Anda di halaman 1dari 6

METODE PELAKSANAAN

Pekerjaan : Pembangunan Baru 2 (Dua) RKB dan Tangga SMKN 3 Lhokseumawe


Kontruksi 3 Lantai Dibangun Lantai I Lokasi Kecamatan Banda Sakti Kota
Lhokseumawe

I. PEKERJAAN PERSIAPAN

Untuk pekerjaan persiapan perlu dilakukan beberapa hal yaitu:


❍ Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi yang dimaksud disini adalah mobilisasi alat berat (excavator) untuk melakukan
pemotongan lahan/tanah pada daerah yang akan dibangun dan mendatangkan peralatan
lainnya seperti concrete mixer, concrete mixer, kereta sorong dan lain-lain yang dibutuhkan
untuk kelancaran pekerjaan serta mobilisasi bahan sesuai dengan kebutuhan dilapangan
seperti jadwal mendatangkan material yaitu pasir, kerikil, semen, besi beton, kayu
bekisting/stut, batu kali, pasir urug, tanah timbun campur batu dan lainnya. Sedangkan
untuk demobilisasi adalah mengembalikan alat kegudang apabila alat atau bahan tersebut
tidak digunakan/dibutuhkan lagi dilokasi kerja.
❍ Pembersihan lapangan
Pembersihan lokasi kerja dilakukan dengan cara manual alat yang digunakan seperti
cangkul, parang, kereta sorong dan lain-lain. Pembersihan lapangan dilakukan agar dalam
pelaksanaan pekerjaan berikutnya lokasi bersih dan memudahkan untuk pekerjaan
selanjutnya.
❍ Melakukan pengukuran dan pemasangan bowplank, yang disaksikan dan diawasi pihak yang
terkait seperti direksi, konsultan pengawas, untuk menetukan elevasi dan letak posisi
bangunan. Pengukuran dan pemasangan bowplank dilakukan oleh tenaga surveyor, dengan
menggunakan alat ukur theodolit, serta kelengkapan lainnya seperti bak ukur statif dan
meteran.
Pelaksanaan pengukuran dan pemasangan bowplank harus dilakukan dengan sangat teliti
sehingga posisi as bangunan dan elevasi bangunan sesuai dengan gambar rencana.
❍ Membuat direksi keet sebagai kantor kerja yang dilengkapi dengan meja, kursi, dan papan
tulis untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan serta gudang sebagai tempat penyimpanan
material. Disamping direksi keet perlu juga disiapkan barak kerja untuk produksi bekisting
dan besi sehingga produksi kerja sesuai dengan target yang diharapkan. Kemudian pada
lokasi kerja akan disediakan WC untuk buang air kecil agar lokasi kerja bersih dan
lingkungan kerja tetap sehat.
❍ Pengujian Material (Laboratorium)
Setiap melakukan pengecoran beton harus diambil pengujian dilapangan yaitu dengan
slump test yaitu untuk mengukur kelecakan atau kadar air dalam beton apakan sesuai
dengan yang disyaratkan. Untuk pengujian kuat tekan harus diambil sample dari tiap
pengecoran berbentuk kubus 15 x 15 x 15 Cm yang dipadatkan dengan cara merojos
batang besi hingga padat dan rata kemudian direndam dalam air selama 28 hari dan pada
saat umur beton sudah mencapai 28 hari diuji kuat tekan di Lab dengan menggunakan
mesin kuat tekan beton. Pada saat pengujian harus sepengetahuan Direksi Teknis atau
Konsultan Pengawas.
❍ Fasilitas Listrik dan Air Kerja
Untuk kelancaran kerja apabila ada pekerjaan lembur lokasi perlu diadakan aliran listrik baik
untuk penerangan maupun untuk menggerakkan mesin, pengadaan ini dapat dilakukan baik
arus dari PLN atau dari mesin genset. Untuk air kerja dilakukan dengan cara mengambil dari
sumber terdekat dengan cara menggunakan mesin pompa dan membuat bak penampungan
dari drum bekas dan apibila air dekat lokasi kerja tidak memenuhi syarat untuk digunakan
dalam campuran beton maka perlu didatangkan dari lokasi lain dengan menggunakan water
tangker.

