Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sistem saraf pusat merupakan pusat pengatur informasi, dimana seluruh aktivitas
tubuh dikendalikan oleh sistem saraf pusat.Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan
sumsum tulang belakang. Otak dilindungi oleh tengkorak dan sumsum tulang belakang
dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang. otak dan sumsum tulang belakang dibungkus
oleh selaput meningia yang melindungi sistem saraf halus, membawa pembuluh darah,
dan dengan mengsekresi sejenis cairan yang disebut serebrospinal, selaput meningia
dapat memperkecil benturan dan goncangan. Menginia terdiri atas tiga lapis, piamater,
arachnoid, dan duramater.

Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu
jaringan yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain.
Fungsi sitem saraf antara lain mengkordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi
antara individu dan lingkungan sekitarnya.

Sistem saraf dibagi menjadi dua yaitu sistem saraf pusat atau sentral dan sistem
saraf tepi. Pada sistem saraf pusat, rangsang seperti sakit, panas, rasa,k cahaya, dan suara
mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian dilanjutkan keotak dan sumsum tulang
belakang.

Rasa sakit disebabkan oleh ransangan rasa sakit diotak besar.Sedangkan analgetik
narkotik menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut.Sistem saraf
pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya
sedative hipnotik.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan penekan sistem saraf pusat?

2. Bagaimana klasifikasi dari obat penekan sistem saraf pusat?

1.3 TUJUAN

1
Untuk mengetahui yang dimaksud dengan penekan sistem saraf pusat dan
mengetahui klasifikasi-klasifikasi dari penekan sistem saraf pusat.

1.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN PENEKAN SISTEM SARAF PUSAT


Penekan sistem saraf pusat adalah senyawa yang dapat menghambat aktivitas
sistem saraf pusat. Berdasarkan efek farmakologisnya penekan sistem saraf pusat
dibagi menjadi lima golongan, yaitu anastetika sistemik, sedatifa dan hipnotika,
relaksan pusat, obat antipsikotif dan obat anti kejang.
2.2. ANASTETIKA SISTEMIK
Anastetika sistemik adalah senyawa yang dapat menekan aktivitas fungsional
sistem saraf pusat sehingga menyebabkan hilangnya kesadaran, menimbulkan efek
analgesik dan relaksasi otot serta menurunkan aktivitas refleks.
Mekanisme kerja anastetika sistemik:
Struktur kimia, sifat kimia fisika dan efek farmakologis golongan anastetika
sistemik sangat bervariasi.hal ini menunjukkan bahwa anastetika sistemik menekan
sistem saraf pusat secara tidak selektif dan aktifitasnya lebih ditentukan oleh sifat
kimia fisika dan bukan oleh interaksinya dengan reseptor khas.
Berdasarkan cara pemberian anestesi sistemik dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu anestesi inhalasi dan anestesi intravena.
a. Anestetika Inhalasi
Anestesi inhalasi adalah senyawa yang dapat menimbulkan efek
anestesi, dan diberikan secara inhalasi. Disebut pula anestesi yang medah
menguap karena pada umumnya berupa gas atau cairan yang muddah
menguap. Beberapa diantaranya bersifat mudah meledak bila bercampur
dengan udara atau gas lain. Aktivitas dan keamanannya sangat bervariasi.
Anestetika inhalasi mempunyai dua keuntungan dibanding anestesi intravena,
yaitu:
1) Kedalaman anestesi dapat diubah dengan cepat dengan mengubah kadar
obat;
2) Kemungkinan terjadinya depresi pernapasan sesudah operasi kecil karena
obat dieliminasikan dengan cepat.

Anestetika inhalasi menimbulkan efek samping antara lainadalah


dlirium, mual, takikardi (kecuali halotan), aritmia jantung, depresi pernapasan,
oliguri yang terpulihkan, kadang-kadang ada yang menimbulkan hepatotoksik,
nefrotoksik dan bersifat karsinogenik. Dalam sediaan pada umumnya
digunakan oksigen sebagai pelarut.

3
Contoh anestesi inhalasi yang berupa gas adalah : siklopropan, etilen
(H2C=CH2) dan nitrogen oksigen (N2O).
Berdasarkan struktur kimianya anestetika inhalasi yang berupa cairan
mudah menguap dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu turunan eter dan
turunan hidrokarbon terhalogenasi.

1) Turunan Eter
Contoh : dietil eter, vinil eter,enfluran, isofluran dan metoksifluran.

2) Turunan Hidrogen Terhalogenasi


Contoh : kloroform (CHCl3), etil klorida (CH3-CH2-Cl), halotan (F3C-
CHClBr) dan trifluorometanol (F3C-CH2OH).
b. Anestesi Intravena
Anastetika intravena adalah senyawa kimia yang dapat menimbulkan
efek anestesi dan diberikan secara intravena. Senyawa ini menghilangkan
kesadaran secara cepat (awal kerja obat cepat), tetapi masa kerjanya juga
singkat sehingga untuk operasi yang memerlukan waktu lama harus
dikombinasi dengan anestetika sistemik lain. Anestetika intravena
menimbulkan efek samping seperti depresi pernapasan, aritmia jantung,
spasma pada bronki dan laring, hipotensi, mual dan rasa pusing sesudah
operasi.
Berdasarkan struktur kimianya anestetika intravena dibagi menjadi dua
kelompok yaitu turunan barbiturat dan turunan sikloheksanon.
1) Turunan barbiturat
Turunan barbiturat yang mempunyai masa kerja sangat pendek atau kurang
dari setengah jam, pada umumnya menimbulkan efek anestesi sistemik.
Contoh: metoheksital Na, tiamital Na dan tiopental Na.
Struktur beberapa turunan barbiturat yang digunakan untuk anestesi
sistmik dapat dilihat pada tabel 40.
2) Turunan Sikloheksanon

4
Contoh: ketamin HCl

Contoh senyawa anestetika sistemik:


1) Dietileter (Eter, Aether Anaestheticus), merupakan anestetika sistemik
yang cukup aman dan banyak digunakan pada pembedahan. Waktu
induksinya lambat sehingga pada permulaan biasanya digunakan
anestesi lain yang awalnya kerjanya cepat, seperti vinileter atau
nitrogen oksida. Dietil eter mempunyai koefisien partisi darah/udara
tinggi dan digunakan pula sebagai pelarut dan untuk ekstraksi. Kadar
anestesi: 10-20% volume, secara inhalasi.
2) Enfluran (Ethrane), daya anestesi serupa dengan halotan, sering
dikombinasi dengan oksigen atau nitrogen oksida. Waktu induksinya 4-
6 menit. Kadar anestesi : 2-5%, secara inhalasi.
3) Halotan (Fluothane), adalah anestesi sistemik dengan aktivitas 4 kali
lebih besar dibanding dietileter dan hampir sama dengan kloroform.
Senyawa ini menimbulkan toksisitas lebih rendah dibanding dietileter.
Waktu induksi halotan cepat 2-10 menit, dengan masa kerja yang
singkat.

Tabel 40. Struktur anestetika sistemik turunan barbiturat.

R1 R2 R3 R4 Nama obat
CH2=CH-CH2- CH3CH2-C≡CH-CH(CH3)- Ona CH3 Metoheksital Na
CH2=CH-CH2- CH3CH2CH2-CH(CH3)- Sna H Tiamital Na

5
CH3CH2- CH3CH2CH2-CH(CH3)- Sna H Tiopental Na

Nilai koefisin partisi darah/udaranya rendah. Halotan digunakan secara


inhalasi dengan kadar : 1-4%, diuapkan dengan pengaliran oksigen.
4) Isofluran (Forane), adalah anestesi inhalasi yang relatif baru, dengan
toksisitas yang lebih rendah dibanding obat anestesi lain. Daya anestesi
dan waktu induksinya serupa dengan halotan.
5) Ketamin HCl (Ketalar), adalah anestesi sistemik yang diberikan secara
intravena atau intramuskular. Awal kerjanya cepat, 0,5 menit setelah
pemberian intravena, dan 3-4 menit setelah pemberian intramuskular.
Ketamin kadang-kadang digunakan bersama-sama obat anestesi
sistemik yang lain pada pembedahan. Efek samping ketamin lebih
rendah dibanding obat anestemi sistemik lain dan dapat menimbulkan
halusinasi.
6) Tiopental Na (Pentothal Na), digunakan secara luas sebagai anestesi
sistemik dan diberikan secara intravena. Awal kerjanya cepat ±0,5
menit dengan masa kerja 10-30 menit, waktu paronya ±11,5 jam.

