Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa terbentuk dari beberapa tata bahasa, yaitu dari tata bahasa terendah
sampai tertinggi adalah kata, frase, klausa dan kalimat. Ketika kita menulis atau
berbicara, kata adalah kunci pokok dalam membentuk tulisan dan ucapan.
Maka dari itu kata-kata dalam bahasa Indonesia harus dipahami dengan
baik, supaya ide dan pesan seseorang dapat dimengerti dengan baik. Kata–
kata yang digunakan dalam komunikasi harus dipahami agar informasi yang
disampaikan tersampaikan dengan baik. Tidak dibenarkan menggunakan kata-
kata dengan sesuka hati, tetapi harus mengikuti kaidah-kaidah yang benar.

Menulis merupakan kegiatan yang menghasilkan ide secara terus menerus


dalam bentuk tulisan yang teratur yang mengungkapkan gambaran, maksud,
gagasan dan perasaan. Untuk itu penulis atau pengarang membutuhkan
keterampilan dalam hal struktur bahasa dan kosa kata. Yang terpenting dalam
menulis adalah penguasaan kosa kata yang merupakan bagian dari diksi.
Ketepatan diksi dalam membuat suatu tulisan atau karangan tidak dapat diabaikan
demi menghasilkan tulisan yang mudah dimengerti.

Ketika membuat sebuah karangan kita diharuskan memilih kata yang


tepat dalam penggunaanya agar pembaca dan juga penulis mudah memahami
maksud yang diutarakan. Dalam hal ini pemahaman tentang diksi sangat
berperan penting untuk tujuan tersebut. Sehubungan dengan tujuan karangan
tersebut, pemahaman tentang definisi juga penting karena, definisi adalah
suatu pernyataan yang memberikan arti pada sebuah kata.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian diksi?


2. Apa fungsi diksi
3. Apa manfaat diksi?
4. Apa yang dimaksud dengan denotasi dan konotasi?
5. Bagaimana menggunakan ketepatan kata, kesesuaian kata, dan
perubahan makna?

1
1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian diksi.


2. Mengetahui fungsi diksi.
3. Mengetahui manfaat diksi.
4. Mengetahui perbedaan denotasi dan konotasi.
5. Dapat menggunakan ketepatan kata, kesesuaian kata, dan perubahan
makna dengan baik dan benar.

1.4 Metode Penulisan

Penulisan makalah ini melalui prosedur studi pustaka, dengan media


internet. Semua informasi dan gagasan yang telah diperoleh dalam makalah
ini, di gabungkan menjadi satu kesatuan dan menyeluruh, untuk menjelaskan
makalah kami tentang diksi, sehingga saya dapat menarik kesimpulan dari intisari
pembahasan makalah ini

1.5 Manfaat Penelitian

Penulis berharap dalam penulisan makalah ini dapat bermanfaat untuk


pembaca agar pembaca bisa menggunakan kosakata yang baik dan bisa
menggunakannya dalam pembuatan sebuah karya tulis ilmiah dengan susunan
yang jelas, efektif, dan mudah dipahami serta dalam berkomunikasi sehari-hari
pun pembaca bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan sesuai
kaidah EYD..
.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diksi

Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan
gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih
umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap
kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya.
Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata
dan gaya.

Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran -


kata formal atau informal dalam konteks sosial - adalah yang utama. Analisis
diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan
karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan
fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang
berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi
juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.

Diksi terdiri dari delapan elemen: Fonem, Silabel, Konjungsi, Hubungan, Kata
benda, Infleksi, dan Uterans.

1. Fonem
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam
sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem
berbentuk bunyi. Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g]
merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar"
dan"cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam
bahasa Arab hanya ada fonem /k/. Sebaliknya dalam bahasa Indonesia
bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda.
Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau
[provinsi] tetap sama saja.
2. Silabel
Suku kata atau silabel (bahasa Yunani: συλλαβή sullabē) adalah unit
pembentuk kata yang tersusun dari satu fonem atau urutan fonem. Sebagai
contoh, kata wiki terdiri dari dua suku kata: wi dan ki. Silabel sering

3
dianggap sebagai unit pembangun fonologis kata karena dapat
mempengaruhi ritme dan artikulasi suatu kata.
3. Konjungsi
Konjungsi kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa
yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa,
serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta. Preposisi dan
konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat beririsan.
Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.

