Anda di halaman 1dari 42

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................................................................ ii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................................... 2
C. Tujuan .............................................................................................................................................. 2
BAB II .......................................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 4
A. Pengertian Asuransi Jiwa............................................................................................................... 4
B. Jenis – Jenis Asuransi Jiwa ............................................................................................................ 8
C. Polis Asuransi Jiwa. ...................................................................................................................... 12
D. Hak dan Kewajiban Pemegang Polis .......................................................................................... 15
E. Jumlah Asuransi ........................................................................................................................... 19
F. Premi Asuransi .............................................................................................................................. 19
G. Penanggung, Tertanggung, Penikmat ..................................................................................... 20
H. Evemen dan Santunan .............................................................................................................. 21
I. Asuransi Jiwa Berakhir ................................................................................................................ 22
J. Konsep Dasar Asuransi Jiwa ....................................................................................................... 26
K. Manfaat Asuransi Jiwa............................................................................................................. 27
L. Sistem Klaim Asuransi ................................................................................................................. 29
M. Akuntansi Asuransi Jiwa Syariah ........................................................................................... 31
BAB III....................................................................................................................................................... 36
PENUTUP.................................................................................................................................................. 36
A. Kesimpulan .................................................................................................................................... 36
B. Saran .............................................................................................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 39

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur patut kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa karena atas berkat,

rahmat, dan hidayah-Nya sehingga tugas yang berjudul “Asuransi Jiwa” ini dapat

terselesaikan dengan tepat waktu.

Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada

semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini . Dan kepada Bapak

Turmono, SE, MM,AAAI.J selaku dosen mata kuliah Manajemen Asuransi.

Kami juga menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada

makalah ini. Oleh karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran

yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memenuhi kebutuhan pembaca sekalian,

Jakarta, 23 Juli 2017

Kelompok V

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Resiko dimasa datang dapat terjadi terhadap kehidupan seseorang misalnya kematian,

sakit atau resiko dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis resiko yang dihadapi dapat

berupa resiko kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau resiko lainnya. Oleh

karena itu setiap resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan

kerugian yang lebih besar lagi.

Untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan dimasa yang akan datang maka

diperlukan perusahaan yang mau menanggung resiko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang

mau menanggung resiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha.

Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang melakukan usaha

pertanggung jawaban terhadap resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya.

Jiwa seseorang dapat diasuransikan untuk keperluan orang yang berkepentingan, baik untuk

selama hidupnya maupun untuk waktu yang ditentukan dalam perjanjian. Orang yang

berkepentingan dapat mengadakan asuransi itu bahkan tanpa diketahui atau persetujuan orang

yang diasuransikan jiwanya.

Jadi setiap orang dapat mengasuransikan jiwanya, asuransi jiwa bahkan dapat diadakan

untuk kepentingan pihak ketiga. Asuransi jiwa dapat diadakan selama hidup atau selama jangka

waktu tertentu yang dtetapkan dalam perjanjian.

1
Pihak-pihak yang mengikatkan diri secara timbal balik itu disebut penanggung dan tertanggung.

Penanggung dengan menerima premi memberikan pembayaran, tanpa menyebutkan kepada

orang yang ditunjuk sebagai penikmatnya.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas , dapat di rumuskan Rumusan Masalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Asuransi Jiwa ?

2. Apa saja jenis – jenis Asuransi Jiwa ?

3. Apa polis Asuransi Jiwa ?

4. Apa hak dan kewajiban pemegang polis ?

5. Apa jumlah asuransi ?

6. Apa yang dimaksud premi asuransi ?

7. Apa penanggung, tertanggung, penikmat ?

8. Apa asuransi jiwa berakhir ?

9. Apa evemen dan santunan ?

10. Apa konsep dasar asuransi jiwa ?

11. Apa manfaat asuransi jiwa ?

12. Bagaimana sistem klaim asuransi ?

13. Bagaimana akuntansi asuransi jiwa syariah ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini yaitu :

1. Mengetahui pengertian dari Asuransi Jiwa

2. Mengetahui jenis – jenis asuransi jiwa

2
3. Mengetahui polis asuransi

4. Mengetahui hak dan kewajiban pemegang polis

5. Mengetahui jumlah asuransi

6. Mengetahui premi asuransi

7. Mengetahui penanggung, tertanggung, penikmat

8. Mengetahui evemen dan santunan

9. Mengetahui asuransi jiwa berakhir

10. Mengetahui konsep dasar asuransi

11. Mengetahui manfaat asuransi jiwa

12. Mengetahui sistem klaim asuransi

13. Mengetahui akuntansi asuransi syariah

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Asuransi Jiwa

1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992

Dalam Undang Nomor 2 Tahun 1992, dirumuskan definisi asuransi yang lebih lengkap jika

dibandingkan dengan rumusan yang terdapat dalam Pasal 246 KUHD. Menurut ketentuan Pasal

1 angka (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 :

“Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih, dengan

mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi,

untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian kerusakan atau kehilangan

keuntungan yang diharapkan atau taggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan

diderita tertanggung, yang timbul dan suatu peristiwa tidak pasti atau untuk memberikan suatu

pembayaran yang didasarkan atas rneninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.”

Ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 ini mencakup 2 (dua) jenis

asuransi, yaitu:

a) Asuransi kerugian (loss insurance), dapat diketahul dan rumusan:

“untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau

kehilangan keuntungan yang dmarapkan, atau tanggung jawab hukuin kepada pihak ket/ga yang

rnungkin ahan diderita oleh terlanggung”.

b) Asuransi jumlah (sum insurance), yang meliputi asuransi jiwa dan asuransi sosial, dapat

diketahui dari rumusan:

“untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang

yang dipertanggungkan.”

4
Dalam hubungannya dengan asuransi jiwa maka fokus pembahasan diarahkan pada jenis

asuransi, butir (b). Apabila Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 di persempit

hanya melingkupi jenis asuransi jiwa, maka urusannya adalah:

“Asuransi jiwa adalah perjanjian, antara 2 (dua) pihak atau lebih dengan mana pihak Penanggung

mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi untuk memberikan suatu

pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang diasuransikan.”

Definisi inilah yang akan dijadikan titik tolak pembahasan asuransi jiwa selanjutnya.

Sebelum berlakunya Undang Nomor 2 Tahun 1992, asuransi jiwa diatur dalam Ordonantie op het

Levensverzekering Bedrijf (Staatsblad Nomor 101 Tahun 1941). Menurut ketentuan Pasal 1 ayat

(1) huruf Ordonansi tersebut:

“Ovoroenkomstem van levensvorzekering de overeenkomsten tot het doon van geldelijke

uitkeringen, tegen genot van premie en in verband met het leven of den dood van den menschs.

Overeenkomsten van herverzekering daaronder begrepen, met dien verstande, dat

overeenkomsten van ongevallenverzokerinq niet als overeenkomsten van levensverzekerinq

worden berschouwd”.

Terjemahnnnya :

“Asuransi jiwa adalah perjanjian untuk membayar sejumlah uang karena telah

diterimanya premi yang herhubungan dengan hidup atau matinya seseorang, rensuransi termasuk

di dalamnya, sedangkan asuransi kecelakaan tidak termasuk dalam asuransi jiwa”.

Dalam Pasal 27 Undang Nomor 2 Tahun 1992 ditentukan bahwa dengan berlakunya undang-

undang ini, maka Ordonantie op het Levens Verzekering Bedrijf dinyatakan tidak berlaku lagi.

Adapun yang dimaksud dengan ‘undang-undang ini’ adalah Undang-Undang Nomor 2 Tahun

5
1992. Oleh karena itu, tidak perlu lagi membahas asuransi jiwa berdasarkari Ordonansi ini

karena sudah tidak berlaku lagi, dan pengertian asuransi jiwa sudah tercakup dalam Pasal 1

angka (1) nomor 2 Undang-Undang Tahun 1992.

2) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

Dalam KUHD asuransi jiwa diatur dalam Buku 1 Bab X pasal 302. pasal 308 KUHD.

Jadi hanya 7 (tujuh) pasal. Akan tetapi tidak 1 (satu) pasal pun yang memuat rumusan definisi

asuransi jiwa. Dengan demikian sudah tepat jika definisi asuransi dalam Pasat 1 angka (1)

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 dijadikan titik totak pembahasan dan ini ada

hubungannya dengan ketentuan Pasal 302 dan Pasal 303 KUHD yang membolehkan orang

mengasuransikan jiwanya.

