Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perawatan pre operasi dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah

dibuat dan berakhir saat pasien dikirim ke meja operasi. Perawatan pre

operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas

keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien (Smeltzer

& Bare, 2002). Alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan

pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain adalah takut nyeri setelah

pembedahan, takut terjadi perubahan fisik, dan takut operasi akan gagal

(Potter & Perry, 2005).

Kecemasan tersebut dimanifestasikan secara langsung melalui perubahan

fisiologis seperti (gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, nyeri

abdomen, sesak nafas) dan perubahan perilaku seperti (gelisah, bicara cepat,

reaksi terkejut) dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala sebagai

upaya untuk melawan kecemasan (Stuart & Laraia, 2005). Salah satu faktor

yang mempengaruhi kecemasan adalah pandangan interpersonal yang

beranggapan adanya ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas

fisiologis yang akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan

aktivitas hidup sehari-hari (Stuart, 2007).


Berdasarkan pendahuluan yang dilakukan oleh Mulyani tahun 2008

menunjukkan yang mengalami kecemasan ringan (52,5%) dan kecemasan

sedang (47,5%) dari 40 pasien klien rawat inap di ruang penyakit bedah dan

non bedah. Penelitian lain menunjukkan sebelum dilakukan pemberian

informasi pra bedah yang mengalami kecemasan ringan (22,4%), kecemasan

sedang (37,9%), kecemasan berat (13,8%) dan kecemasan berat sekali

(3,5%). Setelah diberikan informasi pra bedah yang mengalami kecemasan

ringan (39,7%) dan kecemasan sedang (25,8%) (Endang & Agus, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut seseorang yang akan dilakukan tindakan

pembedahan perlu diberikan informasi tentang operasi yang akan dilakukan,

mempersiapkan mental pasien dalam menghadapi operasi, sebagai upaya

mengurangi kecemasan.

Kemampuan perawat untuk mendengarkan secara aktif untuk pesan baik

verbal dan non verbal sangat penting untuk membangun hubungan saling

percaya dengan pasien dan keluarga, perawat kemudian dapat merencanakan

intervensi keperawatan dan perawatan suportif untuk mengurangi tingkat

kecemasan pasien dan membantu pasien untuk berhasil menghadapi stres

yang dihadapi selama periode perioperatif (Burke & Lemone, 2000). Agar

asuhan keperawatan yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan dapat

mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama klien, perawat harus membina

hubungan saling percaya dengan pasien, yang berhubungan tersebut disebut

hubungan terapeutik (Arwani, 2002).


Hubungan terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan

tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam membina

hubungan intim yang terapeutik yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah

klien (Anas, 2005). Pentingnya komunikasi terapeutik adalah pada tahap awal

proses keperawatan digunakan untuk mengumpulkan informasi pasien,

mengidentifikasi kebutuhan kesehatan pasien, pasien kooperatif dalam

tindakan keperawatan, pasien dapat menunjukkan penerimaan terhadap

pendidikan kesehatan yang dilakukan, menimbulkan kepuasan pada pasien

(Arwani, 2002).

Komunikasi terapeutik memberikan pengertian antara perawat dan klien

dengan tujuan membantu klien memperjelas dan mengurangi beban pikiran

serta diharapkan dapat menghilangkan kecemasan (Mulyani, 2008). Perawat

sebagai komponen penting dalam proses keperawatan dan orang yang

terdekat dengan klien diharapkan mampu berkomunikasi terapeutik, melalui

perkataan, perbuatan, atau ekspresi yang memfasilitasi penyembuhan klien

(Wahyu, 2006).

Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di RS PKU

Muhammadiyah Sukoharjo menunjukkan angka operasi sebanyak 55 pasien

pada bulan Juli – September 2014 . Rata-rata setiap bulannya sebanyak 17

pasien. Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan dengan 5 pasien pre

operasi, 3 pasien mengatakan cemas berat dengan tanda gelisah, bicara cepat,

gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat. Berdasarkan teori tersebut

diatas dan hasil wawancara penulis tertarik untuk melakukan penelitian


tentang hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan

pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo.

Rumusan Masalah

Kecemasan pasien pre operasi merupakan masalah yang cukup kompleks

bagi pasien. Pasien akan menghadapi dan mengalami tindakan yang dapat

menimbulkan rasa sakit.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara

komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi

di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo ?.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan

tingkat kecemasan pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah

Sukoharjo.

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre

operasi di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo.

