Anda di halaman 1dari 10

I.

Tujuan Dan Manfaat Standar Akuntansi

Standar akuntansi adalah metode yang seragam untuk menyajikan informasi, sehingga
laporan keuangan dari berbagai perusahaan yang berbeda dapat dibandingkan dengan lebih
mudah kumpulan konsep, standar, prosedur, metode, konvensi, kebiasaan, dan praktik yang
dipilih dan dianggap berterima umum. Dengan adanya standar akuntansi yang baik, laporan
keuangan menjadi lebih berguna, dapat dibandingkan, tidak menyesatkan dan dapat menciptakan
transparansi bagi perusahaan.

Belkaoui (1985) mengemukakan alasan pentingnya standar akuntansi yang relevan sebagai
berikut:

a) Dapat menyajikan informasi tentang posisi keuangan, prestasi, dan kegiatan perusahaan.
Informasi yang disusun berdasarkan standar akuntansi yang lazim diharapkan
mempunyai sifat yang jelas, konsisten, terpercaya, dan dapat diperbandingkan.
b) Memberi pedoman dan peraturan bekerja bagi akuntan publik agar mereka dapat
melaksanakan tugas dengan hati-hati, independen, dan dapat mengabdikan keahliannya
dan kejujurannya melalui penyusanan laporan akuntan setelah melalui pemeriksaan
akuntan.
c) Memberikan database kepada regulator tentang berbagai informasi yang dianggap
penting dalam perhitungan pajak, peraturan tentang perusahaan, perencanaan dan
pengaturan ekonomi, dan peningkatan efisiensi ekonomi serta tujuan-tujuan makro
lainnya.
d) Dapat menarik perhatian para ahli dan praktisi di bidang teori dan standar akuntansi.
Semakin banyak standar yang dikeluarkan, semakin banyak kontroversi dan semakin
bergairah untuk berdebat, berpolemik, dan melakukan penelitian.

II. Lembaga-Lembaga Penyusun Standar Akuntansi di Indonesia, USA, dan Internasional

A. IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dan Sejarahnya

Pada waktu Indonesia merdeka, hanya ada satu orang akuntan pribumi, yaitu Prof. Dr.
Abutari, sedangkan Prof. Soemardjo lulus pendidikan akuntan di negeri Belanda pada tahun

1
1956. Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan dalam negeri adalah Basuki Siddharta,
Hendra Darmawan, Tan Tong Djoe, dan Go Tie Siem, mereka lulus pertengahan tahun 1957.
Keempat akuntan ini bersama dengan Prof. Soemardjo mengambil prakarsa mendirikan
perkumpulan akuntan untuk bangsa Indonesia saja. Alasannya, mereka tidak mungkin menjadi
anggota NIVA (Nederlands Institute Van Accountants) atau VAGA (Vereniging Academisch
Gevormde Accountants). Mereka menyadari keindonesiaannya dan berpendapat tidak mungkin
kedua lembaga itu akan memikirkan perkembangan dan pembinaan akuntan Indonesia.
Hari Kamis, 17 Oktober 1957, kelima akuntan tadi mengadakan pertemuan di aula
Universitas Indonesia (UI) dan bersepakat untuk mendirikan perkumpulan akuntan Indonesia.
Karena pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh semua akuntan yang ada maka diputuskan
membentuk Panitia Persiapan Pendirian Perkumpulan Akuntan Indonesia. Panitia diminta
menghubungi akuntan lainnya untuk menanyakan pendapat mereka. Dalam Panitia itu Prof.
Soemardjo duduk sebagai ketua, Go Tie Siem sebagai penulis, Basuki Siddharta sebagai
bendahara sedangkan Hendra Darmawan dan Tan Tong Djoe sebagai komisaris. Surat yang
dikirimkan Panitia kepada 6 akuntan lainnya memperoleh jawaban setuju.
Perkumpulan yang akhirnya diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akhirnya berdiri
pada 23 Desember 1957, yaitu pada pertemuan ketiga yang diadakan di aula UI pada pukul
19.30.
Susunan pengurus pertama terdiri dari:
Ketua Prof. Dr. Soemardjo Tjitrosidojo
Panitera Drs. Mr. Go Tie Siem
Bendahara Drs. Sie Bing Tat (Basuki Siddharta)
Komisaris Dr. Tan Tong Djoe
Drs. Oey Kwie Tek (Hendra Darmawan)

Keenam akuntan lainnya sebagai pendiri IAI adalah :