Menurut ketentuan Pasal 302 KUHD:

“Jiwa seseorang dapat diasuransikan untuk keperluan orang yang berkepentingan, baik untuk

selama hidupnya maupun untuk waktu yang ditentukan dalam perjanjian”.

Selanjutnya, dalam Pasal 303 KUHD ditentukan:

“Orang yang berkepentingan dapat mengadakan asuransi itu bahkan tanpa diketahui atau

persetujuan orang yang diasuransikan jiwanya”.

Berdasarkan kedua pasal tersebut, jelaslah bahwa setiap orang dapat mengasuransikan

jiwanya, asuransi jiwa bahkan dapat diadakan untuk kepentingan pihak ketiga. Asuransi jiwa

dapat diadakan selama hidup atau selama jangka waktu tertentu yang dtetapkan dalam perjanjian.

Sehubungan dengan uraian pasal-pasal perundang-undangan di atas, Purwosutjipto memperjelas

lagi pengertian asuransi jiwa dengan mengemukakan definisi:

6
“Pertanggungan jiwa adalah perjanjian timbal balik antara penutup (pengambil) asuransi dengan

penanggung, dengan mana penutup (pengambil) asuransi mengikatkan diri selama jalannya

pertanggungan membayar uang premi kepada penanggung, sedangkan penanggung sebagai

akibat langsung dan meninggalnya orang yang jiwanya dipertanggungkan atau telah lampaunya

suatu jangka waktu yang diperjanjikan, mengikatkan diri untuk membayar sejumlah uang

tertentu kepada orang yang ditunjuk oleh penutup (pengambil) asuransi sebagai penikmatnya”.

Dalam rumusan definisinya, Purwosutjipto menggunakan istilah “penutup (pengambil) asuransi

dan penangung.

Definisi Purwosutjipto berbeda dengan definisi yang terdapat dalam Pasal angka (1) Undang-

Undang Nomor 2 Tahun 1 92. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 dengan tegas di nyatakan bahwa pihak-

pihak yang mengikatkan diri secara timbal balik itu disebut penanggung dan tertanggung,

sedangkan Purwosutjipto menyebutnya penutup (pengambil) asuransi dan penanggung.

b. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 dinyatakan bahwa “penanggung dengan

menerima premi memberikan pembayaran”, tanpa menyebutkan kepada orang yang ditunjuk

sebagai penikmnya. Purwosutjipto menyebutkan membayar l orang yang ditunjuk oleh penutup

(pengambil) asuransi sebagai penikmatnya. Kesannya hanya untuk asuransi jiwa selama hidup,

tidak termasuk untuk yang berjangka waktu tertentu.

3) Menurut H.M.N Purwosutjipto

“Asuransi jiwa dapat diartikan sebagai pertanggungan jiwa adalah perjanjian timbal balik antara

penutup (pengambil) asuransi dengan penanggung dengan mana penutup asuransi mengikatkan

diri selama jalannya pertanggungan membayar uang premi kepada penanggung, sedangkan

penanggung sebagai akibat langsung dari meninggalnya orang yang jiwanya dipertanggungkan

7
atau telah lampaunya suatu jangka waktu yang diperjanjikan mengikat diri untuk membayar

sejumlah uang tertentu kepada orang yang ditunjuk untuk penutup asuransi sebagai penikmatnya.

B. Jenis – Jenis Asuransi Jiwa

Sasaran asuransi jiwa menunjukan kelas dan jenis asuransi jiwa yang ditawarkan oleh

perusahaan-perusahaan asuransi jiwa, yaitu :

1. Sasaran terhadap perorangan (asuransi biasa/perorangan)

2. Sasaran terhadap masyarakat (asuransi rakyat)

3. Sasaran terhadap kumpulan orang/ karyawan (asuransi kumpulan kolektif)

4. Sasaran terhadap dunia usaha (asuransi dunia usaha)

5. Sasaran terhadap orang-orang yang muda (asuransi orang muda)

6. Sasaran terhadap keluarga (asuransi keluarga)

1) Asuransi jiwa biasa

Asuransi jiwa biasa (ordinary life) diperuntukan bagi perorangan adalah asuransi jiwa yang

umumnya dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asuransi jiwa. Pada umumnya asuransi ini

diperuntukan bagi golongan masyarakat menengah ke atas. Pada dasarnya premi dibayarkan oleh

pembeli polis setiap tahun atau setiap semester atau setiap triwulan dan boleh juga setiap bulan,

atau dibayar sekaligus sebagai premi tunggal bagi mereka yang mempunyai cukup uang.

2) Asuransi rakyat

Asuransi rakyat diperuntukan bagi anggota masyarakat yang berpenghasilan kecil seperti buruh,

karyawan rendah, pedagang kecil, pelayan, petani, nelayan, dan sebagainya.

8
Asuransi ini dibayar preminya dengan frekuensi tinggi (setiap minggu) dan besarnya premi

disesuaikan dengan kesanggupan calon tertanggung membayar setiap minggu. Besarnya uang

pertanggungan dengan berpedoman kepada besarnya premi setiap minggu dan lamanya

pertanggungan apakah seumur hidup atau hingga calon tertanggung mencapai usia tertentu.

3) Asuransi kumpulan

Asuransi kumpulan (Group Insurance) disebut juga asuransi kolektif dengan ciri-ciri sebagai

berikut :

a. Satu polis untuk sekelompok tertanggung, misalnya para karyawan suatu perusahaan

diasuransikan dengan menggunakan satu polis yang disebut polis induk (master policy).

b. Pemegang polis adalah perusahaan kepada masing-masing karyawan yang diberikan

sertifikat tanda bukti peserta asuransi kumpulan.

c. Pada umumnya para peserta tidak perlu melalui pemeriksaan medis.

d. Pembayaran premi asuransi kumpulan biasanya terdiri dari tiga macam yaitu :

i. Dibayar sendiri oleh masing-masing peserta berupa kontribusi yang dipungut secara

berkala dari setiap peserta.

ii. Semua premi ditanggung oleh perusahaan.

iii. Sebagian dibayar oleh perusahaan dan sebagian lagi dibayar oleh para peserta misalnya

50%-50% atau 60%-40%.

4) Asuransi dunia usaha

Pada umumnya ada 4 macam sasaran pokok dari asuransi jiwa dunia usaha, yaitu :

9
a. Asuransi orang penting, tenaga yang memegang peranan penting, seperti direktur utama,

para manajer. Apabila meninggal dunia dapat menimbulkan kerugian ekonomis bagi perusahaan

berupa pemberian santunan besar kepada keluarga almarhum.

b. Rencana kesejahteraan karyawan. Dengan menutup asuransi kumpulan, asuransi

keselamatan kerja, asuransi kecelakaan, dan asuransi kesehatan bagi karyawan maka semakin

sempurnalah peranan dan bantuan perusahaan dalan memberi kesejahteraan bagi karyawan.

c. Meningkatkan kepercayaan. Asuransi jiwa dapat berperan untuk meningkatkan

kepercayaan kepada relasi terhadap perusahaan karena asuransi dapat memberikan jaminan

stabilitas posisi finansial perusahaan, yang sekaligus menjadi gambaran yang baik kreditur.

d. Kelangsungan usaha. Bagi perusahaan yang dimilikinya bersifat partnershipseperti

kongsi, Firma, CV, apabila salah seorang pemiliknya meninggal, maka akan timbul masalah

yaitu membayar terus-menerus hak-hak almarhum kepada jandanya, tanpa mengikutsertakannya

dalam pimpinan perusahaan. Polis asuransi jiwa dapat menghindarkan keadaan tersebut yaitu

dengan memberi santunan kepada janda almarhum sehingga hak-hak dari almarhum tidak perlu

terus-menerus dibayar oleh perusahaan.

5) Asuransi orang muda

Seseorang yang masih muda dan mempunyai penghasilan dapat membeli polis asuransi jiwa atas

dirinya dan menunjuk orangtuanya atau adik-adiknya sebagai penerima manfaat.

6) Asuransi keluarga

Dengan memiliki polis asuransi jiwa dapat memberikan rasa tenteram terhadap kehidupan

ekonomi keluarga, juga menjamin kelangsungan pendidikan anak-anak.

10
Asuransi keluarga mempunyai tiga macam jaminan yaitu jaminan kematian, jaminan hari tua,

dan jaminan atas kelangsungan pendidikan anak-anak.