2.3. SEDATIFA DAN HIPNOTIKA


Sedatifa adalah senyawa yang menimbulkan sedasi, yaitu suatu keadaan
terjadinya penurunan kepekaan terhadap rangsangan dari luar karena ada penekanan
sistem saraf pusat yang ringan. Dalam dosis besar, sedatifa berfungsi sebagai
hipnotika, yaitu dapat menyebabkan tidur pulas. Sedatifa digunakan untuk menekan
kecemasan yang diakibatkan oleh ketegangan emosidan tekanan kronik yang
disebabkan oleh penyakit atau faktor sosiologis, untuk menunjang pengobatan
hipertensi, untuk mengontrol kejang dan untuk menunjang efek anestesi sistemik.
Sedatifa mengadakan potensiasi dengan obat analgesik dan obat penekan sistem saraf
pusat yang lain.
Hipnotika digunakan untuk pengobatan gangguan tidur, seperti insomnia. Efek
samping yang umum golongan sedatif-hipnotika adalah mengantuk dan perasaan
tidak enak waktu bangun. Kelebihan dosis dapat menimbulkan koma dan kematian
karena terjadi depresi pusat medula yang vital di otak. Pengobatan jangka panjang
menyebabkan toleransi dan ketergantungan fisik.
Mekanisme kerja
Secara umum golongan sedatif-hipnotika bekerja dengan mempengaruhi
fungsi pengaktifan retikula, rangsangan pusat tidur dan menghambat fungsi pusat

6
arousal. Beberapa obat sedatif-hipnotika, seperti turunan alkohol, aldehida dan
karbamat, adalah senyawa yang berstruktur tidak khas, dan kerjanya dipengaruhi oleh
sifat kimia fisika.
Meskipun strukturnya berbeda, tetapi pada umumnya mempunyai dua gambaran
umum yang sama, yaitu:
1. Mempunyai gugus yang dapat melibatkan ikatan hidrogen;
2. Mempunyai gugus yang dapat menurunkan tetapan dielektrik air

Modifikasi tetapan dielektrik dan struktur biopolimer dari air yang


mengelilinginya menyebabkan perubahan konformasi makromolekul dalam hal ini
berhubungan dengan peran fisiologisnya. Struktur turunan barbiturat mirip dengan
timin, dapat berinteraksi melalui ikatan hidrogen dengan gugus adenin dari banyak
makromolekul, seperti FAD dan NADH, yang terlibat pada proses biokimia penting.
Sedatif-hipnotika yang banyak digunakan secara luas, seperti turunan barbiturat dan
benzodiazepin, merupakan senyawa yang berstruktur khas dan kerjanya dipengaruhi
oleh ikatannya dengan reseptor khas.
Kerja sedatifa sebagai antikecemasan pada tingkat molekul masih belum
diketahui secara penuh, tetapi dari percobaan diketahui bahwa sedatif-hipnotika
bekerja pada jalur katekolamin. Turunan benzodiazepin dan barbituran dapan
menurunkan pergantian norepinefrin, serotonin dan lain-lain amin biogenik dalam
otak, yang kemungkinan bertanggungjawab pada beberapa efek farmakologisnya.
Dari studi biokimia dan elektrofisiologis, turunan benzodiazepin mengikat
reseptor khas di otaak dan meningkatkan transmisi sinaptik GABA-ergik (gama-
aminobutyric acid) dengan meningkatkan pengaliran klorida pada membran
postsinaptik.
Hubungan struktur dan aktivitas
Dari penelitian Hansch dan kawan-kawan diketahui bahwa ada hubungan
parabolik antara perubahan struktur sedatif-hipnotika, sifat lipofil (log P) dan aktivitas
penekan sistem saraf pusat. Efek penekan sistem saraf pusat yang ideal dicapai bila
senyawa mempunyai nilai koefisien partisi oktanol/air optimal = 100 atau log P = 2.
Oleh karena itu struktur sedatifa dan hipnotika pada umumnya mengandung gugus-
gugus sebagai berikut:

1. Gugus ionik yang sangat polar dengan nilai (-) π besar. Contoh gugus tersebut
dapat dilihat pada tabel 41.
2. Gugus hidrokarbon (alkil,aril) atau hidrokarbon terhalogenasi (haloalkil) yang
bersifat non polar, dengan nilai π berkisar antara (+) 1 sampai 3.

7
Bila gugus a dan b digabungkan didapatkan nilai jumlah π (log P) ±2,
sehingga dihasilkan efek penekan sistem saraf pusat yang mendekati ideal.
Berdasarkan struktur kimianya sedatif-hipnotika dibagi menjadi enam kelompok yaitu
turunan barbiturat, turunan benzodiazepin, turunan urida asiklik, turunan alkohol,
turunan piperidindion dan kuinazolin, dan turunan aldehida.

1. Turunan Barbiturat
Turunan barbiturat merupakan sedatifa yang banyak digunakan secara
luas sebelum diketemukannya turunan benzodiazepin. Turunan barbiturat bekerja
sebagai penekan pada aksis serebrospinal dan menekan aktivitas saraf, otot
rangka otot polos dan otot jantung. Turunan Barbiturat dapat menghasilkan
derajat depresi yang berbeda yaitu sedasi, hipnotik atau anastesi tergantung pada
struktur senyawa, dosis dan cara pemakaian

Mekanisme kerja
Turunan Barbiturat bekerja dengan menekan transmisi sinaptik pada
sistem pengaktifan retikula di otak dengan cara mengubah permeabilitas
membrane sel sehingga mengurangi rangsangan sel postsinaptik dan
menyebabkan deaktivasi korteks serbral.
Hubungan struktur dan aktivitas
Sandberg (1951) membuat suatu postulat bahwa untuk memberikan efek
penekan sistem saraf pusat, turunan asam barbiturate harus bersifat asam lemah
dan mempunyai koefisien partisi lemak/air dengan batas tertentu.
Turunan Asam Barbiturat yang digunakan sebagai sedatif-hipnotik dapat
dilihat pada Tabel 42.

8
Tabel 42. Turunan asam Barbiturat yang digunakan sebagai sedatif-hipnotik

Contoh Turunan Barbiturat :

a. Barbital (Veronal) adalah turunan barbiturat dengan masa kerja panjang.


