Anda di halaman 1dari 49

BAB I

KONSEP DASAR SEKSIO SESAREA

A. PENGERTIAN
Seksio sesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding

abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin lebih dari 1000 gram

atau umur kehamilan lebih dari 28 minggu. (Ida Bagus Gde Manuaba, 1999)
Seksio sesarea adalah persalinan untuk melahirkan janin dengan berat

janin dengan berat 500 gram atau lebih melalui pembedahan di perut dengan

menyayat dinding rahim. ( Dini Kasdu, 2003 )


Seksio sesarea ialah pembedahan untuk melahirkan janin dengan

membuka dinding perut dan dinding uterus. ( Sarwono Prawirohardjo, 2002 )


Dari pengertian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : seksio

sesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui

sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin

lebih dari 1000 gram, atau umur kehamilan lebih dari 28 minggu. ( Hellen

Farrer, 2001 )
Post partum atau nifas adalah periode waktu dimana organ-organ

reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil, masa ini membutuhkan waktu

sekitar 8minggu ( Hellen Farer, 2001 )

B. PROSES TERJADINYA
1. Faktor Presipitasi
Menurut Mochtar, 1998 indikasi Sectio Caesaria terbagi atas :
a. Indikasi Ibu
1) Disproporsi Fetopelvik
Ketidakseimbangan ukuran kepala dan pelvic.
2) Malposisi dan Malpresentasi

1
Letak Lintang
- Bila ada kesempitan panggul seksio sesarea adalah cara yang

aman.
- Primigravida dan letak lintang harus ditolong dengan seksio

sesarea.
- Multipara dengan letak lintang dapat ditolong dengan cara lain

terlebih dahulu.
Letak bokong bila panggul sempit, primigravida, janin besar yaitu

lebih dari 3500 gram.


Presentasi dahi dan muka bila reposisi dan cara lain tidak berhasil.
Presentasi rangkap bila reposisi tidak berhasil
3) Persalinan yang tidak dapat maju.
4) Preeklamsia dan hipertensi
5) Partus yang lama
6) Rupture Uteri mengancam
7) Plasenta Previa
8) Distosia servik
9) Ketuban pecah dini
10) Kelainan kontraksi rahim
b. Indikasi Fetal menurut Hellen Farrer, 2001 :
- Letak janin yang tidak dapat dikoreksi
- Penyakit atau kelainan yang berat pada janin, seperti

eritroblastosis atau retardasi pertumbuhan yang nyata.


- Prolaps tali pusat
- Janin besar
2. Faktor Predisposisi
- Kelahiran dengan seksio sesarea sebelumnya.
- Usia
- Rasa takut kesakitan ( Dini Kasdu, 2003 )
3. Patofiologi
Dalam menghadapi persalinan letak sungsangyang terpenting adalah

menetukan apakah anak akan lahir pervaginam atau harus dilahirkan

dengan seksio sesarea. Apabila letak janin normal dalam tulang-tulang

kepala bisa menyusup panggul ibu, sedangkan pada presentasi bokong

2
tidak terdapat tulang-tulang dan tidak bisa menyusup, bokong tidak bisa

melewati panggul ibu, presentasi bokong harus lahir selama 8 menit tidak

bisa lahir maka bayi akan mati karena terjepit rongga panggul ibu saat

umbilicus keluar oleh karena itu harus dilakukan Sectio Caesarea. Selain

itu persalinan pervaginam bagi anak membawa angka kematian yang

tinggi. Meskipun anak hidup, sering terjadi gangguan pada otak dengan

akibat yang tidak diinginkan. Pada letak sungsang dapat dilakukan seksio

sesarea bila ada perkiraan panggul sempit dan persalinan tidak lancer.
( Mochtar, 1998 )
Adapun jenis – jenis operasi seksio sesarea :
a. Sayatan melintang
Orang awam lebih mengenal sebagai sayatan atau horizontal. Sayatan

dilakukan di bagian bawah rahim dengan panjang 10 – 14 cm.


b. Sayatan vertikal
Disebut juga operasi Caesar klasik atau seksio sesarea corporal.

Sayatan dibuat secara vertical atau mediana, tegak lurus mulai dari

tepat di bawah pusar sampai tulang kemaluan.( Dini Kasdu, 2003 )


4. Manifestasi Klinis
Menurut IBG ( 1998 ) manifestasi klinis pada post operasi section sesarea

adalah :
a. Nyeri pada daerah abdomen luka post operasi section caesarea.
b. Adanya luka pada dinding abdomen yang dilakukan operasi sectio

caesarea.
c. Uterus secara berangsur-angsur akan kembali ke keadaan sebelum

hamil.
d. Penurunan tinggi fundus uteri kurang lebih 1cm setiap harinya hingga

pada hari ke 10 sampai 11 fundus uteri tidak teraba lagi.

3
e. After pain ( mules ) akibat dari kontraksi uterus, akan lebih terasa jika

sedang menyusui, terutama pada multipara.


f. Keluarnya lochea rubra.
g. Defekasi harus dilakukan 3-4 hari post partum
5. Fisiologi Nifas
Menurut Helen Farrer ( 1999 ), respon fisiologi post partum adalah :
Uterus
Pada akhir Kala III persalinan, fundus uteri berada setinggi umbilicus

dan berat uterus 1000gr. Uterus kemudian mengalami involusi dengan

cepat selama 7-10 hari pertama dan selanjutnya proses involusi

berlangsung secaraberangsur – angsur. Setelah 12 hari, uterus biasanya

sudah tidak dapat diraba melalui abdomen, dan setelah 6 minggu,

ukurannya sudah kembali pada ukuran tidak hamil yaitu tingginya

8cm dengan berat 50gr.


Lokia
Lokia adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina

dalam masa nifas.

a) Lokia rubra ( kruenta )


Berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel – sel

desidua, verniks kaseosa, lanugo dan mekonium, selama 2 hari

pasca persalinan.
b) Lokia Sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7

pasca persalinan.
c) Lokia Serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi. Pada hari ke 7-14

pasca persalinan.
d) Lokia Alba

4
Cairan putih setelah 2 minggu.
e) Lokia Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan deperti nanah berbau busuk.
Payudara
Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali

jika laktasi disupresi. Payudara akan menjadi lebih besar, lebih

kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap

perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi.


Traktus Urinarius
Buang air kecil sering silit selama 24 jam pertama. Kemungkinan

terdapat spasme spingter dan edema leher buli – buli sesudah bagian

ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama

persalinan. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-

36 jam sesudah melahirkan. Kadar esterogen yang bersifat menahan

air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini

menyebabakan dieresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali norma

dalam tempo 6 minggu.


System Gastrointestinal
Kerap kali perlukaan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali

normal. Meskipun kadar progesterone menurun setelah melahirkan

namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu/dua

hari, gerak tubuh berkembang dan usus bagian bawah sering kosong

jika sebelum melahirkan diberi enema. Rasa sakit di daerah perineum

dapat menghalangi keinginan ke belakang.


System Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar

esterogen, volume darah kembali ke keadaan tidak hamil. Jumlah sel

5
darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal pada hari ke 5.

Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian

daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan

penanganan yang cermat dan penekanan ambulasi dini.

