Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PENUTUPAN PINTU PERLINTASAN TERHADAP PENENTUAN PANJANG ANTRIAN LENGAN PERSIMPANGAN DENGAN ANALISIS GELOMBANG KEJUT (Studi Kasus Persimpangan Ahmad Yani – Margorejo Surabaya)

Titik Wahyuningsih, A.Agung Gde Kartika, ST, M.Sc Program Pasca Sarjana Jurusan Manajeman Rekayasa Transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Email : Titi_Wahyu@yahoo.com. ; kartika@its.ac.id

ABSTRAK

Persimpangan Ahmad Yani – Margorejo Surabaya merupakan persimpangan yang terkoordinasi dengan penutupan pintu perlintasan yang mana mengakibatkan waktu siklus berubah. Perubahan ini menyebabkan kapasitas pendekat berbeda sehingga antrian yang dihasilkan juga berbeda. Dalam penelitian ini untuk mengetahui berapa besar panjang antrian hasil perhitungan menurut teori gelombang kejut dengan pengamatan di lapangan akibat penutupan perlintasan dan sinyal persimpangan. Dari hasil analisa yang telah dilakukan didapatkan nilai panjang antrian yang berbeda antara teoritis dan pengamatan pada masing-masing lajur. Setelah dilakukan perhitungan dan uji-t dengan kapasitas model MKJI dapat diketahui bahwa lajur kiri dan lajur tengah cenderung tidak sama. Sedangkan lajur kanan perhitungan teoritis hampir sama dengan pengamatan di lapangan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan parameter karakteristik arus lalu lintas antara kondisi lapangan dengan teoritis.

Kata Kunci : Gelombang Kejut, Model Greenshield, Panjang Antrian, Persimpangan Ahmad Yani – Margorejo Surabaya

1. PENDAHULUAN

Di dalam jaringan transportasi,

persimpangan merupakan titik rawan akan terjadinya kemacetan lalu lintas oleh adanya konflik-konflik pergerakan arus. Untuk mengatasi konflik-konflik di persimpangan dilakukan upaya-upaya seperti pemasangan rambu beri jalan (yield), rambu stop atau dengan bundaran serta pulau- pulau lalu lintas. Untuk kondisi arus yang meningkat sedemikian besar, harus

dilakukan upaya lain berupa pemasangan

tersebut menjadi persimpangan tak sebidang yang tentu biayanya jauh lebih besar.

Pertemuan antara dua jenis prasarana transportasi seperti jalan raya dengan jalan rel, juga merupakan bentuk persilangan yang menimbulkan masalah yang berupa antrian, hal ini dapat ditemui pada persilangan jalan Ahmad Yani-Margorejo. Dimana ruas jalan Ahmad Yani tersebut merupakan akses utama dari berbagai aktifitas seperti sekolah dan bekerja.

lampu

lalu lintas. Penggunaan sinyal lampu

lalu

lintas ini dimaksudkan untuk

1.1 PERMASALAHAN

memisahkan gerakan lalu lintas baik yang berupa konflik primer atau sekunder. Jika

Kondisi lalu lintas di persilangan jalan raya dengan kereta di jalan Ahmad Yani Surabaya

dengan segala pengaturan arus pada persimpangan berlampu lalu lintas belum mampu juga mengatasi kemacetan akibat besarnya arus, maka upaya berikutnya adalah dengan membuat persimpangan

merupakan salah satu jalur terpadat di kota Surabaya apalagi letak persilangan adalah jalan penghubung dari kawasan penduduk dan juga pusat perbelanjaan. Letak perlintasan yang dekat dengan lampu lalu

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-106

Pengaruh Penutupan Pintu Perlintasan thd Penentuan Panjang Antrian Lengan Persimpangan dengan Analisis Gelombang Kejut

lintas mempengaruhi panjang antrian dipersilangan yang merupakan parameter kinerja simpang, baik pada lengan Ahmad Yani maupun pada lengan Margorejo, maka dapat disimpulkan permasalahan yang akan dikaji adalah sebagai berikut:

Berapa panjang antrian yang terjadi di kaki persimpangan akibat sinyal dan penutupan pintu perlintasan?

Berapa dan bagaimana panjang antrian yang dihasilkan menurut teori gelombang kejut dengan yang terjadi di kaki lengan persimpangan?