1. Prof. Dr. Abutari
2. Tio Po Tjiang
3. Tan Eng Oen
4. Tang Siu Tjhan
5. Liem Kwie Liang

2
6. The Tik Him

Konsep Anggaran Dasar IAI yang pertama diselesaikan pada 15 Mei 1958 dan naskah
finalnya selesai pada 19 Oktober 1958. Menteri Kehakiman mengesahkannya pada 11 Februari
1959. Namun demikian, tanggal pendirian IAI ditetapkan pada 23 Desember 1957. Ketika itu,
tujuan IAI adalah:
1. Membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan akuntan.
2. Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan.
Sejak pendiriannya 49 tahun lalu, kini IAI telah mengalami perkembangan yang sangat
luas. Hal ini merupakan perkembangan yang wajar karena profesi akuntan tidak dapat dipisahkan
dari dunia usaha yang mengalami perkembangan pesat. Salah satu bentuk perkembangan tersebut
adalah meluasnya orientasi kegiatan profesi, tidak lagi semata-mata di bidang pendidikan
akuntansi dan mutu pekerjaan akuntan, tetapi juga upaya-upaya untuk meningkatkan
kepercayaan masyarakat dan peran dalam perumusan kebijakan public.

B. FASB (Financial Accounting Standards Board) dan Sejarahnya

FASB-Financial Accounting Standards Board) (Badan Standar Akuntansi Keuangan)


menggantikan APB di tahun 1973 sebagai badan yang bertanggungjawab untuk membuat standar
akuntansi. Dihapuskannya APB adalah karena factor – factor utama berikut ini :
 Terus berlangsungnya alternative-alternatif perlakuan akuntansi yang memungkinkan
perusahaan-perusahaan untuk menunjukkan tingkat laba per saham yang lebih tinggi,
khususnya sebagai akibat dari penggabungan perusahaan dan akuisisi.
 Kurangnya perlakuan akuntansi yang memadai untuk masalah-masalah akuntansi baru
seperti kredit pajak investasi, akuntansi untuk industry waralaba, bisnis pengembangan
tanah dan sewa guna usaha jangka panjang
 Sejumlah kasus kecurangan (fraud) dan tuntutan hukum yang melibatkan metode-metode
akuntansi, yang tidak mampu mengungkapkan informasi-informasi yang relevan di
kebanyakan kasus
 Kegagalan APB dalam mengembangkan suatu kerangka konseptual.

3
Setelah menyelidiki situs ini, sebuah komite yang ditunjuk oleh AICPA, yang dikenal
sebagai Wheat Committee, mengusulkan suatu struktur baru dalam penetapan standar akuntansi.
Usulan struktur yang baru ini dibentuk dari sebuah organisasi nirlaba, Financial Accounting
Foundation (FAF), yang akan mengoperasikan FASB dan disponsori secara bersama oleh lima
kelompok yang berkepentingan:

1. The Financial Executive Insititute;


2. The National Association of Accountants;
3. The American Accounting Association;
4. The Financial Analysts Federation;
5. The Security Industry Association.

Struktur FASB digambarkan dalam tampilan dibawah ini.

American Institute
Menunjuk
Menunjuk dan Menandai Financial of Certified Public
Accounting Accountants
Foundation (AICPA)
Dewan Direksi

Financial Accounting Financial


Standards Advisory Accounting Menunjuk Gugus Tugas dari
Council (kurang lebih Standards Board
Standards Board
dua puluh orang (tujuh orang
anggota) anggota)

Staf Administrasi Staf Riset

4
FASB adalah badan independen yang berwenang dan ditugaskan untuk menetapkan dan
meningkatkan standar pelaporan dan akuntansi keuangan yaitu, standar-standar yang
berhubungan dengan pencatatan informasi yang bermakna mengenai peristiwa-peristiwa dan
transaksi-transaksi ekonomi dalam cara yang berguna dalam laporan keuangan. Para anggota
FASB diasumsikan mewakili pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalan akuntansi keuangan.
Lebih spesifik lagi, empat orang anggota FASB adalah para CPA dalam praktik public, dan tiga
orang anggota berasal dari bidang-bidang yang berhubungan dengan akuntansi (pemerintahan,
industry, dan pendidikan0. Berbeda dari para perusahaan, atau institusi, anggota FASB
diharuskan untuk memutuskan hubungan-hubungan seperti itu. Para anggota FASB adalah
anggota yang dibayar dengan baik dan dipekerjakan penuh selama jangka waktu lima tahun dan
dapat ditunjuk kembali. Representasi yang lebih luas, meningkatnya independensi, dan jumlah
anggota penuh waktu yang lebih kecil serta mendapat bayaran ini seharusnya akan membuat
FASB lebih sukses daripada APB.