Kemudian apabila ditinjau dari sudut ada atau tidaknya pemeriksaan kesehatan tertanggung ada 2

jenis asuransi jiwa, yaitu :

a. Asuransi Jiwa Medical (dengan pemeriksaan dokter).

Asuransi jiwa medical berarti si tertanggung sebelum menutup perjanjian asuransinya terlebih

dahulu harus memeriksakan kesehatannya kepada dokter yang sudah disediakan untuk itu.

Disamping itu juga harus dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan dan Laporan Kesehatan

Lengkap (LAKES). Isi laporan ini dapat bermacam-macam tergantung dari besarnya jumlah

uang asuransi yang diminta. Hal lainnya diwajibkan juga mengisi dan menandatangani surat

permintaan dan formulir-formulir lainnya yang khusus disediakan untuk keperluan itu dan

disampaikan kepada pihak penanggung.

Adapun formulir-formulir atau surat-surat yang diperlukan untuk penutupan asuransi dengan

pemeriksaan dokter (medical) ini adalah :

o Surat Permintaan (SP)

o Laporan Kesehatan Lengkap (LAKES)

b. Asuransi Jiwa Non Medical (tanpa pemeriksaan dokter).

Jenis asuransi ini tidak memerlukan pemeriksaan dokter terhadap diri tertanggung sewaktu

diadakan penutupan perjanjian asuransi. Untuk asuransi jenis ini keterangan kesehatan calon

tertanggung akan dianggap cukup dan sehubungan dengan resiko yang kemungkinan lebih besar

dalam asuransi jiwa non medical maka biasanya premi dikenakan suatu tambahan sampai

presentase tertentu.

11
Adanya pemisahan jenis asuransi jiwa diatas yaitu asuransi jiwa medical dan asuransi jiwa non

medical ditentukan oleh faktor-faktor umur calon tertanggung dan besarnya jumlah uang

asuransi yang diminta.

Pada prakteknya di PT. Asuransi Jiwasraya untuk asuransi jiwa non medical batas umur

tertanggung maksimal 59 tahun dengan jumlah uang pertanggungan maksimal Rp. 30.000.000 (

tiga puluh juta rupiah).

Sedangkan untuk tertanggung usia 60 tahun ke atas digolongkan ke dalam asuransi jiwa medical

dengan uang pertanggungan di atas Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah)

C. Polis Asuransi Jiwa.

Bentuk dan isi Polis

Dalam pasal 255 KUHD disebutkan bahwa :

“Suatu pertanggungan harus dibuat secara tertulis dalam suatu akte yang dinamakan polis”.

Ketentuan tersebut di atas memberikan kesan seolah-seolah perjanjian asuransi jiwa harus dibuat

secara tertulis sebagai syarat mutlak. Padahal polis bukanlah syarat mutlak adanya perjanjian

asuransi jiwa, tetapi hanyalah merupakan alat bukti adanya perjanjian.

Hal tersebut dijelaskan dalam Pasal 257 KUHDagang yang menyatakan bahwa :

“Perjanjian pertanggungan diterbitkan seketika setelah ia ditutup, hak-hak dan kewajiban-

kewajiban bertimbal balik dari si penanggung dan si tertanggung mulai berlaku semenjak saat

itu, bahkan sebelum polisnya ditandatangani”.

Dalam hal ini berarti bahwa walaupun tidak ada polis (polis sebelum terbit), perjanjian asuransi

jiwa tetap berlaku apabila telah ditutup (telah ada persesuaian kehendak) dan dapat dibuktikan

dengan bukti-bukti lain, misalnya dengan kwintansi pembayaran premi.

12
Meskipun untuk sahnya suatu perjanjian asuransi jiwa menurut undang-undang tidak ada

keharusan adanya formalitas tertentu (seperti akte tertulis yang disebut polis), namun sangatlah

penting adanya akte yang demikian itu. Hal ini dengan mengingat bahwa perjanjian asuransi jiwa

adalah berhubungan dengan kepentingan finansial dan perjanjian tersebut bersifat perjanjian

kemungkinan. Oleh karena itu undang-undang sendiri hendaknya melindungi penanggung

(perusahaan asuransi jiwa), dengan cara bahwa adanya perjanjian asuransi jiwa itu harus

dibuktikan secara tertulis. Sehingga ditetapkan adanya akte yang ditandatangani penanggung

yang disebut polis, sebagai bukti adanya perjanjian asuransi jiwa tersebut.

Polis menurut pengertian umum adalah suatu perjanjian yang perlu dibuat bukti tertulis

atau suatu perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian-perjanjian bukti tertulis

untuk perjanjian asuransi.

Surat perjanjian ini dibuat dengan itikad baik dari kedua belah pihak yang mengadakan

perjanjian. Di dalam surat perjanjian itu disebutkan dengan tegas dan jelas mengenai hal-hal

yang diperjanjikan kedua belah pihak, hak-hak masing-masing pihak, sanksi atas pelanggaran

perjanjian dan sebagainya.

Kemudian polis dapat juga diartikan surat perjanjian asuransi jiwa yang menguraikan hal-

hal yang menjadi dasar dan syarat-syarat asuransi, ditandatangani oleh penanggung dan

pemegang polis. Dari pengertian di atas bahwa polis asuransi merupakan salah satu dari alat

bukti telah terjadi perjanjian asuransi. Pada dasarnya pengertian polis asuransi jiwa sama dengan

pengertian polis pada umumnya.

13
Perbedaan polis asuransi jiwa dengan polis asuransi pada umumnya hanya dari isi polis,

dimana isi polis asuransi jiwa diatur dalam Pasal 304 KUHDagang dan isi polis pada umumnya

diatur dalam Pasal 256 KUHDagang.

Menurut ketentuan pasal 304 KUHD, polis asuransi jiwa memuat:

1) Hari diadakan asuransi;

2) Nama tertanggung;

3) Nama orang yang jiwanya diasuransikan;

4) Saat mulai dan berakhirnya evenemen;

5) Jumlah asuransi;

6) Premi asuransi.

Akan tetapi, mengenai rancangan jumlah dan penentuan syarat-syarat asuransi sama sekali

bergantung pada persetujuan antara kedua pihak (Pasal 305 KUHD).

a. Hari diadakan asuransi

Dalam polis harus dicantumkan hari dan tanggal diadakan asuransi. Hal ini penting untuk

mengetahui kapan asuransi itu mulai berjalan dan dapat diketahui pula sejak hari dan tanggal itu

risiko menjadi beban penanggung.

b. Nama tertanggung

Dalam polis harus dicantumkan nama tertanggung sebagai pihak yang wajib membayar premi

dan berhak menerima polis. Apabila terjadi evenemen atau apabila jangka waktu berlakunya

asuransi berakhir, tertanggung berhak menerima sejumlah uang santunan atau pengembalian dari

penanggung. Selain tertanggung, dalam praktik asuransi jiwa dikenal pula penikmat

(beneficiary). yaitu orang yang berhak menerima sejumlah uang tertentu dan penanggung karena

14
ditunjuk oleh tertanggung atau karena ahli warisnya, dan tercantum dalam polis. Penikmat

berkedudukan sebagai pihak ketiga yang berkepentingan.

c. Nama orang yang jiwanya diasuransikan

Objek asuransi jiwa adalah jiwa dan badan manusia sebagai satu kesatuan. Jiwa tanpa badan

tidak ada, sebaliknya badan tanpa jiwa tidak ada arti apa-apa bagi asuransi Jiwa. Jiwa seseorang

merupakan objek asuransi yang tidak berwujud, yang hanya dapat dlkenal melalui wujud

badannya. Orang yang punya badan itu mempunyai nama yang jiwanya diasuransikan, baik

sebagai pihak tertanggung ataupun sebagai pihak ketiga yang berkepentingan. Namanya itu harus

dicantumkan dalam polis. Dalam hal ini, tertanggung dan orang yang jiwanya diasuransikan itu

berlainan.

d. Saat mulai dan berakhirriya evenemen

Saat mulai dan berakhirnya evenemen merupakan jangka waktu berlaku asuransi. artinya dalam

jangka waktu itu risiko menjadi beban penanggung, misalnya mulai tanggal 1 januari 1990

sampai tanggal 1 Januari 00, apabila dalam jangka waktu itu terjadi evenemen, maka

penanggung berkewajiban membayar santunan kepada tertanggung atau orang yang ditunjuk

sebagai penikmat (beneficiary).

D. Hak dan Kewajiban Pemegang Polis

Pemegang polis ialah pihak yang kedudukannya sangat penting disamping penanggung.

