Anda di halaman 1dari 10

Nama peserta : Fatkul Gorib

NUPTK : 2549748650200022
Nomor Peserta : 17050453317009
Asal Sekolah : SMK Negeri Kudu
Kabupaten/Provinsi : Kab. Jombang, Jawa Timur

RANGKUMAN MATERI
BAB VI
SISTEM PENERIMA RADIO DAN PLAYER AUDIO

Radio Frekuensi AM dan FM


Ditinjau dari sistem modulasi terdapat 2 jenis radio penerima yaitu radio
AM dan FM. Modulasi merupakan pencampuran dua sinyal frekuensi tinggi sebagai
pembawa dan sinyal frekuensi audio sebagai informasi sehingga menghasilkan
bentuk gelombang baru (IF).
Radio AM (amplitudo mudulasi) yaitu sistem modulasi yang
menghasilkan sinyal keluaran amplitudonya bervariasi mengikuti variasi amplitudo
sinyal informasi (yang dibawa). Radio FM adalah radio yang menggunakan sistem
modulasi FM (Frekuensi Modulasi) yaitu sistem modulasi yang menghasilkan
sinyal keluaran frekuensinya bervariasi mengikuti variasi.
Frekuensi pembawa radio (AM) mempunyai cakupan 535 sampai 1605
kHz. Sedangkan radio FM mempunyai band dari 88 sampai 108 MHz. Perbedaan
modulasi amplitudo dan frekeunsi dapat dijelaskan dengan ilustrasi gambar 6-1.

Sinyal informasi audio Sinyal informasi audio

Frekuensi tinggi pembawa Frekuensi tinggi sinyal pembawa

Sinyal termodulasi AM Sinyal termodulasi FM


Gambar 6-1. Gelombang Termodulasi
Radio Penerima AM Heterodyne

Informasi bersama gelombang pembawanya (RF) yang datang pada


antena, diseleksi oleh rangkaian penala sampai didapat suatu sinyal RF tertentu
yang kemudian dicampur (dikonversikan) dengan satu sinyal RF yang berasal dari
osilator yang ada pada pesawat penerima sendiri. Pencampuran kedua sinyal RF
tersebut akan menghasilkan suatu sinyal selisih dari kedua sinyal tersebut, yang
biasanya disebut sinyal frekuensi menengah (IF) Hampir semua radio AM dibuat
dengan diagram rangkaian sebagai berikut.

Gambar 6-2. Penerima Radio AM Heterodin

Prinsip kerjanya dapat dijelaskan berikut ini :


a. Penala

Rangkaian Penala terdiri dari kumparan dan kapasitor variabel. Penguat


frekuensi tinggi sekaligus sebagai mixer transistor Q1. Hal ini dimaksudkan agar
berapapun frekuensi resonansi yang dihasilkan rangkaian penala, frekuensi
menengah akan tetap (455 KHz).

b. Sinyal menengah dilanjutkan ke penguat IF untuk diperkuat. Untuk mencapai


frekuensi tertentu tersebut disediakan rangkaian penala L variable, C berupa
trafo IFT2, IFT3 dan kapasitor.

c. Dari penguat IF sinyal diteruskan ke bagian detektor atau demodulator.


Rangkaian ini berfungsi untuk memisahkan frekeunsi tinggi (pembawa)
dengan sinyal audio (informasi). Rangkaian detektor berupa dioda. Sinyal
audio akan diperoleh karena pada rangkaian detector juga dilengkapi
kondenstor filter detector nilainya 0.01-0.05 mfd.

d. Sinyal keluaran dari rangkaian detektor berupa sinyal audio dengan amplitudo
yang lemah. agar mempunyai amplitudo yang cukup kuat untuk
menggerakkan speaker sehingga dapat direspon telinga manusia secara jelas.
Keluaran dari detektor audio sinyal dimasukkan ke penguat depan Audio
Amplifier untuk diteruskan ke penguat akhir melalui trafo. Sinyal keluaran
dari penguat depan menginduksi tegangan sekunder trafo kopling srhingga
memberi bias pada kedua base transistor penguatakhir. Pada saat sinyal
base Q5 lebih negatip transistor Q5 bekerja biasanya pada klas AB agar
tidak terjadi distorsi crossover dan pada perioda berikutnya. Mekanisme
perubahan sinyal audio dapat dilihat pada gambar di atas. Keluaran penguat
AF dilanjutkan ke speaker melalui kopling trafo. Speaker berfungsi
mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara yang dapat didengar telinga
manusia

Outpu
t

Inpu
t

Gambar 6-3. Penguat Audio Push Pull


Perawatan Radio
a. Pada saat radio bekerja jangan menutup ventilasi radio
b. Pada saat radio tidak bekerja tutup ventilasi radio.
c. Jika tidak digunakan dalam waktu yang lama, lepas baterai atau dari jala-
jala listrik

Perbaikan Radio Penerima AM


Alat yang diperlukan antara lain di bawah ini.
1. Multimeter
2. Obeng plastik
3. Tang lancip
4. Timah putih
5. Solder
6. Penyedot timah.

