Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PBL

SISTEM REPRODUKSI

MODUL 1

KEPUTIHAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK IV
Ahmad Akbar Arifin 10542045513
Andi Nurul Abidah Ramli 10542046613
Aulia Fatimannisa 10542057714
Andi Nurul Azizah Abbas 10542057814
Rezky Ramadhani Syarif 10542060615
Andi Musdalifah 10542060715
Muhammad Lestari Putra 10542061615
Andi Insdahyana Bintang 10542063615
Dwi Utami Abdul Latif 10542063715
Affandi Hafid 10542064315
Ermi Marlina 10542065415

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
MODUL 2

KEPUTIHAN

SKENARIO

Nona ita 22 tahun datang kepuskesmas datang ke puskesmas dengan keputihan yang
berbau amis, saat ini nona ita sedang menghadapi ujian akhir.

KATA KUNCI

 Wanita 22 tahun
 Keputihan berbau amis
 Sedang menghadapi ujian akhir

PERTANYAAN

1. Definisi keputihan?
2. Struktur anatomi, Fisiologi dan Histologi Organ yang terkait pada kasus?
3. Apa saja faktor-faktor predisposisi yang dapat menyebabkan keputihan patologis?
4. Etiologi keputihan patologis?
5. Patofisiologi keputihan hingga berbau amis?
6. Apakah ada hubungan antara faktor psikologi dengan keputihan?
7. Langkah-langkah diagnostik?
8. DD berdasarkan skenario?
1. Definisi keputihan?
Keputihan adalah (leukorea/fluor albus/vaginal discharge) adalah semua
pengeluaran cairan dari vagina yang tidak berupa darah. Merupakan penyakit melainkan
salah satu tanda gejala dari suatu penyakit organ reproduksi wanita. Gejala ini diketahui
karena adanya sekret yang mengotori celana dalam.

2. Struktur anatomi, Fisiologi dan Histologi Organ yang terkait pada kasus?
 Anatomi, Fisiologi, dan Histologi
 Vagina
Secara anatomis vagina memiliki 3 lapisan yakni lapisan mukosa, muskularis dan
adventisia.
Mukosa pada vagina berikatan kuat dengan lapisan muskularis. Di lapisan
epithelial mukosa terdapat 2 lipatan utama longitudinal. Salah satunya di anterior
sedangkan sisanya di posterior. Masing – masing lipatan ini membentuk lipatan –
lipatan yang lebih kecil yang meluas secara transversal pada vagina dengan kedalaman
lipatan yang berbeda – beda. Lipatan – liptaan ini berkembang baik ketika seorang
wanita belum pernah melahirkan.
Secara histologis, epitel yang terdapat pada vagina adalah epitel squamosa tidak
bertanduk. Setelah masa pubertas, epitel pada vagina mengalami penebalan dan kaya
akan glikogen. Tidak seperti mamalia lain, epitel vagina pada manusia tidak mengalami
perubahan secara signifikan selama siklus menstruasi. Tapi yang mengalami perubahan
hanyalah kadar glikogen yang meningkat pada masa setelah ovulasi dan berkurang pada
saat akhir masa siklus.
Produksi glikogen pada epitel vagina dipengaruhi oleh estrogen. Hormon ini
menstimulasi epitel vagina sehingga dapat memproduksi dan menyimpan glikogen
dalam jumlah yang besar, yang kemudian dilepaskan pada lumen vagina untuk
membasahi daerah sekitarnya. Secara alami, flora normal vagina akan memetabolisme
glikogen membentuk asam laktat yang bertanggung jawab dalam merendahkan suasana
pH vagina, terutama saat pertengahan siklus menstruasi. Suasana asa ini sangat
berperan dalam mencegah invasi bakteri patologis.

 Cervix Uterus
Cervix uterus merupakan bagian yang menghubungkan vagina dengan tuba
tuerina melalui os external canalis cervicalis yang dilapisi oleh membran mucosa yang
disebut endocervix. Bagian ini mengandung mucus yang disekresikan oleh kelenjar
tubular yang dilapisi oleh epitel kolumner dan dipenuhi oleh sel silia.
Aktivitas sekresi kelenjar pada endocervix diregulasi oleh estrogen dan mencapai
jumlah maximal pada masa ovulasi. Fungsi sekret endocervicalis adalah memberi
lubrikasi selama hubungan seksual terjadi dan berperan sebagai sawar yang melindungi
dari invasi bakteri.
Selama ovulasi, mukus pada cervix menjadi lebih encer, berair dan pHnya lebih
alkali dibanding sebelumnya, kondisi ini dibuat sedemikian rupa agar dapat mendukung
migrasi sperma. Selain itu terjadi pula peningkatan jumlah ion dalam mukus sehingga
terbentuk kristal – kristal yang menyerupai pakis. Secara klinis, hal ini dapat digunakan
sebagai pendeteksi saat yang tepat untuk melakukan fertilisasi.Setelah masa ovulasi,
mukus cervix menjadi lebih kental dan asam.
Ada sejumlah flora normal pada vagina dan cervix, namun yang paling sering
ditemui adalah Lactobacillus acidophilus. Bakteri ini mampu memproduksi asam laktat
dengan jalan memecahkan glikogen yang berasal dari sekret vagina dan cervix. Asam
laktat ini membentuk semacam lapisan asam (pH 3,0), yang dapat mencegah proliferasi
bakteri patologis.
Jadi secara umum, keputihan merupakan hal yang fisiologis. Namun kondisinya
dapat berubah menjadi patologis ketika jumlah bakteri yang menginvasi traktus
genitalia meningkat ataupun karena penurunan daya tahan tubuh pejamu.

3. Apa saja faktor-faktor predisposisi yang dapat menyebabkan keputihan patologis?


a. peningkatan produksi mucus cervix
b. pencucian vagina
c. pemakaian antibiotik
d. hubungan seksual
e. perubahan hormon saat hamil dan menstruasi.
f. Faktor stress
Faktor – faktor predisposisi di atas dapat merubah lingkungan genitalia yang
mulanya asam menjadi lebih alkali sehingga memicu pertumbuhan bakteri - bakteri
yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh.

4. Etiologi keputihan patologis?


 Infeksi Tubuh
Akan memberikan reaksi terhadap mikroorganisme yang masuk ini dengan
serangkaian reaksi radang. Penyebab infeksi yakni:
1) Jamur
Candida albicans adalah jamur paling sering menyebabkan keputihan. Beberapa
faktor lain yang dapat menyebabkan infeksi jamur Candida sp. Seperti
pemakaian obat antibiotika atau kortikosteroid yang lama, kehamilan,
kontrasepsi hormonal, penyakit diabetes mellitus, penurunan kekebalan tubuh
karenapenyakit kronis, selalu memakai pakaian dalam ketat dan dari bahan yang
sukar menyerap keringat.
2) Bakteri
Bakteri yang dapat menyebabkan keputihan adalah Gonococcus sp. Clamydia
trachomatis, Gardnerella sp. Dan Treponemapallidum.
3) Parasit
Parasit yang sering menyebabkan keputihan adalah Trichomonas
vaginalis.Penularannya yang paling sering adalah dengan koitus.
4) Virus
Sering disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV) dan Herpes
simplex. HPV ditandai dengan kondiloma akuminata, cairan berbau dan tanpa
rasa gatal.
 Benda asing
Kondom yang tertinggal atau pesarium untuk penderita hernia atau prolapse uteri
dapat merangsang sekret vagina berlebih. Selain itu bisa juga disebabkan oleh sisa
pembalut atau kapas yang tertinggal.
 Neoplasmajinak
Keputihan yang timbul disebabkan oleh peradangan yang terjadi karena
pertumbuhan tumor jinak kedalam lumen.
 Kanker
Gejala keputihan yang timbul ialah cairan yang banyak, berbau busuk, serta terdapat
bercak darah yang tidak segar. Darah yang keluar disebabkan oleh tumor yang
masuk kedalam lumen saluran genitalia kemudian tumbuh secara cepat dan
abnormal, serta mudah rusak sehingga terjadi pembusukan dan perdarahan. Biasanya
darah keluar sesudah hubungan seks atau setelah melakukan penyemprotan
vagina/douching. Keputihan abnormal inidisertai rasa tidak enak di perut bagian
bawah, terjadi gangguan haid, sering demam, dan badan bertambah kurus, pucat
serta lesu, lemas dan tidak bugar.
 Menopause
Pada wanita menopause, hormon estrogen telah berkurang sehingga lapisan vagina
menipis/menjadi kering, menyebabkan gatal yang memicu untuk terjadinya luka
kemudian infeksi. Namun keputihan juga bisa muncul bercampur darah (senile
vaginitis).
5. Patofisiologi keputihan hingga berbau amis?

Pertumbuhan
Berperan dalam
mikroorganisme Produksi enzim
pelepasan
anaerobik yang proteolitik
produk biologik
berlebihan

Bau amis pada


Poliamina keputihan

Patofisologi timbulnya bau amis pada keputihan awalnya didahului oleh


pertumbuhan mikroorganisme anaerobik yang berlebihan disertai produksi enzim
proteolitik yang berperan dalam pelepasan produk biologik seperti poliamina. Produksi
zat ini menyebabkan transudasi cairan vagina dan eksfoliasi sel epitel yang menyebabkan
sekret vagina. Enzim proteolitik merupakan enzim protease yang mampu menghidrolisis
protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti peptida kecil dan asam
amino. Sehingga bau amis pada keputihan berasal dari poliamino dari asam amino.

6. Apakah ada hubungan antara faktor psikologi dengan keputihan?

Hubungan antara faktor psikologi dengan keputihan berkaitan erat dengan persoalan
hormonal. Saat stres terjadi, hormon estrogen mengalami peningkatan produksi sehingga
menstimulasi epitel vagina dan serviks menghasilkan glikogen lebih banyak dari jumlah
normal. Selain itu saat stres terjadi, daya tahan tubuh mengalami penurunan sehingga
ikut menambah kerentanan seseorang terserang invasi bakteri.