Sebab ia dapat menentukan kehendak secara bebas, apakah akan melanjutkan perjanjian

pertanggungan atau akan menghentikannya.

Hak-hak dari pemegang polis meliputi :

1. Penebusan Polis

15
Menurut Pasal 7 syarat-syarat umum polis pemegang polis berhak untuk meminta agar

perusahaan bersedia menebus polisnya, dengan syarat asalkan perjanjian masih berlaku dan

mempunyai nilai tebus. Dengan berlakunya transaksi penebusan polis dan polis diserahkan

kepada perusahaan maka perjanjian menjadi hapus.

Cara seperti ini adalah merupakan penyelesaian perjanjian asuransi yang tidak sesuai dengan

tujuan berasuransi, karena dalam berasuransi kita berharap untuk memperoleh perlindungan dari

resiko terhadap diri kita sepanjang masa kontrak asuransi.

2. Penggadaian Polis

Pasal 8 syarat-syarat umum polis memuat ketentuan tentang hak pemegang polis untuk

menggadaikan polis (meminjam uang kepada perusahaan dengan polis sebagai jaminan).

Menurut ketentuan perusahaan dan dengan syarat polis harus sudah mempunyai nilai tebus.

Besarnya pinjaman yang diberikan maksimal adalah sama dengan nilai tebus dan dikenakan

bunga yang besarnya ditentukan perusahaan, pengembalian pinjaman itu secara angsuran/

sekaligus dalam waktu yang ditentukan atau akan diperhitungkan dengan pembayaran uang

angsuran.

3. Menerima Pembayaran Faedah Asuransi

Pemegang polis atau pihak yang ditunjuk berhak menerima pembayaran faedah asuransi

dari penanggung di dalam masa kontrak apabila terjadi resiko. Bukti-bukti yang diperlukan

untuk menerima uang pembayaran faedah asuransi ialah :

Jika tertanggung masih hidup :

a. Polis

b. Tanda bukti diri dari pemegang polis

c. Kwitansi pembayaran premi terakhir yang sah

16
Jika tertanggung meninggal dunia :

a. Polis yang bersangkutan

b. Surat keterangan meninggal dunia yang dikeluarkan instansi yang berwenang

c. Surat keterangan sebab meninggal dunia yang dikeluarkan oleh dokter yang memeriksa

jenazah atau yang merawat

d. Tanda bukti diri dari penerima faedah

e. Kwitansi pembayaran premi terakhir yang sah

Disamping bukti-bukti di atas perusahaan asuransi jiwa sebagai penanggung berhak

untuk meminta keterangan-keterangan lain yang di anggap perlu dalam hubungannya dengan

pembayaran uang asuransi.

Dalam hal penerima faedah atau pihak yang ditunjuk lebih dari satu orang maka pihak

perusahaan tidak bertanggung jawab terhadap bagian dari masing-masing pihak. Pihak

perusahaan asuransi akan memberikan uang asuransi kepada orang yang dikuasakan untuk

menerimanya.

4. Merubah Pihak Yang Ditunjuk

Penerima faedah asuransi yang sudah tercantum di dalam polis masih dimungkinkan

untuk dirubah. Pemegang polis masih berhak mengadakan perubahan terhadap pihak tertunjuk

dan harus dilakukan secara tertulis, dengan pembatasan bahwa jika pemegang polis meninggal

dunia tetapi pembayaran premi berlangsung terus, maka pengubahan itu hanya berlaku untuk

bagian asuransi yang diperoleh atas dasar premi-premi yang telah dibayar hingga saat

meninggalnya pemegang polis. Terhadap penunjukan itu pihak tertunjuk mempunyai hak untuk

minta secara tertulis agar penunjukan atas dirinya bersifat mutlak, sehingga penunjukan

17
selanjutnya oleh pemegang polis hanya dapat dilakukan dengan persetujuan tertulis dari

tertunjuk mutlak tersebut.

Kedudukan pihak tertunjuk yang sudah meninggal dunia dapat digantikan oleh ahli warisnya

apabila tidak ada lagi pihak yang ditunjuk, perubahan pihak yang ditunjuk oleh pemegang polis

tersebut selamanya harus dengan persetujuan perusahaan dan harus dinyatakan dalam catatan

polis atau keterangan lain dari perusahaan.

5. Kewajiban Tertanggung/ Pemegang Polis

Perjanjian asuransi jiwa adalah suatu persetujuan dua pihak dimana pihak tertanggung

membayar premi sebagai prestasi, yang sebagai gantinya menerima gaji ganti rugi dari

penanggung. Pembayaran premi kepada pihak penanggung selama kontrak berjalan merupakan

kewajiban dari pihak tertanggung/ pemegang polis.

Untuk menetapkan besarnya premi yang harus dibayar pemegang polis perlu diperhatikan

beberapa prinsip :

a) Besarnya uang pertanggungan

Premi atas uang pertanggungan yang besar akan lebih besar dibandingkan dengan premi atas

uang pertanggungan yang lebih kecil.

b) Umur Tertanggung

Premi atas tertanggung berusia tua akan lebih besar dibandingkan dengan premi atas tertanggung

berumur muda.

c) Cara pembayaran premi

Premi yang dibayar secara bulanan lebih besar dibandingkan dengan premi tahunan.

d) Masa asuransi

18
Jumlah premi dengan masa asuransi yang lama akan lebih kecil dibandingkan dengan masa

asuransi yang singkat, kecuali untuk asuransi Jangka Warsa.

e) Jenis asuransi

Premi atas asuransi yang mempunyai manfaat yang banyak akan lebih besar dibandingkan yang

mempunyai manfaat sedikit.

f) Standart dan Substandart

Premi atas asuransi standart akan lebih kecil dibandingkan dengan substandart.

E. Jumlah Asuransi

Jumlah asuransi adalah sejumlah uang tertentu yang diperjanjikan pada saat diadakan

asuransi sebagai jumlah santunan yang wajib dibayar oleh penanggung kepada penikmat dalam

hal terjadi evenemen, atau pengembalian kepada tertanggung sendiri dalam hal berakhirnya

jangka waktu asuransi tanpa terjadi evenemen. Menurut ketentuan Pasal 305 KUHD, perkiraan

jumlah dan syarat-syarat asuransi sama sekali ditentukan oleh perjanjian bebas antara

tertanggung dan penanggung. Dengan adanya perjanjian bebas tersebut, asas kepentingan dan

asas keseimbangan alam.asuransi jiwa dikesampingkan.

F. Premi Asuransi

Premi asuransi adalah sejumlah uang yang wajib dibayar oleh tertanggung kepada

penanggung setiap jangka waktu tertentu, biasanya setiap bulan selama asuransi berlangsung.

Besarnya jumlah premi asuransi tergantung pada jumlah asuransi yang disetujui oleh tertanggung

pada saat diadakan asuransi.

19
G. Penanggung, Tertanggung, Penikmat

Dalam hukum asuransi minimal terdapat 2 (dua) pihak, yaitu penanggung dan

tertanggung. Penanggung adalah pihak yang menanggung beban risiko sebagai imbalan premi

yang diterimanya dari tertanggung. Jika terjadi evenemen yang menjadi beban penanggung,

maka penanggung berkewajiban mengganti kerugian. Dalam asuransi jiwa, jika terjadi evenemen

matinya tertanggung, maka penanggung wajib membayar uang santunan, atau jika berakhirnya

jangka waktu usuransi tanpu terjadi evenemen, maka penanggung wajib membayar sejumlah

uang pengembalian kepada tertanggung.

Penanggung adalah Perusahaan Asuransi Jiwa yang memberikan jasa dalam

penanggulanggan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau matinya seseorang yang

diasuransikan. Perusahaan Asuransi Jiwa merupakan badan hukum milik swasta atau badan

hukum milik negara.

Asuransi dapat juga diadakan untuk kepentingan pihak ketiga dan ini harus dicantumkan

dalam polis. Menurut teori kepentingan pihak ketiga (the third party interest theory), dalam

asuransi jiwa, pihak ketiga yang berkepentingan itu disebut penikmat. Penikmat ini dapat berupa

orang yang ditunjuk oieh tentanggung atau ahli waris tertanggung. Munculnya penikmat ini

apabila terjadi evenemen meninggalnya tertanggung. Dalam hal ini, tertanggung yang meninggal

itu tidak mungkin dapat menikmati santunan, tetapi penikmat yang ditunjuk atau ahli waris

tertanggunglah sebagai yang berhak menikmati santunan. Akan tetapi, bagaimana halnya jika

asuransi itu berakhir tanpa terjadi evenemen meninggalnya tertanggung?. Dalam hal ini

tertanggung sendiri yang berkedudukan sebagai penikmat karena dia sendiri masih hidup dan

berhak menikmati pengembalian sejumlah uang yang dibayar oleh penanggung.