1.2

TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk:

Mengetahui berapa panjang antrian yang terjadi di kaki persimpangan akibat sinyal dan penutupan pintu perlintasan Untuk membandingkan panjang antrian yang dihasilkan menurut teori gelombang kejut dengan yang terjadi kaki persimpangan

1.3

BATASAN MASALAH

Untuk tidak melebarkan masalah, maka pada penelitian ini dibatasi sebagai berikut :

a. Menghitung arus lalu lintas dan kecepatan kendaraan yang melalui ruas jalan yang menuju persilangan.

b. Menganalisis hubungan antara volume, kecepatan dan kerapatan kendaraan pada ruas jalan yang menuju persilangan dengan pendekatan. Model Greenshields Model Greenberg Model Underwood

c. Ruas jalan yang menuju persilangan secara umum mempunyai permukaan baik dan tidak mempunyai hambatan samping yang berarti.

d. Persimpangan adalah tunggal (isolated intersection) jika dilihat dari lengan yang akan diteliti. Dengan demikian, kedatangan kendaraan pada lengan ini dapat dianggap menerus (continue).

e. Panjang antrian dapat dianalisis hanya pada saat volume kedatangan kendaraan tidak melebihi kapasitas persimpangan, sehingga tidak terdapat sisa antrian pada awal fase merah.

f. Untuk persimpangan yang tidak menerus dalam hal ini ruas Margorejo panjang antrian diperoleh dengan perhitungan manual dilapangan sedangkan ruas Ahmad Yani yang mempunyai lengan menerus panjang antrian diperoleh dari manual di lapangan dan hasil hitungan berdasarkan teori gelombang kejut.

g. Parameter kinerja persimpangan yang ditinjau adalah panjang antrian

2. TINJAUAN PUSTAKA

tamim (2003), hubungan

antara ketiga variabel utama yaitu arus (V), kecepatan (S) dan kerapatan (D) ditungkan

dalam 3 model yaitu:

Menurut

a. Model Greenshields S = S f – ( S f /D j ) D

V = S f – ( S f V = D j – ( D j

/ D j ) D 2

/ S f ) D 2

b. Model Greenberg

S = S o . In ( D j / D)

V

= S o . D . In ( D j . D 2 )

V=Dj . S .

V = S o . D . In ( D j . D 2 ) V=D

c. Model Underwood

S

V

V

Dimana :S

(km/jam)

= S f . e – ( D Do)

= S f . D

. e ( D Do)

= D o. S . In (S f / S) Kecepatan rata-rata ruang

=

S f

=

Kecepatan pada kondisi arus bebas (km/jam)

D = Kerapatan (smp/km)

D j

=

Kerapatan macet (smp/km)

2.1 Analisis gelombang kejut (shock wave) Menurut Tamim (2003) gelombang kejut (Shock wave) didefinisikn sebagai gerakan atau perjalanan sebuah perubahn arus lalu lintas.Pada keadaan kondisi arus–bebas (free _ flow),kendaraan akan melaju dengan kecepatan tertentu.Apabila arus tersebut mendapat hambatan (gangguan), maka akan terjadi pengurangan arus yang dapat melewati lokasi hambatan tersebut.

2.2 Nilai gelombang kejut pada

persimpangan berlampu lalu lintas

pada

persimpangan berlampu lalu lintas dapat dianalisis apabila hubungan matematis antara arus-kepadatan untuk lengan

Gelombang

kejut

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-107

Titik Wahyuningsih, A.Agung Gde Kartika, ST, M.Sc

persimpangan telah diketahui dan kondisi arus lalu lintas telah ditentukan. Sebagai contoh : kurva arus-kepadatan suatu lengan persimpangan pada Gambar 1, sedangkan diagram jarak-waktu diperlihatkan pada Gambar 2 Selama waktu antara t 0 sampai dengan t 1 , lampu hijau menyala sehingga arus lalu lintas pada lengan persimpangan bergerak melewati persimpangan ke arah hilir dengan arus kondisi A (V A , D A , dan S A ). Lintasan kendaraan digambarkan pada Gambar 3.b. Pada waktu t 1 , lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan kondisi arus lalu lintas pada garis henti (stop-line) berubah menjadi kondisi B, sedangkan kondisi arus lalu lintas setelah persimpangan ke arah hilir pada kondisi D. Sedangkan besarnya panjang antrian dapat dihitung dengan persamaan berikut:

Q

M

r w . w CB AB = . dengan 3600 w - w CB AB
r w
. w
CB
AB
=
.
dengan
3600 w
- w
CB
AB
V
- V
V
w
B
C
C
=
=-
CB
D
- D
-
D
D B
B
C
C
V
- V
V
w
B
A
A
=
=-
AB
D
- D
D
- D
B
A
B
A

2.3 Analisis regresi

Analisa regresi adalah mempelajari hubungan fungsional antara variabel- variabel dalam bentuk persamaan matematik. Pada analisis regresi ini, variabel dibedakan atas dua jenis yaitu variabel bebas dan variabel tak bebas. Dalam kasus hubungan kecepatan dengan kerapatan pada model Greenshields, Greenbeg dan Underwood, hubungan kedua

variabel tersebut dapat dilakukan analisis regresi linier sederhana. Dalam menarik garis linier, dilakukan dengan metode jumlah kuadrat terkecil. Hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas dalam fungsi regresi linier sederhana ditulis :

Y = a + bx

dimana :

y = variabel tidak bebas

x = variabel bebas

a,b = konstanta / koefisien

regresi Besarnya konstanta a dan b dapat dihitung dengan memakai rumus :

konstanta a dan b dapat dihitung dengan memakai rumus : 2.5 Analisis korelasi Dalam kasus hubungan

2.5 Analisis korelasi

Dalam kasus hubungan kecepatan dengan kerapatan pada model Greenshields, Greenbeg dan Underwood, hubungan kedua variabel tersebut dapat dilakukan analisis regresi linier sederhana. Dalam menarik garis linier, dilakukan dengan metode

jumlah kuadrat terkecil. Hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas dalam fungsi regresi linier sederhana ditulis :

Y = a + bx

dimana :

y

= variabel tidak bebas

x

= variabel bebas

a,b = konstanta / koefisien

regresi Besarnya konstanta a dan b dapat dihitung dengan memakai rumus :

/ koefisien regresi Besarnya konstanta a dan b dapat dihitung dengan memakai rumus : ISBN No.
/ koefisien regresi Besarnya konstanta a dan b dapat dihitung dengan memakai rumus : ISBN No.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-108

Pengaruh Penutupan Pintu Perlintasan thd Penentuan Panjang Antrian Lengan Persimpangan dengan Analisis Gelombang Kejut

2.6 Uji signifikansi Uji signifikansi yang biasanya dilakukan adalah memakai uji t (student’s test) dan uji F (variance ratio test the F test).Uji t akan menunjukkan penyebaran nilai-nilai a dan b yang didapat dari sampel. Makin besar nilai varian a dan b menggambarkan besarnya penyebaran dari nilai sebenarnya secara teoritis. Sebagai tolok ukur pada pengujian ini adalah dengan membandingkan nilai t dari hasil hitungan dengan nilai t dari tabel distribusi berdasarkan selang kepercayaan yang dipilih dan derajat kebebasannya. Model akan diterima jika nilai mutlak t hasil hitungan nilai t pada tabel. Nilai t dapat dihitung dengan rumus :

nilai t pada tabel. Nilai t dapat dihitung dengan rumus : (2.72) dimana : k =

(2.72)

dimana :

k

=

jumlah

variabel

bebas

b i

= koefisien regresi ke i

S bi =simpangan baku koefisien regresi ke i Uji F (variance ratio test) digunakan untuk mengetahui apakah variabel yang menjadi penduga terbentuknya suatu regresi memenuhi syarat yang dilihat dari nilai signifikansinya dari tingkat kepercayaan tertentu. Nilai signifikansi ini diketahui dengan membandingkan nilai F hasil hitungan nilai F tabel. Nilai F dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Nilai F dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : 3. METODOLOGI Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan

3. METODOLOGI Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan baik di ruas maupun di simpang. Pengambilan data di ruas untuk memperoleh data volume arus dan kecepatan sedangkan di simpang untuk memperoleh data volume arus, panjang sinyal akibat penutupan dan sinyal simpng dan panjang antrian.