Hubungan profesi akuntansi terhadap FASB diklasifikasikan oleh Rule 203 dari kode etik
professional AICPA, yang menyatakan bahwa setiap anggota AICPA tidak diperkenankan untuk
memberikan opini bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum jika laporan-laporan tersebut menyimpang dari FASB
Statement atau interpretasinya atau Opini APB atau Accounting Research Bulletin, kecuali jika
anggota tersebut dapat menunjukkan bahwa, dikarenakan oleh kondisi yang luar biasa, laporan
keuangan tersebut tidak akan menyesatkan. Rule 203 merupakan suatu dukungan atas FASB,
dengan syarat yang menyebutkan bahwa, dalam kondisi yang luar biasa, kepatuhan harfiah
terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum yang dikeluarkan oleh badan penyusun
standar yang diakui dan dianggap mengikat mungkin tidak dapat sepenuhnya memastikan bahwa
laporan keuangan telah disajikan secara wajar.

Sejak didirikan, FASB telah menerapkan prosedur proses sebagai berikut:

1. Suatu masalah pelaporan akan diidentifikasi dan ditempatkan dalam agenda Dewan.
2. Menunjuk sebuah gugus tugas yang terdiri atas sekelompok individu di masyarakat
akuntansi dan bisnis yang memiliki pengetahuan. Staf teknis FASB, dalam berkonsultasi
dengan gugus tugas tersebut, menyiapkan suatu Discussion Memorandum (DM)

5
mengenai masalah pelaporan tersebut. DM ini akan mengekspos pertanyaan-pertanyaan
utama dan alternatif-alternatif yang dapat dipertimbangkan oleh Dewan.
3. DM juga tersedia bagi masyarakat untuk diperiksa selama jangka waktu paling sedikit
enam puluh hari.
4. Mengadakan suatu rapat dengan opini untuk umum, dimana sudut pandang yang
berkaitan dengan kebaikan dan kelemahan dari berbagai kemungkinan posisi selanjutnya
akan disajikan kepada Dewan.
5. Berdasarkan atas komentar-komentar yang diterima, baik lisan maupun tulisan, Dewan
akan menerbitkan Draf Eksposur (Exposure Draft-ED) dari Usulan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan. Tidak seperti DM, ED mencantumkan posisi yang pasti dari
Dewan atas masalah pelaporan tersebut.
6. ED akan tersedia bagi masyarakat untuk diperiksa selama jangka waktu paling sedikit
tiga puluh hari.
7. Sebuah rapat dengar opini lain akan diadakan, di mana sudut pandang yang berkaitan
dengan kebaikan dan batasan-batasan dari posisi yang dinyatakan dalam ED akan
disajikan kepada Dewan.
8. Berdasarkan atas komentar-komentar yang diterima, baik lisan maupun tulisan, setelah
diterbitkannya ED, Dewan dapat mengambil salah satu tindakan berikut ini:
a. Mengadopsi standar yang diusulkan sebagai Standar Pernyataan Akuntansi
Keuangan (Statement of Financial Accounting Standards-SFAS) resmi.
b. Mengusulkan revisi dari standar yang diusulkan, sekali lagi dengan mengikuti
prosedur proses yang seharusnya.
c. Menunda penerbitan standard dan tetap mencantumkan permasalahan dalam
agenda.
d. Tidak menerbitkan standar dan menghapuskan permasalahan dari agenda.

Partisipasi masyarakat tidak mengubah kenyataan bahwa keputusan nyata sehubungan dengan
standar akuntansi akan dibuat oleh para anggota FASB.

Terdapat beberapa fitur penting yang memungkinkan orang-orang dengan berbagai


kepentingan yang berbeda memengaruhi FASB dan pembuatan kebijakan.

