Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CA BRONKO

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)

RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG

2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CA BRONKO

RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh:

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

STIKES ICME JOMBANG

Mengetahui,

Pembimbing Akademik PembimbingLahan

(………………………….) (………………………..)

Kepala Ruangan

(……………………….)

2
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Penatalaksanaan CA Bronko

Sasaran : Pasien, keluarga pasien

Tempat : Ruang 25 RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Hari/tanggal : Kamis, 07 juni 2018

Waktu : 30 menit

A. Latar Belakang
Ca Bronko merupakan penyebab tertinggi kematian di dunia.
Kanker paru-paru biasanya tidak dapat diobati, pengobatan mungkin hanya
dengan jalan pembedahan, dimana sekitar 13% dari pasien dengan
pembedahan mampu bertahan selama lima tahun. Metastasis penyakit
biasanya timbul, dan hanya 16% pasien yang penyakitnya dapat
dilokalisasi saat diagnosis. Dikarenakan terjadinya metastasis, maka
penatalaksanaan medis kanker paru-paru sering kali ditujukan untuk
mengatasi gejala (paliatif). Diperkirakan 85% dari kanker paru-paru terjadi
akibat merokok. Oleh karena itu, pencegahan yang paling baik adalah
“jangan memulai merokok”.
Prevalensi kanker paru di Negara maju sangat tinggi, di USA tahun
2015 dilaporkan 173.000/tahun di Inggris 40.000/tahun, sedangkan di
Indonesia menduduki peringkat peringkat 4 kanker terbanyak. Di Negara
berkembang lain dilaporkan insidensinya naik dengan cepat, antara lain
karena konsumsi rokok berlebihan seperti di Cina yang mengkonsumsi
30% rokok dunia. Sebagian besar kanker paru mengenai pria (65%)
Prognosis keseluruhan bagi pasien karsinoma bronkogenik adalah
buruk (kelangsungan hidup 5 tahun 14%; American cancer Society, 2015)
dan hanya sedikit meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun
telah diperkenalkan berbagai agen-agen kemoterapi yang baru. Dengan
demikian, penekanan harus diberikan pada pencegahan. Tenaga-tenaga

3
kesehatan harus menganjurkan masyarakat untuk tidak merokok atau
hidup dalam lingkungan yang tercemar polusi industry. (Sylvia A. Price,
2016: 849)

B. Tujuan Instruktusional
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan tentang Ca Bronko selama 30 menit
diharapkan peserta/keluarga pasien mampu memahami tentang
penyakit Ca Bronko.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta/keluarga pasien
mampu menyebutkan pengertian Ca Bronko, faktor penyebab, tanda
gejala, pencegahan dan penanganan Ca Bronko.

C. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian atau definisi penyakit Ca Bronko
2. Faktor-faktor penyebab penyakit Ca Bronko
3. Tanda dan gejala penyakit Ca Bronko
4. Pencegahan dari penyakit Ca Bronko
5. Penanganan Ca Bronko
D. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah pasien, keluarga pasien.
E. Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan adalah Power Point, Laptop,
dan LCD.
G. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Metode Media
Pembukan  Membuka dengan  Menjawab Ceramah -
(5 Menit) salam salam
 Memperkenalkan Mendengarkan

4
diri Memperhatikan
 Menjelaskan Menjawab
maksud dan pertanyaan
tujuan penyuluhan
 Melakukan kontrak
waktu
 Menanyakan
kepada peserta
tentang materi yang
akan
disampaikan
Penyajian  Menjelaskan materi Mendengarkan Ceramah Power
(15 menit) tentang Ca Bronko Memberikan Tanya Point
Memberi tanggapan dan Jawab
kesempatan pada pertanyaan
peserta untuk mengenai hal
bertanya/berdiskusi yang kurang
tentang dimengerti
materi penyuluhan
Penutup Menanyakan Menjawab Ceramah Power
(10 menit) pengetahuan audiens pertanyaan Tanya Point
setelah dilakukan Memberikan Jawab
penyuluhan tanggapan baik
Menyimpulkan hasil
kegiatan
penyuluhan
Menutup dengan
salam