2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di RS

PKU Muhammadiyah Sukoharjo.


3. Menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan

tingkat kecemasan pasien pre operasi di RS PKU Muhammadiyah

Sukoharjo.

Manfaat Penelitian

Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan dan evaluasi dalam meningkatkan pelayanan

keperawatan mengenai penggunaan komunikasi terapeutik bagi pasien

yang akan menghadapi tindakan pre operasi.

Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang

keperawatan, tentang komunikasi terapeutik dan kecemasan pasien pre

operasi.

Bagi Peneliti lain

Sebagai referensi dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut terkait

kecemasan dengan metode kualitatif.

Bagi Peneliti

Sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah didapat di

bangku kuliah serta menambah wawasan dan pengalaman dalam

mengadakan sebuah penelitian tentang pentingnya komunikasi terapeutik

sebelum melakukan tindakan keperawatan pre operasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teori

Komunikasi Terapeutik

1. Definisi

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan

secara sadar, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan

klien (Ina & Wahyu, 2010).

Komunikasi terapeutik memberikan pengertian antara perawat dan

klien dengan tujuan membantu klien memperjelas dan mengurangi

beban pikiran serta diharapkan dapat menghilangkan kecemasan

(Mulyani, 2008).

2. Manfaat Komunikasi Terapeutik

Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan

menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan

perawat dan pasien, mengidentifikasi dan mengungkap perasaan serta

mengkaji masalah dan juga mengevaluasi tindakan yang dilakukan

perawat, memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu

pasien mengatasi masalah yang dihadapi, dan mencegah tindakan yang

negatif terhadap pertahanan diri pasien (Indrawati, 2003).


3. Tujuan Komunikasi Terapeutik

Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk membantu pasien yaitu

mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil

tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang

lain, lingkungan fisik dan diri sendiri (Indrawati, 2003).

Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk perkembangan klien

(Stuart & Sundeen) :

a. Kesadaran diri, penerimaan diri, penghargaan diri yang meningkat

b. Identitas diri jelas, peningkatan integritas diri

c. Membina hubungan interpersonal yang intim, interdependen,

memberi dan menerima dengan kasih sayang

d. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang

realistic.

4. Jenis Komunikasi Terapeutik

Jenis komunikasi terdiri dari verbal dan non verbal yang

dimanifestasikan secara terapeutik (Mubarak, 2009) :

a. Komunikasi verbal

Komunikasi yang menggunakan kata-kata mencakup

komunikasi bahasa terbanyak dan terpenting yang digunakan

dalam berkomunikasi. Hal ini disebabkan karena bahasa dapat

mewakili kenyataan kongkrit. Keuntungan komunikasi verbal

dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk

berespon secara langsung.


Komunikasi verbal yang efektif harus:

1) Jelas dan ringkas

Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan

langsung. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa,

bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas dengan

menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara

sederhana.

2) Perbendaharaan kata (mudah dipahami)

Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak

mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis

yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika

ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan

tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi

penting.

3) Arti denotatif dan konotatif

Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap

kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan

pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata

serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati

kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk

menjelaskan keadaan yang mendekati kematian.


4) Selaan dan kesempatan berbicara

Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan

keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan

pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin

akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang

menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya

tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas.

Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu,

memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan

memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan

memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum

mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar

yang mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan

kepada pendengar jika ia berbicara terlalu lambat atau terlalu

cepat dan apakah perlu untuk diulang ?.

5) Waktu dan relevansi

Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan.

Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk

menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan

secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat

menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu,

perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk

berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih


bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat

dan kebutuhan klien.

6) Humor

Sullivandan Deane (1988) dalam Mubarak (2009)

melaporkan bahwa humor merangsang produksi

catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat,

meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi

ansietas, memfasilitasi relaksasi pernafasan dan menggunakan

humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi

ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

b. Komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal adalah pemindahan pesan tanpa

menggunakan kata kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan

untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu

menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan klien

mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan,

karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal.

Perawat yang mendeteksi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan

asuhan keperawatan. Komunikasi non verbal teramati pada:

1) Metakomunikasi

Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga

pada hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya.

Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi


pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu

pesan di dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan

pengirim terhadap pendengar.

2) Penampilan personal

Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama

yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan

pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama .

Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seseorang

berdasarkan penampilannya. Bentuk fisik, cara berpakaian dan

berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekerjaan,

agama, budaya dan konsep diri. Walaupun penampilan tidak

sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi

mungkin akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa

percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra

klien.