System psikologis
Perubahan yang mendadak dan dramatis pada status hormonal

menyebabkan ibu yang berada pada masa nifas menjadi sensitive. Di

samping itu cadangan fisiknya sudah terkuras oleh tuntutan kehamilan serta

kehamilan, keadaan kurang tidur, lingkungan yang asing baginya dan oleh

kecemasan akan bayi, suami atau anak-anak yang lain. Depresi ringan

(kemurungan 4 hari) sering terjadi pada kebanyakan ibu yang baru pertama

kali mempunyai anak, dirinya akan menangis hanya karena masalah yang

sepele.
Menurut Reva Rubin, adaptasi psikologis Post partum adalah :
1) 2 hari pertama “fase taking in”
a) Tingkah laku tergantung
b) Pasif, menerima
c) Ingin dilindungi dan dilayani
d) Pemberitahuan perlu diulang
2) Hari ke 3 “fase taking hold”
a) Ibu mulai tidak tergantung
b) Mulai ada inisiatif
c) Siap mengambil alih tanggung jawab dengan peran baru
3) Fase letting go
a) Waktu untuk mengorganisasikan kembali pertalian keluarga
b) Berperan sebagai ibu
c) Menyadari bayi sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari

dirinya
d) Melepaskan khayalan tentang bayi
e) Waktu dimana biasanya perasaan tertekan

6
6. Penatalaksanaan
Perawatan pertama post operasi adalah pembalutan luka dengan baik,

sebelum pasien dipindahkan dari kamar opersi, diukur dan dicatat tanda-

tanda vital. Sedangkan penatalaksanaan pasien post Sectio Sesarea adalah:


a. Perawatan luka insisi
Selama masih dalam perawatan di rumah sakit, luka bekas irisan

operasi akan terus dipantau oleh perawat karena dikhawatirkan terjadi

perdarahan atau infeksi pada bekas luka tersebut. Jagitan pada bekas

luka akan ditutup oleh kain kasa lembut. Kasa perut harus dilihat satu

hari pasca bedah. Apabila basah dan berdarah harus dibuka dan

diganti. Umumnya, kasa perut dapat diganti pada hari ke 3-4 sebelum

pulang dan seterusnya pasien menggantinya setiap hari. Luka dapat

diberi salep betadin sedikit. ( Dini Kasdu, 2003 )


b. Pemberian cairan
Pemberian pada 24 jam pertama harus diberikan dengan cukup.

Pemberian diberikan melalui infuse bersamaan dengan elektrolit untuk

mencegah hipertermi, dehidrasi, dan komplikasi. Cairan yang

diberikan berupa dextrose 5%-10% garam fisiologis dan ringer laktat

bergantian, jumlah tetesan tergantung keadaan dan kebutuhan pasien.


( Mochtar, 1998 )
c. Diit
Sedikit minuman boleh diberikan 6-10 jam post operasi berupa air

putih atau teh. Setelah cairan infus dihentikan pasien bisa diberikan

bubur saring, sari buah atau susu, kemudian secara bertahap bubur

saring diganti bubur biasa dan kemudian makanan biasa. ( Mochtar,

1998 )

7
d. Perawatan nyeri
Rasa nyeri pada daerah operasi akan dirasakan sampai 24 jam pertama.

Untuk mengurangi dapat diberikan analgetik atau penenang. Setelah

hari pertama atau kedua rasa nyeri tersebut akan hilang dengan

sendirinya. ( Mochtar, 1998 )


e. Mobilisasi
Menurut IBG, 1999 mobilisasi yang dapat diberikan adalah :
1) Mobilisasi fisik
Setelah sadar pasien boleh miring, berikutnya duduk, bahkan

berjalan dengan infuse. Infuse dan kateter dibuka pada hari kedua

atau ketiga post operasi.

2) Mobilisasi usus
Setelah hari pertama dan keadaan baik pasien bolah minum diikuti

makan bubur saring pad hari kedua kemudian bubur biasa pada

hari ketiga dan makan nasi pada hari keempat dan pasien boleh

pulang.
Mobilisasi menurut R Mochtar ( 1998 ) :
Miring kanan dan kiri dapat dimulai 6-10 jam setelah terlentang

sedini mungkin setelah sadar. Pada hari kedua penderita

didudukkan selama 5 menit disuruh bernafas dalam lalu

hembuskan, selanjutnya penderita dianjurkan duduk sehari, belajar

berjalan dan berdiri sendiri antara hari ketiga sampai kelima pasca

operasi.
f. Kateterisasi
Berfungsi untuk mengukur keseimbangan cairan, menghindari trauma,

dan meningkatkan kemampuan untuk sembuh. Untuk mencegah iritasi

8
dan pencemaran luka oleh urin, kandung kemih dikosongkan dengan

kateter. Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak

enak, involusi terhalang dan terjadi perdarahan. Karena itu dianjurkan

pemasangan kateter tetap selama 24 jam sampai 48 jam atau lebih

menurut jenis operasi dan keadaan penderita. ( Mochtar, 1995 )


g. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotika, kemoterapi dan antiinflamasi
2) Obat-obat pencegah kembung
3) Obat-obatan untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum

pasien
h. Perawatan rutin lainnya
Pemeriksaan rutin penderita post SC yang harus dilakukan sekurang-

kurangnya setiap 4 jam dan dicatat dalam status penderita adalah :


1) Pengukuran
a) Tekanan darah, nadi, temperature, pernafasan.
b) Balance cairan. Dengan cara : menghitung selisih input dan

output cairan.
Intake (infuse + oral/minum) = output (IWL + urin + muntah +

drain)
Kebutuhan cairan untuk dewasa 50cc / kg BB / 24 jam
IWL = 200 ( suhu badan sekarang – 36,80 C )
2) Pemeriksaan
a) Paru
b) Bising usus
c) Perdarahan local pada luka operasi
d) Kontraksi rahim
e) Evaluasi perdarahan pervaginam
(1) Pengeluaran lochea
(2) Atonia uteri perdarahan berkepanjangan ( Manuaba, 1999 )
Tujuan pengukuran tekanan darah, suhu, respirasi dan balance

cairan adalah untuk mengevaluasi penderita dan mendeteksi

9
kejadian trias komplikasi Sectio Caesarea lebih dini yaitu

adanya perdarahan, trauma persalinan dan infeksi.


i. Perawatan payudara pada ibu tanpa bayi :
Menurut Helen Farrer (1999), yaitu :
Meskipun terjadinya laktasi terutama bergantung pada stimulasi

payudara oleh penghisapan pada puting, payudara yang tidak

berstimulasi tetap akan mengalami proses penggembungan fisiologis.


Pada ibu tanpa bayi ( meninggal ) laktasi harus disupresi dengan :
1) Menghindari stimulasi payudara
2) Mengenakan BH / alat penahan payudara yang kencang dan sesuai

untuk penyangga payudara


3) Memberikan obat-obat analgesic jika diperlukan
4) Pemberian etinil estradiol ( mixogen SL ) untuk mensupresi kerja

hormone prolaktin
Nasihat pada ibu post operatif ( Mochtar, 1998 )
1) Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun dengan

memakai kontrasepsi
2) Kehamilan berikutnya hendaknya dengan antenatal yang baik
3) Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
4) Apakah persalinan di rumah sakit yang berikut harus dengan

seksio sesarea bergantung dari indikasi seksio sesarea dan keadaan

pada kehamilan berikunya.