6
1. Fitur pertama adalah pelibatan parsial di mana orang-orang berpartisipasi dalam aktivitas
FASB hanya dalam basis segmental atau parsial dan juga menjadi anggota dari banyak
organisasi lain.
2. Fitur kedua adalah partisipasi bebas di mana para partisipan dalam aktivitas FASB akan
memiliki perbedaan di berapa banyak waktu dan usaha yang mereka berikan kepada
aktivitas FASB.
3. Fitur ketiga adalah informasi asimetris di mana beberapa partisipan dalam aktivitas
FASB mempunyai pengetahuan akan masalah pelaporan dan akuntansi keuangan yang
lebih mendalam dibandingkan yang lainnya.
4. Fitur keempat adalah kondisi-kondisi pembatasan di mana para partisipan dalam aktivitas
FASB melintasi batasan antara FASB dengan organisasi-organisasi dan kelompok-
kelompok sosial lain.
5. Fitur kelima adalah kesempatan untuk memengaruhi dan oportunisme di mana orang-
orang yang berpartisipasi dalam aktivitas FASB atas basis parsial dan bebas memiliki
informasi yang berbeda, dan beroperasi dalam batasan organisasi yang kemungkinan
akan memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruhnya dan oportunisme.

FASB merupakan salah satu organisasi yang memberikan panduan standar untuk
pelaporan keuangan. Anggota FASB berjumlah 7 orang yang masing-masing diangkat untuk
waktu 5 tahun dan menjabat maksimum 2 periode. Selama menjadi anggota FASB, mereka harus
independen dan tidak boleh ada konflik interest antara anggota secara pribadi dengan public
interest. Latar belakang seorang anggota FASB adalah pengetahuan akuntansi, finance dan bisnis
serta memiliki perhatian serius terhadap kepentingan publik. Misi dari Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (FASB) adalah untuk membangun dan meningkatkan standar akuntansi
keuangan dan pelaporan untuk bimbingan dan pendidikan masyarakat, termasuk emiten, auditor
dan pengguna informasi keuangan. Untuk mencapai misinya, yang FASB bertindak untuk
meningkatkan manfaat pelaporan keuangan dengan berfokus pada karakteristik utama relevansi
dan kehandalan dan kualitas komparatif dan konsistensi; menjauhkan standar saat ini untuk
mencerminkan perubahan dalam cara melakukan usaha dan perubahan dalam lingkungan
ekonomi; mempertimbangkan segera setiap daerah yang signifikan kekurangan dalam pelaporan
keuangan yang dapat ditingkatkan melalui proses penetapan standar; menggalakkan konvergensi
standar akuntansi internasional bersamaan dengan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan;

7
dan meningkatkan pemahaman umum tentang sifat dan tujuan informasi yang terkandung dalam
laporan keuangan.
FASB mengembangkan konsep akuntansi yang luas serta standar untuk pelaporan
keuangan. Hal ini juga memberikan panduan tentang penerapan standar. Konsep berguna dalam
membimbing Dewan dalam pembentukan standar dan dalam memberikan kerangka acuan atau
kerangka kerja konseptual, menetapkan batas – batas yan wajar untuk penilaian dalam penyajian
informasi keuangan dan untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan, informasi keuangan
pada bagian pengguna dari laporan keuangan. Ini juga akan membantu masyarakat untuk
memahami sifat dan keterbatasan informasi yang diberikan oleh pelaporan keuangan.

C. IASB dan Sejarahnya

Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), dahulu IASC, merupakan badan pembuat
standar sektor swasta yang independen yang didirikan pada tahun 1973 oleh organisasi akuntansi
profesional di sembilan negara dan direstrukturisasi pada tahun 2001. Reorganisasi tersebut
membuat IASC ke dalam suatu organisasi payung yang dibawahnya mengeluarkan 41 Standar
Akuntansi Internasional (IAS) dan sebuah Kerangka Dasar untuk Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan. Adapun tujuan IASB adalah:
1. Untuk mengembangkan dalam kepentingan umum, satu set standar akuntansi
global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diterapkan yang mewajibkan informasi
yang berkualitas tinggi, transparan, dan dapat dibandingkan dalam laporan keuangan dan
pelaporan keuangan lainnya untuk membantu para partisipan dalam pasar modal dunia dan
pengguna lainnya dalam membuat keputusan tertentu.
2. Untuk mendorong penggunaan dan penerapan standar-standar tersebut yang ketat.
3. Untuk membawa konvergensi standar akuntansi nasional dan Standar Akuntansi
Internasional dan Standar Pelaporan Keuangan Internasional ke arah solusi berkualitas tinggi.