Barbital digunakan sebagai hipnotik oral, awal kerjanya 0,5-1 jam dengan masa
kerja 8-12 jam. Dosis hipnotik : 300 mg 2-3 dd.
b. Fenobarbital (Fenobarbition, Luminal) adalah turunan barbturat dengan masa
kerja panjang. Aktivitasnya lebih tinggi dibandingkan barbital dan digunakan
sebagai sedatif hipnotik dan anti kejang.
c. Amobarbital (Amytal) adalah turunan barbiturat dengan masa sedang,
digunakan sebagai sedatif, hipnotik dan anti kejang. Awal kerjanya ± 0,5 jam
dengan masa kerja 3-6 jam.
d. Pentobarbital Na (Nembutal) adalah turunan barbiturat dengan masa pendek,
digunakan sebagai sedatif dan hipnotik, diberikan secara oral atau intravena.
Kadar darah tertinggi obat dicapai dalam 1 jam setelah pemberian ora dengan

9
waktu paro plasma 15-48 jam. Dosis sedatif : 30 mg 3-4 dd, untuk hipnotik :
100 mg.
2. Turunan Benzodiazepin
Turunan Benzodiazepin adalah obat pilihan yang banyak digunakan
sebagai sedatif-hipnotik karena mempunyai efekasi dan batas keamanan lebih
besar dibandingkan turunan sedatif-hipnotik lain, yang antara lain menyangkut
efek samping, pengembangan toleransi, ketergantungan obat, interaksi obat dan
kematian akibat kelebihan dosis. Selain efek samping sedatif-hipnotik, turunan
benzodiazepin juga mempunyai efek menghilangkan ketegangan (Anxiolitik,
Transquilizer minor), relaksasi otot dan anti kejang.
Di klinik turunan ini terutama digunakan untuk menghilangkan
ketegangan, kegelisahan dan insomnia.
Efek samping yang umum adalah mengantuk, kelemahan otot, malas dan kadang-
kadang dapat terjadi amnesia, hipotensi, pengelihatan kabur dan konstipasi.
Penggunaan jangka panjangg terutama dalam dosis tinggi dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan mental.
Mekanisme kerja
Turunan Benzodiazepin menekan transmisi sinaptik pada sistem
pengaktifan retikula diotak dengan cara mengubah permeabilitas membrane sel
sehingga mengurangi rangsangan postsinaptik dan terjadi deaktivasi korteks
serebral. Turunan Benzodazepin mengikat reseptor khas di otak dan
meningkatkan transmisi sinaptik GABA-ergik (gamma-aminobutyric acid)
dengan cara meningkatkan pengaliran klorida pada membran postsinaptik dan
menurunkan pergantian norephinefrin, katekolamin, serotonin dan lain-lain amin
biogenic dalam otak dan hal ini kemungkinan bertanggung jawab pada beberapa
efek farmakologisnya.
Turunan Benzodiazepin dibagi menjadi dua kelompok yaitu turunan 1,4-
benzodiazepin-4-epoksida dan turunan 1,4-benzodiazepin-4-on.
a. Turunan 1,4-benzodiazepin-4-epoksida
Dari turunan ini hanya satu obat yang digunakan diklinik yaitu
klordiazepoksid HCl.
klordiazepoksid HCl (Librium, Cetabrium, Tensinyl, Trankinom) digunakan
terutama untuk mengontrol emosi, meringankan kecemasan, ketegangan,
gangguan fungsi somatik dan insomnia. Absorbsi obat dalam saluran cerna
praktis sempurna. Kadar tertinggi obat dalam darah dicapai setelah 2-4 jam
pemberian secara oral, ekskresinya sangat lambat dengan waktu paro 20-24
jam. Dosis : 5-10 mg 3 dd.

10
b. Turunan 1,4-benzodiazepin-4-on
Turunan ini dapat digunakan sebagai :
1) Sedatif, Contoh `: Diazepam, Oksazepam, Medazepam,
Klorazepat, Dipotasium dan Lorazepam.
2) Hipnotik,Contoh: Flurazepam, Nitrazepam dan Flunitrazepam
3) Anti kejang, Contoh : Klonazepam

Hubungan struktur dan aktivitas


Modifikasi pada cincin struktur turunan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Modifikasi pada cincin A


Pemasukan substituent penarik electron seperti Cl. Br, F, CF 3 dan NO2 pada
posisi 7 dapat meningkatkan aktivitas, sedang pemasukan gugus pendorong
electron pada posisi tersebut akan menurunkan aktivitas. Pemasukan
substituent pada posisi 8 dan 9 juga menurunkan aktivitas.
b. Modifikasi pada cincin B
1) Pemasukan gugus metil pada posisi 1 akan meningkatkan aktivitas. Bila
substituen lebih besar dari metil terjadi penurunan aktivitas. Meskipun
demikian adanya substituen yang besar pada senyawa tertentu misalnya
Flurazepam pada in vivo akan dimetabolisis (dealkilasi) menjadi metabolit
aktif.

11
Flurazepam, pada in vivo akan dimetabolisis (dealkilasi) menjadi metabolit
aktif.

2) Penggantian atom O gugus karbonil dengan dua gugus hydrogen


menghasilkan senyawa (Medazepam) yang aktivitasnya lebih rendah
dibandingkan diazepam.
3) Penggantian satu atom hydrogen pada posisi dengan gugus hidroksil akan
menurunkan efek samping karena adanya gugus hidroksi akan
mempercepat eliminasi senyawa. Penggantian satu atom hidrogen pada
posisi 3 dengan gugus karboksil meningkatkan masa kerja obat karena
senyawa memerlukan waktu untuk diubah menjadi metabolit aktif.
4) Penggantian gugus fenil pada posisi 5 dengan gugus sikloalkil atau
heteroaromatik lain secara umum menurunkan aktivitas kecuali
penggantian dengan gugus piridil seperti Bromazepam, menunjukan
aktivitas yang sama dengan Diazepam.

5) Penggabungan cincin pada posisi 1 dan 2 diazepin seperti pada turunan


Triazololbenzodiazepin, secara umum mempunyai aktivitas yang lebih
tinggi dibandingkan turunan 1-metilbenzodiazepin.

Contoh turunan Triazololbenzodiazepin :


a. Sebagai sedatif adalah Alprazolam, Oxazolam dan Klobazam.
b. Sebagai hipnotik adalah Midazolam, Estazolam dan Triazolam.

Struktur beberapa turunan Triazololbenzodiazepin dapat dilihat pada Tabel 44.

c. Modifikasi pada cincin C


Substitusi atau disubstitusi gugus fluorin atau klorida pada posisi orto
cincin c akan meningkatkan aktivitas. Substitusi pada posisi meta dan para
akan menurunkan aktivitas.
Contoh :

12
1) Diazepam(Valium, Diazepin, Stesolid, Mentalium), digunakan sebagai
sedatif dan hipnotik untuk mengontrol kecemasan dan ketegangan,
antikejang untuk mengontrol epilepsi dan antispastik untuk mengontrol
spasma otot misalnya tetanus. Absorbs obat dalam saluran cerna cepat dan
sempurna. Di hati senyawa mengalami metabolisme N-dealkilasi dan
hidroksilasi menghasilkan metabolit aktif nordazepam, oksazepam dan
temazepam. Kadar plasma tertinggi obat dicapai dalam 0,5-1,5 jam setelah
pemberian oral, waktu paro metabolit aktif nordazepam ± 27-37 jam. Dosis
oral : 4-40 mg/hari dalam dosis terbagi 2-4 kali atau dosis tunggal 2,5-10
mg sebelum tidur. Dosis I.V atau I.M :5-10 mg.

Tabel 44. Struktur turunan Triazololbenzodiazepin

2) Oksazepam, mempunyai kegunaan sama dengan diazepam. Efek samping


dan toksistas atau kumulatifnya lebih rendah dibandingkan diazepam,
kemungkinankarena gugus 3-OH mudah terkonjugasi dan kemudian