C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien post Sectio Caesarea menurut

Doengoes, 2001 adalah :


1. Perubahan konsep keluarga berhubungan dengan transisi krisis situasi
2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas jaringan sekunder

terhadap pembedahan
3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri
4. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa

kehidupan
5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan efek anestesi

10
6. Reskiko tinggi infeksi beruhubungan dengan trauma jaringan, kerusakan

kulit, penurunan Hb, prosedur invasive, rupture ketuban lama, malnutrisi,

insisi/pembedahan
7. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan efek-efek hormonal,

trauma mekanis, edema jaringan, intake cairan


8. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus recti, efek-efek

progesterone, dehidrsi, kurang intake cairan, nyeri perineal, kelebihan

analgesia
9. Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi dan

kelemahan
10. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri berhubungan dengan

kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi, kurang

pemajanan/mengingat informasi.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien post operasi Sectio Caesarea

menurut Carpenito, 2001 adalah :


1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan invasi bakteri sekunder akibat

trauma persalinan, kelahiran dan post operasi Sectio Caesarea


2. Resiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan tidak

berpengalaman dan atau payudara yang membengkak


3. Resiko terhadap perubahan konstipasi berhubungan dengan penurunan

peristaltic usus ( pasca kelahiran ) dan penurunan aktivutas


4. Resiko terhadap perubahan menjadi orang tua yang berhubungan dengan

tidak berpengalaman, inkompeten, ketidakberdayaan anak yang tidak

diingini, kekecewaan dengan anak, kurangnya model peran


5. Resiko terhadap harga diri rendah situasional berhubungan dengan

perubahan yang ada setelah kelahiran

11
6. Intoleransi kelahiran berhubungan dengan gangguan system transport O2

sekunder akibat anemia

Dari dua diagnosa di atas, dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan

yang muncul pada post Sectio Caesarea, post partum adalah :


1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas jaringan sekunder

terhadap pembedahan
2. Ansietas berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan
3. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa

kehidupan
4. Resiko tinggi infeksi behubungan dengan trauma jaringan, kerusakan kulit

dan insisi pembedahan


5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kelemahan, efek-efek anestesi
6. Resiko terhadap konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik

usus ( pasca kelahiran ) dan penurunan aktivitas


7. Resiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan tidak

berpengalaman dan atau payudara yang membengkak


8. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma mekanis sekunder

terhadap pembedahan
9. Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi dan

kelemahan
10. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan bayi berhubungan dengan

kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber, kurang pemajanan

(mengingat informasi)

D. FOKUS INTERVENSI
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas jaringan sekunder

terhadap pembedahan
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria :

12
- Pasien mampu mengidentifikasi dan menggunakan

intervensi
- Pasien mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan

Intervensi Rasional

1. Monitor TD, nadi dan 1. Nyeri dapat menyebabkan

pernafasan gelisah serta TD dan nadi

2. Ubah posisi klien, kurangi meningkat


2. Meningkatkan kenyamanan
rangsangan yang berbahaya
3. Anjurkan pengguanaan 3. Merilekskan otot dan

teknik nafas dalam dan mengalihkan perhatian dari

relaksasi dan distraksi sensasi nyeri dan


4. Kolaborasi dalam
meningkatkan kenyamanan
pemberian analgetik 4. Analgesia memberikan

penghilangan nyeri cepat

tanpa efek samping

2. Ansietas berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan


Tujuan : cemas teratasi
Kriteria :
- Mengungkapkan kesadaran akan perasaan ansietas
- Kelihatan rileks, dapat tidur atau istirahat dengan benar

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat kecemasan dan 1. Menentukan intervensi

motivasi klien untuk pemecahan masalah bersama

13
mengungkapkan keluhan klien
2. Berikan informasi yang
2. Membantu klien mengenali
berhubungan dengan
perubahan normal dari
perubahan fisiologis dan
respon abnormal yang
psikologis
memerlukan tindakan
3. Perhatikan status psikologis 3. Ansietas berdampak

dan respon operasi Sectio negative pada kemampuan

Caesarea penerimaan prosedur


4. Konsultasi pada bagian 4. Perlu untuk mengkaji sejauh

psikologis bila perlu mana pasien beradaptasi dan

mampu menerima

pembedahan

3. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa

kehidupan
Tujuan : peningkatan harga diri
Criteria :
- Menyatakan masalah dan menunjukkan yang sehat untuk

menghadapinya
- Menyatakan penerimaan diri pada situasi dan adaptasi

terhadap perubahan pada citra tubuh

Intervensi Rasional

1. Tinjau partisipasi 1. Respon berduka dapat

kekeluargaan dalam proses berkurang bila ibu dan ayah

antenatal dan prenatal

14
2. Tekankan kemiripan mampu saling berbagi
2. Mengubah persepsi tentang
kelahiran Sectio Caesarea
Sectio Caesarea seperti
pada pervagina
persalinan pervagina
3. Ketahui kekuatan individu 3. Membantu dalam membuat

dan identifikasi perilaku kekuatan yang telah ada bagi

koping positif sebelumnya pasien untuk digunakan


4. Rujuk rekonseling
dalam situasi saat ini
professional sesuai 4. Mungkin memerlukan

kebutuhan bantuan tambahan untuk

mengatasi perasaan

kehilangan

4.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, kerusakan kulit

dan insisi pembedahan


Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria :
- Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan

resiko/meningkatan penyembuhan
- Menunjukkan luka yang bebas dari drainase purulen

Intervensi Rasional

1. Kaji suhu, nadi, dan sel 1. Demam setelah pasca

darah putih operasi hari ketiga,

2. Berikan perawatan pada leukositosis dan takikardi

daerah luka agar tetap bersih

15
menunjukkan infeksi
3. Dorong masukan cairan oral 2. Membantu menghilangkan

dan diet tinggi protein, media pertumbuhan bakteri,

vitamin C, dan besi meningkatkan hygiene


4. Kolaborasi dalam 3. Mencegah dehidrasi dan

pemberian antibiotik memaksimalkan volume

sirkulasi dan aliran urin


4. Perlu untuk mematikan

pertumbuhan bakteri

5. Resiko tinggi cedera behubungan dengan kelemahan, efek-efek anestesi


Tujuan : pasien tidak mengalami cedera
Kriteria :
- Mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan resiko

atau melindungi diri


- Bebas dari komplikasi

Intevensi Rasional

1. Observasi tanda-tanda 1. Perubahan tanda vital secara

vital mendadak menyebabkan

2. Anjurkan ambulasi dini pasien jatuh atau cidera


2. Menurunkan resiko
secara bertahap
pembentukan thrombus dan
3. Libatkan keluarga untuk
meningkatkan kemampuan
membantu pemenuhan
fisik
kebutuhan 3. Ketidakseimbangan elektrolit
4. Kolaborasi dengan bagian
dan pemasukan cairan dapat

16
fisioterapi manambah resiko jatuh
4. Perlu untuk ambulasi dini

6. Resiko terhadap konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic usus

( pasca kelahiran ) dan penurunan aktivitas


Tujuan : mobilisasi usus kemabli normal
Kriteria :
- Melakukan kembali kebiasaan defekasi yang biasanya

optimal dan 4 hari setelah kelahiran

Intervensi Rasional

1. Auskultasi bising usus 1. Mengetahui asupan

setiap 4 jam post Sectio pemberian makanan peroral


2. Mengatasi kemungkinan ileus
Caesarea
2. Observasi distensi dan paralitik
3. Mengencangkan otot
ketidaknyamanan
3. Anjurkan latihan kaki abdomen dan mobilitas

4. Identifikasi aktivitas untuk abdomen


4. Menciptakan kembali pola
merangsang kerja usus
5. Beri analgesic 30 menit evakuasi normal
5. Memudahkan kemampuan
sebelum ambulasi
ambulasi

7. Resiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan tidak

berpengalaman dan atau payudara yang membengkak


Tujuan : pasien mampu menyusui secra efektif
Kriteria :
- Mengungkapkan pemahaman tentang proses atau situasi

menyusui

17
- Mendemonstrasikan teknik efektif dari menyusui

Intervensi Rasional

1. Observasi kondisi 1. Menentukan intervensi

payudara / pengeluaran ASI selanjutnya saa bayi tak


2. Kaji pengetahuan dan
dirawat gabung
pengalaman klien tentang 2. Membantu dalam

menyusui sebelumnya mengidentifikasi kebutuhan

3. Ajarkan klien untuk saat ini dan mengembangkan

melakukan masase rencana perawatan


4. Rujuk klien pada kelompok 3. Mengurangi kekencangan

pendukung, misalnya payudara saat / tidak

posyandu menyusui
4. Memberikan bantuan terus

menerus untuk meningkatkan

hasil

8. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma mekanis sekunder

terhadap pembedahan
Tujuan : memperoleh pola normal eliminasi urin
Kriteria :
- Berkemih tidak dibantu dalam 6-8 jam setelah melahirkan
- Mengosongkan kandung kemih setelah berkemih