3) Intonasi (nada suara)

Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar

terhadaparti pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang

dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya. Perawat

harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan

klien, karena maksud untuk menyamakan rasa tertarik yang

tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.


4) Ekspresi wajah

Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi

utama yang tampak melalui ekspresi wajah: terkejut, takut,

marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering

digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat

interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi

interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata

selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat

dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang

baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika

sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara

sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tanpak dominan jika

kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.

5) Sikap tubuh dan langkah

Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap, emosi,

konsep diri dan keadaan fisik. Perawat dapat mengumpulkan

informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan

langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik

seperti rasa sakit.

6) Sentuhan

Kasih sayang, dukungan emosional, dan perhatian

disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian

yang penting dalam hubungan perawat dan klien, namun harus


memperhatikan norma sosial. Perlu disadari bahwa keadaan

sakit membuat klien tergantung kepada perawat untuk

melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk

menghindarkan sentuhan.

5. Ciri Komunikasi Terapeutik

Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi

terapeutik (Arwani, 2003) :

a. Keikhlasan (genuiness)

Perawat harus menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan

yang dimiliki terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu

menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai

sikap yang dipunyai terhadap pasien sehingga mampu belajar

untuk mengkomunikasikan secara tepat.

b. Empati (emphaty)

Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan

perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan

merasakan dunia pribadi pada klien. Empati merupakan sesuatu

yang jujur, sensitif dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan atas

apa yang dialami orang lain. Empati cenderung bergantung pada

kesamaan pengalaman di antara orang yang terlibat komunikasi.

c. Kehangatan (warmth)

Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk

mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk


perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang

hangat, permisif, dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya

rasa penerimaan perawat terhadap pasien. Sehingga pasien akan

mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.

6. Prinsip komunikasi terapeutik

Prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers :

a. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati,

memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.

b. Komunikasi harus ditandai dengan sikap menerima, saling percaya

dan saling menghargai.

c. Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh

pasien.

d. Perawat harus menyadari pentingnyakebutuhan pasien baik fisik

maupun mental.

e. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan

pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.

f. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan

pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap

maupun tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat

memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

g. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap

untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah,

keberhasilan maupun frustasi.


h. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat

mempertahankan konsistensinya.

i. Memahami betul arti simpati sebagai tindakan yang terapeutik dan

sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.

j. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan

terapeutik.

k. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan

meyakinkan orang lain tentang kesehatan. Oleh karena itu, perawat

perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual

dan gaya hidup.

l. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan yang dianggap

mengganggu.

m. Mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara

manusiawi.

n. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin

mengambil keputusan berasarkan prinsip kesejahteraan manusia.

o. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab

terhadap diri sendiri atau tindakan yang dilakukan dan tanggung

jawab terhadap orang lain.


7. Tahapan komunikasi terapeutik

Tahapan dalam komunikasi terapeutik adalah (Damayanti, 2008) :

a. Fase preinteraksi

Pre interaksi dimulai sebelum kontrak pertama dengan

klien.Perawat mengumpulkan data tentang klien, mengeksplorasi

perasaan, fantasi dan ketakutan diri dan membuat rencana

pertemuan dengan klien.

1) Fase orientasi

Pada tahap orientasi, perawat dapat mengucapkan salam

saat menemui pasien, memperkenalkan dirinya, membuat

kontrak awal dengan pasien, menanyakan kabar pasien sebelum

operasi, menunjukan sikap siap membantu dan tidak memaksa

pasien untuk bercerita keadaannya pada perawat.

2) Kerja

Pada fase kerja perawat menggunakan komunikasi dua

arah, menanggapi keluhan pasien dengan serius, bersikap jujur

kepada pasien, menepati janji yang telah diberikan,

menciptakan suasana lingkungan yang nyaman sehingga

mendukung terjadinya komunikasi yang efektif, mengulang

pertanyaan dengan lebih jelas jika pasien belum mengerti

tentang pertanyaan yang disampaikan perawat, jangan

mendesak pasien untuk segera menjawab pertanyaan yang


diajukan, jangan memotong di tengah-tengah pembicaraan

pasien, dan jangan membandingkan dengan pasien lain.