13
dieliminasikan sebagai glukuronida. Oksazepam mempunyai waktu paro ±
8 jam. Dosis oral :10-15 mg,3-4 dd
3) Medazepam (Nobrium), pada umumnya digunakan untuk pengobatan
kecemasan psikoneurosis. Absorpsi obat dalam saluran cerna cepat, kadar
plasma tertinggi dicapai dalam 1-3 jam sesudah pemberian secara oral,
dengan waktu paro plasma 2-4 jam . dosis oral ;5-10 mg 2-3 dd
4) Klorazepat dipotasium (Tranxene), mempunyai kegunaan yang sama
dengan diazepam. Kadar darah tertinggi obat dicapai dalam 1 jam setelah
pemberian oral, waktu paro obat aktif ± 24 jam, dengan waktu paro
eliminasi 40-100 jam. dosis oral :10-30 mg/hari dalam dosis terbagi.
5) Lorazepam (Ativan), digunakan untuk pengobatan berbagai kelainan yang
disebabkan oleh kecemasan. Kadar plasma tertinggi obat dicapai dalam ± 2
jam sesudah pemberian secara oral, ± 85% obat terikat oleh protein plasma,
dengan waktu paro plasma 8-12 jam. Dosis oral :1 mg 2-3 dd
6) Bromazepam (Lexotan), dalam dosis rendah dapat mengurangi
ketegangan dan kecemasan, sedang dlam dosis tinggi menunjukkan sifat
sedative dan relaksasi otot. Dosis oral 1,5-3 mg 3 dd
7) Alprazolam (Xanax), digunakan untuk pengobatan bebrbagai kelainan
yang disebabkan oleh kecemasan dan ketegangan. Kadar plasma tertinggi
obat dicapai dalam ±1-2 jam sesudah pemberian secara oral, dan waktu
paro rata-ratanya ±12-15 jam . Dosis oral : 0,25-0,5 mg 3 dd
8) Oxazolam (Serenal), mempunyai efek tranquilizer minor sebanding
dengan diazepam tetapi toksisitas dan efek hipnotiknya lebih rendah. Obat
cepat didistribusikan keselurh tubuh, dan kadar tertinggi dicapai dalam
0,5-1 jam setelah pemberian oral. Dosis oral 10-20 mg 3dd
9) Klobazam (Frisium), digunakn untuk keadaan ketegangan dan kecemasan
kronik dan akut, yang berhubungan dengan psikoneurotik atau
psikosomatik.
10) Flurazepam (Dalmadorm), adalh hiptotik yang cukup kuat, digunak pada
keadaan insomnia oleh berbagai macam sebab.
11) Nitrazepam(Dumolid, Mogadan, Somnil), mekanisme kerjanya serupa
dengan diazepam, dan digunakn sebagai hipnotik.
12) Flunitrazepam (Rohypnol), mekanisme kerjanya serupa dengan
diazepam, digunakan sebagai hipnotik.
13) Midazolam (Dormicum), adalh turunan imidazobenzodiazepin ,adanya
nitrogen basa pada posisi 2,dengan asam dapat membentuk garam yang

14
stabil dan mudah larut dalam air. Midazolam digunakan pada pramedikasi,
sebagai hipnotik untuk induksi dan memelihara anestesi.
14) Estazolam (Esilgan), adalah hipnotik kuat, yang digunakna pada keadaan
gangguan tidur karena keteganagn, kecemasan, kelainan neurosis, dan
psikosis.
15) Triazolam (Halcion), adalah hipnotik yang sangat kuat pada keadaan
gangguan tidurkarena ketegangan, kecemasan, kelainan neurosis dan
psikosis.
3. Turunan Ureida Asiklik
Ureida asiklik adalah turunan urea dan asam monokarboksilat dengan
formula umum R-CONHCONH2
Contoh : R = (H5C2)2C(Br)- : karbromal (adalin)
R = (H5C2)2CHCH(Br)- : bromisovalum(bromural)
Turunan ureida asiklik digunakan untuk pengobatan kecemasan dan
ketegangan saraf yang ringan, bila turunan barbiturate sudah tidak efektif.
Penggunaan jangka panjang tidak dianjurkan karena pada in vivo senyawa akan
melepas bromide dan menyebabkan hiperbromida. Dosis untuk sedasi : 250-500
mg, dosis hipnotik : 600-900 mg.
4. turunan alkohol
Alkohol alifatik disamping mempunyai aktivitas sebagai antibakteri juga
mempunyai efek hipnotik.
Hubungan struktur dan aktivitas
a. Aktivitas hipnotik akan meningkat dengan meningkatnya panjang rantai
atom C sampai jumlah atom c = 8 (n-oktanol)
b. Adanya ikatan rangkap akan meningkatkan aktivitas dan toksisitas obat,
dan gugus etilen mempunyai aktivitas yang paling besar.
c. Aktivitas alkohol tersier lebih besar dibanding alkohol sekunder dan
aktivitas alkohol sekunder lebih besar dibanding alkohol primer.
d. Adanya percabangan akan memperbesar efek depresi.
e. Pemasukan gugus hidroksil cenderung menurunkan aktivitas dan
toksisistas.
f. Penggantian atom hydrogen dan halogen dapat meningkatkan aktivitas.

Methanol, tidak digunkan sebagai sedatif-hipnotik karena dapat menimbulkan


kebutaan.
Etanol, dalam bentuk sebagai bir, anggur, brendi dan wiski, juga
digunakansebagai sadatif-hipnotik, tetapi karena cepat menimbulkan
alkoholisme kronik dan hanya efektif bila digunkan dalam jumlah yang besar,
penggunaannya sebagaisedative-hipnotik tidak dianjurkan. Turunan alkohol
yang digunakan sebagai hipnotik hanyalah etklorvinol (placidyl), walaupun

15
pada dosis yang besar senyawa ini menyebabkan ketergantungan fisik.
Etklorvinol mempunyai awal kerja cukup cepat dengan masa kerja ± 5 jam.
Dosis sedatif : 100-200 mg, untuk hipnotik : 500 mg.

5. turunan piperidindion dan kuinazolin


 Turunan piperidindionmempunyai struktur yang berhubungan dengan
turunan barbiturat. Aktivitas sedatif-hipnotiknya lebih rendah dibanding
turunan benzodiazepin maupun barbiturat. Sifat relaksasi otot, analgesic
dan tranquilizernya rendah dan efek sampingnya hampir sama dengan
turunan barbiturat.
Contoh : glutetimid, metiprilon daan talidomid.

a. Glutatimid, mempunyai aktivitas penekan sistem saraf pusat seperlima


kali pentobarbital. Dosis sedating untuk pengobatan kecemasan : 125-
250 mg. dosis hipnotik: 500 mg.

b. Metiprilon, mempunyai aktivitas dan masa kerja yang sebanding


dengan amobarbital. Dosis sedatif : 50-100 mg, untuk hipnotik : 200-
400 mg.

c. Talidomid, dahulu banyak digunakan untuk sedatif-hipnotik, tetapi


karena mempunyai efek teratogenik yang dapat menyebabkan bayi
cacat dalam kandungan, sekarang ditarik dari peredaran.

 Turunan kuinazolin mempunyai struktur mirip dengan turunan


piperidindion.Contoh : metakualon.
a. Metakualon menimbulkan efek sedatif-hipnotik yang tidak lebih baik
dibanding obat hipnotik lain. Metakualon sering disalahgunakan dan

16
menyebabkan ketergantungan fisik dan mental sehingga ditarik dari
peradaran.

6. Turunan Aldehida
Turunan aldehida menpunyai efek sedatif-hipnotik, dengan awal kerja cepat
dan waktu paro yang pendek.Contoh : paraldehid, krolal hidrat, kloral betain,
petrikloral dan triklofos Na.

a. Kloral hidrat, adalah suatu pra-obat, dalam tubuh segera direduksi menjadi
trikloretanol yang aktif sebagai hipnotik. Kloral hidrat mempunyai turunannya
sebagai pra-obat, seperti kloral betain, petrikloral dan triklofos Na. pada in
vivo pra-obat dimetabolisis menghasilkan metabolit aktif trikloretanol.

b. Paralhedid, adalah senyawa dengan aktivitas besar dan relatif aman untuk
pengobatan jangka panjang kurang disukai. Dosis : 4-8 ml

2.4. RELAKSAN PUSAT


Relaksan pusat adalah senyawa kimia yang dapat menekan fungsi sistem saraf
pusat dan menimbulkan relaksasi otot rangka (otot bergaris).
Mekanisme kerja
Relaksan otot rangka bekerja secara sentral pada otot dan saraf tulang
belakang. Turunan propandial, seperti mefenesin, dan golongan lain-lain, seperti
klormezanon dan klorzoksazon, bekerja dengan memblok atau memperlambat

17
transmisi ransangan saraf sinaptik internunsial pada saraf tulang belakang, pada
batang otak, telamus dan basal ganglia.
Berdasarkan struktur kimia relaksan pusat dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu turunan propandiol, turunan bensodiazepin dan golongan lain-lain.