Intervensi Rasional

1. Kaji respon klien terhadap 1. Menentukan intervensi lanjut

pola eliminasi untuk perubahan pola BAK


2. Rawat dower cateter secara 2. Memberikan rasa nyaman dan

18
rutin mencegah infeksi saluran

3. Lakukan training sesuai kemih


3. Mengembalikan pola eliminasi
indikasi
4. Monitor output urin BAK ke pola normal
4. Berkurangnya jumlah urin,

curiga kemungkinan ISK

9. Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi dan

kelemahan
Tujuan : kebutuhan perawatan diri terpenuhi
Kriteria : mampu mengidentifikasi perawatan diri

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat 1. Menentukan sejauh mana

ketidakmampuan klien memerlukan bantuan

2. Monitor keadaan umum dan dalam pemenuhan perawatan

tanda-tanda vital diri


3. Libatkan keluarga dalam 2. Perlu untuk meningkatkan

pemenuhan ADL latihan ambulasi dini


4. Bantu klien dalam 3. Memberikan rasa

perawatan diri sesuai diperhatikan dan dihargai


4. Perlu untuk pemenuhan
tingkat ketidakmampuan
kebutuhan dalam

keterbatasan klien

19
10. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan bayi berhubungan dengan

kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber, kurang pemajanan

(mengingat informasi)
Tujuan : pemahaman tentang perawatan posr partum dan bayinya
Kriteria :
- Mengungkapkan tentang pemahaman perubahan

fisiologis, kebutuhan individu, hasil yang diharapkan


- Melakukan aktivitas atau prosedur-prosedur yang perlu dan

menjelaskan alasan-alasan untuk tindakan

Intervensi Rasional

1. Kaji motivasi klien untuk 1. Periode post partum dapat

belajar menjadi pengalaman positif

2. Berikan penyuluhan sesuai untuk peran baru


2. Meningkatkan pengetahuan
dengan kebutuhan pasien
3. Kaji status internal klien sesuai kebutuhan klien
4. Libatkan keluarga dalam 3. Pada multipara kondisi

penyuluhan psikologis akan lebih siap


4. Memudahkan klien dalam

mencapai

pemahaman/mengingat

informasi yang diberikan

BAB II
RESUME KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

20
Tanggal : 30 Juli 2009
Jam : 07.40 WIB
Oleh : Endah Prawalgiyati
Tempat : Bangsal Kenanga RSUD Kota Yogyakarta
Metode : Wawancara, observasi, Pemeriksaan Fisik, Studi Dokumentasi
Sumber : Pasien, Keluarga Pasien, Tim Kesehatan, Status Kesehatan
1. Data Dasar
a. Identitas Pasien
Nama : Ny “ M “
Umur : 40 tahun
Alamat : Panembahan KT 02 No 413 RT 47/12

Keraton
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMU
Pekerjaan : IRT
Diagnose : Post SC hari ke 0 atas indikasi presbo
No. CM : 451767
Tanggal masuk : 28 Juli 2009
Jam : 11.00 WIB
b. Identitas Penanggung jawab
Nama : Bpk “ U “
Umur : 39 tahun
Pendidikan : SMK
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Hubungan dengan pasien : Suami
c. Faktor Presipitasi
Presentasi bokong
d. Faktor Predisposisi
Usia pasien 40 tahun
2. Data Fokus
Keluhan utama pasien saat dilakukan pengkajian tanggal 30 Juli 2009 jam

07.40 WIB adalah pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan operasi SC

derajat 6 dan terasa nyeri gastritis skala 4, nyeri timbul saat diam dan

terutama pada saat mengubah posisi/bergerak, nyeri terasa sengkring-

sengkring seperti ditusuk-tusuk. Pasien mengatakan nyeri dirasakan terus

21
menerus. Ekspresi wajah pasien terlihat meringis menahan nyeri terutama

saat bergerak dan sangat berhati-hati saat mengubah posisi. Pasien

mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri dan rungan terasa panas. Pasien

mengatakan tidur ±3jam hingga mata pasien terlihat sebam karena kurang

tidur dan terlihat kurang begitu memperhatikan saat diajak bicara. Pasien

juga bertanya tentang bagaimana perawatan dan penyembuhan luka

operasi. Pasien mengatakan ASI sudah keluar.


3. Pemeriksaan Fisik
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data ;
a. Keadaan umum:
Kesadaran : compos mentis
Status gizi :
BB : 54 kg
TB : 154 cm
IMT : B B
TB2m
= 54
(1,54)2
= 22,7 ( normal )
b. Tanda-tanda vital
Tekanan Darah: 140/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu : 36,80 C
c. Pemeriksaan secara cepalo caudal
- Wajah : ekspresi wajah pasien terlihat meringis menahan nyeri

terutama saat mengubah posisi


- Mata : mata pasien terlihat sebam karena kurang tidur
- Payudara :
a. payudara teraba agak keras
b. ASI sudah keluar
c. puting menonjol keluar
- Abdomen :
a.uterus teraba keras
b.TFU 2 jari di bawah pusat
c.terdapat balutan luka post SC posisi vertikal ± 15 cm

22
d.kondisi balutan kering tidak ada rembesan darah
- Genitalia :
a.keluar lochea rubra warna merah, bau amis.
b.Genitalia tampak kotor
c.terpasang kateter sejak 29 juli 2009
d. Pola aktivitas klien
Pasien bedrest dan aktivitas di tempat tidur dengan dibantu keluarga.

Pasien terlihat lemah. Kondisi pasien dan bayi belum dirawat gabung.

Terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri.

e. Pemeriksaan penunjang
Al : 8,7 10e3/ul
f. Terapi
- Inj. Ceftriaxone 2x1 gr pada tanggal 29 juli – 31 juli 2009
- Inj. Ketorolac 3x1 A pada anggal 29 juli – 31 juli 2009
- Infus RL 20 tpm di tangan kiri 29 juli – 31 juli 2009
4. Pengelompokkan Data
a. Data subyektif
- Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan operasi SC derajat 6.
- Pasien mengatakan nyeri mag/gastritis skala 4.
- Pasien mengatakan nyeri timbul saat diam dan terutama pada saat

mengubah posisi/bergerak.
- Pasien mengatakan nyeri terasa sengkring-sengkring seperti

ditusuk-tusuk.
- Pasien mengatakan nyeri dirasakan terus menerus.
- Pasien mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri dan ruangan

terasa panas.
- Pasien mengatakan tidur ±3jam
- Pasien bertanya tentang bagaimana perawatan dan penyembuhan

luka operasi.

b. Data Obyektif
1. Ekspresi wajah pasien terlihat meringis menahan nyeri terutama

saat bergerak
2. Pasien terlihat sangat berhati-hati saat mengubah posisi.