II. PEKERJAAN TANAH

Pekerjaan tanah terdiri dari galian, urugan, dan timbunan

1. Galian Tanah Pondasi

❍ Pekerjaan galian tanah untuk pekerjaan pondasi dilakukan dengan cara manual yaitu
menggali tanah dengan alat pembobok tanah dan difinishing sampai diperoleh ukuran dan
kedalaman galian yang sesuai dengan gambar bestek.
❍ Hasil dari pekerjaan tersebut harus mendapat persetujuan dari konsultan pengawas dan
direksi.
Tanah hasil galian yang memenuhi syarat untuk tanah urugan ditempatkan di samping /
tidak jauh dari lokasi galian, akan tetapi tidak mengganggu pekerjaan selanjutnya.

2. Urugan Bekas Galian


❍ Urugan kembali bekas galian dilakukan dengan tanah bekas galian, dan tanah tersebut
terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran dan kayu-kayu bekas bekisting.

1
❍ Urugan dilakukan beberapa lapis, kemudian tiap lapis didapatkan dengan alat pemadat
(Stemper) dan lain-lain.

3. Urugan Dalam Bangunan


Timbunan tanah dalam bangunan harus benar-benar padat dan merata dan dipadatkan
dengan stamper lapis demi lapis sampai mencapai elevasi yang ditentukan dalam gambar
kerja. Pada saat pemadatan apabila tanah tidak mencukupi kadar air untuk syarat
pemadatan perlu dibasahi dengan air sampil dilakukan pemadatan hingga mencapai
kepadatan maksimum.

4. Urugan Pasir Bawah Lantai Kerja dan Sloof


Timbunan pasir bawah lantai kerja dan sloof harus benar-benar padat dan merata agar
pondasi dan sloof tidak terjadi penurunan, pasir tesebut tidak boleh bercampur sampah
atau akar kayu agar pondasi dan lantai bangunan tersebut kokoh.

III. PEKERJAAN BETON/BETON BERTULANG

Bahan yang dibutuhkan antara lain:

❍ Semen portland type I


❍ Pasir alami dengan kadar lumpur kurang dari 5 %
❍ Batu kerikil dengan diameter maksimum 25 mm, kadar butir halus kurang dari 1 persen.
❍ Batu Kali
❍ Air untuk pengadukan beton tidak mengandung minyak, asam dan alkali serta gram
sehingga dapat merusak kualitas beton.
❍ Besi beton sesuai dengan gambar bestek .
❍ Kayu dan papan yang sesuai untuk persyaratan bekisting.

Bekisting (cetakan)

❍ Produksi bekisting disesuaikan dengan jenis pekerjaan yaitu pondasi, kolom, sloof, balok
lantai dan ring balk.
❍ Bekisting diproduksi dari bahan multriplek 9 mm dan kayu 5/7 sesuai dengan bentuk dan
ukuran dengan jumlah produksi masing-masing pekerjaan lebih kurang 40 % dari kebutuhan
bekisting (pondasi, sloof dan kolom) sedangkan untuk balok dan pelat lantai bekisting
diproduksi 100 persen untuk mempercepat waktu pelaksanaan dan khusus untuk pelat
lantai digunakan multriplek 12 mm agar pelat lantai tidak melengkung.
❍ Pemasangan bekisting dilakukan sebelum atau sesudah pemasangan besi, hal ini dilakukan
sesuai dengan kebutuhan masing-masing pekerjaan.
❍ Penyetelan bekisting dilakukan setelah bekisting terpasang yang diperkuat dengan
sokongan kayu 5/7 sehingga bekisting kuat, rapi tegak lurus dan segaris.

Pembesian
❍ Produksi besi untuk dipasang dilapangan disesuaikan dengan berdasarkan kebutuhan
pekerjaan seperti pondasi, kolom, sloof, tangga, balok, ring balk serta plat lantai sesuai
dengan gambar bestek.
❍ Produksi dilakukan dibarak kerja yang diawasi oleh pengawas kontraktor dan disetujui oleh
konsultan pengawas dan direksi.
❍ Produksi tulangan pokok dan tulangan beugel untuk masing-masing item pekerjaan
disesuaikan dengan diameter, jumlah dan jarak tulangan berdasarkan gambar bestek.