4. Nomina
Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari
seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Kata
benda dapat dibagi menjadi dua: kata benda konkret untuk benda yang
dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), serta kata benda
abstrak untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal
dengan pikiran (misalnya cinta). Selain itu, jenis kata ini juga dapat
dikelompokkan menjadi kata benda khusus atau nama diri (proper noun)
dan kata benda umum atau nama jenis (common noun). Kata benda nama
diri adalah kata benda yang mewakili suatu entitas tertentu (misalnya
Jakarta atau Ali), sedangkan kata benda umum adalah sebaliknya,
menjelaskan suatu kelas entitas (misalnya kota atau orang).
5. Verba
Verba (bahasa Latin: verbum, "kata") atau kata kerja adalah kelas kata
yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau
pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam
suatu frasa atau kalimat. Berdasarkan objeknya, kata kerja dapat dibagi
menjadi dua: kata kerja transitif yang membutuhkan pelengkap atau objek
seperti memukul (bola), serta kata kerja intransitive yang tidak
membutuhkan pelengkap seperti lari.
6. Infleksi

4
Adalah proses penambahan morpheme infleksional kedalam sebuah kata
yang mengandung indikasi gramatikal seperti jumlah, orang, gender,
tenses, atau aspek.
7. Uterans
Merupakan sub elemen dari fungsionalitas Diksi, dan mempengaruhi Diksi
berdasarkan kemampuan bahasa dengan kriteria penggunaan dan
pemahaman yang jelas dan efektif.

2.2 Fungsi Diksi

Fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna
menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan
kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak
menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan
pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak
suasana. Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa
lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk
mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas
mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.

2.3 Manfaat Diksi

1. Dapat membedakan secara cermat kata-kata denotatif dan konotatif,


bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
2. Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri dan juga kata yang mengutip
dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga
dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat.

2.4 Perbedaan Denotasi dan Konotasi

Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa.
Kata denotasi disebut sebagai berikut:

1. Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi


(pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran,perasaan,

5
atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) factual dan
objektif.
2. Makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang
berkaki empat (makna sebenarnya)
3. Makna lugas, yaitu makna apa adanya, lugu, polos,akna sebenarnya, bukan
makna
Halaman 10 kias.

Konotasi berarti makna kias, bukan makna sebenarnya. Sebuah kata


dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan
pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Misalnya: Megawati dan
Susilo Bambang Yuhoyono berebut kursi presiden. Kalimat tersebut tidak
menunjukkan makna bahwa Megawati dan Susila Bambang Yudoyono tarik-
menatik kursi karena kata kursi berarti jabatan presiden. Sebuah kata dapat
merosot nilai rasanya karena penggunaannya tidak sesuai dengan makna
denotasinya. Misalnya, kata kebijaksanaan yang bermakna denotasi kelakuan atau
tindakan arif. Dapat bahwa makna kata konotatif cenderung bersifat subjektif.
Maka kata ini lebih banyak digunakan dalam situasi tidak formal, misalnya:
dalam pembicaraan yang bersifat ramah tamah, diskusi tidak resmi,
kekeluargaan, dan pergaulan.

2.5 Ketepatan Kata, Kesesuaian Kata, dan Perubahan Makna

1. Ketepatan Kata
Diksi adalah ketetapan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan
kata ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait
dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai bahasa Indonesia
dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat
mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu
mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca dan pendengarnya.
ketepatan kata ini, antara lain:
1. Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan
sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia.
2. Menghasilkan komunikasi puncak (yang paling efektif) tanpa salah
penafsiran atau salah makna.
3. Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan
penulis atau pembicara.
4. Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan.

Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menurut persyaratan


yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih
kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.