23
3. Mata pasien terlihat sebam karena kurang tidur
4. Pasien terlihat kurang begitu memperhatikan saat diajak bicara.
5. Tanda-tanda vital
Tekanan Darah: 140/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu : 36,80 C
6. Uterus teraba keras
7. TFU setinggi pusat
8. Terdapat balutan luka post SC posisi vertikal ± 15 cm, kondisi

balutan kering tidak ada rembesan darah


9. Keluar lochea rubra warna merah, bau amis.
10. Genitalia tampak kotor
11. Terpasang kateter sejak 29 juli 2009
12. Terpasang infuse RL 20 tpm di tangan kiri sejak 29 Juli 2009
13. Hasil laboratorium :
AL = 8,7 10e3/ul
14. Pasien terlihat bedrest dan aktivitas dibantu keluarga dan perawat
15. Pendidikan pasien SMA
16. Pasien terlihat lemah
17. Pasien post SC hari ke-0

24
B. ANALISA DATA

NO DATA PENYEBAB MASALAH

1. DS : Terputusnya Nyeri akut


- Pasien mengatakan nyeri pada kontinuitas
luka jahitan operasi SC derajat jaringan
6. sekunder akibat
- Pasien mengatakan nyeri pembedahan,
mag/gastritis skala 4. gastritis
- Pasien mengatakan nyeri timbul
saat diam dan terutama pada
saat mengubah posisi/bergerak.
- Pasien mengatakan nyeri terasa
sengkring-sengkring seperti
ditusuk-tusuk.
- Pasien mengatakan nyeri
dirasakan terus menerus.
DO :
- Ekspresi wajah pasien terlihat
meringis menahan nyeri
terutama saat bergerak
- Pasien terlihat sangat berhati-
hati saat mengubah posisi.
2. - Tekanan Darah : 140/90 mmHg Gangguan
- Nadi : 82 x/menit pola tidur
- Respirasi : 24 x/menit Perubahan
lingkungan
DS :
- Pasien mengatakan tidak bisa
tidur karena nyeri dan ruangan
terasa panas.
- Pasien mengatakan tidur ±3jam
DO :
3. - Mata pasien terlihat sebam
karena kurang tidur Resiko
- Pasien terlihat kurang bagitu infeksi
memperhatikan saat diajak Masuknya
bicara. mikroorganisme
sekunder akibat
saluran

25
DS : - invasive,
DO : pembedahan,
- Terdapat balutan luka post SC dan involusio
posisi vertikal ± 15 cm, kondisi
balutan kering tidak ada
rembesan darah
- Keluar lochea rubra warna
merah, bau amis.
- Genitalia tampak kotor
- Terpasang kateter sejak 29 juli
4. 2009
- Terpasang infuse RL 20 tpm di
tangan kiri sejak 29 Juli 2009 Intoleransi
- Uterus teraba keras aktivitas
- TFU 2 jari di bawah pusat
- S : 36,80C Kelemahan fisik
- AL = 8,7 10e3/ul
5.

DS : - Kurang
DO : pengetahuan
- Pasien terlihat lemah tentang
- Pasien terlihat bedrest dan Kurang sumber perawatan
aktivitas dibantu keluarga dan informasi diri
perawat
- Pasien post SC hari ke-0

DS :
- Pasien bertanya tentang
bagaimana perawatan dan
penyembuhan luka operasi.
DO :
- Pendidikan pasien SMA

26
C. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder

akibat pembedahan, gastritis, ditandai dengan :


DS :
- Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan operasi SC derajat 6.
- Pasien mengatakan nyeri mag/gastritis skala 4.
- Pasien mengatakan nyeri timbul saat diam dan terutama pada saat

mengubah posisi/bergerak.
- Pasien mengatakan nyeri terasa sengkring-sengkring seperti ditusuk-

tusuk.
- Pasien mengatakan nyeri dirasakan terus menerus.
DO :
- Ekspresi wajah pasien terlihat meringis menahan nyeri terutama saat

bergerak
- Pasien terlihat sangat berhati-hati saat mengubah posisi.
- Tekanan Darah : 140/90 mmHg
- Nadi : 82 x/menit
- Respirasi : 24 x/menit

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai

dengan:
DS : -
DO :
- Pasien terlihat lemah
- Pasien terlihat bedrest dan aktivitas dibantu keluarga dan perawat
- Pasien post SC hari ke-0

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan ditandai

dengan:
DS :
- Pasien mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri dan ruangan terasa

panas.
- Pasien mengatakan tidur ±3jam
DO :

27
- Mata pasien terlihat sebam karena kurang tidur
- Pasien terlihat kurang begitu memperhatikan saat diajak bicara.

4. Resiko infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme sekunder

akibat saluran invasive, pembedahan, dan involusio, periode post partum

ditandai dengan :
DS : -
DO :
- Terdapat balutan luka post SC posisi vertikal ± 15 cm, kondisi

balutan kering tidak ada rembesan darah


- Keluar lochea rubra warna merah, bau amis.
- Genitalia tampak kotor
- Terpasang kateter sejak 29 juli 2009
- Terpasang infuse RL 20 tpm di tangan kiri sejak 29 Juli 2009
- Uterus teraba keras
- TFU 2 jari di bawah pusat
- S : 36,80C
- AL = 8,7 10e3/ul
5. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri berhubungan dengan kurang

sumber informasi ditandai dengan :


DS :
- Pasien bertanya tentang bagaimana perawatan dan penyembuhan

luka operasi.
DO :
- Pendidikan pasien SMA

28
Perencanaan
Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

1. 30 Juli 2009 Setelah dilakukan 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009
Nyeri akut berhubungan tindakan 1. Monitor TD, 1. Nyeri dapat Jam : 09.00WIB Jam : 09.05WIB
dengan terputusnya keperawatan nadi dan menyebabkan Menganjurkan Pasien mau melakukan
kontinuitas jaringan selama 3x24 jam pernapasan gelisah serta pasien untuk nafas dalam dan tampak
sekunder akibat diharapkan nyeri TD dan nadi nafas dalam saat rileks
pembedahan, gastritis, berkurang atau 2. Ubah posisi meningkat nyeri
ditandai dengan : hilang, dengan klien, 2. Meningkatkan Endah Jam : 14.00WIB
DS : kriteria: kurangi kenyamanan Jam : 12.00WIB Pasien mengatakan skala ny
- Pasien 1. Pasien rangsangan 3. Merilekskan Memberikan
mengatakan nyeri mengungkapka yang otot, injeksi ketorolac Jam : 12.45WIB
pada luka jahitan n bahwa nyeri berbahaya menhalihkan 3x1A TD : 140/90mmHg
operasi SC derajat berkurang atau 3. Anjurkan perhatian dari Endah N : 80x/menit
6. hilang penggunaan sensasi nyeri Jam : 12.35WIB R : 24x/menit
- Pasien 2. Skala nyeri 0-1 teknik nafas dan Mengukur VS E
mengatakan nyeri 3. Ekspresi wajah dalam, meningkatkan Jam : 14.00WIB
mag/gastritis tampak rileks relaksasi kenyamanan Endah S:
skala 4. 4. Tanda-tanda dan distraksi 4. Analgesic - Pasien mengatakan masih
- Pasien vital dalam 4. Kelola memberikan pada luka jahitan skala
mengatakan nyeri batas normal pemberian penghilangan masih nyeri mag skala 4
timbul saat diam (TD : ketorolac nyeri cepat - Pasien mengatakan nyeri
dan terutama 110/70mmHg- 3x1A tanpa efek saat diam dan terutam
pada saat 120/80mmHg) samping mengubah posisi/bergerak
mengubah (nadi:76- - Pasien mengatakan nyeri
posisi/bergerak. 80x/menit) sengkring-sengkring
- Pasien (respirasi 16- ditusuk-tusuk dan terasa