3.1 Diagram Alur Penelitia :

Tujuan penelitian Studi Pustaka Pemilihan Lokasi Pengambilan Data primer Sekunder (jadwal kereta api melintas)
Tujuan penelitian
Studi Pustaka
Pemilihan Lokasi
Pengambilan Data
primer
Sekunder
(jadwal kereta api melintas)
Lengan Penyimpangan :
Ruas Jalan :
1. Geometric
1. Geometric
2. Panjang merah dan hijau
2. Volume tiap tipe
kendaraan per 5 menit
3. Nilai arus
4. Panjang antrian
5. Jumlah kendaraan antri
Kompilasi dan reduksi data :
1. Arus Komulatif, kecepatan ruang rata-rata dan kerapatan
2. Arus jenuh, panjang fase, panjang antrian, jumlah
kendaraan antri dan kondisi antrian per siklus pada lengan
Analisa data ruas :
1. Karakteristik hubungan volume-kerapatan
2. Uji statistik
1. Karakteristik hubungan volume-kerapatan 2. Uji statistik Analisa data persimpangan 1. Nilai gelombang kejut dan

Analisa data persimpangan

1. Nilai gelombang kejut dan panjang antrian berdasarkan arus demand

2. Penilaian panjang antrian hasil perhitungan terhadap data hasil pengukuran

Kesimpulan dan saran Selesai
Kesimpulan dan saran
Selesai

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian arus, kecepatan dan kerapatan sebagai berikut:

Table 1 Arus, Kecepatan dan Kecepatan

 

Model Greenshields S = S f – (S f /D j ) D

Model Greenberg S = S o . lnD j – S o . ln D

Model

Parameter

Underwood

S

= S f .

e

(D.Do )

Lajur Kiri

Sf

47,907

tak hingga

 

53,539

So

23,954

16,312

 

19,696

Dj

119,172

257,449

tak hingga

Do

59,5856

94,710

 

71,429

Kapasitas

1427,289

1544,912

1406,850

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-109

Titik Wahyuningsih, A.Agung Gde Kartika, ST, M.Sc

Lajur Tengah

 
   

tak

 

Sf

38,849

hingga

40,125

So

19,425

10,286

14,761

Dj

346,866

1412,698

tak hingga

Do

173,433

519,703

250

Kapasitas

3368,850

5345,662

3690,292

Lajur Kanan

   

tak

 

Sf

34,582

hingga

34,475

So

17,291

5,257

12,683

Dj

320,204

11742,077

tak hingga

Do

160,102

4319,669

250

Kapasitas

2768,321

22708,498

3170,661

4.1 Model Hubungan Antara Kecepatan. Kerapatan. dan Arus Berikut adalah hasil analisa regresi ketiga model :

4.2 Pemilihan Model

 

Lajur Kanan

Model

Hubungan

 

Antara

model lapangan

 

S-D

S=34,582-0,108D

Model

V-D

v=34,582D-0,108D^2

Greenshields

 

V=320,204S-

V-S

9,2593S^2

 

S-D

S=49,263-5,257lnD

Model

 

V=49,263D-

Greenberg

V-D

5,257DlnD

 

V=11742,1S*exp(-

 

V-S

0,19022S)

   

S=34,475exp(-

S-D

0,004D)

Model

Underwood

V-D

V=34,475D*exp(-

0,004D)

V-S

V=250S*ln(34,475/S)

Nilai R yang terbaik menurut statistik adalah nilai yang paling tinggi Nilai C link yang terbaik adalah nilai yang paling mendekati kondisi lapangan. Sehubungan dengan tidak adanya data lau lintas untuk menghitung ruas maka dihitung menurut metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI- 97) sebagai berikut:

FC cs

C = Co x FCw x FC sp x FC sF

x

Kapasitas lajur kiri C = 2300 x 1 x

0.94 = 2162

Kapasitas lajur tengah C = 2300 x 1.03 x

0.94 = 2226.86

Kapasitas lajur kanan C = 2300 x 0.95 x

0.94 = 2053

Dengan mengacu pada nilai kapasitas diatas dan nilai C link model pada table 2, maka untuk semua lajur dan interval, model Greenshields lebih mendekati kondisi lapangan dibanding model Greenberg.