7. Langkah-langkah diagnostik?
1. ANAMNESIS TAMBAHAN
a. Onset: untuk mengetahui sejak kapan gejala seperti ini dialami dan apakah
inimerupakan gejala berulang atau pertama kalinya.
b. Warna dan konsistensi: hal ini sangat penting ditanyakan sebab warna sekret
dankonsistensi dapat menjadi petunjuk patogen penyebab timbulnya
gejala. Namununtuk memastikannya harus dilakukan pemeriksaan sekret vagina.
c. Gejala lain: Keputihan patologis biasanya selain ditandai bau amis, ada
jugasejumlah gejala lain yang menyertai seperti rasa gatal pada daerah
trigonumgenitalia. Gejala lain yang perlu ditanyakan adalah ada tidaknya rasa
panas pada saat buang air kecil dan nyeri abdomen. Hal ini untuk memastikan
apakah penyebaran penyakit telah mencapai organ urinarius atau viseral. Selain
itu perlu juga ditanyakanapakah pada sekret vagina terdapat nanah ataupun darah.
d. Siklus haid: pada umumnya sekret vagina mengalami peningkatan pada saat
ovulasidan akhir masa menstruasi sehingga penting ditanyakan pada pasien
apakah saat inidia sedang haid atau tidak, dan apakah siklus haidnya teratur.
e. Aktivitas seksual: pertanyaan yang menyangkut hal ini cukup sensitif
namun harusditanyakan karena banyak penyakit kelamin menular melalui
aktivitas seksual yangtidak sehat.
f. Perilaku menjaga kebersihan organ genitalia: sangat penting menanyakan
perilakuhigienitas pasien sebab salah satu faktor yang dapat memicu
meningkatnya penyakitkelamin adalah ketidaktepatan saat membersihkan organ
genitalia.
g. Riwayat penyakit sebelumnya dan penggunaan obat antibiotik

2. Pemeriksaan fisis genital


Inspeksi kulit perut bawah, rambut pubis terutama perineum, dan anus. inspeksi
dan palpasi genital eksterna.sebaiknya lakukan pemeriksaan spekulum untuk vagina
dan serviks.pemeriksaan bimanual pelvis,palpasi kelenjar getah bening dan femoral.
3. Pemeriksaan apusan vagina, urethral dan cervix

 Melakukan pewarnaan Gram


 Pemeriksaan whiff test dengan menggunakan larutan KOH 10%
 Dan kultur bakteri
4 .Pemeriksaan Penunjang
 Kultur urin (untuk menyingkirkan infeksi bakteri pada traktus urinarius)
 Sitologi vagina
 Kultur sekret vagina
 Tes serologis untuk brucellosis dan herpes
 Pemeriksaan PH vagina
 Pap smear
8. DD berdasarkan skenario?
1. BAKTERIAL VAGINOSIS
 Definisi
Vaginosis bakterial adalah keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang
di-sebabkan bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan
Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina.
Awalnya infeksi pada vagina hanya disebut dengan istilah vaginitis, di
dalamnya termasuk vaginitis akibat Trichomonas vaginalis dan akibat bakteri
anaerob lain berupa Peptococcus dan Bacteroides, sehingga disebut vaginitis
nonspesifik. Setelah Gardner menemukan adanya spesies baru yang akhirnya disebut
Gardnerella vaginalis, istilah vaginitis nonspesifik pun mulai ditinggalkan.
Ber¬bagai penelitian dilakukan dan hasilnya disimpulkan bahwa Gardnerella
melakukan simbiosis dengan berbagai bakteri anaerob sehingga menyebabkan
manifestasi klinis vaginitis, di antaranya termasuk dari golongan Mobiluncus,
Bacteroides, Fusobacterium, Veilonella, dan golongan Eubacterium, misalnya
Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, dan Streptococcus viridans.
Gardnerella vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob batang gram
variable yang mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina
dari yang tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa.Perubahan ini terjadi akibat
berkurangnya jumlah Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida.
Lactobacillus sendiri merupakan bakteri anaerob batang besar yang membantu
menjaga keasaman vagina dan menghambat mikroorganisme anaerob lain untuk
tumbuh di vagina.
 Epidemiologi
Penyakit bakterial vaginosis lebih sering ditemukan pada wanita yang
memeriksakan kesehatannya daripada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung
pada tingkatan sosial ekonomi penduduk pernah disebutkan bahwa 50 % wanita
aktif seksual terkena infeksi G. vaginalis, tetapi hanya sedikit yang menyebabkan
gejala sekitar 50 % ditemukan pada pemakai AKDR dan 86 % bersama-sama
dengan infeksi Trichomonas.
Pada wanita hamil, penelitian telah didokumentasikan mempunyai
prevalensi yang hampir sama dengan populasi yang tidak hamil, berkisar antara 6%-
32%.31 Kira-kira 10-30% dari wanita hamil akan mendapatkan Vaginosis bacterialis
selama masa kehamilan mereka.
Gardnerella vaginalis dapat diisolasi dari 15 % anak wanita prapubertas
yang masih perawan, sehingga organisme ini tidak mutlak ditularkan lewat kontak
seksual.Meskipun kasus bakterial vaginosis dilaporkan lebih tinggi pada klinik PMS,
tetapi peranan penularan secara seksual tidak jelas.
Bakterial vaginosis yang rekuren dapat meningkat pada wanita yang mulai
aktivitas seksualnya sejak umur muda, lebih sering juga terjadi pada wanita berkulit
hitam yang menggunakan kontrasepsi dan merokok. Bakterial vaginosis yang
rekuren prevalensinya juga tinggi pada pasangan-pasangan lesbi, yang mungkin
berkembang karena wanita tersebut berganti-ganti pasangan seksualnya ataupun
yang sering melakukan penyemprotan pada vagina.6
Hampir 90 % laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi Gardnerella
vaginosis, mengandung G.vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra, tetapi
tidak menyebabkan uretritis.
 Etiologi
Ekosistem vagina adalah biokomuniti yang dinamik dan kompleks yang
terdiri dari unsur-unsur yang berbeda yang saling mempengaruhi.Salah satu
komponen lengkap dari ekosistem vagina adalah mikroflora vagina endogen, yang
terdiri dari gram positif dan gram negatif aerobik, bakteri fakultatif dan obligat
anaerobik. Aksi sinergetik dan antagonistik antara mikroflora vagina endogen
bersama dengan komponen lain, mengakibatkan tetap stabilnya sistem ekologi yang
mengarah pada kesehatan ekosistem vagina. Asam laktat seperti organic acid lanilla
yang dihasilkan oleh Lactobacillus, memegang peranan yang penting dalam
memelihara pH tetap di bawah 4,5 (antara 3,8 - 4,2), dimana merupakan tempat yang
tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya mikroorganisme yang patogen
bagi vagina. Kemampuan memproduksi H2O2 adalah mekanisme lain yang
menyebabkan Lactobacillus hidup dominan daripada bakteri obligat anaerob yang
kekurangan enzim katalase. Hidrogen peroksida dominan terdapat pada ekosistem
vagina normal tetapi tidak pada bakterial vaginosis.Mekanisme ketiga pertahanan
yang diproduksi oleh Lactobacillus adalah bakteriosin yang merupakan suatu protein
dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak bakteri
khususnya Gardnerella vaginalis.
G. vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob batang variabel gram
yang mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina dari
yang tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa
Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai
pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina
yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina
sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan G. vaginalis.Beberapa amin diketahui
menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan
sekret tubuh berbau tidak sedap yang keluar dari vagina.
Basil-basil anaerob yang menyertai bakterial vaginosis diantaranya
Bacteroides bivins, B. Capilosus dan B. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi
genitalia.
 Gambaran Klinis
Gejala yang paling sering pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan
vagina yang abnormal (terutama setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya
bau vagina yang khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor).
Bau tersebut disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila cairan
vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa (pH 7,2) menimbulkan terlepasnya
amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulkan bau yang
khas. Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala yang khas, namun pada sebagian
besar wanita dapat asimptomatik.Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa
terbakar), kalau ditemukan lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis atau C.albicans.Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan
seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareuria, atau
nyeri waktu kencing jarang terjadi, dan kalau ada karena penyakit lain.
Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan
sering berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen, dan
jarang berbusa.Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai
lapisan tipis atau kelainan yang difus.Gejala peradangan umum tidak ada.Sebaliknya
sekret vagina normal, lebih tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang
memberikan gambaran bergerombol.
Pada penderita dengan bakterial vaginosis tidak ditemukan inflamasi pada
vagina dan vulva.Bakterial vaginosis dapat timbul bersama infeksi traktus genital
bawah seperti trikomoniasis dan servisitis sehingga menimbulkan gejala genital yang
tidak spesifik.
 Diagnosis
Diagnosis bakterial vaginosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan mikroskopis.Anamnesis menggambarkan riwayat sekresi vagina
terus-menerus dengan bau yang tidak sedap.Kadang penderita mengeluh iritasi pada
vagina disertai disuria/dispareunia, atau nyeri abdomen.
Pada pemeriksaan fisik relatif tidak banyak ditemukan apa-apa, kecuali
hanya sedikit inflamasi dapat juga ditemukan sekret vagina yang berwarna putih atau
abu-abu yang melekat pada dinding vagina. Gardner dan Dukes (1980) menyatakan
bahwa setiap wanita dengan aktivitas ovum normal mengeluarkan cairan vagina
berwarna abu-abu, homogen, berbau dengan pH 5 - 5,5 dan tidak ditemukan
T.vaginalis, kemungkinan besar menderita bakterial vaginosis.
Dengan hanya mendapat satu gejala, tidak dapat menegakkan suatu
diagnosis, oleh sebab itu didapatkan kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang
sering disebut sebagai kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa terdapat tiga
dari empat gejala, yaitu :
1. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan
abnormal
2. pH vagina > 4,5
3. Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang berbau amis sebelum atau
setelah penambahan KOH 10% (Whiff test).
4. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel).
 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan preparat basah ; Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes
cairan NaCl 0,9% pada sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi
dengan coverslip. Dan dilakukan pemeriksaan mikroskopik menggunakan
kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells, yang merupakan sel epitel
vagina yang diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella vaginalis).
Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98%
untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakterial
vaginosis.
b. Whiff test ; Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau amin terdeteksi
dengan penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina. Bau muncul
sebagai akibat pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob.
Whiff test positif menunjukkan bakterial vaginosis.
c. Tes lakmus untuk pH ; Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral vagina.
Warna kertas dibandingkan dengan warna standar. pH vagina normal 3,8 - 4,2.
Pada 80-90% bakterial vaginosis ditemukan pH > 4,5.5,6,12
d. Pewarnaan gram sekret vagina ; Pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial
vaginosis tidak ditemukan Lactobacillus sebaliknya ditemukan pertumbuhan
berlebihan dari Gardnerella vaginalis dan atau Mobilincus Spp dan bakteri
anaerob lainnya.
e. Kultur vagina ; Kultur Gardnerella vaginalis kurang bermanfaat untuk diagnosis
bakterial vaginosis. Kultur vagina positif untuk G. vaginalis pada bakterial
vaginosis tanpa grjala klinis tidak perlu mendapat pengobatan.
 Diagnosis Banding
Ada beberapa penyakit yang menggambarkan keadaan klinik yang mirip
dengan bakterial vaginosis, antara lain :
a. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis. Biasanya penyakit ini tidak bergejala tapi pada beberapa
keadaan trikomoniasis akan menunjukkan gejala. Terdapat dalam tubuh vagina
berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau. Eritem dan edem pada vulva,
juga vagina dan serviks pada beberapa perempuan.Serta pruritos, disuria, dan
dispareunia.
b. Kandidiasis Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Candida
albicans atau kadang Candida yang lain. Gejala yang awalnya muncul pada
kandidiasis adalah pruritus akut dan keputihan.
 Penatalaksanaan
Semua wanita dengan bakterial vaginosis simtomatik memerlukan
pengobatan, termasuk wanita hamil.Setelah ditemukan hubungan antara bakterial
vaginosis dengan wanita hamil dengan prematuritas atau endometritis pasca partus,
maka penting untuk mencari obat-obat yang efektif yang bisa digunakan pada masa
kehamilan.Ahli medis biasanya menggunakan antibiotik seperti metronidazol dan
klindamisin untuk mengobati bakterial vaginosis.
a. Terapi sistemik
 Metronidazol merupakan antibiotik yang paling sering digunakan yang
memberikan keberhasilan penyembuhan lebih dari 90%, dengan dosis 2 x 400 mg
atau 500 mg setiap hari selama 7 hari. Jika pengobatan ini gagal, maka diberikan
ampisilin oral (atau amoksisilin) yang merupakan pilihan kedua dari pengobatan
keberhasilan penyembuhan sekitar 66%).4,6,16,20
 Kurang efektif bila dibandingkan regimen 7 hari
 Mempunyai aktivitas sedang terhadap G.vaginalis, tetapi sangat aktif terhadap
bakteri anaerob, efektifitasnya berhubungan dengan inhibisi anaerob.
 Metronidazol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi gelap.
 Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan
metronidazol untuk pengobatan bakterial vaginosis dengan angka kesembuhan
94%.Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat
menembus ASI, oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan intravagina
untuk perempuan menyusui.
 Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7
hari. Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazol.
o etrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari.
o Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari.
o Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.
o Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.
b. Terapi Topikal
 Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.
 Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.
 Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
 Triple sulfonamide cream. (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan
Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan
angka penyembuhannya hanya 15 – 45 %.
 Pengobatan bakterial vaginosis pada masa kehamilan. Terapi secara rutin pada
masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat muncul masalah. Metronidazol
tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan karena mempunyai efek
samping terhadap fetus. Salah satu efek samping penggunaan Metronidazole ialah
teratogenik pada trimester pertama. Dosis yang lebih rendah dianjurkan selama
kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol 200-250 mg, 3 x sehari
selam
 a 7 hari untuk wanita hamil). Penisilin aman digunakan selama kehamilan, tetapi
ampisilin dan amoksisilin jelas tidak sama efektifnya dengan metronidazol pada
wanita tidak hamil dimana kedua antibiotik tersebut memberi angka kesembuhan
yang rendah. Metronidazole dapat melewati sawar placenta dan memasuki
sirkulasi ketuban dengan pesat. Studi reproduksi telah dilakukan pada tikus di
dosis sampai lima kali dosis manusia dan dinyatakan tidak ada bukti perburukan
kesuburan atau efek bahaya ke janin karena Metronidazole. Tidak ada efek
fetotoxicity selama penelitian pemberian Metronidazole secara oral untuk tikus
yang hamil pada 20 mg / kg / hari, dosis manusia (750 mg / hari) berdasarkan mg
/ kg berat badan.
 Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena klindamisin
tidak mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan III dapat
digunakan metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel metronidazol
vaginal atau klindamisin krim.
 Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual. Terapi juga
diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan tidak berhubungan selama
masih dalam pengobatan.
 Pengobatan secara oral atau lokal dapat digunakan untuk pengobatan pada wanita
hamil dengan gejala VB yang resiko rendah terhadap komplikasi obstertri.
Wanita tanpa gejala dan wanita tanpa faktor resiko persalinan preterm tidak perlu
menjalani skrening rutin untuk pemngobatan bacterial vaginosis.Wanita dengan
resiko tinggi persalinan preterm dapat mengikuti skrining rutin dan pengobatan
bacterial vaginosis.Jika pengobatan untuk pencegahan terhadap komplikasi
kehamilan dijalani, maka diharuskan menggunakan metronidazole oral 2 kali
sehari selama 7 hari.Topical (pada vagina) tidak direkomendasikan untuk indikasi
ini. Test skrining harus diulangi 1 bulan setelah pengobatan untuk memastikan
kesembuhan.
 Prognosis
Prognosis bakterial vaginosis dapat timbul kembali pada 20-30% wanita
walaupun tidak menunjukkan gejala. Pengobatan ulang dengan antibiotik yang sama
dapat dipakai. Prognosis bakterial vaginosis sangat baik, karena infeksinya dapat
disembuhkan.Dilaporkan terjadi perbaikan spontan pada lebih dari 1/3 kasus.Dengan
pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka kesembuhan yang tinggi
(84-96%).