29
mengatakan nyeri 24x/menit) menerus
terasa sengkring- O:
sengkring seperti - Ekspresi wajah t
ditusuk-tusuk. meringis menahan nyeri
- Pasien - Pasien tampak sangat b
mengatakan nyeri hati saat mengubah posisi
dirasakan terus - TD : 140/100 mmHg
menerus. - Nadi : 80 x/menit
DO : - R : 20 x/menit
- Ekspresi wajah A :Masalah nyeri belum tera
pasien tampak P : Lanjut intervensi
meringis menahan 1. Monitor TD, nadi
nyeri terutama pernapasan
saat bergerak 2. Ubah posisi klien, k
- Pasien tampak rangsangan yang berbah
sangat berhati- 3. Anjurkan penggunaan
hati saat nafas dalam, relaksas
mengubah posisi. distraksi
- Tekanan Darah : 4. Kelola pemberian ke
140/90 mmHg 3x1 A
- Nadi : 82 x/menit
- Respirasi : 24
x/menit

30
No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

1. 31 Juli 2009 31 Juli 2009 31 Juli 2009


S: Jam : 06.30WIB Jam : 08.30WIB
- Pasien mengatakan masih Memberikan injeksi ketorolac melalui Nyeri pasien berkurang, skala nyeri 4
nyeri pada luka jahitan skala IM ( 3 x 1 A ) Endah
5 dan masih nyeri mag skala Endah Jam : 10.45WIB
3 Jam : 10.30WIB TD : 140/100mmHg
- Pasien mengatakan nyeri Mengukur TTV N : 80x/menit
timbul saat diam dan Endah R : 20x/menit
terutama saat mengubah Jam : 10.40WIB Endah
posisi/bergerak. Menganjurkan pasien mengubah posisi Jam : 10.45WIB
- Pasien mengatakan nyeri senyaman mungkin Pasien mau mengikuti anjuran yang diberikan
terasa sengkring-sengkring Endah Endah
seperti ditusuk-tusuk dan Jam 12.00WIB Jam 13.00WIB
terasa terus menerus Menganjurkan pasien minum obat Skala nyeri mag 2
O: ranitidine 3x1 hari Endah
- Ekspresi wajah tampak Endah Jam : 14.00WIB
meringis menahan nyeri S:
- Pasien tampak sangat berhati- - Pasien mengatakan masih nyeri luka jahitan skala 4 dan
hati saat mengubah posisi. masih nyeri mag skala 2 dan terasa terutama saat
- TD : 140/100 mmHg mengubah posisi/bergerak., nyeri terasa sengkring-
- Nadi : 78 x/menit sengkring seperti ditusuk-tusuk dan terasa terus menerus
- R : 20 x/menit O:
A : masalah nyeri belum teratasi - Ekspresi wajah tampak meringis menahan nyeri
P : lanjutkan intervensi - TD : 140/100 mmHg
1. Monitor TD, nadi dan - Nadi : 80 x/menit
pernapasan - R : 20 x/menit
2. Ubah posisi klien, kurangi A : masalah nyeri belum teratasi
rangsangan yang berbahaya

31
3. Anjurkan penggunaan teknik P : lanjutkan intervensi
nafas dalam, relaksasi dan 1. Monitor TD, nadi dan pernapasan
distraksi 2. Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya
4. Kelola pemberian ketorolac 3. Anjurkan penggunaan teknik nafas dalam, relaksasi
3x1 A dan ranitidine 3x1 dan distraksi
tablet 4. Kolaborasi pemberian analgetik
Endah

32
No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

1. 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009


S: Jam : 07.15WIB Jam : 10.15WIB
- Pasien mengatakan masih Mengelola pemberian analgesic oral Pasien mengatakan skala nyeri 3
nyeri luka jahitan skala 4 dan (ketorolac tablet 3x1) Enda
terasa saat mengubah Endah Jam : 09.05WIB
posisi/bergerak., nyeri terasa Jam : 09.00WIB Pasien mengikuti anjuran yang diberikan
sengkring-sengkring seperti Menganjurkan pasien nafas dalam jika Enda
ditusuk-tusuk dan terasa terus nyeri Jam : 10.25WIB
menerus Endah TD : 140/100mmHg
- Pasien mengatakan sudah Jam : 10.15WIB N : 80x/menit
tidak terasa nyeri mag Mengukur TTV R : 24x/menit
O: Endah Enda
- Ekspresi wajah tampak
meringis menahan nyeri Jam : 14.00WIB
- TD : 140/100 mmHg S:
- Nadi : 82 x/menit - Pasien mengatakan masih nyeri luka jahitan skala 3 da
- R : 20 x/menit terasa saat mengubah posisi/bergerak., nyeri tera
A : masalah nyeri belum teratasi sengkring-sengkring seperti ditusuk-tusuk dan terasa ter
P : lanjutkan intervensi menerus
1. Monitor TD, nadi dan O:
pernapasan - Ekspresi wajah tampak meringis menahan nyeri
2. Ubah posisi klien, kurangi - TD : 140/100 mmHg
rangsangan yang berbahaya - Nadi : 80 x/menit
3. Anjurkan penggunaan - R : 24 x/menit
teknik nafas dalam, A : masalah nyeri teratasi sebagian
relaksasi dan distraksi P : lanjutkan intervensi
5. Kelola pemberian ketorolac 1. Monitor TD, nadi dan pernapasan
3x1 A

33
2. Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya
3. Anjurkan penggunaan teknik nafas dalam, relaksasi da
distraksi
4. Kolaborasi pemberian analgetik
Enda

Perencanaan
Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

2. 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30Juli 2009 30Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009
Intoleransi Setelah dilakukan 1. Anjurkan klien 1. Meningkatkan Jam : 10.30WIB Jam : 10.40WIB
aktivitas tindakan melakukan latihan gerak Menganjurkan Pasien belum bisa miring ki
berhubungan keperawatan rentang minimal pasien untuk miring kanan
dengan selama 3x24 jam gerak/mobilisa latihan mobilisasi E
kelemahan fisik diharapkan si 2. Mencegah klien dengan merubah
ditandai dengan : intoleransi 2. Monitor dari posisi miring kanan
DS : - aktivitas teratasi tingkat tingkat ketergantungan miring kiri
DO : dengan kriteria: aktivitas yang berkepanjangan Jam : 14.00WIB
- Pasien - pasien dapat bisa dilakukan Endah S:-
tampak meminilmalkan klien 3. Memudahkan O:
lemah aktifitasnya sesuai 3. Bantu klien dalam - Pasien masih tampak be
- Pasien kondisi, seperti pemenuhan pemenuhan dan aktivitas dibantu
tampak makan, mandi di kebutuhan kebutuhannya - A : Masalah intoleransi akt
bedrest dan kamarmandi klien 4. Peran serta belum teratasi
aktivitas sendiri. 4. Libatkan keluarga P : Lanjut intervensi
dibantu - Pasien mampu keluarga mempengaruhi 1. Anjurkan klien melak

34
keluarga dan melakukan dalam pemenuhan rentang gerak/mobilisasi
perawat aktifitas secara pemenuhan kebutuhan klie 2. Monitor tingkat ti
- Pasien post bertahap seperti kebutuhan aktivitas yang bisa dilak
SC hari ke-0 mering kiri, klien klien
kanan, duduk, dan 3. Bantu pemenuhan kebu
berjalan. klien
4. Libatkan keluarga d
pemenuhan kebutuhan kl

No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

2. 31 Juli 2009 31 Juli 2009 31 Juli 2009


S:- Jam : 05.30WIB Jam : 06.00WIB
O : Pasien masih tampak bedrest Kebutuhan kebersihan diri pasien terpenuhi, pasien tampak