4.3

Gelombang Kejut

Panjang

Antrian

Dengan

mengacu

Menurut

pada

model

terpilih pada tabel 2 maka panjang antrian menurut teori gelombang kejut dapat dihitung. Berikut contoh

Tabel 2 Model Hubungan Antara V, S dan D

 

Lajur Kiri

Model

Hubungan

 

Antara

Model Lapangan

 

S-D

S = 47,907-0,402D

Model

   

Greenshields

V-D

v=47,907D-0,402D^2

V-S

V=119,172S-2,488S^2

 

S-D

S=90,545-16,312lnD

Model

   

Greenberg

V-D

V=90,545D-16,312DlnD

V-S

V=257,449S*exp(-0,0613S)

 

S-D

S=53,539exp(-0,014D)

Model

   

Underwood

V-D

V=53,539D*exp(-0,014D)

V-S

V=71,429S*ln(53,517/S)

 

Lajur Tengah

Model

Hubungan

 

Antara

model lapangan

 

S-D

S=38,849-0,112D

Model

   

Greenshields

V-D

v=38,849D-0,112D^2

V-S

V=346,866S-8,9291S^2

 

S-D

S=74,607-10,286lnD

Model

   

Greenberg

V-D

V=74,607D-10,286DlnD

V-S

V=1412,7S*exp(-0,0972S)

 

S-D

S=40,125exp(-0,004D)

Model

   

Underwood

V-D

V=40,125D*exp(-0,004D)

V-S

V=250S*ln(40,125/S)

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-110

Pengaruh Penutupan Pintu Perlintasan thd Penentuan Panjang Antrian Lengan Persimpangan dengan Analisis Gelombang Kejut

hitngannya dan

hasil yang lain disajikan

Nilai Statistik Terhadap Perbandingan

dalam tabel4

Panjang Antrian Antara Teoritis Dengan

- Model Greenshields : V = 47,907 D – 0,402 D 2 .

Pengamatan Lapangan Table 3 Nilai Statistik α = 5%

- Kerapatan kemacetan (jam density)

pada

kondisi

B

D 11

=119.172

Parameter

 

Lajur Kiri

 

smp/km.

   

Hasil

Syarat

 

Ket

- Demand

Arus

V A =

1304.40

n

160

   

smp/jam.

 

t

2,56

<1,967

Ditolak

- persimpangan

Kapasitas

Vc=

       

R

 

0,393

 

0

Ditolak

1254,27 smp/jam.

 

- Panjang sinyal merah, r = 44 detik.

     

LAjur Tengah

 

N

160

   
 

T

16,55

<1.967

Ditolak

Dengan memakai rumus abc, pada model Greenshield diperoleh :

R

0,209

0,008

Ditolak

   

Lajur Kanan

 

-

Kerapatan arus Demand D A = 42,10 smp/jam.

n

160

   

T

-0,71

<1.967

Diterima

-

       

Kerapatan arus pada saat kapasitas, Dc= 80,33 smp/jam.

R

-

0,042

0.601

Diterima

-

Kecepatan gelombang kejut dari kondisi A ke kondisi B (w AB ) w AB = V A /( D A - D B ) =1304.40/(42,10 – 119,172) = -16,92 km/jam.

 

-

Kondisis gelombang kejut dari kondisi A ke kondisi B (w BC ) Tabel 4 Perhitungan Panjang Antrian Interval 5 Menitan Lajur Kiri

 

No.

VA

DA

WAB

Vc

Dc

WBC

 

Qm

Qukur

Siklus

(smp/jam)

 

r

             

-

     

1

1304.40

42.10

-16.93

1254.27

80.33

32.29

44.00

434.81

80.00

 

….

 

 

 

….

             

-

     

160

976.80

26.11

-10.50

1219.75

82.31

33.09

47.00

200.74

76.85

 

Lajur Tengah

 

1

2136.00

68.52

-32.06

1302.25

309.27

7.48

44

74.12

75.5

 

….

 

 

 

….

160

1908.00

59.23

-25.13

1266.40

310.44

7.22

47

73.26

116.0

 

Lajur kanan

 

1

2796.00

lebih besar dari kapasitas

 

             

-

     

160

852.00

26.90

-2.90

1066.45

285.63

30.85

47

41.87

80.0

- w BC = - V c /( D B – D C ) = - 1254,27/(119,172-80,33) = -32.29 km/jam

- Panjang antrian (Q M ) Q M = -(r/3.6)x(w AB x w BC )/( w AB - w BC ) = -(44/3.6)x(-16,92 x -32,29)/(- 16,92+32,29) = 43.67 m.