1. Turunan propandiol

Sudah banyak senyawa turunan propandiol disintesis dalam usaha mencari


senyawa dengan efek relaksasi otot yang yang ideal, diantaranya adalah
modifikasi pada inti aromatik dari senyawa induk 3-fenoksi-1,2-propandiol
(antodin), yang dapat dilihat pada table 45.

Dari tabel 45 terlihat bahwa subsitusi gugus-gugus metil, metoksi dan


klorida pada inti aromatik dapat meningkatkan aktivitas obat. Subsitusi pada
posisi orto pada umumnya menimbulkan aktivitas yang lebih tinggi dibanding
substitusi pada posis meta atau para. Substitusi gugus-gugus amino, hidroksil,
hidroksimetil, karboksi, karbometoksi, asetamido dan asetil, secara umum
menurunkan aktivitas antodin.

Turunan propandiol yang pertama kali digunakan sebagai relaksan otot


rangka adalah 3-o-toloksi-1,2-propandiol (mefenesin). Mefenesin mempunyai
masa kerja singkat karena mempunyai gugus hidroksil di ujung yang mudah
mengalami metabolisme, yaitu mudah dioksidasi menjadi turunan asam yang
tidak aktif. Kadar plasma tertinggi mefenesin dicapai 30 menit, setelah pemberian
oral. Oleh karena itu dibuat analognya, yaitu turunan ester atau karbamat, untuk
melindungi gugus fungsi tersebut sehingga masa kerja obat bertambah panjang.
Mefenesin suksinat, meskipun aktivitasnya hanya setengah dari mefenesin tetapi
mempunyai masa kerja lebih panjang, demikian pula mefenesin karbamat.

Struktur turunan mefenesin dapat dilihat pada tabel 46.

Modifikasi pada inti aromatik juga dilakukan sehingga didapatkan


senyawa dengan aktivitas lebih tinggi dan masa kerja lebih panjang, seperti
metokarbamol dan klorfenesin karbamat.
Kadar plasma tertinggi metokarbamol dicapai dalam ± 1 jam setelah
pemberian secara oral, sedang klorfenesin karbamat kadar plasma tertinggi

18
dicapai setelah ± 2 jam. Metokarbamol menimbulkan efek samping mengantuk,
pusing, hipotensi, tromboflebitis serta menimbullkan retensi urea dan asidosis.
Klorfenesin karbamat, cepat diabsorpsi dalam saluran cerna, kadara serum
tertinggi dicapai dalam 1-3 jam setelah pemberian secara oral, dengan waktu
paro ± 3,5 jam.Dari penelitian diketahui bahwa inti aromatik tidak diperlukan
untuk aktivitas dan kemudian dicoba dibuat analog pada seri alifatik untuk
memperpanjang aktivitas relaksasi otot, yaitu meprobamat.
Struktur analog memprobamat dapat dilihat pada tabel 47.
Meprobamat walaupun mempunyai aktivitas relaksasi otot sedikit lebih
rendah dibanding mefenesin tetapi masa kerjanya lebih panjang ± 8-10 kali,
dengan
Tabel 45.Modifikasi pada inti aromatic turunan 3-fenoksi-1,2-propandiol

tabel 46. Sruktur turunan mefenesin

Tabel 47. Struktur analog meprobamat.

19
Waktu paro plasma ± 11 jam. Meprobamat juga efektif sebagai penekan
sistem saraf pusat dan dalam dosis besar menimbullkan efek sedasi sehingga dapat
digunakan untuk mengurangi ketegangan emosi dan mengontrol hipereksitabilitas.
Meprobamat relatif aman dan tidak menimbulkan afek samping yang serius.
Karisoprodol dan tibamat adalah analog meprobamat yang mempunyai awal kerja
lebih cepat dan masa kerja yang lebih panjang dibanding memprobamat. Karisoprodol
adalah relaksan otot yang kuat, kadar serum maksimum dicapai 1-2 jam setelah
pemberian oral.

2. Turunan benzodiazepin

Turunan benzodiazepine yang sering digunakan sebagai relaksan otot adalah


klordiazepoksid HCl, klorazepat dipotasium, diazepam, flurazepam HCl,
lorazepam dan oksazepam. Mekanisme kerja, hubungan struktur-aktivitas dan hal-
hal lain dari turunan ini dapat dilihat pada bab sedatif-hipnotik.

3. Golongan lain-lain

Contoh : klormezanon, klorzoksazon, baclofen dan eperison.

a. Klormezanon, selain sebagai relaksan otot rangka juga mempunyai efek penekan
sistem saraf pusat yang ringan sehingga digunakan pula untuk pengobatan
ketegangan dan kecemasan

20
b. Klorzoksazon (solaxin), dapat menekan transmisi refleks polisinaptik secara
selektif, tidak mempengaruhi jalur monosinaptik dan efek pada batang otak sangat
kecil.

c. Baklofen (Lioresal), mempunyai struktur kimia yang analog dengan GABA,


dapat menyebabkan relaksasi otot dengan cara menekan transminsi refleks mono
dan polisinaptik serta dengan menghambat kerja interneuron

d. Eperison HCl (Myonal), selain sebagai relaksan otot rangka dan vasodilator,
eperison juga mempunyai efek penekan sistem saraf pusat dan dapat bekerja pada
otot polos , dosis : 50 mg 3 dd .

2.5. OBAT ANTIPSIKOTIK


Obat antipsikotik juga di kenal dengan nama neuroleptik, mayor
tranquilizer atau atarktik. Perbedaan golongan sedatif-hipnotik adalah dapat
menghasilkan efek penekan sistem saraf pusat secara selektif, yaitu memberikan efek
sedasi kuat tanpa menurunkan kesadaran atau menekan vital, meskipun dalam dosis
yang besar.
Obat antipsikotik di gunakan untuk pengobatan ganguan kejiwaan yang berat
seperti skizofrenia dan meringankan gejala penyakit tersebut, efektif menekan
eksitasi, agitasi dan agresitivitas.
Mekanisme kerja Obat antipsikotik
Obat antipsikotik menimbulkan efek farmakologis dengan mempengaruhi
mekanisme pusat dopaminergik, yaitu bekerja sebagai antagonis pada reseptor
dopamin, memblok dopamin sehingga tidak dapat berinteraksi dengan reseptor.
pemblokan tersebut terjadi pada pra dan postsinaptik reseptor dopamin sehingga

21
kadar dopamin dalam tubuh meningkat dan menyebabkan terjadinya efek
antipsikotik.
Obat antipsikotik dalam membentuk kompleks dengan reseptor dopamin
kemungkinan melibatkan dua bentuk konformasi , yaitu:
a. Bentuk konformasi keadaan padat dari Obat antipsikotik yaitu hampir sama
dengan bentuk dopamin yang memanjang . bentuk konformasi ini dapat dilihat
pada gambar 16.
b. Bentuk konformasi S dan 4 atom berturutan yang menhubungkan cincin
aromatik dengan atom N tersier basa dari Obat antipsikotik , yang juga hampir
sama dengan bentuk dopamin yang memanjang. Bentuk konformasi ini dapat
dilihat pada gambar 17.
Kedua bentuk konformasi di atas menunjang penjelasan konsep bahwa aktivitas
Obat antipsikotik di sebabkan oleh efek pemblokakn pada reseptor dopamin.
1. Reseptor D-1 , yang berhubungan dengan enzim dopamin sensitif adenilat
siklase. Rangasangan reseptor ini dapat meningkatkan pembentukan siklis – AMP
2. Reseptor D-2 , tidak berhungan dengan enzim di atas. rangsangan reseptor ini
dapat menurunkan kapasitas sel untuk mensistesis siklik –AMP dan respon
terhadap agonis β- adenergik.
Turunan fenotiazin menunjukan aktivitas terhadap reseptor D-1 yang lebih
besar di bandingkan reseptor D-2 turunan tioxanten afinitas terhadap reseptor D-1
dan D-2 hamir sama denaga turunan flourobutirofenon dan benzamid selektid
sebagai pengahambat reseptor D-2
Gambar 16. Bentuk konformasi keadan padat dari (a) klorpromazin dan (b)
haloperidol, yang hampir sama dengan dopamin yang memanjang (c)

22
Gambar 17. Bentuk konformasi S dari (a) turunan tioxanten dan (b) turunan
difenilbutilamin yang hampir dama dengan bentuk dopamin yang memanjang (c).