3) Fase terminasi

Perawat dapat mengucapkan salam perpisahan, membuat

kontrak untuk pertemuan berikutnya, memberikan pendidikan

kesehatan post operasi, mengevaluasi respon pasien terhadap

komunikasi yang telah disampaikan dan meninggalkan

petunjuk cara menghubungi perawat.

b. Komunikasi pada masa operatif

1) Pre operatif

a) Mempertahankan hubungan terapeutik untuk

memungkinkan klien mengungkapkan rasa takut, rasa

cemas, dan khawatir tentang operasi yang akan dijalani.

b) Menggunakan sentuhan seperlunya untuk menunjukkan

empati dan kepedulian.

c) Menggunakan kemampuan mendengar aktif untuk

mengidentifikasi dan memvalidasi respon verbal dan

nonverbal yang mengindikasikan ketakutan dan kecemasan.

d) Mempersiapakan diri menjawab pertanyaan umum yang

sering disampaikan klien, misalnya “berapa lama operasi

akan berlangsung?”
2) Operatif

Komunikasi dilakukan sebagai upaya melakukan

pengecekan terhadap persiapan klien. Komunikasi ini juga

dilakukan dengan memberi dukungan pada klien guna

mengurangi kecemasan.

3) Pasca operatif

Komunikasi pada fase ini dapat dilakukan segera setelah

klien berada diruang pemulihan. Komunikasi verbal mulai

dilakukan perawat meski klien belum sadar sepenuhnya.

Kecemasan

1. Definisi kecemasan

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan

perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan

berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai kenyataan,

kepribadian masih tetap utuh atau tidak mengalami keretakan

kepribaadian normal (Hawari, 2008).

Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok

mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam

merespon ancaman yang tidak jelas. Kecemasan akibat terpejan pada

peristiwa traumatik yang dialami individu yang mengalami,

menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa peristiwa yang


melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian atau cidera serius

atau ancaman fisik diri sendiri (Doenges, 2006).

2. Tahapan Kecemasan

Kecemasan diidentifikasikan menjadi 4 tingkat yaitu, ringan,

sedang, berat dan panik. Semakin tinggi tingkat kecemasan individu

maka akan mempengaruhi kondisi fisik dan psikis. Kecemasan

berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual

terhadap bahaya. Kecemasan merupakan masalah psikiatri yang paling

sering terjadi, tahapan tingkat kecemasan akan dijelaskan sebagai

berikut (Stuart, 2007) :

a. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam

kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi

waspada dan meningkatkan persepsi.

b. Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan

pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga

seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat

melakukan sesuatu yang lebih terarah.

c. Kecemasan berat sangat mengurangi persepsi seseorang yang

cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci, spesifik dan

tidak dapat berpikir tentang hal lain.

d. Tingkat panik (sangat berat) berhubungan dengan terperangah,

ketakutan dan teror. Karena mengalami kehilangan kendali, orang


yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun

dengan pengarahan.

3. Manifestasi kecemasan

National Health Committee (1998) dalam Wangmuba (2009),

menyebutkan beberapa manifestasi kecemasan secara umum yang

dapat muncul berupa :

a. Respons fisik seperti sulit tidur, dada berdebar-debar, tubuh

berkeringat meskipun tidak gerah, tubuh panas atau dingin, sakit

kepala, otot tegang atau kaku, sakit perut atau sembelit, terengah-

engah atau sesak nafas.

b. Respons perasaan seperti merasa diri berada dalam khayalan,

derealization, merasa tidak berdaya dan ketakutan pada sesuatu

yang akan terjadi.

c. Respons pikiran seperti mengira hal yang paling buruk akan terjadi

dan sering memikirkan bahaya.

d. Respons tingkah laku seperti menjauhi situasi yang menakutkan,

mudah terkejut, hyperventilation dan mengurangi rutinitas.

4. Faktor- faktor yang mempengaruhi respon kecemasan.

a. Faktor Prepitasi

Ada dua faktor presipitasi yangmempengaruhi kecemasan

menurut Stuart (2007) dan Tomb (2004), yaitu :


1) Faktor eksternal

a) Ancaman integritas fisik, meliputi ketidakmampuan

fisiologis atau gangguan terhadap terhadap kebutuhan dasar

(penyakit, trauma fisik, pembedahan yang akan dilakukan).

b) Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap

identitas diri, harga diri, dan hubungan interpersonal,

kehilangan serta perubahan status atau peran.