Pengecoran

❍ Pengecoran dilakukan setelah bekisting dan besi selesai dipasang, dan sebalum dilakukan
pengecoran perlu diperiksa kembali bekisting dan pembesian guna menghindari terjadinya
kesalahan dalam pelaksanaan. Sebalum pengecoran dilakukan harus dilaporkan pada
konsultan pengawas untuk mendapat persetujuan pengecoran.
❍ Persiapkan alat dan bahan yaitu concrete mixer, semen type I, pasir dan kerikil alami serta
air sesuai dengan kebutuhan volume pengecoran.
❍ Khusus untuk plat lantai dan balok direncanakan pengecorannya dengan menggunakanan
Persiapkan alat dan bahan yaitu concrete mixer, semen type I, pasir dan kerikil alami serta
air sesuai dengan kebutuhan volume pengecoran.
❍ Siapkan proporsi campuran berdasarkan hasil mix design laboratorium untuk mutu beton
yang telah ditentukan.
❍ Pengadukan dilakukan dengan conrete mixer sampai adukan benar-benar rata, homogen
dan kekentalan adukan (slump) sesuai dengan mix design, pekerjaan ini nantinya akan
diawasi oleh tenaga quality control.
❍ Pengambilan sample/benda uji kubus 15 x 15 x 15 Cm untuk menentukan quality control
beton sesuai dengan SNI 91. Sample diambil untuk tiap item beton bertulang dan diuji kuat
tekan dilaboratorium pada saat beton mencapai 7 dan 28 hari.
❍ Tuang adukan beton kedalam cetakan dan pada saat adukan beton dituang dilakukan
pemadatan beton dengan alat concrete vibrator, agar diperoleh beton yang padat yang
tidak keropos.

2
❍ Bila ada sambungan beton lama dan beton yang baru maka pada beton yang lama
permukaannya dikasarkan pada saat beton dilanjutkan maka pada sambungan tersebut
diberi pasta semen dengan fas 0,3 sehingga beton lama dengan beton baru mengikat
dengan baik.
❍ Semua tahapan pekerjaan tersebut diawasi oleh pengawas pelaksana dan disetujui oleh
konsultan dan direksi.

TAHAPAN PELAKSANAAN

1. Pondasi Beton Cyclopen


• Persiapan lapisan pasir 5 cm
• Cor lantai kerja sebagai alas untuk menempatkan landasan pondasi 1pc : 3psr : 5kr
dengan tebal 5 cm sesuai dengan gambar bestek.
• Pengecoran pondasi dengan campuran 1ps : 3 psr : 5 kr ditambah dengan batu kali
hingga mencapai bentuk yang sesuai dengan gambar bestek.

2. Lantai Kerja Beton 1 : 3 : 5


• Persiapan lapisan pasir 5 cm
• Cor lantai kerja digunakan sebagai alas untuk menempatkan landasan pondasi dan lantai
landasan pasangan keramik.
• Pengecoran dilakukan dengan campuran 1ps : 3 psr : 5 kr dihamparkan dan diratakan
dengan cara manual, sedangkan untuk pengadukan beton dilakukan dengan concrete
mixer.

3. Pondasi Tapak
• Persiapkan lapisan pasir urug dan cor lantai kerja sebagai alas untuk menempatkan
pembesian tapak dengan campuran 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr dengan tebal 10 Cm atau sesuai
dengan gambar bestek.
• Pemasangan pembesian tapak dan tulangan pasak untuk kolom sesuai dengan gambar
rencana baik dimensi maupun jarak spasi tulangan.
• Pemasangan bekisting sesuai dengan ukuran pondasi baik lebar maupun ketebalannya,
dan pasang sokongan samping agar tidak bocor atau mengembang pada saat melakukan
pengecoran.
• Pengecoran sesuai dengan proporsi mix design dan dipadatkan dengan mesin penggetar
beton.

4. Kolom Pedestal dan Kolom Utama


• Pembuatan marking dan sepatu kolom agar kolom tepat pada as yang telah ditentukan
sesuai dengan gambar bestek.
• Pemasangan pembesian kolom baik tulangan pokok maupun tulangan sengkang sesuai
dengan gambar bestek.
• Pasang bekisting kolom untuk keempat sisi (sebelumnya bekisting diolesi minyak) dan
diperkuat dengan kayu penguat 5/7 pada semua sisi kolom, serta sokongan samping
pada keempat sisi kolom.
• Penyetalan kolom dengan cara lot dari atas ke bawah untuk mendapatkan ketegakan
kolom dan pada saat itu pula sokongan dikunci.
• Pemasangan beton tahu pada bagian sisi luar dari tulangan sehingga selimut beton
sesuai dengan rencana.
• Tentukan batas pengecoran yaitu dengan cara memasang paku pada dinding bekisting,
sehingga pada saat pengecoran tinggi kolom tidak kelebihan atau kurang dari ukuran
gambar bestek.
• Pengecoran sesuai dengan proporsi mix design dan dipadatkan dengan mesin
penggetar beton
.