Syarat-syarat ketepatan pilihan kata:

6
A. Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi
yaitu kata yang bermakna lugasdan tidak bermakna ganda. Sedangkan
konotasi dapat menimbulkan dapat menimbulkan makna yang
bermacam-macam, lazim digunakan dalam pergaulan, untuk tujuan
estetika, dan kesopanan.
B. Memebedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim,
kata yang hampir bersinonom misalnya: adalah, ialah, yaitu,
merupakan dalam pemakainnya berbeda-beda.
C. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaanya,
misalnya: infrensi (kesimpulan) dan iterferensi (saling
mempengaruhi), sarat (penuh, bunting), dan syarat (ketentuan).
D. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektive berdasarkan
pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan,
pemakaian kata harus menemukan makna yang tepat dalam
kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektive
canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir;
canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui,
bergaya intelektual.
E. Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami
maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi,
koordinir seharusnya koordinasi.
F. Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan)
yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
G. Menggunakan kata umum dan kata khusus, secara cermat. Untuk
mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya
menggunakan kata khusus, misalnya: mobil (kata umum) corolla
(kata khusus, sedan buatan toyota).
H. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya:
isu (berasal dari bahasa Inggris issue berarti publikasi, kesudahan,
perkara) isu (dalam bahasa Indoenesia berarti kabar yang tidak jelas
asal usulnya, kabar angin, desas-desus).
I. Menggunakan dengan cermat kata bersinonim, misalnya: pria dan laki-
laki, saya dan aku, serta buku dan kitrab) ; berhomofoni; misalnya
bang dan bank, ke tahanan dan ketahanan); dan berhomografi
(misalnya: apel buah, apel upacara; buku ruas, buku kitab)
J. Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat, kata
abstrak (konseptual), misalnya: pendidikan, wirausaha, dan
pengobatan modern) dan kata konkret atau kata khusus (misalnya:
minggu, serapan, dan berenang).

7
2. Kesesuain Kata
Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula
memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana dan
situasi yang hendak ditimbulka, atau suasana yang sedang
berlangsung. Syarat kesesuaian kata:
A. Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak
mencampuradukan penggunaannya dengan kata tidak baku yang
hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku)
hakekat (tidak baku), konduite (baku), kondite (tidak baku).
B. Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial engan
cermat, misal: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan),
pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus).
C. Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya; berjalan
lambat, mengesot, dan merangkak; merah darah, merah hati.
D. Menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna
dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar),
bukan hanya....melainkan juga (benar), bukan hanya ..... tetapi juga
(salah), tidak hanya.... tetapi juga (benar)
E. Menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah, dan
komunikasi nonilmiah (surat-menyurat, diskusi umum )
menggunakan kata populer, misalnya: argumentasi (ilmiah),
pembuktian (populer), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa ( populer).
F. Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa
tulis, misalnya: tulis, baca, kerja (bahasa lisan), menulis, menuliskan,
membaca, bekerja, mengerjakan, dikerjakan (bahasa tulis).
G. Ketepatan kata terkait dengan konsep, logika, dan gagasan yang
hendak ditulis dalam karangan.

Ketepatan itu menghasilkan kepastian makna. Sedangkan


kesesuaian kata menyangkut kecocokan antara kata yang dipakai dengan
situasi yang hendak diciptakan sehingga tidak mengganggu suasana batin,
emosi, atau psikis antara penulis dan pembacanya, pembicara dengan
pendengarnya. Misalnya: keformalan, keilmiahan, keprofesionalan, dan
situasi tertentu yang hendak diwujudkan oleh penulis. Oleh karena itu,
untuk menghasilkan karangan berkualitas, penulis harus memperhatikan
ketepatan dan kesesuaian kata. Penggunaan kata dalam surat, profosal,
laporan, pidato, diskusi ilmiah, karangan ilmiah, dan lain-lain harus tepat
dan sesuai dengan situasi yang hendak diciptakan. Dalam karangan
ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep, pembuktian, hasil
pemikiran, atau solusi suatu masalah. Tegasnya, diksi merupakan faktor
penting dalam menentukan kualitas sebuah karangan. Pilihan kata yang

8
tidak tepat dapat menurunkan kualitas karangan. Memilih kata yang tepat
untuk menyampaikan gagasan ilmiah menentukan penguasaan :