2) Faktor internal

a) Potensi stressor

Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau

peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan

seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan

adaptasi.

b) Maturitas

Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih

sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena

individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang lebih

besar terhadap kecemasan.

c) Pendidikan dan status ekonomi

Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah

akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami

kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu

akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, semakin


tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir

rasional dan menangkap informasi baru termasuk dalam

menguraikan masalah yang baru.

d) Keadaan fisik

Seorang yang akan mengalami gangguan fisik seperti

cidera, operasi akan mudah mengalami kelelahan fisik

sehingga lebih mudah mengalami kecemasan, di samping

itu orang yang mengalami kelelahan fisik mudah

mengalami kecemasan.

e) Tipe kepribadian

Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami

gangguan akibat kecemasan daripada orang dengan

kepribadian B. Adapun ciri- ciri orang dengan kepribadian

A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba

sempurna, merasa diburu waktu, mudah gelisah, tidak dapat

tenang, mudah tersinggung, otot- otot mudah tegang.

Sedang orang dengan tipe kepribadian B mempunyai ciri-

ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A. Karena tipe

keribadian B adalah orang yang penyabar, teliti, dan

rutinitas.
f) Lingkungan dan situasi

Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata

lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia

berada di lingkungan yang bisa dia tempati.

g) Umur

Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata

lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan

daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang

berpendapat sebaliknya.

h) Jenis kelamin

Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas

yang ditandai oleh kecemasan yang spontan dan episodik.

Gangguan ini lebih sering dialami ole wanita daripada pria.

b. Faktor prediposisi

1) Teori psikoanalisis

Pandangan teori psikoanalisis memaparkan bahwa

cemas merupakan konflik emosional yang terjadi antara dua

elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili

dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego

mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma

budaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen

yang bertentangan tersebut dan fungsi kecemasan untuk

mengingatkan ego bahwa ada bahaya.


2) Teori interpersonal

Teori interpersonal menyatakan bahwa cemas timbul

dari perasaan takut terhadap ketidak setujuan dan penolakan

interpersonal. Cemas juga berhubungan dengan

perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan,

yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan

harga diri rendah rentan mengalami kecemasan yang berat.

3) Teori perilaku

Teori perilaku menyatakan bahwa cemas merupakan

produk frustasi. Frustasi merupakan segala sesuatu yang

menggangu kemampuan individu untuk mencapai tujuan

yang diinginkan dan dikarakteristikkan sebagai suatu

dorongan yang dipelajari untuk menghindari kepedihan.

Teori pembelajaran meyakini individu yang terbiasa sejak

kecil dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih

sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan

selanjutnya. Teori konflik memandang cemas sebagai

pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan.

Kecemasan terjadi karena adanya hubungan timbal balik

antara konflik dan kecemasan : konflik menimbulkan

kecemasan, dan cemas menimbulkan perasaan tak berdaya,

yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan.


4) Teori kajian keluarga

Kajian keluaraga menunjukkan bahwa gangguan cemas

terjadi didalam keluarga.Gangguan kecemasan juga

tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi.

5. Penatalaksanaan kecemasan

Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan

kecemasan umum adalah kemungkinan pengobatan yang

mengkombinasikan psikoterapi, farmakoterapi dan pendekatan

suportif (Smeltzer and Bare, 2000).

a. Psikoterapi

Teknik utama yang digunakan adalah pendekatan perilaku

misalnya relaksasi dan bio feed back (proses penyediaan suatu

informasi pada keadaan satu atau beberapa variabel fisiologi

seperti denyut nadi, tekanan darah dan temperatur kulit).

b. Farmakoterapi

Dua obat utama yang dipertimbangkan dalam pengobatan

kecemasan umum adalah buspirone dan benzodiazepin. Obat lain

yang mungkin berguna adalah obat trisiklik sebagai contonya

imipramine (tofranil) – antihistamin dan antagonis adrenergik beta

sebagai contonya propanolol (inderal).

c. Pendekatan suportif

Dukungan emosi dari keluarga dan orang terdekat akan

memberi kita cinta dan perasaan berbagai beban. Kemampuan


berbicara kepada seseorang dan mengekspresikan perasaan secara

terbuka dapat membantu dalam menguasai keadaan.