Hubungan struktur dan aktiviats


Menurut janssen Obat antipsikotik secara umum mempunyai dua gambaran
struktur yang di pandang penting untuk timbul aktiviats yaitu, :
1. Rantai lurus yang terdiri dari tiga atom C, yang mengikat dasar cincin nitrogen
dan atom N,C atau O. Merupakan bagian dari salah satu gugus berikut, yaitu
benzoil, 2-fenotiazin atau sistem trisiklik –tioksanten rantai samping
finoksipropil, 2-fenilpeten atau dua cincin sikloheksan.
2. Cincin heteroksiklik dengan jumlah atom = 6 seperti piperazin atau piperdin,
yang tersubtitusi pada posisi 1 dan 4 . subsituen yang terbaik pada posisi 4
cincin heteroksiklik adalah gugus fenil , anilin, metil dan hidroksietil.
Berdasarkan struktur kimia Obat antipsikotik di bagi menjadi tiga kelompok yaitu
turunan fenotiazin, turunan flourobutirofenon dan turunan lain.
1. Turunan fenotiazin
Turunan fenotiazin merupakan struktur kimia karakteristik sistem trisiklik
tidak bersifat planar yang bersifat lipofil dan rantai samping alkilamino yang
terikat pada atom N tersier pusat cincin bersifat hidrofil. Rantai samping tersebut
bervariasi dan kebanyakkan merupakan salah satu sturktur sebagai berikut:
propildialkalimino, alkilpiperidil atau alkilpiperazin. Turunan fenotiazin di
gunakan untuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang moderat sampai
berat seperti psikosis akut dan kronik. Banyak turunan fenotiazin mempunyai
aktivitas antiemetik ,simpatolitik atau antikolinergik.
Turunan fenotiazin juga mengadakan pontesial dengan obat-obat sedatif-
hipnotika, analgetika narkotik atau anestetika sistemik. Penggunaan dosis tinggi
menimbulkan efek samping berupa gejala ekstrapiramidal dengan efek seperti
pada penyakit parkinson. Pengunaan jangka panjang menimbulkan hipotensi,
agranulositosis, dermatis, penyakit kuning, perubahan mata dan kulit serta sensitif
terhadap cahaya. contoh turunan fenotiazin yang terutama di
gunakansebagaiantipsikosis adalah promazin, klorpromazin, trifluoperazin,
teoridazin, mesoridazin, parazin, (Taxilan), butaperazin, flufenazin,
asetofenazin, dan carfenazin.
Contoh turunan fenotiazin yang di gunakan sebagai antiemetik adalah
proklorperazin dan perfenazin.

23
Struktur turunan fenotiazin dengan rantai samping aminoalkil dapat di lihat pada
tabel 48 .
Hubungan struktur dan aktivitas
a. Gugus pada R2 dapat menetukan kerapatan elektron sistem cincin. Senyawa
mempunyai aktivitas yang besar bila pada gugus R2 bersifat penarik elektron
dan tidak terionisasi. Makin besar kekuatan penarik elektron makin tinggi
aktivitasnya. Subtitusi pada R2 dengan gugus Cl atau CF3 dapat meningkat
aktivitas substituen CF3 lebih aktif di bandingkan Cl karena mempunya
penarik elektron lebih besar tetapi efek smaping gejala ekstrapiramidal
ternyata lebih besar . substitusi pada R2 dengan gugus tiolkil (SCH3) senyawa
tetap mempunyai aktivitas tranquilizer dan dapat menurunkan efek samping
ekstrapiramidal. substitusi dengan gugus asil (COR) senyawa tetap
menunjukan aktivitas tranquilizer.
b. Substitusi pada posisi 1,3, dan 4 pada kedua cincin aromatik akan
menghilangkan aktivitas tranqulizer.
c. Bila jumlah atom C yang menggikat nitrogen adalah 3, senyawa menunjukkan
aktivitas tranqulizer optimal . bila jumlah atom C=2 , senyawa menunjukkan
aktivitas penekan sistem saraf pusat yang moderat tetapi efek antihistamin dan
anti-parkinson lebih dominan.
d. Ada percabangan pada posisi rantai alkil dapat mengubah aktivitas
farmakologisnya, subtitusi β-metil dapat meningkatkan aktivitas antihistamin
dan antipruritiknya. Adanya subsitusi tersebut menyebabkan senyawa bersifat
optis aktif dan stereoselektif. Isomer love lebih aktif di bandingkan isomer
dekstro.
e. Subtitusi pada rantai alkl dengan gugu yang besar, seperti fenil atau
dimetilami, dan gugus yang bersifat polar, seperti gugus hidroksil , akan
menghilangkan aktivitas tranquilizer.
f. Penggantian gugus metil pada dimetilamino dengan gugus alkil yang lebih
besar dari metil akan menurunkan aktivitas karena terjadi pengaruh
peningkatan halangan ruang
g. Penggantian gugus dimetilamino dengan gugus piperazin akan meningkatkan
aktivitas tranquilizer tetapi juga meningkatkan gejala ekstrapiramidal .
h. Penggantian gugus metil yang terletak pada ujung gugus piperazin dengan
gugus –CH2-CH2OH hanya sedikit meningkatkan kativitas.
i. Kuarterinerisasi rantai samping nitrogen akan menurunkan kelarutan dalam
lemak, menurunkan penetrasi obat pada sistem saraf ousat sehingga
menghilangkan aktivitas tranquilizer.

24
Tabel 48. Turuana fenotiazin dengan rantai samping aminoalkil

j. Masa kerja turunan fenotiazin dapat di perpanjang dengan membuat bentuk


ester dengan asam lemak yang berantai panjang seperti asam enantat dan
dekanoat. Contoh :
a. PromaZin HCL, Aktivitasnya lebih rendah dibanding Klopromasin
digunakan untuk mengontrol agitasi neuropsikeotraktik, pemberiam secara
oral lebih baik karena pada pemberian parenteran menimbulkan hipotensi
orpostatik. Dosis oral, I.M. atau I.V : 10 – 200 Mg, setiap 4 – 6 jam
b. Klorposzin HCL (largactil,promactil), digunakan unuk pengobatan
skizofren, psikotik akut dang mengontrol manifestasi kegilaan yang akur.
c. Tioradazin (Melleril) ,digunakan untuk mengontro manifestasi kelainan
psikotik. Pada dosis rendah teuridazin efektif untuk depresi ringan untuk
mengontrol keadaan kecemasan dan keadaan kecemasan dan ketegangan
efek obat pada aktivtas monotorik rendah sehingga penderita tetap akif.
Pada dosis tinggi efektif untuk pengobatan psikotif. Efek antimetik dan