20
Apabila tertanggung bukan penikmat, maka hal ini dapat disamakan dengan asuransi jiwa

untuk kepentingan pihak ketiga. Penikmat selaku pihak ketiga tidak mempunyai kewajiban

membayar premi terhadap penanggung. Asuransi diadakan untuk kepentingannya, tetapi tidak

atas tanggung jawabnya. Apabila tertanggung mengasuransikan jiwanya sendiri, maka

tentanggung sendiri berkedudukan sebagai penikmat yang berkewajiban membayar premi

kepada penanggung. Dalam hal ini tertanggung adalah pihak dalam asuransi dan sekaligus

penikmat yang berkewajiban membayar premi kepada penanggung. Asuransi jiwa untuk

kepentingan pihak ketiga (penikmat) harus dicantumkan dalam polis.

H. Evemen dan Santunan

1. Evenemen dalam Asuransi Jiwa

Dalam Pasal 304 KUHD yang mengatur tentang isi polis, tidak ada ketentuan keharusan

mencantumkan evenemen dalam polis asuransi jiwa berbeda dengan asuransi kerugian, Pasal 256

ayat (1) KUHD mengenai isi polis mengharuskan Pencantuman bahaya-bahaya yang menjadi

beban penanggung. Mengapa tidak ada keharusan mencantumkan bahnya yang menjadi beban

penanggung dalam polis asuransi jiwa?.

Dalam asuransi jiwa yang dimaksud dengan bahaya adalah meninggalnya orang yang jiwanya

diasuransikan. Meninggalnya seseorang itu merupakan hal yang sudah pasti, setiap makhluk

bernyawa pasti mengalami kematian. Akan tetapi kapan meninggalnya seseorangtidak dapat

dipastikan. lnilah yang disebut peristiwa tidak pasti (evenemen) dalam asuransi jiwa.

Evenemen ini hanya 1 (satu), yaitu ketidak pastian kapan meniggalnya seseorang sebagai salah

satu unsur yang dinyatakan dalam definisi asuransi jiwa. Karena evenemen ini hanya 1 (satu),

maka tidak perlu di cantumkan dalam polis. Ketidakpastian kapan meninggalnya seorang

21
tertanggung atau orang yang jiwanya diasuransikan merupakan risiko yang menjadi beban

penanggung dalam asuransi jiwa. Evenemen meninggalnya tertanggung itu bersisi 2 (dua), yaitu

meninggalnya itu benar-benar terjadi dalam jangka waktu asuransi, dan benar-benar tidak terjadi

sampai jangka waktu asuransi berakhir. Kedua-duanya menjadi beban penanggung.

2. Uang Santunan dan Pengembalian

Uang santunan adalah sejumlah uang yang wajib dibayar oleh penanggung kepada penikmat

dalam hal meninggalnya tertanggung sesuai dengan kesepakatan yang tercantum dalam polis.

Penikmat yang di maksud adalah orang yang ditunjuk oleh tertanggung atau orang yang menjadi

ahli warisnya sebagai yang berhak menerima dan menikmati santunan sejumlah uang yang

dibayar oleh penanggung. Pembayaran santunan merupakan akibat terjadinya peristiwa, yaitu

meninggalnya tertanqgung dalam jangka waktu berlaku asuransi jiwa.

Akan tetapi, apabila sampai berakhirnya jangka waktu asuransi jiwa tidak terjadi peristiwa

meninggalnya tertanggung, maka tertanggung sebagai pihak dalam asuransi jiwa, berhak

memperoleh pengembalian sejumlah uang dan penanggung yang jumlahnya telah ditetapkan

berdasarkan perjanjian dalam hal ini terdapat perbedaan dengan asuraransi kerugian. Pada

asuransi kerugian apabila asuransi berakhir tanpa terjadi evenemen, premi tetap menjadi hak

penanggung, sedangkan pada asuransi jiwa, premi yang telah diterima penanggung dianggap

sebagai tabungan yang dikembalikan kepada penabungnya, yaitu tertanggung.

I. Asuransi Jiwa Berakhir

1) Karena Terjadi Evenemen

Dalam asuransi jiwa, satu-satunya evenemen yang menjadi beban penanggung adalah

meninggalnya tertanggung. Terhadap evenemen inilah diadakan asuransi jiwa antara tertanggung

22
dan penanggung. Apabila dalam jangka waktu yang diperjanjikan terjadi peristiwa meninggalnya

tertanggung, maka penanggung berkewajiban membayar uang santunan kepada penikmat yang

ditunjuk oleh tertanggung atau kepada ahli warisnya.

Sejak penanggung melunasi pembayaran uang santunan tersebut, sejak itu pula asuransi jiwa

berakhir.

Apa sebabnya asuransi jiwa berakhir sejak pelunasan uang santunan, bukan sejak

meninggalnya tertanggung (terjadi evenemen)? Menurut hukum perjanjian, suatu perjanjian yang

dibuat oleh pihak-pihak berakhir apabila prestasi masing-masing pihak telah dipenuhi. Karena

asuransi jiwa adalah perjanjian, maka asuransi jiwa berakhir sejak penanggung melunasi uang

santunan sebagai akibat dan meninggalnya tertanggung. Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir

sejak terjadi evenemen yang diikuti dengan pelunasan klaim.

2) Karena Jangka Waktu Berakhir

Dalam asuransi jiwa tidak selalu evenemen yang menjadi beban penanggung itu terjadi

bahkan sampai berakhirnya jangka waktu asuransi. Apabila jangka waktu berlaku asuransi jiwa

itu habis tanpa terjadi evenemen, niaka beban risiko penanggung berakhir. Akan tetapi, dalam

perjanjian ditentukan bahwa penanggung akan mengembalikan sejumtah uang kepada

tertanggung apabila sampai jangka waktu asuransi habis tidak terjadi evenemen. Dengan kata

lain, asuransi jiwa berakhir sejak jangka waktu berlaku asuransi habis diikuti dengan

pengembalan sejumlah uang kepada tertanggung.

3) Karena Asuransi Gugur

Menurut ketentuan Pasal 306 KUHD:

23
“Apabila orang yang diasuransikan jiwanya pada saat diadakan asuransi ternyata sudah

meninggal, maka asuransinya gugur, meskipun tertanggung tidak mengetahui kematian tersebut,

kecuali jika diperjanjikan lain”,

Kata-kata bagian akhir pasal ini “kecuali jika diperjanjiknn lain” memberi peluang

kepada pihak-pihak untuk memperjanjikan menyimpang dari ketentuan pasal ini, misalnya

asuransi yang diadakan untuk tetap dinyalakan sah asalkan tertanggung betul-betul tidak

mengetahui telah meninggalnya itu. Apablia asuransi jiwa itu gugur, bagaimana dengan premi

yang sudah dibayar karena penanggung tidak menjalani risiko? Hal ini pun diserahkan kepada

pihak-pihak untuk memperjanjikannya. Pasal 306 KUHD ini mengatur asuransi jiwa untuk

kepentingan pihak ketiga.

Dalam Pasal 307 KUHD ditentukan:

“Apabila orang yang mengasuransikan jiwanya bunuh diri, atau dijatuhi hukuman mati, maka

asuransi jiwa itu gugur”.

Apakah masih dimungkinkan penyimpangan pasal ini?. Menurut Purwosutjipto,

penyimpangan dari ketentuan ini masih mungkin, sebab kebanyakan asuransi jiwa ditutup

dengan sebuah klausul yang membolehkan penanggung melakukan prestasinya dalam hal ada

peristiwa bunuh diri dan badan tertanggung asalkan peristiwa itu terjadi sesudah lampau waktu 2

(dua) tahun sejak diadakan asuransi. Penyimpangan ini akan menjadikan asuransi jiwa lebih

supel lagi.