5. Sloof
• Pengecoran lantai kerja dengan campuran 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr sebagai landasan untuk
menempatkan tulangan balok sloof.
• Pasang tulangan yang telah diproduksi di barak kerja, dimensi tulangan, jumlah dan
jarak sengkang harus sesuai dengan gambar rencana.
• Pemasangan bekisting yang telah diproduksi sebelumnya, sesuai dengan ukuran sloof
dan pasang sokongan samping sebagai pengaku. Pemasangan harus lurus dan kuat
sehingga tidak mengembang pada saat pengecoran
• Pengecoransloof dengan concrete mixer dan pemadatan dengan alat concrete vibrator.

6. Balok dan Plat Lantai


• Pengukuran elevasi balok yang sesuai dengan elevasi pada gambar rencanan.
• Pemasangan stut atau scafolding sebagai landasan untuk menopang balok dan plat
lantai.
• Pemasangan lantai balok, dinding balok sebelah dalam kemudian disokong dengan kayu
5/7.
• Pemasangan besi balok dan plat lantai sesuai dengan gambar rencana dan untuk
menjaga agar selimut beton sesuai dengan yang direncanakan dipasangan beton tahu.

3
• Pemasangan dinding balok sisi luar dan stel posisi balok agar lurus, rapi, kuat dan kokoh.
• Pengecoran balok dan pelat lantai secara monolit dengan menggunakan concrete mixer
setelah mendapat persetujuan dari konsultan pengawas dan direksi.
• Pembongkaran bekisting dilakukan setelah umur beton mencapai 28 hari sesuai dengan
ketentuan SNI 91.
• Untuk pekerjaan pengecoran balok dan pelat lantai harus monolit adan apabila tidak
memungkinkan maka pemberhentian pengecoran harus mendapatkan persetujuan dari
direksi atau pada daerah yang tidak memliki momen (daerah ¼ bentang).

IV. PEKERJAAN PASANGAN DAN LANTAI

Bahan yang dibutuhkan antara lain:

❑ Semen portland type I


❑ Pasir alami dengan kadar lumpur kurang dari 5 %
❑ Air untuk pengadukan beton tidak mengandung minyak, asam dan alkali serta gram
sehingga dapat merusak kualitas beton.
❑ Keramik sesuai dengan ukuran .

1. Pasangan bata 1 : 2

• Persiapan batu bata ditempat yang akan dilakukan pasangan bata sesuai dengan
kebutuhan / volume kerja pada tempat tersebut.
• Batu bata direndam beberapa menit dalam air agar air semen pada mortal tidak diserap
oleh batu bata sehingga daya rekat akan berkurang.
• Persiapkan as / posisi pemasangan pada kolom agar posisi pasangan bata tepat dan
sesuai dengan gambar bestek.
• Pengadukan mortal dengan concrete mixer (campuran 1 : 2) sampai campuran homogen
dan mortal tidak boleh encer atau terlalu kental.
• Pemasangan batu bata, (sebellum dimuali pemasangan bata, dipasang benang agar
pasangan rapi dan rata.

2. Pasangan bata 1 : 4

• Persiapan batu bata ditempat yang akan dilakukan pemasangan bata sesuai dengan
kebutuhan / volume kerja pada tempat tesebut.
• Batu bata direndam beberapa menit dalam air agar air semen pada mortal tidak diserap
oleh batu bata sehingga daya rekat akan berkurang.
• Persiapkan as / posisi pemasangan pada kolom agar posisi pasangan bata tepat dan
sesuai dengan gambar bestek.
• Pengadukan mortal dengan concrete mixer (campuran 1 : 4) sampai campuran homogen
dan mortal tidak boleh encer atau terlalu kental.
• Pemasangan batu bata, (sebelum dimulai pemasangan bata, dipasang benang agar
pasangan rapi dan rata.