A. Keterampilan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan


B. Wawasan bidang ilmiah yang ditulis,
C. Konsistensi penggunaan sudut pandang, istilah, baik dalam makna
maupun bentuk agar tidak menimbulkan salah penafsiran
D. Syarat ketepatan kata
E. Syarat kesesuaian kata
.
3. Perubahan Makna
Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya.
Pengembangan diksi terjadi pada kata. Namun, hal ini berpengaruh
pada penyusunan kalimat, paragraph, dan wacana. Pengembangan
tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi
kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau
pengurangan Bahasa Indonesia kuantitas maupun kualitasnya. Selain
itu, bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya.
Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan,
penyempitan, pembatasan, pengaburan, dan pergeseran makna.

2.6 Kata Umum dan Khusus

Kata adalah satuan unit terkecil dari bahasa. Kata – kata dalam bahasa
Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu kata umum dan kata khusus. Apakah yang
dimaksud dengan kata umum dan kata khusus ? Berikut ini adalah pembahasan
mendetail mengenai kata umum dan kata khusus beserta contoh penggunaannya
dalam kalimat.
Kata umum adalah kata – kata yang memiliki makna dan cakupan
pemakaian yang lebih luas. Kata – kata yang termasuk dalam kata umum disebut
dengan hipernim. Sedangkan, kata khusus adalah kata – kata yang ruang lingkup
dan cakupan maknanya lebih sempit, atau disebut juga dengan hiponim.
Pada umumnya, kata umum memiliki beberapa macam kata khusus.
Meskipun kata – kata khusus memiliki bentuk yang berbeda, maknanya tetaplah
sama dengan makna kata umum, berikut adalah beberapa contoh kata umum dan
khusus. Kata umum : Melihat, kata khusus : Menengok, menyaksikan, melirik,
memandang, melototi, mengamati, dan memperhatikan. Kata umum :
Mendatangi, kata khusus : Mampir, singgah, berkunjung.

9
1. Penjelasan Penggunaan Kata Umum dan Khusus

Perhatikanlah kalimat – kalimat di bawah ini !

1. Ayah melihat adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit.


2. Ayah menengok adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit.
3. Ayah melirik adiknya yang sedang sakit di rumah sakit.

Kalimat di atas memiliki makna umum yaitu, melihat, dan kata khusus,
seperti menengok, dan melirik. Pada kalimat pertama, kata umum masih
bisa digunakan sesuai dengan konteks kalimat di atas. Sedangkan pada
kalimat ketiga, kata khusus melirik tidaklah sesuai dengan konteks kalimat
tersebut. Kata khusus yang sesuai adalah menengok pada kalimat kedua.

4. Mari kita ambil contoh lain :


5. Pak Ujang membawa karung beras yang sangat berat.
6. Pak Ujang memikul karung beras yang sangat berat.
7. Pak Ujang menjinjing karung beras yang sangat berat.

Kata khusus dari kata umum membawa yang tepat sesuai dengan
konteks di atas adalahmemikul. Sedangkan menjinjing tidaklah tepat
digunakan dalam konteks kalimat tersebut. Oleh karena itu, penggunaan
kata khusus memiliki cakupan yang lebih sempit dan hanya bisa dipakai
dalam kalimat tertentu, sehingga pemilihan kata atau diksi sangat
diperlukan.

2.7 Kata Abstrak dan Konkret

Kata abstrak mempunya referensi berupa konsep, sedangkan kata konkret


mempunyai referensi objek yang dapat diamati. Pemakaian dalam penulisan
bergantung pada jenis dan tujuan penulisan. Karangan berupa deskripsi fakta
menggunakan kata-kata konkret, seperti : hama tanaman penggerek, penyakit
radang paru-paru, virus HIV. Tetapi, karangan berupa klasifikasi atau generalisasi
sebuah konsep menggunakan kata abstrak, seperti : pendidikan usia dini, bahasa
pemrograman, high text markup laguange (HTML). Uraian sebuah konsep
biasanya diawali dengan pembahasan umum yang menggunakan kata abstrak
dilanjutkan dengan detail yang menggunakan kata konkret.
Perhatikan contoh berikut ini :

1. APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen. (kata konkret)

10
2. Kebaikan (kata abstrak) seorang kepada orang lain bersifat abstrak. (tidak
berwujud atau tidak berbentuk)
3. Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak.