4) Karena Asuransi Dibatalkan

24
Asuransi jiwa dapat berakhir karena pembatalan sebelum jangka waktu berakhir.

Pembatalan tersebut dapat terjadi karena tertanggung tidak melanjutkan pembayaran premi

sesuai dengan perjanjian atau karena permohonan tertanggung sendiri. Pembatalan asuransi jiwa

dapat terjadi sebelum premi mulai dibayar ataupun sesudah premi dibayar menurut jangka

waktunya. Apabila pembatalan sebelum premi dibayar, tidak ada masalah. Akan tetapi, apabila

pembatalan setelah premi dibayar sekali atau beberapa kali pembayaran (secara bulanan),

bagaimana cara penyelesaiannya? Karena asuransi jiwa didasarkan pada perjanjian, maka

penyelesaiannya bergantung juga pada kesepakatan pihak-pihak yang dicantumkan dalam polis.

Di negara – negara maju seperti Amerika dan berbagai negara di belahan Eropa,

mayoritas penduduknya sudah memiliki kesadaran akan pentingnya peranan asuransi sehingga

tanpa harus ditawari pun mereka akan mencari sendiri produk asuransi yang cocok bagi mereka.

Sebaliknya, di negara – negara berkembang seperti Indonesia, kesadaran orang mengenai

pentingnya asuransi belum terlalu diutamakan. Karena itu, dalam modul ini kita akan membahas

pengertian asuransi itu sendiri dan apa manfaat yang bisa kita dapatkan dengan memiliki

asuransi.

Contoh pihak yang memiliki insurable interest adalah sebagai berikut:

• Orang Tua dan Anak. Kedua belah pihak memiliki insurable interest karena adanya

hubungan darah.

• Suami dan Istri. Keduanya memiliki insurable interest karena mereka berdua terikat

dalam suatu hubungan pernikahan yang sah menurut hukum yang berlaku.

Sebagian orang menganggap bahwa membayar premi sama dengan membuang uang dengan sia

– sia karena tidak terlihat manfaatnya secara nyata. Sebenarnya anggapan itu salah total karena

25
sebenarnya manfaat uang pertanggungan yang akan diterima jauh lebih besar daripada jumlah

premi yang dibayarkan.

J. Konsep Dasar Asuransi Jiwa

Di dalam kehidupan sehari – hari kita, ada beberapa resiko yang sulit untuk dihindari dan

bisa terjadi kapan saja, antara lain: meninggal dunia terlalu dini, sakit parah dan cacat setelah

menderita sakit tertentu misalnya penyakit stoke yang menyebabkan kelumpuhan. Walaupun kita

berusaha untuk menjaga diri kita sebaik – baiknya, namun tetap saja kita tidak akan pernah dapat

menduga kapan kita akan memerlukan asuransi karena kita juga tidak bisa menduga kapan kita

akan mengalami musibah dan resiko yang tidak terduga tersebut. Di sinilah peranan penting dari

asuransi yaitu untuk meminimalisir resiko yang kita tanggung bila sewaktu – waktu kita

mengalam hal yang tidak kita inginkan.

Di dalam dunia asuransi, ada dua kategori asuransi yang kita kenal yaitu asuransi jiwa dan

asuransi umum. Dalam modul ini, kita akan membahas lebih spesifik pada konsep dasar dari

asuransi jiwa dan berbagai istilah yang harus kita pahami sebelum mengajukan aplikasi asuransi

jiwa. Sebenarnya apakah asuransi jiwa itu? Asuransi jiwa dapat didefinisikan sebagai suatu

pelimpahan resiko atas kerugian financial oleh pihak tertanggung pada pihak penanggung.

Sebelum membahas lebih lanjut ke dalam topik asuransi jiwa, kita akan terlebih dahulu

membahas mengenai beberapa istilah umum yang digunakan dalam asuransi jiwa antara lain:

Polis yaitu istilah yang digunakan untuk menjelaskan fisik perjanjian pertanggungan jiwa

yang dibuat antara pihak penanggung dan pihak pemegang polis.

26
Premi adalah istilah yang menjelaskan sejumlah uang yang dibayar oleh pihak pemegang

polis pada pihak penanggung untuk mendapatkan suatu nilai perlindungan atas kejadian yang

tidak diinginkan.

Uang Pertanggungan yaitu adalah sejumlah dana yang akan diberikan pada ahli waris

atau pihak pemegang polis itu apabila polis tersebut sudah jatuh tempo atau pihak yang

tertanggung meninggal dunia.

Selain istilah umum yang telah disebutkan di atas, juga masih ada beberapa istilah yang

berkaitan dengan pihak – pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian asuransi antara lain:

o Pihak Penanggung yaitu pihak perusahaan asuransi jiwa yang ditunjuk untuk

menanggung resiko yang akan terjadi pada pihak tertanggung.

o Pihak Pemegang Polis yaitu pihak yang memutuskan untuk mengadakan pertanggungan

jiwa pada pihak penanggung dan juga dapat sebagai pembayar premi asuransi.

o Pihak Tertanggung yaitu pihak yang jiwanya dipertanggungkan pada pihak penanggung.

o Pihak yang Ditunjuk yaitu pihak yang ditunjuk oleh pihak tertanggung untuk menerima

uang pertanggungan dari pihak penanggung jika pihak yang tertanggung meninggal dunia.

Memiliki asuransi jiwa berarti kita meminimalisir resiko yang akan ditanggung diri kita

dan keluarga kita apabila terjadi hal yang tidak diinginkan suatu saat nanti. Jadi

pertimbangkanlah pengajuan asuransi jiwa untuk anda dan keluarga anda.

K. Manfaat Asuransi Jiwa

Kita tidak pernah berharap sesuatu yang buruk akan terjadi dalam kehidupan kita ataupun

pada keluarga kita namun walaupun kita sudah berusaha untuk menjaga diri kita dan keluarga

27
kita sebaik – baiknya tentunya resiko untuk mengalami hal – hal yang tidak diinginkan seperti

penyakit, kecelakaan atau bahkan kematian tidak dapat dihindari.di sinilah asuransi jiwa

memainkan peranannya dalam kehidupan kita.

Dengan memiliki asuransi jiwa untuk diri kita sendiri dan keluarga kita, berarti kita me-

manage resiko yang akan kita hadapi dengan mempersiapkan sejumlah dana yang nantinya akan

bermanfaat bagi keluarga kita apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga pada kita.

Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai keuntungan yang bisa kita dapatkan dari asuransi

jiwa marilah kita melihat ke beberapa contoh kasus yang ada di bawah ini :

Contoh kasus pertama, kecelakaan yang mengakibatkan terjadinya cacat seumur hidup

untuk korban. Misalnya saja tanpa diduga seseorang mengalami kecelakaan dan mengalami cacat

tubuh sehingga tidak memungkinkan baginya untuk dapat bekerja lagi. Bila orang tersebut

memiliki asuransi jiwa, orang tersebut tidak perlu khawatir mengenai bagaimana keluarganya

akan mendapatkan biaya hidupnya karena orang tersebut akan menerima uang pertanggungan

sebagai bekal hidup di masa yang akan datang dari pihak penanggung yang dalam hal ini adalah

perusahaan asuransi.

Contoh kasus kedua, menderita penyakit kritis dan harus dirawat di rumah sakit.

Misalnya saja ada seseorang yang tadinya kelihatan sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit

apapun tiba – tiba terdiagnosa menderita penyakit kritis. Bila orang tersebut memiliki asuransi

jiwa, maka perusahaan asuransi akan membayarkan sejumlah uang untuk meringankan biaya

pengobatannya. Perusahaan asuransi juga akan mengganti jumlah uang yang orang tersebut

keluarkan selama dirawat di rumah sakit. Jumlah uang yang diganti oleh perusahaan asuransi

tergantung dengan perjanjian dan produk asuransinya.

28
Contoh kasus ketiga, meninggal dunia. Kematian tidak dapat dihindari dalam kehidupan

manusia. Bila seseorang sudah memiliki asuransi jiwa maka saat orang tersebut meninggal dunia,

ahli waris dari orang tersebut akan menerima sejumlah uang pertanggungan dari pihak

penanggung yaitu perusahaan asuransi sebagai bekal bagi keluarga yang ditinggalkan. Hal ini

akan sangat berguna apabila orang yang meninggal juga adalah tulang punggung keluarga.

Dari ketiga contoh kasus yang ada di atas saja, kita sudah dapat melihat berbagai manfaat

yang bisa kita dapatkan dengan memiliki asuransi jiwa. Bila anda rela mengeluarkan uang untuk

mengasuransikan mobil anda yang nilainya tidak sebanding dengan betapa berharganya jiwa

anda, mengapa anda tidak mengasuransikan jiwa anda juga? Pertimbangkanlah pentingnya nilai

dari suatu asuransi jiwa agar anda tidak menyesal di kemudian hari.