3. Plesteran 1 : 2

• Pembuatan marking untuk diperoleh ketebalan plesteran yang sesuai dan rata. Pekerjaan
ini dilakukan dengan cara lot dengan benang dari atas ke bawah.
• Penyiraman dinding pasangan bata dengan air, agar pada saat dilakukan plesteran batu
bata tidak menyerap air yang ada pada mortal.
• Pengadukan mortal (campuran 1 : 2) dengan concrete mixer sampai campuran
homogen.
• Persiapkan mistar dari aluminium (minimal 1 m), untuk membuat permukaan plesteran
rata.

4. Plesteran 1 : 4

• Pembuatan marking untuk diperoleh ketebalan plesteran yang sesuai dan rata. Pekerjaan
ini dilakukan dengan cara lot dengan benang dari atas ke bawah.
• Penyiraman dinding pasangan bata dengan air, agar pada saat dilakukan plesteran batu
bata tidak menyerap air yang ada pada mortal.
• Pengadukan mortal (campuran 1 : 4) dengan concrete mixer sampai campuran
homogen.
• Persiapkan mistar dari aluminium (minimal 1 m), untuk membuat permukaan plesteran
rata.

5. Pasangan Lantai Keramik dan Dinding Keramik


• Lantai dibuat dari pasangan keramik yang dipasang diatas lantai kerja dari beton cor 1
Pc : 3 Ps : 5 Kr, pasangan keramik menggunakan spesi beton dengan campuran 1 Pc : 3
Ps.
• Keramik sebelum dipasang terlebih dahulu direndam dalamm air sampai jenuh.
• Pemasangan lantai keramik harus merupakan bidang permukaan yang rata, tidak
bergelombang dengan memperhatikan kemiringan daerah basah.

4
• Lebar celah lantai keramik maksimal 4 mm, pengisisan celah/naad/siar diberi warna
sesuai dengan warna keramik yang dipasang.

6. Bon-bon Keramik
Pada sudut pasangan keramik/pada sikuan pasangan keramik dipasang bon-bon keramik,
mengenai warna bon-bon keramik disesuaikan dengan warna keramik atau dengan
persetujuan direksi/Konsultan Pengawas.

7. Cap Kolom
Kolom di cap dengan spesi beton kemudian diaci, mengenai bentuk dan model harus
mendapatkan persetujuan direksi atau konsultan pengawas.

V. PEKERJAAN KUSEN, PINTU DAN JENDELA


• Kayu Kosen, Pintu, Jendela Ventilasi dibuat dari Bahan kayu yang berkualitas sesuai dengan
persyaratan yang dimuat dalam RKS. Pekerjaan ini dibuat di bengkel kayu yang sesuai dengan
gambar kerja kemudian dipasang pada tempat yang sesuai dengan gambar kerja. Pemasangan
kosen dipasang diatas pasangan bata kemudian diatas kepala kosen dipasang balok latai dari
beton bertulang. Untuk pintu dan jendela dipasang pada tempat yang sesuai dengan gambar
kerja.
• Alat-alat pengunci dan penggantung dibutuhkan pada saat pemasangan kuda-kuda dan pada
pasang pintu, jendela. Untuk pada kuda-kuda dibutuhkan baut-baut dan plat strip dan untuk
pasang pintu dan jendela dibutuhkan kunci, engsel, grendel, pacok, hak angin dan lain-lain.
Mengenai jumlah dan bentuk harus di sesuaikan dengan kebutuhan dilapangan dengan
persetujuan direksi teknis.

VI. PEKERJAAN ATAP DAN PLAFOND

1. Kayu Rangka Kanopi + Gording


Dalam pekerjaan perkayuan kuda-kuda dan gording, kayu yang dipakai harus yang bermutu
dan kuat agar rangka kuda-kuda tersebut tidak mudah rapuh. Pekerjaan ini dilakukan pada
saat pekerjaan ring balk selesai atau boleh juga dilaksanakan dilokasi lain yang tidak jauh dari
lokasi pekerjaan kemudian dipasang pada tempatnya sesuai dengan gambar kerja.

2. Lisplank Papan 2,5 x 30 Cm


Lisplank papan dibuat dari bahan papan yang berkualitas baik, lisplank dipasang harus rata
dan rapi, untuk sambungan dibuat dari sambungan ekor burung.