2.8 Antonim dan Sinonim

Sinonim adalah kata – kata yang memiliki bentuk yang berbeda, seperti
tulisan maupun pelafalan, tetapi kata – kata tersebut memiliki makna yang mirip
atau sama. Sinonim sering sekali disebut dengan persamaan kata atau padanan
kata. Nah, berikut ini adalah contoh – contoh kalimat yang bersinonim dan daftar
kata – kata umum beserta dengan sinonimnya. Berikut contohnya :

Cerdas = Pintar = Pandai


Dani adalah anak yang cerdas.
Riki adalah anak yang pintar.
Shinta adalah anak yang pandai.

Antonim adalah kata – kata yang maknanya saling berlawanan satu sama
lain. Antonim sering sekali disebut dengan lawan kata. Nah, berikut ini adalah
contoh – contoh kalimat yang berantonim dan daftar kata – kata umum beserta
dengan lawan katanya. Berikut contohnya :

Tinggi = pendek
Bangunan yang baru didirikan itu sangat tinggi.
Bangunan yang beru didirikan itu cukup pendek.

2.9 Pembentukan Kata

Pengetahuan mengenai proses pembentukan kata atau lema sangat berguna


untuk membentuk istilah baru bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa
asing, atau paling tidak untuk memahami bagaimana suatu padanan kata bahasa
Indonesia dibentuk dari bahasa asalnya. Proses pembuatan kata bentukan yang
memiliki makna baru dari kata dasar dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
afiksasi atau pengimbuhan - misalnya berdamai, reduplikasi atau pengulangan -

11
misalnya abu-abu, serta komposisi atau pemajemukan, misalnya garam
dapur, roda gila. Pembentukan kata dapat juga dilakukan dengan kombinasi ketiga
cara tersebut.

1. Afiksasi

Afiks atau imbuhan adalah morfem atau bentuk terikat yang


digunakan untuk membentukneologisme. Biasa dikelompokkan menurut
posisi penempatannya terhadap kata dasar, jenis imbuhan yang paling
sering digunakan dalam bahasa Indonesia adalah:

prefiks (awalan, misalnya me-, ber-, nara-),

sufiks (akhiran, misalnya -an, -wan),

infiks (sisipan di tengah, misalnya -em-, -el-), dan

konfiks (gabungan dua afiks tunggal, misalnya ke- -an, pe- -an).

Contohnya istilah nirkabel sebagai padanan wireless dari bahasa


Inggris yang terdiri dari kata dasar wire (kabel) dan sufiks -less. Sufiks -
less dalam bahasa Inggris bisa berarti tidak, tanpa, atau kurang. Afiks yang
memiliki makna serupa dalam bahasa Indonesia sebenarnya ada beberapa,
seperti awa-, dur-, nir-, dan tuna-. Kenapa akhirnya dipilih nir-, mungkin
karena lebih enak terdengarnya dan bukan berarti bahwa semua sufiks -
less pasti dialihbahasakan menjadi nir-.

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah fenomena linguistik berupa pengulangan suatu


kata atau unsur kata (fonem, morfem) membentuk lema baru yang dapat
mengubah makna dasar. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi sering
dilakukan dengan menambahkan tanda hubung (-).

3. Komposisi

Banyak sekali lema yang dibentuk melalui proses pemajemukan


dalam bahasa Indonesia, contohnya rumah sakit,terima kasih, dll.Yang
menarik adalah, meskipun EYD telah mengatur dengan cukup jelas tata
cara penulisan gabungan kata, masih banyak ditemukan kesalahan yang
dilakukan pengguna bahasa Indonesia dalam menuliskan kata majemuk.
Prinsip ringkas penulisan kata gabungan adalah:

1. Ditulis terpisah antar unsurnya. Contoh darah daging.

12
2. Boleh diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian dan
menghindari salah pengertian. Contoh orang-tuamuda.
3. Ditulis terpisah jika hanya diberi awalan atau akhiran.
Contoh: berterima kasih.
4. Ditulis serangkai jika sekaligus diberi awalan dan akhiran.
Contoh: menyebarluaskan.
5. Ditulis serangkai untuk beberapa lema yang telah ditentukan.
Contohnya manakala,kilometer. Daftar lengkap bisa dilihat
di pedoman EYD.

