Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya Allah Swt. Menciptakan itu adalah sebagai makhluk yang paling
berharga dan mulia dipermukaan bumi ini. Namun tidak sedikit, manusia sendirilah
yang merusak kehormatan dan harga dirinya, dengan melakukan perbuatan-perbuatan
yang amoral, yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Karena itu, kemuliaan
yang terdapat dalam diri manusia ini haruslah selalu dijaga daripada hal-hal yang dapat
merusaknya, baik yang berupa sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri,
maupun yang dilakukan oleh orang lain terhadap pribadinya.

Bahkan, islam memberi tuntunan kalau pun harus mengeluarkan hartademi


menjaga kehormatan atau harga diri, hal itu boleh dilakukan. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Nabi : “Periharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu”.
(HR.Ad-Dailami).

B. Rumusan Masalah

1. Apa pandangan menjaga kehormatan dan harga diri dalam islam?


2. Apa tujuan menjaga kehormatan diri dalam islam?
3. Apakah peran iman dalam memproteksi harga diri seseorang ?
4. Bagaimana cara menjaga kehormatan dan harga diri dalam islam ?

C. Tujuan

Agar pembaca dapat mengetahui maksud dan tujuan untuk menjaga kehormatan dan
harga diri dalam pandangan agama islam .

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kehormatan diri

Kehormatan memiliki 5 arti. Kehormatan berasal dari kata dasar hormat.


Kehormatan berarti kebesaran/kemuliaan . Kehormatan merupakan sebuah homonim
karena arti-artinya memilki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda.

Kehormatan dan harga diri dalam pandangan islam disebut sebagai fitrah. Tidak
bisa dipungkiri, manusia lahir dimuka bumi ini dengan keadaan yang bersih. Terlahir
dengan jiwa yang suci dan dihiasi dengan penciptaan yang sempurna. Tidak heran, bila
Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia merupakan Ahsanu Khuluqan. Tidak hanya
berkutat pada masalah lahir, dalam diri manusia terdapat dua hal yang tidak dimilki
makhluk lainnya. Allah Swt. hanya memberikannya pada khalifah al-Ardhi sebagai
titipan yang harus dijaga dan dilestarikan. Keduanya adalah akal dan hawa nafsu.
Keduanya mempunyai peran yang fundamental dalam membentuk karakteristik dan
kepribadiaan seseorang.

Fitrah manusia mencakup beberapa hal yang sangat banyak. Paling tidak ada 2
aspek kefitraan manusia yang harus dilestarikan. Aspek lahir dan Aspek batin.

1. Aspek Lahir

Merupakan seagala sisi kehidupan manusia sebagai makhluk yang lahir dan tampak.
Dalam diri manusia terdapat hal-hal indah yang harus senantiasa diperhatiakn dan
dikembangkan sebagai wujud tanggung jawab dan rasa syukur kepada Tuhan yang
memberikan anugerah-Nya. Mata harus senantiasa dipakai untuk memandang serta

2
mentap hal-haal yang menjadikannya dekat kepada Allah, mencari jalan demi
mendapatkan ridho-Nya. Telinga harus selalu dimanfaatkan untuk mendengarkan
berbagai nasihat yang mengarahkannya kepada jalan lurus sesuai syariat islam. Begitu
juga dengan kedua kaki, seseorang harus berjalan dan mengarungi dunia dengan penuh
semangat dan harapan tinggi demi mendapatkan cahaya illahi yang selanjutnya
membimbingnya mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

2. Aspek Batin

Merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan jati diri manusia. Harkat,
derajat, dan martabat manusia harus diperjuangkan demi menjaga kerhormatan dan
kemuliannya sebagai makhluk yang diberi kekuatan oleh Allah Swt. rasa diri terhormat,
tidak sudi untuk tunduk kepada gemerlapnya dunia dan terjerumus dalam jurang
kehinaan termasuk sifat-sifat yang menonjol yang diserukan oleh agama islam.