35
dan aktivitas dibantu Memandikan pasien bersih dan segar
- A : Masalah intoleransi aktivitas Endah
belum teratasi Endah Jam : 10.00WIB
P : Lanjut intervensi Jam : 08.30WIB Pasien mampu duduk di tempat tidur
1. Anjurkan klien melakukan Menganjurkan pasien untuk
rentang gerak/mobilisasi meningkatkan latihan mobilisasi Endah
2. Monitor tingkat tingkat aktivitas Jam : 14.00WIB
yang bisa dilakukan klien Endah S : -
3. Bantu pemenuhan kebutuhan O:
klien - Pasien tampak bisa duduk di tempat tidur
4. Libatkan keluarga dalam - Aktivitas pasien masih dibantu
pemenuhan kebutuhan klien A : masalah intoleransi aktivitas teratasi sebagian
P : lanjut intervensi
1. Anjurkan klien melakukan rentang gerak/mobilisasi
2. Monitor tingkat tingkat aktivitas yang bisa dilakukan
klien
3. Bantu pemenuhan kebutuhan klien
4. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien

Endah

36
No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

2. 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009


S:- Jam : 05.30WIB Jam : 06.00WIB
O : Pasien sudah bisa duduk tapi aktivitas Memandikan pasien Kebutuhan kebersihan diri pasien terpenuhi,
masih dibantu pasien tampak bersih dan segar
- A : Masalah intoleransi aktivitas teratasi Endah Endah
sebagian Jam : 08.30WIB Jam : 10.20WIB
P : Lanjut intervensi Menganjurkan pasien untuk Pasien mampu berjalan di sekitar tempat tidur
1. Anjurkan klien melakukan rentang meningkatkan latihan mobilisasi Endah
gerak/mobilisasi Endah Jam : 14.00WIB
2. Monitor tingkat tingkat aktivitas yang bisa S:-
dilakukan klien O : Pasien tampak bisa berjalan di sekitar
3. Bantu pemenuhan kebutuhan klien temapt tidur
4. Libatkan keluarga dalam pemenuhan A : masalah intoleransi aktivitas teratasi
kebutuhan klien P : stop intervensi
Endah

37
Perencanaan
Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

3. 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009
Gangguan pola tidur Setelah 1. Kaji faktor- 1. Membantu Jam : 10.30WIB Jam : 09.05WIB
berhubungan dengan dilakukan faktor yang meningkatkan Menganjurkan Keluarga pasien
perubahan lingkungan tindakan mempengaruh istirahat tidur dan keluarga untuk mengikuti anjuran
ditandai dengan: keperawatan i istirahat relaksasi membuka jendela diberikan
DS : selama 2x24 jam 2. Tenangkan 2. Meningkatkan jika udara terasa
- Pasien mengatakan diharapkan pasien untuk rasa mengantuk/ panas Jam : 14.00WIB
tidak bisa tidur karena gangguan pola tetap dapat keinginan untuk Endah Suami pasien mengert
nyeri dan ruangan tidur teratasi beristirahat tidur Jam : 12.00WIB anjuran yang diberikan
terasa panas. dengan kriteria: 3. Anjurkan 3. Udara segar Menganjurkan
- Pasien mengatakan - kebutuhan keluarga meningkatkan suami pasien untuk
tidur ±3jam tidur pasien membuka keinginan pasien membawa kipas Jam : 14.00WIB
DO : tercukupi 6-8 jendela jika untuk tidur angin jika S:
- Mata pasien tampak jam/hari ruangan terasa diperlukan - Pasien mengatakan
sebam karena kurang - pasien tampak panas 4. Lingkungan yang bisa tidur w
tidur memperhatikan 4. Libatkan nyaman Endah sebentar di siang ha
- Pasien tampak kurang saat diajak keluarga meningkatkan O:
memperhatikan saat bicara dalam keinginan tidur - Pasien masih
diajak bicara. penatalaksana pasien kurang memperhati
an ruangan diajak bicara
- Mata pasien juga
tampak sebam
- A : Masalah ganggu
tidur belum teratasi
P : Lanjut intervensi

38
1. Tenangkan pasien
dapat beristirahat
2. Anjurkan
membuka jende
ruangan panas

No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

3. 31 Juli 2009 31 Juli 2009 31 Juli 2009


S: Jam : 09.00WIB Jam : 09.05WIB
- pasien mengatakan semalam sudah bisa Manganjurkan kepada suami pasien Suami pasien mengikuti anjuran yang
tidur ±5 jam membuka jendela jika ruangan panas diberikan
O:
Endah
- Pasien terlihat memperhatikan saat diajak Endah
bicara Jam : 14.00WIB

- Mata pasien sudah tidak sebam S:-

A : masalah gangguan pola tidur teratasi O:


sebagian

39
P : lanjutkan intervensi - Pasien terlihat memprhatikan saat
diajak bicara
1. Tenangkan psien untuk dapat beristirahat
2. Anjurkan keluarga membuka jendela jika - Mata pasien sudah tidak sebam
ruangan terasa panas
A : masalah gangguan tidur teratasi

P : stop intervensi

Endah

40
Perencanaan
Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

4. 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30Juli 2009 30Juli 2009 30 Juli 2009 30 Juli 2009
Resiko infeksi Setelah 1. Kaji suhu, 1. Demam setelah Jam : 09.30WIB Jam : 09.40WIB
berhubungan dengan dilakukan nadi, dan sel pasca operasi Memberikan perawatan Daerah pemasangan in
masuknya tindakan darah putih hari ketiga, dressing infuse tidak terdapat tanda-t
mikroorganisme keperawatan leukositosis dan infeksi kalor, dolor, r
sekunder akibat selama 3x24 jam takikardi Endah tumor
saluran invasive, diharapkan 2. Berikan menunjukkan Jam : 09.40WIB En
pembedahan, infeksi tidak perawatan infeksi Memberikan perawatan Jam : 09.45WIB
periode post partum terjadi dengan pada daerah 2. Membantu kateter Daerah pemasangan ca
ditandai dengan : kriteria: luka agar menghilangkan Endah tidak terdapat tanda-t
DS : - - tidak terjadi tetap bersih media infeksi kalor, dolor, r
DO : tanda-tanda pertumbuhan Jam : 09.45WIB tumor
- Terdapat balutan infeksi (Kalor, 3. Dorong bakteri, Memberikan perawatan En
luka post SC Dolor, Rubor, masukan meningkatkan vulva hygiene Jam : 09.55WIB
posisi vertikal ± Tumor) cairan oral hygiene Genitalia terlihat bersih
15 cm, kondisi - suhu tubuh 36- dan diet 3. Mencegah Endah masih keluar lochea r
balutan kering 370C tinggi dehidrasi dan Jam : 12.00WIB bau amis
tidak ada - Tidak terdapat protein, memaksimalkan Mamberikan antibiotic E
rembesan darah rembesan luka vitamin C, volume sirkulasi Ceftriaxone 2x1gr Jam : 13.00WIB
- Keluar lochea pada luka post dan zat besi dan aliran urin melalui selang infus Tidak terjadi tanda-tanda
rubra warna operasi 4. Kelola Endah infeksi Kalor, Dolor, Rub
merah, bau amis. - Lochea tidak pemberian 4. Perlu untuk Jam : 12.00WIB Tumor
- Genitalia tampak berbau busuk ceftriaxone mematikan Mengukur TTV En
kotor 2x1 gr pertumbuhan Jam : 12.05WIB
- Terpasang kateter bakteri Endah S : 36,70C

41
sejak 29 juli 2009 En
- Terpasang infuse Jam : 14.00WIB
RL 20 tpm di S:-
tangan kiri sejak O:
29 Juli 2009 - Luka balutan bersih,
- Uterus teraba ada rembesan darah
keras - Genitalia bersih
- TFU setinggi - Pasien masih terpa
pusat infuse dan cateter
- S : 36,80C - Lochea rubra masih ke
- AL = 8,7 10e3/ul - S : 36,80C
A : Masalah infeksi
terjadi
P : Lanjut intervensi
1. Monitor suhu, nadi,
sel darah putih
2. Berikan perawatan
daerah luka agar
bersih
3. Dorong masukan c
oral dan diet t
protein, vitamin C, da
besi
4. Kelola pemb
antibiotic (Ceftriaxon
gr)