2. TRIKOMONIASIS
 Definisi
Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang
disebabkanTrichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan
sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria,
namun pada pria perannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan.
 Etiologi

Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satu-


satunya spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat
dijumpai pada traktus urogenital. Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun
1836, dan untuk waktu yang lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.

Trichomonas vaginalis merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran


15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang. Mempunyai
membran undulans yang pendek, tidak mencapai dari setengah badannya. Pada
sediaan basah mudah terlihat karena gerakan yang terhentak-hentak. Membentuk
koloni trofozoit pada permukaan sel epitel vagina dan uretra pada wanita; uretra,
kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada pria.
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup
dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50°C akan mati dalam beberapa menit, tetapi
pada suhu 0°C dapat bertahan sampai 5 hari. Cepat mati bila mengering, terkena
sinar matahari, dan terpapar air selama 35-40 menit.

Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu
Trichomonas tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominis yang
hidup dalam kolon, yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.

 Patogenesis
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding
saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel.
Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat
bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di
lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan
uretra parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat
dalam sekret.
 Gejala Klinis
1. Trikomoniasis Pada Wanita
Gejala klinis trikomoniasis pada wanita tidak merupakan parameter
diagnostik yang dapat dipercaya. Masa tunas sulit untuk dipastikan, tetapi
diperkirakan berkisar antara 3-28 hari.
Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan maupun gejala sama sekali.
Bila ada keluhan biasanya berupa duh tubuh vaginal yang banyak dan berbau.
Biasanya penderita datang dengan keluhan gatal pada daerah kemaluan dan gejala
keputihan. Dari data-data yang dikumpulkan oleh Wolner-Hanssen (1989) dan
Rein (1989) yang terdapat pada tabel 1, ternyata hanya 50-70% penderita yang
mengeluh adanya duh tubuh vaginal, sehingga pernyataan bahwa trikomoniasis
pada wanita harus selalu disertai duh tubuh vaginal merupakan hal yang tidak
benar.
Tabel 1. Prevalensi keluhan dan gejala klinis penderita wanita dengan trikomoniasis.
Keluhan dan gejala Prevalensi (%)

Keluhan :

1. Tidak ada 9 – 56
2. Duh tubuh (discharge)
50 – 75
Berbau
10 – 67
Menimbulkan iritasi/gatal
23 – 82
3. Dispareunia
4. Disuria 10 – 50

5. Perasaan tidak enak pada perut bawah 30 – 50


Gejala :
5 – 12
1. Tidak ada
˜ 15
2. Eritema vulva yang difus
3. Duh tubuh berlebihan, kuning, hijau 10 – 37
berbusa 5 – 42
4. Inflamasi dinding vagina 8 – 50
5. Strawberry cervix
20 – 75
Pengamatan langsung
1–2
Pengamatan dengan kolposkop
˜ 45

Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun


kronis. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan,
kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. Duh tubuh yang banyak
sering menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vulva serta kulit sekitarnya. Dinding
vagina dan labium tampak kemerahan dan sembab serta terasa nyeri. Sedangkan pada
vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses kecil dan maserasi
yang disebabkan oleh fermen proteolitik dalam duh tubuh. Kadang-kadang
juga terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak granulasi
berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance, yang menurut Fouts et al,
hal ini hanya ditemukan pada 2% kasus trikomoniasis. Keluhan lain yang mungkin
terjadi adalah dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila
sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar genitalia
eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis, Bartholinitis, skenitis, dan sistitis
yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik gejalanya lebih ringan dan
sekret vagina biasanya tidak berbusa.

Kadang-kadang reaksi radang sangat minimal sehingga duh tubuh sangat minimal
pula, bahkan dapat tidak tampak sama sekali. Polakisuria dan disuria biasanya
merupakan keluhan pertama pada infeksi traktus urinarius bagian bawah yang
simptomatik. Dua puluh lima persen penderita mengalami infeksi pada uretra.

2. Trikomoniasis Pada Pria

Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas, mulai
dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi prostatitis. Masa
inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari.

Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang


preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih
ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore,
misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya
jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya
tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.

 Diagnosis
Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis, karena
Trichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala atau
keluhan. Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam sebab, karena itu
perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.
Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalis pada
sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.
Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh jumlah
kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita. Uretritis non gonore (UNG)
yang disebabkan oleh T. vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis dari UNG oleh
penyebab yang lain.
Respon terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal
diobati dengan rejimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum, namun
respon terhadap pengobatan dengan metronidazol, menunjang diagnosis trikomoniasis.
Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya
pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan basah
dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan
dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung serum.
 Pemeriksaan Laboratorium
Cara pengambilan spesimen pada wanita, yaitu spesimen berupa hapusan forniks
posterior dan anterior yang diambil dengan lidi kapas atau sengkelit steril. Hendaknya
spekulum yang dipakai jangan memakai pelumas. Pada pria, spesimen yang diambil
dengan mengerok (scraping) dinding uretra secara hari-hati dengan menggunakan
sengkelit steril. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum kencing pertama.
Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa
sedimen dari 20 cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang
diambil setelah masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-kasus
yang tidak terdiagnosis dengan pemeriksaan spesimen uretra. Pada spesimen tersebut
dilakukan pemeriksaan :

1. Sediaan Langsung (Sediaan Basah)

Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1 cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes


larutan tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup.
Spesimen pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam fisiologis yang
telah diletakkan pada kaca objek.

Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk


meningkatkan pergerakan T. vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula jumlah
leukosit.

2. Sediaan Tidak Langsung

Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab, maka dilakukan
biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan
kasus-kasus asimtomatik. Enam puluh persen spesimen yang diambil dari uretra pria
dengan trikomoniasis akan menghasilkan biakan positif.

Dikemukan bahwa hasil positif pada pemeriksaan sediaan basah pada wanita
berkisar antara 40-80%, sedangkan biakan berkisar antara 95%. Biakan 10-15% lebih
sensitif dari sediaan basah. Berdasarkan hal tersebut biakan masih tetap merupakan
pemeriksaan yang dianjurkan untuk menunjang diagnosis trikomoniasis.

Tabel 2. Prevalensi hasil pemeriksaan laboratorium pada penderita trikomoniasis

Jenis pemeriksaan Prevalensi (%)

pH > 4,5 66 – 91

Sniff test positif ˜ 75

Sediaan basah ˜ 75

Leukosit meningkat 40 – 80

Trichomonas dengan pergerakan khas 89 – 90

Fluorescent antibody <1

Pengecatan ˜ 60

Gram ˜ 50

Acridine orange 56 – 70

Giemsa

Pap smear

 Diagnosis Banding

Diagnosis banding trikomoniasis adalah kandidosis vulvovaginalis, vaginosis


bakterialis, infeksi gonokokus, infeksi genital nonspesifik (I.G.N.S).

1. Kandidosis Vulvovaginalis
Disebabkan oleh Candida albicans. Keluhan utama adalah gatal di daerah vulva.
Pada keadaan yang sangat berat dapat pula timbul panas, nyeri sesudah miksi dan
dispareunia. Flour albus pada kandidosis berwarna kekuningan. Tanda yang khas
adalah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih kekuningan
2. Vaginosis Bakterialis
Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis. Wanita akan mengeluh adanya duh tubuh
dari vagina yang ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang dinyatakan
oleh penderita sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan. Bau lebih
menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau abnormal.
Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina, sepertiga akan menyebabkan gatal dan rasa
terbakar dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen,
dispareunia, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi.

Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina yang bertambah,
warna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau dan jarang berbusa.
Duh tubuh melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan
yang difus, pH sekret vagina antara 4,5-5,5. Gejala peradangan umum tidak ada.
Terdapat eritema pada vagina atau vulva atau petekie pada dinding vagina. Pada
sediaan basah sekret vagina terlihat tidak ada atau sedikit leukosit, sel epitel banyak,
dan adanya kokobasil sehingga batas sel tidak jelas, disebut clue cells yang
patognomonik.

3. Infeksi Gonokokus

Sesudah lewat masa tunas 3-5 hari, penderita mengeluh nyeri dan panas pada
waktu kencing. Kemudian keluar nanah yang berwarna putih susu dari uretra dan
muara uretra membengkak, merah dan ektropion. Pada wanita portio uteri merah,
edema dengan sekret mukopurulen dan dapat timbul flour albus.

4. Infeksi Genital Nonspesifik (I.G.N.S)

Kurang lebih 75% disebabkan oleh Chlamydia trachomatis,Ureaplasma


urealyticum dan Mycoplasma hominis. Gejala klinis pada wanita umumnya tidak
menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina,
disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan dispareunia. Pada
pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel-
folikel kecil yang mudah berdarah.

Pada pria biasanya gejala baru timbul setelah 1-3 minggu kontak seksual dan
umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak
di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Pada beberapa
keadaannya tidak terlihat keluarnya duh tubuh.
 Penatalaksanaan
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.Pengobatan
trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun
yang tidak.

1. Topikal

a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam
laktat 4%.

b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.

c. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.

2. Sistemik (oral)

Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:

a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.

b. Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.

c. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.

d. Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.

Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta
parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.

Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:

a. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan


terjadi infeksi “pingpong”.

b. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum


dinyatakan sembuh.

c. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.


3. Pengobatan Pada Kehamilan
Kehamilan pada trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian
metronidazol. Sehubungan telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya
kaitan antara infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya, maka
metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada trimester
kedua dan ketiga.
4. Infeksi Pada Neonatus
Bayi dengan trikomoniasis simtomatik atau dengan kolonisasi T.
vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol 5
mg/kgBB/oral, 3 x sehari selama 5 hari.
 Prognosis
Umumnya baik, Sembilan puluh lima persen penderita yang diobati sembuh.

3. Servisitis Gonore
 DEFINISI
Infeksi gonokokal atau yang disebut juga gonore adalah infeksi menular seksual
(IMS) pada epitel dan umumnya bermanifestasi sebagai servisitis, urethritis, proktitis,
dan konjungtivitis.Jika tidak diobati infeksi pada daerah ini dapat mengakibatkan
komplikasi lokal seperti endometritis, salpingitis, abses tubo-ovarian, bartholintis,
peritonitis, dan perihepatitis pada pasien perihepatitis pada pasien wanita.Periuretritis
dan epididymitis pada pasien laki-laki, dan oftalmia neonatorum pada bayi baru
lahir.Infeksi gonokokal diseminata yang meliputi maniftesi lesi kulit, tenosinovitis
artritis, dan (jarang) endocarditis atau meningitis jarang terjadi.
 EPIDEMIOLOGI
Insiden infeksi gonokokal masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di
seluruh dunia menyebabkan morbiditas di Negara berkembang, dan mungkin berperan
dalam meningkatkan penularan HIV.Dilaporkan terdapat hingga 301.174 kasus baru
pada tahun 2009 di Amerika Serikat.
 ETIOLOGI
Neisseria gonorrhoeae (N.gonorhoeae) adalah bakteri Gram Negatif, nonmotile,
tidak membentuk spora, yang tumbuh tunggal dan berpasangan (sebagai monokokus dan
diplokokus).Merupakan pathogen yang eksklusif pada manusia, secara umum memiliki
tiga salinan genom perunit kokus, dimana poliplopidi ini memungkinkan tingkat variasi
antigenik yang tinggi dan kelangsungan hidup di dalam inangnya.Gonokokus, seperti
semua spesies Neisseria lainnya, merupakan oksidase positif. Mereka dibedakan dari
Neisseriaelain dengan kemampuan mereka untuk tumbuh pada media selektif dan untuk
memanfaatkan glukosa tapi tidak maltose, sukrosa, atau laktosa.
 PATOMEKANISME
Virulensi dari N. gonorrhoeae ditentukan dari keberadaan pili yang memediasi
penempelan, serta kemampuan untuk bertahan dari kekuatan aliran hidrodinamik pada
uretra, dimana hal ini juga menghambat pengambilan oleh fagosit.Invasi dan multiplikasi
terjadi pada sel kolumnar non-silia penghasil mucus pada epitel tuba fallopi. Strain
dengan pili lebih banyak menempel pada permukaan sel mukosa manusia, dan lebih
virulen dibandingkan dengan strain yang tidak ber-pili. Penempelan ini merupakan awal
dari endositosis dan transport melewati sel mukosa kedalam ruang interseluler dekat
membran basal atau langsung ke jaringan subepitelial.Tidak terdapat toksin khusus yang
dihasilkan oleh N. gonorrhoeae namun komponen lipooligosaccharide dan
peptidoglycan berperan dalam menghambat fungsi silia dan menyebabkan inflamasi.
Komponen peptidoglycan selain antigen pili, termasuk juga, Porin, Opacity-
associated protein serta protein lain. Porin (sebelumnya dikenal sebagai protein I)
protein terbanyak pada permukaan N. gonorrhoeae, menginisiasi proses endositosis dan
invasi. Opacity-associated protein (Opa, sebelumnya dikenal sebagai protein II)
berperan penting pada penempelan ke sel epitel, dan sel PMN yang akan menekan
ploriferasi sel T limfosit CD4+. Protein lainnya termasuk H.8, suatu lipoprotein yang
terdapat pada semua strain N.gonorrhoeae, berguna sebagai target untuk diagnostik yang
berdasar antibodi. Bakteri ini juga memproduksi suatu IgA1 protease, yang melindungi
bakteri dari respon imun IgA mukosa individu.Antibodi terhadap Rmp (sebeumnya
dikenal sebagai protein III, PIII) mencegah ikatan terhadap komplemen sehingga dapat
memblokade efek bakterisidal terhadap Porin dan lipooligosaccharide.
Antigen pili memegang peranan penting pada kompetensi dan transformasi
genetik, yang memungkinkan transfer material genetik antar bakteri in vivo.Antigen pili,
bersama Porin dan lipooligosaccharide bertanggungjawab terhadap variasi antigenik,
yang menyebabkan infeksi berulang dalam periode waktu yang singkat.Gonococcal
Lipooligosaccharide (LOS), berperan dalam aktifitas endotoksik dan berkontribusi pada
efek sitotoksik lokal pada tuba Fallopi. LOS juga memodulasi respon sistem imun,
dimana modulasi ke arah respons Th2 akan mengurangi kemampuan bersihan infeksi
gonokokal.
Selain itu faktor individu inang juga berperan penting dalam memediasi
masuknya bakteri ke dalam sel. Pelepasan diacylglycerol dan cermide dibutuhkan untuk
masuk ke dalam sel epitel. Akumulasi ceramide dalam sel akan menginduksi apoptosis
dimana akan mengganggu integritas epitel dan memfasilitasi masuknya bakteri ke
jaringan subepitelial. Dilepaskannya faktor kemotaksis hasil dari aktivasi komplemen
juga akan menyebabkan inflamasi. Strain yang menyebabkan penyakit infeksi gonokokal
diseminata (strain PorB.1A) telah dibuktikan lebih sulit dimatikan oleh serum manusia,
dimana lebih tidak kemotaksis.
 MANIFESTASI KLINIS
Risiko tertular infeksi gonokokal setelah terpapar satu kali sekitar 20% pada pria
dan mungkin lebih besar daripada wanita. Pada semua pasien dengan kemungkinan
infeksi menular seksual (IMS), riwayat penyakit yang ditanyakan termasuk adanya IMS
sebelumnya, serta gejala dari IMS pada pasangan seksual saat ini atau sebelumnya, jenis
kontrasepsi yang dipakai (kondom), dan adanya riwayat dari kekerasan seksual. Gejala
juga dapat berupa faringitis.Pada wanita, riwayat yang perlu ditanyakan termasuk juga
periode menstruasi terakhir dan paritas, termasuk riwayat dari kehamilan ektopik.
 Wanita Dengan Infeksi Urogenital
Sekitar 60-80% wanitaterinfeksi tidak menunjukan gejela, dimana di ketahui dari
patner seksual yang simtomatis .gejalah mayor termasuk vaginal
discharge,disuriah,perdarahan inter menstrual (spotting),dispareunian (nyeri saat
berhubungan intim),dan nyeri abdomen bawa ringan
Gejala servisitas terjadi sekitar 10 hari setelah pejanan.Discharge pada
endoservisitas merupakan gejala tersaring dan dideskripsikan sebagai cairan, purulent
dan berbau kurang sedap. Wanita yang terpajan dapat tetap asimptomatis dan infeksius
hingga berbulan-bulan sebelum benar-benar sembuh smpontan. Bila servisitas gonokokal
tanpa gejala atau tidak dikenali, penyakit dapat berkembang menjadi PID (Pervic
Inflammatory Disease) pada sekitar 15% penderita, terutama pada sekitar waktu
mentruasi.
Gejala dari PID termasuk nyeri perut bawah (paling sering), peningkatan vaginal
discharge atauuretul discharge yang mukopurulen, dysuria (biasanya tanpa urgensi
ataupun frekuensi), nyeri adneksa (biasanya bilateral), perdarahan inter mentruasi,
demam, menggigil, mual dan muntah (jarang). Nyeri perut kuadran kanan atas akibat
perihepatitis (sindrom fitz-Hugh-Curtis) dapat terjadi akibat penyebaran organisme
melalui peritoneum.
Infeksi rectum sering asimptomatis, dapat terjadi nyeri, pruritus, tenesmus dan
rectal discharge bila mukosa rectum terlibat. Dapat juga terjadi diare berdarah.Infeksi
rektal dapat terjadi secara lokal akibat dari hubungan seksual melalui anal maupun
kontaminasi infeksi dan vagina.

