Anda di halaman 1dari 2

Nama : dr.

Dian Fikri Rachmawan


TTL : Tulungagung, 5 Agustus 1991
Alamat : Green Lawu Residence A 12A, Jl. Lawu, Nologaten, Ponorogo

WASPADA ISPA PADA ANAK DI MUSIM HUJAN

Musim penghujan seringkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama untuk anak.
Salah satu permasalahan kesehatan yang sering dijumpai adalah infeksi saluran pernapasan
akut atau lebih dikenal dengan ISPA. ISPA merupakan peradangan akut pada saluran
pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun riketsia,
tanpa atau disertai peradangan paru. Saluran pernapasan bagian atas meliputi hidung, mulut,
tenggorokan. Sedangkan saluran pernapasan bagian bawah meliputi bronkus dan cabang
terkecil bronkus (bronkiolus). Saluran pernapasan sendiri selalu terpapar dengan dunia luar
sehingga dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan saluran
pernapasan terhadap infeksi sangat tergantung pada 3 unsur alami yang selalu terdapat pada
orang sehat, yakni: keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, serta
antibodi setempat. Bila kita berbicara anak, balita, atau bayi, antibodi setempat inilah yang
sering menjadi pemicu seringnya ISPA terjadi pada usia anak. IgA (imunoglobulin tipe A)
merupakan antibodi setempat yang banyak dijumpai di mukosa saluran pernapasan pada usia
dewasa, tetapi sedikit pada usia anak, balita, atau bayi. Kondisi tersebut mengakibatkan
kekebalan alamiah terhadap infeksi kurang pada usia anak, balita, atau bayi. Akibatnya akan
tampak gambaran klinis yang lebih jelek pada usia anak, balita, atau bayi. Gambaran klinis
secara umum yang sering didapatkan pada pasien ISPA antara lain: rinitis (hidung berair atau
tersumbat), nyeri tenggorokan, batuk-batuk dengan dahak kuning atau putih kental, nyeri di
daerah dada atau mata yang diserta mata kemerahan. Suhu badan akan meningkat selama 4-7
hari, disertai malaise (kelemahan badan), nyeri badan, nyeri kepala, hilang nafsu makan atau
menyusu, mual, muntah, dan sulit tidur. Terkadang juga terdapat diare. Orang tua yang
melihat anaknya mengalami gejala tersebut hendaknya lebih waspada. ISPA sendiri
seringkali penyebabnya virus walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi infeksi sekunder
oleh bakteri atau riketsia. Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan khusus anti virus,
sehingga bagi para orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang berkompeten
untuk penanganan ISPA yang tepat. Pengobatan simtomatik (mengobati gejala) dan [aliatif
(mengurangi kesakitan), seperti penurun demam, pengencer dahak, penekan pusat batuk,
pereda nyeri tenggorokan, dsb disertai peningkatan asupan gizi dan istirahat menjadi pilihan
utama pada ISPA karena virus. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi infeksi sekunder
bakteri pada ISPA, sehingga diperlukan pemberian antibiotik yang tepat. ISPA, terutama
akibat infeksi virus, akan sembuh sendiri bila masa infeksinya berlalu. Namun akan lebih
baik bagi setiap orang tua mencegah anaknya untuk tidak terinfeksi ISPA, terutama di musim
penghujan. Banyak cara yang dapat dilakukan dengan tujuan meningkatkan kekbalan tubuh
anak terhadapat infeksi, seperti: meningkatkan asupan gizi cukup seimbang, aktivitas cukup,
istirahat cukup, konsumsi vitamin, dan bila perlu dapat dilakukan pemberian vaksinasi
influenza. Pemberian vaksinasi influenza tidak dapat diberikan pada anak-anak yang
mempunyai penyakit defisiensi sistem imun. Konsultasikan lebih lengkap untuk pemberian
vaksin kepada dokter anak anda.