L. Sistem Klaim Asuransi

Zaman sekarang ini kita dapat menemukan banyak sekali perusahaan asuransi yang

berlomba – lomba untuk menjaring peserta asuransi. Produk yang ditawarkan pun beraneka

ragam dan tentunya dengan harga yang kompetitif. Adakalanya, kita menemukan produk

asuransi yang hampir sama dari lebih dari satu perusahaan asuransi dan harganya juga cukup

kompetitif, sehingga kita jadi bingung untuk menentukan pilihan kita. Sebenarnya ada satu cara

untuk dapat menentukan pilihan produk asuransi mana yang kita pilih yaitu dengan

memperhatikan sistem klaim dari perusahaan – perusahaan asuransi tersebut.

Secara umum terdapat 2 macam sistem pergantian yang biasanya dianut oleh perusahaan

perusahaan asuransi kesehatan di dunia yaitu sistem reimbursement dan sistemprovider.

29
Perusahaan asuransi yang menganut sistem reimbursement atau yang juga dikenal dengan

sebutan sistem penggantian mengharuskan kita sebagai peserta asuransi untuk mengeluarkan

uang terlebih dahulu untuk membayar biaya pengobatan, biaya rumah sakit, biaya laboratorium

dan biaya lainnya baru kemudian kita dapat melakukan klaim dan menerima penggantian dari

perusahaan asuransi tempat dimana kita menjadi peserta asuransi kesehatan.

Sementara untuk sistem provider, sebagai peserta asuransi, kita tidak perlu mengeluarkan

uang sedikitpun terlebih dahulu untuk membiayai seluruh biaya yang berkaitandengan

pengobatan kita. Kita hanya perlu menunjukkan kartu keanggotan asuransi kesehatan untuk

dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang kita butuhkan.

Dari hal yang tertulis di atas, sistem provider seakan – akan tampak lebih menyenangkan

karena tanpa harus mengeluarkan uang terlebih dahulu, kita sudah dapat menerima pelayanan

kesehatan yang kita butuhkan. Sebenarnya, kedua sistem tersebut memiliki keuntungan dan

kerugian masing – masing. Dalam sistem reimbursement walaupun kita harus mengeluarkan

uang terlebih dahulu sebelum kita dapat menerima pelayanan kesehatan baru kemudian kita

menerima nilai pertanggungan kembali dari perusahaan asuransi setelah menyerahkan dokumen

dokumen administrasi lengkap (biasanya uang penggantian akan cair sekitar 7 hari sejak

diserahkannya dokumen – dokumen administrasi rumah sakit dan biaya yang diganti tidak 100%

melainkan sesuai dengan perjanjian awal), namun keuntungannya kita dapat menentukan sendiri

di rumah sakit mana kita akan memperoleh layanan kesehatan dan semuanya terserah pada kita.

Hal ini sangat berbeda dengan yang diterapkan dalam sistem provider, di mana peserta

asuransi hanya perlu menunjukkan kartu keanggotaan asuransi kesehatan tanpa perlu

mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di dalam sistem

provider, kebebasan kita untuk menentukan pilihan rumah sakit mana untuk mendapatkan

30
pelayanan kesehatan sangatlah terbatas pada daftar rumah sakit yang bekerja sama dengan

perusahaan asuransi kita. Berarti apabila kita ingin mendapatkan pelayanan kesehatan dari rumah

sakit lain yang tidak ada di dalam daftar kerja sama, maka kartu keanggotaan asuransi kesehatan

kita tidak bisa digunakan.

Kedua macam sistem klaim asuransi memiliki keuntungan dan kerugian masing -masing.

Kini keputusan ada di tangan kita apakah kita memilih sistem reimbursement atau sistem

provider.

M. Akuntansi Asuransi Jiwa Syariah

Dalam akuntansi asuransi syariah belum diatur secara khusus dalam PSAK sebagaimana

akuntansi perbankan syariah yang sudah diatur dengan keluarnya PSAK No. 59. Oleh karena itu

berlaku prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, terutama PSAK No. 28 tentang Akuntansi

Asuransi Kerugian dan PSAK No. 36 tentang Akuntansi Asuransi jiwa.

Penyajian Neraca Keuangan :

Dalam Aktiva dan Kewajiban tidak dikelompokkan menurut lancar dan tidak lancar

(unclassified) , tetapi mendahulukan kelompok akun investasi dan kelompok akun kewajiban

kepada pemegang polis. Dengan demikian laporan keuangan menggambarkan kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis.

Aktiva disajikan dengan menempatkan akun Investasi pada urutan pertama diikuti akun – akun

aktiva lain. Akun – akun yang lain disajikan berdasarkan akun likuiditas.

Kewajiban disajikan dengan menempatkan akun Kewajiban Kepada Pemegang Polis pada urutan

pertama dan diikuti oleh akun kewajiban yang lain. Akun – akun kewajiban yang lain disajikan

31
berdasarkan urutan jatuh tempo. Hutang subordinasi jika ada disajikan setelah Kewajiban Lain

sebelum Ekuitas. Ekuitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi.

Laporan Laba Rugi

Laporan Laba Rugi disusun dalam bentuk single step.Pendapatan premi disajikan

sedemikian rupa sehingga menunjukkan jumlah premi bruto , premi reasuransi, dan kenaikan

(penurunan) premi yang belum merupakan pendapatan.Premi reasuransi disajikan sebagai

pengurang hasil bruto.

Hasil Investasi disajikan setelah pendapatan investasi dikurangi dengan beban investasi terkait

langsung.Keuntungan (kerugian) penjualan investasi, dan selisih kurs valuta asing yang berkaitan

dengan investasi disajikan sebagai pengurang premi bruto.

Catatan atas laporan keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi pengungkapan seperti ditentukan oleh prinsip

akuntansi yang berlaku umum, kecuali dinyatakan lain seperti yang ditentukan

Dalam paragraf 45 PSAK No.36, yaitu:

Pengungkapan khusus yang diperlukan adalah sebagai berikut :

1) Kebijakan akuntansi mengenai :

Pengakuan pendapatan premi dan penuntutan kewajiban manfaat polis masa depan serta

premi yang belum merupakan pendapatan.

Transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan efek transaksi reasuransi tersebut

terhadap operasi perusahaan.

32
Pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim tanggungan sendiri.

Kebijakan akuntansi lain yang penting sebagaimana ditentukan dalam Pernyataan Standar

Akuntansi yang berlaku.

2) Biaya Akuisisi Ditangguhkan.

Pengungkapan mengenai sifat, jumlah, jenis dan metode alokasi pembebanan biaya akuisisi

ditangguhkan.

3) Kewajiban Kepada Pemegang Polis.

Perincian Kewajiban Kepada Pemegang Polis serta penjelasan mengenai metode, asumsi dan

sistem perhitungan yang digunakan sebagai dasar perhitungan Kewajiban kepada pemegang

polis tersebut.

4) Hutang Subordinasi.

Penjelasan mengenai karakteristik perjanjian pinjaman subordinasi,tingkat bunga,dan nilai sisa

pinjaman.

5) Ekuitas Asuransi Jiwa Bersama.

Penjelasan mengenai sifat serta peraturan perundang –undangan yang berkaitan dengan ekuitas

usaha bersama. Penjelasan mengenai metode serta jumlah pembagian keuntungan kepada

pemegang polis.

6) Pendapatan Premi Bruto.

Pengungkapan pendapatan premi tahun pertama (first year premium) dan premi tahun lanjutan

(renewal) secara terperinci berdasarkan kelompok perorangan dan kumpulan serta jenis asuransi.

7) Klaim dan Manfaat.

Pengungkapan jenis , jumlah dan sebab kenaikan klaim dan Manfaat yang signifikan. Pengakuan

Pendapatan dan Beban Pendapatan Premi kontrak jangka pendek.

33
Premi kontrak jangka pendek (beberapa term life insurance, seperti credit life insurance)

diakui sebagai pendapatan dalam periode kontrak sesuai dengan proporsi jumlah proteksi

asuransi yang diberikan. Jika periode resiko berbeda secara signifikan dengan periode kontrak,

premi diakui sebagai pendapatan selama peride resiko sesuai dengan jumlah proteksi asuransi

yang diberikan.

Hal ini menyebabkan premi diakui sebagai pendapatan secara merata sepanjang periode

kontrak (periode resiko, jika berbeda), kecuali jika proteksi asuransi menurun sesuai dengan

skedul yang telah ditentukan sebelumnya.