 DIAGNOSIS
 Pemeriksaan Lab
- Pewarnaa Gram
Diagnosis cepat infeksi gonokokal melalui pewarnaan gram dan eksudat uretra
telah diterima secara luas. Pada wanita pewarnaan gram dari hapusan endoservik
tidak sensitive (30-60%), namun mendukung diagnosis cepat bila ditemukan
bersama dengan gejala klinis PID, endosertivitis dengan discharge purulent atau
riwayat pajanan infeksi gonokokal. Hapusan dari faring dan rekal tidak
membantu diagnosis, dimana spesies Neisseria lainnya adalah kompnen flora
normal.
- Kultur
Kultur diambil menggunakan swab Dacron atau Rayon, kemudian sampel
diinokulasi ke plate modifikasi Thayer Martin atau media selektif gonokokal
lainnya. Penting untuk memproses sampel segera karna gonokokus tidak toleran
kondisi kering.Pada wanita, ektoservik harus diseka bersih dan swab harus
dimasuka ke servik dan rotasi selama 10 detik.Swab rektal paling baik diambil
menggunakan proktoskop.Pada wanita specimen yang didapat dari beberapa
lokasi meningkatkan kemungkinan ditemukannya bakteri. Idealnya kultur diambil
dari endoservik, uretra, rectum dan faring.
Kultur darah sering positif pada awal (24-48 jam) penyakit diseminata dan dari
cairan sinovial sendi pada atritis gonokokal.Cairan sendi diinokulasikan pada
media borth dan dibiakan pada chocolate agar, karena cairan ini tidak
terkontaminasi bakteri komensal.Gonococci jarang didapatkan pada efusi sendi
awal yang mengandung <20.000 leukocytes/mikroliter namun mungkin
didapatkan pada cairan sendi yang mengandung >80.000 leukosit/microliter.
Organisme jarang didapatkan bersamaan dari darah dan cairan sendi pada seorang
penderita
 PENATALAKSANAAN
Manajemen terhadap infeksi gonokokal telah banyak berubah pada decade
terakhir.Beberapa faktor termasuk resistensi terhadap penisilin, ko-infeksi
gonokokal dengan Chlamydia, dan lokasi anatomis infeksi, berpengaruh terhadap
pendekatan terapi.
Kegagalan pengobatan dapat menyebabkan transmisi lanjutan dan munculnya
resistensi antibiotik.Pentingnya terapi yang memadai dengan pilihan regimen yang
meningkatkan kepatuhan, memegang peranan penting. Dosis yang diberika
seharusnya berada dalam serum darah paling tidak 3x dari kosentrasi minimum
inhibisi (MIC) selama >8 jam.
 Infeksi Gonokokal pada Serviks, Uretra, Rektum tanpa Konflikasi

Ceftraxon 250 mg IM dosis tunggal, atau

Cefixime 400 mg oral dosis tunggal, atau

Dosis tunggal injeksi regimen cephalosporin, ditambah Azithromycin 1 gram oral


dosis tunggal, atau

Doxicycline 2x100 mg oral selama 7 hari

 PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


Kondom, jika benar digunakan, memberikan perlindungan yang efektif
terhadap transmisus dan akuisisi gonore serta infeksi lain yang ditularkan kedalam
permukaan mukosa genital. Manajemen efektif dari infeksi menular seksual
termasuk didalamnya manajemen dari partner seksual penderita untuk mencegah
reinfeksi dan memutus penyebaran penyakit lebih lanjut.Penekanan lebih besar
ditempatkan pada pencegahan melalui pendidikan kesehatan masyarakat, konseling
penderita, dan modifikasi perilaku.
 PROGNOSIS
Dengan terapi segera, infeksi gonokokal pada uretra jarang menyebabkan
morbiditas jangka panjang.

4. Kandidiasis Vulvovaginalis
 DEFINISI
Merupakan infeksi mukosa vagina atau vulva (epitel tidak berkeratin) yang
di disebabkan oleh jamur spesies Candida. Infeksi dapat terjadi secara akut, subakut, dan
kronis, didapat baik secara endogen maupun eksogen yang sering menimbulkan keluhan
berupa duh tubuh.Umumnya infeksi pertama timbul di vagina disebut vaginitis dan dapat
meluas sampai vulva (vulvitis). KVV merupakan salah satu infeksi yang paling banyak
dikeluhkan wanita. Sekitar 70-75% wanita setidaknya sekali terinfeksi KVV selama
masa hidupnya, paling sering terjadi pada wanita usia subur, pada sekitar 40-50%
cenderung mengalami kekambuhan atau serangan infeksi kedua.Lima hingga delapan
persen wanita dewasa mengalami KVV berulang, yang didefinisikan sebagai empat atau
lebih episode setiap tahun yang dikenal sebagai kandidiasis vulvovaginalis rekuren
(KVVR), dan lebih dari 33% spesies penyebab KVVR adalah Candida glabrata dan
Candida parapsilosis yang lebih resisten terhadap pengobatan.

 ETIOLOGI
Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) umumnya disebabkan oleh C.
albicans (80-90%), C. glabrata (6-10%), C. tropicalis (5-10%), C. krusei, C. stellatoidea,
C. kefvr, dan Saccharomyces cerevisiae.3 Berikut adalah
taksonomi dari etiologi KVV: 12
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Subfilum : Saccharomycotina
Kelas : Saccharomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Famili : Saccharomycetaceae
Genus : Candida Patomekanisme

 PATOMEKANISME
Kandidiasis superfisial (kutaneus atau mukosal) ditegakkan melalui adanya
peningkatan jumlah populasi Candida setempat dan kerusakan kulit/epitel yang
memungkinkan invasi setempat oleh ragi dan pseudohifa. Histologi setempat lesi
kutan/mukokutan ditandai oleh reaksi peradangan yang beragam, mulai dari abses
piogenik hingga granuloma kronis. Lesi-lesi ini mengandung sel ragi bertunas serta
pseudohifa yang sangat banyak. Perkembangan penyakit karena spesies Candida
bergantung pada interaksi kompleks antara organisme yang patogen dengan mekanisme
pertahanan tubuh pejamu. Infeksi kandida merupakan infeksi oportunistik yang
dimungkinkan karena menurunnya pertahanan tubuh pejamu.
 GAMBARAN KLINIS
Keluhan sangat gatal atau pedih disertai keluar cairan yang putih mirip krim
susu/keju, kuning tebal, tetapi dapat cair seperti air atau tebal homogen. Lesi bervariasi,
dari reaksi eksema ringan dengan eritema minimal sampai proses berat dengan pustul,
eksoriasi dan ulkus, serta dapat meluas mengenai perineum, vulva, dan pada wanita tidak
hamil biasanya keluhan dimulai seminggu sebelum menstruasi. Gatal sering lebih berat
bila tidur atau sesudah mandi air hangat. Umumnya didapati disuria dan dispareunia
superfisial. Discharge keputihan yang disebabkan oleh infeksi jamur, seperti Candida sp.,
adalah cairan berwarnanputih berbusa, dengan pH <4,5.8,14

Kandidiasis vulvovaginalis dibagi menjadi 2 klasifikasi yaitu:

a. Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) tidak sulit (uncomplicated)

- Kandidiasis vulvovaginalis tidak sering atau sporadis, atau - Kandidiasis


vulvovaginalis ringan sampai sedang, atau - Disebabkan oleh C. albicans, atau -
Perempuan non imunokompromais/imunokompeten

b. Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) sulit (complicated)

- Kandidiasis vaginali rekurens, yaitu pasien yang terkena gejala simptomatik


kandidiasis vulvovaginalis 4 kali atau lebih dalam setahun oleh karena berbagai
faktor predisposisi, atau

- Kandidiasis vulvovaginalis berat (eritema luas, edema, eksoriasi dan terbentuk


fisura), atau

- Kandidiasis non-albicans, atau

- Perempuan dengan diabetes tidak terkontrol atau keadaan imunosupresif


(mendapat kortikosteroid jangka lama, pasien HIV/AIDS) atau yang hamil.

c. Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) kronis

Relatif sering terjadi dengan khas rasa gatal, sering dengan eksaserbasi siklus
premenstrual. Nyeri vulva terutama dispareunia dapat yang utama pada sindroma ini.
Anamnesis yang tepat paling penting dalam mendiagnosis KVV kronis. Berhubungan
dengan serangan berulang kandidiasis akut, menjadi semakin sering sebelum gejala
berat dan kronis. Serangan biasanya didahului dengan pemberian antibiotika, tetapi
dapat juga udara panas, perjalanan jauh, senggama, dan memakai baju ketat
serta pasien yang mendapat terapi sulih hormon estrogen. Begitu menjadi
kronis, biasanya dirasakan gatal dan pedih. Kambuh pada 7 hari sebelum
menstruasi dan membaik pada permulaan menstruasi. Pemeriksaan khas tampak
sangat eritema dan meradang pada vulva termasuk labia minor, siklus interlabia,
introitus dan vagina. Sering tidak selalu ada keputihan yang seperti krim, juga dapat
tampak normal atau agak meradang.