3. Atap Genteng Supersteel


Dalam pekerjaan pemasangan atap genteng supersteel harus benar-benar rapi, rata dan
setiap sambungan seng harus dibuat minimal 10 Cm untuk menghindari rembesan air hujan.

4. Plafond Plywood 4 mm + Rangka


Plafond dibuat dari triplek 4 mm dan kayu untuk rangka digunakan kayu klas II, pemasangan
dilakukan setelah selesai pekerjaan atap. Plafon dipasang harus rata, rapi dan tidak
bergelombang, kayu rangka plafond digantung ke kuda-kuda supaya rangka plafond kaku.
Elevasi harus diukur dari permukaan lantai (lantai keramik) ke permukaan plafond sesuai
dengan yang telah dibuat pada gambar kerja. Pada sudut plafond (derah pinggir) dipasang list
profil dengan persetujuan direksi teknis.

VII. PEKERJAAN PENGECETAN

1. Cat Kilat Kosen, Pintu, Jendela dan Lisplank Papan


Dalam pengecetan kosen, pintu, jendela dan listplank menggunakan cat minyak yang telah
ditetapkan dalam RAB dan pengecetan harus benar-benar rata dan rapi.

2. Cat Dinding / Tembok ( L/D )


Dalam pengecetan dinding tembok menggunakan cat tembok yang telah ditetapkan dalam
RAB dan pengecetan harus benar-benar rata dan rapi.

3. Residu Kuda-kuda dan Gording


Kayu Rangka Kuda-kuda dan gording supaya tidak tahan lama dan tidak mudah dimakan
rayap atau serangga yang dapat merusak kualitan kayu perlu dilaburi residu untuk tiap sisi
permukaan kayu. Residu dapat dilakukan pada saat kayu rangka belum dirangkai atau bisa
juga setelah dirangkai.

VIII. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

• Pekerjaan elektrikal pelaksanaannya harus melibatkan PLN dan instalatur listrik untuk proses
pemasukan arus listrik.
• Pekerjaan instalasi dapat dikerjakan sendiri atau diserahkan pada instalatur listrik agar
pemasangan benar dan aman.

5
• Pekerjaan instalasi meliputi pemasangan instalasi titik lampu/stop kontak, lampu dan saklar
mengenai jumlah untuk tiap item disesuaikan dengan gambar kerja dan RAB.

IX. PEKERJAAN ORNAMEN BESI

Pekerjaan ini meliputi pekerjaan ornamen selasar depan dan samping yang dibuat sesuai
dengan gambar kerja atau harus dengan persetujuan direksi teknis, untuk kolom direlief
dengan spesi beton sesuai dengan yang termuat dalam gambar bestek. Untuk railing tangga
dibuat dibengkel las kemudian dipasang pada tangga.

IX. PEKERJAAN LAIN-LAIN


1. Administrasi / Dokumentasi
Administrasi Proyek yang diperlukan yaitu administrasi kontrak pekerjaan, laporan-laporan
pekerjaan, Foto dokumentasi dari awal dimulainya pekerjaan fisik sampai dengan selesainya
pekerjaan.

2. Progres dan Pelaporan


Laporan progress atau laporan kemajuan pekerjaan dibuat sebagai persyaratan untuk
pembayaran yang dilakukan oleh owner kepada pelaksana, laporan ini memuat realisasi yang
sudah dilaksakan oleh pelaksana sesuai dengan volume yang tercantum dalam kontrak atau
addendum. Laporan lain yang harus dibuat adalah laporan harian, mingguan, bulanan serta
mencantumkan jumlah tenaga kerja, peralatan, bahan yang digunakan, bahan yang
didatangkan serta cuaca.

3. Keamanan Proyek Jaga Malam / P3K


Untuk kelancaran pekerjaan dan keamanan lokasi pekerjaan maka perlu dibuat shif jaga
malam, untuk pekerjaan ini diserahkan pada warga local (setempat). Untuk mengantisifasi
pertolongan pertama apabila ada kecelakaan kerja perlu dibuat kotak P3K dilokasi kerja.

4. Pembersihan Akhir
Setelah pekerjaan selesai, lokasi harus dibersihkan dari bahan bekas seperti potongan kayu,
besi dan lainnya, bahan tersebut harus disingkirkan dari lokasi atau dibakar.

Lhokseumawe, 24 Juli 2007


CV. BARUNA PERKASA

CUT MURSYIDAH
Wakil Direktris