6. Pengukur kecemasan

Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang

apakah ringan, sedang, berat dan berat sekali. Menggunakan alat ukur

(instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for

Anxiety (HRS – A ) dikutip Hawari (2013). Alat ukur ini terdiri 14

kelompok gejala, meliputi gejala perasaan cemas, gejala ketegangan,

ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan depresi,

gejala somatik, gejala somatik fisik / somatik, gejala kardiovaskuler

dan pembuluh darah, gejala respiratori, gejala gastrointestinal, gejala

urogenital, gejala autonom, sikap dan tingkah laku. Masing- masing

kelompok gejala diberi panilaian angka (skor) antara 0 – 4, yang

artinya adalah tidak ada gejala diberi skor 0, gejala ringan diberi skor

1, gejala sedang diberi skor 2, gejala berat diberi skor 3, gejala berat

sekali diberi skor 4. Masing- masing nilai angka (skor) dari 14

kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan

tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu: tidak ada

kecemasan kurang dari 14, kecemasan ringan 14 – 20, kecemasan

sedang 21 – 27, kecemasan berat 28 – 41, kecemasan berat sekali /

panik 42 – 56 (Hawari, 2013).


Konsep Jenis Operasi

1. Pengertian Operasi

Operasi (elektif atau kedaruratan) adalah merupakan peristiwa

kompleks yang menegangkan (Brunner & Suddarth, 2002). Jenis

operasi adalah pembagian tindakan pembedahan diantaranya operasi

kecil, sedang, besar dan khusus (Handoko, 2000).

2. Klasifikasi Bedah

Bedah dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara diantaranya

(Ermawati, 2009) :

a. Menurut lokasi

Tindakan bedah dapat dilaksanakan eksternal atau internal.

Pada bedah eksternal kulit atau jaringan yang dibawahnya dapat

dijangkau oleh ahli bedah. Bedah eksternal mendatangkan kerugian

- kerugian; dapat menimbulkan parut atau disfigurisasi/ perubahan

penampilan yang langsung bisa dilihat, yang meenimbulkan

banyak pengkhayalan dan kegelisahan bagi pasien. Pembedahan

plastik merupakan bedah contoh eksternal, ditunjukkan langsung

kepada rekonstruksi dan perbaikan dari jaringan yang terganggu

bentuknya. Tindakan bedah internal disertai penetrasi ke dalam

tubuh. Parut dari bedah internal tidak terlihat, tapi bisa menjadi

komplikasi, diantaranya adhesi/ perlengketan. Operasi organ besar

internal dapat mengurangi fungsi bila cukup banyak jaringan

terangkat.Tindakan bedah bisa juga diklasifikasikan menurut lokasi


atau sistem dari tubuh, seperti bedah kardiovaskuler, bedah thorax,

bedah neurologi dan seterusnya.

b. Menurut jenis operasi (luas jangkauan)

Tabel 2.1 Jenis Operasi


Jenis
Operasi Waktu Peralatan Anestesi Resiko

Operasi Kurang Alat standar Lokal Kecil


kecil dari 1 jam

Operasi 1 -2 jam Alat standar + Lokal, Sedang


sedang regional,
dan
general
Operasi 3 jam Alat standar ++ General Besar
besar
Operasi 4 jam Alat standar +++ General Tinggi
khusus
Sumber : Ermawati (2009)

c. Menurut tujuan

Banyak tujuan dari tindakan-tindakan bedah. Ahli bedah

menjelaskan metoda dan tujuan bedah kepada pasien dan

keluarganya. Periode sebelum operasi merupakan saat peningkatan

cemas bagi pasien dan keluarganya, mungkin mereka tidak

mengerti alasan mengapa harus dioperasi dan memerlukan

penjelasan yang lebih lanjut yang bisa dilaksanakan oleh perawat

(Ermawati, 2009).
d. Prosedur bedah

Kebanyakan prosedur bedah diberi nama menurut lokasi,

menurut tipe pembedahan yang dilakukan. Umpamanya

histerektomi adalah pengangkatan (ektomi) uterus (hiter).

3. Pengaruh bedah terhadap pasien

a. Respon Fisiologis

Operasi merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon

neuroendocrine. Respon terdiri dari sistem saraf simpatis dan

respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman

cedera. Stres terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah

cukup banyak mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak

beban dan shock akan menjadi akibat dari itu semua. Anesthesi

tertentu yang dipakai dapat membantu terjadinya shock (Ermawati,

2009).

Respon metabolisme juga terjadi. Karbohidrat dan lemak di

metabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh dipecah

untuk menyajikan suplai asam amino yang dipakai untuk

membangun jaringan baru. Asam amino yang tidak dipakai

menjadi nitrogen sebagai produk akhir seperti urea dan diekskresi.