25
gejala ekstrapiramidalnya relatif kecil absorpsi obat dalam saluran cerna
cepat , dan pada invivo mengalami sulvoksiasi menghasilkan senywa aktif
mesoridazin dan sulvoridasi.
d. Trifluoperazint HCL (Stelazin), sangat aktif untuk mengontrol psikosis
akut dan kronik. Trifuoparasin menimbulkan efek samping gejala
ekstrpiramidal. Absorpsi obat dalam dalam saluran menimbulkan efek
samping gejala ekstrapiramidal absolpsi obat dalam saluran cerna cepat,
e. Flufenazin HCL (Anatensol), digunakan sebagai anti psikotik dan
antimetik. Kadar plasma tertinggi obat dicapai 2-4 jam setelah pemberian
secara oral, waktu paroh plasma 1,2 jam efek samping ekstra piramidal
cukup besar.
f. Prokloparazin maleat (Stemetil), digunakan untuk mengontrol
kecemasan, ketegangan dan beragai manifestasi kelainan psikotikpada
dosis rendah kroperazin efektif depresi ringan dan mengontrol keadaan
keemasan dan ketegangan, sedang pada dosis tinggi untuk pengobatan
psikotik.
g. Perfenazin (avomit, Trilavon) , digunakan untuk mengontrol kecemasan,
ketegangan, dan berbagai manifestasi kelainan psikotik serta untuk
antimetik. Waktu paro plasma ±8-12 jam. Dosis untuk antimetik : 2-4 mg
4-6 dd, sedang untuk psikosis 16-64 mg/hari, dalam dsosis terbagi
2. Turunan flourobutirofenon
Turunan flourobutirofenon pada awalnya di buat dalam usaha
meningkatkan pontesi anlgesik dari maperidin tetapi turunan ini ternyata
menunjukkan aktivitas antipsikosis yang serupa dengan klorpomazin.
Turunan flourobutirofenon mempunyai efek farmakologis serupa dengan
Turunan fenotiasin di gunakan untuk pengobatan psikotik yang kronik dan akut,
skizofrenia dan keadaan mania (kegilaan)serta untuk menekan agitasi dan
agresivitas. Efek samping hampir sama dengan Turunan fenotiazin tetapi relatif
lebih rendah. Pada dosis besar menimbulkan efek samping gejala ekstrapiramidal.
Turunan flourobutirofenon mengadakan pontesiasi dengan obat penekan sistem
saraf pusat lain, seperti obat anlegetika, anestetika, turunan barbiturat dan turunan
alkohol.
Struktur brerapa Turunan flourobutirofenon dapat di lihat pada tabel 49.

Tabel 49. Struktur beberapa Turunan flourobutirofenon

26
Contoh :

a. Haloperidol (Haldol serenace ) adalah antipsikotik yang kaut dan digunakan


sebgai obat pilihan lain dari turunan fenotiazin yang lebih populer.
b. Droperidol, adalah neuroleptik dan antimetik yang kuat. Droperidol di gunakan
bersama-sama dengan narkotika analgesik fentanil sitrat, dengan nama paten
innovar, di berikan secara intravena atauintramuskular untuk sedasi dan analgesik
sebelum anestesi.

Droperidol

3. Turunan lain-lain
Contoh :sulpirid, pimozid dan buspiron.
a. Sulpirid (dogmatil), adalah turunan benzamid yang di hasilakan dari
modifikasi struktur metokloperamid, suatu antiemetik yang dalam dosis besar
menunjukan kerja antipsikotik. Senyawa tidak menimbulkan efek sedasi dan
tidak dapan untuk pengobatan gejala agitasi psikomotorik. Sulpirid juga di
gunakan untuk pengobatan tukak usus dan vertigo. Karena bersifat hidrofil,

27
penetrasi obat ke sistem saraf pusat terbatas sehingga aktivitas antipiskosisnya
relatif rendah.
b. Pimozid (orap), adalah turunan fenilbutilamin yang di rancang dari modifikasi
struktur haloperidol. Efek farmalogis dan efek samping sama dengan turunan
fluorobutirefenon dan fenotiazin piperazin. pimozid mempunyai masa keja
yang lebih panjang di banding kedua turunan di atas. Dan di gunakan terutama
untuk pengobatan psikotik kronik

c. Buspiron HCl (Buspar), adalah turunan aril piperazin yang mempunyai efek
antipsikotik cukup kuat.

2.6. OBAT ANTIKEJANG


Obat antikejang adalah senyawa kimia yang secara selektif dapat menekan
sistem saraf pusat dan digunakan untuk mengontrol dan mencegah serangan tiba-tiba
dari epilepsi tanpa menimbulkan depresi pernafasan. Epilepsi adalah gejalah
kompleks yang dikarakterisasi oleh kambuhnya serangan hebat disritmia otak disertai
dengan gangguan atau hilangnya kesadaran dan kadang-kadang disertai dengan
pergerakan tubuh (kejang), biasanya waktunya pendek dan terjadi pada orang
tertentu. Obat antikejang bersifat simptomatik, hanya meringankan gejala saja tetapi
tidak menyembuhkan, sehingga pengobatan epilepsi diberikan untuk seumur hidup.
Serangan epilepsi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. serangan kejang parsial
a. gejala sederhana (gejala motorik, sensorik dan autonomik)
b. gejala kompleks gejala pada kesadaran (gejala kognitif, afektif atau
psikosensori dan gejala psikomotor).
2. Serangankejang generalis

28
a. primer (petit mal sederhana atau kompleks, serangan mioklonik dan atonik,
serangan klonik, tonik dan klonik-tonik utau grand mal dan serangan
unilateral)
b. sekunder.
3. Serangan kejang yang tidak diklasifikasikan.
4. Status epileptikus.

Efek samping obat antikejang antara lain adalah kerusakan sumsum tulang,
hati, dan ginjal, neuropati, gangguan saluran cerna dan alopesia.
Mekanisme kerja obat antikejang
Salah satu hipotesis mekanisme kerja obat antikejang adalah serupa dengan
anestetika sistemik dan sedatif hipnotika, yaitu termasuk obat berstuktur tidak khas,
yang efek farmakologisnya dipengaruhi oleh sifat kimia fisika dan tidak oleh
pembentukan kompleks dengan reseptor khas. Pada umumnya banyak obat
antikejang mempunyai dua struktur yang karakteristik yaitu gugus yang bersifat
polar, biasanya gugus imido, dan gugus yang bersifat lipofil.
Obat antikejang seperti klonazepam, diazepam, fenobarbital dan asam
valproat, bekerja dengan meningkatkan aktivitas sistem penghambatan
mediatorGABA.
Etoksuksimid, trimetadion dan juga asam valproat bekerja dengan
memblok aktivitas yang menimbulkan serangan dari leusin enkefalin, karena diduga
sistem neurotransmiter enkefalinergik terlibat dalam peristiwa hilangnya epilepsi.
Fenitoin tidak mengubah sistem penghambatan, neurotransmiter, tetapi
menghilangkan hiperpolarisasi post-tetanik dan mengurangi potensiasi post-tetanik
dari transmisi sinaptik. Efek ini mempengaruhi pengangkutan ion Na, Ca dan K, serta
meningkatkan kestabilan membran.
Berdasarkan struktur kimianya obat antikejang dibagi menjadi tujuh
kelompok, yaitu turunan barbiturat, turunan hidantoin, turunan oksazolidindion,
turunan suksinimida, turunan benzodiazepin, turunan asam valproat dan turunan
dibenzazepin.
Obat antikejang turunan barbiturat, hidantoin, oksazolidindio dan
suksinimida mempunyai persamaan menarik yaitu sama-sama mengandung struktur
ureida. Turunan obat antikejang yang mengandung struktur ureida dapat dilihat pada

Tabel 50. Turunan obat antikejang yang mengandung sruktur ureida.


Sruktur ureida :

29
1. Turunan Barbiturat.
Turunan Barbiturat dapat digunakan untuk mengontrol epilepsi, tetapi
efeknya kurang selektif. Turunan ini efektif terutama untuk mengontrol serangan
gand mal dan parsial (psikomotor), kurang bermanfaat untuk serangan petit mal.
Mekanisme kerja turunan barbiturat dalam mengurangi fungsi korteks motor
masih belum begitu jelas.
Contoh : fenobarbital, mefobarbital, metarbital dan primidon.
a. Fenobarbital, adalah turunan barbiturat dengan masa kerja yang panjang
lebih efektif untuk mengontrol serangan grand mal dibanding petit mal.
Dosis : 50-100 mg 2-3 dd.
b. Metarbital, adalah turunan barbiturat yang bekerja secara efektif untuk
mengontrol serangan grand mal, petit mal, mioklonik atau tipe campuran.
Dosis : 100 mg, 1-3 dd.