2.10 Ungkapan Idiomatik

Pengertian dan Contoh Idiom atau Ungkapan – Ungkapan atau idiom


merupakan gabungan kata yang memiliki makna yang bukan makna dari unsur
kata-kata pembentuknya. Artinya ungkapan memiliki makna baru setelah dua kata
atau lebih menyatu. Arti kata (makna) dalam sebuah idiom tidak bisa ditafsirkan
dengan menerjemahkan unsur-unsur penyusunnya. Dalam Bahasa Inggris, idiom
atau ungkapan dikenal dengan istilah idiomatic phrase. Ungkapan dalam tatanan
Bahasa Indonesia menduduki fungsi sebagai pelengkap predikat.
Ungkapan atau idiom acapkali digunakan dalam kalimat kiasan agar
penyampaian makna lebih berkesan. Sering kali juga pemilihan diksi dengan
ungkapan digunakan untuk menyampaikan sesuatu, seperti berita, perasaan,
nasihat, dan lainnya. Sebagai contoh ungkapan atau idiom ialah buaya darat.
Ungkapan buaya darat memiliki makna yaitu lelaki yang suka merayu wanita.
Ungkapan buaya darat ialah makna yang bukan sesungguhnya (denotasi),
yang berarti ungkapan buaya darat bukanlah buaya yang tinggal di darat, namun
idiom buaya darat memiliki makna tersendiri yang sangat berbeda dengan makna
unsur kata penyusunannya. Dengan demikian, idiom atau ungkapan dapat
dibentuk dari gabungan kata yang dapat digunakan sebagai penggambaran makna
yang ingin diungkapkan. Oleh karena itu idiom termasuk diksi konotasi. Dibawah
ini akan diberikan contoh ungkapan atau idiom berikut artinya, yang mungkin
sudah tidak asing ditelinga kita:

1. Lintah darat : Rentenir


2. Hidung belang : Genit
3. Meja hijau : Pengadilan

Contoh ungkapan dalam kalimat :

13
1. Raisa memiliki suara emas (suara yang merdu)
2. Pemilu telah usai, pendukung dua kubu masih sering adu
mulut (debat).
3. Rumah itu dilahap si jago merah (api)

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pilihan kata atau yang biasa disebut diksi, adalah pemilihan kata-kata yang
sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Pilihan kata merupakan satu
unsur yang sangat penting, baik dalam dunia mengarang maupun dalam dunia
tutur setiap harinya. Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana
yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan
bagaimana gaya yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kita harus bisa
menggunakan diksi dalam tutur kata kita sehari-hari baik dalam komunikasi
formal atau informal. Dengan menggunakan diksi yang baik dan benar maka
informasi yang akan disampaikan pastilah mudah dipahami oleh lawan bicara
kita.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/diksi-dan-definisi-fixpdf.html
http://teorikux.blogspot.co.id/2013/10/diksi-pilihan-kata.html
http://deniaibara.blogspot.co.id/2013/04/diksi-dan-definisi.html
http://www.kelasindonesia.com/2015/06/pengertian-dan-contoh-kata-umum-dan-
khusus-dalam-kalimat-terlengkap.html
(Diakses pada tanggal 11 September 2016, jam 11.05 – 14.00 WIB)

http://ridwanaz.com/umum/bahasa/kata-abstark-dan-kata-konkret/
http://kakakpintar.com/pengertian-sinonim-dan-antonim-serta-contohnya/
https://beritagar.id/artikel/tabik/pembentukan-kata
http://www.kelasindonesia.com/2015/06/pengertian-dan-contoh-idiom-atau-
ungkapan.html
(Diakses pada tanggal 12 September 2016, jam 20.15 – 20.55 WIB)

16