Umar bin Khattab R.A pernah mengatakan : “ Aku menyukai orang yang bila
menghadapi perlakuan semena-mena ia menolak dan dengan tegas mengatakan; Tidak”.
Ungkapan ini mengandung ibroh yang harus dipahami dan direalisasikan dengan cerdas.
Secara eksplisit, ini menunjukan sikap ketegasan dan keberanian seorang muslim dalam
menolak serta memerangi kebatilan. Seseorang tidak boleh merelakan kehormatan
dirinya dijajah oleh kebatilan baik yang dilakukan orang lain mapun yang dilakukan
sendiri yang menyebabkan turun dan hancurnya kehormatan dirinya.

B. Urgensi menjaga kehormatan dan harga diri

Dalam menghadapi dunia yang modern ini, ada sebagian orang yang hanyut di
dalamnya. Modernitas seakan mengharuskan adanya sikap dan gaya hidup yang serba
materialistic dan hedonistic. Bekerja keras dan mengumpulkan harta sebanyak-
banyaknya seakan menjadi tuntunan yang harus segera terpenuhi bahkan tidak sedikit
dari mereka yang mendewakan harta benda yang notabene merupakan hiasan dunia saja.
Kemulian dan nilai manusia sering kali di ukur melalui harta yang dimilik, pangkat
dijadikan tujuan hidup dan diyakini sebagai kenikmatan yang selamanya dan tidak akan
hangus begitu saja. Mereka tidak menyadari adanya kelemahan pada dirinya yang
kemudian menyebabkan pada sikap yang tidak profesional bahkan mungkin juga ia
akan terperosok dijurang kehinaan dan tidak mengenal harga diri. Sumber mata
pencarian yang seharusnya bersih dari kehinaan berbalik menjadi pusat pengumpulan

3
harta yang menjijikkan sekaligus tempat mengekplorasikan nafsu birahi semata. Agama
memang mengajak umatnya untuk selalu berusaha keras dalam bekerja dan beramal
agar dapat mempertahankan hidup dan keturunannya, tetapi agama juga memberikan
pelajaran dan bimbingan kepada umatnya untuk mencari rezeki dengan cara yang benar
tanpa menurunkan harkat, martabat, dan derajat. Rasulullah SAW telah lama
memberikan rambu-rambu kepada umatnya untuk selalu menjaga kehormatan dan harga
dirinya baik ketika mencari penghidupan maupun dalam kondisi apapun.

Beliau Bersabda :

‫أطلبوا الحوائج بعزة النفس فإن اآلمور تجري بالمقادر‬

“Mintalah kebutuhan dengan menjaga harga diri, karena semua urusan berlangsung
menurut takdir ilahi”.

Sebagaimana telah dipaparkan diatas, biasanya orang bersedia merendahkan diri


sendiri dan mau diperlakukan tidak hormat hanya disebabkan oleh salah satu dari dua
alasan : yaitu ingin mendapatkan rezeki atau karena takut binasa. Seseorang yang
memiliki harga diri akan lebih bersemangat, lebih mandiri, lebih mampu dan berdaya,
sanggup menerima tantangan, lebih percaya diri, tidak mudah menyerah dan putus asa,
dan merasa sejajar dengan orang lain.

C. Kiat-kiat meningkatkan harga diri

Upaya untuk meningkatkan harga diri telah dianjurkan oleh agama melalui ayat-ayat
al-Qur’an ataupun hadist Nabi . ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang
dalam meningkatkan harga dirinya, antara lain :

1. Mengenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Salah satu
cara untuk mengenal diri sendiri adalah dengan cara bercermin, baik dengan
kaca atau menulis dikertas, mana potensi-potensi yang bisa kembangkan atau
tunjukan ke orang lain, dan mana yang harus kita tinggalkan.
2. Menerima diri seperti apa adanya. Orang yang dapat menerima diri sendiri
apa adanya tidak akan menyesali segala yang terjadi dalam menghadapi
kenyatan. Artinya, apa yang ada di diri kita harus terima dan dikembangkan.
Begitu juga sebaliknya.