 LANGKAH DIGNOSTIK

a. Anamnesis

1) Umur, harus diperhatikan pengaruh estrogen pada bayi ataupun wanita dewasa.
Pada wanita usia lebih tua diperhatikan kemungkinan keganasan terutama kanker
serviks.

2) Metode kontrasepsi yang dipakai, kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan


sekresi kelenjar serviks yang diperparah dengan adanya infeksi jamur.

3) Kontak seksual, merupakan salah satu penyebab penyebaran penyakit.

4) Perilaku, seperti tukar menukar alat mandi atau handuk, serta cara membilas vagina
yang salah merupakan faktor terjadinya keputihan.

5) Sifat keputihan, yang diperhatikan adalah jumlah, bau, warna dan konsistensinya,
keruh jernih, ada tidaknya darah, dan telah berapa lama. Ini penting dalam
menegakkan penyebab terjadinya keputihan.

6) Menanyakan kemungkinan menstruasi atau kehamilan.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik khusus yang harus dilakukan adalah pemeriksaan genital,


meliputi inspeksi dan palpasi dari genital eksterna, pemeriksaan spekulum untuk
melihat vagina dan serviks, pemeriksaan pelvis bimanual.KVV oleh karena C.
albicans keluhan utamanya adalah gatal, kadang-kadang disertai iritasi atau terbakar.
Namun pada kandidiasis non-albicans, keluhan khas iritasi dan terbakar lebih
menonjol daripada gatalnya, tampak eritema vagina atau tidak ada kelainan sama
sekali.

c. Pemeriksaan laboratorium

1) Penentuan pH, menggunakan kertas indikator (normal 3,0 - 4,5)

2) Penilaian sediaan basah, C. albicans akan terlihat jelas dengan KOH 10%. Tampak
budding yeast dengan atau tanpa pseudohifa (gambaran seperti untaian sosis) atau
hifa. Bila ada hifa berarti infeksinya kronis. Hanya C. albicans dan C. tropicalis
yang dapat membentuk hifa sebenarnya. Pada Candida non-albicans terutama C.
glabrata, C. parapsilosis, C. krusei dan S. Cerevisiae tampak hanya budding yeast
dan biasanya lebih sulit dilihat dengan mikroskop, perlu pembesaran yang lebih
besar. Spesimen harus baru dan segera diperiksa. Leukosit harus dalam jumlah
normal berlebihan (>30 sel/lp) berarti ada infeksi campuran non-spesifik.

3) Pengecatan gram

Jamur (budding yeast cell, blastospora, pseudohifa, hifa) tampak positif Gram dan
sporanya lebih besar dari bakteri. Pemeriksaan langsung KOH atau Gram harus
dilakukan pada kandidiasis mukosa dan apabila hasilnya positif, sudah dapat
menyokong diagnosis. Leukosit harus dalam jumla berlebihan (>30 sel/lp) berarti
ada infeksi campuran non-spesifik.

4) Kultur, untuk menentukan kuman penyebab serta menyingkirkan kemungkinan


diagnosis lainnya. Spesimen yang digunakan harus baru dengan media sebagai
berikut:

- Saboraud Dextrose Agar (SDA) dengan antibiotik Candida sp. umumnya tidak
terpengaruh oleh sikloheksimid yang ditambahkan pada media selektif jamur
patogen, kecuali C. tropicalis, C. krusei dan C. parapsilosis yang tidak tumbuh
karena sensitif terhadap sikloheksimid. Kultur tumbuh dalam 24-72 jam.

- CHROMagar Candida Pada CHROMagar Candida masing-masing koloni spesies


Candida mempunyai warna khas, yaitu C. albicans berwarna hijau apel, C.
dubliniensis berwarna hijau tua, C. Glabrata berwarna merah muda (pink) sampai
ungu, dan besar, C.tropicalis berwarna biru tua, kadang-kadang merah muda, dan
semuanya membentuk halo ungu, C. krusei berwarna merah muda pucat, besar,
datar, dan permukaan kasar, C. Parapsilosis berwarna putih kotor (off white)
sampai merah muda pucat, C. guilliermondii berwarna merah muda sampai ungu,
dan kecil. Khusus untuk C. dubliniensis hanya dapat diidentifikasi dengan
CHROMagar Candida. - Fenomena Reynolds Braude Identifikasi C. albicans dapat
dengan melihat fenomena Reynolds Braude, yakni memasukkan jamur yang
tumbuh pada kultur ke dalam koloid (albumin telur) dan diinkubasi selama 2 jam
pada suhu 37oC. Di bawah mikroskop akan tampak germ tubes (bentukan seperti
kecambah) >90% yang khas pada C. albicans. - Cornmeal agar dengan Tween 80
atau Nickerson polysaccharide trypan blue (Nickerson-Mankowski agar) Pada suhu
25oC, digunakan untuk menumbuhkan klamidokonidia, umumnya hanya ada pada
C. albicans dan tumbuh dalam 3 hari. - Tes karbohidrat (fermentasi dan asimilasi)
Untuk identifikasi spesies Candida secara lebih tepat. Pilihan kultur terbaik adalah
kombinasi CHROMagar Candida dan Cornmeal agar dengan Tween 80 disertai tes
karbohidrat.

5) Polymerase Chain Reaction (PCR)

Dapat mendeteksi wanita yang pada anamnesis memiliki riwayat kandidiasis


vulvovaginalis rekuren (KVVR) tetapi asimptomatik, dengan PCR 28,8% positif
dibandingkan dengan kultur 6,6%.

 TERAPI

a. Kandidiasis vulvovaginalis tidak sulit (KVV uncomplicated)

1) Umum - Mengurangi dan mengobati faktor-faktor predisposisi - Memakai


pakaian dalam dari katun dan menghindari pakaian ketat - Antibiotik spektrum
sempit bila perlu: golongan eritromisin/ azitromisin, linkomisin/klindamisin,
kotrimoksasol/sulfa.

2) Obat topikal yang ada di Indonesia Untuk vaginitis - Nistatin supositoria vagina;
1 tablet (100.000μ) / malam selama 14 hari, kurang efektif disbanding derivate
imidazol. - Amfoterisin B supositoria vagina; 1 tablet (50 mg)/malam selama 7-
12 hari. Sediaannya dikombinasi dengan Tetrasiklin 100 mg untuk
meningkatkan aktifitas anti jamur dari Amphoterisin B. - Klotrimazol tablet
vagina; 1 tablet (100 mg)/malam selama 7 hari - Mikonazol 2% krim vagina; 1
kali/malam selama 7 hari - Butokonazol nitrat 2% krim vagina; dosis tunggal,
dapat diulang pada hari ke 4-5 bila diperlukan Untuk vulvitis - Nistatin krim;
dioleskan 2 minggu - Derivat imidazol, naftifin, siklopiroksolamin dan
haloprogen krim; dioleskan selama 2 minggu Pada vulvitis kandida yang berat
dapat diberi tambahan obat topikal kortikosteroid ringan (hidrokortison 1% -
2,5%) untuk 3-4 hari pertama, selanjutnya diberikan obat anti jamur topikal.
Indikasi obat topikal: wanita hamil, KKV akut, KVV ringan sampai sedang
tanpa komplikasi, pemakaian jangka pendek (7 hari atau dosis tunggal).

3) Obat sistemik

- Ketokonazol tablet; 2 x 200 mg / hari selama 5-7 hari

- Itrakonazol kapsul; 200 mg/hari selama 2-3 hari

- Flukonazol kapsul; 1x 50 mg/ hari selama 7 hari

b. Kandidiasis vulvovaginalis sulit (KVV complicated)

1) Kandidiasis vulvovaginalis rekuren (KVVR)

-Mencari berbagai faktor predisposisi dan mengatasinya, misalkan pasien


Diabetes Melitus untuk tidak melakukan aktivitas seksual selma pengobatan
untuk mengurangi iritasi/trauma, mengurangi pemakaian douche, mengurangi
iritasi oleh penggunaan kertas toilet, dan menghindari kolam renang yang airnya
banyak mengandung khlor.

-Pengobatan KVVR sama seperti KVV akut, tetapi perlu jangka lama (10-14
hari), baik obat topikal maupun oral

-Profilaksis; bila gejala sudah tidak tampak lagi dalam 3-6 bulan, maka
pengobatan profilaksis dapat dihentikan.

2) Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) berat

-Azol topikal vagina selama 10-14 hari

-Flukonazol tablet 150 mg, 2 kali selang 3 hari ( hari 1 dan 4)

3) Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) non-albicans


-Itrakonazol 2 kapsul (200 mg)/hari selama 7-14 hari

4) Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) non-albicans resisten/kambuh

-Asam borak, 600 mg dalam kapsul gelatin dimasukkan ke vagina 1x/hari selama
1 bulan, memiliki efek samping iritasi.

-Tablet vagina nistatin 2x/hari selama 1 bulan

-Solusio gentian violet 1% dioleskan seminggu sekali selama 4-6 minggu,


memiliki efek samping iritasi namun lebih efektif.

-Amphoterisin vagina supositoria

5) Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) kronis

-Itrakonazol; 100 mg/hari selama 1 minggu-3 bulan, bila semua gejala hilang
turunkan menjadi 100 mg/minggu selama 6 minggu.

-Flukonazol; 50 mg/hari selama 1 minggu-3 bulan, bila semua gejala hilang


turunkan menjadi 150 mg/minggu selama 6 minggu.

5. HUMAN PAPILOMA VIRUS (HVP)

 Definisi
HPV adalah jenis virus yang cukup lazim. Jenis yang berbeda dapat
menyebabkan kutil atau pertumbuhan sel yang tidak normal (displasia) dalam atau di
sekitar leher rahim atau dubur yang dapat menyebabkan kanker leher rahim atau
dubur. Kutil-kutil ini pada umumnya tumbuh di permukaan kulit yang lembab dan di
daerah sekitar alat kelamin sehingga disebut kutil kulit dan kutil kelamin. Infeksi HPV
pada alat kelamin dapat disebarkan melalui hubungan seks, sedangkan penularan kutil
kulit pada tangan atau kaki dapat terjadi tanpa hubungan seks (penularannya dapat
melalui sentuhan atau penggunaan barang secara bersama).

