Anda di halaman 1dari 2

 Hari ini (23/9), Menkes dr. Nafsiah Mboi,Sp.A.

MPH melantik 9 anggota Komite


Farmasi Nasional (KFN) masa bakti 2014 2017. Hadir pada kesempatan ini Kepala
Badan POM, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia
dan Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, perwakilan Organisasi Profesi Ketua
Ikatan Apoteker Indonesia, Ketua Persatuan Ahli Farmasi Indonesia, serta Ketua Asosiasi
Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Menkes mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada
Ketua dan segenap Anggota KFN Masa Bakti 2011-2014 yang telah bekerja keras dan
melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapun keberhasilan yang telah dicapai diantaranya
adalah 1) melakukan registrasi apoteker di seluruh Indonesia, yang jumlahnya telah
mencapai lebih dari 48.000 orang; 2) mengembangkan sistem registrasi online; 3)
menerbitkan pedoman Sumpah Apoteker; dan 4) bersama dengan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Kemendikbud serta Ikatan Apoteker Indonesia, menyusun Naskah
Akademik Pendidikan Apoteker Indonesia, Standar Pendidikan Apoteker Indonesia,
Matriks Blue Print Uji Kompetensi Apoteker Indonesia, dan Instrumen Akreditasi
Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia.

Dalam sambutannya Menkes menegaskan acara pelantikan penting. Saat ini bangsa
Indonesia sedang berupaya mewujudkan jaminan kesehatan semesta pada tahun 2019
melalui pelaksanaan JKN dan akan segera melaksanakan Pembangunan Kesehatan
periode 2015 2019.

Kedua kerja besar ini memerlukan dukungan tenaga kesehatan yang profesional termasuk
tenaga kefarmasian. Oleh karena itu, KFN harus sungguh-sungguh menjamin mutu
tenaga kefarmasian di Indonesia yang melakukan praktik kefarmasian dan/atau pekerjaan
kefarmasian, baik dalam aspek pengadaan, produksi, distribusi sediaan farmasi, maupun
pelayanan kefarmasian, kata Menkes.

Ditambahkan, pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kefarmasian di era JKN dituntut


untuk dilaksanakan secara efektif dan efisien. Untuk mencapai hal tersebut perlu
dilakukan penapisan teknologi kesehatan atau health technology assessment HTA guna
memilih obat dan alat kesehatan yang akan dipakai dalam pelayanan kefarmasian. Oleh
karena itu, setiap tenaga kefarmasian perlu mengikuti perkembangan keilmuan dan
memahami prosedur penapisan teknologi kesehatan.

Pada kesempatan tersebut Menkes meminta agar aspek penapisan teknologi kesehatan
dalam pelayanan kefarmasian mendapat perhatian KFN Masa Bakti 2014-2017 dalam
menjamin mutu tenaga kefarmasian. Jaminan mutu ini hendaknya merupakan sistem
yang komprehensif, sejak masa pendidikan hingga masa praktek keprofesian.

Selanjutnya Menkes minta KFN yang baru dilantik untuk memperhatikan sistem
pendidikan yang berkualitas dan terakreditasi perlu didukung oleh standar pendidikan
tenaga kefarmasian agar dihasilkan lulusan dengan mutu yang seragam antar institusi
pendidikan. Standar pendidikan hendaknya tersedia bagi : (a) pendidikan apoteker, (b)
pendidikan tingkat diploma, dan (c) pendidikan menengah farmasi. Oleh karena itu,
hendaknya proses penyusunan standar yang sekarang sedang dilaksanakan KFN bersama
Ditjen Dikti Kemdikbud segera diselesaikan.

Selain itu, dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan atau Continuous
Professional Development CPD bagi tenaga kefarmasian untuk menjamin mutu tenaga
kefarmasian dalam masa praktek keprofesian, hendaknya selain menerapkan sistem
Satuan Kredit Profesi, agar KFN juga mengupayakan : (a) CPD selalu relevan dengan
perkembangan ilmu dan teknologi, (b) dapat diakses oleh tenaga kefarmasian di seluruh
Indonesia, serta (c) mempertimbangkan pemanfaatan model Pendidikan Jarak Jauh.

Pada kesempatan tersebut Menkes mengingatkan bahwa setiap tenaga kefarmasian


hendaknya kompeten dan profesional di bidangnya dan selalu mematuhi setiap peraturan
yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, KFN harus memastikan bahwa praktik dan
pekerjaan kefarmasian dilakukan dalam koridor regulasi yang berlaku; Mengantisipasi
agar tindakan yang berpotensi menjadi malpraktik kefarmasian atau tindakan indisipliner
tenaga kefarmasian dapat dicegah dengan pembinaan dan pengawasan. Upaya ini
dimaksudkan agar kualitas praktik pekerjaan kefarmasian semakin membaik dan
berdampak pada meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan serta kualitas hidup
masyarakat; Meningkatkan koordinasi dan menjaga hubungan kerjasama dengan seluruh
pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi dan
Kabupaten/kota. Memanfaatkan kemajuan teknologi seoptimal mungkin dalam hal
pelayanan registrasi agar semakin mudah, cepat, dan akuntabel demikian pula dalam
penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian
Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui
nomor hotline 500 567, SMS 081281562620, faksimili (021) 52921669, website
www.depkes.go.id dan alamat e mail kontak[at]depkes[dot]go[dot]id.