4
3. Memanfaatkan kelebihan. Kelebihan yang kita milki harus dikenali terlebih
dahulu, selanjutnya gunakan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin.
4. Meningkatkan keahlian yang dimiliki. Kemampuan , keahlian, dan
keterampilan yang kita milki meberikan sumbangan untuk meningkatkan
harga diri kita.
5. Memperbaiki kekurangan. Tidak dapat dipungkiri semua manusia mempuyai
kekurangan, kekurangan seseorang berbeda dengan yang lainnya. Kalau kita
tidak mengenalinya, maka keinginan untuk memotivasi dan mengembangkan
diri kita ke arah yang lebih baik akan sulit direalisasikan.
6. Percaya dan mengembangkan pemikiran bahwa kita sama dan sederajat
dengan orang lain. Pemikiran itulah yang harus selalu dikembangkan dan
dilestarikan demi menumbuhkan sifat optimis yang kuat.

D. Peran iman dalam memproteksi harga diri seseorang

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata : “Engkau tidak akan luput dari dua perkara,
engkau jauh dari Allah Swt. atau engkau dekat dengan-Nya.”

Pada hakikatnya, iman merupakan keteguhan dan keyakinan pada hati yang
kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang selalu disertai dengan
keyakinan tersebut. Tempat iman adalah hati. Kecenderungan hati yang selalu berbolak-
balik sering kali menggoyahkan keyakinan. Keraguan yang sering kali menghinggapi
hati tanpa disadari dapat mengurangi keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda :

‫اإليمان`يزيد وينقص‬

Artinya : “ Keimanan itu kadang bertambah dan berkurang.”

Sabda Rasulullah tersebut mengandung makna yang mengisi perkataan al-jailani.


Ketika seseorang beriman, ia akan mengindahkan segala perintah Allah dn Rasul-Nya,
ia tidak melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kemarahan dan ketidak ridhoan
Tuhannya. Sebaliknya, ketika keimanan seseorang berkurang. Ia akan mudah dikelabuhi
setan dan nafsunya sendiri. Keyakinan yang seharusnya menjadi benteng berubah
menjadi keraguan yang selanjutnya menjerumuskan kepada perbuatan yang hina serta
membuatnya hanyut didalamnya. Kondisi semacam inilah yang menjadikannya berada
jauh dari Allah SWT.

5
Selanjutnya, ketika seseorang berada dekat dengan Allah maka rahmat dan hidayah-
Nya pun akan selalu menaungi perjalanan diri orang tersebut. Segala perbuatannya
dijaga oleh Allah sehingga ia terjauhkan dari perbuatan-perbuatan hina yang dapat
menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya. Sebaliknya, ketika seseorang jauh dengan
AllahSWT, maka rahmat dan hidayah-Nya Allah pun tidak akan didapatnya. Rahmat
Allah sangatlah jauh dari perbuatan-perbuatannya. Perjalanannya pun menjadi
perjalanan yang berada pada garis kesesatan dan kehinaan yang dapat melukai dan
meruntuhkan kehormataan dan harga dirinya.

Rasulullah SAW bersabda :

‫إن الحياء والعفاف والعي عي اللسان ال عي القلب والعمل من اإليمان وانهن يزدن في اآلخرة وينقصن من الدنيا و‬
‫ما يزدن في اآلخرة اكثر مما ينقصن في الدنيا وإن الفخش والشح والبذاء من النفاق وانهن يزدن في الدنيا وينقصن‬
‫في اآلخرة وما ينقصن من اآلخرة اكثر مما يزدن في الدنيا‬

“ Sesungguhnya malu, iffah (memelihara diri) dan lemah itu adalah lemah lidah
(dari mengucapkan yang baik), bukan lemah hati, serta beramal adalah bagian dari
iman. Semua itu menambah (kebahagiaan) di akhirat dan mengurangi (kesenangan) di
dunia. Bertambahnya kesenangan di akhirat lebih banyak dibanding dengan
berkurangnya kebahagiaan di dunia dan sesungghnya perbuatan keji, pelit, dan
perkataan kotor adalah sebagian dari sifat munafik. Semuanya itu menambah
kebahagiaan dunia dan mengurangi kesenangan di akhirat. Berkurangnya kesenangan di
akhirat lebih banyak dibanding dengan bertambahnya kebahagiaan di dunia”.