Melokalisir Kerusakan dan Mengganti komponen


a. Pasangkan masukan sinyal termodulasi pada bagian penala, ukur
tegangan pada titik keluaran dan masukan dari masing-masing blok.

Gambar 6-4. Radio AM Transistor

b. Bila pada salah satu terminal bentuk gelombang tidak sesuai, lakukan lokalisir
gangguan dengan malakukan pengukuran lebih intensif dengan multimeter.

c. Q1, Q2, Q3 dan Q4 bekerja pada klas A sehingga transistor berfungsi dengan baik
jika tegangan VCE mendekati ½ VCC.
d. Q5 dan Q6 bekerja pada klas AB, trasistor bekerja dengan baik jika VCE berada
pada 1/3 atau 2/3 VCC tergantung klas AB mendekati daerah saturasi atau cut off.
e. Setelah mengenali bagian yang diduga terjadi kerusakan, lakukan pengukuran
secara intensif yang dicurigai rusak mulailah dari komponen aktif.
f. Setelah diyakini salah satu komponen rusak, matikan radio.
g. Ganti komponen yang rusak dengan yang baik.
h. Yakinkan bahwa radio telah kembali kondisi baik, nyalakan dan tangkap salah
satu siaran stasiun pemancar.

Penerima Radio FM
Salah satu contoh rangkaian penerima FM heterodyne dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6-5. Radio Penerima FM Superheterodin


Sinyal pemancar ditangkap oleh antena dipole dan diteruskan melalui kabel
khusus ke dalam rangkaian masukan (UK). Dan dikuatkan dalam penguat HF dan
diteruskan ke mixer. Selanjutkannya mixer merubah sinyal tersebut menjadi
fekuensi sinyal menengah fm=10,7 MHz (nilai standar yang digunakan semua
penerima siaran stasiun FM). Sinyal IF dikuatkan dalam IF amplIfier dan diteruskan
ke pembatas amplitudo. dan diubah ke dalam bentuk sinyal audio pada penguat
audio dan speaker.

Reproduksi Suara Audio


1. Tape Recorder
Gambar 6-6. Head perekam tape

Selama playback, gerakan tape menarik medan magnet bervariasi melintasi celah.
Ini menciptakan suatu medan magnet yang bervariasi dalam inti dan oleh
karena itu terdapat sinyal dalam kumparan. Sinyal ini dikuatkan untuk
mengendalikan speaker. Dalam cassette player pada umumnya, terdapat dua
jalur elektromagnetik. Dua head merekam dua kanal dari audio stereo seperti
gambar 6-7.

Gambar 6-7. Posisi Head

1.1.Bagian Tape Perekam (Mekanik)

Pada gambar dibawah terdapat dua gigi yang melibatkan kumparan didalam kaset.
Gigi ini memutar salah satu kumparan untuk mengambil tape selama rekaman
atau playback, maju dan mundur cepat. Dibawah dua gigi terdapat dua buah
head. Head pada sisi kiri adalah head penghapus untuk menghapus sinyal
pada tape kaset hingga bersih, sebelum perekaman. Head yang berada
ditengah adalah untuk rekam dan playback berisi dua elektromagnetik tipis.
Pada sisi kanan capstan yang berfungsi mengangkat dan berputar serta pinch
roller (jepitan penggulung) dapat dilihat pada gambar 6-8.

Posisi capstan,pita dan pinch roller Capstan berputar pada kecepatan yang
sangat presisi untukmenarik tape melintasi head pada kecepatan yang tepat.
Standar kecepatan adalah 1 875 inchi perdetik (4,76 cm perdetik). Roller sederhana
menerapkan tekanan sedemikian sehingga tape ketat terhadap capstan.
Gambar 6-8. Posisi capstan, head dan Pinch roller

1.2.Cara Tape Recorder Bekerja

Gambar 6.9.Skema tape recorder


Dalam melakukan rekaman tape, langkah pertama adalah menghapus isi
rekaman sebelumnya. Untuk memenuhi ini, bias osilator akan Gambar 6-9. Skema
tape recorder membangkitkan arus yang digunakan untuk mengumpan head hapus.
Tujuannya adalah menetralkan kemagnetan yang mungkin masih ada pada tape.
Langkah berikutnya tergantung pada mesin perekam stereo atau mono.

