kategori_pretest

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 17 35.4 35.4 35.4

Kurang Baik 31 64.6 64.6 100.0

Total 48 100.0 100.0


Frekuensi Pengetahuan Sebelum Penyuluhan Kelompok Kontrol

Statistics

KATERGORI_POSTTEST

N Valid 47

Missing 0

KATERGORI_POSTTEST

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 17 36.2 36.2 36.2

Kurang 30 63.8 63.8 100.0

Total 47 100.0 100.0

Frekuensi Pengetahuan Sesudah Penyuluhan Pada Kelompok Intervensi

Statistics
KATEGORI_POSTEST
KATEGORI_POSTEST
Cumulative
N Valid 48 Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 29 60.4 60.4 60.4


Missing 0
Kurang Baik 19 39.6 39.6 100.0

Total 48 100.0 100.0


Frekuensi Pengetahuan Sesudah Penyuluhan Pada Kelompok Kontrol

Statistics

KATERGORI_POSTTEST

N Valid 47

Missing 0

Uji T Independent Skor Pengetahuan Sebelum Penyuluhan Antara Dua Kelompok

Group Statistics

Perlakuan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

SkorPre_Test Intervensi 48 8.06 2.254 .325

Kontrol 47 6.87 2.060 .301

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of


Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Sig. (2- Std. Error Difference

F Sig. t df tailed) Mean Difference Difference Lower Upper

SkorPre_Test Equal
variances .014 .905 2.685 93 .009 1.190 .443 .310 2.071
assumed

Equal
variances not 2.687 92.565 .009 1.190 .443 .311 2.070
assumed
Uji T Independent Skor Pengetahuan Setelah Penyuluhan Antara Dua Kelompok

Group Statistics

Perlakuan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

SkorPost_Test Intervensi 48 14.56 2.736 .395

Kontrol 47 7.09 1.886 .275

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality


of Variances t-test for Equality of Means

Mean Std. Error 95% Confidence Interval of the Difference


F Sig. t df Sig. (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

SkorPost_Test Equal variances


4.412 .038 15.477 93 .000 7.477 .483 6.518 8.437
assumed

Equal variances not


15.536 83.581 .000 7.477 .481 6.520 8.435
assumed
Perbedaan Perubahan Pengetahuan Setelah Dilakukan Penyuluhan Antara Kelompok Intervensi Dengan Kelompok Kontrol

GROUP STATISTICS

Perlakuan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Selisih_Skor Intervensi 48 6.50 2.975 .429

Kontrol 47 .21 1.301 .190

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of


Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Std. Error Difference

F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Difference Lower Upper

Selisih_Skor Equal
variances 23.619 .000 13.295 93 .000 6.287 .473 5.348 7.226
assumed

Equal
variances
13.392 64.635 .000 6.287 .469 5.350 7.225
not
assumed