Ini berakibat menjadi keseimbangan nitrogen yang negatif, itu

berarti kehilangan nitrogen melampaui intake nitrogen. Semua

faktor ini menjurus kepada kehilangan berat badan setelah

pembedahan besar. Intake protein yang tinggi diperlukan guna


mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan

mengisi kebutuhan dan fungsi yang optimal (Ermawati. D, 2009).

b. Respon Psikologis

Respon psikologis seseorang dalam menanggapi pembedahan

bervariasi misalnya merasa takut karena tidak tahu tentang

tindakan yang dilakukan. Ketakutan umum meliputi takut oleh

yang tidak diketahui, hilang kendali, hilang kasih sayang dari

orang penting, ancaman seksualitas, sedagkan ketakutan spesifik

meliputi diagnosa keganasan anestesi, sakaratul maut, perubahan

penampilan, keterbatasan permanaen (Ermawati, 2009).

Keaslian Penelitian
Tabel 2.2 Keaslian Penelitian

Judul Metode
Nama peneliti Hasil Penelitian
Penelitian Penelitian

Edy Soesanto, Hubungan Desain Hasil penelitian


Nurkholis komunikasi penelitian yang menunjukkan
(2008) terapeutik digunakan sebagian besar
perawat dengan adalah (76,9%) pasien
kecemasan correlation gangguan
pasien gangguan study, dengan kardiovaskuler
kardiovaskuler rancangan yang pertama
yang pertama penelitian kali dirawat di
kali dirawat di cross sectional. ICCU
intensive mengalami
coronary care kecemasan,
unit RSU hanya saja
Tugurejo tingkat
Semarang. kecemasan yang
dialami
bervariasi. Bila
dirinci lagi
sebagian besar
(41,0%)
mengalami
kecemasan
ringan, sebagian
besar perawat
(82,1%)
melaksanakan
komunikasi
terapeutik.
Sri Mulyani, Ira Komunikasi dan Desain Ada perbedaan
Paramastri, hubungan penelitian yang yang signifikan
Much. Agus terapeutik digunakan sebelum dan
Priyanto perawat – klien adalah kuasi sesudah
(2008) terhadap eksperimen, dilakukan
kecemasan pra dengan komunikasi
bedah mayor. rancangan terapeutik
penelitian pretest (pemberian
and postest with informasi pra
control group bedah) terhadap
design. tingkat
kecemasan pada
pasien pra bedah
mayor.
Perbedaan hasil
tersebut ditandai
dengan adanya
penurunan
tingkat
kecemasan
setelah
dilakukan
komunikasi
terapeutik
(pemberian
informasi) pada
pasien pra bedah
mayor fraktur
femur di RSUI
Kustati
Surakarta.
Endang sawitri, Pengaruh Desain Ada perbedaan
Agus pemberian penelitian yang yang signifikan
Sudaryanto informasi pra digunakan sebelum dan
(2008) bedah terhadap adalah Quasi - sesudah
tingkat eksperimen, dilakukan
kecemasan pada dengan komunikasi
pasien pra bedah rancangan terapeutik
mayor di bangsal penelitian one (pemberian
orthopedi RSUI group pre test- informasi pra
Kustati post test design. bedah) terhadap
Surakarta tingkat
kecemasan pada
pasien pra bedah
mayor.
Perbedaan hasil
tersebut ditandai
dengan adanya
penurunan
tingkat
kecemasan
setelah
dilakukan
komunikasi
terapeutik
(pemberian
informasi) pada
pasien pra bedah
mayor fraktur
femur di RSUI
Kustati
Surakarta.
Kerangka Teori

1. Faktor Predisposisi 2. Faktor Prepitasi

a. Teori psikoanalisis a. Faktor eksterna

b.Teori interpersonal b. Faktor internal

c.Teori perilaku

Komunikasi
Kecemasan
Terapeutik

Gambar 2.1

Sumber : Stuart (2007) & Tomb (2004)

Kerangka Konsep

Variable independen Variabel dependen

Komunikasi Tingkat kecemasan


terapeutik pre operasi

Gambar 2.2

Kerangka Konsep
Hipotesis

Hipotesis merupakan sebuah pernyataan tentang hubungan yang

diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris

(Hidayat 2007). Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang

sudah dipaparkan, maka hipotesis penelitian ini adalah :

H0 : Tidak ada hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat

kecemasan pada pasien pre operasi.

Ha : Ada hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat

kecemasan pada pasien pre operasi.