4.4 Penggunaan Kapasitas Teoritis Sebagai Kapasitas Model

4.4 Penggunaan Kapasitas Teoritis Sebagai Kapasitas Model

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-111

Titik Wahyuningsih, A.Agung Gde Kartika, ST, M.Sc

Berikut model dengan kapasitas MKJI :

Table 5 Parameter Model Greenshields (C link model MKJI - 97)

 

Lajur Kiri

 

Model

Sf

So

C

Db

Do

S=47,907-

         

0,27D

47.907

23.9535

2162

180.52

90.26

V=47,907D-

         

0,27D 2

V=180,52S-

         

3,77S 2

 

LAjur Tengah

   

S=38.849-

       

0.169D

38.849

19.4245

2226.86

229.28

114.64

V=38,849D-

         

0.169D 2

V=229.285S-

         

5.90S 2

 

LAjur Kanan

   

S=34,582-

       

0,146D

34.582

17.29

2053.9

237.57

118.78

V=34,582D-

         

0,146D 2

V=237.57S-

         

6.87S 2

Nilai Statistik Terhadap Perbandingan Panjang Antrian Antara Teoritis Dengan Pengamatan Lapangan Table 6 Nilai Statistik α = 5%

Parameter

 

Lajur Kiri

 

Hasil

Syarat

Ket

N

123

   

T

13.92

<1,97

Ditolak

R

0.3175

0

Ditolak

   

Lajur Tengah

N

160

   

T

-9.45

<1.967

Ditolak

R

-0.081

0.306

Diterima

   

Lajur Kanan

N

152

   

T

-9.68

<1.968

Ditolak

R

-0.07

0.413

Diterima

Pembahasan

Panjang antrian lapangan untuk arah margorejo tidak bisa dibandingkan dengan perhitungan teori gelombang kejut mengingat simpang ini mempunyai arus yang tidak continue dan waktu merah terlalu lama. Berdasarkan hasil di lapangan penutupan pintu terlama terjadi pada pukul 10.23.41 dengan panjang antrian 149,9 dan kereta melintas adalah kereta barang. Sedangkan penutupan terpendek pada pukul 8.25.35 dengan panjang antrian 1331,1 dan kereta melintas adalah komuter.

Untuk lengan Ahmad Yani panjang antrian bisa dibandingkan dengan teori gelombang kejut. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dengan uji t didapatkan

hasil bahwa panjang antrian pengamatan dan perhitungan adalah berbeda tiap lajur. Untuk memperkuat hasil analisa maka dilakukan permodelan ulang dengan kapasitas MKJI sebagai model. Dari hasil pengamatan MKJI dilakukan uji t dan diketahui bahwa lajur kanan memiliki kesamaan panjang antrian antara teori dan pengamatan

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil pengamtan dan perhitungan didapat hasil yang berbeda antara pengamtan dan perhitungan. Hal ini disebabkan karena:

pengemudi cenderung pindah lajur jika menemui hambatan pada lajur yang sedang dijalani dan Perilaku pengendara pada saat mendekati persimpangan yang ada antrian (sinyal merah) cenderung mengurangi kecepatannya jauh sebelum masuk menjadi bagian antrian terhenti Dari perhitungan panjang antrian sinyal merah berbanding lurus dengan

panjang antrian maka didapat pnjang antrian yang berbeda antar siklus.

Saran Perlu dilakukan optimasi waktu siklus terutama waktu merah pada lengan yang terkena antrian saat penutupan sehingga bisa mengurangi kemacetan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad

Munawar,

“Dasar-dasar

Teknik

Transportasi”’

Penerbit

Beta

Offset,

Yogyakarta, 2005.

Ofyar

Z.

Tamin,

“Perencanaan

dan

Pemodelan Transportasi”, Penerbit ITB,

Bandung, 2003.

Suwardjoko P.Warpani,“Pengelolaan Lalu lintas dan Angkutan Jalan”, Penerbit ITB, Bandung, 2002.

ISBN No. 978-979-18342-0-9

C-112