 KLASIFIKASI HPV
merupakan virus DNA dengan klasifikasi
Familia : Papovaviridae
Genus : Papillomavirus
Spesies : Human Papillomavirus

 MORFOLOGI HVP
Papovavirus merupakan virus kecil ( diameter 45-55 nm ) yang mempunyai
genom beruntai ganda yang sirkuler diliputi oleh kapsid (kapsid ini berperan pada
tempat infeksi pada sel) yang tidak berpembungkus menunjukkan bentuk simetri
ikosahedral. Berkembang biak pada inti sel menyebabkan infeksi laten dan kronis
pada pejamu alamiahnya dan dapat menyebabkan tumor pada beberapa binatang
(Contoh : Virus Papilloma manusia (kutil), Virus BK (diasingkan dari air kemih
penderita yang mendapat obat-obat imunosupresif)).
Mekanisme infeksi virus diawali dengan protein menempel pada dinding sel dan
mengekstraksi semua protein sel kemudian protein sel itu ditandai (berupa garisgaris)
berdasarkan polaritasnya. Jika polaritasnya sama denagn polaritas virus maka, dapat
dikatakan bahwa sel yang bersangkutan terinfeksi virus. Setelah itu, virus
menginfeksikan materi genetiknya ke dalam sel yang dapat menyebabkan terjadinya
mutasi gen jika materi genetik virus ini bertemu dengan materi genetik sel. Setelah
terjadi mutasi, DNA virus akan bertambah banyak seiring pertambahan jumlah DNA
sel yang sedang bereplikasi. Ini menyebabkan displasia (pertumbuhan sel yang tidak
normal) jadi bertambah banyak dan tak terkendali sehingga menyebabkan kanker.
“Papova” berasal dari tiga nama yang sering dipelajari ( Papilloma, Polyoma,
Vacoulating ). Yang akan dibahas termasuk virus Papilloma yaitu yang menyebabkan
tumor jinak dan ganas pada banyak tipe mamalia. Virus ini merupakan salah satu dari
virus DNA yang diketahui menyebabkan tumor alamiah pada tuan rumah aslinya.
Virus Papilloma menyebabkan beberapa jenis kutil yang berbeda pada manusia,
meliputi kutil kulit, kondiloma genital/ kondiloma akuminata(KA) atau kutil kelamin/
atau genital wart (di masyarakat dikenal sebagai jengger ayam dengan masa inkubasi
:1-6 bulan rata-rata 3 bulan, tampak benjolan seperti jengger ayam di sekitar
kemaluan dan anus serta kebanyakan tanpa keluhan ), dan papilloma larings.
Papillomavirus sangat tropik terhadap sel-sel epitel kulit dan membran mukosa.
Tahap-tahap dalam siklus replikasi virus tergantung pada faktor-faktor spesifik yang
terdapat dalam status diferensiasi berikutnya dari sel epitel. Ketergantungan kuat
replikasi virus pada status diferensiasi sel inang ini, meyebabkan sulitnya
perkembangbiakan Papillomavirus in vitro.
 HVP
Ada lebih dari seratus virus yang dikenal sebagai virus papilloma manusia
(human papilloma virus/HPV). HPV dapat menyebabkan kanker leher rahim karena
dapat membuat pertumbuhan sel menjadi tidak normal (dengan cara virus masuk ke
dalam inti sel di leher rahim dan mengubah bentuk sel sehingga sel menjadi mudah
rapuh dan pertumbuhannya menjadi tidak beraturan).
Satu penelitian menemukan 11.000 perempuan terdeteksi HPV-positif di AS dan
sekitar 4000 orang meninggal karenanya. HPV menular dengan mudah melalui
hubungan seks. Diperkirakan 75 persen orang yang aktif secara seksual terutama
berusia 15-49 tahun di AS mengalami sedikitnya satu jenis infeksi HPV. Virus ini
terdiri dari puluhan genotype, dan dapat menyerang berbagai bagian tubuh seperti jari
dan tangan, telapak kaki, wajah, genital. Tipe Human papillomavirus cukup beragam.
Dari 100 tipe HPV, hanya 30 di antaranya yang berisiko kanker serviks.

 PENYAKIT YANG DITIMBULKAN


Berbagai jenis HPV menyebabkan kutil umum pada tangan atau kaki. HPV juga
dapat mengakibatkan masalah pada mulut atau pada lidah dan bibir. Beberapa jenis
HPV dapat menyebabkan kutil kelamin pada penis, vagina dan dubur. Jenis HPV lain
dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak normal yang disebut displasia.
Displasia dapat berkembang menjadi kanker dubur pada laki-laki dan perempuan, dan
kanker leher rahim (cervical cancer), atau kanker penis. Displasia di sekitar dubur
disebut neoplasia intraepitelial anal (anal intraepithelial neoplasia/AIN). Epitel adalah
lapisan sel yang meliputi organ atau menutupi permukaan tubuh yang terbuka.
Neoplasia berarti perkembangan baru sel yang tidak normal. AIN adalah
perkembangan sel baru yang tidak normal pada lapisan dubur. Displasia pada daerah
leher rahim disebut neoplasia intraepitelial serviks (cervical intraepithelial
neoplasia/CIN).
Kondiloma genital dapat ditularkan melalui sentuhan dan hubungan seksual.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun ada sebagian orang yang berisiko
untuk terjangkit penyakit ini antara lain: orang yang sering kontak dengan air/bekerja
di tempat basah (seperti tukang ikan, tukang daging, pemotong hewan), orang yang
hiperhidrosis/ telapak tangan atau kakinya selalu basah, anak-anak. Penyakit ini
menular baik dengan kontak langsung maupun tidak langsung seperti pemakaian
handuk dan baju yang bersamaan. Pada orang-orang yang berisiko terjangkit penyakit
ini dapat terjadi kekambuhan karena virus ini mudah hidup dan berkembang pada
kulit yang sering terkena trauma dan selalu basah. Pada orang yang
imunnocompromise atau daya tahan tubuh kurang baik atau buruk virus ini dapat
berkembang cepat pada seluruh badan atau bekembang menjadi keganasan kulit seperi
kanker skuamosa.
Kanker serviks merupakan penyebab kematian akibat kanker yang terbesar
setelah kanker payudara pada wanita di negara-negara berkembang, bahkan tiap
tahunnya sekitar seperempat juta wanita meninggal karena penyakit ini. Tidak hanya
itu, kanker serviks juga berdampak pada sekitar setengah juta wanita tiap tahunnya
dan 80% penderita kanker serviks hidup di negara-negara dengan pendapatan
penduduk yang rendah atau sedang. Menurut penelitian yang dikemukakan oleh
yayasan kanker Indonesia menyatakan bahwa tiap 1 jam, seorang wanita di Indonesia
meninggal akibat kanker serviks.
Peristiwa kanker serviks diawali dari normal serviks yang terinfeksi HPV dan
menyebabkan timbulnya displasia sehingga menimbulkan kanker. Kanker Serviks
cenderung muncul pada wanita usia 35-55 tahun (pada saat usia produktif). Namun
dapat pula muncul pada perempuan berusia lebih muda. Penyebab dari kanker ini
adalah Human Papilloma Virus yaitu sejenis virus yang menyerang manusia dan
berpotensi menyebabkan terjadinya komplikasi dan kemandulan. Serviks normal
bentuknya lurus, sedangkan serviks yang terinfeksi bentuknya membesar, keluar
karena berkutil. Inilah yang menyebabkan rasa sakit pada penderita kanker serviks
saat melakukan hubungan seks.
Beberapa faktor yang dapat mempermudah terinveksi virus HPV yaitu
menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari 18 tahun),
berganti-ganti pasangan seks (pasangan wanita tersebut maupun pasangan suaminya),
wanita melahirkan banyak anak (sering melahirkan), sering menderita infeksi di
daerah rahim, dan wanita perokok yang mempunyai resiko 2 kali lebih besar terkena
kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
Perlu diingat bahwa setiap perempuan beresiko untuk terinfeksi HPV walaupun
setia pada satu pasangan. Pasangan yang terinfeksi akan menjadi sumber infeksi HPV
bagi wanita lainnya. Ternyata walaupun kanker leher rahim adalah penyakit
perempuan tetapi lelaki memiliki peran penting di dalam penyebarannya. Lelaki yang
pernah menikah dengan perempuan penderita kanker leher rahim otomatis bisa
menularkan penyakit tersebut kepada perempuan lain melalui hubungan seksual.
Maka disarankan pada kaum lelaki yang suka ”jajan” agar berhati-hati, sebab bukan
tidak mungkin ia menjadi media perantara penyakit kanker leher rahim ke istrinya
sendiri.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah lesi (kutil) dapat membesar dan
tumbuh bersama. Tetapi resiko terbesar dari HPV adalah kanker leher rahim atau
bahkan kematian. Kanker leher rahim dapat dideteksi dengan menggunakan tes Pap
sehingga pertumbuhan sel yang abnormal pada leher rahim tersebut terdeteksi lebih
awal dan dapat dilakukan konisasi (mengambil bagian sel yang berubah) sebelum ia
berkembang menjadi kanker.

 GEJALA KANKER SERVIKS


Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai dengan ditemukannya sel-
sel abnormal serviks yang dapat ditemukan melalui tes Pap Smear. Sering kali kanker
serviks tidak menimbulkan gejala. Namun bila sel-sel abnormal ini berkembang
menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala sebagai berikut :
1. Pendarahan vagina yang tidak normal seperti :
o Pendarahan di antara periode menstruasi yang regular
o Pendarahan di luar waktu haid
o Periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya
o Pendarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan panggul
o Pendarahan sesudah menopause o Kelainan pada vagina (keluarnya cairan
kekuningan, berbau)
2. Rasa sakit saat berhubungan seksual
3. Rasa sakit/ nyeri pada pinggul dan kaki

 BEBERAPA HAL YANG UNTUK MENGHINDARI ANCAMAN KANKER


LEHER RAHIM :
1. Melakukan pap smear secara teratur (tiga tahun setelah hubungan seks pertama, tiga
bulan setelah melahirkan dan secara rutin minimal setahun sekali).
2. Menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan risiko timbulnya kanker leher rahim
misalnya berganti-ganti pasangan seksual, merokok, dll. 3. Menjaga kebersihan
organ intim.
4. Selalu waspada dan segera ke dokter bila mengalami tanda-tanda yang
mencurigakan, seperti keputihan dan pengeluaran cairan yang berbau busuk dari
vagina, perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan intim, dan perdarahan
atau haid yang abnormal.
5. luangkan waktu Anda untuk melakukan pemeriksaan pap smear.