30
c. Primidon (Mysoline), adalah turunan 2-deoksi dari fenobarbital. Primidon
mempunyai spektrum aktivitas berbeda dengan fenobarbital dan
menimbulkan tokaisitan lebih rendah Efek antikejangnya lebih rendah
dibanding fenobarbital dan dapat toleransi. Ditubuh primidon diubah
menjadi dua senyawa aktif yaitu fenobarbital dan feniletilmalonamid.
Primidon digunakan terutama untuk mengontrol serangan grand mal dan
Psikomotor.
2. Turunan Hidantoin
Turunan hidantoin sangat efektif terutama untuk mengontrol serangan
grandmal dan parsial (paikomotor), kurang bermanfaat untuk serangan petit mal.
Contoh : mefenitoin Na, mefonitoin dan etotoin
Struktur turunan hidantoin dapat dilihat pada Tabel 51.

Contoh :
a. Fenitoin Na (Difenilhidantoin Na, Dilantin), adalah antikejang dengan sifat
sedatif sangat rendah. Fenitoin efektif untuk mengontrol serangan grand mal.
terutama bila dikombinasi dengan fenobarbital. Fenitoin juga digunakan secara
luas untuk mengontrol serangan parsial (psikomotor). Tidak digunakan untuk
serangan petit mal karena kemungkinan akan meningkatkan frekuensi
serangan. Efek mampingnya antara lain menimbulkan hiperplasia ginggival
pada anak-anak dan hiperaktivitas.
b. Mefenitoin, jarang digunakan sebagai obat antikejang karena menimbulkan
hepatotoksik, dermatitis dan anemia aplastik

Tabel 51. Struktur turunan hidantoin

31
c. Etotoin, mempunyai efek antikejang lebih rendah dibanding fenitoin dan
menimbulkan efek sedasi yang lebih besar.
3. Turunan oksazolidindion
Turunan oksazolidindion efektif untuk pengobatan serangan petit mal, dan
tidak efektif terhadap serangan grand mal. Turunan ini menimbulkan efek
samping seperti iritasi lambung, mual, pusing dan gangguan penglihatan, yang
lebih serius dapat menimbulkan anemia aplastik, depresi sumsum tulang belakang
dan kerusakan ginjal.
Contoh : trimetadion dan parametadion.
Struktur turunan okusazolidindion dapat dilihat pada Tabel 52.
a. Trimetadion, adalah pra-obat, dalam tubuh dimetabolisis (N-demetilasi)
menjadi senyawa aktif dimetadion. Trimetadion diabsorpsi dalam saluran
cerna dengan cepat, waktu paro plasmanya ± 16 jam.
b. Parametadion, mempunyai aktivitas hampir sama dengan trimetadion, tetapi
efek samping yang ditimbulkan lebih rendah.
4. Turunan suksinimida
Turunan suksinimida mempunyai aktivitas yang moderat terhadap
serangan petit mal dan tidak efektif terhadap serangan grand mal. Aktivitasnya
relatif sama dengan turunan oksazolidindian tetapi efek sampingnya lebih rendah.
Contoh : fensuksimid, metsuksimid dan etoksusimid.

Struktur turunan suksinimida dapat dilihat pada Tabel 53.


Tabel 52. Struktur turunan oksazolidindion

Tabel 53. Struktur turunan suksinimida

32
a. Etoksuksimid, merupakan obat pilihan untuk pengobatan serangan petit mal
dan juga efektif untuk serangan mioklonik.
b. Metsuksimid, mempunyai aktivitas antikejang yang lebih tinggi dibanding
fensuksimid dan etoksuksimid, tetapi menimbulkan toksisitas lebih besar.
5. Turunan Benzodiazepin
Turunan benzodiazepin adalah penekan sistem saraf pusat yang terutama
digunakan sebagai sedatif-hipnotik dan relaksasi otot. Beberapa diantaranya juga
efektif untuk pengobatan serangan epilepsi, tetapi penggunaannya terbatas karena
cepat menimbulkan toleransi.
Contoh : klordiazepoksid, diazepam, klobazam, flurazepam, lorazepam dan
klonazepam
a. Diazepam, efektif untuk pengobatan status epileptikus bila diberikan secara
parenteral. Masa kerjanya pendek, sehingga untuk pengontrolan jangka
panjang kurang efektif, biasanya dikombinasi dengan fenobarbital. Dosis
I.V.: 0, 15-0,25 mg/kgbb, dapat diulang setelah 15 menit bila diperlukan.
b. Klonazepam (Rivotril), adalah obat penekan sistem saraf pusat dengan
masa kerja yang panjang, efektif untuk mengontrol serangan petit mal dan
mioklonik. Absorpsi obat dalam saluran cerna cepat dan sempurna, kadar
plasma tertinggi dicapai dalam 1-4 sesudah pemberian oral, waktu paro
eliminasi antara 20-60 jam. Dosis 24 mg/hari.

33
6. Turunan Asam Valproat Turunan asam valproat yang digunakan untuk
antikejang antara lain adalah asam valproat, divalproex Na dan valpromid.
Asam valproat (Depakene, Leptilan), digunakan untuk pengobatan
serangan petit mal dan mioklonik. Efek antikejangnya berhubungan dengan
meningkatnya kadar GABA di otak. Aktivitas asam valproat serangan petit mal
lebih tinggi dibanding klonazepam, tetapi aktivitas terhadap serangan miklonik
lebih rendah.
Divalproex sodium (Depakote) adalah garam asam valproat semi sodium,
sifat dan kegunaan sama dengan asam valproat. Dosis awal 15 mg/kgbb/hari,
dalam dosis terbagi.
7. Turunan Dibenzazepin
Contoh : karbamazepin.
a. Karbamazepin (Tegretol, Temporol) adalah turunan dibenzarepin yang
mempunyai spektrum antikejang luas dan digunakan untuk mengontrol
serangan epilepsi parsial, grand mal dan petit mal. Karbamazepin juga
merupakan obat terpilih untuk pengobatan neuralgia trigeminal dan
glosofaringeal.
b. okskarbazepin (Trileptal), adalah turunan keto dari karbamazepin, sifat dan
kegunaan mirip dengan karbamazepin. Dosis awal: 300 mg/hari,kemudian
ditingkatkan 600-1200 mg per hari, dalam dosis terbagi.

8. Turunan Lain-lain
Contoh : lamotrigin, gabapentin, vigabatrin, gabakulin dan topiramat.
a. Lamotrigin (Lamictal) pada awalnya sebagai senyawa penghambat
enzim dihidrofolat reduktase, ternyata mempunyai efek antikejang
yang kuat. Digunakan untuk mencegah serangan parsial seizure dan
tonik kloni.
b. Gabapentin (Neurotin), senyawa analog GABA (g-aminobutiric acid),
merupakan GABA-mimetik yang mampu menembus sawar darah-otak

34
dan menghambat uptake GABA. Digunakan untuk mencegah serangan
parsial seizure. Dosis : 300 mg 3 dd.
c. vigabatrin (Sabril), Digunakan untuk antikejang yang tidak dapat
dikontrol oleh obat antikejang yang lain.
d. Topiramat ( Topamax). Digunakan sebagai obat penunjang pada
pengobatan parsial seizure.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Penekan sistem saraf pusat adalah senyawa yang dapat menghambat aktivitas
sistem saraf pusat.Berdasarkan efek farmakologisnya penekan sistem saraf pusat

35
dibagi menjadi lima golongan, yaitu anastetika sistemik, sedatifa dan hipnotika,
relaksan pusat, obat antipsikotif dan obat anti kejang.

DAFTAR PUSTAKA

Soekarno, Bambang. 2000. Kimia Medisinal. Airlangga University Press; Surabaya


Sumarheni. 2010. Anestetik Lokal
Soekarno, Bambang. 2008. Kimia Medisinal. Airlangga University Press; Surabaya

36