1.3.Fitur Kaset
Pita kaset umumnya terbuat dari polyester tipe plastik film dengan lapisan
magnet. Bahan megnetik yang asli tersusun dari ferric oxide (Fe2O3). Sekitar tahun
1970, chromium dioxide (CrO2) dikenalkan oleh BASF dan lapisan magnet
magnetite (Fe3O4) untuk menghasilkan suara dengan kualitas sedang.
Panjang kaset umumnya diukur dalam satuan menit dari total waktu playback.
Jenis yang paling populer adalah C46 (dengan durasi 23 menit per side), C60
(durasi 30 menit per side), C90, dan C120. Ukuran Panjangnya kaset juga tersedia
dalam beberapa seri, termasuk C10 dan C15, C30, C50, C54, C64, C70, C74, C80,
C84, C100, C105, dan C110.
1.4.Perawatan Tape Reracorder
a. Baca dan pahami cara pengoperasian dengan benar.
b. Ikuti peringatan yang tertera pada player.
c. Jangan didekatkan dengan air atau benda cair.
d. Cabut kabel adaptor sebelum melakukan pembersihan. Gunakan kain
kering dan halus untuk membersihkannya
e. Jangan menaruh Cassete recorder ini di tempat yang panas misalnya
seperti terkena sinar matahari langsung

1.5.Kerusakan umum Tape Recorder

Bagian-bagian tape recorder yang sering mangalami kerusakan antara lain


sebagai berikut.
a. Mati total karena power supply tidak sampai pada sistem rangkaian tape rec.
b. LED indikator nyala tetapi tidak suara. Kemungkinan kerusakan preamp head,
IC power amplifier atau speaker yang rusak.
c. Keluar noise atau bass dan treble tidak ada, kemungkinan disebabkan head
kotor atau sudah aus dan harus diganti.
d. Suara tidak stabil, kemungkinan disebabkan oleh belt dalam roda motor DC
sudah mengendur. Bila diganti belt masih tetap maka motor DC perlu diganti.

2. Compact Disc

Track data pada CD dibuat dalam lintasan spiral melingkar dari tengah ke luar
CD, Jalur data dibuat dalam ukuran lebar kira-kira 0.5 mikron dengan jalur satu sama
lain dipisahkan jarak 1.6 mikron. Panjang gelombang laser 780 nm difokuskan pada
sisi data disk ke dalam suatu titik dengan diameter sekitar 1 mikron. Laser bergerak
dalam arah radial dengan kecepatan putaran disk dan scan lajur data untuk intensitas
dari cahaya yang direfleksikan. Sistem pembacaan data dan konversi ke dalam data
digital ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.
Gambar 6-10. Digitalisasi CD

2.1.Perkembangan CD Blue-Ray
CD Blue ray merupakan perkembangan perkembangan format disk, yang
dirancang dengan format high definition (HD) dengan berbagai kemampuan seperti
HD video playback, menulis (writing), dan merekam (recording)
Kelebihan blue ray anatara lain :
• Dapat mendukung video resolusi tinggi(HD)
• Kapasitas penyimpanan besar hingga 50 Gb
• Dapat melakuan pengcopyan data pada blue ray
• Kecepatan rekan cakram Blue-ray berkisar antara 72 hingga 288 megabyte
per detik.
2.2.Komponen CD Player
Drive terdiri dari tiga komponen dasar meliputi di bawah ini.
 Motor driver memutar disc pada putaran antara 200 dan 500 rpm
 Sistem laser dan lensa pemfokus pembaca bump.
 Penjejak alur menggerakkan susunan laser sehingga berkas laser dapat
mengikuti alur spiral pada resolusi micron.
Cara pengambilan data digital pada disc adalah dengan menggunakan sinar
laser. Sinar laser mengenai permukaan disc, sebagian dipantulkan kembali melewati
jalan yang sama. Beam splitter memisahkan laser pantulan ini dan mengarahkan ke
lensa detector terus ke foto detector. Pada foto detector energi laser diubah menjadi
energi potensial listrik

2.3.Trouble Shooting
Pencarian kerusakan pada CD player, dengan gejala yang ditunjukkan dapat
dilakukan pelacakan kerusakan berikut ini. .
a. CD Player mati/ LED indikator dan layar tidak nyala, lakukan
pengecekan pada:tegangan yang masuk dan rangkaian power suplay
b. Terdapat gambar pada layar monitor namun tanpa suara, lakukan
pengecekan:
1. kabel audio yang menuju ke TV, mungkin putus atau kurang connect.
2. bagian audio pada VCD, kemungkinan IC penguat rusak.
c. Suara macet-macet, lakukan pengecekan pada:Bagian optik CD
d. CD tidak bisa keluar, lakukan pengecekan pada bagian mekanik