Beberapa peneliti menganggap bahwa tes Pap/ pap smear pada dubur dan
leher rahim sebaiknya dilakukan setiap tahun untuk orang yang berisiko lebih tinggi:
• Orang yang menerima seks anal (penis masuk pada duburnya)
• Perempuan yang pernah mengalami CIN
• Siapa pun dengan kadar CD4 di bawah 500
Namun peneliti lain menganggap pemeriksaan fisik dengan teliti dapat
menemukan semua kasus kanker dubur yang ditemukan melalui tes Pap pada dubur.

 INFEKSI HPV
Infeksi HPV dapat terjadi saat hubungan seksual pertama, biasanya pada masa
awal remaja dan dewasa. Prevalensi tertinggi (sekitar 20%) ditemukan pada wanita usia
kurang dari 25 tahun. Pada wanita usia 25-55 tahun dan masih aktif berhubungan seksual
berisiko terkena kanker serviks sekitar 5-10 persen. Meski fakta memperlihatkan, terjadi
pengurangan risiko infeksi HPV seiring pertambahan usia, namun sebaliknya risiko
infeksi menetap/persisten malah meningkat. Hal ini diduga karena seiring pertambahan
usia terjadi perubahan anatomi (retraksi) dan histologi (metaplasia). Selama serviks
matang melebihi masa reproduktif seorang wanita, maka cervical ectropion digantikan
melalui suatu proses squamous metaplasia, untuk membagi secara bertingkat epitel
skuamosa. Epitel skuamosa bertingkat ini diperkirakan lebih protektif pada banyak orang
melawan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, hasil imunitas
dari paparan infeksi sebelumnya, juga diduga sebagai biang dibalik penurunan insiden
tersebut

 PENGOBATAN INFEKSI HPV


Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 tahun
karena adanya sistem kekebalan tubuh alami. Namun demikian infeksi menetap yang
disebabkan oleh tipe-tipe HPV resiko tinggi seperti tipe 16 atau 18 akan mengarah pada
kanker serviks. Kanker serviks mulai berkembang ketika sel-sel abnormal pada dinding
serviks mulai memperbanyak diri tanpa terkontrol dan membentuk sebuah benjolan yang
disebut tumor.
Sampai saat ini, belum ada pengobatan langsung untuk infeksi HPV. Sistem
kekebalan tubuh dapat “memberantas” infeksi HPV, namun orang tersebut dapat kembali
tertular lagi. Bagi beberapa wanita dengan infeksi HPV pada leher rahim menjadi
resisten terhadap obat-obat di atas oleh karenanya pengobatannya (pengambilan displasia
dan kutil) dapat dilakukan dengan cara berikut:
• Membakarnya dengan jarum listrik (kauterusasi listrik) atau laser
• Membekukannya dengan Nitrogen cair
• Memotongnya secara bedah
• Mengobatinya dengan zat kimia
Pengobatan lain yang kurang lazim untuk kutil adalah obat 5-FU (5-fluorourasil)
dan interferon alfa. 5-FU berbentuk krim. Suatu obat baru, yaitu imikuimod, disetujui di
AS untuk mengobati kutil kelamin. Sidofoyir yang aslinya dikembangkan untuk
mengobati virus Sitomegalia (CMV) mungkin juga dapat membantu memerangi HPV.
Infeksi HPV dapat bertahan lama terutama pada orang HIV-positif. Oleh karena displasia
dan kutil dapat kambuh maka, penyakit sebaiknya diobati sesegera mungkin mengurangi
kemungkinan penyebaran atau kambuh.
Pengobatan pada kanker mulut rahim ada tiga, yaitu operasi, penyinaran (radiasi),
dan kemoterapi. Masing-masing terapi dilakukan dokter menurut stadium kanker yang
dialami pasien dan dengan pertimbangan kaidah dan risiko bagi pasien. Stadium O atau
disebut juga lesi prakanker sangat mudah diobati dengan tindakan lokal. Selanjutnya
stadium 1, dibagi A dan B, pilihan pengobatan dengan operasi. Stadium 2A masih
dioperasi, tetapi stadium 2B tidak lagi dioperasi, melainkan sebaiknya radiasi dibantu
kemoterapi. Stadium 3 dan 4 adalah stadium lanjut, dibagi juga A dan B, biasanya radiasi
dibantu kemoterapi.

 PENYEBARAN HPV
Penyebaran HPV dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : letak geografis, genetik,
status sosial ekonomi rendah, nutrisi, sistem imun alami, banyak pasangan seks, usia, dan
rokok (nikotin). Tipe yang paling umum dijumpai justru yang paling berbahaya, yakni 16
dan 18. Tipe 16 biasa ditemukan di wilayah seperti Eropa, Amerika Serikat, dan wilayah
lainnya. Sementara tipe 18 lebih banyak ditemukan di Asia.
 PENULARAN HPV
HPV tidak hanya tertular melalui pertukaran cairan tubuh (terutama malalui
hubungan seks, pertukaran jarum suntik untuk digunakan bersama,dll) tetapi juga lewat
penggunaan barang secara bersama (handuk, sprei, dll), sentuhan (apabila ada kutil di
badan), melalui ciuman (bila HPV sudah menyebabkan gangguan pada mulut), serta
kurangnya kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuh (terutama daerah sekitar organ
kelamin). Oleh karenanya bukan tidak mungkin seseorang terinfeksi HPV jauh sebelum
ia melakukan hubungan seks pertamakalinya. Namun pada umumnya penularan HPV
terjadi melalui kontak seksual (umur 15 hingga 49 tahun), tetapi tidak seorang dokter pun
dapat memperkirakan kapan infeksi itu terjadi. Kebanyakan infeksi HPV juga dapat
mengalami remisi setelah beberapa tahun. Beberapa di antaranya bahkan akan menetap
dengan atau tanpa menyebabkan abnormalitas pada sel.
Untuk menemukan HPV, dokter mencari displasia atau kutil kelamin. sedangkan
perubahan pada leher rahim dapat diperiksa atau diketahui dengan melakukan tes Pap.
Walaupun Pap smear dapat menyembuhkan kanker rahim, tidak berarti bahwa seseorang
dapat terbebas begitu saja. Orang yang pernah terinfeksi HPV harus rutin melakukan Pap
smear karena virus ini dapat sewaktu-waktu kembali tanpa disadari.

 GEJALA HPV
HPV bukan jenis virus baru namun, banyak orang tidak menyadarinya karena
virus ini jika menjangkiti manusia tidak manimbulkan gejala dan tidak menyebabkan
masalah kesehatan yang serius sampai infeksi virusnya menjadi parah. Setiap saat HPV
dapat menginfeksi tanpa menunjukkan gejala. HPV tidak seperti virus lainnya yang
menunjukkan gejala fisik menurun apabila terjangkit virus ini tetapi seseorang baik pria
maupun wanita dapat terkena HPV bertahun-tahun sebelum ia menyadarinya. Tanda-
tanda terserang HPV sering hanya ditunjukkan oleh tumbuhnya kutil. Kutil yang tumbuh
mungkin berwarna merah muda, putih, abu-abu ataupun coklat. Awalnya hanya berupa
bintil-bintil kecil yang kemudian bersatu membentuk kutil yang lebih besar. Semakin
lama kutil dapat menjadi semakin besar. Pertumbuhan kutil akan semakin besar dan
banyak jika tumbuh di kulit lembab akibat kebersihan kulit kurang dijaga.
Kutil-kutil ini dapat menyebabkan rasa sakit dan gatal sehingga membuat tidak
nyaman dan sering kali baru disadari keberadaannya saat jumlahnya sudah bertambah
banyak dan besar. Kutil dapat bertumbuh dengan cepat segera setelah terinfeksi atau pun
beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelah terinfeksi HPV, dan bahkan tidak pernah
tumbuh sampai dinyatakan kita terinfeksi HPV (atau sampai kita menyadari bahwa kita
terinfeksi HPV).
Oleh karenanya, untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan maka
dianjurkan untuk rutin melakukan Pap smear/ tes Pap minimal setahun sekali bagi wanita
di atas usia 21 tahun. Umumnya dokter dapat menentukan apakah kita mempunyai kutil
kelamin dengan melihatnya. Kadang kala alat yang disebut anoskop dipakai untuk
memeriksa daerah dubur. Jika perlu, contoh kutil dipotong dan diperiksa diperiksa
dengan mikroskop (biopsi) . HPV yang menyebabkan kutil kelamin tidak sama dengan
virus yang menyebabkan kanker. Tetapi jika kita mempunyai kutil, maka kita mungkin
terinfeksi jenis HPV lain yang dapat menyebabkan kanker.

 GEJALA
Terlihat pada wanita : ƒ
 Kutil pada organ kelamin, dubur/anus atau pada permukaan vagina
 Perdarahan yang tidak normal
 Vagina menjadi gatal dan panas.
Terlihat pada pria : ƒ
 Kutil pada penis, anus atau skrotum ƒ
 Kutil pada uretra (mungkin terjadi penurunan jumlah urin)

 LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN
• Gunakan kondom
• Jangan merokok
• Jangan berganti-ganti pasangan seks, satu lebih baik
• Lakukan tes pap minimal setahun sekali
Namun demikian, kondom tidak dapat mencegah penularan HPV secara
keseluruhan karena virus ini dapat menular melalui hubungan langsung dengan daerah
kulit yang terinfeksi yang tidak diliputi oleh kondom. Laki-laki dan perempuan yang
aktif secara seksual mungkin sebaiknya melakukan tes Pap secara berkala pada Vagina
dan/ atau dubur untuk mencari sel yang abnormal atau tanda awal kutil. Hasil positif
dapat ditindaklanjuti untuk mengetahui apakah pengobatan dibutuhkan.
 PENGOBATAN ATAU PENYEMBUHAN
Sebanyak 20 % kutil akan hilang/ sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Pengobatan dapat memindah/ mangangkat kutil atau sel abnormal tetapi tidak
melindungi/ menyembuhkan dari virus yang telah ada dalam tubuh kita. Obat seperti
Podophyllin, Asam tricloroasetat atau krim Aldara hanya dapat menyembuhkan kutil
yang terdapat di permukaan kulit saja. Penggunaan obat-obatan ini sebanyak satu atau
dua kali seminggu dapat membantu menghilangkan 60% kutil yang ada.