Selain peran di atas, iman juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi,
kepercayaan itu akan mendorong seseorang untuk senantiasa berjuang dengan gigih
demi memuliakan dan meninggikan agama Allah.

E. Cara Menjaga Kehormatan dan Harga Diri dalam Pandangan Islam


1. Menjaga Kehormatan dan harga diri dengan Berhijab

Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita


muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk permuliaan terhadap wanita yang
telah disyariatkan dalam islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah
menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari

6
pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam
firman Allah Ta’ala:

‫َوال يُ ْبدِينَ ِزينَتَ ُهن‬

“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)

Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-


wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan
keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk
meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai
aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab
merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan
kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri
pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan
hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit
dibedakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang
memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti
hiasan penutup kepala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Semoga
Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:
“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya,” (Qs. An-Nuur:
31) “Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk
kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka.”

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban


atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang
membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk
ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera
melaksanakan perintah Allah yang satu ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan
tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang

7
urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka
sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)

Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:

1. Menjaga kehormatan.
2. Membersihkan hati.
3. Melahirkan akhlaq yang mulia.
4. Tanda kesucian.
5. Menjaga rasa malu.
6. Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.
7. Menjaga ghirah.

2. Kembalilah ke Rumahmu

َ‫بُي ُْو ِت ُكن ِف ْي َوقَ ْرن‬

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk


tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan.
Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at
yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:

1. Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.


2. Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram
yang menyertainya.
3. Wanita tidak berkewajiban berjihad.

Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari
menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila
wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib
mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal
ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:

8
1. Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa
pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang
urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.
2. Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang
tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam
rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.
3. Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah
tangga dan mendidik generasi mendatang.

3. Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah

Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan
suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun,
wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta
perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat
laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang
ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.

Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap
biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian. Allah berfirman:

‫َوقَ ْرنَ فِي بُيُوتِ ُكن َوال تَبَرجْ نَ تَبَ ُّر َج ْال َجا ِه ِلي ِة ْاْلُولَى‬

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan
bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah
dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku
lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang
dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi
hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti
punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium

9
aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR.
Muslim)

Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:

1. Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.


2. Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.
3. Berjalan dengan dibuat-buat.
4. Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.
5. Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.

4. Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita


Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang
mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang
yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan
kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 32)

Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik


laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan
mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah
nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.

Tidak sepantasnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang.


Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa,
dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan. Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:

1. Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia.


2. Menjaga kehormatan dan kesucian diri.
3. Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi.
Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara singkat, iman merupakan pokok dari segala pokok, dalam diri seseorang
terdapat rahasia yang harus diperjuangkan yaitu kehormatan dan harga diri. Seorang
muslim harus berjuang mempertahankan dan meningkatkan harga dirinya. Tidak hanya
itu, harga diri keluarga, bangsa, negara, dan agama harus senantiasa dijaga dan
dilestarikan.
Peran iman sangat fundamental dalam menumbuhkan semangat memproteksi
diri dari segala kemaksiatan dan kehinaan. Iman juga memberikan motivasi tinggi bagi
seorang muslim untuk melangkah dan bergerak penuh kepercayaan dalam menjalani
realita kehidupan. Dengan kpribadian muslim seperti ini, diharapkan umat muslim
berubah menjadi progresife moslems.
Demikianlah uraian singkat yang dapat kami paparkan, makalah ini disadari
banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang menyebabkannya jauh dari nilai
sempurna. Dengan berharap adanya nilai guna dan manfaat penulis mengharapkan
adanya kritik konstruktif guna perbaiakan selanjutnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

https://www.apaarti.com/kehormatan.html

https://muslimah.or.id/117-menjaga-kehormatan-wanita-muslimah.html

https://www.tongkronganislami.net/artikel-islami-menjaga-kehormatan--dan-harga-diri-
dalam-islam/

12