5
H. Kriteria Pemantauan dan Evaluasi
1. Pemantauan
a. Input
 Kegiatan penyuluhan dihadiri oleh minimal 15 peserta
 Media penyuluhan yang digunakan adalah LCD, Laptop dan
Power Point
 Paket penyuluhan sesuai dengan SPO dan Up to Date
 Waktu Kegiatan Penyuluhan adalah 30 menit
 Tempat penyuluhan adalah di ruang Penyuluhan
 Pengorganisasian penyuluhan disiapkan beberapa hari sebelum
kegiatan penyuluhan
b. Proses
 Peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan
penyuluhan
 Tidak ada peserta yang meninggalkan kegiatan penyuluhan
 Narasumber menguasai materi dengan baik
c. Output
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan peserta mengerti dan
memahami materi penyuluhan.
d. Outcome
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan ada perubahan perilaku
kesehatan yang lebih baik.
2. Evaluasi
Promosi Kesehatan Rumah Sakit untuk mengetahui efektifitas PKRS
terhadap indikator dampak (dampak dari program seperti peningkatan
PHBS)

6
Lampiran Materi Penyuluhan

CA BRONCO

1. Pengertian Ca Bronko
 Karsinoma Bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal
dari saluran nafas (Hood Al sagaff, dkk).
 Karsinoma bronkogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau
lesi primer. Tumor ganas dapat ditemukan di bagian tubuh mana saja.
Metastasis pada kolon dan ginjal merupakan tumor ganas yang paling
sering ditemukan di klinik, keduanya dapat menyebabkan tumor paru.
Metastasis tumor paru sering ditemukan terlebih dahulu sebelum lesi
primernya diketahui. Hal yang berbahaya adalah pada keadaan klinis
lokasi lesi primer sering tidak diketahui selama hidup klien (Muttaqin,
2007).
 Kanker paru adalah penyakit yang disebabkan oleh karsinogen dan zat
promotor tumor yang masuk ke dalam tubuh melalui kebisaan merokok.
(Irman Somantri, 2016)
2. Penyebab
Seperti kanker pada umumnya, etiologi yang pasti dari karsinoma
bronkogenik masih belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi
jangka panjang dari bahan karsinogenik merupakan faktor utama, tanpa
mengesampingkan kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga
ataupun suku bangsa/ras serta status immunologis. Beberapa zat
karsinogen tersebut antara lain:
1) Rokok Tembakau
Merupakan kandungan ‘tar’, suatu persenyawaan hidrokarbon
aromatic polisiklik ( risiko meningkat 60-70 kali lipat untuk seseorang
yang merokok dua pak sehari selama 20 tahun dibandingkan individu
bukan perokok). Tak diragukan lagi merokok merupakan faktor
utama.Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara
perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru
(karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung

7
sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang
perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya
akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10
tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam tar dari
tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan
tumor.
2) Polusi Udara
Banyak sekali polusi udara yang dapat menyebabkan kanker
paruparu, diantaranya sulfur, emisi kendaraan bermotor, dan polutan
yang berasal dari pabrik.
3) Asap Pabrik / Industri/ Tambang
4) Debu Radioaktif/ Ledakan Nuklir (rado)
Beberapa zat kimia antara lain asbes, arsen, krom, nikel, besi, uranium.
5) Pengaruh Penyakit Lain
Tuberkulosi paru banyak dikaitkan sebagai faktor predisposisi
karsinoma bronkogenik, melalui mekanisme hyperplasi - metaplasi -
karsinoma insitukarsinoma - bronkogenik sebagai akibat adanya
jaringan parut tuberkulosis.
6) Pengaruh Genetik dan Status imunologis
Pada tahun 1954, Tokuhotu dapat membuktikan adanya pengaruh
keturunan yang terlepas daripada faktor paparan lingkungan, hal ini
membuka pendapat bahwa karsinoma bronkogenik dapat diturunkan.
Penelitian akhir-akhir ini condong bahwa faktor yang terlibat dengan
enzim Aryl Hidrokarbon Hidroksilase (AHH). Status immonologis
penderita yang dipantau dari cellular mediated menunjukan adanya
korelasi antara derajat deferensiasi sel, stadia penyakit, tanggapan
terhadap pengobatan serta prognosis. Penderita yang energi umumnya
tidak memberikan tanggapan terhadap pengobatan dan lebih cepat
meninggal.

8
3. Tanda dan Gejala
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukan gejala-
gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien sudah dalam
stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
1) Lokal (tumor tumbuh setempat):
 Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronik
 Hemoptisis
 Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas.
 Kadang terdapat kavitas seperti abses paru

2) Invasi Lokal:
 Nyeri dada
 Dispneu karena efusi Pleura
 Invansi ke pericardiumterjadi tamponade atau aritmia
 Sindrom vena cava superior
 Sindrom horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
 Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal
 recurrent
 Sindrom Pancoast, karena invansi pada fleksus brankialis
 dan saraf simpatis servikalis
3) Gejala Penyakit Metastasis:
 Pada otak, tulang, hati, adrenal
 Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai
metastasis)
4) Sindrom Paraneoplastik
Terdapat pada 10 % kanker paru, dengan gejala:
 Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam.
 Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi.
 Hipertrofi osteo artropati
 Neurulogik: demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer.
 Neuromiopati
 Endokrin: sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)