III. Tahapan-Tahapan Proses Penetapan Standar Akuntansi


A. Penentuan Standar
Penentuan standar merupakan pilihan sosial sehingga suatu standar mungkin bermanfaat
bagi pihak tertentu dan merugikan pihak lain. Kebanyakan isu-isu yang berkaitan dengan

8
akuntansi secara politik bersifat sensitif yang disebabkan karena kebutuhan terhadap standar
akuntansi muncul bila terdapat pertentangan maupun informasi akuntansi dapat mempengaruhi
tingkat kemakmuran penggunaannya
Dalam menentukan standar ada dua pendekatan, yaitu:
 Rrepresentative Faithfulness, pendekatan ini menghendaki pelaporan yang
bersifat netral dan penyajian wajar laporan keuangan melalui proses penentuan standar.
Pendekatan ini menyamakan akuntansi dengan proses pemetaan dimana peta harus dibuat akurat
dengan menggambarkan keadaan keuangan perusahaan secara wajar.
 Economic Consequences, pendekatan ini menghendaki asopsi standar yang
memiliki konsekwensi ekonomi menguntungkan. Pendekatan ini cenderung mengarah penentuan
standar yang meemiliki pengaruh positif.

B. Proses Penentuan Standar


Biasanya proses penentuan standar dilakukan melalui proses terbuka (due-procees).
FASB sebagai contoh dalam proses ini mengikuti prosedur sebagai berikut: (1) Identifikasi
masalah dari masalah yang muncul di catat dalam agendanya; (2) Penunjukkan group yang
anggotanya terdiri dari masyarakat akuntansi dan bisnis; (3) Discussion Memrorandum (DM) di
sebarkan kepublik untuk di evaluasi selama satu periode paling lambat 60 hari; (4) Dengan
pendapat dilakukan untuk membahas keunggulan dan kelemahan berbagai alternatif yang
diajukan FASB; (5) Atas berbagai komnentar yang diterima, FASB mengeluarkan “exposure
draft” (ED) mengenai standaar akuntansi yang diajukan. ED menentukan posisi yang pasti dari
FASB tentang masalah yang dibahas; (6) ED disebar luaskan ke masyarakat untuk di evaluasi
paling lambat 30 hari; (7) Dengan pendapat untuk membahas kelemahan dan kebaikan berbagai
alternatif yang diajukan FASB; (8) Atas dasar berbagai komentar yang diterima, maka FASB
mengambil langkah sebagai berikut:
(a) Mengadopsi standar tersebut sebagai pernyataan resmi, (b) Mengajukan revisi terhadap
standar yang diusulkan melalui prosedur “due process”, (c) Menunda pengeluaran standar dan
menyimpan masalah dalan agenda, (d) Tidak mengeluarkan standar dan menghapus isu dari
agenda.

9
C. Pendekatan Penentuan Standar
Dua pendekatan yang dapat digunakan dalam penentuan standar akuntansi adalah:
 Pendekatan pasar bebas
Pendekatan ini dilandasi asumsi bahwa informasi akuntansi merupakan komiditi ekonomi
serupa dengan barang atau jasa yang lain.Sehingga informasi akuntansi akan dipengaruhi
kekuatan permintaan dan penawaran. Pasar dipandang sebagai mekanisme yang ideal untuk
menentukan jenis informasi yang harus diungkapkan dan kelompok penerima informasi. Dengan
demikian standar akuntansi menentukan informasi yang dihasilkan dan siapa akan menerima
informasi.
 Pendekatan regulasi
Pendekatan ini berpendapat bahwa kegagalan pasar atau informasi yang asismetris dalam
kaitannya dengan kuantias dan kualitas. Pendukung pendekatan ini berkeyakinan bahwa
kegagalan pasar dapat dilihat pada faktor berikut ini:
Teori regulasi
Adanya krisis penentuan standar mendorong munculnya kebijakan regulasi akuntansi.
Oleh karena itu permintaan terhadapat kebijakan atau standar semacam itu di dorong oleh krisis
yanag muncul, pihak penentu standar menanggapi dengan cara menyediakan kebijakan tersebut.
Hubungan antara permintaan dan penawaran menarah pada suatu keseimbangan. Dalam proses
regulasi yang dinamis, terdapat proses penyesuaian yang berlangsung terus menerus terhadap
standar sesuai permintaan dan penawaran.
Belkaoui (1985:48) mengatakan bahwa regulasi umumnya diasumsikan untuk dirancang dan
dioperasikan demi kepentingan industri yang ada. Ada dua teori regulasi dalam industri, yaitu (1)
Teori kepentingan publik (public interest theory); dan (2) Teori kepentingan kelompok (interset
group therory).

10