En

42
No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

4. 31 Juli 2009 31 Juli 2009 31 Juli 2009


S:- Jam : 08.30WIB Jam : 08.45WIB
O: Melepas infus dan menutup dengan Tidak terjadi infeksi pada luka tusukan infus dan tempat
- Terdapat balutan luka post SC kasa steril, melepas DC, dan pemasangan DC, pasien mengatakan lebih nyaman saat
posisi vertikal ± 15 cm, kondisi melakukan vulva gygiene kateter dilepas, genitalia bersih dan tidak terjadi tanda-
balutan kering tidak ada rembesan Endah tanda infeksi
darah Jam : 10.30WIB Endah
- Keluar lochea rubra warna merah, Mengukur TTV Jam : 10.45WIB
bau amis. Endah S : 36,60C
- Genitalia tampak kotor Jam : 10.30 WIB Endah
- Terpasang kateter sejak 29 juli Menganjurkan pasien makan yang Jam : 10.35WIB
2009 mengandung tinggi kalori dan tinggi Pasien mengatakan mau mengikuti anjuran yang
- Terpasang infuse RL 20 tpm di protein diberikan
tangan kiri sejak 29 Juli 2009 Endah Endah
- Uterus teraba keras Jam : 12.15WIB Jam : 13.30WIB
- TFU setinggi pusat Membagikan antibiotic (Amoxicillin Pasien tidak alergi amoxicillin dan tidak terjadi tanda-
- S : 36,80C 500mg) tanda infeksi kalor, dolor, rubor, tumor
- AL = 8,7 10e3/ul
A : masalah infeksi tidak terjadi Endah Endah
P : lanjutkan intervensi Jam : 14.00WIB
1. Monitor suhu, nadi, dan sel darah S:-
putih O:
2. Berikan perawatan pada daerah - Terdapat balutan luka post SC posisi vertikal ± 15

43
luka agar tetap bersih cm, kondisi balutan kering tidak ada rembesan darah
3. Dorong masukan cairan oral dan - Keluar lochea rubra warna merah, bau amis.
diet tinggi protein, vitamin C, dan - S : 36,60C
zat besi A : masalah infeksi tidak terjadi
4. Kolaborasi dalam pemberian P : lanjut intervensi
antibiotic oral 1. Monitor suhu, nadi, dan sel darah putih
2. Berikan perawatan pada daerah luka agar tetap bersih
3. Dorong masukan cairan oral dan diet tinggi protein,
vitamin C, dan zat besi
4. Kelola pemberian antibotik oral (Amoxicillin 3x
500mg)
Endah

44
No Catatan perkembangan Implementasi Evaluasi

4. 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009


S:- Jam : 07.15WIB Jam : 09.00WIB
O: Menganjurkan pasien minum obat oral Tidak ada tanda-tanda infeksi Kalor, Dolor, Rubor
32 Terdapat balutan luka post SC amoxicillin 3x 500 mg Tumor
posisi vertikal ± 15 cm, kondisi Endah Endah
balutan kering tidak ada Jam : 08.45WIB Jam : 09.00WIB
rembesan darah Melakukan perawatan luka SC Luka jahitan tampak bersih dan kering, tidak ada pus
33 S : 36,20C Endah pada luka bekas operasi. Terdapat 12 jahitan dan tidak
A : masalah infeksi tidak terjadi Jam : 09.40WIB ada tanda-tanda infeksi
P : lanjutkan intervensi Menganjurkan pada pasien untuk Endah
1. Monitor suhu, nadi, dan sel menjaga agar luka jahitan tetap kering Jam : 09.45WIB
darah putih Endah Pasien mengerti dengan anjuran yang diberikan
2. Berikan perawatan pada Endah
daerah luka agar tetap bersih Jam : 10.15WIB Jam : 10.20WIB
3. Dorong masukan cairan oral S : 36,40C
dan diet tinggi protein, Mengukur TTV Endah
vitamin C, dan zat besi
Endah
4. Kelola dalam pemberian Jam : 10.20WIB
antibiotic oral (Amoxicillin Pasien mengatakan akan mengikuti anjuran yang
3 x 500 mg) diberikan
Jam : 10.15WIB Endah
Jam : 14.00WIB
Menganjurkan pasien makan makanan S : -
tinggi kalori dan tinggi protein terutama O :
putih telur - Luka jahitan tampak kering
- S : 36,40C
Endah A : masalah infeksi tidak terjadi

45
P : lanjut intervensi
- Anjurkan menjaga luka tetap kering
- Perawatan daerah genitalia
- Motivasi untuk makan tinggi kalori tinggi protein
- Motivasi untuk minum obat antibiotic secara teratur
sampai obat habis
Endah

Perencanaan
Diagnosa
No Implementasi Evaluasi
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

5. 30 Juli 2009 30 Juli 2009 30Juli 2009 30Juli 2009 31 Juli 2009 31 Juli 2009
Kurang pengetahuan Setelah 1. Kaji 1. Periode post Jam : 09.00WIB Jam : 09.15WIB
tentang perawatan dilakukan motivasi partum dapat Memberikan penyuluhan Pasien dan suami mamp
diri berhubungan tindakan klien untuk menjadi pada pasien dan keluarga menerima penyuluhan yan
dengan kurang keperawatan belajar dan pengalaman tentang perawatan pada diberikan
sumber informasi selama pengetahua positif untuk post SC Enda
ditandai dengan : 2x15menit n klien peran baru Endah Jam : 14.00WIB
DS : diharapkan 2. Berikan 2. Meningkatka S:
Pasien bertanya pengetahuan penyuluhan n Pasien mengatakan suda
tentang bagaimana pasien terpenuhi sesuai pengetahuan tau tentang perawatan po
perawatan dan dengan kriteria: dengan sesuai SC
penyembuhan luka pasien kebutuhan kebutuhan O:
operasi. mengetahui pasien klien Pasien dan keluarga paham
DO : tentang 3. Kaji status 3. Pada tentang perawatan
Pendidikan pasien perawatan / internal multipara

46
SMA penyembuhan klien kondisi penyembuhan luka operasi
luka operasi SC 4. Libatkan psikologis A : masalah kuran
keluarga akan lebih pengetahuan terata
dalam siap sebagian
penyuluhan 4. Memudahka P : lanjut intervensi
n klien dalam Kaji motivasi klien untu
mencapai belajar sekaligu
pemahaman / pengetahuan klien
mengingat
informasi
yang
diberikan

47
No Catatan Perkembangan Implementasi Evaluasi

48
5. 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009 1 Agustus 2009
Jam : 09.10WIB Jam : 09.15WIB
S:- Menanyakan kembali pada pasien Pasien mampu menyebutkan kembali cara-cara perawatan
O: tentang cara perawatan luka opst luka post operasi
34 Pasien dan keluarga paham operasi Endah
tentang perawatan /
penyembuhan luka operasi Endah Jam : 09.20 WIB
35 A : masalah kurang
Jam : 09.15WIB Pasien mampu menyebutkan kembali macam-macam
pengetahuan teratasi
makanan untuk penyembuhan luka
P : lanjut intervensi Menanyakan kembali pada pasien
Kaji motivasi klien untuk tentang makanan yang dianjurkan Endah
belajar sekaligus untuk penyembuhan luka operasi
pengetahuan klien Jam : 14.00WIB
S : pasien mengatakan sudah paham tentang perawatan
Endah luka post operasi
O : Pasien dan keluarga paham tentang perawatan /
penyembuhan luka operasi
A : masalah kurang pengetahuan teratasi
P : stop intervensi
Endah

49