9
 Dermatologik: eritemamultiform, hyperkeratosis
5) Asimtomatik dengan Kelainan Radiologis
 Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi
secara radiologis
 Kelainan berupa nodul soliter
4. Pencegahan
a. Mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok
b. Menghindari kontak langsung dengan polusi udara (polutan dari
pabrik, asap kendaraan bermotor)
c. Menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan kebutuhan (pekerja
yang terpajan asbes, asap pabrik/ industri)
d. Mengonsumsi vitamin A yang cukup bagi tubuh.
5. Penanganan
 Penatalaksanaan Nonbedah
a. Terapi Oksigen
Jika terjadi hipoksemia perawat dapat memberikan oksigen via
masker/ nasal kanula sesuai dengan permintaan.
b. Terapi Obat
Jika klien mengalami bronkospasme dokter dapat memberikan obat
golongan bronkodilator (seperti pada klien asma)dan kartikosterid
untuk mengurangi bronkospasme,inflamasi dan edema.
c. Kemoterapi
kemoterapi merupakan pilihan pengobatan pada klien dengan kanker
paru, terutama pada small cell ling cancer karena metastasis.
Kemoterapi dapat juga digunakan bersamaan dengan terapi bedah.
Obat-obat kemoterapi yang biasanya diberikan untuk menangani
kanker, tumor, termasuk kombinasi dari obatobat tersebut.

10
Persiapan Kemoterapi :
 Konsultasi yang detail kepada dokter onkologi
 Hasil test dari laboratorium :
o Hemoglobin (HB) 11.4-15.1 g/dL
o SGOT 0-40 U/L
o SGPT 0-41 U/L
o Ureum16.6-48.5 mg/dL
o Kreatinin <1.2 mg/dL
 Persiapkan obat-obat untuk meringankan efek samping
 Persiapkan makanan yang dapat mengurangi efek samping
kemoterapi

Macam-macam kemoterapi :
 Topikal. Digunakan melalui krim yang dioleskan pada kulit.

 Oral. Kemoterapi dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan yang


diminum.

 Suntik. Diberikan melalui suntikan pada otot atau lapisan lemak


misalnya di lengan atau perut.

 Intraperitoneal (IP). Kemoterapi langsung diberikan ke dalam


rongga perut yang terdapat usus, hati, dan lambung di dalamnya.

 Intra-arteri (IA). Kemoterapi langsung dimasukkan ke dalam


arteri yang menyalurkan darah ke kanker.

 Intravenous (IV). Kemoterapi langsung dimasukkan ke pembuluh


darah vena.

Efek Samping kemoterapi :


 Rambut rontok.
 Kehilangan nafsu makan.
 Sesak napas dan detak jantung tidak biasa akibat anemia.
 Mual dan muntah.
 Mimisan.
 Kulit kering dan terasa perih
 Gampang memar.
 Gusi berdarah.
 Sulit tidur.
 Gairah seksual menurun.

11
 Rasa lelah dan lemah sepanjang hari.
 Konstipasi atau diare

d. Imunoterapi
Banyak klien kanker paru mengalami gangguan imun. Obat
imunoterapi (cytokin) biasa di berikan.
e. Terapi Radiasi
Terapi dilakukan dengan indikasi sebagai berikut :

・ Klien tumor paru yang operable tetapi risiko jika dilakukan

pembedahan

・ Klien adenokarsinoma/ sel skuomosa inoperable yang mengalami

pembesaran kelenjar getah bening pada hilus ipsilateral dan


mediastinal.

・ Klien dengan Ca. Bronkus dengan oat cell.

・ Klien kambuhan sesudah lobektomi atau pneumonektomi.

 Penatalaksanaan Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain,
untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara
mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak
terkena kanker.
a. Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau
toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
b. Pneumonektomi pengangkatan paru
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua
lesi bisa diangkat.
c. Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus,
bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi
jamur; tumor jinak tuberkulois.

12
d. Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
e. Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit
peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari
permukaan paru-paru berbentuk baji (potongan es).
f. Dekortikasi. Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari
pleura viscelaris)

13
DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga, 2014. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Kementerian Kesehatan RI. 2017. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran
Kanker Paru. Kementerian Kesehatan RI.
Price, Sylvia A. 2013. Patofisiologi Volume 2. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzzane C dan Brenda G. Bare. 2015. Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth Volume 1. Jakarta :EGC.
Soemantri, Irman. 2014. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai
Penerbit FKUI : Jakarta.

14