Premi Kontrak Jangka Panjang

Premi kontrak jangka panjang (whole life contracts dan guarranted renewable term life

contracts) diakui sebagai pendapatan pada saat jatuh tempo dari pemegang polis.Kewajiban

untuk biaya yang diharapkan timbul sehubungan dengan kontrak tersebut diakui selama periode

sekarang dan periode diperbaharuinya kontrak. Nilai sekarang estimasi manfaat polis masa ating

yang dibayar kepada pemegang polis atau wakilnya dikurangi dengan nilai sekarang estimasi

premi masa ating yang akan diterima dari pemegang polis (kewajiban manfaat polis masa ating )

diakui pada saat pendapatan premi diakui. Estimasi didasarkan pada asumsi, seperti hasil

investasi yang diharapkan, mortalita, morbiditas, terminasi, dan beban – beban yang ditetapkan

pada saat kontrak asuransi dibuat.

Pendapatan Lain

Komisi reasuransi dan komisi keuntungan reasuransi diakui sebagai pendapatan lain.

34
Beban Beban Klaim

Klaim meliputi klaim yang telah disetujui (settled claims), klaim dalam proses

penyelesaian (outstanding claims), dan klaim yang terjadi namun belum dilaporkan.

Jumlah klaim dalam proses penyelesaian, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan ,

ditentukan berdasarkan estimasi kewajiban klaim tersebut.

Perubahan dalam jumlah estimasi kewajiban klaim, sebagai akibat prosespenelaahan lebih lanjut

dan perbedaan antara jumlah estimasi klaim dengan klaim yang dibayarkan, diakui sebagai

penambah atau pengurang beban dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya perubahan.

Klaim reasuransi diakui sebagai pengurang beban klaim pada periode yang sama dengan

pengakuan beban klaim.

Beban Akuisisi

Biaya akuisisi dialokasikan berdasarkan perhitungan aktuaria karena Kewajiban Manfaat

Polis Masa Depan menggunakan Metode Tingkat Premi Murni (Net Level Premium Method).

35
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemampaan makalah ini kami dapat menyimpulkn bahwa Asuransi Jiwa terhadap

masyarakat sangat penting dilakukan karena akan semakin meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Peranan departemen sumber daya manusia dalam keselamatan kerja merupakan peranan yang

sangat vital dalam perusahaan, departemen inilah yang merencanakan program keselamatan

kerja karyawan sampai dengan pelaksanaannya dan menciptakan asuransi jiwa bagi perusahaan

tersebut.

a. Seperti dalam perjan jian pada umumnya, maka perjanjian asuransi jiwa terbentuk sejak

adanya kata sepakat atau konsensus antara pengambil asuransi dengan penanggung, dan

sejak saat itu pula timbul hak dan kewajiban di antara para pihak tersebut.

b. Adanya polis dalam perjanjian .asuransi jiwa sangat penting, dalam kedudukannya

sebagai dasar pelaksanaan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. Disamping

itu polis dapat digunakan sebagai alat bukti. apabila terjadi sengketa diantara para pihak,

baik sengkata yang berhubungan dengan pembentukan perjanjian maupun sengketa

mengenai hak dan kewajiban yang timbul dari. perjanjian asuransi jiwa tersebut.

c. Di dalam perjanjian asuransi jiwa, pihak penanggung dapat membatalkan perjanjian yang

telah dibuat, apabila terbukti adanya kesengajaan yang merupakan itikad buruk dari

pengambil asuransi atau orang yang herkepentingan-atas uang pertanggungan, dengan

memperberat resiko yang menjadi heban penanggung.

36
d. Di dalam perjanjian asuransi jiwa, pihak penanggung dapat membatasi atau membatalkan

tanggung jawabnya untuk membayar uang pertanggungan, apabila terbukti tertanggung

meninggal dunia karena bunuh diri, dipidana mati , berkelahi tanding, karena kesalahan

pengambil asuransi. atau kesalahan tertunjuk, dan mungkin sebab-sebab kematian

tertanggung yang lain yang tergantung atas penilaian dan pertimbangan penanggung.

B. Saran

Kecelakaan pada saat bekerja merupakan resiko yang merupakan bagian dari pekerjaan,

untuk perusahaan hendaknya mencegah dalam hal ini melakukan perlindungan berupa

kompensasi yang tidak dalam bentuk imbalan, baik langsung maupun tidak langsung, yang

diterapkan oleh perusahaan kepada pekerja dan dapat di berikan sebuah asuransi jiwa sebagai

jaminan keselamatan kerja.

Saran Bagi Anda Yang Sedang Mencari Perusahaan Asuransi Yang Tepat

Memilih sebuah perusahaan asuransi yang baik memang tidak mudah. Apalagi di tengah promosi

dan persaingan yang ketat di antara perusahaan asuransi seperti sekarang ini. Dalam memilih

perusahaan asuransi swasta, maka yang harus dipertimbangkan secara umum adalah tiga faktor :

Pertama, kekuatan keuangan (security). Kedua, jasa (service). Dan ketiga, biaya.

Kekuatan keuangan asuransi menyangkut kemampuan keuangan perusahaan tersebut

untuk memenuhi janjinya jika keadaan membutuhkan. Hal ini penting diketahui, karena tidak

sedikit perusahaan asuransi yang tampak di luarnya mentereng. Misalnya gedungnya bertingkat,

kendaraan direksinya bagus-bagus. Tetapi tatkala terjadi klaim dari nasabah, perusahaan tersebut

tidak mampu membayar.

37
Berikut beberapa point penting yang harus diperhatikan antara lain :

• Pastikan perusahaan Asuransi yang akan dipilih telah terdaftar di OJK dan Asosiasi.

• Perhatikan kekuatan keuangan perusahaan Asuransi, yang secara sederhana dapat dilihat

melalui besaran Risk Base Capital minimal 120% dan kondisi aset dan kewajibannya yang

dapat diketahui lewat laporan neraca keuangan yang dipublikasikan di media. Pada neraca

keuangan dapat dilihat juga keuntungan perusahaan setiap tahunnya

• Pastikan perusahaannya memiliki underwriter yang berpengalaman dan ahli, yang dapat

dilihat dari profil perusahaan. Regulasi mensyaratkan perusahaan memiliki tenaga ahli di

Kantor Pusat, ajun ahli di seluruh kantor cabang, dan juga tenaga aktuaris.

• Perhatikan gambaran tentang kualitas jasa yang telah diberikan oleh perusahaan, seperti

berapa lama proses penerbitan polis, pelayanan atau servis tambahan yang diberikan, kualitas

rekanan yang ditunjuk (seperti rumah sakit).

Carilah perusahaan asuransi yang screening masuk nya susah dan ketat, tetapi ketika anda

sudah jadi nasabah, apabila terjadi resiko atau musibah pada anda, claimnya tidak sulit dan dana

claim mudah keluar

Saat ini banyak perusahaan asuransi jiwa yang menawarkan syarat yang mudah bahkan sangat

longgar kepada calon nasabah. Tentu saja tujuannya untuk menarik perhatian nasabah dan

demikian banyak nasabah ikut bergabung. Namun disisi lain pernahkah anda berpikir jika suatu

saat banyak nasabah yang mengajukan klaim, apakah perusahaan dapat membayarnya?

38
DAFTAR PUSTAKA

• Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, SH, Hukum Asuransi Indonesia, Bina Aksara,

Jakarta, 1989, hal 265

• Prof. Dr. wirjono Prodjodikoro, SH, Locc.cit

• H.M.N Purwosutjipto, SH, Pengertian Pokok Hukum Dagang, Jilid 6 Hukum

Perdagangan, Djambatan, Jakarta 1992, hal 9

• Prof. Emmy Pangaribuan Simanjuntak, SH, 1990, Hukum Pertanggungan,Hukum

Dagang Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1975, hal 91.

• Santoso Poejosoebroto, Beberapa Aspek Tentang Hukum Pertanggungan Jiwa di

Indonesia, Bharata, Jakarta, 1969

• Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Penerbit Salemba

Empat.

• http://makalahdanskripsi.blogspot.co.id/2008/07/makalah-asuransi-jiwa.html

• http://makalahdanskripsi.blogspot.com

• http://penasehatkeuangan.wordpress.com/

• http://makalahasuransijiwa-maya.blogspot.com

• https://id.wikipedia.org/wiki/Asuransi_jiwa

39